Nasib menjadi Doktor baru

Masih terngiang dan jelas tergambar saat aku lulus. Aku sangat bersemangat untuk pulang dan melangkah dengan semangat ke almamaterku. Tapi inilah yang aku rasakan segera setelah kembali kesini. Maafkan aku, menulis ini karena inilah yang aku rasakan.

Lapor ke Pembantu Rektor I sudah menjadi targetku saat aku masuk kembali. Tentu yang pertama adalah salaman dengan teman lab dan fakultas, termasuk dengan pejabat fakultas.

Sudah dua kali membuat perjanjian untuk bertemu tapi PR I selalu sibuk dengan tugas. Aku sudah meninggalkan surat untuk beliau dan akhirnya kami tidak jumpa dengan beliau, karena mungkin beliau saking sibuknya. Surat akhirnya dibalas. Untuk segera membuat laporan ke PR II dan menyertakan tujuh dokumen. Surat beserta tujuh dokumen sudah kusampaikan sejak bulan November 2011. Sebulan kemudian aku cek ke kepegawaian, katanya tidak ada surat tentangku. Duh kemana perginya surat itu, jangan jangan hilang. Setelah ditelusur oleh orang kepercayaanku, ternyata surat telah diterima dan masih kurang satu berkas. Inilah yang membuat aku bingung, kenapa persyaratan antara PR dan Kepegawaian lain? Untung orang kepercayaanku bisa mengusahakannya. Akhirnya bulan Januari, surat bisa dilengkapi dan dikirim kembali.

Yang aku rasakan adalah, menjadi doktor baru, kurang mendapat penghargaan yang pantas, terbukti untuk mencari waktu bertemu dengan pejabat saja, susah. Kedua, proses pengaktifan kembali, seperti mengemis minta kerjaan lagi, dengan banyaknya dokumen yang harus dikirimkan.

Aku pikir, kenapa persyaratan pengaktifan kembali sebagai dosen menjadi berbelit belit seperti ini, adalah karena oknum dosen sendiri yang bertindak di luar prosedur, sehingga yang sesuai prosedur, jadi korban. Hal ini mungkin tidak dialami pada dosen universitas swasta. Ada baliho besar di dekat polda: selamat datang doktor daru di UNI**. Pastinya juga, dia tidak mengemis minta aktif lagi menjadi dosen. Pastinya staf administrasi yang memperjuangkan mereka itu untuk kembali mengajar. Pastinya ada waktu pejabat rektorat untuk bertemu dengan doktor baru itu. Pastinya juga, sekarang mereka sudah mengajar.

Comments are closed.