HOME HEALTH CARE

SOSIALISASI PANDUAN HOME HEALTH CARE BAGI PERAWAT

Praktek mandiri perawat punya tantangan tersendiri setelah diadakannya pertemuan evaluasi strategi puskesmas santun usila  dan sosialisasi buku panduan home care bagi perawat, di Ambarawa tanggal 31 agustus 2007.

Pelayanan yang berkesimanbungan dan komprehensif sekarang ini menjadi tantangan tersendiri bagi dep kes, bukan hanya tenaga tetapi juga system yang belum terbentuk dengan baik.Pelayanan kesinambungan antara rumah sakit dan puskesmas juga dibicarakan pada pertemuan tersebut, sering klien tidak ditangani secara tuntas setelah pulang dari rumah sakit. Dari beberapa masalah tersebut kita sepakat bahwa dibutuhkan seorang manajer kasus atau koordinator  kasus untuk menangani pasien secara individu di rumah sehingga program home care bias dilaksanakan oleh perawat.

Dalam pelaksanaannya harus mempunyai institusi sebagai Pengelola Perawatan Kesehatan di Rumah adalah  unit institusi yang bertanggung jawab terhadap seluruh pengelolaan perawatan kesehatan di rumah baik penyediaan tenaga, sarana dan peralatan serta mekanisme pelayanan sesuai standar yang ditetapkan. Pengelola dapat berkedudukan sebagai salah satu bagian dari pelayanan kesehatan di rumah sakit/klinik/Puskesmas, atau dapat pula berkedudukan terpisah secara mandiri.

Ibu suharsi SKM,M.Kes menyajikan tentang konsep home health care secara konsep dan praktek dengan gamblang sehingga peserta mendapat wawasan dan ilmu baru yang sangat bermanfaat. Di lanjutkan dengan presentasi pelaksanaan PUSPA (pusat pelayanan kesehatan keluarga di pesisir utara) oleh Program Studi Ilmu Keperawatan –FK-UNDIP, yaitu bentuk pelayanan keperawatan baik individu, keluarga, dan masyarakat untuk meningkatkan derajat kesehatan di daerah pantai. Sebuah pengalaman praktek mahasiswa yang ternyata sebagai modal diskusi antara peserta pertemuan tersebut.

Apa itu manajer kasus? yang dalam buku panduan disebut koordinator kasus.

Koordinator kasus adalah seorang perawat dengan kriteria tertentu baik yang masih aktif maupun yang sudah memasuki masa pensiun. Mereka bisa berasal dari Puskesmas, Rumah Sakit, Klinik, Petugas Kesehatan Swasta dan lain-lain. Seorang Koordinator Kasus dapat mengkoordinir 10-20 orang pelaksana perawatan yang bekerja baik secara suka rela maupun yang menerima imbalan dari Lembaga Swadaya Masyarakat atau masyarakat(depkes,2003)

Koordinator/ manajer Kasus

Bagan 1. Tata Hubungan Antar Unsur

Perawatan kesehatan usia lanjut di rumah dilaksanakan dengan melibatkan 4 unsur komponen yaitu Klien, Pengasuh, Pengelola Perawatan Kesehatan di Rumah yaitu Koordinator Kasus dan Pramusila, yang merupakan syarat minimal dan harus ada dalam sistem perawatan kesehatan di rumah. Keempat unsur tersebut berinteraksi secara proporsional dan saling mempengaruhi dalam proses perawatan kesehatan usia lanjut di Rumah dan merupakan bagian dari sistem pelayanan yang profesional. Apabila salah satu dari komponen tersebut tidak berfungsi secara baik, maka pelayanan yang diberikan sulit untuk memberikan hasil yang optimal. Hubungan antara unsur atau komponen dapat dilihat bagan 1. Dalam sistem ini setiap komponen mempunyai hak dan kewajibannya masing-masing, sehingga diharapkan tidak akan merugikan salah satu pihakpun karena pelayanan yang diberikan dapat dikendalikan oleh masing-masing pihak.

Syarat-syarat seseorang yang menjalankan tugas sebagai Koordinator Kasus adalah

1)      mempunyai ijazah formal pendidikan keperawatan yang diakui oleh pemerintah minimal Diploma-3,

2)      mempunyai sertifikat pelatihan Perawatan Kesehatan Usia Lanjut di Rumah dan sertifikat Pengelolaan Perawatan Kesehatan di Rumah yang dikeluarkan oleh institusi yang berwenang,

3)      pengalaman bekerja di unit pelayanan kesehatan minimal 3 (tiga) tahun,

4)      mempunyai minat dan motivasi yang tinggi dalam perawatan kesehatan klien,

5)      mampu melakukan pengkajian dan melakukan analisis terhadap kasus untuk menyusun rencana intervensi,

6)      mampu bekerja sama dalam tim dan memmimpin Pramusila,

7)      mampu memberikan pelayanan sesuai dengan etika yang ditetapkan.

  1. Hak Koordinator Kasus adalah

1)      berhak mendapatkan imbalan jasa sesuai dengan perjanjian kerja,

2)      memperoleh perlakuan yang layak sesuai norma yang berlaku,

3)      memperoleh informasi yang berkaitan dengan perubahan pelayanan, perubahan pembiakan pelayanan dan kemungkinan dihentikannya perjanjian kerja,

4)      berhak mengemukakan pendapat yang berkaitan dengan peningkatan mutu pelayanan serta perlindungan terhadap Pramusila maupun klien,

5)      mendapat perlindungan hukum atas tindakan yang dirasakan merugikan,

6)      memperoleh dukungan dari Pengelola, Pramusila dan klien serta keluarganya dalam melaksanakan tugasnya.

  1. Kewajiban Koordinator Kasus adalah

1)      mentaati peraturan dan disiplin kerja yang telah ditetapkan oleh Pengelola,

2)      memberikan pelayanan yang profesional dan bermutu sesuai dengan standar pelayanan yang ditetapkan serta kode etik profesi,

3)      merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya berkaitan dengan keadaan klien kecuali untuk kepentingan klien/hukum,

4)      melaksanakan tugas sebagai koordinator yaitu diantaranya mengkoordinir, memberikan bimbingan teknis, mengadakan monitoring dan evaluasi terhadap pekerjaan Pramusila,

5)      bekerja sama dan saling mendukung dengan pelaksana pelayanan lainnya dalam tim pelayanan demi keberhasilan pelayanan,

6)      menghargai hak-hak Pramusila dan klien,

7)      membuat  laporan rutin kepada Pengelola.

Perawatan kesehatan usia lanjut di rumah sebagai salah satu kegiatan yang bernuansa pemberdayaan keluarga akan berjalan dengan baik dan optimal bilamana ada komponen pokok yang dimaksud adalah Klien, Pengasuh, koordinator kasus yang akan mengatur kebutuhan klien akan pelayanan kesehatan baik dokter, gizi, fisioterapis dan sebagainya.

  1. Klien dalam perawatan kesehatan pra usia lanjut dan usia lanjut di rumah terdiri dari pra usia lanjut atau usia lanjut senagai penerima perawatan kesehatan di rumah. Dalam hal ini salah satu anggota keluarga sebagai penanggung jawab yang mewakili klien.
  1. Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh pra usia lanjut atau usia lanjut sebagai klien dalam menerima perawatan kesehatan di rumah yang dilakukan oleh Pramusila adalah sebagai berikut.

1)      Mempunyai keluarga atau pihak lain yang akan bertanggung jawab atau menjadi wali/pendamping bagi klien dalam berinteraksi dengan Koordinator maupun Pramusila.

2)      Bersedia menandatangani persetujuan (inform consent)/perjanjian kerja dengan Pengelola Perawatan Kesehatan di Rumah untuk memenuhi kewajiban, tanggung jawab dan haknya dalam menerima pelayanan.

  1. Sedangkan hak-hak seorang klien adalah sebagai berikut.

1)      Memperoleh informasi tentang hak dan kewajibannya termasuk pembiayaan pelayanan.

2)      Mendapat pelayanan profesional.

3)      Mendapat penjelasan tentang rencana pelayanan yang akan diberikan.

4)      Berpartisipasi atau menolak penetapan rencana, pelaksanaan tindakan dan perubahan asuhan yang dapat mempengaruhi kesehatannya.

5)      Memperoleh perlakuan yang layak dari pelaksana pelayanan yang mempunyai identitas yang jelas.

6)      Berhak mengemukakan pendapat tentang perubahan pelayanan atau pergantian pelaksana pelayanan yang melayani tanpa rasa takut ditolak atau menerima perlakuan diskriminasi.

7)      Mendapat perlindungan hukum atas tindakan yang diterima dan dirasakan merugikan dan menyimpang dari perjanjian.

  1. Kewajiban sebagai klien dalam perawatan kesehatan di rumah adalah sebagai berikut.

1)      Mematuhi perjanjian kerja/kesepakatan yang telah dibuat bersama.

2)      Melaksanakan kewajiban membayar pelayanan yang diterima sesuai dengan biaya yang telah disepakati.

3)      Bekerjasama dengan pelaksana pelayanan yang memberikan pelayanan.

4)      Menghargai hak pelaksana pelayanan sesuai norma yang berlaku.

  1. Pengasuh dalam perawatan kesehatan usia lanjut di rumah adalah salah seorang anggota keluarga sanak famili, tetangga atau relawan yang bertugas menjaga dan merawat klien sehari-hari di rumah. Para pengasuh ini pada umumnya adalah seorang perempuan atau laki-laki yang dapat memberikan dukungan dan bantuan kepada klien, sehingga mereka dapat diberdayakan selama mungkin sesuai kondisinya. Syarat sebagai Pengasuh :

1)      bersedia menjaga dan merawat klien di rumah,

2)      berusia minimal 20 tahun,

3)      pendidikan minimal SLTP,

4)      sabar, telaten, dan memahami kejiwaan klien.

  1. Hak sebagai Pengasuh :

1)      memperoleh informasi tentang hak dan kewajibannya,

2)      memperoleh perlakuan yang layak sesuai norma yang berlaku,

3)      berhak mengemukakan pendapat yang berkaitan dengan masalah-masalah klien,

4)      mendapat perlindungan hukum atas tindakan yang diterima dan dirasakan merugikan.

  1. Kewajiban sebagai Pengasuh :

1)      melaksanakan tugas sesuai  dengan rencana pelayanan yang telah disepakati,

2)      merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya berkaitan dengan keadaan klien,

3)      menghargai hak pribadi klien.

Pramusila adalah seorang perempuan atau laki-laki yang melaksanakan kegiatan perawatan kesehatan klien di rumah termasuk kegiatan-kegiatan pendukung lainnya baik secara suka rela maupun menerima imbalan.Pramusila merupakan salah satu komponen penting untuk mencapai keberhasilan perawatan kesehatan di rumah. Tugasnya adalah memberikan pelayanan perawatan kesehatan secara berkala atau sesuai kebutuhan klien di rumah termasuk pelayanan pendukung lainnya, seperti menemani klien bicara, membantu keperluan klien, membantu perawatan diri dan lain-lain.

Ada 3 (tiga) jenis Pramusila :

1) Pramusila Sukarela (Pramusila Tipe A)

adalah pramusila yang bekerja tanpa menerima imbalan dengan motivasi ingin meringankan penderitaan usia lanjut, mengisi waktu luang, atau sekadar bersosialisasi dan sebagainya.

2) Pramusila yang mendapat imbalan sekadarnya (Pramusila Tipe B)

adalah Pramusila yang melaksanakan perawatan kesehatan klien di rumah dengan menerima imbalan untuk pengganti transport. Imbalan tersebut dapat berasal langsung dari klien, masyarakat, Lembaga Swadaya Masyarakat atau yayasan serta donor lainnya.

3) Pramusila yang mendapat imbalan penuh (Pramusila Tipe C)

adalah Pramusila yang melaksanakan perawatan kesehatan usia lanjut di rumah dengan menerima imbalan penuh sesuai standar upah yang berlaku. Imbalan tersebut utamanya berasal dari klien atau keluarganya, masyarakat, Lembaga Swadaya Masyarakat, yayasan dan donor lainnya.

Seorang Pramusila dapat menangani 1 (satu) atau beberapa orang klien, dan seorang klien bisa ditangani oleh satu atau lebih Pramusila, yaitu Pramusila sukarela dan sekaligus Pramusila yang dibayar penuh.

KOMPONEN PENUNJANG

Komponen penunjang terdiri dari Tim Perawatan Kesehatan Masyarakat yang berada di Puskesmas, dokter keluarga yang berada di masyarakat dan Tim Rawat Rumah yang berada di Rumah Sakit, baik Rumah Sakit yang tidak mempunyai maupun yang telah mempunyai Klinik Geriatri.

  1. a. Tim Perawatan Kesehatan Masyarakat (Perkesmas)

Tim Perawatan Kesehatan Masyarakat adalah Unit Perawatan Kesehatan di Rumah yang berada di Puskesmas yang terdiri dari berbagai kategori tenaga kesehatan di Puskesmas.

  1. b. Dokter Keluarga

Dokter Keluarga yaitu dokter yang melaksanakan praktek kedokteran keluarga baik secara mandiri maupun berkelompok.

  1. c. Tim Rawat Rumah (RR)

Pelayanan rawat rumah berbasis rumah sakit yang diselenggarakan oleh rumah sakit sebagai penyelenggara pelayanan rujukan diberikan kepada klien di rumah setelah menjalani rawat inap untuk mengatasi kondisi akut. Pelayanan kesehatan yang diberikan bersifat holistik dengan memperhatikan aspek psikososial, ekonomi dan budaya, yang penyelenggaranya bekerjasama dengan Puskesmas sebagai penyelenggara pelayanan di tingakt dasar.

Tim Rawat Rumah terdiri dari dokter, perawat, bidan, ahli gizi, terapis, dan lain-lain yang bertugas melakukan tindak lanjut pelayanan kepada klien di rumah.

  1. Pramusila
  1. Persyaratan untuk dapat menjadi Pramusila.

1)      Pramusila tipe A

Syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam menjalankan tugas sebagai Pramusila tipe A adalah

a)      bersedia bekerja secara sukarela minimal selama 1 tahun,

b)      berusia minimal 20 tahun,

c)      pendidikan minimal SLTP,

d)     sabar, telaten dan memahami kejiwaan klien,

e)      mendapatkan pelatihan.

2)      Pramusila tipe B

Syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam menjalankan tugas sebagai Pramusila tipe B adalah

a)      berusia minimal 20 tahun,

b)      bersedia melaksanakan tugas dengan imbalan sekedarnya,

c)      pendidikan minimal SLTP,

d)     sabar, telaten dan memahami kejiwaan klien,

e)      mendapatkan pelatihan.

3)      Pramusila tipe C

Syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam menjalankan tugas sebagai Pramusila tipe C adalah

a)      berusia minimal 20 tahun,

b)      mempunyai sertifikat pelatihan Perawatan Kesehatan di Rumah,

c)      mampu memberikan pelayanan secara mandiri dan bertanggung jawab,

d)     mampu menjalankan standar prosedur yang ditetapkan,

e)      mampu memberikan pelayanan sesuai dengan etika yang ditetapkan,

f)       bersedia melakukan kontrak kerja dengan Pengelola Perawatan Kesehatan di Rumah,

g)      sabar, telaten dan memahami kejiwaan klien.

  1. Baik sebagai Pramusila tipe A, tipe B maupun tipe C, dalam menjalankan Perawatan Kesehatan di Rumah mempunyai hak sebagai berikut.

1)      Berhak mendapatkan imbalan jasa sesuai dengan perjanjian kerja kecuali bagi Pramusila sukarela.

2)      Memperoleh perlakuan yang layak sesuai norma yang berlaku.

3)      Memperoleh informasi yang berkaitan dengan setiap perubahan pelayanan, perubahan pembiayaan pelayanan dan kemungkinan dihentikannya perjanjian kerja.

4)      Berhak mengemukakan pendapat yang berkaitan dengan peningkatan mutu pelayanan serta perlindungan terhadap pelaksana pelayanan maupun klien.

5)      Mendapat perlindungan hukum atas tindakan yang dirasakan merugikan.

6)      Memperoleh dukungan dari Pengelola dan klien serta keluarganya dalam melaksanakan tugasnya.

  1. Sedangkan kewajiban Pramusila adalah sebagai berikut.

1)      Mentaati peraturan dan disiplin kerja yang telah ditetapkan oleh Pengelola.

2)      Memberikan pelayanan bermutu.

3)      Merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya berkaitan dengan keadaan klien kecuali untuk kepentingan klien/hukum.

4)      Melaksanakan tugas sesuai dengan rencana pelayanan yang telah disepakati.

5)      Bekerja sama dan saling mendukung dengan pelaksana pelayanan lainnya dalam tim pelayanan demi keberhasilan pelayanan.

6)      Menghargai hak-hak klien.

7)      Membuat  laporan rutin ke Koordinator Kasus.

PERAWATAN KESEHATAN USIA LANJUT DI RUMAH

Agar perawatan kesehatan usia lanjut di rumah terlaksana dengan baik maka pelaksanaannya dimulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan penilaian. Kegiatan ini juga harus mempunyai indikator pencapaian untuk dapat diukur keberhasilannya.

  1. A. PERENCANAAN

Dalam proses perencanaan ada beberapa tahapan yang harus dilalui yaitu

  1. 1. Identifikasi masalah

Diawali dengan pengumpulan data dengan pendekatan konsep wilayah dan Kelompok Usia Lanjut untuk mendapatkan data-data yang diperlukan, dilanjutkan dengan tahap analisis masalah dan perumusan masalah.

  1. Pengumpulan data

Tahap pengumpulan data ini dapat dilakukan dengan pendekatan konsep wilayah melalui Kelompok Usia Lanjut untuk mendapatkan data yang diperlukan. Data-data tersebut antara lain berapa jumlah pra usia lanjut dan usia lanjut yang berada di wilayah tersebut, jumlah yang membutuhkan perawatan di rumah karena mempunyai gangguan fisik, psikologis, penyakit kronis atau penanganan pasca rawat inap.

  1. Analisis masalah

Analisis ini dilakukan terhadap masalah-masalah kesehatan yang tercatat dalam data secara kualitatif maupun kuantitatif.

  1. Perumusan masalah

Dari perumusan masalah akan diidentifikasi apakah klien membutuhkan perawatan di rumah atau tidak, jenis perawatan, berat beban perawatan dan seberapa besar tim perawatan yang akn melakukan intervensi serta berapa orang Pramusila yang terlibat di dalamnya.

  1. 2. Identifikasi sumber daya

Identifikasi sumber daya meliputi identifikasi tenaga pelaksana, dana dan sarana serta prasarana yang dibutuhkan dalam pelaksanaan perawatan di rumah.

  1. Identifikasi tenaga pelaksana

Melakukan identifikasi tenaga pelaksana yang terlibat dalam perawatan kesehatan usia lanjut di rumah meliputi Pengasuh, Pramusila dan Koordinator Kasus.

  1. Identifikasi dana

Dana yang dibutuhkan bagi pelaksanaan kegiatan perawatan kesehatan di rumah dapat bersumber dari swadana masyarakat, dana senat atau dana dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Dana tersebyt dipergunakan untuk proses pemilihan dan pelatihan Pramusila serta dana operasional yaitu dana untuk upah Koordinator Kasus maupun Pramusila Tipe B dan C. Sedangkan untuk Pramusila tipe A walaupun bersifat sukarela tetap akan membutuhkan biaya dalam proses pemilihan dan pelatihan.

  1. Identifikasi sarana dan prasarana

Sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam perawatan di rumah misalnya :

1)      kit usia lanjut,

2)      buku pedoman,

3)      KMS usia lanjut,

4)      Buku pemantauan kesehatan usia lanjut,

5)      Format pencatatan dan pelaporan.

  1. 3. Penyusunan rencana kerja

Berdasarkan identifikasi masalah dan identifikasi sumber daya disusun rencana kerja yang jelas, spesifik, terukur dan mempunyai daya ungkit yang jelas dengan menggunakan prinsip manajemen (4W 1H). Untuk lebih jelasnya informasi lebih lengkap dapat membaca perencanaan tingkat Puskesmas pada Buku Pedoman Perencanaan Tingkat Puskesmas.

  1. B. PELAKSANAAN

Untuk melaksanakan perawatan kesehatan klien di rumah, perlu dilakukan tahapan kegiatan sebagai berikut.

  1. Pemilihan dan pelatihan Pramusila
    1. Pemilihan Pramusila

Proses pemilihan Pramusila dapat dilakukan dengan pendekatan melalui anggota Kelompok Usia Lanjut, Karang Taruna, Pramuka, Kelompok Pengajian, Kelompok Jemaat Gereja dan sebagainya. Calon Pramusila yang berminat untuk selanjutnya diseleksi berdasarkan syarat-syarat yang telah ditentukan.

  1. Pelatihan Pramusila

Agar dapat melakukan tugasnya dengan baik maka Pramusila perlu mendapatkan pelatihan. Pelatihan dilakukan oleh Pengelola Perawatan Kesehatan di Rumah bekerjasama dengan Puskesmas dan Rumah Sakit setempat.

1)      Materi pelatihan terdiri dari :

a)      kebijakan program kesehatan usia lanjut,

b)      proses menua,

c)      jenis gangguan dan penyakit pada usia lanjut,

d)     gizi usia lanjut,

e)      personal hygiene (kebersihan diri),

f)       dasar-dasar merawat orang sakit,

g)      kesehatan jiwa usia lanjut,

h)      fisioterapi,

i)        kebugaran jasmani,

j)        pengobatan alternatif,

k)      home care,

l)        kewirausahaan

m)    komunikasi/penyuluhan,

n)      praktek di Rumah Sakit, Panti Wredha, Rumah.

2)      Waktu pelatihan

Waktu yang digunakan untuk pelatihan Pramusila adalah selama 12 minggu dimana 1 minggu = 5 hari, 1 hari = 6 jam pelajaran, 1 jam pelajaran = 45 menit. Pelatihan terdiri dari teori 4 minggu, praktek di Rumah Sakit 4 minggu, praktek di Panti Wredha 1 minggu dan praktek home care 3 minggu.

Mekanisme Perawatan Kesehatan di Rumah

Mekanisme kegiatan perawatan kesehatan usia lanjut di rumah meliputi tahapan sebagai berikut.

  1. Klien dapat dijaring melalui keluarga, masyarakat, Rumah Sakit, Unit Rawat Rumah dan praktek pribadi tenaga kesehatan serta dari pendataan puskesmas.
  2. Pengelola Perawatan Kesehatan di Rumah yang berada di Puskesmas menerima rujukan atau mencari kasus untuk selanjutnya diteruskan kepada Tim Perawatan Kesehatan di Rumah.
  3. Koordinator Kasus dengan melibatkan Tim Perawatan Kesehatan di Rumah akan menentukan apakah klien secara medis layak di rawat di tempat tinggal mereka atau dirujuk ke institusi pelayanan kesehatan lain (Puskesmas, Klinik dan Rumah Sakit).
  4. Selanjutnya klien akan menerima pelayanan dari pelaksana pelayanan Perawatan Kesehatan di Rumah dari Pramuwerdha atau tenaga profesional lainnya. Pelayanan dikoordinir dan dikendalikan oleh Koordinator Kasus. Setiap tindakan yang diberikan kepada klien oleh semua pelaksana pelayanan harus diketahui oleh Koordinator Kasus.
  5. Secara periodik Koordinator Kasus akan melakukan pemantauan dan penilaian tentang pelayanan yang diberikan.

Untuk lebih jelasnya mekanisme perawatan kesehatan pra usia lanjut dan usia lanjut di rumah dapat dilihat pada bagan berikut ini.

Bagan 2. Mekanisme Perawatan Kesehatan Usia Lanjut di Rumah

Keterangan :

: untuk klien yang memenuhi persyaratan rawat rumah

: untuk klien yang memerlukan perawatan yang lebih  intensif (layanan rujukan)

  1. Lingkup Pelayanan

Lingkup pelayanan kesehatan di rumah meliputi pelayanan perawatan yang komprehensif dan holistik (fisik, psikologik, sosial dan spiritual) dengan sasaran :

1)      usia lanjut mandiri

Pelayanan yang ditujukan untuk usia lanjut mandiri adalah meliputi kegiatan promotif dan preventif,

2)      usia lanjut pasca awat inap dan risiko tinggi

disamping pelayanan promotif dan preventif maka perawatan kesehatan di rumah ditujukan untuk kegiatan kuratif dan rehabilitasi untuk mempertahankan kondisi dan mengembalikan fungsi yang terganggu seoptimal mungkin.

  1. C. PEMANTAUAN DAN PENILAIAN

Pemantauan dan penilaian meliputi program dan pelayanan. Untuk pemantauan dan penilaian program meliputi :

  1. prosentase pra usia lanjut dan usia lanjut yang dilayani,
  2. prosentase Pramusila yang mendapat pelatihan,
  3. prosentase Pramusila yang aktif melaksanakan perawatan kesehatan pra usia lanjut dan usia lanjut di rumah,
  4. prosentase pengasuh yang terlibat dalam perawatan kesehatan pra usia lanjut  dan usia lanjut di rumah,
  5. tersedianya jadwal kegiatan dan notulen rapat Tim Perawatan Kesehatan di Rumah.

Pemantauan dan penilaian pelayanan meliputi :

  1. kemandirian usia lanjut yang dilayani,
  2. frekuensi kunjungan Pramusila atau pelaksana pelayanan perawatan kesehatan di rumah
  3. D. INDIKATOR

Untuk dapat menilai hasil pemantauan dan penilaian tersebut di atas, diperlukan indikator sebagai berikut.

Matriks 1. Indikator Perawatan Kesehatan Usia Lanjut di Rumah

No

Indikator

(dalam kurun waktu 1 tahun)

Target nasional

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

Prosentase pra usia lanjut yang dilayani (proporsi pra usia lanjut yang mendapat pelayanan dari yang membutuhkan pelayanan)

Prosentase usia lanjut yang dilayani (proporsi usia lanjut yang mendapat pelayanan dari yang membutuhkan pelayanan)

Prosentase Pramusila yang telah mendapat pelatihan

Prosentase Pramusila yang aktif melakukan pelayanan

Prosentase pengasuh yang terlibat dalam perawatan kesehatan di rumah

Jadwal kegiatan tim

Notulen rapat tim minimal sekali dalam seminggu

Prosentase peningkatan kemandirian klien yang dirawat dinilai berdasarkan indeks ADL (Kazt, 1960)

Frekuensi kunjungan Pramusila sesuai kontrak kerja

……………………%

……………………%

……………………%

……………………%

……………………%

Ada/tidak

Ada/tidak

……………………%

Ada/tidak

Referensi:

Departemen Kesehatan dirjen pelayanan medik, Pedoman perawatan kesehatan

di rumah. 2002.

Keputusan direktur jenderal pelayanan medik no HK,00.06.51.311 tentang

pedoman pelayanan kesehatan di rumah.

Sofwan Dahlan, Aspek hukum profesi perawat. 2007

Nyoman Cakra. Konsep dan strategi home care,2007

1 Comment more...

REFLECTIVE PRACTICE

STRATEGY QUALITY IMPROVEMENT IN HEALTH CARE PRACTICE: IMPROVING NURSE’S COMPETENCE THROUGH REFLECTIVE PRACTICE.

INTRODUCTION

Throughout this paper-improving nurse competence through reflective practice will be discussed, analysed and used as strategic quality improvement in health care practice.

Health care services in many developed counties have come under critical inspection in recent years. In part, this is because of increasing spending, much of it funded by public sources, and the pressure this has put on government seeking to control public spending (Williamson, 1993). In hospital, there is a lot of high technology that is very expensive, but the effective and efficiency of care are questionable. Furthermore, the question of defining, measuring, monitoring, and improving the quality of health care and service has been addressed in various ways over time (Koch, 1991). When Florence Nightingale thought about quality of care, she used her intuition and her experience to assess good and bad qualities of care (Koch, 1991). From her notes, quality of care was evaluated.

There are many definitions of the term quality assurance by people who have researched the subject thoroughly. A definition that I feel is both appropriate and easily understood is that given by Ellis and whittington (1993,p. 3) ‘quality assurance the term is also used more generally for all the steps which must be taken in order that the customer or other interested person will be consistently provided with quality’. They add, “ quality must be specified in term of standards. Thus quality assurance should be measurement of the actual level of service provided plus the efforts of the measurement. Quality can be defined as that which meets customer requirements. There is internal customer (health provider) and external (clients).

According to Webster (1998) that” quality is not simply about achieving task to meet patient needs, it should involve patient-centred decision making and innovative care aimed at meeting individual needs”.

Based on these statements, quality of care focuses in-patients centres.  Ellis and Whittington, (1993) state that “Assurance in health care is innovative only in so far as it involves clarification and systematisation of technique of setting, appraising and maintaining standards”. As a result, to measure quality, they needed standard of quality. According to (Mckee & Lessof, 1992) state that “patient length of stay was rarely inspect, and nurses, who demonstrated little autonomy in their practice, viewed themselves as having almost no effect on the patient’s overall course of hospitalisation”. This statement is truth, in clinical area each patient said that they have recovered from sickness because of the doctor x, without having any idea that nurses also have taken part in health care practice. (Mckee & Lessof, 1992) add that “enhanced patient satisfaction with nursing care, continuity of patient care, and improved professional satisfaction for nurses were other documented benefits.

The practice of nursing requires the application of knowledge and simultaneous exercise of judgement and skills. It is not easy for nurses to develop their knowledge and competencies without experience. The UKCC (1993) has suggested a model for the continuum of practice in which “practitioners have no end point in their need to maintain and develop standards of practice”. This statement appropriates with definition of clinical supervision that “an exchange between practising professionals to enable the development of professional skills”.

In Indonesia there is no system, which supports to nurses. They have problems in how to implement nursing knowledge in clinical areas. One student (who has experience as a nurse for five years) said, “ we have academic knowledge and skills from, but it is difficult for us to implement”. She described that many nurses in hospital worked following the doctor, they look after patient with routine. This made us confused and frustrated. Doctors often complained that they were requested to visit patients for inappropriate reasons, although the nurses believed that they had valid reasons for the request (Elliott, 1998). For example, when patients got breathing difficulty (dispynua) nurse call the doctor, after the doctor come, this because, nurse can not properly to monitor patients. Nurses to become nervous and call his, because the family always asks to call the doctor. This problem also often arises in hospital, where I was a nurse. One senior doctor said, I always check the blood pressure of patients by myself, because I do not trust the document written by nurses. On analysing the problem, the doctor has experienced of nurse documentation, at the same time the result of blood pressure between one doctor and one nurse was different. It appeared that the controversy could be minimised if nurses develop skills in the physical examination of patients and could communicate with medical staff in a more effective manner. Based on the statement above, nurses should have ability to monitor the patient’s condition every time. The aims are nurses and doctor could collaborate to prevent complication of the diseases. Nurses should have ability to improve their competence from day to day practice through a reflective practice.

SITUATION ANALYSES

How can quality of care be improved? In UK clinical governance has responsibility for the quality of care jointly on organisation and on individual bases within organisations (Butterworth and Woods, 1999). Royal college of nursing states (1998) that “clinical governance is a framework which helps all clinicians including nurses- to continuously improve quality and safeguard standards of care”. And clinical supervision is “ a formal process of professional support and learning which enables individual practitioners to develop knowledge and competence, assume responsibility for their own practice and enhance consumer protection and safety of care in complex clinical situation” (DOH 1993).

There is relationship between the good practice of clinical supervision and the responsibilities for clinical governance. Butterworth and woods, (1999) Clinical supervision should properly be seen as taking its place in a wider framework of activities that are designed to manage enhance and monitor the delivery of high quality clinical services. Based on above statement clinical supervision and clinical governance working together to achieve quality improvement.

In UK clinical supervision it has been considered to be fundamental in safeguarding standards, developing capability and provide quality of care (Cutcliffe and Proctor, 1998). According to the UKCC (1996) clinical supervision brings practitioners and skilled supervisor together to reflect on practice. Nurses need support for their work. Skills should be continuously exchange and improved throughout professional life. Clinical supervision need time and ability and is not an incidental event (Butterworth and Faugier, 1998).

In clinical supervision session, they used a reflective practice, which can change conceptual perspective. This new concept could improve their competence in day to day practice. There are structure models of reflection these are Kolb (1984), Driscoll (1996), Gibson (1988), Johns (1994) and Gibson (1988). These models can help nurses to learn from the experience.

Johns (1992) states that there are 5 stages of structured reflection. The first stage is that the supervisor asks the supervisee to express their experience, including a phenomenon, causal, and context. The second stage is reflection when the supervisor tries to ask the supervisee about their experience. The supervisor hopes, the nurses can explore what happened and how they felt about it. The third stage is when the supervisor tries to find influencing factors such as internal factors, external factors and the source of the knowledge that influenced the clinical supervision session. The forth stage, when the supervisor asks whether they could have dealt better which the situation. The last stage is learning and that is how the supervisee learns from the their experience.

This structure describes how to gain learning from experienced nurses’ ease. The questions about some aspects, it is very helpful to implement this model of reflection. Clinical supervision has beneficial such as improving nurse skills; reducing of nurse stress and maintaining standard practice/quality of care (Butterworth et al 1997).

In Indonesia there are many discussions about quality assurance. Since the new law of health from the parliament has been used on 1993, community started to talk about quality of health care.  Six years ago medicine association made a standard for doctors to achieve quality. The department of health, through sub dit keperawatan made standard asuhan keperawatan (a nursing standard) on 1994.

There are no research finding in nurse problems. But there is phenomena that newly qualified nurses work in hospital without support. Moreover, if they did make a mistake, nobody support them. As the results newly nurse always worry and just waiting order from senior nurses. Clinical supervision is as system to support nurses in reducing stress, improving nurse skills and maintain standard practice (Kohner, 1994) .  The author believes that this can help nurses in Semarang Indonesia, to improving nurse skills and maintain standard practice.

Nurses prefer working behind the doctors, they not release that quality of care depend on nurses’ competence. It can be seen that in many seminar, nurses discussed quality without any agreement, what should they do to implement standards. They have thought that quality of care is, nurses have to implement standard a from nurses association (PPNI). They never thought that, nurses should attention with patient’s satisfied. In about 1997, Departments of health invited nurses manager to discuss about quality. They have agreement to implement nursing standard.

