nasionalisme dan karakter bangsa (July 30th, 2010 by dewiyuliati)

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Wingdings; panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-charset:2; mso-generic-font-family:auto; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:IN;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:85.05pt 113.4pt 113.4pt 85.05pt; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:1225408119; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-2088350246 67698699 1526521856 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l0:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; font-family:Wingdings;} @list l0:level2 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:65.35pt; mso-level-number-position:left; margin-left:65.35pt; text-indent:-11.35pt; font-family:Symbol; text-decoration:none; text-line-through:none; vertical-align:baseline;} @list l0:level3 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:1.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; font-family:Wingdings;} ol {margin-bottom:0in;} ul {margin-bottom:0in;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

KULIAH S2:

NASIONALISME DAN KARAKTER BANGSA

I. PENGERTIAN NASIONALISME

II. PERBEDAAN PATRIOTISME, CHAUVINISME, DAN NASIONALISME

III. KELAHIRAN NASIONALISME

1. PENGERTIAN NASIONALISME

Ø Dimensi Antropologi

Dalam ranah antropologi, nasionaliusme dipandang sebagai sistem budaya yang mencakup perasaan, komitmen, dan kesetiaan pada bangsa dan negara, serta rasa memiliki terhadap bangsa dan negara itu.

Ø Menurut Benedict Anderson:

Nation (bangsa) adalah suatu komunitas politik yang terbatas dan berdaulat yang dibayangkan (immagined communities). Komunitas ini dikatakan sebagai imagined communities sebab tidak mungkin seluruh warga dalam suatu komunitas dapat saling mengenal, saling berbicara, dan saling mendengar. Akan tetapi, mereka memiliki bayangan yang sama tentang komunitas mereka. Suatu bangsa dapat terbentuk, jika sejumlah warga dalam suatu komunitas mau menetapkan diri sebagai suatu bangsa yang mereka angankan atau bayangkan.

Ø Menurut Ernest Renan:

Unsur utama dalam nasionalisme adalah le desir de’etre ensemble (kemauan untuk bersatu). Kemauan bersama ini disebut nasionalisme yaitu suatu paham yang memberi ilham kepada sebagian besar penduduk bahwa nation state adalah cita-cita dan merupakan bentuk organisasi politik yang sah, sedangkan bangsa merupakan sumber semua tenaga kebudayaan dan kesejahteraan ekonomi.

Pendapat Benedict Anderson

Ø Hans Kohn, Nasionalisme Arti dan Sejarahnya (Jakarta: Penerbit Erlangga, 1984).

Nasionalisme adalah salah satu kekuatan yang menentukan dalam sejarah modern. Paham ini berasal dari Eropa Barat pada abad ke-18. Selama abad ke-19 ia telah tersebar di seluruh Eropa dan dalam abad ke-20,ia telah menjadi suatu pergerakan dunia.

Nasionalisme adalah suatu paham yang berpendapat bahwa kesetiaan tertinggi inividu harus diserahkan kepada negara kebangsaan. Sebelum lahir paham nasionalisme, kesetiaan orang tiak ditujukan kepada negara kebangsaan, tetapi kepada berbagai bentuk kekuasaan sosial, organisasi politik atau raja feodal, kesatuan ideologi seperti suku atau clan, negara kota, kerajaandinasti, gereja atau golongan keagamaan.

Unsur-unsur nasionalisme yang selalu ada di sepanjang sejarah: perasaan ikatan yang erat dengan tanah air, dengan tradisi-tradisi setempat, dan dengan penguasa-penguasa resmi di daerahnya.

Nation/bangsa merupakan golongan-golongan yang beragam dan tidak dapat dirumuskan secara eksak. Kebanyakan bangsa memiliki faktor-faktor obyektif tertentu yang membedakan mereka dengan bangsa-bangsa lainnya, seperti persamaan keturunan, bahasa, daerah, kesatuan politik, adat-istiadat, tradisi, dan perasaan agama. Akan tetapi, tidak satu pun di antara faktor-faktor ini bersifat mutlak untuk merumuskan bangsa. Rakyat Amerika tidak mensyaratkan bahwa mereka harus seketurunan untuk menjadi bangsa Amerika, dan rakyat Swis menggunakan tiga atau empat bahasa, tetapi merupakan bangsa yang memiliki pembatasan kebangsaannya secara tegas.

Faktor-faktor obyektif itu memang penting untuk merumuskan suatu bangsa, namun yang paling penting adalah kemauan bersama untuk bersatu (menurut Ernest Renan le desir d’etre ensemble) sebagai suatu bangsa. Kemauan bersama ini dinamakan nasionalisme, yaitu suatu paham yang memberi ilham kepada sebagian besar penduduk bahwa nation state (negara kebangsaan) adalah cita-cita dan merupakan bentuk organisasi politik yang sah, dan bangsa adalah sumber semua tenaga kebudayaan dan kesejahteraan ekonomi.

Ø Benedict Anderson, Imagined Communities Reflections on The Origin and Spread of Nationalism (London: Thetford Press Limited, 1983).

Bangsa adalah komunitas politik yang terbatas dan berdaulat yang dicita-citakan atau diangankan. Komunitas politik itu dikatakan sebagai imagined, karena anggota komunitas itu tidak pernah saling mengenal, saling bertemu, atau bahkan saling mendengar. Yang ada dalam pikiran masing-masing anggota komunitas tersebut adalah hanya gambaran tentang komunitas mereka. Suatu bangsa akan terbentuk, jika sejumlah besar warga dalam suatu komunitas mau menetapkan diri sebagai suatu bangsa yang mereka angankan.

Ø Sartono Kartodirdjo, Pembangunan Bangsa tentang Nasionalisme, Keadaran dan Kebudayaan Nasional (Yogyakarta: Aditya Media, 1993)

Nasionalisme adalah ideologi yang mencakup prinsip kebebasan (liberty), kesatuan (unity), kesamarataan (equality), serta kepribadian yang menjadi nilai kehidupan kolektif suatu kemunitas untuk merealisasikan tujuan politik yaitu pembentukan dan pelestarian negara nasional.

Nasionalisme berakar dari timbulnya kesadaran kolektif tentang ikatan tradisi dan deskriminasi pada masa kolonial yang sangat membatasi ruang gerak bangsa Indonesia. Reaksi terhadap situasi itu merupakan kesadaran untuk membebaskan diri dari tradisi dan untuk melawan pengingkaran terhadap identitas bangsa.

Jaringan komunikasi yang semakin meluas membuka kesempatan untuk melembagakan pengelompokan kaum terpelajar, yang sekaligus menjadi wahana untuk memobilisasi peserta dalam pergerakan, dan merupakan forum untuk menyelenggarakan dialog yang kemudian dapat menjelma sebagai arena politik.

Nasionalisme Indonesia ditandai dengan pembentukan organisasi Boedi Oetomo (BO). Penandaan ini bukan karena formatnya atau kegiatannya, tetapi karena kebutuhan akan identitas, solidaritas, kemandirian, dan kesadaran kolektifnya.

Kesadaran nasional Indonesia tumbuh pada awal abad ke-20 di kalangan tepelajar. Dewasa ini seharusnya setiap warga negara memiliki kesadaran nasional melalui pengajaran sejarah khususnya, dan pendidikan nasional pada umumnya, sehingga melembagalah keadaran nasional yang berbentuk loyalitas kepada bangsa dan negara.

Dalam proses pertumbuhan kebudayaan nasional, muncul nilai-nilai baru sebagai akibat modernisasi dan globalisasi seperti materialisme, konsumerisme, hedonisme, dan sebagainya. Gejala-gejala ini perlu dihadapi dengan nilai-nilai religius dan idealisme yang terutama berasal dari nasionalisme.

Nasionalisme merupakan bagian dari karakter atau kepribadian bangsa, yaitu nilai-nilai dan norma hidup yang memolakan perangai serta tingkah laku individu dalam kerangka kehidupan kolektifnya. Kepribadian bangsa terdiri atas beberapa unsur yaitu: 1). Kebudayaan nasional, 2). Identitas nasional, 3). Etos bangsa, 4). Nasionalisme.

Karakter bangsa dapat dilacak dari pengalaman kolektifnya atau sejarahnya. Karakter bangsa sangat dipengaruhi oleh etos bangsa, yaitu nilai-nilai hidup yang membentuk pola kelakuan serta gaya hidup bangsa. Sebagai contoh: Menurut Max Weber, etos protestan mendasari perkembangan kapitalisme.

KULIAH S2 SEJARAH: NASIONALISME DAN KARAKTER BANGSA

1. Diskusi tentang nasionalisme

2. Diskusi tentang karakter bangsa

3. Pembagian tugas untuk membuat paper dengan tema-tema:

· Karakter Bangsa Pada Masa Perluasan Kebudayaan India (abad V – abad XV).

· Karakter Bangsa Pada Masa Islamisasi (Abad XV – Abad XVII).

· Karaker Bangsa Pada Masa Perluasan Pengaruh Barat (Abad XVII – Awal Abad XX).

· Nasionalisme dan Karakter Bangsa Pada Masa Kolonial Belanda dan Jepang (1900-1945).

· Nasionalisme dan Karakter Bangsa Setelah kemerdekaan sampai dengan masa Reformasi.

Bidang-bidang kajian: politik, ekonomi, dan budaya.

2. PENGERTIAN NASIONALISME

Ø Hans Kohn, Nasionalisme Arti dan Sejarahnya (Jakarta: Penerbit Erlangga, 1984).

Nasionalisme adalah salah satu kekuatan yang menentukan dalam sejarah modern. Paham ini berasal dari Eropa Barat pada abad ke-18. Selama abad ke-19 ia telah tersebar di seluruh Eropa dan dalam abad ke-20,ia telah menjadi suatu pergerakan dunia.

Nasionalisme adalah suatu paham yang berpendapat bahwa kesetiaan tertinggi inividu harus diserahkan kepada negara kebangsaan. Sebelum lahir paham nasionalisme, kesetiaan orang tiak ditujukan kepada negara kebangsaan, tetapi kepada berbagai bentuk kekuasaan sosial, organisasi politik atau raja feodal, kesatuan ideologi seperti suku atau clan, negara kota, kerajaandinasti, gereja atau golongan keagamaan.

Unsur-unsur nasionalisme yang selalu ada di sepanjang sejarah: perasaan ikatan yang erat dengan tanah air, dengan tradisi-tradisi setempat, dan dengan penguasa-penguasa resmi di daerahnya.

Nation/bangsa merupakan golongan-golongan yang beragam dan tidak dapat dirumuskan secara eksak. Kebanyakan bangsa memiliki faktor-faktor obyektif tertentu yang membedakan mereka dengan bangsa-bangsa lainnya, seperti persamaan keturunan, bahasa, daerah, kesatuan politik, adat-istiadat, tradisi, dan perasaan agama. Akan tetapi, tidak satu pun di antara faktor-faktor ini bersifat mutlak untuk merumuskan bangsa. Rakyat Amerika tidak mensyaratkan bahwa mereka harus seketurunan untuk menjadi bangsa Amerika, dan rakyat Swis menggunakan tiga atau empat bahasa, tetapi merupakan bangsa yang memiliki pembatasan kebangsaannya secara tegas.

Faktor-faktor obyektif itu memang penting untuk merumuskan suatu bangsa, namun yang paling penting adalah kemauan bersama untuk bersatu (menurut Ernest Renan le desir d’etre ensemble) sebagai suatu bangsa. Kemauan bersama ini dinamakan nasionalisme, yaitu suatu paham yang memberi ilham kepada sebagian besar penduduk bahwa nation state (negara kebangsaan) adalah cita-cita dan merupakan bentuk organisasi politik yang sah, dan bangsa adalah sumber semua tenaga kebudayaan dan kesejahteraan ekonomi.

Ø Benedict Anderson, Imagined Communities Reflections on The Origin and Spread of Nationalism (London: Thetford Press Limited, 1983).

Bangsa adalah komunitas politik yang terbatas dan berdaulat yang dicita-citakan atau diangankan. Komunitas politik itu dikatakan sebagai imagined, karena anggota komunitas itu tidak pernah saling mengenal, saling bertemu, atau bahkan saling mendengar. Yang ada dalam pikiran masing-masing anggota komunitas tersebut adalah hanya gambaran tentang komunitas mereka. Suatu bangsa akan terbentuk, jika sejumlah besar warga dalam suatu komunitas mau menetapkan diri sebagai suatu bangsa yang mereka angankan.

Ø Sartono Kartodirdjo, Pembangunan Bangsa tentang Nasionalisme, Keadaran dan Kebudayaan Nasional (Yogyakarta: Aditya Media, 1993)

Nasionalisme adalah ideologi yang mencakup prinsip kebebasan (liberty), kesatuan (unity), kesamarataan (equality), serta kepribadian yang menjadi nilai kehidupan kolektif suatu kemunitas untuk merealisasikan tujuan politik yaitu pembentukan dan pelestarian negara nasional.

Nasionalisme berakar dari timbulnya kesadaran kolektif tentang ikatan tradisi dan deskriminasi pada masa kolonial yang sangat membatasi ruang gerak bangsa Indonesia. Reaksi terhadap situasi itu merupakan kesadaran untuk membebaskan diri dari tradisi dan untuk melawan pengingkaran terhadap identitas bangsa.

Jaringan komunikasi yang semakin meluas membuka kesempatan untuk melembagakan pengelompokan kaum terpelajar, yang sekaligus menjadi wahana untuk memobilisasi peserta dalam pergerakan, dan merupakan forum untuk menyelenggarakan dialog yang kemudian dapat menjelma sebagai arena politik.

Nasionalisme Indonesia ditandai dengan pembentukan organisasi Boedi Oetomo (BO). Penandaan ini bukan karena formatnya atau kegiatannya, tetapi karena kebutuhan akan identitas, solidaritas, kemandirian, dan kesadaran kolektifnya.

Kesadaran nasional Indonesia tumbuh pada awal abad ke-20 di kalangan tepelajar. Dewasa ini seharusnya setiap warga negara memiliki kesadaran nasional melalui pengajaran sejarah khususnya, dan pendidikan nasional pada umumnya, sehingga melembagalah keadaran nasional yang berbentuk loyalitas kepada bangsa dan negara.

