Dosen ga perlu banyak banyak
Kerjaan dosen adalah mengajar, mengabdi, dan berkarya. So, agar tidak tumpang tindih pekerjaan satu dengan dosen lain, dalam satu lab, ga perlu terlalu banyak dosen. Tidak ada jaminan banyak dosen, perkerjaan menjadi ringan. Yang terjadi malahan tidak seimbangnya beban. Kalau beban administrasi yang makin menumpuk, yang perlu diperbanyak adalah jumlah karyawan. Tugasnya sudah jelas: mengurus administrasi.
Terlalu banyak dosen juga akan berakibat pada banyaknya dosen yang menganggur, akibatnya timbul iri satu dengan lainnya. Apalagi sekarang mahasiswa makin sedikit. Nah lo, perbandingannya jadi makin besar kan? bisa jadi satu mahasiswa satu dosen.
Idealnya satu lab dengan 50 mahasiswa bimbingan, ada maksimal 5 dosen dan semuanya aktif. Jika dibandingkan dengan universitas luar negeri, mungkin, satu lab cuma dihuni oleh maksimal 3 orang dosen dan mereka bertingkat, mulai dari senior hingga yunior. Efektif banget kan?
Tapi disatu sisi terlalu banyak karyawan juga tidak baik, karena nantinya pasti akan banyak yang nganggur. Seringkali kita menghubungkan beban tugas dan jumlah karyawan, makin banyak tugas, harusnya makin banyak karyawan. Ini sepertinya opini yang keliru sejak dulu. Akhirnya, diputuskan untuk menambah karyawan dan ketika tugas tidak banyak lagi, akhirnya banyak diantara mereka yang menganggur.
Lebih repot lagi jika penerimaan karyawan dihubungkan dengan unsur kekerabatan atau unsur “tidak enak jika tidak diterima”. Inilah awal dari kinerja buruk mereka. Dosen jauh lebih repot lagi. Menerima dosen dengan alasan “tidak enak jika tidak diterima” adalah awal dari sebuah bencana kemelorotan nilai sebuah universitas.
Mungkin ada yang tidak setuju pada pendapat ini, maaf.