SEKITAR abad ke-15-16, bangsa-bangsa di Eropa mulai berlomba-lomba untuk menjelajahi dunia. Mulai dari Afrika, Amerika, Asia, hingga ke Australia. Dalam penjelajahannya mereka banyak menemukan hal-hal baru. Misalnya, mencatat adanya suku-suku yang mereka anggap sebagai suku-suku asing (selengkapnya dapat dilihat pada http://kumpulansejarahdi.blogspot.com/2009/11/sejarah-dan-perkembangan-antropologi.html) .
Kisah-kisah petualangan dan penemuan mereka kemudian mereka catat di buku harian ataupun jurnal perjalanan. Mereka mencatat segala sesuatu yang berhubungan dengan suku-suku asing tersebut. Mulai dari ciri-ciri fisik, kebudayaan, susunan masyarakat, atau bahasa dari suku tersebut. Bahan-bahan yang berisi tentang deskripsi suku asing tersebut kemudian dikenal dengan bahan etnografi atau deskripsi tentang bangsa-bangsa. Read the rest of this entry »

PENDEKATAN kebudayaan terhadap dunia pariwisata pada dasarnya mengacu pada pemikiran tentang hubungan manusia yang mengkaji persoalan kebudayaan di satu pihak dan pariwisata yang mengkomodifikasi unsur kebudayaan di pihak lain. Secara antropologis kedua hal tersebut untuk melihat berbagai masalah dalam pariwisata dan kebudayaan dalam proses representasi.
Misalnya, mencakup masalah-masalah pembentukan tradisi, identitas, serta persepsi dan respons masyarakat lokal sebagai bagian dari subjek pendukung pariwisata. Dengan demikian untuk melihat relasi kebudayaan dengan pariwisata pada dasarnya dapat dilihat dari tiga varian. Pertama, varian simetris yakni tatkala mampu terkonstruksi pola hubungan kebudayaan dan pariwisata secara resiprositas simbiotik. Kedua, varian asimetris yakni tatkala yang satu mendominasi yang lain dengan beragam dampak negatif. Dan ketiga, varian tanpa pola yakni tatkala kedua komponen saling benturan, tumbuh parsial serta berisiko konflik dan anomali.
Read the rest of this entry »
IDENTITAS dilihat dari aspek waktu bukanlah suatu wujud yang sudah ada sejak semula dan tetap bertahan dalam suatu esensi yang abadi. Sedangkan dilihat dari aspek ruang ia juga bukan hanya satu atau tunggal, tetapi terdiri dari berbagai lapisan identitas. Lapis-lapis identitas itu tergantung pada peran-peran yang dijalankan, keadaan objektif yang dihadapi, serta ditentukan pula dari cara menyikapi keadaan dan peran tersebut.
Read the rest of this entry »
Latar Belakang dan Masalah
Perkembangan media televisi saat ini sejalan dengan perkembangan sosial. Perkembangan sosial saat ini, pada dasarnya telah melampaui pemikiran modernitas (yang ditandai dengan munculnya industri barang dan jasa) menuju pemikiran pascamodernitas yang cenderung lebih diorganisasikan oleh seputar konsumsi budaya, permainan media massa, dan perkembangan teknologi informasi (Smith, 2001b:214-232). Keberadaan media televisi di era pascamodernitas ini mempunyai pengaruh yang kuat dalam menandai dinamika sosial dan ekonomi masyarakatnya, terutama dalam mengkonsumsi simbol-simbol dan gaya hidup daripada fungsi produksi barang yang menjadi ciri khas era industri. Konsumsi simbol-simbol, gaya hidup, dan dinamika masyarakat terjadi, karena televisi sebagai media telah melakukan konstruksi realitas sosial (Berger dan Luckman, 1990). Realitas sosial dikonstruksi oleh media bertolak dari informasi yang direproduksi. Reproduksi informasi itulah yang merupakan isi media.
Read the rest of this entry »
MEMBACA Indonesia hari ini, adalah sebuah gambaran tentang masyarakat konsumen yang tumbuh beriringan dengan sejarah globalisasi ekonomi dan transformasi kapitalisme konsumsi. Membaca Indonesia hari ini, adalah sebuah hiruk pikuk orang memadati shopping mall, bingung memilih barang atau hanya puas untuk sekadar memegang. Membaca Indonesia hari ini, adalah estalase industri waktu luang, industri mode dan fashion, industri kecantikan, industri kuliner, industri kebugaran, industri gosip, industri perumahan mewah dan apartemen. Membaca Indonesia hari ini, adalah potret hutan kota yang dipenuhi baliho iklan parfum, telepon genggam, makanan cepat saji, dan suplemen obat kuat. Membaca Indonesia hari ini adalah kontestasi tayangan televisi yang mengeksploitasi gosip dan sensasi.
Read the rest of this entry »
BEBER
APA hari lalu Presiden mengeluhkan sikap media yang disebutkan memojokkan Partai Demokrat .”Banyak pemberitaan media massa, termasuk media yang selama ini memiliki kredibilitas dan reputasi baik, yang terus memojokkan Partai Demokrat dengan bersumber dari SMS atau BBM (BlackBerry Messenger). Yang saya tak paham dengan akal dan logika saya, justru berita yang bersumber dari SMS dan BBM dijadikan judul besar, tema utama, dan headline yang mencolok, “ ujar SBY.
Read the rest of this entry »
SETIAP bangsa selalu mempunyai tradisi pengikat yang menciptakan spiritualitas untuk berkumpul, bersilaturahmi, dan berkoneksi. Tradisi pengikat itu menciptakan legitimasi yang kemudian menyatukan setiap bangsa dalam sebuah keluarga. Mereka bisa bertempat tinggal di mana saja, mereka bisa mencari mata pencaharian apa saja, mereka bisa menuntut ilmu ke mana saja. Namun, mereka membutuhkan “rumah” untuk mengikatkan spiritualitas bersilaturahmi dan berbakti pada keluarga.
Read the rest of this entry »
RENTETAN peristiwa di kalender lama barangkali tak mungkin kita lupakan. Kendati kalender itu telah telanjur kita robek dan kini mencoba membuka lembaran baru, namun sejumlah perisitiwa telah membekas menjadi catatan yang nyaris tak terlupakan. Hiruk pikuk negeri yang selalu menui hujatan demi hujatan, bencana alam yang datang bertubi-tubi, hingga perdebatan demokrasi dan monarki terus menerus menciptakan emosi.
Sejumlah perisitiwa pada kalender 2010 lalu itu bak sebuah lukisan yang penuh warna buram. Hati nurani tiba-tiba tergerus menjadi geram. Rasa pasrah berubah menjadi marah. Suara yang diam menjelma dalam geram dan dendam.Ujungnya, sejumlah orang pun kehilangan rasa empati terhadap perjalanan negeri ini. Di sejumlah wilayah, orang-orang pun gelisah dan jengah lantaran mereka sangat haus akan kehadiran sebuah hero.
Read the rest of this entry »

