dr. Alfi Afadiyanti :: The Restless Traveller

dr. Alfi Afadiyanti

Sneew!!!

May 5th, 2010

In the ancient periods, you don’t have to be worried about many things such as DNA mutation. You just don’t care wether your partner carried such genetic disease or inherit something that you might be worried about or not.  Yeah, maybe we want to go back to that old times, when everything seems so simple and so easy. Though we couldn’t said that their life (our ancestor life) was nice and not complicated also. But for a while, let’s take a closer look on it. On how they cope their problems, which are very basic and not so high above in the sky. We are now, trying to locate things so meticulous, even sometimes we forgot about what is really basic and really matter about life itself. We sometimes try to locate and diagnose something with sophisticated methods, and consider our self as creatures that better than anything else. But please be a little bit humble, and we finally realize that we are basically nothing. Take a deeper and closer look at snow, for example. It’s such a beautiful crystal, and has such an amazing shape, that never could be imagine before. It’s really unique creation, and such a mysterious way to tell us that there must be a mysterious Creator. The One that need no journal to publish every little thing He made.  On the contrary, we, human, needs lots of affection, attention from others, to recognize what we’ve done, and what we accomplished, every minutes, every seconds. What is the point then? Human also forgot about how to see things in general view, in a simple rule. They trapped in their job, trapped in their tiny perspective they called life. Begin in the morning, spend whole day staring at computer and ending it in a party or social gathering. Is that a good way of spending times that is very limited given by The Creator of The Universe? Think, deeper, and contemplate it in our daily life.  Success!!!alFi

Menkes BARU, ternyata orang IKM

October 23rd, 2009

 Siapa sih ibu Menkes kita yang baru?

Dokter lulusan UI tahun 1979, dan menyabet gelar Master of Public Health, serta mendapat gelar doktor di bidang sama di Harvard School of Public Health, Boston. (detik.com)

Ini kejutan lain tentang sosok Menteri Kesehatan yang baru dilantik Presiden SBY, Endang Rahayu Sedyaningsih. Sejak tahun 1999, Sedyaningsih banyak melakukan penelitian tentang Pekerja Seks Komersial di Kramat Tunggak.

Perempuan-perempuan Kramat Tunggak. Sebuah judul yang puitis, untuk sebuah karya yang sangat serius bagi penelitian tentang penyakit menular HIV/AIDS.

Buku ini diterbitkan oleh Pustaka Sinar Harapan dan The Ford Foundation, pada tahun 1999.

Penulisnya dua orang: Sedyaningsih-Mamahit, ER. Buku ini juga terbit dalam versi bahasa Inggris: Women of Kramat Tunggak.

Sederet penelitian dilakukan di Kramat Tunggak. Hasilnya, lahirlah banyak karya Sedyaningsih berkaitan dengan penyakit seks yang belum ditemukan obatnya itu.

Inilah beberapa karya intelektual Menteri Kesehatan Dr Endang Rahayu Sedyaningsih, DR.PH tentang penyakit Menular Seksual itu:

Sedyaningsih-Mamahit, ER. Female commercial sex workers in Kramat Tunggak, Jakarta, Indonesia. Social Science and Medicine (1999), 49(8), 1101-1114.

Sedyaningsih-Mamahit, ER. Perempuan-perempuan Kramat Tunggak (Women of Kramat Tunggak). Jakarta: Pustaka Sinar Harapan & The Ford Foundation, 1999.

Sedyaningsih-Mamahit, ER, Gortmaker, Determinants of safer-sex behavior of brother femalecommercial sex-workers in Jakarta, Indonesia. The Journal of Sex Research(1999), 36(2), 190-197.

Sedyaningsih-Mamahit, ER. Clients and brothel managers in Kramat Tunggak, Jakarta, Indonesia: Interweaving Qualitative With Quantitative Studies For PlanningSTD/AIDS Prevention Programs. Southeast Asian J. of Trop. Med. & Public Health.

Ini kejutan lain tentang sosok Menteri Kesehatan yang baru dilantik Presiden SBY, Endang Rahayu Sedyaningsih. Sejak tahun 1999, Sedyaningsih banyak melakukan penelitian tentang Pekerja Seks Komersial di Kramat Tunggak.