Dalam proses pertumbuhan kebudayaan nasional, muncul nilai-nilai baru sebagai akibat modernisasi dan globalisasi seperti materialisme, konsumerisme, hedonisme, dan sebagainya. Gejala-gejala ini perlu dihadapi dengan nilai-nilai religius dan idealisme yang terutama berasal dari nasionalisme.

Nasionalisme merupakan bagian dari karakter atau kepribadian bangsa, yaitu nilai-nilai dan norma hidup yang memolakan perangai serta tingkah laku individu dalam kerangka kehidupan kolektifnya. Kepribadian bangsa terdiri atas beberapa unsur yaitu: 1). Kebudayaan nasional, 2). Identitas nasional, 3). Etos bangsa, 4). Nasionalisme.

Karakter bangsa dapat dilacak dari pengalaman kolektifnya atau sejarahnya. Karakter bangsa sangat dipengaruhi oleh etos bangsa, yaitu nilai-nilai hidup yang membentuk pola kelakuan serta gaya hidup bangsa. Sebagai contoh: Menurut Max Weber, etos protestan mendasari perkembangan kapitalisme.

File bisa didownload di sini : nasionalisme-karakter-bangsa

KEBUDAYAAN LOKAL VERSUS GLOBAL (July 30th, 2010 by dewiyuliati)

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Bookman Old Style”; panose-1:2 5 6 4 5 5 5 2 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:IN;} p.MsoHeading7, li.MsoHeading7, div.MsoHeading7 {mso-style-next:Normal; margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:0in; margin-left:.25in; margin-bottom:.0001pt; text-align:center; mso-pagination:widow-orphan; page-break-after:avoid; mso-outline-level:7; mso-layout-grid-align:none; punctuation-wrap:simple; text-autospace:none; font-size:14.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; font-weight:bold; mso-bidi-font-weight:normal;} p.MsoFootnoteText, li.MsoFootnoteText, div.MsoFootnoteText {mso-style-noshow:yes; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:IN;} p.MsoHeader, li.MsoHeader, div.MsoHeader {margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; tab-stops:center 3.0in right 6.0in; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:IN;} span.MsoFootnoteReference {mso-style-noshow:yes; vertical-align:super;} /* Page Definitions */ @page {mso-footnote-separator:url(”file:///C:/DOCUME~1/DEWIYU~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/12/clip_header.htm”) fs; mso-footnote-continuation-separator:url(”file:///C:/DOCUME~1/DEWIYU~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/12/clip_header.htm”) fcs; mso-endnote-separator:url(”file:///C:/DOCUME~1/DEWIYU~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/12/clip_header.htm”) es; mso-endnote-continuation-separator:url(”file:///C:/DOCUME~1/DEWIYU~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/12/clip_header.htm”) ecs;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:85.05pt 113.4pt 113.4pt 85.05pt; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:69422857; mso-list-template-ids:-989165074;} @list l0:level1 {mso-level-start-at:2; mso-level-tab-stop:.25in; mso-level-number-position:left; margin-left:.25in; text-indent:-.25in;} @list l0:level2 {mso-level-text:”%1\.%2\.”; mso-level-tab-stop:.25in; mso-level-number-position:left; margin-left:.25in; text-indent:-.25in;} @list l0:level3 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.”; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; margin-left:.5in; text-indent:-.5in;} @list l0:level4 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.”; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; margin-left:.5in; text-indent:-.5in;} @list l0:level5 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.”; mso-level-tab-stop:.75in; mso-level-number-position:left; margin-left:.75in; text-indent:-.75in;} @list l0:level6 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6\.”; mso-level-tab-stop:.75in; mso-level-number-position:left; margin-left:.75in; text-indent:-.75in;} @list l0:level7 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6\.%7\.”; mso-level-tab-stop:1.0in; mso-level-number-position:left; margin-left:1.0in; text-indent:-1.0in;} @list l0:level8 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6\.%7\.%8\.”; mso-level-tab-stop:1.0in; mso-level-number-position:left; margin-left:1.0in; text-indent:-1.0in;} @list l0:level9 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6\.%7\.%8\.%9\.”; mso-level-tab-stop:1.25in; mso-level-number-position:left; margin-left:1.25in; text-indent:-1.25in;} @list l1 {mso-list-id:928083402; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1167000228 -1836912732 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l1:level1 {mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ascii-font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-hansi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} @list l2 {mso-list-id:1171989220; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1154981348 1058292674 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l2:level1 {mso-level-text:”\(%1\)”; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l3 {mso-list-id:1788814524; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:893175470 -371446792 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l3:level1 {mso-level-text:”\(%1\)”; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l4 {mso-list-id:1794834516; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-166551916 661969276 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l4:level1 {mso-level-text:”\(%1\)”; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} ol {margin-bottom:0in;} ul {margin-bottom:0in;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

KEBUDAYAAN LOKAL VERSUS KEBUDAYAAN GLOBAL:

HIDUP ATAU MATI ?

Oleh:

Dewi Yuliati

Disajikan dalam:

Dialog Budaya Daerah Jawa Tengah

Diselenggarakan oleh:

Departemen Pendidikan dan Pariwisata,

Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta

Di Semarang, tanggal 9-10 Mei 2007

KEBUDAYAAN LOKAL VERSUS KEBUDAYAAN GLOBAL:

HIDUP ATAU MATI?

Oleh: Dr. Dewi Yuliati M.A.[1]

Abstract

This article presents the discussion about the position of Indonesian local culture among the global culture. The Indonesian local culture was always developed by the influences of global culture which entered Indonesia since the pre-history times until the modern era. The conclusion is that that there were many threats to the existence of the local culture, so the Indonesian people should strengthen their self confidences and national character.

Key words: budaya lokal, pengaruh global

1. Pendahuluan

Untuk membahas kebudayaan, ada suatu cakupan pengertian wujud dan isi kebudayaan yang telah dipaparkan secara jelas oleh Koentjaraningrat. Dalam menjelaskan isi kebudayaan, Koentjaraningrat merujuk pada konsepsi B. Malinowski[2] tentang unsur-unsur budaya universal (cultural universals), sebagai berikut: (1) bahasa, (2) teknologi, (3) sistem mata pencarian hidup atau ekonomi, (4) organisasi sosial, (5) sistem pengetahuan, (6) religi, dan (7) kesenian. Menurut Koentjaraningrat setiap unsur kebudayaan itu dapat mempunyai tiga wujud, yaitu:

(1) wujud kebudayaan sebagai kompleks gagasan, konsep, dan pemikiran manusia. (2) wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas.

(3) wujud kebudayaan sebagai benda.

Sebagai contoh, bahasa dapat berwujud sebagai sistem budaya (tata bahasa, norma-norma ujaran, dan aturan-aturan pemakaiannya); dapat berwujud sebagai suatu kompleks aktivitas (aktivitas manusia untuk bercakap-cakap, berkomunikasi dengan alat-alat komunikasi); dan dapat berwujud sebagai benda (tulisan di atas lontar, tulisan di atas kertas, di atas mikrofis, di atas mikrofilm, dan sebagainya).[3]

Untuk menulis artikel ini, saya terinspirasi oleh suatu buku berjudul Suicide or Survival? The Challenge of The Year 2000, yang diterbitkan oleh UNESCO pada tahun 1978. Buku tersebut telah diterjemahkan oleh Lembaga Studi Ilmu-ilmu Kemasyarakatan Yayasan Bhinneka Tunggal Ika dan diterbitkan oleh PT GUNUNG AGUNG, Jakarta, 1982.

Dengan membaca buku tersebut di atas, orang dapat memahami bahwa pada perempat terakhir abad ke-20, masyarakat intelektual di dunia telah merasa khawatir tentang ketidakmampuan masyarakat di negara-negara berkembang untuk mempertahankan dan mengembangkan kebudayaan lokal dalam konteks perluasan kebudayaan negara-negara maju, terutama Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni (IPTEKS).

Para cendekiawan Indonesia pun ikut mewaspadai pengaruh negatif kemajuan IPTEKS global itu terhadap eksistensi kebudayaan lokal. Di satu sisi, kemajuan IPTEKS memang telah mendorong masyarakat untuk memasuki suatu kondisi yang menyediakan kemudahan dan kenikmatan-kenikmatan tertentu. Akan tetapi di sisi lain, kemajuan IPTEKS itu juga telah menghimpit dan merusak kebudayaan lokal.[4]

Perkembangan teknologi komunikasi, informasi, dan jaringan transportasi, telah memperlancar kedatangan arus budaya global di Indonesia, dan kita pun sampai pada persoalan “apakah masyarakat Indonesia membiarkan kebudayaannya mati karena dilindas oleh budaya asing (luar negeri) atau mempertahankan serta mengembangkannya?” dan “bagaimana keluar dari himpitan budaya global yang tidak mengenal batas ruang dan waktu itu”?.

2. Globalisasi Tak Mengenal Ruang dan Waktu

Kedatangan arus kebudayaan global di Indonesia dapat dikatakan “tidak mengenal waktu dan ruang.” Kehadiran pengaruh-pengaruh kebudayaan global di Indonesia dapat ditelusuri dari masa ke masa sejak dari zaman pra sejarah sampai kedatangan pengaruh kebudayaan Barat.

Jika ditinjau dari segi waktu, dapat dikatakan bahwa pengaruh kebudayaan bangsa-bangsa lain di dunia sudah masuk di Indonesia sejak ribuan tahun sebelum Masehi.

Penelitian Madeleine Colani, seorang ahli prasejarah Perancis, menunjukkan bahwa di pegunungan Bacson dan daerah Hoabinh di Tonkin, terdapat pusat kebudayaan mesolithikum di Asia yang berupa pebbles (kapak Sumatera dan kapak pendek). Kebudayaan ini menyebar sampai ke Indonesia melalui Thailand dan Malaysia Barat.

Kebudayaan mesolithikum berlanjut dengan suatu masa kebudayaan yang disebut neolithikum yang masuk ke Indonesia kira-kira pada 2.000 sebelum Masehi. Von Heine Geldern menamakan kebudayaan pada zaman neolithik itu kebudayaan kapak persegi.Selain ditemukan di Indonesia (Sumatera, Jawa, dan Bali), kebudayaan kapak persegi juga terdapat di Malaysia Barat, India, sehingga disimpulkan bahwa kebudayaan tersebut berasal dari daratan Asia.

Zaman neolithik disusul oleh zaman logam atau perunggu yang meninggalkan warisan budaya berupa alat-alat yang dibuat dari perunggu. Kebudayaan perunggu di Asia Tenggara disebut juga kebudayaan Dongson, sesuai dengan nama tempat penyelidikan pertama di daerah Tonkin, Vietanam. Berdasarkan penyelidikan Von Heine Geldern, kebudayaan Dongson atau kebudayaan perunggu di Indonesia berasal dari tahun 300 sebelum Masehi.

Zaman pra sejarah disusul dengan zaman sejarah, yaitu suatu masa yang telah meninggalkan kebudayan tertulis. Bukti tertua tentang keberadaan kerajaan di Indonesia adalah tujuh buah prasasti yang berbentuk yupa (tugu peringatan upacara korban) di Kutei, Kalimantan Timur. Prasasti-prasasti yang berasal dari kira-kira tahun 400 Masehi itu menunjukkan bahwa pengaruh kebudayaan India telah nyata di Indonesia. Huruf yang digunakan dalam prasasti tersebut adalah huruf Pallawa dengan bahasa Sanskerta. Rajanya pun bergelar dengan nama India, Mulawarman, padahal ia adalah cucu dari seorang asli Kutei yang bernama Kundungga.

Masa pengaruh kebudayaan India di Indonesia berlangsung cukup lama, dari abad ke-5 sampai dengan abad ke-15. Pada akhir abad ke-15 sudah muncul kerajaan yang bercorak Islam di Jawa, Kerajaan Demak. Meskipun Demak baru berdiri pada akhir abad ke-15, pengaruh Islam sudah masuk di Indonesia sejak akhir abad ke-11. Ini dapat dibuktikan dengan melihat keberadaan makam seorang perempuan bernama Fatimah Binti Maimun di Leran, dekat Gresik, yang berangka tahun 1082 Masehi. Keterangan yang lebih nyata dapat diketahui dari catatan Marco Polo, seorang penjelajah yang berasal dari Italia. Ketika mengunjungi Perlak di Sumatera Utara pada tahun 1292, ia menjumpai banyak penduduk yang beragama Islam dan pedagang-pedagang Islam dari India yang aktif menyebarkan agama Islam. Marco Polo juga mengunjungi Samodra. Di daerah ini ia menjumpai batu nisan Sultan Samodra yang bernama Malik Al Saleh. Tulisan pada batu nisan itu menunjukkan bahwa Sultan Samodra telah wafat pada bulan Ramadhan tahun 676 sesudah Hijrah atau 1297 Masehi.

Pada abad ke-16, mulai muncul pengaruh kebudayaan Barat di Indonesia. Raja Mataram meniru cara berpakaian ala Belanda dengan memakai jaket kulit dan topi berbulu, kemudian juga diikuti oleh para kerabat istana. Inovasi teknik dalam bidang pengecoran logam untuk pembuatan senjata api juga merupakan bukti masuknya pengaruh kebudayaan Barat. Perubahan cepat terjadi sejak awal abad ke-20 yang ditandai dengan perluasan pendidikan ala Barat, khususnya di kalangan kaum muda di perkotaan. Baik dalam tingkah laku maupun dalam kehidupan spiritual, kaum muda Indonesia telah meniru model kehidupan Barat. Rasionalisme, individualisme, dan kebebasan berbicara diasimilasikan oleh kaum muda Indonesia secara mudah. Kemampuan berbahasa Belanda dan pengetahuan Barat dinilai sebagai prestise sosial yang tinggi, karena merupakan jembatan bagi mereka untuk memperoleh penghasilan yang lebih baik dalam pekerjaan di lingkungan pemerintahan dan swasta.[5]

Mulai awal abad ke-20, pemerintah kolonial Belanda juga mengadakan perombakan sistem pemerintahan di Indonesia, dengan pembentukan gemeente (Kota praja), residentie (keresidenan), dan provintie (provinsi). Sampai sekarang, bangsa Indonesia masih melanjutkan sistem pemerintahan bentukan Belanda itu.

Pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21, kehadiran arus kebudayaan global semakin tak terbendung. Perluasan pengaruh kemajuan IPTEKS yang berasal dari Barat, Korea, dan Jepang memperoleh ladang subur di Indonesia. Pengaruh itu dapat disaksikan terutama pada penggunaan teknologi modern dalam bidang informasi, komunikasi, dan transportasi. Dengan pemanfaatan internet dan Hand phone, orang bisa memperoleh berbagai informasi di dunia dan bisa berkomunikasi antarbangsa. Semua itu bisa dilakukan pada jam berapa saja dan di mana saja. Dengan kemajuan teknologi dalam bidang transportasi (sepeda motor), banyak orang Indonesia berpaling dari kebiasaan naik sepeda, naik becak, atau berjalan kaki untuk kemudian mengganti kebiasaan itu dengan naik sepeda motor. Banyak orang menganggap bahwa naik sepeda motor lebih efisiensi waktu, ngirit, dan lebih bergengsi. Kondisi ini merupakan akses bagi perkembangan budaya membeli dengan sistem cicilan, karena kondisi pendapatan yang pas-pasan.

Jika ditinjau dari segi ruang, kepulauan Indonesia merupakan suatu wilayah yang terbuka untuk kedatangan pengaruh unsur-unsur kebudayaan dari seluruh penjuru dunia; dari arah utara, selatan, barat, timur, barat laut, timur laut, barat daya, dan tenggara. Selain itu, tanah di kepulauan ini menyediakan berbagai komoditi (pertambangan dan pertanian) yang dicari oleh pasar internasional. Oleh karena itu, Indonesia menjadi tempat berkumpulnya hampir semua agama di dunia yang datang bersamaan dengan proses perdagangan. Agama Hindu dan Budha adalah pendatang yang paling awal, kemudian diikuti oleh Islam, Katolik, dan Protestan. Kong Fu Tse sebetulnya datang bersamaan dengan pendatang Cina ke Indonesia, tetapi paham ini tidak mendapat banyak pengikut di kalangan penduduk pribumi. Agama-agama Islam, Katolik, Protestan, Hindu, dan Budha telah mengakar secara kuat di kalangan penduduk kepulauan Indonesia. Oleh Karena itu, dalam tingkatan tertentu sistem-sistem budaya agama tersebut telah kehilangan identifikasinya sebagai sistem budaya asing, meskipun tidak hilang sama sekali. Sebagai contoh, pada sistem budaya agama Islam terdapat pemakaian bahasa Arab sebagai alat komunikasi keagamaan, yang dihubungkan dengan peradaban Arab di negara-negara Timur-Tengah; sistem budaya agama Katolik masih berkaitan dengan Roma; sistem budaya Protestan masih berhubungan dengan Palestina Kuno dan negara-negara Protestan seperti Belanda, Jerman, dan Amerika; sistem budaya Hindu dan Budha masih berasosiasi dengan India.

Selain sistem kebudayaan agama, sistem kebudayaan keduniawian masuk juga ke Indonesia. Unsur-unsur kebudayaan keduniawian Belanda, Inggris, Amerika, Cina , Korea, Jepang, dan lain-lain tetap dikenal sebagai sistem budaya asing. Namun demikian, beberapa unsur dalam sistem budaya asing ini telah menjadi bagian dari sistem budaya nasional Indonesia, contohnya: Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni.

2. Pengikisan Rasa Bangga Terhadap Kebudayaan Indonesia

Seperti telah diterangkan di atas, kebudayaan memiliki pengertian yang sangat luas. Oleh karena itu, pembahasan difokuskan pada kebudayaan dalam pengertian yang lebih sempit, yaitu bahasa dan kesenian. Kedua unsur kebudayaan itu diambil sebagai fokus pembahasan, karena mempunyai fungsi penting sebagai identitas kebudayaan lokal.[6] Berikut ini dibahas kondisi unsur-unsur kebudayaan itu dalam kaitannya dengan desakan arus kebudayaan global.

2.1. Pengikisan Rasa Bangga Untuk Berbahasa Daerah dan Indonesia

Kedatangan bangsa-bangsa asing di Indonesia yang telah berlangsung sejak puluhan abad silam, telah berpengaruh terhadap kehidupan bahasa-bahasa daerah di Indonesia serta terhadap perkembangan bahasa Indonesia. Ketika bangsa India datang dengan sistem kebudayaan agamanya, para raja atau pemegang kekuasaan politik di suatu wilayah tertentu merasa perlu untuk menggunakan nama yang berkarakter India, seperti: Mulawarman, raja Kutei, tidak menggunakan nama asli Kutei, padahal ia keturunan Kundungga, orang asli Kutei. Ketika sistem kebudayaan agama Islam datang, Suta Wijaya, raja Kerajaan Mataram I, menggunakan gelar Panembahan Senapati Ing Alaga Sayidin Panatagama, dan sebagainya. Gejala ini menunjukkan bahwa pada waktu itu terjadi suatu anggapan bahwa nama asli daerahnya tidaklah cukup untuk berposisi sejajar dengan mitra pergaulan antarbangsa, sehingga identitas diri perlu dirubah agar komunikasi menjadi setara. Demikian juga, ketika pengaruh kebudayaan Barat dengan sistem kebudayaan agama Kristennya masuk ke Indonesia, banyak orang Indonesia yang mengambil nama atau nama baptis yang bernuansa Barat atau Kristen, seperti: Angelina, Tabita, Maria, Johanes, Christian, dan lain-lain.

Pada era tahun 1970-an, di kalangan etnis Jawa muncul fenomena baru dalam ranah bahasa. Banyak keluarga mendidik putera-puterinya untuk berkomunikasi dengan bahasa Indonesia sejak mereka belajar berbicara. Fenomena ini merupakan salah satu bentuk proses demokratisasi dan modernisasi yang nota bene berasal dari Barat. Bahasa Jawa dianggap berkonotasi feodal dan kuno. Sikap feodal ini antara lain tercermin dalam komunikasi berbahasa Jawa yang mengandung stratifikasi penggunaan terhadap siapa seseorang berbicara, yaitu: Kromo Inggil untuk berbicara dengan orang-orang yang harus dihormati, Kromo madya untuk berbicara dengan orang-orang yang berstatus sejajar; dan ngoko untuk berbicara dengan orang-orang yang statusnya sejajar atau lebih rendah.

Gejala perlawanan terhadap feodalisme dan keinginan untuk menjadi modern itu memunculkan pengingkaran terhadap bahasa Jawa, contohnya:

(1) komunikasi antara pembantu dan majikan tidak lagi menggunakan bahasa Jawa, tetapi dengan bahasa Indonesia.

(2) Sikap demikian juga terjadi pada komunikasi antara orang tua dan anak; Sebutan papa dan mama atau papi dan mami menggantikan sebutan bapak dan ibu. Gejala ini juga terjadi di kalangan rakyat jelata yang sebelumnya menggunakan sebutan simbok dan pakné untuk menyebut ayah dan ibunya. Sebutan papa dan mama atau papi dan mami menunjukkan bahwa pemakai sebutan itu ingin menjadi modern, tidak terkesan kuno dan ndeso. Gejala ini sekaligus menunjukkan bahwa bahasa-bahasa Barat (Inggris dan Belanda) dianggap lebih modern dan bergengsi.

(3) Bahasa Jawa kromo inggil dan kromo madya hampir tidak lagi dipergunakan dalam pergaulan sehari-hari, kecuali bahasa Jawa ngoko, karena dianggap demokratis dan menunjukkan kesejajaran.

(4) Banyak orang Jawa yang tidak lagi menggunakan nama-nama Jawa, karena lebih memilih nama-nama yang bernuansa Islam atau Arab, Kristen atau Barat, dan Hindu atau India.

Meskipun bahasa Jawa mengandung nuansa feodal, sesungguhnya juga berisi nilai-nilai positif untuk memperkuat kualitas hidup, contohnya: tata krama kepada orang tua dan orang-orang yang harus dihormati, kehalusan budi, sopan-santun, serta identitas etnis.

Sebagai akibat dari globalisasi dewasa ini, bahasa Indonesia juga mengalami pengingkaran. Banyak orang sering mengganti kata-kata bahasa Indonesia dengan kata-kata serapan dari bahasa Inggris, ketika mereka sedang berbicara dengan bahasa Indonesia, meskipun sering terjadi kesalahan ucapan, contohnya: mawas diri diganti dengan intropeksi (seharusnya: introspeksi), perundingan diganti dengan negoisasi (seharusnya: negosiasi), bersifat wanita diganti dengan feminim (seharusnya: feminin), dan lain-lain. Salah ucap ini justru sering dilakukan oleh public figure, sehingga sebagian masyarakat yang melakukan kesalahan serupa justru mendapat pembenaran dari contoh-contoh itu. Ada kesan bahwa kemampuan menggunakan bahasa asing dianggap lebih intelek dan bergengsi dari pada hanya menggunakan bahasa sendiri.

2.2. Pengikisan Kebanggaan terhadap Seni Arsitektur Lokal

Gejala pengikisan kebanggaan masyarakat Indonesia terhadap seni arsitektur lokal dapat disimak antara lain pada pernyataan Totok Roesmanto yang dimuat pada Semarang Metro, tanggal 4 Mei 2007, sebagai berikut:

Kehidupan konsumerisme masyarakat bisa menimbulkan kecenderungan menyukai model baru. Hal itu berlaku dalam banyak hal, termasuk pemilihan desain bangunan. Seiring perkembangan informasi, masyarakat juga makin mudah mengikuti perkembangan arsitektur dunia. Di satu sisi, hal itu membawa dampak positif, karena pengetahuan yang dimiliki bisa berkembang. Tapi tidak menutup kemungkinan itu justru akan menggeser potensi arsitektur lokal. Saat ini kecenderungannya seperti itu, sehingga menyebabkan makin menipisnya pemahaman dan kebanggaan terhadap potensi arsitektur Indonesia. Masyarakat pun sering kurang peduli terhadap potensi lokal daerahnya.[7]

Pernyataan Totok Roesmanto itu mencerminkan keprihatinan yang mendalam akan kepunahan kebudayaan lokal, terutama dalam bidang seni arsitektur. Sekarang, sangat sulit untuk melihat bangunan-bangunan baru yang bernuansa lokal. Banyak bangunan yang bercorak lokal tradisional rusak atau punah, sedangkan bangunan baru sudah bernuansa global (terutama arsitektur Barat). Sebagai contoh, Kota Semarang memiliki warisan arsitektur tradisional lokal berupa rumah tradisional Semarang yang terletak di kampung-kampung di sekitar Kota Lama (Kampung Kulitan, Kampung Malang, Kauman, Mertojoyo, dan sebagainya). Karena tidak ada pemahaman dan pengetahuan penduduk atau penghuni tentang nilai historis dan budaya, banyak rumah tradisional yang sudah sirna atau dibangun kembali dengan arsitektur modern, padahal nilai-nilai tradisional itu memiliki arti penting sebagai identitas budaya dan aset kepariwisataan.

3. Keluar dari Himpitan Kebudayaan Global

Sebagai akibat proses pembangunan, masyarakat mengalami peningkatan dinamika dengan gejala-gejala yang menyertainya, seperti mobilitas penduduk, media komunikasi modern (media cetak, televisi, komputer), peningkatan jumlah komoditi sebagai hasil teknologi mutakhir, peningkatan pelayanan dan kemudahan, dan lain-lain. Semua gejala itu menimbulkan perubahan sosial budaya. Dalam masa perubahan itu, individu sering kehilangan orientasi, dan bahkan sering pula mengalami krisis identitas. Untuk mengatasi persoalan identitas tersebut, diperlukan upaya-upaya yang serius untuk memperkuat kebudayaan nasional.

Sartono Kartodirdjo menyatakan bahwa di antara unsur-unsur kebudayaan, bahasa memiliki fungsi yang penting untuk memperkuat identitas nasional, karena beberapa alasan, yaitu: (1) bahasa mencerminkan gaya dan etos peradaban; (2) bahasa mengekspresikan jiwa kebudayaan, serta mengungkapkan kepribadian bangsa; (3) bahasa berfungsi sebagai media komunikasi; (4) bahasa dapat mengungkapkan perasaan estetis; (5) bahasa merupakan media untuk membangun ide, kesadaran, pikiran, memori, dan imaginasi manusia.[8]

Mengingat pentingnya fungsi bahasa itu, upaya-upaya yang perlu dilakukan untuk keluar dari “pengikisan bahasa lokal” (bahasa Indonesia dan bahasa daerah) adalah sebagai berikut:

(1) Meningkatkan kualitas dan intensitas komunikasi dalam keluarga dengan menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa daerah.

(2) Meningkatkan kualitas kemampuan guru-guru dan dosen-dosen pengajar Bahasa Indonesia serta bahasa daerah masing-masing secara rutin dan berkesinambungan, misalnya: menyelenggarakan pelatihan-pelatihan atau kursus-kursus yang berkaitan dengan pengajaran bahasa Indonesia dan bahasa daerah.

(3) Meningkatkan kualitas para siswa dan mahasiswa untuk mengekspresikan kemampuan berbahasa Indonesia dan berbahasa daerah, baik secara lisan maupun tertulis.

(4) Mempergiat penelitian terhadap bahasa-bahasa daerah agar dapat dihasilkan lebih banyak tata bahasa, kamus, dan buku pelajaran bahasa daerah.

(5) Menyelenggarakan sayembara penulisan dan pembacaan puisi, drama, dan penulisan karya sastra serta ilmiah, baik berbahasa Indonesia maupun berbahasa daerah di tingkat nasional dan daerah.

(6) Meningkatkan kualitas komunikasi antara guru dan siswa atau antara dosen dan mahasiswa dengan menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa daerah berdasarkan kaidah-kaidah bahasa Indonesia dan bahasa daerah yang benar.

(7) Mengajarkan bahasa-bahasa daerah di kampus-kampus atau di sekolah-sekolah dalam muatan lokal.