Now, the government made accreditation to apply the nursing standard. There is team monitoring from department of health, this team have responsibility for monitoring of quality of care. If a hospital was implement this standard with properly, it means the outcome of nursing care suitable with from monitoring. The hospital receipt certificate from the government.  This standard consists of a philosophy of nursing, patients’ assessment, diagnoses, planning, evaluation and nursing process documentation and a nursing procedure.  Furthermore many hospital competed to achieve quality. Nurses have challenged to take part. Nurses are the largest occupational group in health care, making up almost half of the total workforce. In Kariadi Hospital, is an education Hospital, the total number of nurses was 658.  The largest number of qualified nurses come from high school level, about 60 %, the number of Diploma nurses educating from the Academy of nursing were about 39.34 %, and baccalaureate (BSc) was about 0, 33 %. Finally, the graduated in DIV nursing program (nurse educator) from University of Diponegoro was 0.33%. Furthermore, quality of care depends on the quality of nurses.

THE PROBLEMS IN QUALITY OF CARE

“Nursing has been described as helping service concerned with aiding individuals to accomplish goals for themselves which they are unable to accomplish without help from others” (Orem, 1995, p. 69).

In Indonesia nursing as a profession was accepted by the government in 1983 through lokakarya keperawatan (Nursing workshop). In 1985 the University of Indonesia opened S1 nursing program (equivalent to a BSc) under the Faculty of Medicine. Although nursing has improved since that time, traditional views and attitudes toward nursing has not changed, for example one doctor in the author’s hospital link said “we do not need professional nurses yet”.  However the same doctor also said  “nurses in Indonesia have been less developed than in other countries.  At that time nurses’ look for some understanding about the nurses role. It has been almost 16 years, since nurse’s lack of confidence to co-work with doctors in the profession.

Nurses have their profession for long time (about 16 years), but some doctors have an opinion that nurse’s work to assist them. One senior doctor tells me that “ I accept that nursing is a profession like ours. But in fact they have been difficulty to discuss with us.  Mackay, (1989) states that nurses are a problem. They are problem for their patients, for their manager and for their government. They also cause problems for themselves. Nursing is not easy job. It is both stressful and tiring. They call nursing the caring profession but who care for carers? From the author’s experiences, most of nurses were working in two hospitals at the same time. The reason was, the salary from one hospital is not enough to live for their family. Nurse’s work to look after patients, but as human was being they need a support system to encourage their working.

Nurses can not fully assist patients with their need. Because, there are often not enough nurses to go round. Nurses visit patients when the doctors need to see their patients to assist their conditions, so nurse accompany the doctor for this mission. This situation gave patients’ the opinion that the nurses come always with the doctors. However as profession, the nurses must be independent ( Mckee & Lessof, 1992).

As a result there is a complaint that it takes long time to handle patients problems. I have been a nurse for 16 years. Sometimes, when I come in Hospital there is a patient who has spent a week in Hospital, but nurses doesn’t know the patient problems, they explain that “we are waiting for the doctor and we don’t know what the problems are with this patient”. The patient complained where is the doctor, why they are not always in Hospital?

This situation can not happen if the nurses assess the patients and make diagnoses, and they know the patient problems. (Rolfe, 1998). I tried to find what are the nurse problems, some nurses who have worked for about 25 years, as senior nurse stated that “nurses unable to assess patient problems, they have no confidence to implement their knowledge, ”. There is no research on the nurse problems. But, from the experienced, another nurse added that they unable to take physical assessments, and psychology, social, lack of confidant to work together with doctor”. According to Porter (1999,p.99) “The level of nurses’ openness in decision making processes depended on the circumstances in which they are working”.

Although the PPNI (nurses association in central java, Semarang) tried to improve nurses’ competencies through seminars and workshops held in schools, hospitals and universities, but nurses in hospital, find it difficult to implement new concepts. Based on the statements above, nurses need support for their work, they have knowledge but they have difficulty to implement their knowledge. Now the author is aware of the need for same systems to help solving this problem. In the author‘s opinion nurses not having adequate support systems cause the problems and they need to improve their competence with learning from the experience through reflective practice.

PLANNING

According to Geboers at al (1998) aspect of a model for continuous quality improvement:

  • Involving all staff
  • Setting targets for improvement
  • Establishing priorities toward subjects that especially need improvement
  • Performing small and easy to handle improvement projects
  • Using the quality cycle and easy to use tools and techniques.

The questions are:

How can to improve nurse’s competencies in health assessment to handle patient’s problems?

How can nurses and doctors working together to improve quality of care in hospital?

Based on a model for continuous quality improvement. The author made planning in the following is:

MEETING

To discuss the nurse problems. The need for a deeper understanding of the nature of everyday nursing practice has never been better. Demands for a more cost-effective and efficient nursing service (Macleod, 1994). Karyadi Hospital has quality improvement programs and Director have been made a committee (working group) to improve quality of care. Some nurse’s complaint that they have made quality improvement programs. But the manager not agrees with our programs. They give the reason that it very expensive, one of them stated that “ please, give me program without it costing money and which can improve quality of care”. Nurses should discuss this situation.

According to Macleod, (1994).  “More cost effective, patient-centred care is a central goal of health care reform. Patient centre nursing provides for greater continuity, comprehensiveness, autonomy and responsibility on the part of the nurse”. Based on these problems, the author offers quality improvement program. How to improve nurse skills in health assessment with reflective practice. Health assessment is part of nursing care plan.

Webster (1998) states that “ nursing care plan is integral to the delivery of quality care”. Reflection is about learning from experience. Johns (1995) states that “ reflective practice can be interpreted as being the practitioner’s ability to access, make sense of and learn through work experience, to achieve more desirable, effective and satisfying work”. And Haddock (1997) add, “ reflective practice has become an accepted part of nursing development”. Learning from experience can help them to plan carefully for future changes and development. Contribution experiences, reflecting with, and learning from, others can also recover communication between nurses.

According to Marrow et al (1997) “ I believe that clinical supervision using reflective approach is the way forward and will” It appears that to use reflective practice, they need to implement clinical supervision session. And because of they learn between themselves. As the results this program is not need to add many but it can improve nurse performance in health assessment. Finally, it can improve quality of care.

SETTING TARGET FOR IMPROVEMENT QUALITY

To answer the question how can improving nurse’s competence in health assessment and working together with doctor, the author will offer setting programs the following are:

  1. Nurses release that they need support each other to improve their competence through learning from experience.
  2. The author will offer clinical supervision as a system to support nurses in clinical areas. The types and models of clinical supervision see appendix no1. And reflective practice as method to learn from their experience. The models of reflection see appendix no 2.
  3. Nurses can work together with doctors to improve quality of care, through increasing nurse’s competence in health assessment.
  4. Nurses perform physical assessment and learn, through reflective practice..
  5. framework for  implementation

The author proposes the following framework for implementation:

Experienced nurse Receive training Certificate as  a supervisor Provide clinical supervision with nursing students and nurses
Lecturers Receive training Certificate as a mentor Provide mentorship with nursing students

ESTABLISHING PRIORITIES TOWARD SUBJECTS THAT ESPECIALLY NEED IMPROVEMENT

There are types and models of clinical supervision, to this program the author will use group supervision. Group supervision is clinical supervision where a group of nurses meet together for supervision (Carrol 1996). Benefits of group supervision include, input from a number of people, chance to experience other counselling orientation/nursing approaches, receiving a supportive atmosphere from peers, especially for beginning counsellors/nurse, the importance of listening to others describing how they work and the problems they have and evaluation and feedback from a number of people. Emotional supports from peers who are in similar learning situation can be useful.

The author will use the functional model (Proctor model, undate) include “ three functions within an interactive model supervision that can be applied to nursing. The three interactive function are formative, restorative and normative” (Faugier and Butterworth, 1994, p.16). The author plans that with group supervision and functional model (Proctor, undate). They will start to implement clinical supervision. And each clinical supervision session they used reflective practice. Literatures state there are same models of reflection, which can help nurses to learn from the experience. These are:

Kolb’s (1984) model of reflection

A simplified description of Kolb’s theory is that it is a four- stage cyclical learning process through which the observations from an experience are translated into concepts and/or theory, which in turn has implication for future experiences.

Kolb’s (1984) model of reflection

Concrete experience
Testing implications of concepts in new situations
Observations and reflections
Formation of abstract concepts and generalisations

This model focus on the role of experience in learning as the result new concept is created from the transformation of experience. For example when nurses have experience on injection. Nurses sometime face different response with difference patients. From the response of the patient, nurses can learn that before nurses give injection to the patient they need to assist patient condition, whether psychology or physic. Furthermore, they should understand the response of the patients.

Model of structured reflection.

Johns (1992) states that there are 5 stages of structured reflection.

The first stage is that the supervisor asks the supervisee to express their experience, including a phenomenon, causal, and context. For example if nurse have experienced fails to measure blood pressure, she will is asked why you can not measure, what the cause and factors influence this situation.

In The second stage is reflection when the supervisor tries to ask the supervisee about their experience. The supervisor hopes, the nurses can explore what happened and how they felt about it. May be the nurse felt bad or sad;

The third stage is when the supervisor tries to find influencing factors such as internal factors, external factors and the source of the knowledge that influenced the clinical supervision session. May be there are some internal (nurses themselves) or external factors (patients and environments).

The fourth stage, when the supervisor asks whether they could have dealt better which the situation. She will be asked how she can deal with this condition. The last stage is learning and that is how the supervisee learns from the their experience. Finally, nurses have new method to measure blood pressure.

This structure describes how to gain learning from experienced nurses’ ease. The questions about some aspects, it is very helpful to implement this model of reflection. From discussion nurses can understand about it.

Gibbon’s model of reflection.

The reflective cycle (Gibson, 1998)

Description

What happened?

Analysis

What sense can you make of situation?

This model describes how nurses can be helped to become more self aware of the situations.  In clinical supervision session, nurses will explore their experience and what they’re feeling and thinking with their experience. Nurses can evaluation and decide that this good or bad. And discussing and make conclusions, which can make nurse, have new a good intervention.

Boud, Keogh and Walkers (1985) model of reflection.

Reflection is a form of the learner response to experience. In our model we have indicated two main components: the experience and the reflective activity based upon that experience. In the sense in which we are using the term, experiences consist of the total response of a person to a situation or event: what he or she thinks, feels, does and concludes at the time and immediately thereafter (Boud et al 1985).

The reflection process in contexts.

Stage 1. Returning to the experience: In this stage the learner mentally replay the experience, describing what happened in a descriptive, non-judgmental way. In this stage nurses need to explore their experience, do not thinking that this bad or good.

Stage2: Attending to feelings: This stage is about getting in touch with the learner’s own feelings about the experience, utilising any positive feelings about the experience and removing any feelings that may frustrate the reflection. Nurses will discuss their feeling. The supervisor will try and support to the supervisee to explore positive feeling, which can ovoid nurse frustration.

Stage 3. Re-evaluating the experience: This stage is broken down into four sub stages, association, integration, validation and appropriation. This stage supervisor and supervisor, based on nurse experience will get new intervention to handle patients.

This model help nurses to gain new perspective from the experiences. The reflective process and outcomes is clearly.

Driscoll’s model (1994) of reflection.

Based on the work of Boud, Keogh and Walker 1985. The what format of structured reflection by Driscoll (1994) has three stages: The first stage is returning to the situation and discussing to find what is happening with the their experience. The second stage is an understanding of the context of their feeling. For example the supervisor asks: How do you feel at the time and how do you feel now? After that, they discuss to understand the context. The last stage is a modifying future outcome. In this stage of reflection, they try to find solution to change the situation. This model expanded from Boud, Keogh and Walker (1985) with the questions in the learning process of reflection.

PERFORMING SMALL AND EASY TO HANDLE IMPROVEMENT PROJECTS

This project should handle properly. Furthermore, the author need to prove that clinical supervision has beneficial to improve quality of care. To achieve the aims, the author will implement in one group of nurses in surgical ward. Moreover, if nurses prove that clinical supervision is a system of support for nurses the author intend to implement in all wards in hospital.

USING THE QUALITY CYCLE AND EASY TO USE TOOLS AND TECHNIQUES.

The problem is how a can nurse’s co-work with doctors through improving nurse’s competence in health assessment to monitor the patient problems. The quality measure is, nurses can handle the patient problems so patient should be satisfaction with health care service. Doctors-nurses can collaborate to solve the patient problems. The committee should be meeting regularly to maintain quality improvement.

Key targets
  1. They make a health assessment procedure as clinical guidelines, this guidelines can improve the quality of care (NHS Executive, 199).
  2. Developing, reflective practice and types and models clinical supervision from day to day in their practice. Nurses should make decide to implement a type and model that match, with their need. (UKCC, 1996).
  3. Developing, an individual performance reviews (IPR). The IPR system represents a dynamic system that is designed to review progress, identify potential, examine training needs and discuss future plans (Bromwich, 1993). The NHS recommend the use of the IPR in order to deliver high standards of nursing care (Bromwich, 1993).
PLAN OF ACTION
No
Activities
The aims
Responsible Monitoring
Indicator
1 Involving all staff (meeting) To discuss the nurse problems. Ward sister in surgery ward Problems identified 100 % nurses agree with this planning.
2 Presentation about clinical supervision and reflective practice/training. To know that clinical supervision as support system for nurses Ward sister Nurses known and chose type of clinical supervision. Nurses make an agreement to choose the type of clinical supervision, which will match with the situation in Semarang. This type is group supervision
3 Discuss role’s mentor and supervisor To decide who as mentor or supervisor. Leader and ward sister Found who are a mentor and a supervisor. There are at least two supervisor and one mentor in this ward
4 Try to implement group supervision To evaluate, which suitable with their need. The author and leader Nurses give an evaluation, to develop clinical supervision. Nurses state that  group supervision is a type, which match with their need or not
5 Clinical supervision session about health assessment To increase self confident of nurses The author Nurses understand why they should assessment 60 % of nurses have an ability to assess patients, and they can identify patient problems.
6 Make planning to evaluate To find the problems The author and leader Using clinical guidelines. There is a clinical guideline to assist nurses to achieve quality of health assessment and nurses use it, to discuss in clinical supervision session through a reflective practice.
7 Meeting regularly To maintenance implementing of clinical supervision. Leader and ward sister Improving skill health assessment through reflective practice with Individual performance review (IPR). There is an individual performance review (IPR), 60% of nurses use reflective practice in their day to day practice.

CONCLUSION.

This essay describing how to improving quality of care through reflective practice. Nurses in Semarang Indonesia, have difficulty to identify patient problems. There are some complaints from some doctors have difficulty to discuss with nurses. Some nurses stated that they have difficulty to implement knowledge, this situation made some nursing students frustrated. The author offers clinical supervision, which through clinical supervision session they use reflective practice to improve their skills, In this project, as start program focusing on improving nurse’s skills in health assessment, hopefully it can help nurses to identify patients problems. The beneficial of the clinical supervion session use reflective practice are effective and efficient, effective because, nurses learn from their work. From day to day practice, they get new intervention, which found in their experience. Efficient because, there is no special time that they should spent time. To implement this project, the author made key targets. It can make easy to monitor through performance indicator to measure the results of the project. Whether this project will be success or not.

REFERENCES:

Bromwich, N (1993). Implementing individual performance review. British journal of nursing, vol. 2, no 18.

Butterworth, T; Carson, j; White, E. (1997). Clinical supervision and mentorship. It is good talk. An evaluation study in England and Scotland. Manchester: School of Nursing, Midwifery and Health Visiting, University of Manchester.

Butterworth, T & Woods, D (1999). Clinical governance and clinical supervision; working together to ensure safe and accountable practice (A briefing paper). University of Manchester. Manchester.

Boud D, Keogh R & Walker D (Eds) (1985) Reflection: Turning experience into practice. Kogan Page, London/Nichols publishing co, New York.

Department of Health (1993) A vision for the future report of the chief nursing officer. DOH. London

Driscoll J (1994) Reflective practice for practise, Senior Nurse 13 (7): 47-50.

Ellis, R and Whittington, D (1994). Quality assurances in health care a handbook. Edward Arnold, London.

Elliott P. (1998). A community hospital perspective on advanced nursing practice. In advanced nursing practice (Rolfe and Fulbrook, 1998) Butterworth Heinemann. Oxford.

Geboers. H, Grol.R, Bosch.W, Hoogen.H, Mokkink.H,Montfort.P and Oltheten.H. (1999). A model for continuous quality improvement in small scale practices. Quality in Health Care. Vol. 8 no 1.

Gibbs, G (1988) Learning by Doing : A Guide to Teaching and Learning Methods, Further Education Unit, Oxford Polytechnic, Oxford.

Grant.P and Quinn.F.M (1998). Clinical supervision. in Continuing Professional Development in Nursing ed by Quinn.F.M. Stanley Thornes, Cheltenham, UK.

John, C (1993).  Professional Supervision, Journal of  Nursing  Management , 1, 9-18.

Johns C (1994). Nuances of reflection. Journal of clinical Nursing  3: 71-75.

Johns C (1995). The value of reflection practice in nursing. Journal of clinical nursing 4: 23-30.

Johns, C (1998). Knowing and realizing advanced practice through guided reflection. In Advanced nursing practice (Rolfe, G and Fulbrook, P) Butterworth and Heinemann, oxford.

Kolb, D.A.(1984) Experiential learning, Prentice-Hall,London

Koch HCH (1991). Total quality Management in Health Care. Longman, London

Kohner, N (1994). Clinical supervision in practice. Kings Fund Centre London.

Mckee M and Lessof. L (1992) Nurse and doctor: Whose task is it anyway? In policy issues in nursing (eds J.Robinson, A. Gray & r. Elkan). Open university Press. Buckingham.

Macleod, M (1994). ‘It’s the little things that count’: the hidden complexity of every clinical nursing practice. Journal of clinical nursing, 3: 361-368.

Mackay, L (1989). Nursing a problem. Open University press, Philadelphia.

NHS executive (1998.) Clinical Guidelines. Using clinical guidelines to improve patient care within the NHS. London.

Rolfe, G (1998). Advanced practice and the reflective nurse: developing knowledge out of practice. In advanced nursing practice (Rolfe and Fulbrook, 1998) Butterworth Heinemann. Oxford.

Royal college of nursing (1998). Guidance for nurses on clinical governance. RCN, London.

Orem, D.E (1995). Nursing concepts of practice. Mosby, St Louis.

Porter,S (1999). Working with doctors. In eds Wilkinson.G and Miers.M, Power and Nursing practice. Macmillan press ltd. London.

Proctor, B (1986). Supervision:a co-operative exercise in accountability in Marken M, Payne M(Eds) Enabling and ensuring. Leicester National Youth Bureau and Council for Education and training in Youth and Community Work.

UKCC (1996). Position statement on clinical supervision for nursing and health visiting. April. UKCC, London.

Williamson, C (1993). Whose standards? Consumer and professional standards in health care. Open University Press. Buckingham.

Webster.J (1998). The effect of care planning on quality of patient care. Professional Nurse, vol. 14 no 2.

STRATEGY QUALITY IMPROVEMENT IN HEALTH CARE PRACTICE: IMPROVING NURSE’S COMPETENCE THROUGH REFLECTIVE PRACTICE.

INTRODUCTION

Throughout this paper-improving nurse competence through reflective practice will be discussed, analysed and used as strategic quality improvement in health care practice.

Health care services in many developed counties have come under critical inspection in recent years. In part, this is because of increasing spending, much of it funded by public sources, and the pressure this has put on government seeking to control public spending (Williamson, 1993). In hospital, there is a lot of high technology that is very expensive, but the effective and efficiency of care are questionable. Furthermore, the question of defining, measuring, monitoring, and improving the quality of health care and service has been addressed in various ways over time (Koch, 1991). When Florence Nightingale thought about quality of care, she used her intuition and her experience to assess good and bad qualities of care (Koch, 1991). From her notes, quality of care was evaluated.

There are many definitions of the term quality assurance by people who have researched the subject thoroughly. A definition that I feel is both appropriate and easily understood is that given by Ellis and whittington (1993,p. 3) ‘quality assurance the term is also used more generally for all the steps which must be taken in order that the customer or other interested person will be consistently provided with quality’. They add, “ quality must be specified in term of standards. Thus quality assurance should be measurement of the actual level of service provided plus the efforts of the measurement. Quality can be defined as that which meets customer requirements. There is internal customer (health provider) and external (clients).

According to Webster (1998) that” quality is not simply about achieving task to meet patient needs, it should involve patient-centred decision making and innovative care aimed at meeting individual needs”.

Based on these statements, quality of care focuses in-patients centres.  Ellis and Whittington, (1993) state that “Assurance in health care is innovative only in so far as it involves clarification and systematisation of technique of setting, appraising and maintaining standards”. As a result, to measure quality, they needed standard of quality. According to (Mckee & Lessof, 1992) state that “patient length of stay was rarely inspect, and nurses, who demonstrated little autonomy in their practice, viewed themselves as having almost no effect on the patient’s overall course of hospitalisation”. This statement is truth, in clinical area each patient said that they have recovered from sickness because of the doctor x, without having any idea that nurses also have taken part in health care practice. (Mckee & Lessof, 1992) add that “enhanced patient satisfaction with nursing care, continuity of patient care, and improved professional satisfaction for nurses were other documented benefits.

The practice of nursing requires the application of knowledge and simultaneous exercise of judgement and skills. It is not easy for nurses to develop their knowledge and competencies without experience. The UKCC (1993) has suggested a model for the continuum of practice in which “practitioners have no end point in their need to maintain and develop standards of practice”. This statement appropriates with definition of clinical supervision that “an exchange between practising professionals to enable the development of professional skills”.

In Indonesia there is no system, which supports to nurses. They have problems in how to implement nursing knowledge in clinical areas. One student (who has experience as a nurse for five years) said, “ we have academic knowledge and skills from, but it is difficult for us to implement”. She described that many nurses in hospital worked following the doctor, they look after patient with routine. This made us confused and frustrated. Doctors often complained that they were requested to visit patients for inappropriate reasons, although the nurses believed that they had valid reasons for the request (Elliott, 1998). For example, when patients got breathing difficulty (dispynua) nurse call the doctor, after the doctor come, this because, nurse can not properly to monitor patients. Nurses to become nervous and call his, because the family always asks to call the doctor. This problem also often arises in hospital, where I was a nurse. One senior doctor said, I always check the blood pressure of patients by myself, because I do not trust the document written by nurses. On analysing the problem, the doctor has experienced of nurse documentation, at the same time the result of blood pressure between one doctor and one nurse was different. It appeared that the controversy could be minimised if nurses develop skills in the physical examination of patients and could communicate with medical staff in a more effective manner. Based on the statement above, nurses should have ability to monitor the patient’s condition every time. The aims are nurses and doctor could collaborate to prevent complication of the diseases. Nurses should have ability to improve their competence from day to day practice through a reflective practice.

SITUATION ANALYSES

How can quality of care be improved? In UK clinical governance has responsibility for the quality of care jointly on organisation and on individual bases within organisations (Butterworth and Woods, 1999). Royal college of nursing states (1998) that “clinical governance is a framework which helps all clinicians including nurses- to continuously improve quality and safeguard standards of care”. And clinical supervision is “ a formal process of professional support and learning which enables individual practitioners to develop knowledge and competence, assume responsibility for their own practice and enhance consumer protection and safety of care in complex clinical situation” (DOH 1993).

There is relationship between the good practice of clinical supervision and the responsibilities for clinical governance. Butterworth and woods, (1999) Clinical supervision should properly be seen as taking its place in a wider framework of activities that are designed to manage enhance and monitor the delivery of high quality clinical services. Based on above statement clinical supervision and clinical governance working together to achieve quality improvement.

In UK clinical supervision it has been considered to be fundamental in safeguarding standards, developing capability and provide quality of care (Cutcliffe and Proctor, 1998). According to the UKCC (1996) clinical supervision brings practitioners and skilled supervisor together to reflect on practice. Nurses need support for their work. Skills should be continuously exchange and improved throughout professional life. Clinical supervision need time and ability and is not an incidental event (Butterworth and Faugier, 1998).

In clinical supervision session, they used a reflective practice, which can change conceptual perspective. This new concept could improve their competence in day to day practice. There are structure models of reflection these are Kolb (1984), Driscoll (1996), Gibson (1988), Johns (1994) and Gibson (1988). These models can help nurses to learn from the experience.

Johns (1992) states that there are 5 stages of structured reflection. The first stage is that the supervisor asks the supervisee to express their experience, including a phenomenon, causal, and context. The second stage is reflection when the supervisor tries to ask the supervisee about their experience. The supervisor hopes, the nurses can explore what happened and how they felt about it. The third stage is when the supervisor tries to find influencing factors such as internal factors, external factors and the source of the knowledge that influenced the clinical supervision session. The forth stage, when the supervisor asks whether they could have dealt better which the situation. The last stage is learning and that is how the supervisee learns from the their experience.

This structure describes how to gain learning from experienced nurses’ ease. The questions about some aspects, it is very helpful to implement this model of reflection. Clinical supervision has beneficial such as improving nurse skills; reducing of nurse stress and maintaining standard practice/quality of care (Butterworth et al 1997).

In Indonesia there are many discussions about quality assurance. Since the new law of health from the parliament has been used on 1993, community started to talk about quality of health care.  Six years ago medicine association made a standard for doctors to achieve quality. The department of health, through sub dit keperawatan made standard asuhan keperawatan (a nursing standard) on 1994.

There are no research finding in nurse problems. But there is phenomena that newly qualified nurses work in hospital without support. Moreover, if they did make a mistake, nobody support them. As the results newly nurse always worry and just waiting order from senior nurses. Clinical supervision is as system to support nurses in reducing stress, improving nurse skills and maintain standard practice (Kohner, 1994) .  The author believes that this can help nurses in Semarang Indonesia, to improving nurse skills and maintain standard practice.

Nurses prefer working behind the doctors, they not release that quality of care depend on nurses’ competence. It can be seen that in many seminar, nurses discussed quality without any agreement, what should they do to implement standards. They have thought that quality of care is, nurses have to implement standard a from nurses association (PPNI). They never thought that, nurses should attention with patient’s satisfied. In about 1997, Departments of health invited nurses manager to discuss about quality. They have agreement to implement nursing standard.

Now, the government made accreditation to apply the nursing standard. There is team monitoring from department of health, this team have responsibility for monitoring of quality of care. If a hospital was implement this standard with properly, it means the outcome of nursing care suitable with from monitoring. The hospital receipt certificate from the government.  This standard consists of a philosophy of nursing, patients’ assessment, diagnoses, planning, evaluation and nursing process documentation and a nursing procedure.  Furthermore many hospital competed to achieve quality. Nurses have challenged to take part. Nurses are the largest occupational group in health care, making up almost half of the total workforce. In Kariadi Hospital, is an education Hospital, the total number of nurses was 658.  The largest number of qualified nurses come from high school level, about 60 %, the number of Diploma nurses educating from the Academy of nursing were about 39.34 %, and baccalaureate (BSc) was about 0, 33 %. Finally, the graduated in DIV nursing program (nurse educator) from University of Diponegoro was 0.33%. Furthermore, quality of care depends on the quality of nurses.

THE PROBLEMS IN QUALITY OF CARE

“Nursing has been described as helping service concerned with aiding individuals to accomplish goals for themselves which they are unable to accomplish without help from others” (Orem, 1995, p. 69).

In Indonesia nursing as a profession was accepted by the government in 1983 through lokakarya keperawatan (Nursing workshop). In 1985 the University of Indonesia opened S1 nursing program (equivalent to a BSc) under the Faculty of Medicine. Although nursing has improved since that time, traditional views and attitudes toward nursing has not changed, for example one doctor in the author’s hospital link said “we do not need professional nurses yet”.  However the same doctor also said  “nurses in Indonesia have been less developed than in other countries.  At that time nurses’ look for some understanding about the nurses role. It has been almost 16 years, since nurse’s lack of confidence to co-work with doctors in the profession.

Nurses have their profession for long time (about 16 years), but some doctors have an opinion that nurse’s work to assist them. One senior doctor tells me that “ I accept that nursing is a profession like ours. But in fact they have been difficulty to discuss with us.  Mackay, (1989) states that nurses are a problem. They are problem for their patients, for their manager and for their government. They also cause problems for themselves. Nursing is not easy job. It is both stressful and tiring. They call nursing the caring profession but who care for carers? From the author’s experiences, most of nurses were working in two hospitals at the same time. The reason was, the salary from one hospital is not enough to live for their family. Nurse’s work to look after patients, but as human was being they need a support system to encourage their working.

Nurses can not fully assist patients with their need. Because, there are often not enough nurses to go round. Nurses visit patients when the doctors need to see their patients to assist their conditions, so nurse accompany the doctor for this mission. This situation gave patients’ the opinion that the nurses come always with the doctors. However as profession, the nurses must be independent ( Mckee & Lessof, 1992).

As a result there is a complaint that it takes long time to handle patients problems. I have been a nurse for 16 years. Sometimes, when I come in Hospital there is a patient who has spent a week in Hospital, but nurses doesn’t know the patient problems, they explain that “we are waiting for the doctor and we don’t know what the problems are with this patient”. The patient complained where is the doctor, why they are not always in Hospital?

This situation can not happen if the nurses assess the patients and make diagnoses, and they know the patient problems. (Rolfe, 1998). I tried to find what are the nurse problems, some nurses who have worked for about 25 years, as senior nurse stated that “nurses unable to assess patient problems, they have no confidence to implement their knowledge, ”. There is no research on the nurse problems. But, from the experienced, another nurse added that they unable to take physical assessments, and psychology, social, lack of confidant to work together with doctor”. According to Porter (1999,p.99) “The level of nurses’ openness in decision making processes depended on the circumstances in which they are working”.

Although the PPNI (nurses association in central java, Semarang) tried to improve nurses’ competencies through seminars and workshops held in schools, hospitals and universities, but nurses in hospital, find it difficult to implement new concepts. Based on the statements above, nurses need support for their work, they have knowledge but they have difficulty to implement their knowledge. Now the author is aware of the need for same systems to help solving this problem. In the author‘s opinion nurses not having adequate support systems cause the problems and they need to improve their competence with learning from the experience through reflective practice.

PLANNING

According to Geboers at al (1998) aspect of a model for continuous quality improvement:

  • Involving all staff
  • Setting targets for improvement
  • Establishing priorities toward subjects that especially need improvement
  • Performing small and easy to handle improvement projects
  • Using the quality cycle and easy to use tools and techniques.

The questions are:

How can to improve nurse’s competencies in health assessment to handle patient’s problems?

How can nurses and doctors working together to improve quality of care in hospital?

Based on a model for continuous quality improvement. The author made planning in the following is:

MEETING

To discuss the nurse problems. The need for a deeper understanding of the nature of everyday nursing practice has never been better. Demands for a more cost-effective and efficient nursing service (Macleod, 1994). Karyadi Hospital has quality improvement programs and Director have been made a committee (working group) to improve quality of care. Some nurse’s complaint that they have made quality improvement programs. But the manager not agrees with our programs. They give the reason that it very expensive, one of them stated that “ please, give me program without it costing money and which can improve quality of care”. Nurses should discuss this situation.

According to Macleod, (1994).  “More cost effective, patient-centred care is a central goal of health care reform. Patient centre nursing provides for greater continuity, comprehensiveness, autonomy and responsibility on the part of the nurse”. Based on these problems, the author offers quality improvement program. How to improve nurse skills in health assessment with reflective practice. Health assessment is part of nursing care plan.

Webster (1998) states that “ nursing care plan is integral to the delivery of quality care”. Reflection is about learning from experience. Johns (1995) states that “ reflective practice can be interpreted as being the practitioner’s ability to access, make sense of and learn through work experience, to achieve more desirable, effective and satisfying work”. And Haddock (1997) add, “ reflective practice has become an accepted part of nursing development”. Learning from experience can help them to plan carefully for future changes and development. Contribution experiences, reflecting with, and learning from, others can also recover communication between nurses.

According to Marrow et al (1997) “ I believe that clinical supervision using reflective approach is the way forward and will” It appears that to use reflective practice, they need to implement clinical supervision session. And because of they learn between themselves. As the results this program is not need to add many but it can improve nurse performance in health assessment. Finally, it can improve quality of care.

SETTING TARGET FOR IMPROVEMENT QUALITY

To answer the question how can improving nurse’s competence in health assessment and working together with doctor, the author will offer setting programs the following are:

  1. Nurses release that they need support each other to improve their competence through learning from experience.
  2. The author will offer clinical supervision as a system to support nurses in clinical areas. The types and models of clinical supervision see appendix no1. And reflective practice as method to learn from their experience. The models of reflection see appendix no 2.
  3. Nurses can work together with doctors to improve quality of care, through increasing nurse’s competence in health assessment.
  4. Nurses perform physical assessment and learn, through reflective practice..
  5. framework for  implementation

The author proposes the following framework for implementation:

Experienced nurse Receive training Certificate as  a supervisor Provide clinical supervision with nursing students and nurses
Lecturers Receive training Certificate as a mentor Provide mentorship with nursing students

ESTABLISHING PRIORITIES TOWARD SUBJECTS THAT ESPECIALLY NEED IMPROVEMENT

There are types and models of clinical supervision, to this program the author will use group supervision. Group supervision is clinical supervision where a group of nurses meet together for supervision (Carrol 1996). Benefits of group supervision include, input from a number of people, chance to experience other counselling orientation/nursing approaches, receiving a supportive atmosphere from peers, especially for beginning counsellors/nurse, the importance of listening to others describing how they work and the problems they have and evaluation and feedback from a number of people. Emotional supports from peers who are in similar learning situation can be useful.

The author will use the functional model (Proctor model, undate) include “ three functions within an interactive model supervision that can be applied to nursing. The three interactive function are formative, restorative and normative” (Faugier and Butterworth, 1994, p.16). The author plans that with group supervision and functional model (Proctor, undate). They will start to implement clinical supervision. And each clinical supervision session they used reflective practice. Literatures state there are same models of reflection, which can help nurses to learn from the experience. These are:

Kolb’s (1984) model of reflection

A simplified description of Kolb’s theory is that it is a four- stage cyclical learning process through which the observations from an experience are translated into concepts and/or theory, which in turn has implication for future experiences.