Sumber: inilah.com, detik.com

Opini saya:

“Jadi jangan kuatir Bu Siti Fadilah Supari, sepertinya Bu Endang ini jauh lebih capable dalam bidang PREVENTIF dan PROMOTIF dapripada KURATIF, dan juga banyak melakukan kerjasama asing yang tentunya akan sangat berguna bagi seluruh masyarakat INDONESIA.”

Sedikit tentang PiSiAr (PCR)

October 21st, 2009

Saya yakin seyakin-yakinnya, kalau Anda sudah mengenal yang namanya DNA. DNA ini sering disebut-sebut terutama berkaitan dengan kriminalitas, diagnosa penyakit, penentuan ‘keabsahan’ keturunan, dll. Mungkin Anda bingung bagaimana caranya polisi bisa mengungkap pelaku kejahatan dengan berbekal sehelai rambut pelaku yang tercecer di TKP, atau dari tetesan sperma pemerkosa yang mengering di tubuh korban, atau mengetahui apakah seorang anak benar-benar anak kandung dari seorang ‘bapak’. Padahal kan sampel yang dianalisa jumlahnya sangat sedikit, ajib tho?

Ternyata hal ini gak lepas dari yang namanya PCR alias Polymerase Chain Reaction. Proses yang berlangsung secara in vitro dalam tabung reaksi sebesar 200 µl ini mampu menggandakan atau mengkopi DNA hingga miliaran kali jumlah semula. Maka pantes aja dengan berbekal DNA yang terkandung dalam sampel yang cuma secuil itu bisa diperoleh banyak sekali informasi sesuai kebutuhan kita.

Reaksi PCR meniru reaksi penggandaan atau replikasi DNA yang terjadi dalam makhluk hidup. Secara sederhana PCR merupakan reaksi penggandaan daerah tertentu dari DNA cetakan (template) dengan batuan enzim DNA polymerase.

PCR terdiri atas beberapa siklus yang berulang-ulang, biasanya 20 sampai 40 siklus. Nah, sekarang bayangkan bahwa pada setiap siklus DNA polymerase akan menggandakan DNA sebanyak 2 kali, dan coba hitung berapa salinan utas ganda DNA yang akan dihasilkan setelah 30 siklus? Yup, 2 pangkat 30 alias 1.073.741.824 kali! Tentu saja nilainya tidak tepat seperti itu, kita masih harus memperhitungkan efisiensi reaksi, tapi tetap saja hasilnya akan sangat banyak.

Komponen PCR

Selain DNA template yang akan digandakan dan enzim DNA polymerase, komponen lain yang dibutuhkan adalah:

1.       Primer (dibaca: praimer, biar agak keren) J

Primer adalah sepasang DNA utas tunggal atau oligonukleotida pendek yang menginisiasi sekaligus membatasi reaksi pemanjangan rantai atau polimerisasi DNA. Jadi jangan membayangkan kalau PCR mampu menggandakan seluruh DNA bakteri E. coli yang panjangnya kira-kira 3 juta bp (base pair = pasangan basa A,G,T,C) itu. PCR hanya mampu menggandakan DNA pada daerah tertentu sepanjang maksimum 10000 bp saja, dan dengan teknik tertentu bisa sampai 40000 bp. Primer dirancang untuk memiliki sekuen yang komplemen dengan DNA template, jadi dirancang agar menempel mengapit daerah tertentu yang kita inginkan.

2.       dNTP (deoxynucleoside triphosphate)

dNTP alias building blocks sebagai ‘batu bata’ penyusun DNA yang baru. dNTP terdiri atas 4 macam sesuai dengan basa penyusun DNA, yaitu dATP, dCTP, dGTP dan dTTP.

3.       Buffer

Buffer yang biasanya terdiri atas bahan-bahan kimia untuk mengkondisikan reaksi agar berjalan optimum dan menstabilkan enzim DNA polymerase.