Selain bahasa, kesenian juga merupakan unsur budaya yang memiliki potensi penting sebagai identitas kebudayaan nasional. Baik Sartono Kartodirdjo[9] maupun Koentjaraningrat[10] menyatakan bahwa kesenian merupakan unsur kebudayaan yang paling dapat menunjukkan sifat khas dan mutu kepada masyarakat global, dan sekaligus dapat menunjukkan karakter atau kepribadian bangsa, serta menjadi media pemersatu bangsa-bangsa. Melalui berkesenian (seni tari, seni busana, seni suara, seni pahat, seni rupa, dan seni arsitektur), orang dapat mengekspresikan rasa, karsa, dan cipta yang sesuai dengan kepribadian individu, identitas budaya masyarakat atau daerahnya masing-masing. Melalui penikmatan kesenian, dapat tumbuh rasa kagum, gembira, bahagia, dan apresiasi terhadap karya seni. Bahkan, melalui berkesenian, dapat juga digalang persahabatan antarbangsa.

Mengingat nilai penting kesenian dalam lingkup kebudayaan global itu, perlu selalu diupayakan pengembangan kesenian-kesenian daerah dan penguatan nilai-nilai lokal dalam kesenian, dengan cara-cara sebagai berikut:

(1) Pemerintah memberikan fasilitas atau subsidi secara rutin dalam jumlah tertentu kepada perkumpulan-perkumpulan kesenian yang memerlukannya dan cukup bermutu. Bantuan ini dimaksudkan untuk meningkatkan prestasi para pengelola kesenian dalam penciptaan karya seni dan untuk merangsang inovasi ke arah pengembangan kesenian nasional yang meliputi seni tari, seni musik, sepi drama, seni busana, seni rupa, seni bangunan (arsitektur), dan sebagainya.

(2) Semua pemangku kepentingan (stake holders: pemerintah, seniman/seniwati, pengelola kesenian, masyarakat peminat seni, dan media massa) dapat melakukan diseminasi karya-karya seni melalui media elektronik, media cetak, dan pertunjukan-pertunjukan atau pameran-pameran.

(3) Semua pemangku kepentingan (stake holders) harus giat untuk meningkatkan gerakan apresiasi kesenian, contohnya melalui kegiatan ekstrakurikuler di sekolah-sekolah dan di kampus-kampus, mengadakan berbagai lomba kesenian di sekolah-sekolah, di kampus-kampus, dan di lingkup kelurahan, kecamatan, dan seterusnya, pada acara-acara tertentu.

(4) Semua pemangku kepentingan dapat melakukan gerakan revitalisasi dan pembudayaan kembali kesenian yang kini sudah hampir punah atau sudah punah, contohnya: pertunjukan wayang orang, wayang kulit, ketoprak, ludruk, seni kerawitan, musik kulintang, musik angklung, Kesenian Gambang Semarang, seni bangunan (arsitektur) lokal, dan sebagainya.

4. Simpulan

Sepanjang sejarah, bangsa Indonesia tidak pernah luput dari pengaruh kebudayaan asing, dan kini banyak pihak sering meratapi kepunahan kebudayaan lokal sebagai akibat desakan kebudayaan global.

Kecemasan akan kemunduran kebudayaan lokal oleh kebudayaan global itu tidak perlu terjadi, jika diperhatikan dan dilaksanakan prinsip-prinsip sebagai berikut.

  1. Tiap kebudayaan yang akan diwariskan kepada generasi penerus tidak bisa dibiarkan hidup secara pasif.
  2. Nilai-nilai lama suatu kebudayaan yang diwariskan itu harus dikaji, dianalisis, dan diberi spirit baru yang sesuai dengan jiwa zaman, sehingga tetap dapat bertunas serta hidup subur di tengah-tengah masyarakat pendukungnya. Untuk itu, diperlukan kegiatan mencipta yang dapat memberi jiwa baru kepada suatu kebudayaan sesuai dengan keadaan masyarakat yang telah berubah dengan nilai-nilai serta ukuran-ukuran baru.
  3. Jika tidak ada kegiatan mencipta seperti itu, niscaya kebudayaan akan “hidup segan mati pun tak hendak” atau bahkan benar-benar mati.

DAFTAR PUSTAKA

Malinowski, B., A Scientifcis Theory of Culture and Other Essays , Chapel Hill: University of North Caroline Perss, 1944.

Alfian (ed.), Persepsi Masyarakat Tentang Kebudayaan, Jakarta: PT Gramedia, 1985.

Darmanto JT dan Sudharto PH, Mencari Konsep Manusia Indonesia Suatu Bunga Rampai , Jakarta: Penerbit Erlangga, 1986.

Koentjaraningrat, Kebudayaan Mentalitet dan Pembangunan , Jakarta: PT Gramedia, 1974.

Sartono Kartodirdjo, Kebudayaan pembangunan dalam Perspektif Sejarah, Yogyakarta: Gadjah Mada Univerity Press, 1987.

SEMARANG METRO Suara Merdeka, Jumat, 4 Mei 2007.

Wertheim W.F., Masyarakat Indonesia dalam Transisi, Kajian Perubahan Sosial, terjemahan dari Indonesian Society in Transition, A Study Of Social Change, Yogya: PT Tiara Wacana, 1999.


[1] Dewi Yuliati adalah dosen di Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Diponegoro.

[2] B. Malinowski, A Scientifcis Theory of Culture and Other Essays (Chapel Hill: University of North Caroline Perss, 1944).

[3] Koentjaraningrat, “Persepsi tentang Kebudayaan Nasional”, dalam Alfian (ed.), Persepsi Masyarakat Tentang Kebudayaan (Jakarta: PT Gramedia, 1985), hlm. 100-105.

[4] Satjipto Rahardjo, “Gambaran Tentang Manusia dari Sudut sosialogi”, dalam Darmanto JT dan Sudharto PH, Mencari Konsep Manusia Indonesia Suatu Bunga Rampai (Jakarta: Penerbit Erlangga, 1986), hlm. 69.

[5] W.F. Wertheim, Masyarakat Indonesia dalam Transisi, Kajian Perubahan Sosial, terjemahan dari Indonesian Society in Transition, A Study Of Social Change, (Yogya: PT Tiara Wacana, 1999),hlm.230, 236, 237.

[6] Koentjaraningrat, 1985, op. cit., hlm. 114.

[7] SEMARANG METRO Suara Merdeka, Jumat, 4 Mei 2007.

[8] Sartono Kartodirdjo, Kebudayaan pembangunan dalam Perspektif Sejarah (Yogyakarta: Gadjah Mada Univerity Press, 1987), hlm. 17-18.

[9] Sartono Kartodirdjo, op. cit., hlm. 19.

[10] Koentjaraningrat, Kebudayaan Mentalitet dan Pembangunan (Jakarta: PT Gramedia, 1974), hlm. 107-108.

cv dewi yuliati (July 30th, 2010 by dewiyuliati)


st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} p.MsoBodyText, li.MsoBodyText, div.MsoBodyText {margin:0in; margin-bottom:.0001pt; text-align:justify; line-height:200%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:Arial; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-font-style:italic;} p.MsoBodyTextIndent2, li.MsoBodyTextIndent2, div.MsoBodyTextIndent2 {margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:6.0pt; margin-left:.25in; line-height:200%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:151065245; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-2139618794 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 {mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l1 {mso-list-id:191574178; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1646176882 67698703 -1504556904 67698703 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l1:level1 {mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l1:level2 {mso-level-number-format:alpha-upper; mso-level-tab-stop:1.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l1:level3 {mso-level-tab-stop:117.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:117.0pt; text-indent:-.25in;} @list l2 {mso-list-id:467624272; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-699607894 67698709 -141021966 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l2:level1 {mso-level-number-format:alpha-upper; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l2:level2 {mso-level-tab-stop:1.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-weight:normal;} @list l3 {mso-list-id:1704208001; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-930342326 67698703 -821887830 -603942820 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l3:level1 {mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l3:level2 {mso-level-number-format:alpha-upper; mso-level-tab-stop:1.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l3:level3 {mso-level-tab-stop:117.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:117.0pt; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-weight:normal;} ol {margin-bottom:0in;} ul {margin-bottom:0in;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}
table.MsoTableGrid
{mso-style-name:”Table Grid”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
border:solid windowtext 1.0pt;
mso-border-alt:solid windowtext .5pt;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-border-insideh:.5pt solid windowtext;
mso-border-insidev:.5pt solid windowtext;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

RIWAYAT HIDUP

I. IDENTITAS DIRI

Nama lengkap dengan gelar

:

Dr. Dewi Yuliati, M.A.

Jenis kelamin

:

Perempuan

Jabatan Fungsional

:

Lektor Kepala

NIP

:

19540725 198603 2 001

Alamat kantor

:

Jurusan Sejarah

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Jl. Prof. Soedarto, S.H., Tembalang, Semarang

Nomor telepon/ faks.

:

024-7463144/ 024-7463144

Alamat rumah

:

Vila Tembalang Blok G/8, Tembalang, Semarang

Nomor telepon

:

Rumah: 024-6712246

Mobile phone: 024-70763456; 081-2282-5388

E-mail

:

Dewi_yulliati@yahoo.co.id

II. RIWAYAT PENDIDIKAN

Program

S1

S2

S3

Nama Perguruan Tinggi

Universitas Diponegoro Semarang

Universitas Indonesia Jakarta

Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Tahun Lulus

1985

1993

2005

Gelar

Dra.

M.A.

Dr.

Bidang Ilmu

Sejarah

Sejarah

Sejarah

III. PENELITIAN

1. Sobo-Kartti Sebagai Wahana Pelestari Kesenian Tradisional Jawa, dana DPP SPP, 1988, sebagai ketua peneliti

2. Industrialisasi di Semarang 1906-1930, DPP SPP, 1996, sebagai ketua peneliti.

3. Gaya Hidup Kelas Menengah di Kodia Dati II Semarang, dana Operasi dan Fasilitas Undip No. 202/XXIII/3/-/1996, sebagai ketua peneliti.

4. Vernacular Press in Java during The Japanese Occupation 1942-1945, Sumitomo Foundation Grand, 1997, sebagai ketua peneliti.

5. “Peranan Seni sebagai Media Propaganda di Jawa Pada Masa Pendudukan Jepang”, Penelitian Dosen Muda, 2001/2002, sebagai ketua peneliti.

6. Visualisasi Struktur Kota Kerajaan Demak dan Pengembangannya untuk Sebuah Taman Wisata, Penelitian Hibah Bersaing Perguruan Tinggi 1997/1998, sebagai anggota peneliti.

7. Perubahan Pola Agraris di Ambon-Lease Tahun 1855-1890: Dari Pola Monokultur menjadi Multicutur, dana DPP SPP, 1997, sebagai anggota peneliti.

8. Penataan Kesenian Gambang Semarang sebagai Identitas Budaya Semarang, Penelitian Hibah Bersaing Perguruan Tinggi, 1999/2000, sebagai anggota peneliti.

9. Peranan Ratu Kalinyamat di Jepara Pada Abad XVI, Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional, 1999/2000, sebagai anggota peneliti.

10. “Penelusuran Hari Jadi Provinsi Jawa Tengah”, sebagai anggota peneliti, Kerja sama Fakultas Sastra dengan Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Tengah, 2003.

11. “Melacak Jejak Pers Jawa Tengah”, kerja sama dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Tengah, sebagai ketua peneliti, 2007-2008.

12. ”Menuju Kota Industri, Semarang Pada Era Kolonial”, penelitian mandiri, 2005.

13. ”Mengungkap Sejarah dan Pesona Motif Batik Semarang”, penelitian mandiri, 2007.

14. ”Upacara-upacara Tradisional di Kabupaten Pekalongan dan Pengembangannya Untuk Kepariwisataan”, sebagai ketua peneliti, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah Dinas pendidikan dan Kebudayaan, 2008.

15. ”Pengkajian Dan Penulisan Upacara Tradisi Di Kotamadya Pekalongan Jawa Tengah”, sebagai anggota peneliti, Subdin Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, Semarang, 2008.

16. ”Inventarisasi Upacara-upacara Tradisional di Kabupaten Magelang”, sebagai ketua peneliti, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah, 2010.

IV. KARYA ILMIAH

A. Makalah

1. ”Pembinaan dan Pengembangan Gambang Semarang”, makalah diskusi Pembinaan Gambang Semarang yang diselenggarakan oleh Fakultas Sastra Universitas Diponegoro Semarang, 20 Januari 1994.

2. “Pengawasan terhadap Pers Bumiputera di Jawa Pada Masa Pendudukan Jepang 1942-1945, makalah disumbangkan kepada Seminar Nasional “Negara dalam Sejarah Indonesia: Reinterpretasi dan Redefinisi Terhadap Anti Integrasi Bangsa”, tanggal 31 Agustus 1999.

3. ”Pengawasan Terhadap Pers Bumiputera di Jawa Pada Masa Pendudukan Jepang 1942-1945”, makalah dipresentasikan dalam seminar hasil-hasil penelitian, 8 November 1999, Fakultas Sastra Universitas Diponegoro.

4. “Analisis Historis tentang Terbentuknya Kesadaran Kelas Buruh di Semarang pada Perempat Pertama Abad ke-20”, makalah disajikan dalam lokakarya internasional ”Penelitian Sejarah Indonesia Lintas Orde Kekuasaan: 1930-1965”, Nederlandsch Indië Oorlog Documentatie (NIOD)– LIPI, Yogyakarta, 20 Agustus 2004.

5. “Kebudayaan Lokal Versus Kebudayaan Global: Hidup atau Mati?”, makalah disajikan dalam Dialog Budaya Daerah Jawa Tengah, Departemen Pendidikan dan Pariwisata, Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta, di Semarang 9-10 Mei 2007.

6. ”Menelusuri Jejak-jejak Pers Di Jawa Pada Paroh Pertama Abad XX”, makalah dipresentasikan dalam Seminar Nasional Persatuan Wartawan Indonesia di Gedung Pers Semarang, 23 Agustus 2007.

7. “Menyibak Fajar Nasionalisme Indonesia: Boedi Oetomo, Kristalisasi Kesadaran Berbangsa”, makalah disajikan dalam Seminar Nasional “Refleksi Satu Abad Kebangkitan Nasional Indonesia”, Fakultas Sastra, 29 Mei 2008.

8. ”Pelestarian Kesenian Daerah Jawa Tengah”, makalah ini disajikan dalam Kegiatan Temu Muka Seni dan Budaya Daerah Provinsi Jawa Tengah, 17 Juni 2009, di Gedung PKK Provinsi Jawa Tengah.