Kolb’s (1984) model of reflection

Concrete experience
Testing implications of concepts in new situations
Observations and reflections
Formation of abstract concepts and generalisations

This model focus on the role of experience in learning as the result new concept is created from the transformation of experience. For example when nurses have experience on injection. Nurses sometime face different response with difference patients. From the response of the patient, nurses can learn that before nurses give injection to the patient they need to assist patient condition, whether psychology or physic. Furthermore, they should understand the response of the patients.

Model of structured reflection.

Johns (1992) states that there are 5 stages of structured reflection.

The first stage is that the supervisor asks the supervisee to express their experience, including a phenomenon, causal, and context. For example if nurse have experienced fails to measure blood pressure, she will is asked why you can not measure, what the cause and factors influence this situation.

In The second stage is reflection when the supervisor tries to ask the supervisee about their experience. The supervisor hopes, the nurses can explore what happened and how they felt about it. May be the nurse felt bad or sad;

The third stage is when the supervisor tries to find influencing factors such as internal factors, external factors and the source of the knowledge that influenced the clinical supervision session. May be there are some internal (nurses themselves) or external factors (patients and environments).

The fourth stage, when the supervisor asks whether they could have dealt better which the situation. She will be asked how she can deal with this condition. The last stage is learning and that is how the supervisee learns from the their experience. Finally, nurses have new method to measure blood pressure.

This structure describes how to gain learning from experienced nurses’ ease. The questions about some aspects, it is very helpful to implement this model of reflection. From discussion nurses can understand about it.

Gibbon’s model of reflection.

The reflective cycle (Gibson, 1998)

Description

What happened?

Analysis

What sense can you make of situation?

This model describes how nurses can be helped to become more self aware of the situations.  In clinical supervision session, nurses will explore their experience and what they’re feeling and thinking with their experience. Nurses can evaluation and decide that this good or bad. And discussing and make conclusions, which can make nurse, have new a good intervention.

Boud, Keogh and Walkers (1985) model of reflection.

Reflection is a form of the learner response to experience. In our model we have indicated two main components: the experience and the reflective activity based upon that experience. In the sense in which we are using the term, experiences consist of the total response of a person to a situation or event: what he or she thinks, feels, does and concludes at the time and immediately thereafter (Boud et al 1985).

The reflection process in contexts.

Stage 1. Returning to the experience: In this stage the learner mentally replay the experience, describing what happened in a descriptive, non-judgmental way. In this stage nurses need to explore their experience, do not thinking that this bad or good.

Stage2: Attending to feelings: This stage is about getting in touch with the learner’s own feelings about the experience, utilising any positive feelings about the experience and removing any feelings that may frustrate the reflection. Nurses will discuss their feeling. The supervisor will try and support to the supervisee to explore positive feeling, which can ovoid nurse frustration.

Stage 3. Re-evaluating the experience: This stage is broken down into four sub stages, association, integration, validation and appropriation. This stage supervisor and supervisor, based on nurse experience will get new intervention to handle patients.

This model help nurses to gain new perspective from the experiences. The reflective process and outcomes is clearly.

Driscoll’s model (1994) of reflection.

Based on the work of Boud, Keogh and Walker 1985. The what format of structured reflection by Driscoll (1994) has three stages: The first stage is returning to the situation and discussing to find what is happening with the their experience. The second stage is an understanding of the context of their feeling. For example the supervisor asks: How do you feel at the time and how do you feel now? After that, they discuss to understand the context. The last stage is a modifying future outcome. In this stage of reflection, they try to find solution to change the situation. This model expanded from Boud, Keogh and Walker (1985) with the questions in the learning process of reflection.

PERFORMING SMALL AND EASY TO HANDLE IMPROVEMENT PROJECTS

This project should handle properly. Furthermore, the author need to prove that clinical supervision has beneficial to improve quality of care. To achieve the aims, the author will implement in one group of nurses in surgical ward. Moreover, if nurses prove that clinical supervision is a system of support for nurses the author intend to implement in all wards in hospital.

USING THE QUALITY CYCLE AND EASY TO USE TOOLS AND TECHNIQUES.

The problem is how a can nurse’s co-work with doctors through improving nurse’s competence in health assessment to monitor the patient problems. The quality measure is, nurses can handle the patient problems so patient should be satisfaction with health care service. Doctors-nurses can collaborate to solve the patient problems. The committee should be meeting regularly to maintain quality improvement.

Key targets
  1. They make a health assessment procedure as clinical guidelines, this guidelines can improve the quality of care (NHS Executive, 199).
  2. Developing, reflective practice and types and models clinical supervision from day to day in their practice. Nurses should make decide to implement a type and model that match, with their need. (UKCC, 1996).
  3. Developing, an individual performance reviews (IPR). The IPR system represents a dynamic system that is designed to review progress, identify potential, examine training needs and discuss future plans (Bromwich, 1993). The NHS recommend the use of the IPR in order to deliver high standards of nursing care (Bromwich, 1993).
PLAN OF ACTION
No
Activities
The aims
Responsible Monitoring
Indicator
1 Involving all staff (meeting) To discuss the nurse problems. Ward sister in surgery ward Problems identified 100 % nurses agree with this planning.
2 Presentation about clinical supervision and reflective practice/training. To know that clinical supervision as support system for nurses Ward sister Nurses known and chose type of clinical supervision. Nurses make an agreement to choose the type of clinical supervision, which will match with the situation in Semarang. This type is group supervision
3 Discuss role’s mentor and supervisor To decide who as mentor or supervisor. Leader and ward sister Found who are a mentor and a supervisor. There are at least two supervisor and one mentor in this ward
4 Try to implement group supervision To evaluate, which suitable with their need. The author and leader Nurses give an evaluation, to develop clinical supervision. Nurses state that  group supervision is a type, which match with their need or not
5 Clinical supervision session about health assessment To increase self confident of nurses The author Nurses understand why they should assessment 60 % of nurses have an ability to assess patients, and they can identify patient problems.
6 Make planning to evaluate To find the problems The author and leader Using clinical guidelines. There is a clinical guideline to assist nurses to achieve quality of health assessment and nurses use it, to discuss in clinical supervision session through a reflective practice.
7 Meeting regularly To maintenance implementing of clinical supervision. Leader and ward sister Improving skill health assessment through reflective practice with Individual performance review (IPR). There is an individual performance review (IPR), 60% of nurses use reflective practice in their day to day practice.

CONCLUSION.

This essay describing how to improving quality of care through reflective practice. Nurses in Semarang Indonesia, have difficulty to identify patient problems. There are some complaints from some doctors have difficulty to discuss with nurses. Some nurses stated that they have difficulty to implement knowledge, this situation made some nursing students frustrated. The author offers clinical supervision, which through clinical supervision session they use reflective practice to improve their skills, In this project, as start program focusing on improving nurse’s skills in health assessment, hopefully it can help nurses to identify patients problems. The beneficial of the clinical supervion session use reflective practice are effective and efficient, effective because, nurses learn from their work. From day to day practice, they get new intervention, which found in their experience. Efficient because, there is no special time that they should spent time. To implement this project, the author made key targets. It can make easy to monitor through performance indicator to measure the results of the project. Whether this project will be success or not.

REFERENCES:

Bromwich, N (1993). Implementing individual performance review. British journal of nursing, vol. 2, no 18.

Butterworth, T; Carson, j; White, E. (1997). Clinical supervision and mentorship. It is good talk. An evaluation study in England and Scotland. Manchester: School of Nursing, Midwifery and Health Visiting, University of Manchester.

Butterworth, T & Woods, D (1999). Clinical governance and clinical supervision; working together to ensure safe and accountable practice (A briefing paper). University of Manchester. Manchester.

Boud D, Keogh R & Walker D (Eds) (1985) Reflection: Turning experience into practice. Kogan Page, London/Nichols publishing co, New York.

Department of Health (1993) A vision for the future report of the chief nursing officer. DOH. London

Driscoll J (1994) Reflective practice for practise, Senior Nurse 13 (7): 47-50.

Ellis, R and Whittington, D (1994). Quality assurances in health care a handbook. Edward Arnold, London.

Elliott P. (1998). A community hospital perspective on advanced nursing practice. In advanced nursing practice (Rolfe and Fulbrook, 1998) Butterworth Heinemann. Oxford.

Geboers. H, Grol.R, Bosch.W, Hoogen.H, Mokkink.H,Montfort.P and Oltheten.H. (1999). A model for continuous quality improvement in small scale practices. Quality in Health Care. Vol. 8 no 1.

Gibbs, G (1988) Learning by Doing : A Guide to Teaching and Learning Methods, Further Education Unit, Oxford Polytechnic, Oxford.

Grant.P and Quinn.F.M (1998). Clinical supervision. in Continuing Professional Development in Nursing ed by Quinn.F.M. Stanley Thornes, Cheltenham, UK.

John, C (1993).  Professional Supervision, Journal of  Nursing  Management , 1, 9-18.

Johns C (1994). Nuances of reflection. Journal of clinical Nursing  3: 71-75.

Johns C (1995). The value of reflection practice in nursing. Journal of clinical nursing 4: 23-30.

Johns, C (1998). Knowing and realizing advanced practice through guided reflection. In Advanced nursing practice (Rolfe, G and Fulbrook, P) Butterworth and Heinemann, oxford.

Kolb, D.A.(1984) Experiential learning, Prentice-Hall,London

Koch HCH (1991). Total quality Management in Health Care. Longman, London

Kohner, N (1994). Clinical supervision in practice. Kings Fund Centre London.

Mckee M and Lessof. L (1992) Nurse and doctor: Whose task is it anyway? In policy issues in nursing (eds J.Robinson, A. Gray & r. Elkan). Open university Press. Buckingham.

Macleod, M (1994). ‘It’s the little things that count’: the hidden complexity of every clinical nursing practice. Journal of clinical nursing, 3: 361-368.

Mackay, L (1989). Nursing a problem. Open University press, Philadelphia.

NHS executive (1998.) Clinical Guidelines. Using clinical guidelines to improve patient care within the NHS. London.

Rolfe, G (1998). Advanced practice and the reflective nurse: developing knowledge out of practice. In advanced nursing practice (Rolfe and Fulbrook, 1998) Butterworth Heinemann. Oxford.

Royal college of nursing (1998). Guidance for nurses on clinical governance. RCN, London.

Orem, D.E (1995). Nursing concepts of practice. Mosby, St Louis.

Porter,S (1999). Working with doctors. In eds Wilkinson.G and Miers.M, Power and Nursing practice. Macmillan press ltd. London.

Proctor, B (1986). Supervision:a co-operative exercise in accountability in Marken M, Payne M(Eds) Enabling and ensuring. Leicester National Youth Bureau and Council for Education and training in Youth and Community Work.

UKCC (1996). Position statement on clinical supervision for nursing and health visiting. April. UKCC, London.

Williamson, C (1993). Whose standards? Consumer and professional standards in health care. Open University Press. Buckingham.

Webster.J (1998). The effect of care planning on quality of patient care. Professional Nurse, vol. 14 no 2.


KEPERAWATAN JIWA

STRATEGIES OF IMPROVING REHABITATION SERVICES: MOVING FROM HOSPITAL TO COMMUNITY

MEIDIANA DWIDIYANTI SKp, MSc

Abtrak

Rumah Sakit Jiwa Semarang tahunan tergambar bahwa 56 % dari pasien yang masuk rumah sakit adalah mempunyai usia antara 24-44 tahun yang kita ketehui termasuk usia produktif. Dari mereka menurut laporan, rata-rata pulang pergi ke rumah sakit satu sampai sepuluh kali.Menurut mentri kesehatan ada 25% orang indonesi sakit jiwa(2008). Saat ini banyak keluaraga yang mempunyai orang sakit jiwa cenderung mengandalkan  penyembuhannya dari sakit jiwa hanya dengan obat-obatan. Sedangkan banyak masalah yang berkaitan dengan adaptasi psikologi tidak dipahami oleh mereka. Semantara itu orang sakit jiwa yang baru pulang dari Rumah Sakit perlu di bantu oleh keluargaya dan masyarakat untuk beradaptasi dan ini sangat membantu proses penyembuhan  pasien.Tulisan ini menggambarkan tentang masalah-masalah yang muncul akibat masuknya pasien di rumah sakit dan pentingnya kerja sama rumah sakit dan masyarakat untuk pelayanan kesehatan yang berkelanjutan

A.INTRODUCTION:

Many people with a major mental illness experience poor self-concept and have reduced opportunities to experience meaning in their lives.  Bachrach, (1986) states that patients with a mental illness experience a wide range of problems which impacts on their ability to live successfully in the community. They include diminished social networks, stigma, poverty, unemployment and a general lack of belonging. This is clearly highlighted in my hometown in Semarang Indonesia, where individuals, who have mental illness, always return to hospital after being discharged. How they live in community with depend on their family, unemployment. From the author’s experienced, there are various factors which influence these situations including social withdrawal, estrangement from friends because of stigma of being mentally ill and over-protection of the parents.

Hume, (1994, p.1) state that “rehabilitation is the process through which a person is helped to adjust to the limitations of his disability. Where lost skills may be regained, or new coping strategies developed, so that the person achieves competence. The nature of the impairment dictates the particular focus of rehabilitation, but at all times the person must be treated as an individual”.  When one thinks of disability arising from mental ill in these terms the enormous size of the problem of rehabilitation becomes apparent.

Mental health services have been reformed in Australia and this has been ongoing since 1992. Models of care have been changed from institutional care to community based care. Staffs are working in new ways (Queensland Health, 1994). The new community-oriented approach to the provision of mental health services has raised the challenge of responding to all individuals’ life needs in community settings (Commonwealth of Australia, 1995).  In Semarang, there are no community services for people who are mental ill, which can provide social support, are likely to beneficial. According to Mueller (1980) the enhancement of the benefits of social support to people with a mental illness is important because people with enduring mental health problems are known to have restricted social networks.  One family said that when doctor stated that my son was planned to go home, I am felt sad because I can not do everything and he made self-conscious in daily of life and I have embarrassed with my neighbour.

Leff et al (1982) states that In the mid 1950 medication such as Largactil created an important break- through in treatment of schizophrenia. Side effects from psychotropics may occur in up to 100% of patients treated and lead to drug discontinuation in about 5%-10%. Side effects, they may also cause irreversible neurological damage, and even death (Dewan, 1989) Published research has demonstrated that education and support from carers, with appropriate medication, reduces the relapse rate for sufferers. This statement link with the situation in Semarang. A family stated that their son was not co-operating to take his medicine. They never thought that besides medicine, there are important things, which can help their son to recover. These are family and social supports in the community. There is a stigma that people mental illness can not work. Therefore, people in the community always isolate them. Families who have a member with mental illness send them to hospital. The management of the patient’s problems will then depend on the provision in hospital. The rehabilitation process requires the involvement of a number of people. Family and friends, fellow patients and hospital staff, all play their roles (Lakey and Simpkins, 1994:xv).

Clearly they need a rehabilitation program, but families avoided seeking to solve the problems. This is because, they do not know, after going home, how families can help the people with mental illness. And the community have stigma that mental illness are a curse and make trouble in the community.

In the psychiatric hospital, in Semarang, the annual hospital report (1998/1999) statistics highlighted that more than half of the number of patients (56%) was between 25-44 years old. These people, because they were young, can be independent and productive individuals in their lives. However, despite their potential some of them have frequently returned from one to ten times to hospital. It appears there are problems with institutionalisation. , Jennings (1983) suggests that for every 100 000 of the population aged between 15 and 64, between 24 and 36 adults in 1979, there were likely to be newly recruited long-stay patients. Many patients thus remain dependent on hospital services and can never be rehabilitated to independent living. Evidence suggests that even when long-stay patients are discharged, few achieve full independence from hospital services (Norman and Parker, 1990). Some patients after leaving hospital choose to follow a day care program, this means that, they can work in the hospital such as, in the kitchen, in the hospital office and workshop. Some parents give salary to their children not the hospital. The hospital report (1998/1999) stated that there were 57 women and 57 men following this program. All rehabilitation programs focus on the hospital. From these situations, problems are perpetuated in the community; stigma is reinforced on family.  These support the incorrect belief that people with mental illness are considered to be sub-human. The author has observed that some families with a member with mental illness always close the door and window. Furthermore, they have difficulty in making relationship with their neighbours.

The hospital has a program that is home visit. Social workers and staff from hospital visit the patient’s families. The reasons are, because, families never visit patients in hospital and some families, never contact the hospital (the report psychiatric hospital, 1998/1999). In community there are no education and information to help families understand problems with mental illness. So with information and education lead to behavioural change and bridges the gap between hospital and community.   Hamilton et al (1989) argue that family intervention programmes aimed at educating relatives and helping them cope more effectively with the patients illness have shown positive effects on the course of schizophrenia. Based on these statements, the author intends to set up a strategy for improving rehabilitation services moving from hospital to community with education and information of people with mental illness to the families and neighbours in community, Semarang, Indonesia.

B.LITERATURE REVIEW

Individuals with psychiatric disabilities have the same goals and dreams as anyone else. These include a decent place to live, an appropriate work environment, social activities and friends (Palmer-Erbs & Anthony, 1995). The mission of psychiatric rehabilitation is “to help individuals with psychiatric disabilities to increase their functioning so that they are successful and satisfied in the environments of their choice with the least amount of ongoing professional intervention” (Anthony et al., 1990, p.151). Anthony et al., 1990 state that the goal of rehabilitation programs are focusing on:

* Functioning (Performance of everyday activities)

* Success, (meeting requirements of other people in the client’s world)

* Satisfaction ( the client’s feeling of happiness)

* environmental specificity (the specific context where the person lives, learns, socialises or works),

* Choice (self-determined goals),

* Outcome orientation (evaluation based on client outcomes), support (assistance provided for as long as needed and wanted) and

* Growth potential (improvement in functioning and status).

Evidence from studies (Gibbon et al 1984) show that the vast majority of families living with someone with a long -standing psychiatric complaint experience considerable emotional and physical hardship. Families often need guidance on how to react and behave as they may be dealing with behaviour and emotions that are new and frightening.

The involvement of patients in the planning of their own care has been a key theme of Government policy in community and continuing health care throughout the 1990s (DOH, 1995). Evidence also suggests that ” patients are often not sufficiently involved in decisions about rehabilitation” (Audit Commission, 1996). Clearly, it is important that a comprehensive range of rehabilitation services should be available. But it is also important that clinical and care staff increase the involvement of patients and carers in the assessment of needs and the formulation and implementation of treatment plans.

C.PROBLEMS INSTUTIONALISATION

The institutionalisation problems are two kinds:

1. Institutional syndrome. According to Barton (1959) and Goffman (1961) in Pullen (1994), state that “the institutional syndrome, which is characterised by: apathy, lack of initiative, lost of interest, submissiveness, lack of expression of feeling, loss of individuality and deterioration in personal habits. In the psychiatric hospital, there are many regulations, which make patients life not like themselves. Patients should get up in the morning, take breakfast, and take shower. Nurses should monitor their activities in every day life. Although nurses always try to look after patients as human being. However, there is evidence in relation of institutalisation that according to Alaszewski (1986)  ” there were several ways in which this relationship was maintained, through the patients classification system, the daily routine of basic care and, when all else failed, through physical control”.  From this statement, provide evidence that patients in psychiatric hospital have difficulty to develop into independent.

2. Mere admission to a psychiatric unit stigmatises the patients. Pullen (1994) states that “the attitudes and expectations of the patients, as well as those of people about him, change as a result of being in hospital. This affects the chances of successful adjustment back into the community”.  In Psychiatric hospital, as providers have attitude and stigma as well as people in the community, these have direct effects on the recovering of patients in hospital. Provider in health care practice should have an expectation to help people with mental illness to become normal people.  The hope can influence a motivation to people with mental illness to become normal people in the community.

An emerging problem is the small number of adult psychiatric patients who remain in need of care for long periods in spite of active treatment and rehabilitation. Nikkonen, (1995) states that “as the number of mental health beds has been reduced, there has not been a reduction in the incidence of psychiatric illness in the general population”. Its, because the families and the community are not prepared to accept people with mental illness. King (1997) states that ” it was also unrealistically expected that families would now care for relatives who had been institutionalised for long periods of their lives”. It appears that is not easy to move from hospital to the community. Furthermore, the collaboration between hospital and community become important part in rehabilitation services.

D.STAGES OF REHABILITATION INTO HOSPITAL AND COMMUNITY

In hospital

Rehabilitation services should start from hospital. The first stage is, preparing for moving in another unit or in the community. For someone newly admitted to hospital, rehabilitation begins with diagnosis, it means, as treatment of the acute illness is initiated, general plans for future management should be discussed (Hume, 1994). The second stage is bridging the gap. Rehabilitation, does not end with discharge, the patients should face with the realities and problems of life in the community. They need to help adaptation with the situation. Support from people, who was known and trusted people, would help them during this bridging phase (Hume, 1994). The last stage is community support, “continuing support will be necessary to maintain progress, provide help at times of crisis and prevent deterioration” (Hume, 1994). One possible solution to the chronic patients’ problem suggested by the 1975 white paper (DHSS 1975) is hospital hostels. These are intended to provide continuing treatment and 24-hour nursing care, but with more emphasis on rehabilitation and a high quality of care in a more domestic and less institutional setting than hospitals (Norman and Parker, 1990). There is a growing consensus that mental health service should help people with serious mental illness maximise their opportunities to live independent and meaningful lives (Stein, 1999).

Based on the statements above, rehabilitation services should be begun from the admission to discharge planning.  In order to move rehabilitation services from hospital to community discharge planning is essential.

E. DISCHARGE PLANNING.

After patients discharge from hospital, they have rights to continue their life as normal people in the community. Patients leave from hospital, need to be prepared through discharge planning, which should be made by nurses/team in the hospital (Bean & Mounser, 1993).

Discharge planning is conducted by belief that a horizontal transition from hospital to home is as necessary to the patient (Rorden & Taft, 1990).  Ryan (1994) states that key elements of discharge planning are:

* Patents/carer involvement in the decision making process.

* Adequate notice of discharge to patients and carers

* Bridging the communication gap between hospital and community

* Education of patient and carer.

It appears that nurses need to prepare patients and families in term of transferring them back to the community.

F. DISCHARGE PLANING AS A PROCESS.

Rorden & Taft (1990, p 22) state that discharge planning as “a process made up of several step or phases whose immediate goal is to anticipate changes in patient care needs and whose long-term goal is to insure continuity of health care”. May be they need for medical attention to the first time, may well dominant all other concerns and need. However, awareness of patients’ personal strengths and partial psychosocial needs are pushed to the part in the aspect of medical emergency. The diagram shows that in this phase there are factors such as financial resources, family support and social system could influence the patients’ problems, which should be recognised. In this phase, patient’s; background experiences and belief about health continue to influence their decision-making.

Transitional phase

Entering in the transitional phase, new needs emerge. Although the need for acute care is still present. To begin to plan positively for continuing care is both supportive and frustrating. An examination of patients’ personal strengths, available resources, and the quality of family and social support system will logically move up concerns about whether their needs will be met in another setting. They permit patients the autonomy to plan truthfully and rationally for their continuing care.

The continuing care phase.

Now the plans that had been made in anticipation of needs begin to be implemented. If the patient’s discharge was to home and community cares. Patients need family and social support, to help in adaptation with their life.

From the process of discharge planning shows that the scope and complexities discharge planning need to be understand, to help nurses to make discharge planning to prepare patients back to the community.

G. IN COMMUNITY

According to Taylor and Gunn (1999) in the 1990s the question about whether a person with mental problem should be in hospital or in the wider community seems to have shifted only to become more of class dilemma. People attitude in the community sometimes make life can be very frustrating for people with mental illness. The community is a more open and chaotic environment than institution. Robert (1998) states that while many clients undoubtedly benefit from care in the community as opposed to care within an institution because of the freedom it affords them, it is nevertheless the case that who are feeling fragile often feeling unsafe in the community. Consequently, to make rehabilitation services move from hospital to community. There are some activities to prepare people in the community setting should be planned, these are:

1. Family should be prepared (Elliot, 1994).

It has been recognised for long time that certain types of interaction between patients and their families can impede the rehabilitation process and result in re-anmission (Vaughn & Leff 1976). People with mental illness need support mainly from their family. But some families have anxieties because they do not know what the roles of the family to help them. Elliot (1994) states that families are also encouraged to develop their problem solving skills to avoid stressful situations.

It appears that families should are given information and education to deal with them.

2. The importance of media images (Philo, 1996)

It is recognised that the media have a positive part to play in encouraging attitudes which are conducive to good health (DOH, 1992).   Birch (1991) has written of how stigmatising media images can inform a circle of negative responses, both in user and services and in those who care for them. Media coverage of schizophrenia such coverage interacts sufferers, their professional attendants, and their families, in a restricted set of responses to the illness. From these statements show that the content of media images and illustrate have an impact on public

beliefs, on the feelings and experiences of mental health service users and on the attitudes and responses of carers. It appears, the roles of media have influenced the community, where people have wrong belief about people with mental illness. As results people with mental illness have difficulty to become normal people in the community. But community can also use the media products, to make public can more aware of mental illness people as human condition. They can recover and they can resume normally functioning (King, 1995 in Philo, 1996)

3. Increasing people awareness through information and education (Jenny, 1978).

Jenny (1978) lists three principles of patients/community learning that she believes underlie any health education programs, These are as follows:

His perception of himself, the world and how he relates to the world govern a person’s behaviour. An initial task of the nurses is therefore to ensure that the client has a realistic perception of his situation.

People tend to behave in a way that enables them to avoid feelings of personal in adequacy. The primary challenge for the nurses is therefore to help the client feel that he can cope with learning tasks that lie head.

Needs perceived as immediate receive a person’s attention first. Concerns uppermost in the client’s mind must therefore be dealt with before he will direct his attention to more distant eventualities. However, the need a tools for providing information.

It appears people with mental illness need support from the community. In Indonesia need social network to help them. However, community is needed to make a social network. Families who have members with mental ill people did not need too much medicine, and spent too much money to help patients. But they need support from the community. Furthermore community need to understand of people with mental illness through information and education.

The purposes: Manager and nursing staff know the institutionalisation problems in psychiatric hospital. And they make a program to move the rehabilitation services from hospital to community.

The objectives:

Community understands and receipts psychiatric difficulties people from hospital.

Rehabilitation program uses the resources from the community, including human resources.

1. They establish team to make social network and this team will use resources in the community.

2. The team make an information and education programs in the community.

How to improve rehabilitation services from hospital to community in Semarang?

Strategic plan

In psychiatric hospital Semarang, there are committees to improving quality of care. These committees are:

1. Nursing accreditation team

2. standard monitoring team

3. Training and development team.

Directors of hospital, establish a quality improvement control team to monitor quality of health care practice. In 1999, they have rehabilitation programs are: Home visit, art show, travelling, day care, group therapy and family gathering (hospital report, 1998/1999). The government gave fund for this program.

Plan of action

1. Set up a team, there are people from the psychiatric hospital and the community.

Key person in community, there are teacher, religion leaders and district leader from government and the resources, there are community health centre, Academy of nursing, and company. They should meeting to discuss that people with mental illness need their help. They should make an agreement to make a team; this team is unity between the psychiatric hospital and the community. Mission statement strategy, is mental ill people need to support in the community, we help them to become human being as ourselves.

2. Operational framework to identify a community person to lead the social network. Aims and objectives of the social network will be identified within the context of offering support, information and pre discharge planning for patient and family carers.

Framework to implement the rehabilitation services moving from hospital to the community.







Organisation structure:

                                                 Hospital manager and key persons

                                                                Team works.



                                         Nurses social worker doctor family worker.



Community

* Hospital manager and key person have responsibility for this project. They should choose some body as manager of the project.

* Teamwork consists of people from hospital and from community, to work together; this team consists of nurses from community health centre, social worker, general doctor, families and workers. They should have responsibility for giving of education and information in the community.

* Community is given education and information from the working team.

3. Set up educational resources to help family carers and patients make the transition from hospital to community services. The government gives funding to the hospital to make rehabilitation programs

* A small pamphlet designed for general distribution to heighten public awareness and reduce stigma. It contains some basic facts and sources of help.

* Literature for a Relatives’ supports group, comprising a format for seven consecutive weekly meetings. This literature includes the following: group aims, a welcome letter, and a programme for attainder.

Hospital managers invite key persons from communityDirector, leaderHospitalTo collaborate between hospital and the community to make social networkThere is MOU(memory of understanding) between hospital and community to make social networkThey make programsLeader from the social network teamCommunityTo make strategic planning to improving rehabilitation services that based on a communityThere is job description between hospital and the team from community.Discuss the role’s nurses to implement his program.Leader from the team quality of care in hospital.HospitalTo make discharge planning to prepare patients move in community.There is discharge planning that is made nurses and familyThey make a social network in communityLeader from a communitycommunityTo prepare community, they should release that ‘ex- psychiatric patients’ need to help from a social network.Hospital make education and information training for  families, friends and key person from the communityKey person from the community give a education and information to the communityLeader, and social networkCommunityTo prepare the community receipt patients from the hospitalThe people in community receipt booklet, pamphlet and video recording from team. They discuss the mental illness problems in communityMeeting to evaluate regularlyLeader, and social networkCommunityTo improve rehabilitation services anytimePeople in community, aware and support mental illness from hospital, which could live as human being.

Evaluation;

How to evaluate, this project? This project should be evaluated, whether success or not. The criteria to evaluate this project are:

1. The psychiatric hospital staffs understand the rehabilitation problems in their work, these problems are institunalisatation. They could explain how the impact of this problem to the patients and their families.

2. The psychiatric hospital will give funding to the project.

3. There are booklet, an audio recording and small pamphlet to spread in community to give information and education in the community.

4. The hospital and key persons in the community meeting regularly to evaluate this project.

5. Nurses in the psychiatric hospital make discharge planning to prepare patients to the community. There are forms to assess the patient’s problems to prepare patients to the community. This form includes assessment form to the family, patients and the resources in the community, which could help and support patients in the community.

6. People in the community :

* Always paid attention to people with mental illness and they have willing to discuss stigmatise and their wrong belief.

* Families who have member with mental illness, easy to make relationship with their neighbour.

* Families always proactive to help people with mental illness in their home.

7.  People with mental health save and could live as human being. They have opportunity to get job and develop their capability as normal people. And the psychiatric hospital should give payment to mental illness people who have worked in the hospital (not the family who have member with mental illness

.

REFERENCES:

Alaszewski, A (1986) institutional care and the mentally handicapped. Croom helm, London.

Audit Commission (1996) United They Stand: Co-ordinating Care for Elderly patients with hip fracture. Audit Commission, London

Anthony, W., Cohen, M., & Farkas, M. (1990) Psychiatric rehabilitation. Centre for psychiatric rehabilitation: Boston University, Boston.

Byrne, P (1999). Stigma of mental illness, changing behaviour. British journal nursing, 174,1-2

Birch,J. (1991) Toward the restoration of traditional value in the psychiatric schizophrenia, Contex, 8:21-26.

Bachrach L  (1986) Dimention of disability in the chronicle mental ill. Hospital community Psychiatric 37: 981-2.

Bean P & Mounser P (1993) Issues in Mental Health, Discharged From Mental Hospital. Macmillan, London

Commonwealth of Australia (1995) National mental health policy. Australia Government Publishing Service, Canberra.

Department of Heath (1995) NHS Responsibilities for meeting continuing Health Care Needs. Department of Health, Leeds.

Dewan , J.M (1989) The clinical impact of the side effects of psychotropics drugs in The limits of biological treatments for psychological Distress, ed  Fisher.S and Greenberg. P.R. Lawrence Erlbaum Associates, Publishers, London.

Elliot C (1994). The family and rehabilitation in Rehabilitation for mental health problems eds Hume C and Pullen I, Churchill Livingstone, London.

Hume.C and Pullen.I (1994). Rehabition for mental health problems an introduction handbook. Churhill Livingstone. London.

Hamilton N.G, Ponzoha C. A, Cutler D.L. & Weigel R.M.(1989) Social networks and negative versus positive symptoms of schizophrenia. Schizophrenia Bulletin 4, 625-633.

Jenny, J (1978) A Strategy for patient teaching. Journal of Advanced Nursing, 3, 341-348.

Jones K and Fowles A.J (1984). Ideas on institutions. Routledge and Keganpaul, London.

Kirkpatrick.H and Landeen J (1999). Rehabilitation for people with enduring psychotic illnesses. In advanced practice in mental health nursing, eds Clinton, M and Nelson S. Blackwell science. London.

Knapp.M, Marks.I, Wolstenholme.J, Beecham.J, Audini.B, Connolly.J, and Watts.V. (1998). Home-based versus hospital based care for serious mental illness, British journal of psychiatric. 172, 506-512.

Leff, et al (1982). A controlled trial of social intervention in the families of schizophrenic patients. British Journal of Psychiatry 131, 121-134.

Leff J. (1992) Problems of transformation. International Journal of Social Psychiatry 38 (1), 16-23.

Lekey, J and Simpkins.R (1994). Employment rehabilitation for disabled people, identifying the issues. Policy studies institute. London.

Morgan,R and Cheadle, J (1981). Psychiatric rehabilitation. Kent paper company. London.

Nikkonen.M (1995). The life situation of a long-term psychiatric patient: some restrictions in, and possibilities of, open care, Journal of advanced nursing, 22, 101-109.

Norman.I and Parker.F (1990). Psychiatric patients’ views of their lives before and after moving to a hostel: qualitative study. Journal of advanced nursing, 15, 1036-1044.

Oliver.M and Barnes. C (1998). Disabled people and social policy. Longman. London.

Palmer-Erbs,V. & Anthony, W. (1995) Incorporating psychiatric rehabilitation principles into mental health nursing. Journal of psychosocial nursing, 33(3), 36-44.

Rumah sakit jiwa pusat, Laporan rumah sakit jiwa pusat semarang, 1998/1999.

