Sebuah novel karya Pramoedya Ananta Toer, Korupsi, telah mengilhami seorang pengarang francophone bernama Tahar Ben Jelloun dalam menulis sebuah novel dengan tema yang sama berjudul l’Homme Rompu. Novel-novel Ben Jelloun sendiri di Indonesia dikenal melalui terjemahan Amir Sutaarga, yakni Malam Yang Keramat (La Nuit Sacrée) dan Anak Padang Pasir (l’Enfant de Sable) yang diterjemahlan oleh Nasrullah Ompu Bana dan Adi Wicaksono.
Untuk melihat persamaan maupun perbedaan kedua novel yang sama-sama mengambil tema korupsi tersebut, tulisan ini akan menggunakan kajian sastra bandingan dengan mengangkat permasalahan bagaimana tema korupsi ditampilkan dan sejauh mana korupsi menjadi cerminan masyarakat Maroko dan Indonesia dalam zaman yang berbeda.
Dengan kajian sastra bandingan akan diketahui bahwa meskipun jarak memisahkan kedua pengarang dan mereka hanya ‘bersentuhan’ melalui karya sastra ternyata masalah korupsi dapat terjadi dalam masyarakat yang memiliki latar sosial berbeda.
Kata kunci: korupsi, Ben Jelloun, sastra bandingan