9. “Frustration-Agression: The Basic Factors of Workers’ Strike, A Case Study on Railway Workers’ Strike in Semarang in The Colonial Era”, a paper presented in ENCOMPASS CONFERENCE, Medan, 6-8 January 2009.

10. “Menyibak Fajar Nasionalisme Indonesia”, makalah dipresentasikan dalam Sarasehan Sejarah Regional Daerah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah, Magelang, 23 Mei 2009.

11. “Buruh dan Ketidakadilan: Ladang Subur Bagi Perluasan Marxisme”, makalah dipresentasikan dalam seminar akademik, di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, 29 Desember 2009.

B. Artikel

1. “Pers, Pemerintah dan Pembangunan Bangsa”, Suara Merdeka, Februari 1989.

2. “Sobo-Kartti: Pelestari Kesenian Tradisional Jawa”, Suara Merdeka, November 1989.

3. “Semaoen , Buruh dan Pers Bumiputera dalam Pergerakan Kemerdekaan”, Sejarah Vol. 5, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1994.

4. “Haatzaai Artikelen Pengikat Kebebasan Pers Pada Masa Kolonial Belanda”, Lembaran Sastra No. 17, Semarang: Fakultas Sastra Universitas Diponegoro, 1993-1994.

5. ”Gambang Semarang Identitas yang Terbuang ?”, Suara Merdeka, 6 Agustus 1994.

6. “Gambang Semarang dan Pengembangannya”, Suara Merdeka, 18 dan 25 Nopember 1995.

7. “Industrialisasi di Semarang 1906-1930”, Lembaran Sastra No.23. Semarang: Fakultas Sastra Universitas Diponegoro, 1997.

8. “Pers Bumiputera di Jawa Pada Masa Pendudukan Jepang 1942-1945”, Kajian Sastra No. 24, Semarang: Fakultas Sastra Universitas Diponegoro, 1998.

9. “Gambang Semarang dalam Lintasan Sejarah”, Kajian Sastra No. 2, Semarang: Fakultas Sastra Universitas Diponegoro, 2000.

10. “Sobo-Kartti di antara Semangat dan Hambatan”, Citra Lekha Volume III, Nomor 2, Semarang: Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Diponegoro, 2000.

11. “Membedah Misteri Lokasi Kraton Demak”, Citra Lekha Volume IV No. 1, Semarang: Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Diponegoro, 2002.

12. “Terbentuknya Kesadaran Kelas Buruh di Semarang”, Hayam Wuruk No. 2 Th. XIV, 2004.

13. “Refleksi Kemiskinan Buruh di Semarang Pada Awal Abad XX”, dalam Historia, No. 12, Volume VI, jurnal terakreditisai. Bandung: Unversitas Pendidikan Indonesia, Desember 2005.

14. ”Batik Semarang: Identitas Budaya Yang Hampir Hilang?”, Seputar Semarang, edisi 138 Tahun III, 9-15 Mei 2006.

15. “Mengungkap Sejarah dan Pesona Motif Batik Semarang” Paramita, Vol. 16, No. 1, Januari 2006.

16. “Penataan Pasar Djohar Berwawasan Wisata Budaya”, Seputar Semarang, edisi 140 Tahun III, 23-29 Mei 2006.

17. ”Sistem Propaganda Jepang di Jawa 1942-1945, dalam Citra Lekha Volume X NO.2, Agustus 2006, Semarang:Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Diponegoro dan Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Jawa Tengah, 2006.

18. ”Kebudayaan Lokal Versus Kebudayaan Global: Hidup Atau Mati”, dalam Citra Lekha Volume XI NO. 1, Februari 2007, Semarang:Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Diponegoro dan Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Jawa Tengah, 2007.

19. ”Sejarah Terbentuknya Provinsi Jawa Tengah”, dalam Citra Lekha Volume XI NO.2, Agustus 2007, Semarang:Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Diponegoro dan Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Jawa Tengah, 2007.

20. ”Menyibak Fajar Nasionalisme Indonesia”, dalam Sabda, Jurnal Kajian Kebudayaan, Volume IV Nomor 1, April 2009, Semarang: Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro, 2009.

21. ”Frustration and Aggression as The Basic Factors of Workers’ Strike: A Case Study On Railway Workers’s Strike In Semarang, Central Java, In The Colonial Era”, dalam Tawarikh International Journal For Historical Studies, Volume 1, Number 2, April 2010.

C. Buku

1. Semaoen Pers Bumiputera dan Radikalisasi Sarekat Islam Semarang, Semarang: Bendera, 2000.

2. ”Pengawasan Terhadap Pers Bumiputera di Jawa Pada Masa Pendudukan Jepang 1942-1945”, dalam Dari Samodra Pasai Ke Yogyakarta, Jakarta: Yayasan Masyarakat Sejarawan Indonesia, 2002.

3. “Profil Kota Semarang 1900-1965”, dalam Resi Yang Menyepi, Semarang: Fakultas Sastra Universitas Diponegoro, 2003.

4. “Pers, Negara Kolonial, dan Nasionalisme Indonesia”, dalam Sejarah Indonesia jilid IV, Jakarta: Ikhtiar Baru-Van Hoeve, 2006.

5. Melacak Jejak Pers Jawa Tengah, Semarang: Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), 2008.

6. Mengungkap Sejarah dan Pesona Motif Batik Semarang, Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2009.

7. Menuju Kota Industri, Semarang Pada Era Kolonial, Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro Press, 2009.

D. Hak Karya Intelektual (HKI)

1. Jenis ciptaan : Seni Motif Batik

Judul ciptaan : Merak Puspa Rukmi

Nmr pendaftaran : 045431

2. Jenis ciptaan : Seni Motif Batik

Judul ciptaan : Samodra Amengku Negari

Nmr pendaftaran : 045432

Note: HKI dikeluarkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, Direktur Jenderal Hak Kekayaan Intelektual.

MOTIF BATIK SEMARANG (July 30th, 2010 by dewiyuliati)

untitled


NAMA MOTIF: MERAK SEMAWIS

DESAIN MOTIF OLEH: DR. DEWI YULIATI, M.A.

DIPRODUKSI OLEH: BATIK SEMARANG INDAH,

KAMPUNG BATIK, SEMARANG, JAWA TENGAH, 2007

untitled1

NAMA MOTIF: MERAK PUSPA RUKMI

DESAIN OLEH: DR. DEWI YULIATI, M.A.

DIPRODUKSI OLEH: BATIK SEMARANG INDAH,

KAMPUNG BATIK, SEMARANG, JAWA TENGAH, 2006

SAMODRA AMENGKU NNEGARI

NAMA MOTIF: SAMODRA AMENGKU NEGARI

DESAIN OLEH: DR. DEWI YULIATI, M.A.

DIPRODUKSI OLEH: BATIK SEMARANG INDAH,

KAMPUNG BATIK, SEMARANG, JAWA TENGAH, 2006

latar belakang usul JICA (July 30th, 2010 by dewiyuliati)

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Wingdings; panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-charset:2; mso-generic-font-family:auto; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:1971858212; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1689358506 67698699 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l0:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; font-family:Wingdings;} ol {margin-bottom:0in;} ul {margin-bottom:0in;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

USUL

PENGEMBANGAN LABORATORIUM SEJARAH

JURUSAN SEJARAH FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS DIPONEGORO

DIAJUKAN KEPADA JICA

I. LATAR BELAKANG

Keberadaan suatu laboratorium di Jurusan Sejarah sangat diperlukan untuk mendukung proses belajar mengajar, karena ilmu sejarah memerlukan penelitian yang berbasis historical resources, baik primer maupun sekunder. Untuk membekali mahasiswa dengan kompetensi penelitian sejarah, diperlukan laboratorium yang memiliki aset-aset kesejarahan, yaitu: primary and secondary historical resources, yang berupa arsip, dokumen, foto-foto peristiwa tertentu, peta, surat kabar, film dokumenter, dan buku-buku referensi.

Historical resources atau software dalam penelitian sejarah harus dikompilasi melalui pencarian sumber di berbagai Lembaga Kearsipan dan Perpustakaan, yaitu: Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) di Jakarta, Perpustakaan Nasional di Jakarta, Pusat Dokumentasi Ilmiah di LIPI di Jakarta, dan Lembaga-lembaga Kearsipan serta Perpustakaan di Jepang. Pencarian Historical Resources harus juga dilakukan di Jepang untuk menemukan sumber-sumber sejarah tentang detail-detail penguasaan Jepang atas Indonesia (1942-1945), yang dirasa sangat kurang tersedia di Indonesia.

Laboratorium sejarah tidak hanya memerlukan software (historical resources), tetapi juga hardware atau prasarana & sarana pendukung, seperti gedung (ruang audio visual, ruang meeting, ruang dosen & karyawan, ruang arsip, ruang baca, ruang penyimpanan artefak), komputer, mebelair, LCD, tape recorder, televisi, handycam, kaset untuk merekam sejarah lisan, screen, dan laptop untuk proses belajar-mengajar.

Sejak tahun 2008, Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro sudah memiliki labaoratorium sejarah, namun baik software maupun hardware yang dimiliki masih kurang memadai. Beberapa kekurangan dapat disebutkan sebagai berikut:

Ø ruangan yang sudah ada adalah hanya audio visual yang sangat sempit, dan tidak integrated dengan ruang referensi, ruang karyawan dan dosen, dan ruang baca;

Ø prasarana belajar-mengajar sangat terbatas, sehingga para dosen dan mahasiswa kurang dapat mempresentasikan materi pembelajaran secara lebih optimal;

Ø historical resources sangat terbatas, sehingga tidak mendukung keperluan mahasiswa untuk penelitian.

Ø Laboratorium Sejarah belum memiliki diorama sebagai prasarna untuk visualisasi peristiwa sejarah Pergerakan Nasional Indonesia, yang sangat penting untuk penguatan nation caracter building secara kontinyu.

Mengingat keberadaan Laboratorium Sejarah sangat penting dalam proses belajar-mengajar dalam ilmu sejarah, Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro merasa sangat perlu untuk mengembangkan Laboratorium Sejarah, yang diupayakan melalui permohonan kerja sama dengan dan bantuan dana dari JICA.

Fajar Nasionalisme Indonesia (November 23rd, 2009 by dewiyuliati)

MENYIBAK FAJAR NASIONALISME INDONESIA

Oleh: Dewi Yuliati[*]

1. Pendahuluan

Nasionalisme dapat dipahami dari sudut pandang antropologi dan politik. Dalam dimensi antropologi, nasionalisme dipandang sebagai sistem budaya yang mencakup kesetiaan, komitmen, emosi, perasaan kepada bangsa dan negara, dan rasa memiliki bangsa dan negara itu. Dalam dimensi ini, Benedict Anderson mengatakan bahwa nation (bangsa) adalah suatu komunitas politik yang terbatas dan beradaulat yang dibayangkan (imagined communities). Komunitas politik itu dikatakan sebagai imagined communities sebab suatu komunitas tidak mungkin mengenal seluruh warganya, tidak mungkin saling bertemu, atau saling mendengar. Akan tetapi, mereka memiliki gambaran atau bayangan yang sama tentang komunitas mereka. Suatu bangsa dapat terbentuk, jika sejumlah warga dalam suatu komunitas mau menetapkan diri sebagai suatu bangsa yang mereka angankan atau bayangkan (Benedict Anderson, 1983: 15). Karena komitmen dan keinginan untuk mengikatkan diri dalam komunitas bangsa ini, dapat muncul kesetiaan yang tinggi pada nation state (negara kebangsaan). Bahkan, banyak warga suatu negara kebangsaan rela mengorbankan jiwa-raga untuk membela bangsa dan negara mereka. Senada dengan Benedict Anderson, Ernest Renan mengatakan bahwa unsur utama dalam pembentukan suatu bangsa adalah le desir de’etre ensemble (keinginan untuk bersatu). (Taufik Abdullah, 2001: 49). Abdoel Moeis, seorang tokoh Sarekat Islam, pada tahun 1917 telah mengartikan nasionalisme sebagai perasaan cinta kepada bangsa dan tanah air, yang diungkapkannya pada harian Sinar Djawa, 25 Oktober 1917 sebagai berikut:

Kalaoe kita mengingat akan nasib boeroeknja tanah air dan bangsa kita, jang beratoes tahoen selaloe berada dalam koengkoengan orang lain sadja, maka brdebarlah dada, timboellah soeatoe perasaan jang menggojang segala oerat saraf kita, perasaan kasihan kepada bangsa dan tanah air itoe (Sinar Djawa, 25 Oktober 1917).

Dalam dimensi politik, nasionalisme merupakan ideologi yang meyakini bahwa kesetiaan tertinggi individu harus diserahkan kepada negara kebangsaan, yaitu suatu negara yang penduduknya memiliki hak dan kewajiban sama serta mau mengikatkan dirinya dalam suatu negara (Hans Kohn, 1984: 11; J.M. Romein, 1956: 75). Demikian juga Soekarno, presiden pertama Indonesia, mengatakan bahwa bangsa adalah sebuah konstruksi yang dihasilkan oleh sebuah visi yang diperjuangkan, Dalam pengertian politik ini, prinsip-prinsip utama dalam nasionalisme adalah kebebasan, kesatuan, keadilan, dan kepribadian yang menjadi orientasi kehidupan kolektif suatu kelompok untuk mencapai tujuan politik, yaitu negara nasional (Sartono Kartodirdjo, 1993: 3). Sebagai doktrin politik, nasionalisme merupakan basis serta pembenaran ideologis bagi setiap bangsa di dunia untuk mengorganisasi diri dalam entitas-entitas yang bebas atau otonom, dan entitas itu mengambil bentuk negara nasional yang merdeka (Michael A. Riff, 2001: 194).

Sebagai suatu konsep, nasionalisme digali dan dirumuskan pertama kali oleh orang-orang Eropa dalam ruang lingkup masyarakat Eropa. Doktrin nasionalisme berasal dari lingkungnan masyarakat Jerman pada abad ke-18, dan dalam pergolakan luas di Eropa yang disebabkan oleh Revolusi Perancis.Meskipun konsep nasionalisme berasal dari Barat, perlu juga dipahami bagaimana proses awal terbentuknya nasionalisme di Indonesia. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, dalam artikel ini dikemukakan pembahasan tentang ”fajar nasionalisme Indonesia”, suatu masa yang masih remang-remang, pada saat kesadaran berbangsa dan bernegara belum mengkristal secara nyata.