No published.

Rorden. WJ & Taft E (1990). Discharge Planning Guide for Nurses . Saunder Company, Philadelphia.

Stein, C.H (1999). Social skills and social networks: making a place for people with serious mental illness. In Advanced practice in mental health nursing, edsClinton, M and Nelson.S. Blackwell science. London.

Taylor JP & Gunn J (1999) . Homicides by people with mental illness : myth and reality.  British Journal of psychiatric 174, 9-14.

Queensland Health, (1994). Queensland Mental Health Plan. Queensland Health, Brisbane.

Vaughn CE and Leff JP (1976). The influence of family life on the course of psychiatric illness, British journal of psychiatric 129: 125-137.

PAGE  2


PERAN ORGANISASI PROFESI

PERAN ORGANISASI PROFESI PPNI

DALAM PENGEMBANGAN

Kualitas Sumber Daya Tenaga Keperawatan

I. PENDAHULUAN

Perhimpunan/organisasi profesi keperawatan merupakan fihak yang seharusnya paling bertanggung jawab, secara aktif turut dalam pengembangan keperawatan sebagai profesi. Organisasi profesi (PPNI) seyogyanya berada pada baris terdepan dalam proses inovasi keperawatan di Indonesia, bahkan harus memegang kendali utama dalam proses perubahan.

Untuk mewujudkan keperawatan sebagai profesi, berbagai langkah nyata telah dilaksanakan, mencakup : pengembangan pelayanan/asuhan keperawatan, pendidikan tinggi keperawatan maupun kehidupan organisasi profesi. Langkah ini dilaksanakan secara terarah, berencana dan terkendalikan sebagai gerakan profesionalisasi keperawatan. Didasarkan pada keinginan para perawat agar keperawatan mendapat pengakuan sebagai profesi dan lebih dari itu yaitu agar keperawatan sebagai profesi dapat berperan aktif dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Keperawatan sebagai profesi berupaya memenuhi hak masyarakat untuk mendapat pelayanan/asuhan keperawatan professional yang benar dan baik.

Langkah yang terlihat nyata adalah terbentuknya Sistem Pendidikan Tinggi Keperawatan, diharapkan dengan lulusan perawat dari pendidikan tinggi keperawatan maupun memberikan pelayanan/asuhan keperawatan professional.

Pengembangan pada sistem pelayanan/asuhan keperawatan belum dirasakan optimal, karena memerlukan upaya – upaya perubahan yang mendasar yaitu membentuk model praktek professional baik di RS maupun unit pelayanan kesehatan masyarakat.

II.  ORGANISASI  PROFESI

Merton mendefinisikan bahwa organisasi profesi adalah : organisasi dari praktisi yang menilai/mempertimbangkan seseorang atau yang lain mempunyai kompetensi professional dan mempunyai ikatan bersama untuk menyelenggarakan fungsi sosial yang mana tidak dapat dilaksanakan secara terpisah sebagai individu

Organisasi profesi mempunyai 2 perhatian utama : (1) Kebutuhan hukum untuk melindungi masyarakat dari perawat yang tidak dipersiapkan dengan baik dan (2) kurangnya standar dalam keperawatan.

Organisasi profesi menyediakan kendaraan untuk perawat dalam menghadapi tantangan yang ada saat ini dan akan datang serta bekerja kearah positif terhadap perubahan-perubahan profesi sesuai dengan perubahan sosial.

Ciri-ciri organisasi profesi adalah :

  1. Hanya ada satu organisasi untuk setiap profesi
  2. Ikatan utama para anggota adalah kebanggan dan kehormatan
  3. Tujuan utama adalah menjaga martabat dan kehormatan profesi.
  4. Kedudukan dan hubungan antar anggota bersifat persaudaraan
  5. Memiliki sifat kepemimpinan kolektif
  6. Mekanisme pengambilan keputusan atas dasar kesepakatan

Dalam pengembangan keperawatan, organisasi profesi PPNI berfungsi :

  1. Secara aktif turut dalam merumuskan dan menetapkan standar profesi untuk pendidikan tinggi keperawatan dan untuk pelayanan/asuhan keperawatan, mencakup ukuran keberhasilan pelaksanaan pelayanan /asuhan keperwatan dan kompetensi lulusan pendidikan tinggi keperawatan
  2. Turut mengidentifikasi berbagai jenis ketenagaan keperawatan dengan berbagai jenjang kemampuan yang diperlukan dalam pengembangan keperawatan dimasa depan.
  3. Ikut menyususn kriteria dan mekanisme penapisan serta penerapan teknologi keperawatan maju serta penerapan teknologi keperawatan maju secara tepat guna dan demi kemaslahatan masyarakat secara keseluruhan.
  4. Bertanggung jawab dalam pengendalian dan pemanfaatan lulusan pendidikan tinggi keperawatan khususnya dalam hal legislasi keperawatan professional.

Setelah memahami pengertian-pengertian tersebut diatas tentunya kita sepakat bahwa Organisasi Profesi Keperawatan : PPNI mempunyai tanggung jawab besar terhadap pengembangan profesi, terutama saat ini dalam menghadapi persaingan ketat untuk dapat merebut kesempatan memperoleh “pasar jasa pelayanan keperawatan”.

Kunci utamanya adalah “Pengelolaan sumber daya tenaga keperawatan yang handal dalam bidangnya”.

Bagaimana peran organisasi profesi, akan diuraikan berikut ini.

III. PERAN  PPNI

A. Menganjurkan suatu kegiatan Sosialisasi Profesional

  • Sosialiasasi professional sejak dini dimulai pada saat pendidikan dilanjutkan setelah lulus masuk pada lingkungan kerja
  • Sosialisasi professional adalah : suatu proses dimana peserta didik pendidikan tinggi keperawatan mendapat pengalaman melaksanakan praktek keperawatan professional, menumbuhkan dan membina sikap, tingkah laku dan keterampilan professional yang diperlukan untuk siap melaksanakan praktek keperawatan ilmiah.

Suatu proses transformasi perilaku dari peserta didik pendidikan tinggi keperawatan menjadi seorang “perawat profesional”

  • Sosialisasi praktek keperawatan profesional adalah proses dimana nilai-nilai dan norma-norma dari profesi keperawatan diinternalisasi kedalam perilaku perawat itu sendiri dan konsep-konsep dirinya. Sehingga perawat belajar dari menerima pengetahuan keterampilan dan sikap sebagai karakteristik profesi.
  • Hinshaws mengemukakan tahap-tahap sosialisasi professional mencakup : awal belum merasakan, keganjilan, identifikasi, simulasi peran, kebimbangan dan akhirnya internalisasi yaitu : menerima dan nyaman dengan peran perawat.
  • Sosialisasi professional menjadi bagian penting untuk membentuk perawat professional.

B. Mengusulkan  “ Pola  Jenjang  Karir ” tenaga   perawat   sebagai

sistem pengembangan karir

Perawat professional adalah : seseorang yang mempunyai alasan-alasan rasional, dapat mengakomodasi realita, menerima dirinya, diminati oleh orang lain, belajar dari pengalaman serta percaya diri. Agar perawat professional ini tetap terus berkembang menigkatkan kinerjanya, diperlukan suatu sistem pengembangan karir yang jelas. Dimana saat ini belum mendapat perhatian yang baik. Akibatnya perawat perawat merasa resah, lelah dan jenuh dalam pekerjaannya, kualitas asuhan keperawatan menurun dan sistem imbalan jasa tidak jelas. Jika sistem pengembangan karir telah diterima maka masalah-masalah tersebut diatas dapat diatasi dan masyarakat akan memperoleh haknya terhadap pelayanan keperawatan berkualitas.

  1. 1. Prinsip-Prinsip dalam Sistem Pengembangan Karir

  1. Kualifikasi tenaga keperawatan dimulai dari D III keperawatan atau S1 Keperawatan
  2. Jenjang mempunyai makan kompetensi yang dimiliki untuk melaksanakan asuhan keperawatan sesuai lingkupnya dan bertingkat sifatnya sesuai dengan kompleksitas masalah klien.
  3. Fungsi utama yang menjadi pegangan adalah fungsi memberikan asuhan keperawatan
  4. Setiap perawat pelaksana mempunyai kesempatan sama untuk meningkatkan karirnya sampai pada jenjang paling atas
  5. Jenjang karir mempunyai dampak terhadap tanggung jawab dan akontabel terhadap tugas serta sistem penghargaan
  6. Pimpinan organisasi RS mempunyai komitmen yang tinggi terhadap sistem pengembangan karir tenaga perawat pelaksana sehingga dapat dijamin kepuasan pasien terhadap pelayanan keperawatan.
  7. Lingkup jenjang pengembangan karir mencakup : keperawatan medikal bedah, maternitas, pediatri, jiwa, komunitas dan gawat darurat.

2. Bentuk, Jenjang Pengembangan Karir

  • Perawat Klinik I

a.   Pengalaman dan Pendidikan

1)   D III Keperawatan + pengalaman 1 tahun

2)      S1 Keperawatan + penagalaman 0 bulan

  1. Deskripsi

1)      Memiliki kompetensi : memberikan keperawatan dasar

2)      Diperlukan supervisi dalam memberikan asuhan keperawatan

3)      Berperan sebagai perawat pelaksana dan pendidik bagi klien dan keluarganya

  • Perawat Klinik II

a.   Pengalaman dan pendidikan

1) D III keperawatan dengan pengalaman 3 tahun

2) S1 Keperawatan + pengalaman 1 tahun

b. Deskripsi

1)      Memiliki kompetensi memberikan keperawatan dasar dalam lingkup medikal bedah, maternitas, pediatrik, jiwa, komunitas dan gawat darurat

2)      Diperlukan supervisi terbatas

3)      Berperan sebagai perawat pelaksana pendidik bagi pasien dan keluarga serta pengelola dalam asuhan keperawatan

  • Perawat Klinik III
  1. Pengalaman dan pendidikan

1)      D III Keperawatan + pengalaman 6 tahun

2)      S1 Keperawatan + pengalaman 4 tahun

3)      Spesialisasi sesuai bidang + pengalaman 0

b.     Deskripsi

1)      Memiliki kompetensi memberikan keperawatan lanjut dalam lingkup medical bedah, maternitas, pediatri, jiwa, komunitas dan gawat darurat

2)      Sepenuhnya dapat melakukan asuhan

keperawatan dengan keputusan sendiri

3)      Berperan sebagai perawat pelaksana, pendidik

bagi pasien, keluarga dan sesama teman,

pengelola dalam asuhan keperawatan serta

mampu mengidentifikasi hal-hal yang perlu

diteliti

  • Perawat  Klinik IV

a.      Pengalaman dan Pendidikan

1)      D III Keperawatan + pengalaman 9 tahun

2)      S1 Keperawatan + pengalaman 7 tahun

3)      Spesialisasi sesuai bidang + 1 tahun

b.     Deskripsi

1)      Memiliki kompetensi memberikan keperawatan super spesialisasi dalam lingkup medikal bedah, maternitas, pediatri, jiwa, komunitas dan gawat darurat

2)      Sepenuhnya dapat melakukan asuhan keperawatan dengan keputusan sendiri dan supervisor bagi perawat pada jenjang I, II dan III

3)      Berperan sebagai :

-                Perawat pelaksana secara mandiri

-                Pendidik bagi pasien, keluarga, sesama

teman dan peserta didik pendidik

keperawatan

-                Pengelola asuhan keperawatan, supervisor

-                Konsultan dan konselor dalam lingkup

bidangnya

-                Peneliti dibidang keperawatan

C. Agar  sistem    pengembangan   karir   dapat  terlaksana PPNI

bertanggung jawab   terhadap  terlaksananya   Program  Pendidikan

Berkelanjutan bagi perawat (PBP/CNE)

Pendidikan Berkelanjutan bagi Perawat/PBP adalah :  proses yang meliputi berbagai pengalaman/pelatihan setelah pendidikan formal dasar keperawatan, yang dapat  meningkatkan kemampuan keprofesian.

Dalam program PBP ini akan ditentukan : kurikulum pelatihan, modul bentuk penghargaan, criteria pelatih dan institusi yang boleh melaksanakan pelatihan. Diharapkan bentuk-bentuk pelatihan dapat dilaksanakan dengan professional memberikan dampak terhadap peningkatan kemampuan perawat dalam memberikan asuhan keperawatan.

D. Menciptakan komunitas professional yaitu komunitas perawat yang ada

diinstitusi pelayanan kesehatan dan pendidikan dan melaksanakan

pelayanan/asuhan keperawatan professional. Mempunyai sistem nilai

dan tanggung jawab sama. Merupakan bagian dari masyarakat

keperawatan profesional.

Komunitas keperawatan diperlukan karena :

  1. Adanya pengembangan sistem pemikiran asuhan keperawatan di institusi pelayanan kesehatan
  2. Dalam rangka menetapkan standard asuhan keperawatan
  3. Untuk mengelola ketenagaan keperwatan
  4. Mengelola pelaksanaan praktek keperawatan
  5. Bertanggung jawab terhadap hasil/dampak asuhan keperawatan pada klien dan sistem.

Komunitas keperawatan merupakan “agents of formal knowledge” dalam keperawatan yaitu orang-orang yang menciptakan, transmisi dan menerapkan pengetahuan formal (eliot freidson, 1986)

Berada pada baris terdepan dalam proses profesionalisasi keperawatan, membangun citra keperawatan sebagai profesi serta merupakan kekuatan dalam proses membudayakan keperawatan.

Upaya membangun komunitas professional keperawatan

  1. Membangun dan membina pelayanan/asuhan keperawatan rumah sakit dan masyarakat sebagai bagian integral dari dari pelayanan rumah sakit/masyarakat sehingga diterima sebagai pelayanan professional.
  2. Mengidentifikasi dan membina perawat professional yang diakui dan diberi kewenangan serta tanggung jawab melaksanakan pelayanan/asuhan keperawatan professional.

Langkahnya adalah merumuskan criteria kualifikasi perawat professional, mendaftar para perawat yang memenuhi kualifikasi, mengakui dan memberi kewenangan serta tanggung jawab.

Membangun komisi etika keperawatan yang memberikan tuntutan dalam pelaksanaan praktek keperawatan

  1. Membina para perawat professional seabgai komunitas dengan tradisi/budaya keperawatan sebagai komunitas professional yang sarat dengan perannya sebagai “model”.

E. Untuk     menjamin       kualitas       pelayanan  keperawatan yang

diterima masyarakat       maka  PPNI telah menetapkan sistem legislasi

keperawatan diawali      dengan   adanya     Kepmenkes    No. 647

tentang Registrasi dan Praktek Keperawatan

Legislasi keperawatan adalah : proses pemberlakuan Undang-undang

atau perangkat hukum yang sudah disempurnakan yang mempengaruhi

pengembangan ilmu dan kiat dalam praktek keperawatan.

Tujuan Legislasi keperawatan meliputi :

  1. Memberikan perlindungan kepada masyarakat terhadap pelayanan keperawatan yang diberikan
  2. Menginformasikan kepada masyarakat tentang pelayanan keperawatan yang diberikan dan tanggung jawab para praktisi profesional
  3. Memelihara kualitas pelayanan keperawatan yang diberikan
  4. Memberi kejelasan batas kewenangan setiap kategori tenaga keperawatan
  5. Menjamin adanya perlindungan hukum bagi perawat
  6. Memotivasi pengembangan profesi
  7. Meningkatkan profesionalisme tenaga keperawatan

Dengan adanya ini maka, pengelolaan sumber daya tenaga keperawatan harus dibenahi secara professional sesuai dengan perkembangan profesi.

IV. PENUTUP

Organisasi profesi PPNI bertanggung jawab dan mempunyai peran utama dalam pengembangan keperawatan sebagai profesi.

Sudah saatnya PPNI mulai melaksanakan peran-perannya secara aktif, sehingga terlihat kegiatan nyata dalam berjuang memenuhi hak masyarakat  memperoleh pelayanan keperawatan professional. Sumber daya tenaga keperawatan merupakan kunci utama untuk keberhasilan keperawatan, sehingga pengelolaannya perlu  mendapat perhatian.

Dengan demikian diharapkan tenaga keperawatan mempunyai kemampuan yang handal dalam memberikan pelayanan/asuhan keperawatan serta mampu merebut pasar jasa pelayanan keperawatan.

Kepustakaan

Chitty RT (1997), Profesional Nursing : Concept and Challenges. WB Sounders Company Philadelphia

Husin Ma’rifin (1999), Pendidikan Tinggi Keperawatan dan Rumah Sakit Pendidikan

Marqius Bessi L & Huston JC (2000), Leadership Roles and Management Functions in Nursing. Theory and Application, Lippincott Philadelphia

Rully DE & Oermann MH (1985), The clinical Field its use in Nursing  Education. Appleton century – Crufts. Norwalk, Connecticut

Swansburg RJ & Swansburg RC (1998): Introductory management and Leaderhip for Nurses : an Intercative text, Jones and Barlett Publisher.

PERAN ORGANISASI PROFESI PPNI

DALAM PENGEMBANGAN

Kualitas Sumber Daya Tenaga Keperawatan

I. PENDAHULUAN

Perhimpunan/organisasi profesi keperawatan merupakan fihak yang seharusnya paling bertanggung jawab, secara aktif turut dalam pengembangan keperawatan sebagai profesi. Organisasi profesi (PPNI) seyogyanya berada pada baris terdepan dalam proses inovasi keperawatan di Indonesia, bahkan harus memegang kendali utama dalam proses perubahan.

Untuk mewujudkan keperawatan sebagai profesi, berbagai langkah nyata telah dilaksanakan, mencakup : pengembangan pelayanan/asuhan keperawatan, pendidikan tinggi keperawatan maupun kehidupan organisasi profesi. Langkah ini dilaksanakan secara terarah, berencana dan terkendalikan sebagai gerakan profesionalisasi keperawatan. Didasarkan pada keinginan para perawat agar keperawatan mendapat pengakuan sebagai profesi dan lebih dari itu yaitu agar keperawatan sebagai profesi dapat berperan aktif dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Keperawatan sebagai profesi berupaya memenuhi hak masyarakat untuk mendapat pelayanan/asuhan keperawatan professional yang benar dan baik.

Langkah yang terlihat nyata adalah terbentuknya Sistem Pendidikan Tinggi Keperawatan, diharapkan dengan lulusan perawat dari pendidikan tinggi keperawatan maupun memberikan pelayanan/asuhan keperawatan professional.

Pengembangan pada sistem pelayanan/asuhan keperawatan belum dirasakan optimal, karena memerlukan upaya – upaya perubahan yang mendasar yaitu membentuk model praktek professional baik di RS maupun unit pelayanan kesehatan masyarakat.

II.  ORGANISASI  PROFESI

Merton mendefinisikan bahwa organisasi profesi adalah : organisasi dari praktisi yang menilai/mempertimbangkan seseorang atau yang lain mempunyai kompetensi professional dan mempunyai ikatan bersama untuk menyelenggarakan fungsi sosial yang mana tidak dapat dilaksanakan secara terpisah sebagai individu

Organisasi profesi mempunyai 2 perhatian utama : (1) Kebutuhan hukum untuk melindungi masyarakat dari perawat yang tidak dipersiapkan dengan baik dan (2) kurangnya standar dalam keperawatan.

Organisasi profesi menyediakan kendaraan untuk perawat dalam menghadapi tantangan yang ada saat ini dan akan datang serta bekerja kearah positif terhadap perubahan-perubahan profesi sesuai dengan perubahan sosial.

Ciri-ciri organisasi profesi adalah :

  1. Hanya ada satu organisasi untuk setiap profesi
  2. Ikatan utama para anggota adalah kebanggan dan kehormatan
  3. Tujuan utama adalah menjaga martabat dan kehormatan profesi.
  4. Kedudukan dan hubungan antar anggota bersifat persaudaraan
  5. Memiliki sifat kepemimpinan kolektif
  6. Mekanisme pengambilan keputusan atas dasar kesepakatan

Dalam pengembangan keperawatan, organisasi profesi PPNI berfungsi :

  1. Secara aktif turut dalam merumuskan dan menetapkan standar profesi untuk pendidikan tinggi keperawatan dan untuk pelayanan/asuhan keperawatan, mencakup ukuran keberhasilan pelaksanaan pelayanan /asuhan keperwatan dan kompetensi lulusan pendidikan tinggi keperawatan
  2. Turut mengidentifikasi berbagai jenis ketenagaan keperawatan dengan berbagai jenjang kemampuan yang diperlukan dalam pengembangan keperawatan dimasa depan.
  3. Ikut menyususn kriteria dan mekanisme penapisan serta penerapan teknologi keperawatan maju serta penerapan teknologi keperawatan maju secara tepat guna dan demi kemaslahatan masyarakat secara keseluruhan.
  4. Bertanggung jawab dalam pengendalian dan pemanfaatan lulusan pendidikan tinggi keperawatan khususnya dalam hal legislasi keperawatan professional.

Setelah memahami pengertian-pengertian tersebut diatas tentunya kita sepakat bahwa Organisasi Profesi Keperawatan : PPNI mempunyai tanggung jawab besar terhadap pengembangan profesi, terutama saat ini dalam menghadapi persaingan ketat untuk dapat merebut kesempatan memperoleh “pasar jasa pelayanan keperawatan”.

Kunci utamanya adalah “Pengelolaan sumber daya tenaga keperawatan yang handal dalam bidangnya”.

Bagaimana peran organisasi profesi, akan diuraikan berikut ini.

III. PERAN  PPNI

A. Menganjurkan suatu kegiatan Sosialisasi Profesional

  • Sosialiasasi professional sejak dini dimulai pada saat pendidikan dilanjutkan setelah lulus masuk pada lingkungan kerja
  • Sosialisasi professional adalah : suatu proses dimana peserta didik pendidikan tinggi keperawatan mendapat pengalaman melaksanakan praktek keperawatan professional, menumbuhkan dan membina sikap, tingkah laku dan keterampilan professional yang diperlukan untuk siap melaksanakan praktek keperawatan ilmiah.

Suatu proses transformasi perilaku dari peserta didik pendidikan tinggi keperawatan menjadi seorang “perawat profesional”

  • Sosialisasi praktek keperawatan profesional adalah proses dimana nilai-nilai dan norma-norma dari profesi keperawatan diinternalisasi kedalam perilaku perawat itu sendiri dan konsep-konsep dirinya. Sehingga perawat belajar dari menerima pengetahuan keterampilan dan sikap sebagai karakteristik profesi.
  • Hinshaws mengemukakan tahap-tahap sosialisasi professional mencakup : awal belum merasakan, keganjilan, identifikasi, simulasi peran, kebimbangan dan akhirnya internalisasi yaitu : menerima dan nyaman dengan peran perawat.
  • Sosialisasi professional menjadi bagian penting untuk membentuk perawat professional.

B. Mengusulkan  “ Pola  Jenjang  Karir ” tenaga   perawat   sebagai

sistem pengembangan karir

Perawat professional adalah : seseorang yang mempunyai alasan-alasan rasional, dapat mengakomodasi realita, menerima dirinya, diminati oleh orang lain, belajar dari pengalaman serta percaya diri. Agar perawat professional ini tetap terus berkembang menigkatkan kinerjanya, diperlukan suatu sistem pengembangan karir yang jelas. Dimana saat ini belum mendapat perhatian yang baik. Akibatnya perawat perawat merasa resah, lelah dan jenuh dalam pekerjaannya, kualitas asuhan keperawatan menurun dan sistem imbalan jasa tidak jelas. Jika sistem pengembangan karir telah diterima maka masalah-masalah tersebut diatas dapat diatasi dan masyarakat akan memperoleh haknya terhadap pelayanan keperawatan berkualitas.

  1. 1. Prinsip-Prinsip dalam Sistem Pengembangan Karir

  1. Kualifikasi tenaga keperawatan dimulai dari D III keperawatan atau S1 Keperawatan
  2. Jenjang mempunyai makan kompetensi yang dimiliki untuk melaksanakan asuhan keperawatan sesuai lingkupnya dan bertingkat sifatnya sesuai dengan kompleksitas masalah klien.
  3. Fungsi utama yang menjadi pegangan adalah fungsi memberikan asuhan keperawatan
  4. Setiap perawat pelaksana mempunyai kesempatan sama untuk meningkatkan karirnya sampai pada jenjang paling atas
  5. Jenjang karir mempunyai dampak terhadap tanggung jawab dan akontabel terhadap tugas serta sistem penghargaan
  6. Pimpinan organisasi RS mempunyai komitmen yang tinggi terhadap sistem pengembangan karir tenaga perawat pelaksana sehingga dapat dijamin kepuasan pasien terhadap pelayanan keperawatan.
  7. Lingkup jenjang pengembangan karir mencakup : keperawatan medikal bedah, maternitas, pediatri, jiwa, komunitas dan gawat darurat.

2. Bentuk, Jenjang Pengembangan Karir

  • Perawat Klinik I

a.   Pengalaman dan Pendidikan

1)   D III Keperawatan + pengalaman 1 tahun

2)      S1 Keperawatan + penagalaman 0 bulan

  1. Deskripsi

1)      Memiliki kompetensi : memberikan keperawatan dasar

2)      Diperlukan supervisi dalam memberikan asuhan keperawatan

3)      Berperan sebagai perawat pelaksana dan pendidik bagi klien dan keluarganya

  • Perawat Klinik II

a.   Pengalaman dan pendidikan

1) D III keperawatan dengan pengalaman 3 tahun

2) S1 Keperawatan + pengalaman 1 tahun

b. Deskripsi

1)      Memiliki kompetensi memberikan keperawatan dasar dalam lingkup medikal bedah, maternitas, pediatrik, jiwa, komunitas dan gawat darurat

2)      Diperlukan supervisi terbatas

3)      Berperan sebagai perawat pelaksana pendidik bagi pasien dan keluarga serta pengelola dalam asuhan keperawatan

  • Perawat Klinik III
  1. Pengalaman dan pendidikan

1)      D III Keperawatan + pengalaman 6 tahun

2)      S1 Keperawatan + pengalaman 4 tahun

3)      Spesialisasi sesuai bidang + pengalaman 0

b.     Deskripsi

1)      Memiliki kompetensi memberikan keperawatan lanjut dalam lingkup medical bedah, maternitas, pediatri, jiwa, komunitas dan gawat darurat

2)      Sepenuhnya dapat melakukan asuhan

keperawatan dengan keputusan sendiri

3)      Berperan sebagai perawat pelaksana, pendidik

bagi pasien, keluarga dan sesama teman,

pengelola dalam asuhan keperawatan serta

mampu mengidentifikasi hal-hal yang perlu

diteliti

  • Perawat  Klinik IV

a.      Pengalaman dan Pendidikan

1)      D III Keperawatan + pengalaman 9 tahun

2)      S1 Keperawatan + pengalaman 7 tahun

3)      Spesialisasi sesuai bidang + 1 tahun

b.     Deskripsi

1)      Memiliki kompetensi memberikan keperawatan super spesialisasi dalam lingkup medikal bedah, maternitas, pediatri, jiwa, komunitas dan gawat darurat

2)      Sepenuhnya dapat melakukan asuhan keperawatan dengan keputusan sendiri dan supervisor bagi perawat pada jenjang I, II dan III

3)      Berperan sebagai :

-                Perawat pelaksana secara mandiri

-                Pendidik bagi pasien, keluarga, sesama

teman dan peserta didik pendidik

keperawatan

-                Pengelola asuhan keperawatan, supervisor

-                Konsultan dan konselor dalam lingkup

bidangnya

-                Peneliti dibidang keperawatan

C. Agar  sistem    pengembangan   karir   dapat  terlaksana PPNI

bertanggung jawab   terhadap  terlaksananya   Program  Pendidikan

Berkelanjutan bagi perawat (PBP/CNE)

Pendidikan Berkelanjutan bagi Perawat/PBP adalah :  proses yang meliputi berbagai pengalaman/pelatihan setelah pendidikan formal dasar keperawatan, yang dapat  meningkatkan kemampuan keprofesian.

Dalam program PBP ini akan ditentukan : kurikulum pelatihan, modul bentuk penghargaan, criteria pelatih dan institusi yang boleh melaksanakan pelatihan. Diharapkan bentuk-bentuk pelatihan dapat dilaksanakan dengan professional memberikan dampak terhadap peningkatan kemampuan perawat dalam memberikan asuhan keperawatan.

D. Menciptakan komunitas professional yaitu komunitas perawat yang ada

diinstitusi pelayanan kesehatan dan pendidikan dan melaksanakan

pelayanan/asuhan keperawatan professional. Mempunyai sistem nilai

dan tanggung jawab sama. Merupakan bagian dari masyarakat

keperawatan profesional.

Komunitas keperawatan diperlukan karena :

  1. Adanya pengembangan sistem pemikiran asuhan keperawatan di institusi pelayanan kesehatan
  2. Dalam rangka menetapkan standard asuhan keperawatan
  3. Untuk mengelola ketenagaan keperwatan
  4. Mengelola pelaksanaan praktek keperawatan
  5. Bertanggung jawab terhadap hasil/dampak asuhan keperawatan pada klien dan sistem.

Komunitas keperawatan merupakan “agents of formal knowledge” dalam keperawatan yaitu orang-orang yang menciptakan, transmisi dan menerapkan pengetahuan formal (eliot freidson, 1986)

Berada pada baris terdepan dalam proses profesionalisasi keperawatan, membangun citra keperawatan sebagai profesi serta merupakan kekuatan dalam proses membudayakan keperawatan.

Upaya membangun komunitas professional keperawatan

  1. Membangun dan membina pelayanan/asuhan keperawatan rumah sakit dan masyarakat sebagai bagian integral dari dari pelayanan rumah sakit/masyarakat sehingga diterima sebagai pelayanan professional.
  2. Mengidentifikasi dan membina perawat professional yang diakui dan diberi kewenangan serta tanggung jawab melaksanakan pelayanan/asuhan keperawatan professional.

Langkahnya adalah merumuskan criteria kualifikasi perawat professional, mendaftar para perawat yang memenuhi kualifikasi, mengakui dan memberi kewenangan serta tanggung jawab.

Membangun komisi etika keperawatan yang memberikan tuntutan dalam pelaksanaan praktek keperawatan

  1. Membina para perawat professional seabgai komunitas dengan tradisi/budaya keperawatan sebagai komunitas professional yang sarat dengan perannya sebagai “model”.

E. Untuk     menjamin       kualitas       pelayanan  keperawatan yang

diterima masyarakat       maka  PPNI telah menetapkan sistem legislasi

keperawatan diawali      dengan   adanya     Kepmenkes    No. 647

tentang Registrasi dan Praktek Keperawatan

Legislasi keperawatan adalah : proses pemberlakuan Undang-undang

atau perangkat hukum yang sudah disempurnakan yang mempengaruhi

pengembangan ilmu dan kiat dalam praktek keperawatan.

Tujuan Legislasi keperawatan meliputi :

  1. Memberikan perlindungan kepada masyarakat terhadap pelayanan keperawatan yang diberikan
  2. Menginformasikan kepada masyarakat tentang pelayanan keperawatan yang diberikan dan tanggung jawab para praktisi profesional
  3. Memelihara kualitas pelayanan keperawatan yang diberikan
  4. Memberi kejelasan batas kewenangan setiap kategori tenaga keperawatan
  5. Menjamin adanya perlindungan hukum bagi perawat
  6. Memotivasi pengembangan profesi
  7. Meningkatkan profesionalisme tenaga keperawatan

Dengan adanya ini maka, pengelolaan sumber daya tenaga keperawatan harus dibenahi secara professional sesuai dengan perkembangan profesi.

IV. PENUTUP

Organisasi profesi PPNI bertanggung jawab dan mempunyai peran utama dalam pengembangan keperawatan sebagai profesi.

Sudah saatnya PPNI mulai melaksanakan peran-perannya secara aktif, sehingga terlihat kegiatan nyata dalam berjuang memenuhi hak masyarakat  memperoleh pelayanan keperawatan professional. Sumber daya tenaga keperawatan merupakan kunci utama untuk keberhasilan keperawatan, sehingga pengelolaannya perlu  mendapat perhatian.

Dengan demikian diharapkan tenaga keperawatan mempunyai kemampuan yang handal dalam memberikan pelayanan/asuhan keperawatan serta mampu merebut pasar jasa pelayanan keperawatan.

Kepustakaan

Chitty RT (1997), Profesional Nursing : Concept and Challenges. WB Sounders Company Philadelphia

Husin Ma’rifin (1999), Pendidikan Tinggi Keperawatan dan Rumah Sakit Pendidikan

Marqius Bessi L & Huston JC (2000), Leadership Roles and Management Functions in Nursing. Theory and Application, Lippincott Philadelphia

Rully DE & Oermann MH (1985), The clinical Field its use in Nursing  Education. Appleton century – Crufts. Norwalk, Connecticut

Swansburg RJ & Swansburg RC (1998): Introductory management and Leaderhip for Nurses : an Intercative text, Jones and Barlett Publisher.


PEDOMAN PELAKSANAAN TERAPI TRAUMA PASKA BENCANA

Meidiana Dwidiyanti SKp, MSc.

TUJUAN MENGATASI TRAUMA:

  1. KLIEN MAMPU MENGUNGKAPKAN PERASAAN DAN PIKIRANNYA KEPADA TERAPIS
  2. KLIEN MAMPU MENERIMA BENCANA SEBAGAI BAGIAN DALAM KEHIDUPANYA.
  3. KLIEN MAMPU MENENTUKAN ARAH DAN TUJUAN HIDUPNYA KEDEPAN.
  4. KLIEN MAMPU MENEMUKAN SUMBER-SUMBER YANG DAPAT DIMANFAATKAN UNTUK MEMPERBAIKI KEHIDUPANNYA.
  5. MENDAMPINGI ANAK YANG TRAUMA DENGAN PERHATIAN DAN MEMBANTU JALAN KELUAR.