4.       Ion Logam

·         Ion logam bivalen, umumnya Mg++, fungsinya sebagai kofaktor bagi enzim DNA polymerase. Tanpa ion ini enzim DNA polymerase tidak dapat bekerja.

·         Ion logam monovalen, kalsium (K+).

 

Tahapan Reaksi

Setiap siklus reaksi PCR terdiri atas tiga tahap, yaitu:

1.       Denaturasi

Denaturasi dilakukan dengan pemanasan hingga 96oC selama 30-60 detik. Pada suhu ini DNA utas ganda akan memisah menjadi utas tunggal.

2.       Annealing

Setelah DNA menjadi utas tunggal, suhu diturukan ke kisaran 40-60oC selama 20-40 detik untuk memberikan kesempatan bagi primer untuk menempel pada DNA template di tempat yang komplemen dengan sekuen primer.

3.       Ekstensi/elongasi

Dilakukan dengan menaikkan suhu ke kisaran suhu kerja optimum enzim DNA polymerase, biasanya 70-72oC. Pada tahap ini DNA polymerase akan memasangkan dNTP yang sesuai pada pasangannya, jika basa pada template adalah A, maka akan dipasang dNTP, begitu seterusnya (ingat pasangan A adalah T, dan C dengan G, begitu pula sebaliknya). Enzim akan memperpanjang rantai baru ini hingga ke ujung. Lamanya waktu ekstensi bergantung pada panjang daerah yang akan diamplifikasi, secara kasarnya adalah 1 menit untuk setiap 1000 bp.

Selain ketiga proses tersebut biasanya PCR didahului dan diakhiri oleh tahapan berikut:

4.       Pra-denaturasi

Dilakukan selama 1-9 menit di awal reaksi untuk memastikan kesempurnaan denaturasi dan mengaktifasi DNA Polymerase (jenis hot-start alias baru aktif kalau dipanaskan terlebih dahulu).

5.       Final Elongasi

Biasanya dilakukan pada suhu optimum enzim (70-72oC) selama 5-15 menit untuk memastikan bahwa setiap utas tunggal yang tersisa sudah diperpanjang secara sempurna. Proses ini dilakukan setelah siklus PCR terakhir

PCR dilakukan dengan menggunakan mesin Thermal Cycler yang dapat menaikkan dan menurunkan suhu dalam waktu cepat sesuai kebutuhan siklus PCR. Pada awalnya orang menggunakan tiga penangas air (water bath) untuk melakukan denaturasi, annealing dan ekstensi secara manual, berpindah dari satu suhu ke suhu lainnya menggunakan tangan. Tapi syukurlah sekarang mesin Thermal Cycler sudah terotomatisasi dan dapat diprogram sesuai kebutuhan.

 

Aplikasi teknik PCR

Kita harus berterima kasih kepada Kary B Mullis yang telah menemukan dan mengaplikasikan PCR pada tahun 1984. Saat ini PCR sudah digunakan secara luas untuk berbagai macam kebutuhan, diantaranya:

1.       Isolasi Gen

Kita tahu bahwa DNA makhluk hidup memiliki ukuran yang sangat besar, DNA manusia saja panjangnya sekitar 3 miliar basa, dan di dalamnya mengandung ribuan gen. Oh ya, gen itu apaan ya?

Sebagaimana kita tahu bahwa fungsi utama DNA adalah sebagai sandi genetik, yaitu sebagai panduan sel dalam memproduksi protein, DNA ditranskrip menghasilkan RNA, RNA kemudian diterjemahkan untuk menghasilkan rantai asam amino alias protein. Dari sekian panjang DNA genome, bagian yang menyandikan protein inilah yang disebut gen, sisanya tidak menyandikan protein atau disebut ‘junk DNA’, DNA ’sampah’ yang fungsinya belum diketahui dengan baik.

Kembali ke pembahasan isolasi gen, para ahli seringkali membutuhkan gen tertentu untuk diisolasi. Sebagai contoh, dulu kita harus mengekstrak insulin langsung dari pancreas sapi atau babi, kemudian menjadikannya obat diabetes, proses yang rumit dan tentu saja mahal serta memiliki efek samping karena insulin dari sapi atau babi tidak benar-benar sama dengan insulin manusia.