Untuk menyibak fajar nasionalisme Indonesia, diperlukan pemahaman terhadap situasi kolonial pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Pada saat itu ikatan tradisi dan diskriminasi masih sangat membatasi ruang gerak bangsa Indonesia, padahal di sisi lain sudah lahir golongan terpelajar bumiputera yang telah memiliki kesadaran untuk membebaskan diri dari belenggu tradisi dan kesadaran untuk mengadakan gerakan melawan pengingkaran terhadap identitas bangsa. Kartini, diakui sebagai pahlawan bangsa, karena mampu mengekspresikan ide-idenya untuk mematahkan belenggu tradisi dan memperjuangkan kemajuan bangsa bumiputera.

Berdasarkan perspektif historis dan politis, pembentukan Boedi Oetomo, tanggal 20 Mei 1908, dipandang sebagai tonggak sejarah kelahiran kesadaran kebangsaan Indonesia. Akan tetapi di sisi lain, ada juga yang menilai Boedi Oetomo sebagai gerakan yang bersifat lokal karena skala kegiatannya hanya untuk rakyat Jawa dan Madura, sehingga perlu dicari momentum lain yang berskala nasional untuk ditetapkan sebagai tonggak sejarah kebangkitan nasional Indonesia (Suara Merdeka, Minggu, 12 Mei 2008: 27). Oleh karena itu, adalah perlu untuk menguak kembali kelahiran nilai-nilai nasionalisme Indonesia.

2. Kartini: Pelopor Pembebasan dari Belenggu Adat dan Tradisi

2.1.Perlawanan Terhadap Poligami

Setiap tanggal 21 April, di Indonesia selalu diadakan perayaan peringatan hari lahir Kartini, seorang perempuan Indonesia yang telah dinobatkan sebagai pahlawan bangsa. Kartini adalah seorang puteri dari R.M. Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara, lahir pada tanggal 21 April 1879 di Mayong, kabupaten Jepara. Kartini adalah puteri dari istri ke dua ayahnya. Sampai dengan usia 12 tahun, Kartini masih diizinkan untuk bersekolah dan ke luar rumah oleh ayahnya. Akan tetapi, pada tahun 1892, ia harus menjalani pingitan, yang ketika itu merupakan adat Jawa yang diterapkan bagi kaum perempuan yang beranjak dewasa. Selama 4 tahun Kartini dikungkung dalam pingitan, dan setelah dibebaskan dari kungkungan itu, ia pun harus menghadapi keharusan untuk menikah dengan laki-laki yang tidak dikenalnya, yaitu R. Adipati Djojo Adiningrat, bupati Rembang yang sudah beristri. Sebenarnya, Kartini sangat menentang adat perkawinan semacam itu, tapi tiada daya, karena “menurut saja” adalah nilai yang harus ditaati oleh perempuan Jawa, dan menikah dengan pria yang tidak dikenal merupakan adat dan keharusan yang harus dijalani oleh gadis Jawa pada saat itu.

Kartini hidup dalam fase nasionalisme Indonesia yang paling awal. Rasa kebangsaan Kartini hanya diperjuangkannya sendiri, tanpa dukungan organisasi massa yang pada masa itu memang belum ada. Kesadaran akan nasib bangsanya dapat disimak melalui perlawanannya terhadap poligami yang pada saat itu membudaya di kalangan bangsawan Jawa. Dalam suratnya kepada sahabatnya, Zeehandelaar, Kartini mencurahkan perasaannya sebagai berikut.

Sekali-sekali aku tiada dapat menaruh cinta. Jika akan bercinta, menurut pendapatku, haruslah ada rasa hormat dulu. Aku tiada dapat menghormati anak muda Jawa. Bagaimana aku dapat menghormati orang yang sudah kawin dan sudah jadi bapak, tetapi karena sudah puas beristrikan ibu anak-anaknya, membawa perempuan lain ke dalam rumahnya, perempuan yang dikawininya dengan sah menurut hukum Islam? Siapa yang tidak berbuat demikian? Dan mengapa pula tidak akan berbuat demikian? Hal itu bukan dosa, dan bukan celaan pula. Hukum Islam mengizinkan laki-laki menaruh empat orang perempuan. Meskipun orang mengatakan seribu kali bahwa beristri empat itu bukan dosa menurut hukum Islam, tetapi aku mengatakan bahwa itu dosa. Segala perbuatan yang menyakitkan sesamanya, dosalah menurut pendapatku. Betapakah azab sengsara yang harus diderita seorang perempuan, bila lakinya pulang ke rumah dengan perempuan lain dan perempuan itu harus diakuinya sebagai istri lakinya yang sah, dan harus diterimanya sebagai saingannya? Perempuan itu boleh disiksanya, disakitinya selama hidup sepuas hatinya, tetapi bila ia tidak hendak membebaskan perempuan itu kembali, perempuan itu hanya bisa menangis setinggi langit untuk meminta hak, tiada jua akan dapat.

Mengertikah engkau sekarang apakah sebabnya aku sangat benci akan perkawinan? Kerja yang serendah-rendahnya maulah aku mengerjakannya dengan besar hati dan dengan sungguh-sungguh, asalkan aku tidak usah kawin, dan aku bebas. Stella, tahukah engkau, betapa sedihnya hati. Hati ingin benar berbuat sesuatu, tetapi diriku merasa sungguh tidak berdaya untuk berbuat begitu.

Engkau bertanya, apakah asal mulanya aku terkurung dalam empat tembok tebal. Sangkamu tentu aku tinggal dalam terungku atau yang serupa itu. Bukan, Stella, penjaraku adalah rumah besar, berhalaman luas di sekelilingnya, tetapi di sekitar halaman itu ada tembok tinggi. Tembok inilah yang menjadi penjara kami. Bagaimana juga luasnya rumah dan pekarangan kami itu, bila harus senantiasa harus tinggal di sana, sesak juga rasanya. Teringat aku, betapa aku, karena putus asa dan sedih yang tiada terhingga, lalu menghempaskan badanku berulang-ulang pada pintu yang senantiasa tertutup itu, dan pada dinding batu bengis itu. Arah ke mana juga aku pergi, setiap kali putus juga jalanku oleh tembok batu atau pintu terkunci.

Seluruh dunia kami bumiputera tentu akan berubah juga. Masa perubahan sudah ditakdirkan oleh Allah, tetapi apabilakah? Itulah yang menjadi masalah. Datangnya waktu perubahan tidak dapat kami percepat. Kawan, di sini kami berkata, alangkah baiknya jika kami tidur dulu selama seratus tahun, dan ketika kami bangun kembali, barulah kami merasa sesuai dengan keadaan pada masa itu (Cuplikan Surat Kartini Kepada Nona Zeehandelaar, 6 NOvember 1899).

( Dikutip dari R.A. Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang, Jakarta: Balai Pustaka, 1949, terjemahan oleh: Armijn Pane).

Betapa pun Kartini meratapi dan menentang adat itu, kungkungan adat dan tradisi di lingkungnan keluarganya lebih kuat. Ia harus menyerah. Pada tanggal 8 November 1903 Kartini harus menikah dengan bupati Rembang, R. Adipati Djojo Adiningrat. Pada tanggal 13 September 1904 puteranya lahir, dan empat hari kemudian pada 17 September 1904 Kartini wafat.

2.2. Keprihatinan Kartini Terhadap Konflik Karena Agama

Pada masa kehidupan Kartini, konflik karena agama tampak telah menggejala dalam masyarakat Jawa. Kondisi ini dapat diketahui dari curahan hati Kartini dalam suratnya kepada Zeehandelaar sebagai berikut.

Agama itu maksudnya akan menurunkan rahmat kepada manusia, supaya ada silaturachim segala mahluk Allah. Kita sekalian bersaudara, bukan karena kita seibu sebapa, ialah ibu bapa kelahiran manusia, melainkan kita semuanya mahluk seorang Bapak, kepadaNya, yang bertahta di atas langit. Ya Tuhanku, ada kalanya aku berharap, alangkah baiknya jika tidak ada agama itu, karena agama itu, yang sebenarnya harus mempersatukan semua hamba Allah, sejak dari dahulu menjadi pangkal perselisihan dan perpecahan, menjadi sebab perkelahian, berbunuh-bunuhan yang sangat ngeri dan bengisnya. Orang yang seibu-sebapak berlawanan, karena berlainan cara mengabdi kepada Tuhan Yang Esa itu. Orang yang berkasih-kasihan dengan amat sangatnya, dengan amat sedihnya bercerai-cerai, karena berlainan tempat menyeru kepada Tuhan, Tuhan yang itu juga; berdirilah tembok pembatas hati yang berkasih-kasihan. Benarkah agama itu restu bagi manusia? Tanyaku kerap kali kepada diriku sendiri, dengan bimbang hati. Agama harus menjaga kita dari berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu? (Cuplikan surat Kartini kepada Nona Zeehandelaar, 6 November 1899)

2.3. Memperjuangkan Pendidikan Bagi Perempuan Bangsa Bumiputera

Kartini juga memperjuangkan perbaikan kehidupan rakyat bumiputera melalui pendidikan perempuan. Di bawah ini adalah pemikiran Kartini tentang pentingnya pendidikan bagi perempuan bumiputera.

Telah lama saya memikirkan perkara pendidikan, terutama dalam beberapa waktu yang terakhir ini. Pendidikan saya pandang sebagai kewajiban yang mulia dan suci. Saya pandang sebagai suatu kejahatan, jika saya melaksanakan usaha mendidik itu, tetapi saya belum mempunyai kecakapan yang penuh. Haruslah ternyata dulu, apakah saya sudah sanggup menjadi pendidik atau tidak. Menurut pendirian saya, pendidikan itu adalah pendidikan budi dan jiwa.

Rasa-rasanya kewajiban seorang pendidik belumlah selesai jika ia hanya mencerdaskan pikiran saja. Ia harus juga bekerja mendidik budi meskipun tidak ada hukum yang mewajibkan berbuat demikian. Saya bertanya kepada diri saya sendiri: sanggupkah saya? Saya yang masih perlu juga dididik ini?

Dengan sepenuh hati saya membenarkan pikiran suami nyonya, yang tertulis dalam surat edaran tentang perkara pengajaran bagi gadis bumiputera: “Perempuan itu jadi soko guru peradaban!”. Bukan karena perempuan dipandang cakap untuk itu, melainkan karena saya sungguh yakin bahwa dari perempuan itu akan timbul pengaruh yang besar akibatnya, baik memburukkan maupun membaikkan kehidupan. Dialah yang lebih dapat membantu memajukan kesusilaan manusia.

Dari perempuanlah pertama-tama manusia menerima didikannya. Di haribaannyalah anak itu belajar merasa, berpikir, dan berkata-kata. Makin lama makin tahulah saya, bahwa didikan yang mula-mula itu bukan tidak besar pengaruhnya bagi kehidupan manusia di kemudian hari. Betapakah ibu bumiputera itu sanggup mendidik anaknya, jika mereka sendiri tidak berpendidikan?

Karena itulah saya sangat gembira akan maksud mulia untuk menyediakan pendidikan dan pengajaran bagi gadis-gadis bumiputera. Sudah sejak lama saya maklum, bahwa itulah yang dapat mengubah kehidupan kami perempuan bumiputera yang sedih ini. Pengajaran bagi gadis-gadis itu bukan kepada perempuan saja akan mendatangkan rahmat, melainkan juga kepada seluruh masyarakat bumiputera (Cuplikan surat Kartini kepada Nyonya Abendanon, 21 Januari 1901)

(Dikutip dari R.A. Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang, Jakarta: Balai Pustaka, 1949, terjemahan oleh: Armijn Pane).

Demikianlah Kartini, dengan tanpa kesadaran dan pemahaman tentang konsep nasionalisme, ia telah peduli dan memiliki kepekaan yang sangat tinggi terhadap aspek-aspek kehidupan rakyat bumiputera yang harus diperbaiki dan ditingkatkan.

3. Boedi Oetomo: Tonggak Sejarah Nasionalisme Indonesia

3.1. Pembentukan Boedi Oetomo

Sampai dengan akhir abad ke-19, bangsa Eropa melihat orang bumiputera Indonesia masih “tidur nyenyak”, sedangkan bangsa kulit putih (Eropa) sudah melangkah jauh dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Kekuasaan bangsa Belanda atas bumi Indonesia pun sudah tidak dapat disangkal lagi. Perekrutan kepatuhan penduduk bumiputera (Inlander) kepada bangsa Eropa ditempuh antara lain dengan pemberlakuan sistem stratifikasi sosial dengan menempatkan orang bumiputera pada lapisan masyarakat terendah. Kondisi ini menimbulkan kesombongan dalam diri bangsa Eropa, dengan menganggap orang bumiputera sebagai kaum rendahan yang layak dipinggirkan dan dijadikan obyek.

Ilustrasi tentang kesadaran rakyat bumiputera di Jawa akan harga dirinya yang sangat direndahkan oleh bangsa Eropa dapat disimak melalui kesaksian Goenawan Mangoenkoesoemo, salah seorang pendiri Boedi Oetomo, sebagai berikut.

Kaum bumiputera mempunyai nilai tidak lebih dari sebuah keset kaki atau seekor anjing yang dilempari batu oleh anak-anak. Di dalam kereta api, trem, di sekolah-sekolah, di jalan raya, di kantor-kantor, di perkebunan-perkebunan, bangsa bumiputera senantiasa dipandang rendah dengan cara sangat menghina, dipandang sebagai bangsa tanpa tenaga dan tanpa kekuatan Bangsa bumiputera selalu menjadi obyek percobaan untuk pertanian, obyek pengamatan, dan sesuatu yang dianalisis dan dipelajari orang, serta sesuatu yang dapat ditulis untuk bahan-bahan ceramah ilmiah. (Goenawan Mangoenkoesoemo, 1918: 9).

Sistem penjajahan seperti itu mengandung benih-benih tenaga penentang dalam tubuhnya sendiri. Untuk kepentingannya, penjajahan melahirkan tenaga-tenaga yang pada saatnya akan menentang penjajahan sendiri. Boedi Oetomo (Het Schone Streven/Usaha-usaha yang Mulia) merupakan suatu bentuk tenaga penentang terhadap sistem kolonialisme Belanda.