PADA PEDOMAN INI BERISI:

  1. KOMUNIKASI DENGAN PASIEN TRAUMA
  2. TINDAKAN PADA TAHAP MENYANGKAL
  3. TINDAKAN PADA TAHAP MARAH
  4. TINDAKAN PADA TAHAP TAWAR-MENAWAR
  5. TINDAKAN PADA TAHAP DEPRESI.
  6. TINDAKAN PADA TAHAP MENERIMA

KOMUNIKASI DENGAN KLIEN TRAUMA

TUJUAN:

KLIEN DAPAT PERCAYA DENGAN TERAPIS DAN MAMPU MENEMUKAN APA SEDANG TERJADI, DIRASAKAN DAN DIPIKIRKAN SEHINGGA MAMPU MENGONTROL EMOSI DAN SITUASI.

TINDAKAN:

  1. DENGARKAN DENGAN KONSENTRASI, PERISTIWA TRAUMA
  2. BIARKAN KLIEN BICARA SESUAI DENGAN KEINGINANNYA.
  3. DENGARKAN APA YANG DIRASAKAN KLIEN SEDINI MUNGKIN
  4. BUAT KLIEN MERASA AMAN DENGAN MEMPERHATIKAN LINGKUNGAN
  5. BIARKAN KLIEN BICARA DENGAN TENANG DAN NYAMAN
  6. DAN SUPORT PASIEN UNTUK BISA MENGELUARKAN TENTANG EMOSI DAN PIKIRANNYA.

EVALUASI:

  1. KLIEN PERCAYA DENGAN TERAPIS
  2. KLIEN MAMPU MENEMUKAN APA YANG DIRASAKAN, DIPIKIRKAN DAN MENGONTROL EMOSINYA.

TINDAKAN PADA TAHAP MENYANGKAL

GEJALA:

  1. SYOK DAN TIDAK PERCAYA
  2. LETIH, LEMAH, PUCAT,
  3. MUAL, DIARE,
  4. GANGGUAN PERNAFASAN, TACHIKARDI,
  5. MENANGIS, GELISAH, TIDAK TAHU HARUS BERBUAT APA.

TINDAKAN:

  1. DORONG KLIEN UNTUK BICARA KETIKA SIAP.
  2. DIAM DAN PERHATIKAN APA YANG DIRASAKAN KLIEN
  3. MENGKAJI KETIDAK MAMPUAN KLIEN SEBAGAI TANDA BAHAYA.
  4. BERIKAN KEBUTUHAN DASAR.

TINDAKAN PADA TAHAP MARAH

GEJALA:

  1. SADAR KENYATAAN KEHILANGAN
  2. PROYEKSI
  3. PERILAKU AGRESIF DAN KASAR
  4. RESPON FISIK: MUKA MERAH, NADI CEPAT, GELISAH, SUSAH TIDUR, TANGAN MENGEPAL.

TINDAKAN:

  1. BIARKAN UNGKAPKAN MARAH SECARA  VERBAL
  2. HINDARKAN KEGIATAN KEGEMBIRAAN
  3. IDENTIFIKASI TANDA MARAH

TINDAKAN PADA TAHAP TAWAR MENAWAR

GEJALA:

  1. BIASANYA SETELAH MARAH YANG SANGAT
  2. UNGKAPAN PENAWARAN
  3. SUSAH MAKAN
  4. SUSAH TIDUR
  5. TIDAK MEMPUNYAI KEINGINAN.

TINDAKAN:

  1. DENGARKAN EKSPRESI VERBAL TANPA MENDIKTE.
  2. DORONG KLIEN UNTUK MEYAKINI ADANYA ALLAH YANG MAHA SEGALANYA.
  3. BERIKAN INFORMASI UNTUK MEMBUAT KEPUTUSAN.

TINDAKAN PADA TAHAP DEPRESI

GEJALA:

  1. SIKAP MENARIK DIRI
  2. TIDAK MAU BICARA
  3. KADANG BERSIFAT SANGAT BAIK DAN PENURUT
  4. MENYATAKAN PUTUS ASA DAN TIDAK BERHARGA
  5. BISA TERJADI BUNUH DIRI DAN KOPING TIDAK SEHAT.

TINDAKAN:

  1. DORONG PENGUNGKAPAN KEHILANGAN BAGI HIDUPNYA
  2. DUKUNG HARGA DIRINYA
  3. PERHATIKAN PERASAAN PERAWAT LAKUKAN DENGAN “CARING”
  4. TEMUKAN HAL-HAL POSITIF YANG KLIEN PUNYAI.

TINDAKAN PADA TAHAP PENERIMAAN

GEJALA:

  1. REORGANISASI RASA KEHILANGAN
  2. TERIMA KENYATAAN
  3. LEPAS DARI OBYEK YANG HILANG KE OBYEK BARU
  4. MERENCANAKAN HAL BARU.

TINDAKAN:

  1. BIARKAN KLIEN MENGEKSPRESIKAN PERASAAN
  2. DORONG KLIEN MENYIAPKAN RENCANA.
  3. TEMUKAN SUMBER-SUMBER YANG BISA MEMBANTU.

DAMPAK KEHILANGAN KEMATIAN MENURUT USIA

LAHIR- 2 TAHUN;

  1. KURANGNYA KONSEP KEMATIAN.
  2. DAPAT MENGALAMI PERASAAN KEHILANGAN.
  3. PENGALAMAN AKAN BERPENGARUH SEBAGAI DASAR PADA SAAT TERJADI KEHILANGAN.

2- 5 TAHUN

  1. MENGINGKARI BAHWA KEMATIAN PROSES NORMAL
  2. KEMATIAN AKAN KEMBALI
  3. BEREAKSI MARAH
  4. KEMATIAN ORANG TUA RESPON SEDIKIT.

5-8 TAHUN.

  1. KEMATIAN SEBAGAI AKHIR
  2. MENAKUTKAN
  3. MENCARI PENYEBAB DAN ARTI
  4. MERASAKAN KESEDIHAN.

8-12 TAHUN

  1. KEMATIAN AKHIR DAN TAK TERDUGA
  2. KADANG TAK MENERIMA KEMATIAN
  3. SADAR KEMATIAN AKAN DATANG PADANYA, MENJADI TAKUT.
  4. KEMUNGKINAN RESPON TIDAK EFEKTIF.

REMAJA

  1. HARUS MENGHADAPI AKIBAT
  2. MENCARI ARTI HIDUP
  3. CEMAS PADA MASA DEPAN.
1 Comment more...

KONSEP CARING

CARING

PENDAHULUAN

Sebagai  perawat/ners materi yang sangat penting dan menentukan adalah memahami konsep caring dan mampu menanamkan dalam hati, disirami dan dipupuk untuk mampu memperlihatkan kemampuan soft skill sebagai perawat, yaitu empati, bertanggung jawab dan tanggung gugat, dan mampu belajar seumur hidup. Dan itu semua akan berhasil dicapai oleh perawat kalau  mereka mampu memahami apa itu caring.Saat ini, caring adalah isu besar dalam profesionalisme keperawatan. Mata ajaran ini mendeskripsikan tentang keperawatan dasar dimana perawat akan mendalami konsep sebagai dasar ilmu keperawatan. Diharapkan perawat mampu memahami tentang pentingnya perilaku caring sebagai dasar yang harus dikuasai oleh perawat / ners.

TEORI  CARING DALAM  KEPERAWATAN

Perawat merupakan salah satu profesi yang mulia. Betapa tidak, merawat pasien yang sedang sakit adalah pekerjaan yang tidak mudah. Tak semua orang bisa memiliki kesabaran dalam melayani orang yang tengah menderita penyakit. Pengalaman ilmu untuk menolong sesama memerlukan kemampuan khusus dan kepedulian sosial yang besar (Abdalati, 1989). Untuk itu perawat memerlukan kemampuan khusus dan kepedulian sosial yang mencakup ketrampilan intelektual, teknikal dan interpersonal yang tercermin dalam perilaku caring atau kasih sayang/cinta (Johnson, 1989) .

Caring merupakan fenomena universal yang berkaitan dengan cara seseorang berpikir, berperasaan dan bersikap ketika berhubungan dengan orang lain. Caring dalam keperawatan dipelajari dari berbagai macam filosofi dan perspektif etik .

Human care merupakan hal yang mendasar dalam teori caring. Menurut Pasquali dan Arnold (1989) serta Watson (1979), human care terdiri dari upaya untuk melindungi, meningkatkan, dan menjaga atau mengabdikan rasa kemanusiaan dengan membantu orang lain mencari arti dalam sakit, penderitaan, dan keberadaannya serta membantu orang lain untuk meningkatkan pengetahuan dan pengendalian diri .

Watson (1979) yang terkenal dengan Theory of Human Care, mempertegas bahwa caring sebagai jenis hubungan dan transaksi yang diperlukan antara pemberi dan penerima asuhan untuk meningkatkan dan melindungi pasien sebagai manusia, dengan demikian mempengaruhi kesanggupan pasien untuk sembuh .

Lebih lanjut Mayehoff memandang caring sebagai suatu proses yang berorientasi pada tujuan membantu orang lain bertumbuh dan mengaktualisasikan diri. Mayehoff juga memperkenalkan sifat-sifat caring seperti sabar, jujur, rendah hati. Sedangkan Sobel mendefinisikan caring sebagai suatu rasa peduli, hormat dan menghargai orang lain. Artinya memberi perhatian dan mempelajari kesukaan-kesukaan seseorang dan bagaimana seseorang berpikir, bertindak dan berperasaan. Caring sebagai suatu moral imperative (bentuk moral) sehingga perawat harus terdiri dari orang-orang yang bermoral baik dan memiliki kepedulian terhadap kesehatan pasien, yang mempertahankan martabat dan menghargai pasien sebagai seorang manusia, bukan malah melakukan tindakan amoral pada saat melakukan tugas pendampingan perawatan. Caring juga sebagai suatu affect yang digambarkan sebagai suatu emosi, perasaan belas kasih atau empati terhadap pasien yang mendorong perawat untuk memberikan asuhan keperawatan bagi pasien. Dengan demikian perasaan tersebut harus ada dalam diri setiap perawat supaya mereka bisa merawat pasien .

Marriner dan Tomey (1994) menyatakan bahwa caring merupakan pengetahuan kemanusiaan, inti dari praktik keperawatan yang bersifat etik dan filosofikal. Caring bukan semata-mata perilaku. Caring adalah cara yang memiliki makna dan memotivasi tindakan. Caring juga didefinisikan sebagai tindakan yang bertujuan memberikan asuhan fisik dan memperhatikan emosi sambil meningkatkan rasa aman dan keselamatan klien (Carruth et all, 1999) Sikap caring diberikan melalui kejujuran, kepercayaan, dan niat baik. Caring menolong klien meningkatkan perubahan positif dalam aspek fisik, psikologis, spiritual, dan sosial. Bersikap caring untuk klien dan bekerja bersama dengan klien dari berbagai lingkungan merupakan esensi keperawatan. Dalam memberikan asuhan, perawat menggunakan keahlian, kata-kata yang lemah lembut, sentuhan, memberikan harapan, selalu berada disamping klien, dan bersikap caring sebagai media pemberi asuhan (Curruth, Steele, Moffet, Rehmeyer, Cooper, & Burroughs, 1999). Para perawat dapat diminta untuk merawat, namun tidak dapat diperintah untuk memberikan asuhan dengan menggunakan spirit caring .

Spirit caring seyogyanya harus tumbuh dari dalam diri perawat dan berasal dari hati perawat yang terdalam. Spirit caring bukan hanya memperlihatkan apa yang dikerjakan perawat yang bersifat tindakan fisik, tetapi juga mencerminkan siapa dia. Oleh karenanya, setiap perawat dapat memperlihatkan cara yang berbeda ketika memberikan asuhan kepada klien .

Beberapa ahli merumuskan konsep caring dalam beberapa teori. Menurut Watson, ada tujuh asumsi yang mendasari konsep caring. Ketujuh asumsi tersebut adalah

  1. caring hanya akan efektif bila diperlihatkan dan dipraktekkan secara interpersonal,
  2. caring terdiri dari faktor karatif yang berasal dari kepuasan dalam membantu memenuhi kebutuhan manusia atau klien,
  3. caring yang efektif dapat meningkatkan kesehatan individu dan keluarga,
  4. caring merupakan respon yang diterima oleh seseorang tidak hanya saat itu saja namun juga mempengaruhi akan seperti apakah seseorang tersebut nantinya,
  5. lingkungan yang penuh caring sangat potensial untuk mendukung perkembangan seseorang dan mempengaruhi seseorang dalam memilih tindakan yang terbaik untuk dirinya sendiri,
  6. caring lebih kompleks daripada curing, praktik caring memadukan antara pengetahuan biofisik dengan pengetahuan mengenai perilaku manusia yang berguna dalam peningkatan derajat kesehatan dan membantu klien yang sakit,
  7. caring merupakan inti dari keperawatan (Julia,1995).

Watson juga menekankan dalam sikap caring ini harus tercermin sepuluh faktor karatif yang berasal dari perpaduan nilai-nilai humanistik dengan ilmu pengetahuan dasar. Faktor karatif membantu perawat untuk menghargai manusia dari dimensi pekerjaan perawat, kehidupan, dan dari pengalaman nyata berinteraksi dengan orang lain sehingga tercapai kepuasan dalam melayani dan membantu klien. Sepuluh faktor karatif tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Pembentukan sistem nilai humanistik dan altruistic.

Perawat menumbuhkan rasa puas karena mampu memberikan sesuatu kepada klien. Selain itu, perawat juga memperlihatkan kemampuan diri dengan memberikan pendidikan kesehatan pada klien.

  1. Memberikan kepercayaan-harapan dengan cara memfasilitasi dan meningkatkan asuhan keperawatan yang holistik. Di samping itu, perawat meningkatkan perilaku klien dalam mencari pertolongan kesehatan
  2. Menumbuhkan kesensitifan terhadap diri dan orang lain.

Perawat belajar menghargai kesensitifan dan perasaan klien, sehingga ia sendiri dapat menjadi lebih sensitif, murni, dan bersikap wajar pada orang lain.

  1. Mengembangkan hubungan saling percaya.

Perawat memberikan informasi dengan jujur, dan memperlihatkan sikap empati yaitu turut merasakan apa yang dialami klien. Sehingga karakter yang diperlukan dalam faktor ini antara lain adalah kongruen, empati, dan kehangatan.

  1. Meningkatkan dan menerima ekspresi perasaan positif dan negatif klien. Perawat memberikan waktunya dengan mendengarkan semua keluhan dan perasaan klien.
  2. Penggunaan sistematis metoda penyelesaian masalah untuk pengambilan keputusan. Perawat menggunakan metoda proses keperawatan sebagai pola pikir dan pendekatan asuhan kepada klien.
  3. Peningkatan pembelajaran dan pengajaran interpersonal, memberikan asuhan mandiri, menetapkan kebutuhan personal, dan memberikan kesempatan untuk pertumbuhan personal klien.
  4. Menciptakan lingkungan fisik, mental, sosiokultural, dan spritual yang mendukung. Perawat perlu mengenali pengaruh lingkungan internal dan eksternal klien terhadap kesehatan dan kondisi penyakit klien.
  5. Memberi bimbingan dalam memuaskan kebutuhan manusiawi.

Perawat perlu mengenali kebutuhan komprehensif diri dan klien. Pemenuhan kebutuhan paling dasar perlu dicapai sebelum beralih ke tingkat selanjutnya.

10.  Mengijinkan terjadinya tekanan yang bersifat fenomenologis agar pertumbuhan diri dan kematangan jiwa klien dapat dicapai. Kadang-kadang seorang klien perlu dihadapkan pada pengalaman/pemikiran yang bersifat profokatif. Tujuannya adalah agar dapat meningkatkan pemahaman lebih mendalam tentang diri sendiri (Julia, 1995).

Dari kesepuluh faktor karatif tersebut, Watson merumuskan tiga faktor karatif yang menjadi filosofi dasar dari konsep caring. Tiga faktor karatif tersebut adalah: pembentukan sistem nilai humanistik dan altruistik, memberikan harapan dan kepercayaan, serta menumbuhkan sensitifitas terhadap diri sendiri dan orang lain (Julia, 1995).

Kesepuluh faktor karatif di atas perlu selalu dilakukan oleh perawat agar semua aspek dalam diri klien dapat tertangani sehingga asuhan keperawatan profesional dan bermutu dapat diwujudkan. Selain itu, melalui penerapan faktor karatif ini perawat juga dapat belajar untuk lebih memahami diri sebelum memahami orang lain (Nurahmah, 2006).

Leininger (1991) mengemukakan teori “culture care diversity and universality”, beberapa konsep yang didefinisikan antara lain

  1. kultural berkenaan dengan pembelajaran dan berbagi sistem nilai, kepercayaan, norma, dan gaya hidup antar kelompok yang dapat mempengaruhi cara berpikir, mengambil keputusan, dan bertindak dalam pola-pola tertentu;
  2. keanekaragaman kultural dalam caring menunjukkan adanya variasi dan perbedaan dalam arti, pola, nilai, cara hidup, atau simbol care antara sekelompok orang yang berhubungan, mendukung, atau perbedaan dalam mengekspresikan human care;
  3. cultural care didefinisikan sebagai subjektivitas dan objektivitas dalam pembelajaran dan pertukaran nilai, kepercayaan, dan pola hidup yang mendukung dan memfasilitasi individu atau kelompok dalam upaya mempertahankan kesehatan, meningkatkan kondisi sejahtera, mencegah penyakit dan meminimalkan kesakitan;
  4. dimensi struktur sosial dan budaya terdiri dari keyakinan/agama, aspek sosial, politik, ekonomi, pendidikan, teknologi, budaya, sejarah dan bagaimana faktor-faktor tersebut mempengaruhi perilaku manusia dalam lingkungan yang berbeda;
  5. care sebagai kata benda diartikan sebagai fenomena abstrak dan konkrit yang berhubungan dengan bimbingan, bantuan, dukungan atau perilaku lain yang berkaitan untuk orang lain dalam meningkatkan kondisi kehidupannya;
  6. care sebagai kata kerja diartikan sebagai suatu tindakan dan kegiatan untuk membimbing, mendukung, dan ada untuk orang lain guna meningkatkan kondisi kehidupan atau dalam menghadapi kematian;
  7. caring dalam profesionalisme perawat diartikan sebagai pendidikan kognitif dan formal mengenai pengetahuan care serta keterampilan dan keahlian untuk mendampingi, mendukung, membimbing, dan memfasilitasi individu secara langsung dalam rangka meningkatkan kondisi kehidupannya, mengatasi ketidakmampuan/kecacatan atau dalam bekerja dengan klien (Julia, 1995, Madeline,1991).

Sebagai seorang perawat, kemampuan care, core, dan cure harus dipadukan secara seimbang sehingga menghasilkan asuhan keperawatan yang optimal untuk klien. Lydia Hall mengemukakan perpaduan tiga aspek tersebut dalam teorinya. Care merupakan komponen penting yang berasal dari naluri seorang ibu. Core merupakan dasar dari ilmu sosial yang terdiri dari kemampuan terapeutik, dan kemampuan bekerja sama dengan tenaga kesehatan lain. Sedangkan cure merupakan dasar dari ilmu patologi dan terapeutik. Dalam memberikan asuhan keperawatan secara total kepada klien, maka ketiga unsur ini harus dipadukan (Julia, 1995).

Menurut Boykin dan Schoenhofer, pandangan seseorang terhadap caring dipengaruhi oleh dua hal yaitu persepsi tentang caring dan konsep perawat sebagai disiplin ilmu dan profesi. Kemampuan caring tumbuh di sepanjang hidup individu, namun tidak semua perilaku manusia mencerminkan caring (Julia, 1995).

Keperawatan merupakan suatu proses interpersonal yang terapeutik dan signifikan. Inti dari asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien adalah hubungan perawat-klien yang bersifat profesional dengan penekanan pada bentuk interaksi aktif antara perawat dan klien. Hubungan ini diharapkan dapat memfasilitasi partisipasi klien dengan memotivasi keinginan klien untuk bertanggung jawab terhadap kondisi kesehatannya.

DAFTAR PUSTAKA

A. Aziz Alimul Hidayat. 2004. Pengantar konsep dasar keperawatan. Jakarta : Salemba Medika.

Black M. Joyce&Jane H. Hawks. 2005. Medical Surgical Nursing : clinical management for positive outcome. 7th edition. St Louis : Elseiver Inc.

Elly Nurachmah. Asuhan Keperawatan Bermutu di Rumah Sakit. http://pdpersi.co.id/?show=detailnews&kode=786&tbl=artikel. (diakses 27 Agustus 2006).

Farland M&Leininger M. 2002. Transcultural Nursing, Concept, Theories, Research & Practice. Mc. Grow-Hill Companies.

George B. Julia. 1995. Nursing Theories : The Base Professional Nursing Practice. 4th edition. Connecticut : Appleton&Lange.

Kidd Pamela Stinson. 2001. High Acuity Nursing. 3rd edition. New Jersey : Prentice Hall.

Leininger M. Madeline. Culture Care Diversity and Universality : a theory of nursing. 1991. New York : National league for nursing press.

M. Margaretha Ulemadja Wedho. Modalitas Perawat Adalah Empati (Refleksi Memperingati Ulang Tahun Ppni). http://www.indomedia.com/poskup/2005/03/16/edisi16/1603pin1.htm. (diakses 29 Agustus 2006).

Meidiana Dwidiyanti. 1998. Aplikasi Model Konseptual Keperawatan. Edisi 1. Semarang : Akper Depkes Semarang.

Munir Kamarullah. Upaya Meningkatkan Profesionalisme Perawat. http://risetdua.tblog.com/. (diakses 27 Agustus 2006).

Nila Ismani. 2000. Etika Keperawatan. Jakarta : Widya Medika.

Potter A. Patricia&Anne G. Perry. 2001. Fundamentals of Nursing. 5th edition. St Louis : Mosby, Inc.

Rawin. 2005. Action Research Dalam Rangka Meningkatkan Kemampuan Perilaku Caring Perawat di Rumah Sakit Bhayangkara Semarang. Universitas Diponegoro Semarang. Tidak dipublikasikan.

Rokiah Kusumapradja. Pelayanan Prima Dalam Keperawatan. www.pdpersi.co.id/mukisi/hospex/rokiah.ppt. (diakses 29 Agustus 2006).

Roswita Hasan. Konsep Pemenuhan Kebutuhan Dasar Manusia. http://www.pjnhk.go.id/asuhankeperawatan3.htm. (diakses 27 Agustus 2006).

Tim YIPD/ CLGI. Rumah Sakit Umum Daerah Yang Berpihak Pada Pelanggan, Suatu Keharusan Menjelang “Korporatisasi”: Perjalanan Sistematis Mengelola Perubahan. http://www.clgi.or.id/publikasi/index.php?act=ndetail&sub=artikel&p_id=28. (diakses 29 Agustus 2006).

BAB II

KOMUNIKASI TERAPEUTIK

PENDAHULUAN

Hubungan perawat pasien adalah hal penting dalam pelayanan keperawatan. Mata ajaran ini mendeskripsikan tentang pengertian komunikasi terapeutik, hubungan profesional antara perawat dan pasien, sehingga perawat mampu mempertanggungjawabkan hubungan terepeutik dengan pasien. Dimana perawat adalah orang yang paling dekat dan seharusnya memahami masalah pasien secara komprehensif sehingga pelayanan kesehatan akan dilakukan secara menyeluruh.

Tujuan instruksional umum (standar kompetensi)

  • Perawat mampu melakukan teknik komunikasi terapeutik dengan pasien/klien.

Tujuan instruksional khusus (kompetensi dasar)

  1. Mengetahui sifat hubungan perawat pasien.
  2. Mengidentifikasi definisi komunikasi terapeutik antara perawat dan pasien.
  3. Mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi komunikasi.
  4. Menggunakan teknik-teknik komunikasi dengan klien.
  5. Menganalisa kemampuan komunikasi yang dipunyai oleh perawat.

KOMUNIKASI TERAUPETIK

Perawat yang memiliki ketrampilan berkomunikasi secara terapeutik tidak saja akan mudah menjalin hubungan rasa percaya dengan klien, mencegah terjadinya masalah legal, memberikan kepuasan profesional dalam pelayanan keperawatan dan meningkatkan citra profesi pelayanan keperawatan serta citra rumah sakit (Achir Yani), tetapi yang paling penting telah mengamalkan ilmunya untuk sesama manusia.

Dalam tulisan ini akan dibahas tentang pengertian komunikasi terapeutik, karakteristik, fase dan dimensi “helping relationship”, termasuk “therapeutic use of self” untuk praktek keperawatan, serta sikap dan teknik komunikasi terapeutik.

KOMUNIKASI TERAPEUTIK SABAGAI TANGGUNG JAWAB MORAL PERAWAT

Perawat harus memiliki tanggung jawab yang tinggi yang didasari atas sikap peduli dan kasih sayang, serta perasaan ingin membantu orang lain untuk tumbuh dan berkembang. Abdalati (1983), Bucauli (1978) dan Amsari(1995) menambahkan bahwa sebagai orang yang beragama, perawat tidak dapat bersikap tidak peduli. Individu yang tidak peduli terhadap orang lain adalah seorang pendosa yang mementingkan dirinya sendiri.

Selanjutnya Pasquali&Arnold (1989) dan Watson (1979) menyatakan bahwa “human care” terdiri dari upaya yang melindungi, meningkatkan dan menjaga/mangabadikan rasa kemanusiaan dengan membantu orang lain dalam mencari arti dalam sakit, penderitaan dan keberadaannya : membantu orang lain untuk meningkatkan pengetahuan dan pengendalian diri,…. Sesungguhnyalah setiap orang diajarkan oleh Allah untuk menolong sesama yang memerlukan bantuan. Perilaku menolong sesama itu perlu dilatih dan dibiasakan, sehingga akhirnya menjadi bagian dari kepribadian.

PENGERTIAN DAN KARAKTERISTIK “ HELPING RELATIONSHIPS

Seorang perawat profesional selalu mengupayakan untuk berprilaku terapeutik, yang berarti bahwa tiap interaksi yang dilakukan menimbulkan dampak terapeutik yang memungkinkan klien untuk tumbuh dan berkembang. Tujuan hubungan terapeutik diarahkan pada pertumbuhan klien yang menurut Stuart dan Sundeen (1995) dan Limberg, Huter & Kruszweski (1983) meliputi

  1. realisasi diri, penerimaan diri dan rasa hormat terhadap diri sendiri;
  2. indentitas diri yang jelas dan rasa integritas yang tinggi;
  3. kemampuan untuk membina hubungan interpersonal yang intim dan saling tergantung dan mencintai;
  4. peningkatan fungsi dan kemampuan memuaskan kebutuhan serta mencapai tujuan personal yang realistik.

Tujuan hubungan terapeutik akan tercapai apabila perawat dalam “helping relationship “ memiliki karakteristik sebagai berikut.

  1. Kesadaran diri terhadap yang dianutnya.

Perawat mampu menjelaskan tentang diri sendiri, keyakinan, apa yang menurutnya penting dalam kehidupannya, baru kemudian ia akan mampu menolong orang lain menjawab pertanyaan tersebut.

  1. Kemampuan untuk menganalisa perasaan sendiri.

Perawat secara bertahap belajar mengenal dan mengatasi berbagai perasaan antara lain perasaan marah, duka dan frustasi.

  1. Kemampuan menjadi contoh peran.

Perawat perlu mempunyai pola dan gaya hidup yang sehat termasuk mempertahankan kesehatan agar dapat dicontoh orang lain.

  1. Altruistik.

Perawat merasakan kepuasan karena mampu menolong orang lain dengan cara manusiawi.

  1. Rasa tanggung jawab etik dan moral.

Tiap keputusan yang  dibuat selalu memperhatikan prinsip-prinsip yang menjunjung tinggi kesehatan/ kesejahteraan manusia.

  1. Tanggung jawab.

Dua dimensi tanggung jawab yaitu bertanggung jawab terhadap tindakan sendiri dan berbagi tanggung jawab dengan orang lain.

Dengan karakteristik tersebut, diharapkan perawat akan mampu menggunakan dirinya sendiri secara terapeutik (therapeutic use of self). Selanjutnya upaya perawat untuk meningkatkan kemampuan yang berhubungan dengan pengetahuan tentang dinamika komunikasi, penghayatan terhadap kelebihan dan kekurangan diri, dan kepekaan terhadap kebutuhan orang lain sangat diperlukan dalam “therapeutic use of self”. Menggunakan diri secara terapeutik memerlukan integrasi dari ketiga kemampuan tersebut (Achir Yani, 1995).

JENIS KOMUNIKASI

Komunikasi interpersonal adalah interaksi yang pernah terjadi antara sedikitnya dua orang atau lebih dalam kelompok kecil, terutama dalam bentuk tatap muka dan paling sering digunakan dalam pelayanan keperawatan. Komunikasi interpersonal yang sehat memungkinkan penyelesaian masalah, berbagi ide, pengambilan keputusan dan pertumbuhan personal.Menurut Potter dan Perry (1993), Swansburg (1990), Szilagyi (1984), dan Tappen (1995) ada tiga jenis komunikasi yaitu verbal, tertulis dan non verbal.

KOMUNIKASI VERBAL

Jenis komunikasi yang paling lazim digunakan dalam pelayanan keperawatan di rumah sakit adalah pertukaran informasi secara verbal terutama pembicaraan dengan alat atau simbol yang dipakai untuk mengekspresikan ide atau perasaan, membangkitkan respon emosional, atau menguraikan objek, observasi dan ingatan. Sering juga untuk menyampaikan arti yang tersembunyi, dan menguji minat seseorang. Keuntungan komunikasi verbal dalam tatap muka yaitu memungkinkan tiap individu untuk berespon secara langsung.

Komunikasi verbal yang efektif harus :

  1. jelas dan ringkas.

Komunikasi yang efektif harus sederhana, pendek dan langsung. Makin sedikit kata-kata yang digunakan makin kecil kemungkinan terjadi kerancuan. Kejelasan dapat dicapai dengan berbicara secara lambat dan mengucapkannya dengan jelas. Penggunaan contoh bisa membuat penjelasan lebih mudah untuk dipahami. Ulang bagian yang penting dari pesan yang disampaikan. Penerima pesan perlu mengetahui apa, mengapa, bagaimana, kapan, siapa, dan dimana. Ringkasnya, dengan menggunakan kata-kata yang mengekspresikan ide secara sederhana. “ Katakan kepada saya dimana rasa nyeri anda” lebih baik dari pada “saya ingin anda menguraikan kepada saya bagian yang anda rasakan tidak enak”.

  1. perbendaharaan kata.

Komunikasi tidak akan berhasil, jika pengirim pesan tidak mampu menerjemahkan kata dan ucapan. Banyak istilah teknis yang digunakan dalam keperawatan dan kedokteran, dan jika digunakan oleh perawat, klien menjadi bingung dan tidak mampu mengikuti petunjuk atau mempelajari informasi penting. Ucapkan pesan dengan istilah yang dimengerti oleh klien. Dari pada mengatakan “duduk, sementara saya akan mengauskultasi paru-paru anda“ akan lebih baik jika dikatakan “duduklah sementara saya mendengarkan paru-paru anda”.

  1. arti denotatif dan konotatif.

Arti denotatif memberikan pengertian yang sama terhadap kata yang digunakan, sedangkan arti konotatif merupakan pikiran, perasaan atau ide yang terdapat dalam suatu kata. Kata “serius” dipahami oleh klien sebagai suatu kondisi mendekati kematian, tetapi perawat akan menggunakan kata “kritis” untuk menjelaskan keadaan yang mendekati kematian. Ketika berkomunikasi dengan klien, perawat harus hati-hati memilih kata-kata sehingga tidak mudah disalahtafsirkan. Terutama sangat penting ketika menjelaskan tujuan terapi, terapi dan kondisi klien.

  1. selaan dan kecepatan bicara.

Kecepatan dan tempo bicara yang tepat turut menentukan keberhasilan komunikasi verbal. Selaan yang lama dan pengalihan yang cepat pada pokok pembicaraan lain mungkin akan menimbulkan kesan bahwa perawat sedang menyembunyikan sesuatu terhadap klien. Perawat sebaiknya tidak berbicara dengan cepat sehingga kata-kata tidak jelas. Selaan perlu digunakan untuk menekankan pada hal tertentu, memberi waktu kepada pendengar untuk mendengarkan dan memahami arti kata. Selaan yang tepat dapat dilakukan dengan memikirkan apa yang akan dikatakan sebelum mengucapkannya, menyimak isyarat non verbal dari para pendengar yang mungkin menunjukkan ketidakmengertian. Perawat juga bisa menanyakan kepada pendengar apakah ia berbicara terlalu lambat atau terlalu cepat dan perlu untuk diulang.

  1. waktu dan relevansi.

Waktu yang tepat sangat penting untuk menangkap pesan. Bila klien sedang menangis kesakitan, tidak waktunya menjelaskan resiko operasi. Kendatipun pesan diucapkan secara jelas dan singkat, tetapi waktu yang tidak tepat dapat menghalangi penerimaan pesan secara akurat. Oleh karena itu, perawat harus peka terhadap ketepatan waktu untuk berkomunikasi. Begitu pula komunikasi verbal akan lebih bermakna jika pesan yang disampaikan berkaitan dengan minat dan kebutuhan klien.

  1. humor.

Dugan (1998) menyatakan bahwa tertawa membantu mengurangi ketegangan dan rasa sakit yang disebabkan oleh stress, meningkatkan keberhasilan perawat dalam memberikan dukungan emosional terhadap klien. Sullivan dan Deane (1988) melaporkan bahwa humor merangsang produksi catecholamines , mengurangi ansietas, memfasilitasi relaksasi pernafasan dan meningkatkan metabolisme. Namun perawat perlu berhati-hati jangan menggunakan humor untuk menutupi rasa takut dan tidak enak atau menutupi ketidakmampuannya untuk berkomunikasi dengan klien.

KOMUNIKASI NON VERBAL

Komunikasi non verbal adalah pemindahan pesan tanpa menggunakan kata-kata. Merupakan cara yang paling tepat dan menyakinkan untuk menyampaikan pesan kepada orang lain. Perawat perlu menyadari pesan verbal dan non verbal yang disampaikan klien mulai dari saat pengkajian sampai evaluasi asuhan keperawatan, kareana isyarat non verbal menambah arti terhadap pesan verbal. Perawat yang mempersepsikan pesan non verbal akan lebih mampu memahami klien, mendeteksi suatu kondisi dan menentukan kebutuhan asuhan keperawatan.

