Archive for the ‘Blog’ Category

Mendambakan UNDIP seperti ini

Monday, October 24th, 2011
1. Terdapat tempat terminal angkutan yang nyaman di patung Diponegoro Ngesrep. Tidak becek dan tidak kumuh.
2. Terdapat angkutan bis UNDIP yang mengangkut staff dari titik terluar UNDIP misalnya di patung Diponegoro, pertigaan Meteseh, prapatan Banyumanik. Sehingga staff nya nggak perlu bawa motor atau mobil.
3. Jalan ngesrep yang benar benar “asrep”, bukannya malah semrawut seperti sekarang ini. Terdapat lahan parkir yang nyaman, tempat berputar kendaraan dengan aman, trotoar yang tertata rapi, bebas genangan air dan selokan bau, toko-toko yang unik dan artistik sebagai simbol masyarakat terpelajar, kawasan jalur sepeda yang nyaman dan bebas polusi (karena saat ini, bersepeda= merusak paru-paru). 4. Pohon besar di sisi jalan yang membuat nyaman pejalan kaki. 5. Bangunan yang bagus ventilasinya sehingga nggak perlu menggunakan AC. Undip terletak di bukit yang anginnya semilir. Tapi heran, bangunannya didesain untuk menggunakan AC. Nggak ada AC menjadi panas dan tidak tahan kerja lama, iya kan? Padahal kalau dengan memanfaatkan semilirnya angin, bisa loh, mendirikan bangunan tanpa AC. Coba bayangkan, berapa uang yang bisa untuk dihemat. Mari kita berhitung. Satu AC memerlukan Rp. 300,- per jam. Misal satu ruang kecil butuh satu unit AC. Maka satu ruang akan membayar Rp. 2.500 per hari. Katakanlah di Undip ada 400 ruang maka perhari akan mengeluarkan uang 1 juta. Perbulannya= 25 juta. Coba kalau dialihkan untuk penelitian, maka alat di tempat kita tidak ada yang kurang karena tiap bulan bisa beli alat baru. Untuk maju, memang butuh pengorbanan dan pemikiran jitu. Saya yakin betul, kondisi itu tidak mungkin akan terwujud jika kita tidak memulainya dari sekarang. Mari kita mulai dari hal yang paling kecil di lingkungan sekitar kita. Sent from my iPhone

Pembangunan yang terlupakan, oh UNDIP ku

Monday, October 24th, 2011
Pembangunan besar-besaran di Undip tembalang mulai tahun 2007 ternyata menyisakan permasalahan tersendiri. Mungkin sisi ini menjadi dilupakan:

1. Munculnya tempat sampah baru persis di dekat tugu masuk, tepatnya di area tempat spanduk. Lihatlah, pemandangan yang kurang sedap. Herannya kondisi ini kok ya dipiara. Memang masyrakat kita hanya segelintir yang memikirkan estetika dan sanitasi. Susah bener diajak maju.

2. Munculnya pedagang kios berjalan. Jualan di daerah dekat masjid dan sekitarnya adalah dilarang. Tapi coba lihat: pedagang lutis, es buah, buah dingin dll yang pakai gerobak. Mereka pintar bisa ngakali peraturan. Mestinya ada tindakan tegas dan arahan yang jelas. Kalau kondisi ini dipiara, akan banyak penjual balon pakai motor, onderdil motor pakai mobil, pedagang buah pakai mobil yang nangkring disana. Kalau diusur tinggal surung aja, beres kan? Mengatur masyarakat kita adalah sulit makanya pengaturannya harus dari “bayi” agar mudah. Nah kalau sudah dalam kondisi seperti ini, perlu ada tindakan tegas dari pimpinan. Bukan hanya rapat melulu. 3. Pertigaan tugu sebagai arena ngetem mobil angkutan. Hal ini sangat mengganggu sekali. Kalau dilarang malah menjadi-jadi. Tanda saja tidak cukup. Ada satpam juga percuma. Mestinya semenjak awal sudah tahu kalau daerah begitu pasti akan banyak angkot yang ngetem. Mestinya ada tindakan tegas contohnya: ranjau jarum, jika berhenti lebih dari 20 detik maka akan jarum akan muncul dari dalam tanah yang bisa menggembesi ban. Hmm tapi repot juga jika motor saya terjebak macet disitu. Bakal nggak sampai kampus deh karena gembes. Atau yang paling mungkin adalah membuat tempat ngetem khusus. Jadi, area disitu diperlebar untuk membuat area ngetem mini. Hmm atau dibuat kios legal untuk menarik dana ngetem sebesar 50.000 rupiah jika ngetem. Hmm susah juga. 3. Bawah jalan tol sebagai area kumuh dan pasar gelap. Mestinya kejadian ini sudah bisa diprediksi sebelumnya dan mestinya sudah ada langkah antisipasi. Tapi kok ya penyakit kota besar terulang di tempat kita. Mestinya belajar lah. Area itu akan jadi pemandangan yang memalukan jika ada tamu dari luar negeri: kemproh banget pasti kesannya. Intinya, semua pembangunan mesti harus dipikirkan dampaknya serta cara penanggulangannya. Pembangunan yang setengah-setengah lebih banyak dampak negatifnya yang selamanya akan justru menghambat kerja kita.

Sent from my iPhone

Posisi kita sekarang adalah 32 lawan 23

Friday, October 7th, 2011
Saat ini kita sedang dalam masa keprihatinan yang sangat mendalam di bidang penelitian. Berikut ini contoh yang dapat kita lihat dari berbagai fenomena yang muncul di sekitar saya sebagai icon kebanggaan para peneliti:

UNSOED dengan bangga mengatakan: “Kami bersyukur karena LPPM menfasilitasi kami dengan mengangkut kami dengan menggunakan bis universitas”
UNS tidak kalah menyampaikan: “Kami punya teman banyak. Jumlahnya 32 orang looh”
UNDIP nggak mau kalah dengan berkata: “Kalau kami lebih hebat lagi, karena langsung disupport presiden SBY atas nama DLLAJR: ANGKUTAN BIS UMUM dan kita nggak perlu bingung cari-cari teman, karena kita hanya ber-23 orang”.
Kebanggaan yang keliru bukan?