Pada awal abad ke-20 pemerintah kolonial mulai mengusahakan kemajuan rakyat bumiputera, yang telah berpuluh tahun dieksploitasi melalui cultuur stelsel dan kemudian sistem liberal, yang telah menempatkan orang bumiputera sebagai tenaga kerja rendahan dengan gaji atau upah yang sangat rendah jika dibandingkan gaji para pekerja Eropa. Usaha untuk memajukan kehidupan rakyat bumiputera itu dilembagakan dalam politik etis yang mencakup terutama usaha untuk memajukan pengajaran. Namun demikian, masih banyak anak bangsa bumiputera tidak bisa bersekolah, karena orang tuanya miskin sehingga tidak mampu untuk membiayai pendidikan anak-anak mereka. Sebagai ilustrasi, pada awal abad ke-20 sebagian besar pekerja bumiputera di Jawa hanya menerima upah maksimal 1 gulden per hari, sedangkan biaya sekolah mencapai 10 gulden per bulan, dan masih ditambah 2,50 gulden untuk setiap mata pelajaran di luar paket yang telah ditentukan (Semarangsche Ambachtschool, School voor Opzichter en Machinisten, Verslag Over Het Jaar 1913, hlm. 43.)

Melihat kondisi ini, Wahidin Soediro Hoesodo, seorang dokter Jawa, berusaha keras untuk mengangkat derajat bangsanya dengan memperjuangkan pengadaan studie fonds (dana pendidikan) untuk anak-anak bangsa yang cerdas tetapi tidak mampu untuk memikul biaya pendidikan.

Pada tahun 1906-1907 dr. Wahidin mengunjungi berbagai tempat di pulau Jawa untuk memprogandakan gagasannya itu. Pada tahun 1907, Wahidin mengunjungi School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) di Weltevreden[†], Batavia (Jakarta). Idenya yang bagus ini diterima secara antusias oleh siswa-siswa STOVIA. Soetomo dan rekannya Goenawan Mangoenkoeoemo, yang ketika itu masih menjadi siswa STOVIA, memproklamasikan pendirian Boedi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908. Pembentukan Boedi Oetomo dihadiri dan didukung oleh siswa-siswa sekolah lainnya, yaitu Sekolah Pertanian (Landbouw School) di Bogor, Sekolah Dokter Hewan (Veeartsenij School) di Bogor, Sekolah Kepala Negeri (Hoofden School) di Magelang dan Probolinggo, Sekolah Malam untuk Penduduk (Burgeravondschool) di Surabaya, Sekolah Pendidikan Guru Bumiputera di Bandung, Yogyakarta, dan Probolinggo. Mereka bersepakat untuk menyerahkan pimpinan Boedi Oetomo kepada dr. Wahidin Soediro Hoesodo pada kongresnya yang pertama di Yogyakarta.

Kongres pertama diadakan di Yogyakarta pada tanggal 3-5 Oktober 1908. Kongres ini menerima secara baik rancangan anggaran dasar Boedi Oetomo dan memilih pengurus besar yang pertama, sebagai berikut: ketua: R.A. Tirtokoesoemo, bupati Karanganyar; wakil ketua: dr. Wahidin Soediro Hoesodo; sekretaris: M. Ng. Dwidjosewojo. Pada saat kongres yang pertama itu, Boedi Oetomo telah memiliki anggota sebanyak 1200 orang, 700 di antaranya adalah pejabat pemerintah dan kaum swasta (Soewarno, Sekretaris pertama Boedi Oetomo, dalam Soembangsih, Gedenkboek Boedi Oetomo, 1908 – 20 Mei 1918).

Soewardi Soerjaningrat menilai Wahidin Soediro Hoesodo sebagai bapak pergerakan rakyat, karena dari Wahidin lahirlah pikiran tentang kebangsaan yang mengkristal dalam diri organisasi Boedi Oetomo. Soewardi Soerjaningrat juga mengatakan bahwa setelah Kongres I Boedi Oetomo pada tanggal 5 Oktober 1908 di Yogyakarta, mulailah hidup de Indische Beweging (Pergerakan Hindia), pergerakan rakyat, yang bapak sejatinya adalah Wahidin Soediro Hoesodo (Soewardi Soerjaningrat dalam Nederlandsch Indiē Oud en Nieuw 1916-1917).

Pada awalnya, Boedi Oetomo memang hanya diperuntukkan bagi rakyat Jawa dan Madura, karena untuk mengajak suku-suku lain di Hindia Belanda, para pengurus Boedi Oetomo tidak memiliki keberanian mengingat usia mereka masih sangat muda, belum 20 tahun. Mereka belum mengetahui sejarah dan kebudayaan suku-suku lainnya, dan mereka juga menduga bahwa suku-suku lainnya itu memiliki cita-cita yang berbeda dari orang Jawa (Goenawan Mangoenkoesoemo, 1918).

Akan tetapi jika dilihat pada tujuannya, Boedi Otomo telah memiliki tujuan yang berskala nasional, karena telah ditujukan bagi seluruh rakyat Hindia Belanda (Indonesia). Tujuannya itu dapat dilihat pada kutipan di bawah ini.

Tujuan Boedi Oetomo adalah mengusahakan persatuan kaum Boemipoetera yang sedapat mungkin bersifat umum, sehingga akan tercapai Persatuan orang Jawa pada umumnya, dengan Boedi Oetomo hanya sebagai pelopor, yang tugas utamanya adalah untuk merancang cara-cara yang tepat untuk mencapai terwujudnya suatu pendidikan yang serasi bagi negara dan rakyat Hindia Belanda (Pengumuman Afdeeling Bestuur Boedi Oetomo, 1908).

Perhimpunan ini memberi kesempatan kepada setiap orang bumiputera yang ingin mengikuti pendidikan. Dalam surat edarannya, Soewarno, sekretaris pertama Boedi Oetomo mengatakan bahwa pengurus akan berusaha untuk menjadikan Boedi Oetomo sebagai Persaudaraan Nasional, yang tidak membedakan kesukuan, mazab, dan kepercayaan.

Dalam perjalanan sejarah pergerakan bangsa Indonesia, Boedi Oetomo telah menjadi impetus pertumbuhan dan perkembangan pergerakan rakyat yang berbentuk organisasi-organisasi modern. Oleh karena itu, hari kelahirannya, 20 Mei, diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Peringatan pertama terjadi pada tahun 1938, setelah Boedi Oetomo berfusi dengan Persatuan Bangsa Indonesia (PBI) dalam Partai Indonesia Raya (Parindra). Peringatan yang ke dua dilaksanakan pada tahun 1948, ketika Indonesia sedang menghadapi agresi Belanda yang ke dua. Setelah itu, tanggal 20 Mei selalu diperingati dengan upacara dan perayaan.

3.2. Kristalisasi Kesadaran Nasional

Bentuk-bentuk kesadaran Nasional Boedi Oetomo dapat disimak melalui usaha-usahanya dalam ruang lingkup budaya, ekonomi, dan politik.

Dalam lingkup budaya, sejak awal Boedi Oetomo telah menunjukkan kesadaran bahwa sudah saatnya untuk menggalang persatuan di kalangan orang Jawa, Madura, dan Sunda untuk mendidik rakyat bumiputera demi meningkatkan martabat dan harga diri bangsa. Melalui pendidikan, diharapkan rakyat bumiputera tidak lagi membiarkan diri mereka dicaci, dihina atau dipukuli oleh orang asing (Goenawan Mangoekoesoemo, 1918). Dalam rangka mengusahakan kesempatan bagi anak bangsa bumiputera untuk melanjutkan pendidikannya di sekolah-sekolah menengah, pada tanggal 23 Mei 1910, Boedi Oetomo mengajukan petisi kepada pemerintah kolonial agar memberikan mata pelajaran yang sama seperti sekolah-sekolah Eropa. Dengan demikian anak bumiputera dapat melanjutkan pendidikannya di STOVIA dan sekolah hukum serta sekolah-sekolah lanjutan atau menengah, yang menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar (Akira Nagasumi, 1989: 136-137).Dalam bidang budaya, Boedi Oetomo juga memperhatikan masalah-masalah kesusasteraan, seni tari, seni musik, dan harapan para anggotanya.(Goenawan Mangoenkoesoemo, 1918). Beberapa surat kabar yang menjadi media Boedi Oetomo adalah Boedi Oetomo (terbit pada 1 Juli 1910), dan Goeroe Desa (terbit pada September 1910, sejak 1916 menjadi tengah bulanan), dan Darmo Kondo. Semua itu merupakan bentuk kesadaran akan harga dan identitas diri bangsa.

Dalam lingkup ekonomi, Boedi Oetomo mengangkat masalah-masalah pertanian, industri kerajinan, dan masalah penyediaan lapangan pekerjaan. Melalui medium Goeroe Desa, Boedi Oetomo bertujuan untuk memperbaiki kesejahteraan rakyat pedesaan. Surat kabar ini berisi nasehat-nasehat tentang penggarapan tanah, pengelolaan perdagangan, pemeliharaan ternak, unggas, dan lebah. Usaha Boedi Oetomo dalam lingkup ekonomi yang lain adalah pembentukan koperasi dan persatuan dagang, seperti yang diusahakan oleh Boedi Oetomo Cabang Klaten (Akira Nagasumi, 1989: 139).

Pada tahun 1915, Boedi Oetomo telah melangkah ke arena politik. Pada saat itu, pemerintah kolonial menggulirkan wacana tentang milisi bumiputera untuk Pertahanan Hindia (Indië Weerbaar ). Kemunculan wacana ini dilatarbelakangi oleh kekhawatiran pemerintah kolonial terhadap cita-cita ekspansi Jepang ke seluruh wilayah Asia. Boedi Oetomo menjadi pendukung wacana milisi bumiputera ini, dengan mengajukan syarat bahwa anggotanya dapat diberi posisi dalam volksraad (dewan rakyat) yang diresmikan pada awal tahun 1918.

Pada awal dasa warsa ke-4 abad ke-20, Boedi Oetomo telah menunjukkan secara tegas karakter politik dan nasional. Pada kongresnya dalam bulan April 1931 di Jakarta, Boedi Oetomo telah mengambil keputusan untuk membuka diri bagi semua golongan dan suku bangsa di Indonesia. Pada tanggal 4 Januari 1931, di Surabaya lahir suatu organisasi ”Persatuan Bangsa Indonesia” (PBI), di bawah pimpinan dr. Soetomo. Kristalisasi kesadaran kebangsaan berjalan lebih jauh lagi dengan pengambilan keputusan dalam kongres Boedi Oetomo di Surakarta pada tanggal 21 Mei 1935 untuk menggabungkan Boedi Oetomo, Persatuan Bangsa Indonesia, dan perkumpulan-perkumpulan kedaerahan yang lain. Pengambilan keputusan ini berarti bahwa karakter kedaerahan Boedi Oetomo telah berakhir, dan organisasi baru yang merupakan hasil fusi itu telah menunjukkan sosok nasional Indonesia, Partai Indonesia Raya.

4. Simpulan

Dari pembahasan di atas dapat diambil simpulan sebagai berikut:

1. Pada Perempat terakhir abad ke-19, rasa kebangsaan (nasionalisme) telah diekspresikan oleh seorang gadis Jawa:Kartini. Ia berjuang dalam kesendirian, karena lingkungannya masih berpegang teguh pada adat yang sangat berlawanan dengan apa yang dipikirkan dan dicita-citakannya. Kekuatannya hanya berupa moral, karena ia belum memiliki sarana untuk mewujudkan pemikiran dan cita-citanya untuk meningkatkan martabat bangsanya.

2. Cita-cita dan pemikiran Kartini bukan bersumber dari dalam diri Kartini saja, tetapi juga berakar dari kondisi masyarakat bumiputera pada saat itu, yang telah menggelorakan semangat Kartini untuk berbuat sesuatu demi peningkatan kualitas hidup bangsa bumiputera. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa Kartini berbuat dalam fase penyadaran kebangsaan.

3. Kesadaran nasional pada perempat terakhir abad ke-19 dan pada awal abad ke-20 adalah kesadaran untuk membebaskan diri dari tradisi (feodal dan kolonial), serta merupakan gerakan untuk melawan negasi (pengingkaran) terhadap identitas bangsa.

4. Meskipun pada awalnya identitas yang ditemukan masih bersifat etnosentrik, Pemikiran-pemikiran Kartini dan usaha-usaha Boedi Oetomo telah menjadi alat simbolis untuk membangun solidaritas kelompok, khususnya di kalangan kaum terpelajar.

5. Pada awalnya Boedi Oetomo belum dapat dipandang sebagai organisasi yang berskala nasional, tetapi sebenarnya ia telah menunjukkan kesadaran diri, nilai kebebasan, kesamaan, dan penemuan identitas diri yang merupakan prinsip-prinsip dalam nasionalisme.

6. Boedi Oetomo berjasa betul dalam meletakkan batu pertama untuk pembangunan kesadaran nasional Indonesia.

7. Fajar nasionalisme Indonesia telah memberi pelajaran kepada kita bahwa nasionalisme itu adalah subyek yang harus diusahakan, dibangun, dikerjakan, dan diberi makna baru sesuai dengan tuntutan zamannya.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Taufik, Nasionalisme & Sejarah, Bandung: Satya Historika, 2001.

Anderson, Benedict, Imagined Communities Reflections on The Origin and Spread of Nationalism, London: Thetford Press Limited, 1983.

Blumberger, J.Th. Petrus, De Nationalistische Beweging in Nederlandsch Indië, Dordrecht-Holland: Foris Publications, 1987.

Kartini, R.A. Habis Gelap Terbitlah Terang, Jakarta: Balai Pustaka, 1949, terjemahan oleh: Armijn Pane.

Kartodirdjo, Sartono, Pembangunan Bangsa tentang Nasionalisme, Kesadaran dan Kebudayaan Nasional, Yogyakarta: Aditya Media,1993.

Kohn, Hans, Nasionalisme Arti dan Sejarahnya, Jakarta: PT Pembangunan dan Penerbit Erlangga, 1984.

Mangoenkoesoemo, Goenawan, “De Geboorte van Boedi Oetomo” dalam Soembangsih Gedenkboek Boedi Oetomo 1908, 20 Mei 1918.