Komunikasi non verbal teramati pada :

  1. metakomunikasi.

Komunikasi tidak hanya tergantung pada pesan tetapi juga pada hubungan antara pembicara dengan lawan bicaranya. Metakomunikasi adalah suatu komentar terhadap isi pembicaraan dan sifat hubungan antara yang berbicara, yaitu pesan di balik kata-kata yang menyampaikan sikap dan perasaan pengirim terhadap pendengar contoh : tersenyum ketika sedang marah.

  1. penampilan personal.

Penampilan seseorang merupakan salah satu hal pertama yang diperhatikan selama komunikasi interpersonal. Kesan pertama timbul dalam 20 detik sampai 4 menit pertama. Delapan puluh empat persen dari kesan terhadap seseorang berdasarkan penampilannya (Lalli-ascosi, 1990 dalam potter dan Perry, 1993). Bentuk fisik, cara berpakaian dan berhias menunjukkan kepribadian, status sosial, pekerjaan, agama, budaya dan konsep diri. Perawat yang memperhatikan penampilan dirinya dapat menimbulkan citra diri dan profesional yang positif. Penampilan fisik perawat mempengaruhi persepsi klien terhadap pelayanan/asuhan keperawatan yang diterima, karena tiap klien mempunyai citra bagaimana seharusnya penampilan seseorang perawat. Walaupun penampilan tidak sepenuhnya mencerminkan kemampuan perawat, tetapi mungkin akan lebih sulit bagi perawat untuk membina rasa percaya terhadap klien jika perawat tidak memenuhi citra klien.

  1. intonasi (nada suara).

Nada suara pembicaraan mempunyai dampak yang besar terhadap arti sebuah pesan yang dikirimkan, karena emosi seseorang dapat secara langsung mempengaruhi nada suaranya. Perawat harus menyadari emosinya ketika sedang berinteraksi dengan klien, karena maksud untuk menyampaikan rasa tertarik yang tulus terhadap klien dapat terhalangi oleh nada suara perawat.

  1. ekspresi wajah.

Hasil suatu penelitian menunjukkan enam keadaan emosi utama yamg tampak melalui ekspresi wajah : terkejut, takut, marah, jijik, bahagia dan sedih. Ekspresi wajah sering digunakan sebagai dasar penting dalam menentukan pendapat interpersonal. Kontak mata sangat penting dalam komunikasi interpersonal. Orang yang mempertahankan kontak mata selama pembicaraan dipersepsikan sebagai orang yang dapat dipercaya, dan memungkinkan untuk menjadi pengamat yang baik. Perawat sebaiknya tidak memandang ke bawah ketika sedang berbicara dengan klien, oleh karena itu ketika berbicara sebaiknya duduk sehingga perawat tidak tampak dominan jika kontak mata dengan klien dilakukan dalam keadaan sejajar.

  1. sikap tubuh dan ekspresi wajah.

Sikap tubuh dan ekspresi  menggambarkan sikap, emosi, konsep diri, dan keadaan fisik. Perawat dapat menyimpulkan informasi yang bermanfaat dengan mengamati sikap tubuh dan langkah klien. Langkah dapat dipengaruhi oleh faktor fisik seperti rasa sakit, obat atau fraktur.

  1. sentuhan.

Kasih sayang, dukungan emosional, dan perhatian disampaikan melalui sentuhan. Sentuhan merupakan bagian yang penting dalam hubungan perawat-klien, namun harus memperhatikan norma sosial. Ketika memberikan asuhan keperawatan, parawat menyentuh klien, seperti ketika memandikan, melakukan pemeriksaan fisik, atau membantu memakaikan pakaian. Perlu disadari bahwa keadaan sakit membuat klien tergantung kepada perawat untuk melakukan kontak interpersonal sehingga sulit untuk menghindari sentuhan. Bradley & Edinburg (1982) dan Wilson & Kneisl (1992) menyatakan bahwa perlu diperhatikan apakah penggunaan sentuhan dapat dimengerti dan dapat diterima oleh klien, sehingga harus dilakukan dengan kepekaan dan hati-hati.

FASE-FASE “HELPING RELATIONSHIPS

Stuart dan Sundeen (1995) mengenalkan empat fase “helping relationships” yang berkembang secara berurutan dan tiap fase mempunyai tugas yang berbeda. Fase hubungan tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Fase prainteraksi.

Pada fase prainteraksi, tugas keperawatan adalah (1) menggali perasaan, fantasi, dan rasa takut dalam diri sendiri; (2) menganalisis kekuatan dan keterbatasan profesional diri sendiri; (3) mengumpulkan data tentang klien jika memungkinkan; (4) merencanakan pertemuan pertama dengan klien.

  1. Fase orientasi dan perkenalan.

Tugas keperawatan pada fase ini adalah (1) menetapkan alasan klien untuk mencari bantuan; (2) membina rasa saling percaya, penerimaan dan komunikasi terbuka; (3) menggali pikiran, perasaan dan tindakan klien; (4) mengidentifikasikan masalah klien; (5) mendefinisikan tujuan dengan klien; (6) merumuskan bersama kontrak termasuk nama, peran, tanggung jawab, harapan, tujuan, tempat pertemuan, waktu pertemuan, kondisi untuk terminasi, dan kerahasiaan.

  1. Fase kerja.

Menurut Stuart dan Sundeen (1995) pada fase kerja, keperawatan bertugas; (1) menggali stressor yang berhubungan; (2) meningkatkan pengembangan penghayatan klien dan penggunaan mekanisme koping yang konstruktif; dan (3) membahas dan mengatasi perilaku resisten.

  1. Terminasi.

Dalam fase terakhir ini, keperawatan bertugas; (1) membina kenyataan tentang perpisahan; (2) meninjau kemajuan terapi dan pencapaian tujuan; dan (3) menggali bersama perasaan ditolak, kehilangan, kesedihan dan kemarahan serta perilaku yang terkait lainnya.

TEKNIK KOMUNIKASI TERAPEUTIK

Tiap klien tidak sama oleh karena itu diperlukan penerapan teknik komunikasi yang berbeda pula. Teknik komunikasi berikut ini, terutama menggunakan referensi dari Shives (1994), Stuart dan Sundeen (1995), Wilson dan Kneisl (1992), yaitu

  1. mendengarkan dengan penuh perhatian

Berusaha mendengarkan klien, menyampaikan pesan non verbal bahwa perawat perhatian terhadap kebutuhan dan masalah klien. Mendengarkan dengan penuh perhatian merupakan upaya untuk mengerti seluruh pesan verbal dan non verbal yang sedang dikomunikasikan. Ketrampilan mendengarkan sepenuh perhatian adalah dengan :

  1. pandang klien ketika sedang berbicara,
  2. pertahankan kontak mata yang memancarkan keinginan untuk mendengarkan,
  3. sikap tubuh yang menunjukkan perhatian dengan tidak menyilangkan kaki atau tangan,
  4. hindarkan gerakan yang tidak perlu,
  5. anggukkan kepala jika klien membicarakan hal penting atau memerlukan umpan balik,
  6. condongkan tubuh ke arah lawan bicara.
  1. menunjukkan penerimaan

Menerima tidak berarti menyetujui. Menerima berarti bersedia untuk mendengarkan orang lain tanpa menunjukkan keraguan atau tidak setuju. Tentu saja sebagai perawat kita tidak harus menerima semua perilaku klien. Perawat sebaiknya menghindarkan ekspresi wajah dan gerakan tubuh yang menunjukkan tidak setuju, seperti mengerutkan kening atau menggelengkan kepala seakan tidak percaya. Berikut ini menunjukkan sikap perawat yang menerima apa yang dikatakan klien.

  1. Mendengarkan tanpa memutuskan pembicaraan.
  2. Memberikan umpan balik verbal yang menampakkan pengertian.
  3. Memastikan bahwa isyarat non verbal cocol dengan komunikasi verbal.
  4. Menghindarkan untuk berdebat, mengekspresikan keraguan, atau mencoba untuk mengubah pikiran klien.
  5. Perawat dapat menganggukkan  kepalanya atau berkata “ya”, “saya mengikuti apa yang Anda ucapkan “ (Cook, 1997).
  1. menanyakan pertanyaan yang berkaitan

Tujuan perawat bertanya adalah untuk mendapatkan informasi yang spesifik mengenai klien. Paling baik jika pertanyaan dikaitkan dengan topik yang dibicarakan dan gunakan kata-kata dalam konteks sosial budaya klien. Selama pengkajian ajukan pertanyaan secara berurutan.

  1. mengulang ucapan klien dengan menggunakan  kata-kata sendiri

Dengan mengulang kembali ucapan klien, perawat memberikan umpan balik sehingga klien mengetahui bahwa pesannya dimengerti dan mengharapkan komunikasi berlanjut. Namun perawat harus berhati-hati ketika menggunakan metode ini, karena pengertian bisa rancu jika pengucapan ulang mempunyai arti yang berbeda.

Contoh : K : “Saya tidak dapat tidur, sepanjang malam saya terjaga.”

P  : “Saudara mengalami kesulitan untuk tidur…….”

  1. mengklarifikasi

Apabila terjadi kesalahpahaman, perawat perlu menghentikan pembicaraan untuk mengklarifikasikan dengan menyamakan pengertian, karena informasi sangat penting dalam memberikan pelayanan keperawatan. Agar pesan dapat sampai dengan benar, perawat perlu memberikan contoh yang konkret dan mudah dimengerti klien.

Contoh : – “Saya tidak yakin saya mengikuti apa yang Anda katakan “

- “Apa yang Anda katakan tadi adalah……………”

  1. memfokuskan

Metode ini dilakukan dengan tujuan membatasi bahan pembicaraan sehingga lebih spesifik dan dimengerti. Perawat tidak seharusnya memutuskan pembicaraan berlanjut tanpa informasi yang baru.

Contoh: “Hal ini tampaknya penting, mari kita bicarakan lebih dalam lagi.”

  1. menyatakan hasil observasi

Perawat perlu memberikan umpan balik kepada klien dengan menyatakan hasil pengamatannya, sehingga dapat diketahui apakah pesan diterima dengan benar. Menyampaikan hasil pengamatan perawat sering membuat klien berkomunikasi lebih jelas tanpa harus bertanya, memfokuskan atau mengklarifikasi pesan.

Contoh : – “Anda tampak tegang “

- “Apakah Anda merasa tidak tenang apabila Anda……………”

  1. menawarkan informasi

Tambahan informasi memungkinkan penghayatan yang lebih baik bagi klien terhadap keadaannya., memberikan tambahan informasi merupakan penyuluhan kesehatan bagi klien perawat. Apabila ada informasi yang ditutupi oleh dokter, perawat perlu mengklarifikasi alasannya. Perawat tidak boleh memberikan nasihat kepada klien ketika memberikan informasi, tetepi memfasilitasi klien untuk membuat keputusan.

  1. diam

Diam memberikan kesempatan kepada perawat dan klien untuk mengorganisasi pikirannya. Penggunaan metode diam memerlukan ketrampilan dan ketepatan waktu, jika tidak maka akan menimbulkan perasaan tidak enak. Diam memungkinkan klien  berkomunikasi terhadap dirinya sendiri, mengorganisir pikirannya, dan memproses informasi. Diam terutama berguna pada saat klien harus mengambil keputusan.

  1. meringkas

Meringkas adalah pengulangan ide utama yang telah dikomunikasikan secara singkat. Metode ini bermanfaat untuk membantu mengingat topik yang telah dibahas sebelum meneruskan pada pembicaraan selanjutnya. Meringkas pembicaraan membantu perawat mengulang aspek penting dalam interaksinya, sehingga dapat melanjutkan pembicaraan dengan topik yang berkaitan.

Contoh : – “Selama beberapa jam, Anda dan saya telah membicarakan….”

  1. memberikan penghargaan

Memberikan salam kepada klien dengan menyebutkan namanya, menunjukkan kesadaran tentang perubahan yang terjadi, menghargai klien sebagai manusia seutuhnya mempunyai hak dan tanggung jawab atas dirinya sendiri sebagai individu. Penghargaan tersebut jangan sampai menjadi beban baginya, dalam arti kata jangan sampai klien berusaha keras melakukan segalanya demi mendapatkan pujian dan persetujuan atas perbuatannya. Dan tidak pula dimaksudkan untuk menyatakan bahwa yang ini “bagus” dan yang sebaliknya “buruk”.

Peplau mengatakan: “Apabila klien mencapai sesuatu yang nyata, maka perawat dapat mengatakan yang demikian”.

Contoh : – “Selamat pagi Ibu Sri”, atau “Assalamualaikum”

- “Saya perhatikan Ibu sudah menyisir rambut Ibu”

Dalam ajaran islam, memberi salam dan penghargaan menggambarkan akhlak terpuji, karena berarti mendoakan orang lain memperoleh rahmat dari Allah SWT. Salam menunjukkan betapa perawat peduli terhadap orang lain dengan bersikap ramah dan akrab

  1. menawarkan diri

Klien mungkin belum siap untuk berkomunikasi secara verbal dengan orang lain, atau klien tidak mampu untuk membuat dirinya mengerti. Seringkali perawat hanya menawarkan kehadirannya, rasa tertarik, teknik komunikasi ini harus dilakukan tanpa pamrih.

Contoh : – “Saya akan duduk bersama sebantar.”

- “Saya ingin Anda merasa tenang dan nyaman.”

  1. memberi kesempatan kepada klien untuk memulai pembicaraan

Memberi kesempatan pada klien untuk berinisiatif dalam memilih topik pembicaraan. Biarkan klien merasa bahwa dia yang memimpin pembicaraan. Untuk klien yang merasa ragu-ragu dan tidak pasti tentang peranannya dalam interaksi ini, perawat dapat menstimulasinya untuk mengambil inisiatif dan merasakan bahwa ia diharapkan untuk membuka pembicaraan.

Contoh : – “Adakah sesuatu yang ingin Anda bicarakan?”

- “Apa yang sedang Saudara pikirkan?”

- “Darimana Anda ingin memulai pembicaraan ini?”

  1. menganjurkan untuk meneruskan pembicaraan

Teknik ini menganjurkan klien untuk mengarahkan hampir seluruh pembicaraan yang mengidentifikasi bahwa klien sedang mengikuti apa yang sedang dibicarakan dan tertarik dengan apa yang akan dibicarakan selanjutnya. Perawat lebih berusaha untuk menafsirkan daripada mengarahkan diskusi/pembicaraan.

Contoh: – “………teruskan….?”

- “………dan kemudian…..?”

- “Ceritakan kepada saya tentang itu…”

  1. menempatkan kejadian dan waktu secara berurutan

Mengurutkan kejadian secara teratur akan menolong perawat dan klien untuk melihatnya dalam suatu perspektif. Kelanjutan dari suatu kejadian akan menuntun perawat dan klien untuk melihat kejadian berikutnya sebagai akibat kejadian yang pertama. Perawat akan dapat menemukan pola kesukaran interpersonal, dan memberikan data tentang pengalaman yang memuaskan dan berarti bagi klien dalam memenuhi kebutuhannya.

Contoh : – “Apakah yang terjadi sebelum dan sesudahnya?”

- “Kapan kejadian tersebut terjadi?”

  1. menganjurkan klien untuk menguraikan persepsinya

Apabila perawat ingin mengerti klien, maka ia harus melihat segalanya dari perspektif. Klien harus merasa bebas untuk menguraikan persepsinya kepada perawat. Ketika menceritakan pengalamannya, perawat harus waspada akan timbulnya gejala ansietas.

Contoh : – “Ceritakan kepada saya bagaimana perasaan Saudara ketika akan dioperasi”

- “Apa yang sedang terjadi?”

  1. refleksi

Refleksi menganjurkan klien untuk mengemukakan dan menerima ide dan perasaannya sebagai bagian dari dirinya sendiri. Apabila klien bertanya apa yang harus ia pikirkan dan kerjakan atau rasakan, maka perawat dapat menjawab: “Bagaimana menurutmu?” atau “Bagaimana perasaanmu?”. Dengan demikian perawat mengidentifikasi bahwa pendapat klien adalah berharga dan klien mempunyai hak untuk mengemukakan pendapatnya, untuk membuat keputusan, dan memikirkan dirinya sendiri. Menyadari bahwa perawat mengharapkan klien untuk mampu melakukan hal tersebut, maka iapun akan berpikir bahwa dirinya adalah manusia yang mempunyai kapasitas dan kemampuan sebagai individu yang terintegrasi dan bukan sebagai bagian daripada orang lain.

Contoh: K : “Apakah menurutmu saya harus mengatakannya kepada dokter?”

P  : “Apakah menurut Anda , Anda harus mengatakannya?”

K : “Suami saya sudah lama tidak datang mengunjungi saya, bahkan tidak menelpon saya, kalau dia datang saya tidak ingin berbicara dengannya”

P : “ Ini menyebabkan Anda marah”.

LATIHAN

  1. Program latihan empati di rumah, dengan komunikasi dengan orang yang paling dekat, refleksikan kemampuan perawat dalam melatih menggunakan teknik komunikasi klarifikasi, refleksi dan membagi persepsi.
  2. Perawat dibagi kelompok masing-masing 3 orang, satu sebagai perawat, satu sebagai pasien, satu sebagai observer.
  3. Dengan skenario, perawat di poliklinik, bagaimana perawat berkomunikasi dengan pasien.
  4. Tugas observer :
  1. menilai perawat, bagaimana dia mendengar,
  2. memfokuskan pertanyaan,
  3. mengklarifikasi,
  4. teknik komunikasi yang digunakan,
  5. memperhatikan bahasa non verbal pasien dan perawat,
  6. melaporkan hasil observasi pada kelompok lain,
  7. masukan dari kelompok.
  1. Kesimpulan tentang beberapa yang penting dilatih terus dan melakukan refleksi tentang perasaan dan pikiran perawat pada saat menghadapi pasien.

TEST FORMATIF

  1. Pada tahap apa Anda melakukan kontrak dengan pasien?
  1. pra interaksi
  2. interaksi
  3. terminasi
  4. kerja
  5. kontrak
  1. Pasien datang ke RSJ dengan halusinasi mendengar bahwa “ada sesorang yang mau membunuhnya”. Pengkajian yang harus di kembangkan berfokus pada
  1. apa yang terjadi di rumah
  2. riwayat hidup
  3. teman bergaul
  4. pekerjaan
  5. orang tuanya
  1. Mengenal pasien dengan mengumpulkan data apa adanya termasuk tahap apa dalam hubungan perawat pasien?
  1. pre interaksi
  2. interaksi
  3. kerja
  4. terminasi
  5. kontrak
  1. Dalam hubungan terapeutik, mengenal kesedihan karena perpisahan termasuk tahap
  1. pre interaksi
  2. interaksi
  3. kerja
  4. terminasi
  5. kontrak
  1. Dalam hubungan terapeutik, mengenal kelemahan dan kelebihan perawat sendiri termasuk tahap
  1. pre interaksi
  2. interaksi
  3. kerja
  4. terminasi
  5. kontrak
  1. Bila pasien tidak mau diajak berkomunikasi oleh seorang perawat, penyebabnya adalah
  1. belum kenal
  2. karena perawat
  3. belum berpengalaman
  4. tidak ada rasa percaya pasien
  5. pasien sedang mau sendiri
  1. Bila perawat mengatakan “Apa yang Ibu maksud dengan tidak betah di RS?” termasuk teknik komunikasi
  1. klarifikasi
  2. pertanyaan terbuka
  3. informasi
  4. humor
  5. membagi persepsi
  1. Kalau perawat menggunakan tehnik komunikasi klarifikasi  dengan pertanyaan “bisa ibu ceritakan apa yang dimaksud ibu marah sama suami” tujuannya adalah:
  1. Supaya ibu cerita
  2. Agar dapat terjadi komunikasi yang baik
  3. Menolong ibu untuk merasakan perasaannya yang sebenarnya terhadap suaminya.
  4. Agar masalahnya dengan suami bisa diatasi dengan bain
  5. Agar ibu tersebut lega dan tidak marah lagi.
  1. Bagaimana cara meningkatkan kesadaran diri?
  1. membuka diri pada orang lain
  2. terbuka
  3. ramah
  4. percaya dengan orang lain
  5. baik dengan orang lain.
  1. Kesadaran diri yang tinggi menurut Johari Window, daerah yang harus diperluas dalam hati kita adalah
  1. publik
  2. semi publik
  3. rahasia
  4. buta
  5. semu
  1. Kalau seseorang dianggap judes, tetapi dia tidak merasa judes, orang tersebut tergolong pada daerah
  1. publik
  2. semi publik
  3. rahasia
  4. buta
  5. semu
  1. Pada saat Anda ditugasi mengelola satu kasus, kemudian anda merencanakan pertemuan pertama dengan pasien yang ternyata sudah sampai satu minggu dirawat, langkah pertama Anda adalah
  1. bertanya nama dan alamat serta diagnosa
  2. mencari informasi dari perawat ruangan
  3. mencari status pasien
  4. menyusun daftar pertanyaan
  5. langsung menemui pasien
  1. Ciri-ciri hubungan terapeutik adalah, kecuali
  1. memberi jaminan kembali
  2. tujuan spesifik
  3. batas waktu jelas
  4. berfokus pada klien
  5. ada kontrak atau perjanjian
  1. Elemen-elemen berikut ini harus dikerjakan perawat pada fase pertama hubungan terapeutik, kecuali
  1. perkenalan perawat-klien
  2. membuat tujuan yang akan dicapai
  3. menentukan lamanya waktu
  4. negosiasi waktu pertemuan
  5. negosiasi imbalan jasa yang diberikan
  1. Komunikasi dikatakan efektif bila
  1. penyampaian pesan berjalan sangat lancar
  2. penyampaian pesan dapat menjangkau banyak orang
  3. pesan disampaikan dengan bahasa sederhana
  4. pesan dapat menjadi milik penerima
  5. pesan disampaikan melaui media menarik
  1. “apa yang dimaksud dengan ibu bingung?, adalah contoh teknik komunikasi:
    1. Tehnik klarifikasi
    2. Tehnik membagi persepsi
    3. Tehnik diam
    4. Tehnik refleksi
    5. Tehnik focusing
  1. pada saat pasien memberikan kartu berobat kepada perawat, perawat bertanya” ibu mau dioperasi”? tehnik komunikasi apa yang  digunakan perawat?
    1. Tehnik klarifikasi
    2. Tehnik membagi persepsi
    3. Tehnik diam
    4. Tehnik refleksi
    5. Tehnik focusing
  1. “ ibu kelihatan capai, apakah ada hubungannya  tadi malam tidak bisa tidur ?, tehnik komunikasi apa yang digunakan perawat?
    1. Tehnik klarifikasi
    2. Tehnik membagi persepsi
    3. Tehnik diam
    4. Tehnik refleksi
    5. Tehnik focusing
  1. “ners saya mau pulang” , respon terbaik perawat adalah
    1. “bisa ibu ceritakan apa yang ibu rasakan”?
    2. “ ya bu nanti ibu pulang”
    3. “ingin cepat pulang bu”?
    4. “Ya bu harus mengurus administrasi dulu”
    5. “ boleh”
  1. Pasien  dengan post amputasi kaki kiri karena kecelakaan lalu lintas, tidak mau memperlihatkan kakinya, dia mengatakan “kaki saya tidak apa-apa kok”. Pernyataan pasien tersebut menunjukan
  1. belum menerima keadaan post amputasi
  2. gangguan harga diri
  3. gangguan citra tubuh
  4. gangguan konsep diri
  5. gangguan sosial

KUNCI JAWABAN:

1.b, 2. a. 3.a, 4. d, 5. a. 6. d, 7.a, 8.c, 9. a, 10.a, 11.b, 12.c, 13.a, 14.a, 15.d, 16.a, 17.b, 18. b, 19.a, 20. c.

RANGKUMAN

Kemampuan menerapkan teknik komunikasi memerlukan latihan dan kepekaan serta ketajaman perasaan, karena komunikasi terjadi tidak dalam kehampaan, tetapi dalam dimensi nilai, waktu dan ruang yang turut mempengaruhi keberhasilan komunikasi yang terlihat melalui dampak terapeutiknya bagi klien dan juga kepuasan bagi perawat.

DAFTAR PUSTAKA

Cook, j.S., dan Fontaine, K.L. (1987). Essentials of Mental Health Nursing. California :addition-Wesley Publishing Company.

Kozier, B., dan Erb., G. (1992) Fundamental of Nursing : Concepts and Procedure. (2 nd ed). California : Addition Wesley Publishing  Company

Lindberg., J.B. Hunter, M.L., dan Kruszewki, A.Z. (1983). Introduction to Person-Centered Nursing. Philadelphia : J.B. Lippincott Company.

Potter, P.A., dan perry, A.G., (1989). Fundamentals of Nursing Concepts, Process and Practice. (2 nd ed). St Louis :  The Mosby Company.

Stuart, G.W., dan Sundeen, S.J. (1991). Principles and Practice of Psychiatric Nursing. (3 rd ed). St. Louis : Mosby Year Book

BAB III

ETIKA  KEPERAWATAN

PENDAHULUAN

Etika sebagai ilmu yang normatif, dengan sendirinya berisi norma dan nilai-nilai yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Banyak permasalahan etika yang sudah dirasakan oleh profesi keperawatan, walaupun belum menjadi inti perhatian bagi dunia keperawatan baik dalam teori maupun praktek. Etika merupakan hal penting dalam profesionalisme keperawatan, proses pembelajaran etika bukan hanya memahami difinisi tetapi juga memahami masalah-masalah yang ada di pelayanan kesehatan saat ini, sehingga diharapakan mampu memahami teori dan mampu mamahami masalah yang menjadi kenyataan. Diharapkan perawat dibekali cara berpikir kritis sehingga dapat memberikan alternatif penyelesaian etik dan antisipasinya.Kompetensi yang harus dimiliki perawat adalah perawat mampu mendifinisikan konsep etik dan mampu mengidentifikasi masalah yang terjadi di pelayanan kesehatan, serta mampu menerapkan pelayanan keperawatan dengan memperhatikan sikap etik dengan menggukan kode etik keperawatan sebagai pedoman.

KONSEP ETIK

Perawat harus mempunyai kemampuan yang baik untuk pasien maupun dirinya didalam menghadapi masalah yang menyangkut etika. Seseorang harus berpikir secara rasional, bukan emosional dalam membuat keputusan etis. Keputusan tersebut membutuhkan ketrampilan berpikir secara sadar yang diperlukan untuk menyelamatkan keputusan pasien dan memberikan asuhan.

Teori dasar/prinsip-prinsip etika merupakan penuntun untuk membuat keputusan etis praktik profesional. Teori-teori etik digunakan dalam pembuatan keputusan bila terjadi konflik antara prinsip-prinsip dan aturan-aturan. Para ahli falsafah moral telah mengemukakan beberapa teori etik, yang secara garis besar dapat diklasifikasikan menjadi teori teleologi dan deontologi.

  1. Teleologi.

Teleologi berasal dari bahasa Yunani telos yang berarti akhir. Pendekatan ini sering disebut dengan ungkapan the end fustifies the means atau makna dari suatu tindakan ditentukan oleh hasil akhir yang terjadi. Teori ini menekankan pada pencapaian hasil dengan kebaikan maksimal dan ketidakbaikan sekecil mungkin bagi manusia.Contoh penerapan teori ini misalnya bayi-bayi yang lahir cacat lebih baik diizinkan meninggal daripada nantinya menjadi beban di masyarakat.

  1. Deontologi.

Deontologi berasal dari bahasa Yunani deon yang berarti tugas. Teori ini berprinsip pada aksi atau tindakan. Contoh penerapan deontologi adalah seorang perawat yang yakin bahwa pasien harus diberitahu tentang apa yang sebenarnya terjadi, walaupun kenyataan tersebut sangat menyakitkan. Contoh lain misalnya seorang perawat menolak membantu pelaksanaan abortus karena keyakinan agamanya yang melarang tindakan membunuh.

Penerapan teori ini perawat tidak menggunakan pertimbangan, misalnya seperti tindakan abortus dilakukan untuk menyelamatkan nyawa ibu, karena setiap tindakan yang mengakhiri hidup (dalam hal ini calon bayi) merupakan tindakan yang secara moral buruk. Prinsip etika keperawatan meliputi kemurahan hati (beneficence).Inti dari prinsip kemurahan hati adalah tanggung jawab untuk melakukan kebaikan yang menguntungkan pasien dan menghindari perbuatan yang merugikan atau membahayakan pasien.

Prinsip ini seringkali sulit diterapkan dalam praktik keperawatan. Berbagai tindakan yang dilakukan sering memberikan dampak yang merugikan pasien, serta tidak ada kepastian yang jelas apakah perawat bertanggung jawab atas semua cara yang menguntungkan pasien. Dalam hal ini yang perlu diperhatikan adalah adanya sumbangsih perawat terhadap kesejahteraan kesehatan, keselamatan dan keamanan pasien.

  1. keadilan (justice)

Prinsip keadilan ini menyatakan bahwa mereka yang sederajat harus diperlakukan sederajat, sedangkan yang tidak sederajat harus diperlakukan tidak sederajat sesuai dengan kebutuhan mereka. Ini berarti bahwa kebutuhan kesehatan dari mereka yang sederajat harus menerima sumber pelayanan kesehatan dalam jumlah sebanding. Ketika seseorang mempunyai kebutuhan kesehatan yang besar, maka menurut prinsip ini ia harus mendapatkan sumber kesehatan yang besar pula.Keadilan berbicara tentang kejujuran dan pendistribusian barang dan jasa secara merata. Fokus hukum adalah perlindungan masyarakat, sedangkan fokus hukum kesehatan adalah perlindungan konsumen.

  1. otonomi

Prinsip otonomi menyatakan bahwa setiap individu mempunyai kebebasan menentukan tindakan atau keputusan berdasarkan rencana yang mereka pilih. Permasalaan yang muncul dari penerapan prinsip ini adalah adanya variasi kemampuan otonomi pasien yang dipengaruhi oleh banyak hal, seperti tingkat kesadaran, usia, penyakit, lingkungan rumah sakit, ekonomi, tersedianya informasi dll.

  1. kejujuran (veracity)

Prinsip kejujuran menyatakan hal yang sebenarnya dan tidak bohong. Kejujuran harus dimiliki perawat saat berhubungan dengan pasien. Kejujuran merupakan dasar terbinanya hubungan saling percaya antara perawat dan pasien. Perawat sering kali tidak memberitahukan kejadian sebenarnya kepada pasien yang sakit parah. Kejujuran berarti perawat tidak boleh membocorkan informasi yang diperoleh dari pasien dalam kapasitasnya sebagai seorang profesional tanpa persetujuan pasien. Kecuali jika pasien merupakan korban atau subjek dari tindak kejahatan, maka perbuatan tersebut dapat diajukan ke depan pengadilan dimana perawat menjadi seorang saksi.

  1. ketaatan (fidelity)

Prinsip ketaatan merupakan tanggung jawab untuk tetap setia pada suatu kesepakatan. Tanggung jawab dalam konteks hubungan perawat-pasien meliputi tanggung jawab menjaga janji, mempertahankan konfidensi dan memberikan perhatian/kepedulian. Peduli pada pasien merupakan salah satu aspek dari prinsip ketaatan. Peduli kepada pasien merupakan komponen paling penting dari praktik keperawatan, terutama pada pasien dalam kondisi terminal. Prinsip ketaatan juga mempunyai arti tidak melanggar untuk melakukan hal yang membahayakan pasien.

Permasalahan etis yang dihadapi perawat dalam praktik keperawatan telah menimbulkan konflik antara kebutuhan pasien dengan harapan perawat dan falsafah keperawatan. Masalah etika keperawatan pada dasarnya merupakan masalah etika kesehatan, dalam hal ini dikenal dengan istilah masalah etika biomedis atau bioetis. Istilah bioetis mengandung arti ilmu yang mempelajari masalah-masalah yang timbul akibat kemajuan ilmu pengetahuan terutama di bidang biologi dan kedokteran

Kode Etik Keperawatan Indonesia (PPNI,2000):

Tanggung jawab perawat terhadap individu, keluarga dan masyarakat.

Perawatan dalam melaksanakan pengabdian senantiasa berpedoman pada tanggungjawab yang pangkal tolaknya bersumber pada adanya kebutuhan terhadap perawatan untuk individu, keluarga dan masyarakat,Perawatan dalam melaksanakan pengabdian dalam bidang perawatan senantiasa memelihara situasi lingkungan yang menghormati nilai budaya, adat istiadat dan kelangsungan hidup beragama dari individu, keluarga dan masyarakat.Perawatan dalam melaksanakan kewajibannya bagi individu dan masyarakat senantiasa dilandasi dengan rasa tulus ikhlas sesuai dengan martabat dan tradisi luhur  keperawatan.Perawatan senantiasa menjalin hubungan kerjasama yang baik dengan individu dan masyarakat dalam mengambil prakarsa dan mengadakan upaya kesehatan  khususnya serta upaya kesejahteraan pada umumnya sebagai bagian dari tugas kewajiban pada kepentingan masyarakat.

Tanggung jawab perawat terhadap tugas.

Perawatan senantiasa memelihara mutu pelayanan perawatan yang tinggi disertai kejujuran profesional dalam menerapkan pengetahuan serta keterampilan perawatan sesuai dengan kebutuhan individu dan atau klien,  keluarga dan masyarakat.Perawat wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahui sehubungan dengan tugas yang dipercayakan kepadanya.Perawatan tidak akan menggunakan pengetahuan dan keterampilan perawatan untuk tujuan yang bertentangan dengan norma perawatan.Perawatan  dalam menunaikan tugas dan kewajiban senantiasa berusaha dengan penuh kesadaran agar tidak terpengaruh dengan pertimbangan kebangsaan, kesukuan, keagamaan, warna kulit, umur, jenis kelamin, aliran politik serta kedudukan sosial.Perawat senantiasa melakukan perlindungan dan keselamatan pasien dalam melaksanakan tugas keperawatan serta matang dalam mempertimbangkan kemampuan jika menerima atau mengalih tugaskan tangungjawab yang ada hubungan dengan perawatan.

