February 4th, 2010 by albari
Mengapa berawal dari mahasiswa? berikut ini alasannya.
1. Sejak awal mula masuk di universitas, sudah diajarkan sikap sewenang wenang dengan diberlakukannya OPSPEK dan semacamnya. Bukankah ini adalah bentuk pembelajaran yang tepat untuk mengenal rasa sewenang wenang? Yang berkuasa dialah yang memerintah, kakak kelasnya akan memerintah tanpa memperdulikan kemampuan mahasiswa sebagai bagian dari dendam masa lalu. Yang berkuasa memerintah dengan sekehendak hatinya, apa apa disuruh membawa Yang tidak perlupun, juga harus dibawa. Yang tidak adapun, harus diadaadakan. Ini juga kan satu dari potensi sifat sang penipu.
2. Latihan kok demonstrasi. Hal ini apa coba sisi baiknya. Yang ada hanyalah menumbuhkembangkan sikap berontak, tidak mau tahu aturan, dan sikap kasar. Apa nggak ada jalan untuk menegakkan demokrasi selain dengan demonstrasi? Indonesia belum saatnya untuk demokrasi.
Mestinya, semenjak awal, sudah diajari untuk berlatih memacu prestasi, misal dengan membuat group cerdas cermat atau lomba ketangkasan. Jadi mereka sudah dipupuk untuk memfokuskan diri sesuai dengan minat mereka. Bayangkan kalau ini dilakukan, awal tahun ajaran, akan ramai dengan yang namanya UGM cup, UNDIP cup, UI cup..
Posted in Blog | Comments Off
January 25th, 2010 by albari
Yang kupikirkan akhir tahun ini adalah bagaimana cara akses jurnal internasional dari kantor. Undip mengklaim bisa akses Science Direct, walaupun masih free trial akses (dan tidak semua bidang studi) sampai dengan Januari ini.
Akses jurnal ini sangat penting untuk membuat langkah penelitian berikutnya (atau sebagai pijakan pada penelitian berikutnya). Penelitian yang dijalankan para mahasiswa, kadang hanya mengulang penelitian orang asing tahun 1977 misalnya. Nah lo, tertinggal terus kan kalau ga melihat jurnal.
Banyak juga penelitian yang tidak melihat pada perkembangan penelitian di tingkat internasional, so, mereka hanya “upyek” sendiri dalam lab. Dengan melihat jurnal, maka otomatis bisa mengamati perkembangan internasional.
Nah, katanya Undip adalah World Class University, so, sudah seharusnya punya akses yang tidak terbatas pada penelusuran jurnal. Majulah terus Undip.
Posted in Blog | Comments Off
January 21st, 2010 by albari
Betul kata pak Nur dulu, kalau punya alat, mesti harus bayar biaya nganggur. Nganggur, belum tentu nggak bayar loh, itu alat. Tetap harus bayar. Contohnya HPLC. Pasti dosen suka banget alat ini dan pasti HPLC diusulkan oleh beberapa lab di UNDIP. Tapi coba kita pikir, running mesin itu, butuh eluent yang harganya selangit. Jika satu lab punya satu HPLC, bisa dibayangkan berapa total biaya yang harus dikeluarkan untuk perawatan. Alat ini nggak bisa berhenti running kan? Kadang kita mengusulkan tapi nggak tahu nantinya gimana merawatnya. Akhirnya alat itu, tidak dipake karena ga ada dana.
Kita sekarang sedang diberi dana lebih, tapi kita masih bodoh karena belum siap untuk menerima dana itu. Ada proyek pengadaan alat, tapi bingung mau alat apa karena “apa apa jadi butuh” atau “dipaksa untuk butuh”.
Biarlah perkembangan alat disesuaikan dengan perkembangan lab didalamnya. Misalnya lab yang banyak proyeknya, pantaslah jika punya alat lebih. Lab yang ga banyak proyek, ya harus sadar kalau dia memang ga butuh alat banyak. Kalau butuh, bisa pinjam ke lab lain. Inilah fungsi koordinasi.
Untuk alat besar semestinya dikelola oleh pusat. Misalnya HPLC atau GC. Tapi ingat, jangan tambah tenaga lagi untuk operasional alat ini. Tambah orang, makin runyam, percayalah.
Posted in Blog | Comments Off