Biaya tinggi untuk punya alat

Betul kata pak Nur dulu, kalau punya alat, mesti harus bayar biaya nganggur. Nganggur, belum tentu nggak bayar loh, itu alat. Tetap harus bayar. Contohnya HPLC. Pasti dosen suka banget alat ini dan pasti HPLC diusulkan oleh beberapa lab di UNDIP. Tapi coba kita pikir, running mesin itu, butuh eluent yang harganya selangit. Jika satu lab punya satu HPLC, bisa dibayangkan berapa total biaya yang harus dikeluarkan untuk perawatan. Alat ini nggak bisa berhenti running kan? Kadang kita mengusulkan tapi nggak tahu nantinya gimana merawatnya. Akhirnya alat itu, tidak dipake karena ga ada dana.

Kita sekarang sedang diberi dana lebih, tapi kita masih bodoh karena belum siap untuk menerima dana itu. Ada proyek pengadaan alat, tapi bingung mau alat apa karena “apa apa jadi butuh” atau “dipaksa untuk butuh”.

Biarlah perkembangan alat disesuaikan dengan perkembangan lab didalamnya. Misalnya lab yang banyak proyeknya, pantaslah jika punya alat lebih. Lab yang ga banyak proyek, ya harus sadar kalau dia memang ga butuh alat banyak. Kalau butuh, bisa pinjam ke lab lain. Inilah fungsi koordinasi.

Untuk alat besar semestinya dikelola oleh pusat. Misalnya HPLC atau GC. Tapi ingat, jangan tambah tenaga lagi untuk operasional alat ini. Tambah orang, makin runyam, percayalah.

Comments are closed.