Tanggung jawab perawat terhadap sesama perawat dan profesi kesehatan lainnya.

Perawat senantiasa memelihara hubungan baik antar sesama perawat dan dengan tenaga kesehatan lain, baik dalam memelihara keserasian suasana lingkungan kerja ataupun dalam mencapai tujuan pelayanan kesehatan secara keseluruhan.Perawat senantiasa menyebarluaskan pengetahuan, keterampilan dan pengalamannya terhadap sesama perawat serta menerima pengetahuan dan pengalaman dari profesi lain dalam rangka meningkatkan pengetahuan dalam bidang perawatan.Tanggung jawab perawat terhadap profesi perawatan.Perawat senantiasa meningkatkan pengetahuan kemampuan profesional secara sendiri atau bersama-sama dengan jalan menambah ilmu pengetahuan, keterampilan dan pengalaman yang bermanfaat bagi perkembangan perawatan.Perawat selalu menjungjung tinggi nama baik profesi perawatan dengan menunjukkan tingkahlaku dan kepribadian yang luhur.Perawat senatiasa berperan dalam penentuan pembakuan pendidikan dan pelayanan perawatan serta menerapkan dalam kegiatan pelayanan dan pendidikan perawatan.Perawatan secara bersama-sama membina dan memelihara mutu organisasi profesi perawatan sebagai sarana pengabdian.

Tanggung jawab perawat terhadap pemerintah, bangsa, dan tanah air.

Perawat senantiasa melaksanakan ketentuan sebagai kebijaksanaan yang digariskan oleh pemerintah dalam bidang kesehatan dan perawatan.Perawatan senantiasa berperan aktif dalam menyumbangkan pikiran kepada pemerintah dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan dan perawatan kepada masyarakat.

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMBUATAN KEPUTUSAN ETIS

Kemampuan membuat keputusan masalah etis merupakan salah satu persyaratan bagi perawat untuk menjalankan praktik keperawatan profesional. Dalam membuat keputusan etis, ada beberapa unsur yang mempengaruhi seperti nilai dan kepercayaan pribadi, kode etik keperawatan, konsep moral perawatan dan prinsip- prinsip etik.

Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap seseorang dalam membuat keputusan etis antara lain faktor agama dan adat istiadat, sosial, ilmu pengetahuan/teknologi, legalisasi/keputusan juridis, dana/keuangan, pekerjaan/posisi pasien maupun perawat, kode etik keperawatan dan hak-hak pasien.

  1. Faktor agama dan adat istiadat.

Agama serta latar belakang adat-istiadat merupakan faktor utama dalam membuat keputusan etis. Setiap perawat disarankan untuk memahami nilai-nilai yang diyakini maupun kaidah agama yang dianutnya. Untuk memahami ini memang diperlukan proses. Semakin tua dan semakin banyak pengalaman belajar, seseorang akan lebih mengenal siapa dirinya dan nilai-nilai yang dimilikinya.

Indonesia merupakan negara kepulauan yang dihuni oleh penduduk dengan berbagai agama/kepercayaan dan adat istiadat. Setiap penduduk yang menjadi warga negara Indonesia harus beragama/berkeyakinan. Ini sesuai dengan sila pertama Pancasila : Ketuhanan Yang Maha Esa, dimana di Indonesia menjadikan aspek ketuhanan sebagai dasar paling utama. Setiap warga negara diberi kebebasan untuk memilih kepercayaan yang dianutnya.

  1. Faktor  sosial.

Berbagai faktor sosial berpengaruh terhadap pembuatan keputusan etis. Faktor ini antara lain meliputi perilaku sosial dan budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi, hukum, dan peraturan perundang-undangan.

Perkembangan sosial dan budaya juga berpengaruh terhadap sistem kesehatan nasional. Pelayanan kesehatan yang tadinya berorientasi pada program medis lambat laun menjadi pelayanan komprehensif dengan pendekatan tim kesehatan.

  1. Faktor ilmu pengetahuan dan tekhnologi.

Pada era abad 20 ini, manusia telah berhasil mencapai tingkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang belum dicapai manusia pada abad sebelumnya. Kemajuan yang telah dicapai meliputi berbagai bidang.

Kemajuan di bidang kesehatan telah mampu meningkatkan kualitas hidup serta memperpanjang usia manusia dengan ditemukannya berbagai mesin mekanik kesehatan, cara prosedur baru dan bahan-bahan/obat-obatan baru. Misalnya pasien dengan gangguan ginjal dapat diperpanjang usianya berkat adanya mesin hemodialisa. Ibu-ibu yang mengalami kesulitan hamil dapat diganti dengan berbagai inseminasi. Kemajuan-kemajuan ini menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan etika.

  1. Faktor legislasi dan keputusan juridis.

Perubahan sosial dan legislasi secara konstan saling berkaitan. Setiap perubahan sosial atau legislasi menyebabkan timbulnya tindakan yang merupakan reaksi perubahan tersebut. Legislasi merupakan jaminan tindakan menurut hukum sehingga orang yang bertindak tidak sesuai hukum dapat menimbulkan konflik.

Saat ini aspek legislasi dan bentuk keputusan juridis bagi permasalahan etika kesehatan sedang menjadi topik yang banyak dibicarakan. Hukum kesehatan telah menjadi suatu bidang ilmu, dan perundang-undangan baru banyak disusun untuk menyempurnakan perundang-undangan lama atau untuk mengantisipasi perkembangan permasalahan hukum kesehatan.

  1. Faktor dana/keuangan.

Dana/keuangan untuk membiayai pengobatan dan perawatan dapat menimbulkan konflik. Untuk meningkatkan status kesehatan masyarakat, pemerintah telah banyak berupaya dengan mengadakan berbagai program yang dibiayai pemerintah.

  1. Faktor pekerjaan.

Perawat perlu mempertimbangkan posisi pekerjaannya dalam pembuatan suatu keputusan. Tidak semua keputusan pribadi perawat dapat dilaksanakan, namun harus diselesaikan dengan keputusan/aturan tempat ia bekerja. Perawat yang mengutamakan kepentingan pribadi sering mendapat sorotan sebagai perawat pembangkang. Sebagai konsekuensinya, ia mendapatkan sanksi administrasi atau mungkin kehilangan pekerjaan.

  1. Kode etik keperawatan.

Kelly (1987), dikutip oleh Robert Priharjo, menyatakan bahwa kode etik merupakan salah satu ciri/persyaratan profesi yang memberikan arti penting dalam penentuan, pertahanan dan peningkatan standar profesi. Kode etik menunjukkan bahwa tanggung jawab kepercayaan dari masyarakat telah diterima oleh profesi.

Untuk dapat mengambil keputusan dan tindakan yang tepat terhadap masalah yang menyangkut etika, perawat harus banyak berlatih mencoba menganalisis permasalahan-permasalahan etis.

  1. Hak-hak pasien.

Hak-hak pasien pada dasarnya merupakan bagian dari konsep hak-hak manusia. Hak merupakan suatu tuntutan rasional yang berasal dari interpretasi konsekuensi dan kepraktisan suatu situasi.

Pernyataan hak-hak pasien cenderung meliputi hak-hak warga negara, hak-hak hukum dan hak-hak moral. Hak-hak pasien yang secara luas dikenal menurut Megan (1998) meliputi hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang adil dan berkualitas, hak untuk diberi informasi, hak untuk dilibatkan dalam pembuatan keputusan tentang pengobatan dan perawatan, hak untuk diberi informed concent, hak untuk mengetahui nama dan status tenaga kesehatan yang menolong, hak untuk mempunyai pendapat kedua(secand opini), hak untuk diperlakukan dengan hormat, hak untuk konfidensialitas (termasuk privacy), hak untuk kompensasi terhadap cedera yang tidak legal dan hak untuk mempertahankan dignitas (kemuliaan) termasuk menghadapi kematian dengan bangga.

SIKAP  MELINDUNGI  PASIEN  (ADVOCACY)

Sikap melindungi pasien (advocacy) mempunyai pemahaman kemampuan seseorang (perawat) untuk memberikan suatu pernyataan/pembelaan untuk kepentingan pasien. Advocacy merupakan kamampuan untuk bisa melakukan suatu kegiatan ataupun berbicara untuk kepentingan orang lain dengan tujuan memberikan perlindungan hak pada orang tersebut .

Advocacy sering digunakan dalam konteks hukum yang berkaitan dengan upaya melindungi hak-hak manusia bagi mereka yang tidak mampu membela diri. Arti advocacy menurut Ikatan Perawat Amerika/ANA (1985) adalah melindungi klien atau masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dan keselamatan praktik tidak sah yang tidak kompeten dan melanggar etika yang dilakukan oleh siapapun.

Perawat sebagai advokat pasien berfungsi sebagai penghubung antara klien dengan tim kesehatan lain dalam upaya pemenuhan kebutuhan pasien, membela kepentingan pasien dan membantu pasien memahami semua informasi dan upaya kesehatan yang diberikan oleh tim kesehatan dengan pendekatan tradisional maupun profesional. Peran advocacy sekaligus mengharuskan perawat bertindak sebagai nara sumber dan fasilitator dalam tahap pengambilan keputusan terhadap upaya kesehatan yang harus dijalani oleh pasien. Perawat juga harus melindungi dan memfasilitasi keluarga/masyarakat dalam pelayanan keperawatan .

LATIHAN

  1. MARI BELAJAR ETIK DARI PENGALAMAN

“Seorang pedagang miskin yang kiosnya meledak, saat itu oleh keluarga dan beberapa tetangga langsung dibawa ke Rumah Sakit. Namun apa yang terjadi setelah mereka sampai ke Rumah Sakit? Kebetulan malam itu seorang perawat X sedang tugas jaga di bagian administrasi, entah mengapa setelah menunjukkan askeskinnya pedagang tersebut dipersulit, padahal kondisinya sangat kritis karena luka bakar. Kemudian datang seorang nyonya kaya yang pingsan. Dengan mudahnya perawat X mengijinkan dia masuk rumah sakit dan mendapatkan pelayanan yang selayaknya. Setelah melalui banyak prosedur akhirnya pedagang tersebut diperolehkan masuk. Dengan tidak ramah dan tidak santun perawat menyuruh klien (pedagang) menunggu giliran untuk masuk ruang UGD. Klien diminta untuk menunggu di ruangan yang tidak layak huni dan ditinggalkan begitu saja.” (Berdasarkan kasus yang disampaikan oleh perawat).

Dari kasus dapat dianalisis bahwa sikap perawat X tidak sesuai kode etik keperawatan dan profesi keperawatan. Kasus tersebut menggambarkan situasi pelayanan kesehatan  saat ini memang sedang mengalami pergeseran paradigma. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mendorong pelayanan kesehatan yang seharusnya menjadi hak warga negara, menjadi industri jasa kesehatan yang diperdagangkan.

  1. Pasien mempunyai banyak variasi pengalaman sehubungan dengan sakit dan penyakit. Tidak semua dari mereka bisa di sembuhkan dengan pengobatan, operasi, atau tindakan tertentu, beberapa pasien mungkin lama tidak bertemu keluarga atau teman, ada yang mungkin tidak punya tangan, tidak mampu mendengar, takut dengan ketidakmampuan dan takut mati adalah masalah sendiri bagi pasien. Banyak yang sakit dengan waktu lama kehilangan peran atau tidak akan mampu lagi hidup seperti sebelumnya. Coba Anda perhatikan orang yang datang ke klinik, dan coba Anda rasakan apa sebenar-benarnya yang mereka butuhkan, dan mengapa dia datang ke klinik.
  2. Apakah perawat harus menggunakan  identitas nama yang jelas, bila merawat? Jelaskan menurut kode etik keperawatan.

TEST FORMATIF

  1. Dalam kontek profesionalisme keperawatan aspek etik merupakan hal penting jelaskan?
  2. Anda telah mendapatkan gambaran penerapan etik di pelayanan, berikan contoh dan jelaskan sesuai kode etik keperawatan Indonesia.
  3. Jelaskan apa yang dimaksud dengan teman sejawat?

RANGKUMAN

Pengetahuan etika keperawatan :

- Nilai dan kepercayaan pribadi

- Kode etik perawatan

- Konsep moral keperawatan

- Prinsip-prinsip etika

Sikap melindungi pasien (advocacy)

Keputusan etis

DAFTAR PUSTAKA

Ali. Dasar-Dasar Keperawatan Profesional. Jakarta, Widya Medika, 2004.

Rr-Pujiastuti, SE. Model DELIKAN Meningkatkan Kemampuan Prinsip Etika Sebagai Dasar Pengambilan Keputusan Klinik Pada Perawat Keperawatan dan Kebidanan Poltekes Semarang. Semarang, Poltekes, 2005.

Baharudin. Etika Individual (Pola Dasar Filsafat Moral). Cetakan I, Jakarta, Rineka Cipta, 2000.

Ismani. Etika Keperawatan. Jakarta, Widya Medika, 2001.

Kusnanto. Pengantar Profesi & Praktik Keperawatan Profesional. Jakarta,

EGC, 2004.

Priharjo. Pengantar Etika Keperawatan. Yogyakarat, Kanisius, 1995.

Potter, PA. Buku Ajar Fundamental : Konsep, Proses dan Praktik. Alih Bahasa,     Yasmin Asih, Edisi 4, Jakarta, EGC, 2005.

BAB IV

KEBUTUHAN  SPIRITUAL  PASIEN

PENDAHULUAN

Penting bagi perawat untuk memahami konsep yang mendasari kesehatan spiritual. Spiritualitas merupakan suatu konsep yang unik pada masing-masing individu.Manusia adalah makhluk yang mempunyai aspek spiritual yang akhir-akhir ini banyak perhatian dari masyarakat yang di sebut kecerdesan spiritual yang sangat menentukan kehagiaan hidup  seseorang. Perawat atau ners memahami bahwa aspek ini adalah bagian dari pelayanan yang komprehensif. Karena respon spiritual kemungkian akan muncul pada pasien.

Kompetensi standar yang di capai adalah perawat mampu mengidentifikasi aspek spiritual yang terjadi pada pasien. Dengan kompetensi dasar sebagai berikut.

  1. Perawat mampu mendifinisikan aspek spiritual pada manusia atau pasien.
  2. Perawat mampu mengidentifikasi kebutuhan spiritual pada pasien yang sakit.
  3. Perawat mampu memberikan alternatif cara untuk memenuhi kebutuhan spiritual.

PENGERTIAN SPIRITUAL

Spiritualitas adalah keyakinan dalam hubungannya dengan Yang Maha Kuasa dan Maha Pencipta. Menurut Burkhardt (1993) spiritualitas meliputi aspek-aspek :

1)      berhubungan dengan sesuatu yang tidak diketahui atau ketidakpastian dalam kehidupan,

2)      menemukan arti dan tujuan hidup,

3)      menyadari kemampuan untuk menggunakan sumber dan kekuatan dalam diri sendiri,

4)      mempunyai perasaan keterikatan dengan diri sendiri dan dengan Yang Maha Tinggi.

Mempunyai kepercayaaan atau keyakinan berarti mempercayai atau mempunyai komitmen terhadap sesuatu atau seseorang. Konsep kepercayaan mempunyai dua pengertian. Pertama, kepercayaan didefinisikan sebagai kultur atau budaya dan lembaga keagamaan seperti Islam, Kristen, Budha, dan lain-lain. Kedua, kepercayaan didefinisikan sebagai sesuatu yang berhubungan dengan Ketuhanan, kekuatan tertinggi, orang yang mempunyai wewenang atau kuasa, suatu perasaan yang memberikan alasan tentang keyakinan (belief) dan keyakinan sepenuhnya (action). Harapan (hope), harapan merupakan suatu konsep multidimensi, suatu kelanjutan yang sifatnya berupa kebaikan, perkembangan, dan bisa mengurangi sesuatu yang kurang menyenangkan. Harapan juga merupakan energi yang bisa memberikan motivasi kepada individu untuk mencapai sutau prestasi dan berorientasi ke depan. Agama, adalah sebagai sistem organisasi kepercayaan dan peribadatan dimana seseorang bisa mengungkapkan dengan jelas secara lahiriah mengenai spiritualitasnya. Agama adalah suatu sistem ibadah yang terorganisasi atau teratur.

Definisi spiritual setiap individu dipengaruhi oleh budaya, perkembangan, pengalaman hidup, kepercayaan dan ide-ide tentang kehidupan. Spiritualitas juga memberikan suatu perasaan yang berhubungan dengan intrapersonal (hubungan antara diri sendiri), interpersonal (hubungan antara orang lain dan lingkungan) dan transpersonal  (hubungan yang tidak dapat dilihat yaitu suatu hubungan dengan ketuhanan yang merupakan kekuatan tertinggi). Adapun unsur-unsur spiritualitas meliputi kesehatan spiritual, kebutuhan spiritual dan kesadaran spiritual. Dimensi spiritual merupakan suatu penggabungan yang menjadi satu kesatuan antara unsur psikologikal, fisiologikal atau fisik, sosiologikal dan spiritual.

Kata “spiritual” sering digunakan dalam percakapan sehari-hari. Untuk memahami pengertian spiritual dapat dilihat dari berbagai sumber. Menurut Oxford English Dictionary, untuk memahami makna kata spiritual dapat diketahui dari arti kata-kata berikut ini : persembahan, dimensi supranatural, berbeda dengan dimensi fisik, perasaan atau pernyataan jiwa, kekudusan, sesuatu yang suci, pemikiran yang intelektual dan berkualitas, adanya perkembangan pemikiran dan perasaan, adanya perasaan humor, ada perubahan hidup, dan berhubungan dengan organisasi keagaamaan. Sedangkan berdasarkan etimologinya, spiritual berarti sesuatu yang mendasar, penting, dan mampu menggerakan serta memimpin cara berfikir dan bertingkah laku seseorang .

Berdasarkan konsep keperawatan, makna spiritual dapat dihubungkan dengan kata-kata : makna, harapan, kerukunan, dan sistem kepercayaan (Dyson, Cobb, Forman, 1997). Dyson mengamati bahwa perawat menemukan aspek spiritual tersebut dalam hubungan seseorang dengan dirinya sendiri, orang lain, dan dengan Tuhan. Menurut Reed (1992) spiritual mencakup hubungan intra-, inter-, dan transpersonal. Spiritual juga diartikan sebagai inti dari manusia yang memasuki dan mempengaruhi kehidupannya dan dimanifestasikan dalam pemikiran dan prilaku serta dalam hubungannya dengan diri sendiri, orang lain, alam, dan Tuhan (Dossey & Guzzetta, 2000).

Para ahli keperawatan menyimpulkan bahwa spiritual merupakan sebuah konsep yang dapat diterapkan pada seluruh manusia. Spiritual juga merupakan aspek yang menyatu dan universal bagi semua manusia. Setiap orang memiliki dimensi spiritual. Dimensi ini mengintegrasi, memotivasi, menggerakkan, dan mempengaruhi seluruh aspek hidup manusia.

KETERKAITAN ANTARA SPIRITUAL, KESEHATAN DAN SAKIT

Keyakinan spiritual sangat penting bagi perawat karena dapat mempengaruhi tingkat kesehatan dan perilaku self-care klien. Keyakinan spiritual yang perlu di pahami antara lain

  1. menuntun kebiasaan hidup sehari-hari

Praktik tertentu pada umumnya yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan mungkin mempunyai makna keagamaan bagi klien, seperti tentang makanan diet.

  1. sumber dukungan

Saat stress individu akan mencari dukungan dari keyakinan agamanya.

  1. sumber kekuatan dan penyembuhan

Individu bisa menahan distress fisik yang luar biasa karena mempunyai keyakinan yang kuat.

  1. sumber konflik

Pada situasi tertentu, bisa terjadi konflik antara keyakinan agama dengan praktik kesehatan, seperti  pandangan penyakit.

Dapat disimpulkan bahwa kebutuhan spiritual merupakan kebutuhan untuk mencari arti dan tujuan hidup, kebutuhan untuk mencintai dan dicintai serta rasa keterikatan, dan kebutuhan untuk memberikan dan mendapatkan maaf .

KARAKTERISTIK SPIRITUAL

Spiritualitas mempunyai suatu karakter, sehingga bisa diketahui bagaimana tingkat spiritualitas seseorang. Karakteristik spiritual tersebut, antara lain

  1. hubungan dengan diri sendiri

1)      Pengetahuan diri (siapa dirinya, apa yang dapat dilakukannya).

2)      Sikap (percaya pada diri sendiri, percaya pada kehidupan atau masa depan, harmoni atau keselarasan diri).

  1. hubungan dengan alam

1)      Mengetahui tentang tanaman, pohon, margasatwa dan iklim.

2)      Berkomunikasi dengan alam (bertanam, berjalan kaki), mengabadikan dan melindungi alam.

  1. hubungan dengan orang lain

Harmonis

1)      Berbagi waktu, pengetahuan dan sumber secara timbal balik.

2)      Mengasuh anak, orang tua dan orang sakit.

3)      Menyakini kehidupan dan kematian.

Tidak harmonis

1)      Konflik dengan orang lain.

2)      Resolusi yang menimbulkan ketidakharmonisan dan friksi.

  1. hubungan dengan Ketuhanan

Agamis atau tidak agamis

1)      Sembahyang/berdo’a/meditasi.

2)      Perlengkapan keagamaaan.

3)      Bersatu dengan alam.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa seseorang terpenuhi kebutuhan spiritualnya apabila mampu :

1)      merumuskan arti personal yang positif tentang tujuan keberadaannya di dunia/kehidupan,

2)      mengembangkan arti penderitaan dan menyakini hikmah dari suatu kejadian atau penderitaan,

3)      menjalin hubungan positif dan dinamis melalui keyakinan, rasa percaya dan cinta,

4)      membina integritas personal dan merasa diri berharga,

5)      merasakan kehidupan yang terarah yang terlihat melalui harapan,

6)      mengembangkan hubungan antar manusia yang positif.

KONSEP-KONSEP YANG TERKAIT DENGAN SPIRITUAL

Sebuah isu yang sering muncul dalam konsep keperawatan adalah kesulitan dalam membedakan antara spiritual dengan aspek-aspek yang lain dalam diri manusia, khususnya membedakan spiritual dari religi. Selain itu perawat juga perlu memahami perbedaan dimensi spiritual dengan dimensi psikologi, dan memperkirakan bagaimana kebudayaan dengan spiritual saling berhubungan.

  1. Religi

Berdasarkan kamus, religi berarti suatu sistem kepercayaan dan praktek yang berhubungan dengan Yang Maha Kuasa (Smith, 1995). Pargamet (1997) mendefinisikan religi sebagai suatu pencarian kebenaran tentang cara-cara yang berhubungan dengan korban atau persembahan. Seringkali kali kata spiritual dan religi digunakan secara bertukaran, akan tetapi sebenarnya ada perbedaan antara keduanya. Dari definisi religi, dapat digunakan sebagai dasar bahwa religi merupakan sebuah konsep yang lebih sempit daripada spiritual. Mengingat spiritual lebih mengacu kepada suatu bagian dalam diri manusia, yang berfungsi untuk mencari makna hidup melalui hubungan intra-, inter-, dan transpersonal (Reed, 1992). Jadi dapat dikatakan religi merupakan jembatan menuju spiritual yang membantu cara berfikir, merasakan, dan berperilaku serta membantu seseorang menemukan makna hidup. Sedangkan praktek religi merupakan cara individu mengekspresikan spiritualnya .

  1. Dimensi Psikologi

Karena fisik, psikologi, dan spiritual merupakan aspek yang saling terkait, sangat sulit membedakan dimensi psikologi dengan dimensi spiritual. Akan tetapi sebagai perawat harus mengetahui perbedaan keduanya.Spilka, Spangler, dan Nelson (1983) membedakan dua dimensi ini dengan mengatakan bahwa dimensi psikologi berhubungan dengan hubungan antar manusia seperti : berduka, kehilangan, dan permasalahan emosional. Sedangkan dimensi spiritual merupakan segala hal dalam diri manusia yang berhubungan dengan pencarian makna, nilai-nilai, dan hubungan dengan Yang Maha Kuasa.

  1. Kebudayaan

Kebudayaan merupakan kumpulan cara hidup dan berfikir yang dibangun oleh sekelompok orang dalam suatu daerah tertentu (Martsolf, 1997). Kebudayaan terdiri dari nilai, kepercayaan, tingkah laku sekelompok masyarakat. Kebudayaan juga meliputi perilaku, peran, dan praktek keagamaan yang diwariskan turun-temurun. Menurut Martsolf (1997) ada tiga pandangan yang menjelaskan hubungan spiritual dengan kebudayaan, yaitu spiritual dipengaruhi seluruhnya oleh kebudayaan, spiritual dipengaruhi pengalaman hidup yang tidak berhubungan dengan kebudayaan, dan spiritual dapat dipengaruhi kebudayaan dan pengalaman hidup yang tidak berhubungan dengan kebudayaan.

MANIFESTASI SPIRITUAL

Manifestasi spiritual merupakan cara kita untuk dapat memahami spiritual secara nyata. Manifestasi spiritual dapat dilihat melalui bagaimana cara seseorang berhubungan dengan diri sendiri, orang lain, dan dengan Yang Maha Kuasa, serta bagaimana sekelompok orang berhubungan dengan anggota kelompok tersebut (Koenig & Pritchett, 1998).

Contoh kebutuhan spiritual individu adalah kebutuhan seseorang untuk mencari tujuan hidup, harapan, mengekspresikan perasaan kesedihan maupun kebahagiaan, untuk bersyukur, dan untuk terus berjuang dalam hidup. Kebutuhan spiritual menyangkut individu dengan orang lain meliputi keinginan memaafkan dan dimaafkan serta mencintai dan dicintai. Menurut Nolan & Crawford (1997) kebutuhan spiritual sekelompok orang meliputi keinginan kelompok tersebut untuk dapat memberikan kontribusi positif terhadap lingkungannya.

Dalam kenyataannya, semua manusia memiliki dimensi spiritual,  semua klien akan mengekspresikan dan memanifestasikan kebutuhan spiritual mereka kepada perawat. Karena kurangnya pemahaman tentang kebutuhan spiritual, seringkali perawat gagal dalam mengenali ekspresi kebutuhan spiritual klien, sehingga perawat gagal dalam memenuhi kebutuhan tersebut.Kesejahteraan Spiritual,merupakan suatu kondisi yang ditandai adanya penerimaan hidup, kedamaian, keharmonisan, adanya kedekatan dengan Tuhan, diri sendiri, masyarakat, dan lingkungan sehingga menunjukkan adanya suatu kesatuan (Greer & Moberg, 1998). Dalam hierarki kebutuhan dasar manusia, kesejahteraan spiritual termasuk dalam tingkat kebutuhan aktualisasi diri .

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SPIRITUAL

Menurut Taylor & Craven (1997), faktor-faktor yang mempengaruhi spiritual seseorang adalah

  1. tahap perkembangan seseorang

Berdasarkan hasil penelitian terhadap anak-anak dengan empat negara berbeda, ditemukan bahwa mereka mempunyai persepsi tentang Tuhan dan bentuk sembahyang yang berbeda menurut usia, seks, agama, dan kepribadian anak.

  1. keluarga

Peran orang tua sangat menentukan dalam perkembangan spiritual anak. Hal yang penting bukan apa yang diajarkan oleh orang tua pada anak tentang Tuhan, tetapi apa yang anak pelajari mengenai Tuhan, kehidupan, diri sendiri dari perilaku orang tua mereka. Oleh karena keluarga merupakan lingkungan terdekat dan pengalaman pertama anak dalam mempersepsikan kehidupan di dunia, maka pandangan anak ada umumnya diwarnai oleh pengalaman mereka dalam berhubungan dengan saudara dan orang tua.

  1. latar belakang etnik dan budaya

Sikap, keyakinan, dan nilai dipengaruhi oleh latar belakang etnik dan budaya. Pada umumnya seseorang akan mengikuti tradisi agama dan spiritual keluarga. Anak belajar pentingnya menjalankan kegiatan agama termasuk nilai moral dari hubungan keluarga. Akan tetapi perlu diperhatikan apapun tradisi agama atau sistem kepercayaan yang dianut individu, tetap saja pengalaman spiritual unik bagi setiap individu.

  1. pengalaman hidup sebelumnya

Pengalaman hidup baik yang positif maupun pengalaman negatif dapat mempengaruhi spiritual seseorang. Pengalaman hidup yang menyenangkan seperti pernikahan, kelulusan, atau kenaikan pangkat menimbulkan syukur pada Tuhan. Peristiwa buruk dianggap sebagai suatu cobaan yang diberikan Tuhan pada manusia untuk menguji imannya.

  1. krisis dan perubahan

Krisis dan perubahan dapat menguatkan kedalaman spiritual seseorang. Krisis sering dialami ketika seseorang menghadapi penyakit, penderitaan, proses penuaan, kehilangan, dan bahkan kematian. Bila klien dihadapkan pada kematian, maka keyakinan spiritual dan keinginan untuk sembahyang atau berdoa lebih meningkat dibandingkan dengan pasien yang berpenyakit tidak terminal.

  1. terpisah dari ikatan spiritual

Menderita sakit terutama yang bersifat akut, seringkali membuat individu terpisah atau kehilangan kebebasan pribadi dan sistem dukungan sosial. Kebiasaan hidup sehari-hari juga berubah antara lain tidak dapat menghadiri acara sosial, mengikuti kegiatan agama dan tidak dapat berkumpul dengan keluarga atau teman yang biasa memberikan dukungan setiap saat diinginkan. Terpisahnya klien dari ikatan spiritual beresiko terjadinya perubahan fungsi spiritual.

  1. isu moral terkait dengan terapi

Pada kebanyakan agama, proses penyembuhan dianggap sebagai cara Tuhan untuk menunjukkan kebesaranNya walaupun ada juga agama yang menolak intervensi pengobatan. Prosedur medis seringkali dapat dipengaruhi oleh ajaran agama seperti sirkumsisi, transplantasi organ, sterilisasi,dll. Konflik antara jenis terapi dengan keyakinan agama sering dialami oleh klien dan tenaga kesehatan.

CARA PEMENUHAN KEBUTUHAN SPIRITUAL PERAWAT

Perawat diharapkan terlebih dahulu terpenuhi kebutuhan spiritualnya, sebelum membantu pasien dalam memenuhi kebutuhan spiritual klien. Dengan hal ini diharapkan perawat dapat lebih memberikan pelayanan keperawatan yang berkualitas. Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk dapat memenuhi kebutuhan spiritual perawat antara lain sebagai berikut.

  1. Beribadah dalam suatu komunitas.

Berpartisipasi dalam suatu komunitas rohani dapat meningkatkan spiritualitas. Banyak orang merasa asing dengan orang-orang yang memiliki agama atau kepercayaan sama. Tetapi dengan bergabung dalam suatu komunitas rohani dapat menimbulkan rasa nyaman dan dapat meningkatkan rasa spiritual.

  1. Berdoa.

Berdoa, membaca kitab suci, merenungkan berkat dalam hidup dan berserah kepada Yang Maha Kuasa merupakan cara yang baik dalam meningkatkan spiritual.

  1. Meditasi.

Beberapa orang manggunakan yoga atau meditasi untuk kembali menenangkan diri dan memfokuskan pikiran kembali untuk menemukan makna dari suatu hal.

  1. Pembenaran yang positif.

Pembenaran yang positif dapat membantu seseorang menghadapi situasi stress. Salah satu cara untuk mendapat pembenaran positif adalah dengan berdiam diri, sambil merenungkan kitab suci atau nyanyian.

  1. Menulis pengalaman spiritual.

Perawat dapat menulis perasaan yang sedang dirasakan, pengalaman spiritual yang dialami, atau semua inspirasi dan pikiran-pikiran yang timbul. Cara ini sangat bermanfaat bagi perawat untuk dapat keluar dari situasi stress.

  1. Mencari dukungan spiritual.

Dukungan spiritual dapat datang dari mana saja. Perawat dapat mencari dukungan spiritual dari komunitas rohaninya. Selain itu dukungan spiritual juga dapat diperoleh dari teman, mentor, ataupun konselor.

Menurut Agus (2002) inti dari pemenuhan kebutuhan spiritual untuk mencapai kecerdasan spiritual (Spiritual Quotient) adalah proses transendensi dan realisasi. Dalam proses transendensi (menyendiri), pencerahan-pencerahan spiritual terjadi. Seseorang dapat menjalankan hubungan yang paling intim dengan hakikat diri terdalamnya atau dengan Tuhannya. Dengan memusatkan diri untuk sementara waktu dari keributan dunia, seseorang dapat mencurahkan segenap kemampuannya untuk memahami makna dari apa yang telah terjadi dan bagaimana seharusnya kejadian itu dapat diperbaiki .

Hal serupa juga dikemukakan oleh Danah Zohar & Ian Marshall (2002). Secara umum kita dapat meningkatkan kecerdasan spiritual dengan meningkatkan proses tersier psikologi kita, yaitu kecenderungan untuk bertanya mengapa, untuk mencari keterkaitan antara segala sesuatu, untuk membawa ke permukaan asumsi-asumsi mengenai makna dibalik atau di dalam sesuatu. Kita menjadi lebih suka merenung, sedikit menjangkau di luar diri kita, bertanggung jawab, lebih sadar diri, lebih jujur terhadap diri sendiri, dan lebih pemberani.

LATIHAN

  1. Anda merawat pasien beragama kristen, kemudian anda melihat pasien yang sudah sakit lama sedang berdoa, sambil menangis, apa yang harus Anda lakukan sebagai perawat yang beragama islam?
  2. Anda mendengar ibu  pasien berkata “Kenapa anak saya sakit ya Allah, apa dosa saya”?, jelaskan bagaimana Anda memenuhi kebutuhan spiritual pasien.
  3. Bagaimana Anda mengenal aspek spiritual anda sendiri sebagai seorang perawat.