“Tidak ada, rajaku”, seru Cordelia dengan mantap.
Mata Raja Lear terbelalak dan dadanya berdegup keras, mendengar jawaban anak ketiga tentang kadar cinta terhadap dirinya. Bahkan dengan tangan kanan yang masih gemetar Raja Lear mengulangi pertanyaan.
“Cordelia, coba kau renungkan lagi anakku, berapa besar cintamu kepada ayahmu yang kian renta ini?”.
“Tidak ada rajaku”, jawab Cordelia tetap tak bergeming.
Read the rest of this entry »

ERUPSI Gunung Merapi belum juga menunjukan babak akhir. Bahkan kisah duka akibat bencana itu, telah memberikan kesadaran baru kepada umat manusia akan sebuah nilai kemanusiaan dan kebersamaan. Umat manusia menjadi esa tanpa dipisahkan lagi oleh identitas agama, suku, bangsa dan kepentingan pribadi maupun kelompok.
Kita seolah tak sadar bahwa berkat sejumlah bencana – sejak Wasior, Mentawai, hingga Gunung Merapi – telah memberi interupsi terhadap beberapa hiruk pikuk unjuk rasa, anarkisme mahasiswa, dan tawuran pelajar. Bencana telah membalikkan suasana dari hati yang murka menjadi tetesan air mata. Berkat bencana, kata-kata narcistis yang selalu menghiasi dinding facebook dunia maya, berubah menjadi sederet kalimat yang mampu membangun rasa iba bagi siapa saja.
Read the rest of this entry »