Berkat teknologi rekayasa genetik, kini mereka dapat mengisolasi gen penghasil insulin dari DNA genome manusia, lalu menyisipkannya ke sel bakteri (dalam hal ini E. coli) agar bakteri dapat memproduksi insulin juga [http://www.littletree.com.au/dna.htm]. Dan ajaib! Hasilnya insulin yang sama persis dengan yang dihasilkan dalam tubuh manusia, dan sekarang insulin tinggal diekstrak dari bakteri, lebih cepat, mudah, dan tentunya lebih murah ketimbang cara konvensional yang harus ‘mengorbankan’ sapi atau babi.

Nah, untuk mengisolasi gen, diperlukan DNA pencari atau dikenal dengan nama ‘probe’ yang memiliki urutan basa nukleotida sama dengan gen yang kita inginkan. Probe ini bisa dibuat dengan teknik PCR menggunakan primer yang sesuai dengan gen tersebut.

2.       DNA Sequencing

Urutan basa suatu DNA dapat ditentukan dengan teknik DNA Sequencing, metode yang umum digunakan saat ini adalah metode Sanger (chain termination method) yang sudah dimodifikasi menggunakan dye-dideoxy terminator, dimana proses awalnya adalah reaksi PCR dengan pereaksi yang agak berbeda, yaitu hanya menggunakan satu primer (PCR biasa menggunakan 2 primer) dan adanya tambahan dideoxynucleotide yang dilabel fluorescent. Karena warna fluorescent untuk setiap basa berbeda, maka urutan basa suatu DNA yang tidak diketahui bisa ditentukan.

3.       Forensik

Identifikasi seseorang yang terlibat kejahatan (baik pelaku maupun korban), atau korban kecelakaan/bencana kadang sulit dilakukan. Jika identifikasi secara fisik sulit atau tidak mungkin lagi dilakukan, maka pengujian DNA adalah pilihan yang tepat. DNA dapat diambil dari bagian tubuh manapun, kemudian dilakukan analisa PCR untuk mengamplifikasi bagian-bagian tertentu DNA yang disebut fingerprints alias DNA sidik jari, yaitu bagian yang unik bagi setiap orang. Hasilnya dibandingkan dengan DNA sidik jari keluarganya yang memiliki pertalian darah, misalnya ibu atau bapak kandung. Jika memiliki kecocokan yang sangat tinggi maka bisa dipastikan identitas orang yang dimaksud.

Konon banyak kalangan tertentu yang memanfaatkan pengujian ini untuk menelusuri orang tua ’sesungguhnya’ dari seorang anak jika sang orang tua merasa ragu.

4.       Diagnosa Penyakit

Penyakit Influenza A (H1N1) yang sebelumnya disebut flu babi sedang mewabah saat ini, bahkan satu fase lagi dari fase pandemi. Penyakit berbahaya seperti ini memerlukan diagnosa yang cepat dan akurat.

PCR merupakan teknik yang sering digunakan. Teknologi saat ini memungkinkan diagnosa dalam hitungan jam dengan hasil akurat. Disebut akurat karena PCR mengamplifikasi daerah tertentu DNA yang merupakan ciri khas virus Influenza A (H1N1) yang tidak dimiliki oleh virus atau makhluk lainnya.

Sumber: WikipediaAndy Vierstraete, http://sciencebiotech.net/mengenal-pcr-polymerase-chain-reaction/ dan sumber-sumber lainnya.

 

 

Seminar MLPA 19 Okt 2009

October 20th, 2009

Dear All, tepat satu hari yang lalu di laboratorium Bioteknologi CEBIOR FK Undip diadakan seminar MLPA.MLPA alias Multiplex ligation-dependent probe amplification, merupakan teknik yang ditemukan oleh MRC-Holland, dan dipresentasikan langsung oleh Dr. Jan Scouten (sang penemu MLPA dan pemilik MRC Holland).mlpa_in_genemarker.jpg

Hello world!

October 19th, 2009

Welcome to Staff.undip.ac.id/fk. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!