TEST FORMATIF

  1. Jelaskan tentang kebutuhan spiritual pada pasien?
  2. Cara-cara perawat memenuhi kebutuhan spiritual pada pasein bagaimana?
  3. Mengapa perawat harus memperhatikan aspek spiritual?
  4. Bagaimana anda mengetahui bahwa pasien mempunyai masalah spiritual?
  5. Prinsip apa yang harus anda pahami dalam memenuhi kebutuhan spiritual pasien?

RANGKUMAN

Keyakinan spiritual sangat penting bagi perawat karena dapat mempengaruhi tingkat kesehatan dan perilaku self care klien. Keyakinan spiritual yang perlu dipahami ,menuntun kebiasaan hidup sehari-hari gaya hidup atau perilaku tertentu pada umumnya yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan mungkin mempunyai makna keagamaan bagi klien seperti tentang permintaan menu diet.

Sumber dukungan, spiritual sering menjadi sumber dukungan bagi seseorang untuk menghadapi situasi stress. Dukungan ini sering menjadi sarana bagi seseorang untuk menerima keadaan hidup yang harus dihadapi termasuk penyakit yang dirasakan.

Sumber kekuatan dan penyembuhan,individu bisa memahami distres fisik yang berat karena mempunyai keyakinan yang kuat. Pemenuhan spiritual dapat menjadi sumber kekuatan dan pembangkit semangat pasien yang dapat turut mempercepat proses kesembuhan.

Sumber konflik pada situasi tertentu dalam pemenuhan kebutuhan spiritual pasien, bisa terjadi konflik antara keyakinan agama dengan praktik kesehatan seperti tentang pandangan penyakit ataupun tindakan terapi. Pada situasi ini, perawat diharapkan mampu memberikan alternatif terapi yang dapat diterima sesuai keyakinan pasien.

DAFTAR PUSTAKA

Aziz Alimul Hidayat. 2004. Pengantar Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika

Black M. Joyce&Jane H. Hawks. 2005. Medical Surgical Nursing : Clinical Management For Positive Outcome. 7th edition. St Louis : Elseiver Inc.

Dugan, D.O. (1989). Laughter and Tears: Best Medicine for Stress. Nursing Forum, 24 (1)            : 18

Farland M&Leininger M. 2002. Transcultural Nursing, Concept, Theories, Research & Practice. Mc. Grow-Hill Companies.

Leininger M. Madeline. Culture Care Diversity and Universality : A Theory Of Nursing. 1991. New York : National league for nursing press.

Lindbert, J. Hunter, M. & Kruszweski, A. (1983). Introduction to Person – Centered Nursing. Philadelphia : J.B.Lippincott Company.

Meidiana Dwidiyanti. 1998. Aplikasi Model Konseptual Keperawatan. Edisi 1. Semarang : Akper Depkes Semarang

Potter, P.A. & Perry, A.G. (1993). Fundamental of Nursing Concept, Process and Practice. Third edition. St. Louis : Mosby Years Book.

Soekidjo Notoatmodjo. 1993. Pendidikan Kesehatan dan Perilaku Manusia. Edisi revisi. Jakarta : Rineka Cipta.

Stuart G. W, Laraia M. T. 2001. Principles and Practice Of Psychiatric Nursing. 7th edition. St Louis : Mosby.


indahnya tersenyum

INDAHNYA TERSENYUM

Hebatnya tersenyum

Rasulullah SAW bila  di hadapan para sahabat. Telah mempraktekkan senyuman yang tulus. Di mata sahabat-sahabatnya, ia selalu hadir dalam wajah murah senyum, wajah yang cerah dan wajah yang indah. mereka yang ahli senyum akan merasakan pergaulannya menyenangkan. Hati kita terasa segar melihat ahli senyum. Keakrabannya sangat terasa. Suasana pergaulan bagi ahli senyum selalu hangat. Bahkan mampu menambah semangat dibanding dengan orang yang dalam pergaulannya selalu berwajah bermuram durja.

Orang yang murah senyum akan jauh dari stres karena ia terhindar dari penyakit ketegangan. Jantungnya akan berdetak normal. Peredaran darahnya akan mengalir dengan baik. Karena, senyum mendorong hati menjadi ceria dan membuat kita awet muda. Menurut salah seorang dokter, senyum hanya mengandalkan 17 otot wajah, sementara cemberut membutuhkan tarikan 32 otot wajah. Inilah salah satu sebab mengapa wajah terkadang terlihat cepat tua bagi orang yang jarang tersenyum.
Senyuman ternyata dapat meluluhkan emosi orang yang marah. Bila ada yang marah mendatangi kita, hadapilah dengan senyuman yang bening lagi tulus. Yang pasti, senyum semacam ini bakal mampu meredam emosi orang yang marah. senyum dapat meningkatkan penampilan. Agar kita tampil lebih manis, lebih menawan dan lebih menyejukkan.

Senyum itu shodakoh

Berbuat baik kepada soudaramu, dengan muka yang cerah dan tersenyum merupakan shodakoh yang paling mudah tetapi pahalanya luar biasa.

Tentang hebatnya shodakoh ada sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Turmudzi dan Ahmad,sebagai berikut :Tatkala Allah SWT menciptakan bumi, maka bumi pun bergetar. Lalu Allah pun menciptakan gunung dengan kekuatan yang telah diberikan kepadanya, ternyata bumi pun terdiam. Para malaikat terheran-heran akan penciptaan gunung tersebut. Kemudian mereka bertanya? “Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada gunung?” Allah menjawab, “Ada, yaitu besi” (Kita mafhum bahwa gunung batu pun bisa menjadi rata ketika dibor dan diluluhlantakkan oleh buldozer atau sejenisnya yang terbuat dari besi). Para malaikat pun kembali bertanya, “Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada besi?”
Allah yang Mahasuci menjawab, “Ada, yaitu api” (Besi, bahkan baja bisa menjadi cair, lumer, dan mendidih setelah dibakar bara api).
Bertanya kembali para malaikat, “Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada api?”
Allah yang Mahaagung menjawab, “Ada, yaitu air” (Api membara sedahsyat apapun, niscaya akan padam jika disiram oleh air).
“Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari air?” Kembali bertanya para malaikat.
Allah yang Mahatinggi dan Mahasempurna menjawab, “Ada, yaitu angin” (Air di samudera luas akan serta merta terangkat, bergulung-gulung, dan menjelma menjadi gelombang raksasa yang dahsyat, tersimbah dan menghempas karang, atau mengombang-ambingkan kapal dan perahu yang tengah berlayar, tiada lain karena dahsyatnya kekuatan angin. Angin ternyata memiliki kekuatan yang teramat dahsyat).
Akhirnya para malaikat pun bertanya lagi, “Ya Allah adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dari semua itu?”
Allah yang Mahagagah dan Mahadahsyat kehebatan-Nya menjawab, “Ada, yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya.” Artinya, orang yang paling hebat, paling kuat, dan paling dahsyat adalah orang yang bersedekah tetapi tetap mampu menguasai dirinya, sehingga sedekah yang dilakukannya bersih, tulus, dan ikhlas tanpa ada unsur pamer ataupun keinginan untuk diketahui orang lain.
Inilah gambaran yang Allah berikan kepada kita bagaimana seorang hamba yang ternyata mempunyai kekuatan dahsyat adalah hamba yang bersedekah, tetapi tetap dalam kondisi ikhlas. Karena naluri dasar kita sebenarnya selalu rindu akan pujian, penghormatan, penghargaan, ucapan terima kasih, dan sebagainya. Kita pun selalu tergelitik untuk memamerkan segala apa yang ada pada diri kita ataupun segala apa yang bisa kita lakukan. Apalagi kalau yang ada pada diri kita atau yang tengah kita lakukan itu berupa kebaikan.
Karenanya, tidak usah heran, seorang hamba yang bersedekah dengan ikhlas adalah orang-orang yang mempunyai kekuatan dahsyat. Sungguh ia tidak akan kalah oleh aneka macam selera rendah, yaitu rindu pujian dan penghargaan.
Inilah barangkali kenapa Rasulullah menyerukan kepada para sahabatnya yang tengah bersiap pergi menuju medan perang Tabuk, agar mengeluarkan infaq dan sedekah. Apalagi pada saat itu Allah menurunkan ayat tentang sedekah kepada Rasulullah SAW, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir; seratus biji Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui,” demikian firman-Nya (QS. Al-Baqarah [2] : 261).
Seruan Rasulullah itu disambut seketika oleh Abdurrahman bin Auf dengan menyerahkan empat ribu dirham seraya berkata, “Ya, Rasulullah. Harta milikku hanya delapan ribu dirham. Empat ribu dirham aku tahan untuk diri dan keluargaku, sedangkan empat ribu dirham lagi aku serahkan di jalan Allah.”
“Allah memberkahi apa yang engkau tahan dan apa yang engkau berikan,” jawab Rasulullah. Kemudian datang sahabat lainnya, Usman bin Affan. “Ya, Rasulullah. Saya akan melengkapi peralatan dan pakaian bagi mereka yang belum mempunyainya,” ujarnya.
Adapun Ali bin Abi Thalib ketika itu hanya memiliki empat dirham. Ia pun segera menyedekahkan satu dirham waktu malam, satu dirham saat siang hari, satu dirham secara terang-terangan, dan satu dirham lagi secara diam-diam.
Mengapa para sahabat begitu antusias dan spontan menyambut seruan Rasulullah tersebut? Ini tiada lain karena yakin akan balasan yang berlipat ganda sebagaimana telah dijanjikan Allah dan Rasul-Nya. Medan perang adalah medan pertaruhan antara hidup dan mati. Kendati begitu para sahabat tidak ada yang mendambakan mati syahid di medan perang, karena mereka yakin apapun yang terjadi pasti akan sangat menguntungkan mereka. Sekiranya gugur di tangan musuh, surga Jannatu na’im telah siap menanti para hamba Allah yang selalu siap berjihad fii sabilillaah. Sedangkan andaikata selamat dapat kembali kepada keluarga pun, pastilah dengan membawa kemenangan bagi Islam, agama yang haq!
Lalu, apa kaitannya dengan memenuhi seruan untuk bersedekah? Sedekah adalah penolak bala, penyubur pahala dan pelipat ganda rizki; sebutir benih menumbuhkan tujuh bulir, yang pada tiap-tiap bulir itu terjurai seratus biji. Artinya, Allah yang Mahakaya akan membalasnya hingga tujuh ratus kali lipat. Masya Allah!

Senyum itu bahagia

Masyarakat  sudah sulit tersenyum. Padahal orang yang sulit tersenyum, boleh jadi karena dia tidak bahagia.

Promosi bahwa masyarakat Indonesia itu ramah dan murah senyum, nyaris tidak dijumpainya di Jakarta. “Rasanya sulit saya menemukan orang yang tersenyum, di bank sekalipun di mana kita menaruh uang,”  Senyum juga tak lagi dia jumpai ketika mengurus tiket di biro perjalanan, hotel, restoran hingga di taksi.

Boleh jadi orang Jakarta memang sudah mulai kehilangan kemampuannya untuk sekadar memberi senyum. Cobalah Anda perhatikan wajah-wajah orang kantoran di dalam mobil pribadi, di bus kota dan angkutan umum lain. Yang terlihat pastilah wajah-wajah tegang, muram, cuek, kalau bukan mengantuk.
Senyum,  merupakan pertanda awal bahwa seseorang siap dan terbuka untuk menerima orang lain. Apa yang membuat seseorang, apalagi suatu masyarakat, menjadi begitu sulit tersenyum?  . Tanpa senyum, otomatis akan menimbulkan kesan pada orang lain bahwa kita tidak siap berinteraksi.  mengapa orang  sulit senyum ada beberapa kemungkinan antara lain  seseorang merasakan hidupnya bahagia atau tidak. Orang yang bahagia, beban jiwanya menjadi lebih ringan sehingga lebih mudah untuk mengekspresikan senyum dari hatinya. Seperti ungkapan sebagai berikut.‘saya memang miskin secara materi, tapi hidup ‘kan tidak hanya soal materi’, maka hidup orang ini akan lebih bahagia. Berbeda dengan orang yang pandangan bahwa  ‘Saya memang punya gaji besar, tapi kebutuhan saya juga banyak.’ Orang seperti ini akan merasa hidupnya tidak bahagia. Maka dia akan menjadi sulit untuk tersenyum. Bagaimana bisa senyum kalau tidak bahagia?”
Misalnya, Any punya standar bahwa ia akan bahagia kalau karirnya sukses. Ukuran profesional sukses jika naik BMW. Maka selama belum bisa beli BMW, Any merasa tidak sukses, dan karenanya tidak merasa bahagia. “Padahal orang lain bisa bahagia hanya dengan tersenyum saja,” .Orang juga tidak bahagia jika mengalami gangguan emosi, termasuk gangguan emosi ringan jenis neorotik yang ditandai dengan kegelisahan. Sumber gangguan emosi adalah tekanan mental, yang bisa didapat dari sisa-sisa tekanan mental di masa kecil, tuntutan peran, tuntutan pekerjaan dan sebagainya.Bukan cuma sulit senyum. Dalam pergaulan sehari-hari sering pula dijumpai orang-orang yang lebih suka pasang ekspresi bungkam (diam dan tidak ada respon yang memungkinkan terjadinya komunikasi). Pada orang-orang seperti ini, jelas, tak ada senyum sama sekali. Mereka bahkan menghindari kontak mata, supaya tidak perlu memberi respon. sikap tidak responsif merupakan cara mengatasi situasi yang diduga punya potensi mendatangkan penderitaan, kesulitan, atau kerepotan.

Untuk tersenyum kita tidak perlu menunggu bahagia, sebab dengan tersenyum kita bisa bahagia. Setiap orang pasti menginginkan hidupnya bahagia. Namun, bagi sebagian orang, kebahagiaan terkadang tak kunjung menghampiri sehingga terasa “mahal”. kebahagiaan dapat diraih dengan beberapa cara mudah: Kebahagiaan bersumber dari dalam diri sendiri, jangan beraharap dari diri manusia lain, karena orang lain dapat mengkhianati..

Kebahagian manusia ada bila ia bisa membuka mata hatinya, dan menyadari bahwa ia memiliki banyak hal yang berarti dan menyadari betapa ia dicintai. Manusia bisa bahagia, bila ia mau membuka diri agar orang lain bisa mencintainya dengan tulus…

Kebahagian manusia tidak dapat hadir karena tidak mau membuka hati, dan berusaha meraih apa yang tidak dapat diraih, terlalu memaksa untuk mendapatkan segala yang diinginkan, tidak mau menerima dan mensyukuri apa yang ia miliki.

Keegoisan manusia yang menyebabkannya menjadi buta, keegoisan dan hanya memikirkan diri sendiri yang menyebabkan manusia tidak sadar bahwa ia begitu dicintai, tidak sadar bahwa saat ini, apa yang ada adalah baik untuknya…

Tiap- tiap manusia memiliki arti dan peranan masing-masing, semua berbeda…tidak ada yang memiliki arti yang sama persis punya peranan dan kelebihan disatu hal, tidak harus memiliki peranan dan arti dalam hal lain.. dicintai oleh satu orang belum tentu disayang oleh orang
lain..

Kebahagiaan ada bila bisa menerima diri apa adanya, mencintai dan menghargai diri sendiri, mau mencintai dan menerima manusia lain..

Percaya kepada Tuhan.. bersyukur bahwa manusia selalu diberikan yang terbaik… sesuai yang diperbuat manusia itu sendiri, tak perlu berkeras hati, Ia akan memberi di saat yang tepat apa yang manusiaNya butuhkan, tidak harus saat ini, masih ada esok hari..

Hati adalah raja. Ia pengendali setiap langkah manusia. Ia bersama akal berperan dalam menentukan setiap keputusan. Ia menjadi barometer buruk tidaknya manusia. “Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Bila ia buruk, maka buruklah seluruh tubuh,”? demikian sabda Rasulullah SAW mengenai hati.

HATI YANG HIDUP

Di antara umat Islam, ada beberapa orang biasa yang kedudukannya sangat istimewa di hadapan Allah. Ia bukan ulama, bukan pula syuhada. Kedudukannya itu telah membuat syuhada, ulama, bahkan para nabi iri hati. Mereka dapat menyingkap rahasia kehidupan. Mereka dapat menyingkap rahasia Allah dalam dirinya, sehingga ia dapat menggunakan potensi indra penglihatan, pendengaran, dan hati sesuai dengan kehendak Allah SWT. Ia mampu mengendalikan semua indranya untuk ketaatan kepada Allah. Ia gerakkan organ tubuh dan jiwanya dalam ketekunan dan kekhusyuan beribadah.

Dari dalam jiwanya lahir gelombang semangat. Ia hidupkan malam-malamnya dengan tahajud dan berdo’a menyesali setiap kekeliruan. Siangnya ia tebarkan kasih sayang dan kebaikan. Ia seru manusia agar kembali ke jalan Allah. Ruh dan hatinya menjadi penarik setiap hati manusia yang kembali menemukan pintu hidayah. Hatinya menjadi “magnet”? hati-hati yang lain. Hatinya telah mendapat petunjuk dan perlindungan dari sang Maha Pemberi Petunjuk.

Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepadaNyalah kamu akan dikumpulkan.”? (QS. Al-Anfal [8] : 24).

HATI YANG MATI
Allah telah menggambarkan orang yang kering hatinya dan berkarat jiwanya dalam Al-Qur’an, “Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.”? (QS. Al-Baqarah [2] : 74).

Abbas As-Siisiy dalam buku Ath-Thariq Ilal Qulub (Bagaimana Menyentuh Hati (1420 H)) menjelaskan, dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa batu itu sensitif, bahkan ketika ia meluncur jatuh karena takut kepada Allah. Tetapi kita tidak memiliki peralatan yang dapat membuka rahasia, bagaimana batu itu dapat sensitif. Namun kita yakin melalui ayat tersebut bahwa ia memang sensitif, takut, dan melekat satu sama lain karena takutnya kepada Allah.

Batu sensitif, gemetaran, dan melekat satu sama lain karena takut kepada Allah, lanjut Abbas As-Siisiy, lalu bagaimana dengan manusia yang banyak diberikan Allah kenikmatan yang besar, seperti akal, perasaan, dan hati sebagai penitipan rahmat. Sebagian manusia yang hatinya hidup mensyukuri semua kenikmatan Allah. Dan sebagian besar yang lain kurang mensyukuri atau bahkan tidak bersyukur sama sekali terhadap pemberi rezeki, Allah SWT. Manusia yang kufur nikmat ini telah mati hatinya. Sebagaimana firman Allah, “Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.”? (QS. Al-Baqarah [2] : 10).

Orang yang mati hatinya, sukar untuk menerima kebenaran. Ia akan bertindak sesuai dengan kehendaknya. Nafsu syahwatnya menjadi pengendali, sehingga ia akan menjadi mahluk yang angkuh dan sombong. Karena itu, berlindunglah dari hati yang keras, hati yang mati, hati yang dikendalikan nafsu. “Ya Allah, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sis-Mu; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi.”

1 Comment more...

kerangka kualifikasi

KERANGKA KUALIFIKASI NASIONAL INDONESIA

BIDANG KESEHATAN (KEPERAWATAN)

  1. A. BIDANG KEPERAWATAN

LEVEL

DESKRIPTOR HASIL PEMBELAJARAN (Learning Outcomes)

Level 5

(D-III) Perawat Vokasi

1.Mampu melakukan asuhan keperawatan  berlingkup luas sesuai standar asuhan keperawatan  dan kode etik perawat.

  1. 2. Mampu memilih  dan menerapkan metode bantuan hidup dasar  yang tepat dalam    kondisi darurat dan khusus
  2. 3. Mampu mengkompilasi data kesehatan klien   sebagai  dasar rujukan bagi Ners dalam menetapkan tindakan keperawatan yang tepat

4. Mampu menunjukkan kinerja bermutu dan kuantitas yang terukur terhadap hasil kerja

sendiri, tenaga kerja pendukung (support workers) yang menjadi tanggung jawab

pengawasan di lingkup bidang kerjanya.

  1. 5. Mampu menggunakan peralatan dan teknologi kesehatan dalam memberikan asuhan keperawatan.
  2. 6. Mampu menggunakan   teknologi informasi dalam mendokumentasikan data asuhan keperawatan.

Menguasai konsep teoritis bidang pengetahuan secara umum tetapi mendalam di bidang-bidang tertentu, serta mampu memformulasikan penyelesaian masalah prosedural.

  1. Menguasai  konsep sentral keperawatan  yang meliputi manusia, lingkungan, kesehatan dan keperawatan serta interaksi antar konsep sentral tersebut sehingga dapat melakukan tindakan keperawatan yang efisien dan efektif,  sesuai dengan standar asuhan keperawatan.
  2. Menguasai teori  kebutuhan dasar manusia dan bantuan hidup dasar
Memiliki kemampuan mengelola kelompok dalam lingkup tanggung jawabnya, menggunakan komunikasi secara lisan dan tertulis  serta menyusun laporan tertulis secara komprehensif

  1. Mampu berkomunikasi terapeutik
  2. Mampu menyusun dokumentasi dan laporan tentang asuhan keperawatan tertulis secara lengkap
  3. Mampu membimbing dan mengarahkan tenaga pendukung dalam lingkup tanggung jawabnya
Level 7

Ners

  1. Mampu merencanakan dan mengelola sumberdaya  pelayanan dan asuhan keperawatan di bawah tanggung jawabnya, dan mengevaluasi secara komprehensif kerjanya dengan memanfaatkan IPTEKS untuk menghasilkan langkah-langkah pengembangan strategis organisasi.
  1. Mampu memberikan asuhan keperawatan sesuai standar asuhan keperawatan  dan kode etik perawat, yang peka budaya, menghargai keragaman etnik, agama dan faktor lain dari  sistem klien (individu, keluarga dan masyarakat).
  2. Menguasai metode Proses Keperawatan dan IPTEKS dalam menyelesaikan masalah keperawatan yang kompleks.
  3. Mampu mengkomunikasikan   informasi   kesehatan yang tepat secara verbal dan non verbal dengan klien, sejawat, pimpinan dan profesi lain untuk menghasilkan langkah-langkah pengembangan strategis organisasi
  4. Mampu mengupayakan keselamatan klien (patient safety)  dalam rangka pemberian asuhan keperawatan  berkualitas yang  komprehensif , konsisten dan berkesinambungan
  5. Menguasai dan menerapkan prinsip prinsip perlindungan kerja di bidang keperawatan
  1. 1. Menguasai berbagai teori keperawatan terpilih (middle range theories & practical theories) dan mampu menerapkannya untuk menyelesaikan masalah keperawatan yang kompleks.
  2. 2. Menguasai teori   bantuan hidup lanjut (advance life support) untuk diterapkan pada kondisi kegawatdaruratan dan bencana.
1. Mampu melakukan  studi kasus   keperawatan sesuai dengan kaidah profesi

2. Mampu memanfaatkan berbagai hasil studi kasus sebagai dasar dalam  membuat keputusan klinik dan mengkontribusi pada penyempurnaan standar prosedur operasional layanan keperawatan

3. Mampu memanfaatkan hasil studi kasus untuk menyusun dan mengkomunikasikan panduan promosi kesehatan kepada masyarakat

4. Mampu mengevaluasi informasi kesehatan sistem klien   sebagai  dasar rujukan dalam menetapkan tindakan keperawatan yang tepat.

5.  Mampu mengevaluasi informasi kesehatan sistem klien   sebagai  dasar rujukan bagi Ners Spesialis untuk memformulasikan kebijakan baru di bidang keperawatan

8 (S2) 1. Mampu mengembangkan  pengetahuan dan teknologi keperawatan di dalam bidang keilmuan atau praktik professionalnya melalui riset hingga menghasilkan karya inovatif dan teruji
1. Mampu memecahkan permasalahan keperawatan yang kompleks  melalui pendekatan inter- atau multidisiplin
1.Mampu berkontribusi dalam merencanakan sebuah peta jalan riset dengan mengacu kepada perkembangan ilmu keperawatan terkini

2.Mampu mengelola riset keperawatan yang hasilnya berpotensi untuk diaplikasikan dan layak dipublikasikan di tingkat nasional atau internasional.

3. Mampu memanfaatkan hasil riset keperawatan untuk pengembangan ilmu keperawatan dan peningkatan  penguasaan profesionalisme keperawatan berdasarkan pengetahuan baru


program aipni

NO Tujuan Khusus NAMA KEGIATAN WAKTU Pembiayaan KETERANGAN Rincian pembiayaan Tempat Kegiatan
Kebutuhan Sumber dana
1 Meningkatkan kualitas dan kuantitas SDM (pendidik dan tenaga kependidikan). Mapping SDM (pendidik dan tenaga kependidikan) di masing-masing institusi Juni –Juli 2010 Rp 1,000,000 anggaran AIPNI formulir yang disebarluaskan via e-mail, termasuk analisis Pusat
Melakukan need assesment tentang pelatihan keperawatan Juni – Juli 2010 Rp 1,000,000 anggaran AIPNI formulir yang disebarluaskan via e-mail, termasuk analisis Pusat
Mengadakan pelatihan SDM dosen dan tenaga kependidikan sesuai kebutuhan tiap tahun 3 departemen mulai akhir 2010 Rp 900,000,000 peserta pelatihan, anggaran AIPNI Nara sumber, akomodasi, panitia, administrasi, surat menyurat (3 hari 2 malam) 9 departemen x 40 peserta x Rp. 2.500.000,- Regional
2 Disepakatinya pohon penelitian keperawatan Lokakarya dengan mengundang pakar Aug-10 Rp 50,000,000 anggaran AIPNI Pengurus AIPNI dan Regional (2 hari 1 malam) Pusat
Lokakarya dengan mengundang pakar mulai Januari 2011 Rp 350,000,000 anggota AIPNI Anggota AIPNI oleh Regional 7 regional x Rp. 50 juta Regional
Sosialisasi RTA /Nopember 2010 include dalam kegiatan RTA
3 Tercapainya kemampuan dosen untuk melakukan penelitian Pelatihan pembuatan proposal penelitian Aug-10 Rp 200,000,000 anggota AIPNI Nara sumber dari DP2M Dirjen Dikti, PT yang sering menerima Hibah (3 hari 2 malam) 2 kegiatan x 40 orang x Rp. 2.500.000 Pusat
Membentuk tim reviewer penelitian dari keperawatan Rp 27,000,000 anggaran AIPNI pakar keperawatan 9 dep x Rp. 3 juta Pusat
Sosialisasi bersamaan dg kegiatan pelatihan bagi anggota
4 Diterimanya proposal hibah kompetisi penelitian Memberikan informasi tentang hibah penelitian dari berbagai sumber tiap tahun pada bulan Pebruari Rp 1,000,000 anggaran AIPNI formulir yang disebarluaskan via e-mail dan milis Pusat
5 Tercapainya kemampuan dosen sebagai peer review dalam hibah kompetisi Seleksi reviewer Mar-11 Rp 45,000,000 anggaran AIPNI pemberitahuan via e-mail, 1 hari 9 dep x 2 orang x Rp. 2.500.000,- Pusat
Hasil seleksi diajukan ke Dikti untuk menjadi peer reviewer tingkat nasional Dirjen Dikti Kemendiknas
6 Terakuinya hasil penelitian dan di muat dalam jurnal ilmiah internasional Join publikasi dengan luar negeri Jun-11 Rp 100,000,000 Dirjen Dikti Kemendiknas 10 judul x Rp. 10 juta Pusat
7 Teraksesnya hasil penelitian di web AIPNI Membuat web site AIPNI Aug-10 Rp 1,000,000 anggaran AIPNI Pusat
Sosialisasi Rp 1,000,000 anggaran AIPNI via e-mail dan milis Pusat
8 Menginisiasi terbentuknya jurnal keperawatan Pembuatan proposal perijinan penerbitan jurnal keperawatan 2011 Rp 5,000,000 anggaran AIPNI pengurusan ISSN ke Dikti Pusat
9 Diterbitkannya jurnal keperawatan AIPNI Mengumpulkan hasil penelitian dosen dan penerbitan jurnal keperawatan 2012 Rp 5,000,000 iuran penulis dan pelanggan setiap 1 topik Rp. 200.000,- pelanggan Rp. 20.000,-/buku Pusat, penulis, pelanggan
Melakukan review hasil penelitian yang masuk oleh Mitra Bestari Rp 2,000,000 tiap penerbitan 8 judul x Rp. 250.000,- Pusat
10 Memfasilitasi berlangganan jurnal internasional bagi institusi atas nama pribadi. Sosialisasi ke anggota jurnal yang dapat di hubungi atau di akses 2011 Rp 1,000,000 anggaran AIPNI via e-mail dan milis Pusat
11 Meningkatkan kemampuan menulis bagi dosen dalam jurnal internasional dan karya ilmiah Pelatihan penulisan artikel dan karya ilmiah untuk jurnal internasional. 2010 Rp 100,000,000 iuran peserta Nara sumber dari DP2M Dirjen Dikti, PT yang sering menerima Hibah (3 hari 2 malam) 40 orang x Rp. 2.500.000 Pusat
12 Memfasilitasi terbentuknya cabang pohon penelitian dari institusi pendidikan sebagai unggulannya. Pelatihan untuk penentuan cabang pohon penelitian bagi institusi pendidikan. 2011 Rp 700,000,000 iuran peserta Nara sumber dari DP2M Dirjen Dikti, PT yang sering menerima Hibah (3 hari 2 malam) 7 reg x 40 orang x Rp. 2.500.000,- Regional
13 Meningkatkan kemampuan dosen untuk pembuatan proposal hibah pengabdian kepada masyarakat baik secara kuantitas maupun kualitas Pelatihan penyusunan proposal pengabdian kepada masyarakat sesuai standar dikti 2011 Rp 525,000,000 iuran peserta Nara sumber dari DP2M Dirjen Dikti, PT yang sering menerima Hibah (3 hari 2 malam) 7 reg x 30 orang x Rp. 2.500.000,- Regional
14 Memfasilitasi anggota AIPNI untuk mengakses informasi yang telah dilaksanakan AIPNI Membuat milis AIPNI sebagai media pertukaran informasi Juni 2010 anggaran AIPNI via e-mail dan milis Pusat
15 Terselenggaranya lomba hasil penelitian keperawatan yang telah dilaksanakan anggota AIPNI Melaksanakan lomba hasil penelitian sejenis Januari 2011 Rp 100,000 peserta lomba, anggaran AIPNI, sponsor Pembiayaan penilai, hadiah, konsumsi, administrasi Pusat
16 Terstandarnya pembuatan proposal prodi Ners (untuk ijin penyelenggaraan) Pelatihan penyusunan proposal perijinan prodi Ners à Pusat Juli 2010 Rp 100,000,000 peserta pelatihan nara sumber Dikti, akomodasi, panitia, administrasi 1 keg x 40 peserta x Rp. 2.500.000,- Pusat
Pelatihan penyusunan proposal perijinan prodi Ners à regional Agustus 2010 Rp 700,000,000 peserta pelatihan nara sumber Dikti, akomodasi, panitia, administrasi 7 reg x 40 orang x Rp. 2.500.000,- Regional
17 Terstandarnya pembuatan soal dalam rangka persiapan uji kompetensi Pelatihan pembuatan soal terkait dengan uji kompetensi Oktober 2010 Rp 700,000,000 peserta pelatihan nara sumber HPEQ, akomodasi, panitia, administrasi 7 reg x 40 orang x Rp. 2.500.000,- Regional
Rp 4,515,100,000
1 Comment more...

program aipni

BIDANG PENJAMINAN MUTU Rencana kegiatan/Pembiayaan total biaya
1 Penyusunan Panduan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) Prodi Ners AIPNI Mei-Juli 2010 Dilakukan melalui rapat bidang setiap 1 bulan 2 kali rapat x 6 orang x 2 hari 2,250,000.00
2 Pelatihan Sistem Penjaminan Mutu Internal Prodi Ners Juli Koordinasi dengan Pimpinan AIPNI, akan menjadi program rutin tahunan AIPNI TOR pelatihan (biaya 1 paket) 3 angkatan @ 40 orang 259,500,000.00
3 Sosialisasi Panduan SPMI AIPNI Agustus 2010 Koordinasi dengan Pimpinan AIPNI, disampaikan pada rapat pengurus AIPNI Gabung dalam rapat pengurus Agustus 2010, 7 regional 24,500,000.00
4 Penyusunan Dokumen Evaluasi Diri Prodi sesuai Panduan SPMI September-Oktober 2010 Akan diberi kesempatan untuk setiap anggota AIPNI Dilakukan di Prodi masing2 0
5 Penyusunan Kualifikasi Keunggulan Prodi berbasis Standar Penjaminan Mutu/Standar Akreditasi Oktober 2010 – Januari 2011 Draft disampaikan pada RTA AIPNI 2010 Oktober: 1 kali rapat bidang X 6 org; ‘ November= RTA ‘Des 2010-jan 2011: 2 kali rapat bidang X 6 org 2,250,000.00
Internal Assessment Dokumen Evaluasi Diri PS Anggota AIPNI oleh Bidang Penjaminan Mutu AIPNI mulai Februari 2011 sd Oktober 2013 Dilakukan penilaian berdasarkan dokumen evaluasi diri yang masuk dan jadwal disepakati oleh Pimpinan AIPNI. Program ini menjadi program rutin AIPNI oleh asesor AIPNI 1 dokumen ED= 2 org asesor x biaya assessmen (sbg acuan Ban PT: 1 PS = 2jt-PPh15%= 1.7jt/PS) 200,000,000.00
7 Evaluasi standar/ SPMI AIPNI setiap Agustus mulai 2011 Rapat pengurus: tiap anggota menyampaikan SPMInya persiapan= 1 kali rapat pengurus AIPNI x 6 org per tahun selama 3 tahun 0
8 Pemberian Reward bagi PS yang memiliki keunggulan sesuai standar November mulai 2011 Disampaikan pada RTA AIPNI persiapan= 1 kali rapat pengurus bidang x 6 org per tahun selama 2 tahun pengadaan sertifikat dan tropi 21,720,000.00
TOTAL BIAYA 510,220,000.00

Copyright © 1996-2010 Meidiana Dwidiyanti, S.Kp.,MSc. All rights reserved.
iDream theme by Templates Next | Powered by WordPress