Nagasumi, Akira, Bangkitnya Nasionalisme Indonesia Budi Utomo 1908-1918, Jakarta: PT Grafiti Press & KITLV, 1989.

Riff, Michael A., Kamus Ideologi Politik Modern, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995.

Ricklefs, M.C. A History of Modern Indonesia, Houndmills, Basingstoke, Hampshire and London: Macmillan Education LTD, 1981.

Romein, J.M., Aera Eropa Peradaban Eropa Sebagai Penyimpangan dari Pola Umum, Jakarta: NV Ganaco, 1956.

Rukardi, Kontroversi Kebangkitan Nasional dalam Suara Merdeka, Minggu, 18 Mei 2008.

Soeharto, Pitoet, dan Zainoel Ihsan, Cahaya di Kegelapan Capita Selecta Kedua Boedi Oetomo & Sarekat Islam Pertumbuhannya dalam Dokumen Asli, Jakarta: Jayasakti, 1981.


[*] Dewi Yuliati adalah dosen di Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro, Semarang. Makalah ini dipresentasikan dalam Sarasehan Sejarah Regional Daerah, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah, di Hotel Pondok Tingal Magelang, 23 Mei 2009.

[†] Sekarang: Jakarta Pusat.

Gambang Semarang (August 11th, 2009 by dewiyuliati)

KESENIAN GAMBANG SEMARANG: SUATU BENTUK INTEGRASI

BUDAYA JAWA DAN CINA

Oleh: Dewi Yuliati[*]

Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Diponegoro

ABSTRACT

Gambang Semarang is a traditional performing art which was born and officially developed in Semarang since the third decade of the twentieth century. This performing art is one of the forms of cultural integration between the Javanese and Chinese Culture. There are controversial opinions about the origin of this performing art. Each opinion has an acceptable argument. Apart from that controversy , Gambang Semarang has been actually possesed and developed by Semarang’s people until now, so this performing art is very potential to become Semarang’s cultural identity.

I. Pendahuluan

Gambang Semarang adalah salah satu kesenian yang lahir dan berkembang di Semarang, yang menampilkan unsur-unsur seni musik, vokal, tari dan lawak. Jika dilihat pola garapannya, Gambang Semarang dapat dikategorikan sebagai kesenian tradisional kerakyatan, karena ia berkembang di kalangan rakyat jelata, telah menempuh perjalanan sejarah yang cukup lama, dan perkembangannya tetap bertumpu pada unsur-unsur seni yang telah dimilikinya sejak dulu.

Pada umumnya kesenian tradisional diartikan sebagai suatu kesenian yang tumbuh dan berkembang di daerah tertentu, yang didukung oleh masyarakat setempat.1 Gambang Semarang pun lahir karena inisiatif dan dukungan masyarakat Semarang yang ingin memenuhi kebutuhannya akan kesenian.

Berdasarkan fungsinya sebagai tontonan, Gambang Semarang merupakan seni pertunjukan communal support, karena selama ini biaya produksi kesenian itu selalu ditanggung oleh masyarakat penyelenggara

pertunjukan, sedangkan penontonnya adalah anggota masyarakat yang hadir tanpa membayar. Dengan kata lain Gambang Semarang hanya bermain apabila ada permintaan, dan pihak yang “nanggap” itu menanggung seluruh biaya pentas.

Gambang Semarang dipentaskan dalam berbagai event seperti perayaan tahun baru Cina di klenteng-klenteng, acara pernikahan, khitanan, karnaval “dugderan” (perayaan menyambut bulan suci Ramadhan), penyambutan turis mancanegara, pasar malam di berbagai kota, dan sebagainya. Dalam setiap pementasan tampak ada urutan penyajian.

Urutan penampilan kesenian Gambang Semarang adalah sebagai berikut. Pertunjukan dimulai dengan lagu pembukaan yang berupa instrumentalia. Lagu-lagu yang biasa disajikan untuk pembukaan adalah “Cepret Payung”, “Kicir-kicir”, “Jangkrik Genggong”, dan lagu-lagu lain. Setelah itu disajikan vokal-instrumental dengan lagu-lagu antara lain: “Awe-awe”, “Lenggang Surabaya”, “Puteri Solo”, “Aksi Kucing”, atau lagu-lagu yang cocok dengan iringan musik Gambang Semarang. Penyajian berikutnya adalah tari dengan iringan lagu “Empat Penari” atau lagu-lagu yang lain . Apabila dilihat secara sepintas tari dalam seni pertunjukan Gambang Semarang tidak memiliki aturan-aturan gerak yang baku. Akan tetapi jika diperhatikan secara cermat, tari tersebut memiliki unsur-unsur gerak tari yang disebut lambeyan, genjot, ngondek, dan ngeyek. Selanjutnya ditampilkan selingan lawak dengan tema yang disesuaikan dengan kondisi aktual. Kadang-kadang para pelawak juga menyanyikan lagu-lagu yang cocok untuk dibawakan secara bersahutan seperti lagu “Jali-jali”. Syair lagunya sering diganti dengan kata-kata lucu untuk saling mengejek, menyindir, atau bermuatan kritik. Pertunjukan ini diakhiri dengan lagu-lagu penutup atau lagu-lagu yang memuat kata-kata “pamit” seperti “Walang Kekek” , “Keroncong Kemayoran”, dan “Jali-jali”.

II. Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian sejarah. Dengan demikian metode yang dipergunakan adalah metode historis yaitu mencari, menemukan, dan menguji sumber-sumber sehingga dapat diperoleh fakta sejarah yang otentik dan kredibel. Kemudian fakta-fakta sejarah yang masih fragmentaris itu disusun dan ditulis dalam suatu kisah yang sistematis, utuh, dan komunikatif. Untuk mencapai penulisan sejarah yang demikian, diperlukan suatu penelitian yang tidak saja berdasarkan pada pertanyaan-pertanyaan pokok “apa”, “siapa”, “kapan”, dan “di mana”, tetapi juga berlandaskan pada pertanyaan-pertanyaan “bagaimana”, “mengapa”, serta “apa jadinya”. Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan pokok adalah fakta sejarah serta unsur-unsur yang turut membentuk peristiwa di tempat dan pada waktu tertentu. Jawaban terhadap pertanyaan “bagaimana” merupakan rekonstruksi yang menjadikan semua unsur itu terkait dalam suatu diskripsi yang disebut sejarah. Jawaban terhadap pertanyaan “mengapa” dan “apa jadinya” akan menerangkan hubungan kausalitas.2

III. Gambang Semarang: Sarana Integrasi Budaya Jawa dan Cina

Mengungkap sejarah Gambang Semarang merupakan pekerjaan yang tidak mudah, sebab perjalanan hidupnya tidak meninggalkan jejak-jejak tertulis. Namun demikian, upaya untuk merekonstruksi sejarah Gambang Semarang masih tetap dapat dilakukan dengan metode sejarah lisan. Saksi-saksi sejaman, baik para seniman Gambang Semarang maupun orang-orang yang pernah menonton kesenian itu, masih dapat memberikan kesaksian-kesaksian. Sumber-sumber lisan tersebut mempunyai nilai yang sangat berharga bagi penulisan sejarah Gambang Semarang. Pada umumnya mereka sudah tua, sehingga terbuka kemungkinan bahwa Gambang Semarang tidak akan dapat terungkap sejarahnya apabila mereka sudah tidak dapat mengingat lagi atau bahkan meninggal.

Sampai saat ini asal-usul kesenian Gambang Semarang masih diperdebatkan. Banyak orang mengatakan bahwa Gambang Semarang adalah kesenian “import” dari Betawi, karena memang dulu alat-alat musiknya pernah dibeli dari Jakarta dan tidak berbeda dengan alat-alat musik Gambang Kromong yang terdiri atas: gambang, bonang (kromong), suling, kendang, gong, kecrek, alat gesek (sukong dan kongahian atau tehian), dan terompet.3 Akan tetapi, sebaliknya, ada suatu pernyataan bahwa kesenian Gambang Kromong justru berasal dari Semarang. Kesenian ini dibawa oleh para imigran Cina yang langsung menuju Semarang. Di sini mereka mengembangkan kesenian yang dikenal dengan Gambang Semarang.4 Masing-masing pernyataan tersebut dapat dijelaskan dengan dasar-dasar historis sebagai berikut.

Pernyataan pertama didasari oleh kenyataan bahwa pada saat kesenian Gambang Semarang dibentuk secara melembaga, alat-alat musik dan juga pelatihnya memang didatangkan dari Jakarta. Pembentukan kesenian ini tidak dapat terlepas dari peranan Lie Hoo Soen, yang pernah menjadi anggota volksraad (Dewan Rakyat) Semarang. Ia dilahirkan pada tanggal 5 April 1898 di Semarang, dan meninggal pada tahun 1986. Pada sekitar tahun 1930, ketika ia masih menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat), ia pernah membicarakan dalam Dewan tentang kebutuhan Kota Semarang akan kesenian. Sebagai penggemar musik keroncong dan pengurus organisasi kesenian “Krido Hartojo”, Lie Hoo Soen mempunyai gagasan untuk menciptakan kesenian khas Semarang. Gagasannya ini disampaikannya kepada walikota Semarang saat itu, Boissevain. Walikota menyetujui usulan Lie Hoo Soen, dan memerintahkannya untuk membeli alat-alat musik Gambang Kromong di Jakarta. Setelah alat-alat musik tersedia, latihan-latihan segera diadakan dan kesenian Gambang Aemarang telah dapat dipentaskan pada tahun 1932.5

Akar historis pernyataan kedua dapat dijelaskan dengan mempelajari berbagai sumber. Pada sekitar tahun 1416 orang-orang Cina mendarat di Semarang. Mula-mula mereka mendarat di Banten, kemudian berpencar ke tempat-tempat lain seperti Jepara, Lasem, Rembang, Demak, Buyaran, dan Semarang. Orang Cina yang datang pertama kali di Semarang ialah Sam Po Tay Djin. Di sini ia meninggalkan suatu monumen terkenal “Klenteng Gedong Batu”. Daerah di sekitar “Klenteng Gedong Batu” ini merupakan tempat pemukiman orang-orang Cina yang pertama di Semarang.6 Sam Po adalah seorang pelaut, yang diperintahkan oleh kaisar dinasti Ming, Bing Sing Tjouw, untuk mengunjungi dan menaklukkan berbagai negeri di daerah Pasific sampai ke Arabia. Ketika mereka berlayar di sepanjang pantai utara pulau Jawa, seorang pembantu Sam Po, Ong King Hong, menderita sakit. Oleh karena itu, Sam Po memerintahkan agar kapalnya berlabuh dulu di sebuah tanjung, yang kini menjadi pelabuhan Semarang. Setelah itu mereka berlayar ke pedalaman dengan menyelusuri Kali Garang. Dalam pelayaran itu, tidak jauh dari pantai, mereka menemukan sebuah gua yang kemudian dijadikan persinggahan oleh Sam Po. Para pengikut Sam Po membangun sebuah rumah kecil untuk si sakit Ong King Hong. Sam Po memberikan obat-obatan kepada Ong King Hong. Setelah Ong King Hong sembuh, Sam Po melanjutkan perjalanannya, sedangkan Ong King Hong memilih untuk tinggal di daerah itu bersama dengan 10 orang pengikut, sebuah kapal, dan dengan perbekalan yang cukup banyak.

Setelah merasa sehat dan kuat, Ong King Hong menyuruh para pengikutnya untuk membersihkan lingkungan, menanam tanaman-tanaman, dan membangun rumah. Ong King Hong tidak kembali ke negeri Cina, tetapi ia dan para pengikutnya melakukan pelayaran perdagangan di sepanjang pantai utara Jawa. Para pengikutnya mengambil istri orang-orang Indonesia, dan daerah itu berkembang menjadi tempat yang ramai dan subur.

Seperti Sam Po, Ong King Hong adalah seorang Muslim yang taat, dan ia pun mengajarkan moral, kebenaran, serta praktik-praktik agama Islam kepada para pengikutnya. Ia juga mendorong para pengikutnya untuk mencapai prestasi tinggi seperti Sam Po. Ia memiliki patung kecil Sam Po yang diletakkannya dalam gua, dan ia menyuruh para pengikutnya untuk memujanya pada hari-hari tertentu. Ong King Hong meninggal pada usia 87 tahun, dan dimakamkan secara muslim. Di kalangan orang Jawa, Ong King Hong dikenal dengan sebutan Kiai Juru Mudi Dampo Awang, dan makamnya diziarahi baik oleh orang Jawa maupun Cina pada hari-hari tertentu dalam tahun Jawa. Sam Po juga mendapat nama penghormatan, yaitu Sam Po Tay Jin, yang berarti Sam Po yang besar. Pada hari-hari tertentu dalam tahun Cina, patung Sam Po juga diziarahi oleh orang-orang Cina.7 Dalam perkembangan, petilasan Sam Po dan makam Ong King Hong ini terkenal dengan sebutan klenteng Gedong Batu. Setelah berakhirnya perang antara Cina dan kompeni Belanda di Semarang yang berlangsung pada tanggal 14 Juni – 13 Nopember 1741, atas perintah kompeni, masyarakat Cina di daerah Gedong Batu harus pindah ke tempat yang sudah ditentukan yakni Kampung Pecinan.8

Menurut sumber lain, sebelum itu ternyata sudah ada masyarakat Cina di Semarang. Hal ini dapat dilihat pada Catatan Tahunan Semarang dan Cirebon yang memberitakan bahwa pada tahun 1413 armada Tiongkok Dinasti Ming singgah di Semarang selama satu bulan untuk perbaikan kapal. Laksmana Haji Sam Po Bo, Haji Ma Hwang, dan Haji Feh Tsin sering melakukan sholat di masjid Tionghoa Hanafi di Semarang.9

Pada akhir abad ke-17 Semarang menjadi salah satu tujuan para imigran Cina, di samping Batavia dan Surabaya. Kehadiran orang-orang Cina di wilayah Indonesia pada akhir abad ke-17 didorong oleh dua faktor penting yaitu jatuhnya dinasti Ming (1368-1644) serta dibukanya kembali perdagangan antara Cina dan wilayah Asia Tenggara pada tahun 1683. Para imigran tersebut berasal dari daerah-daerah pantai bagian Selatan daratan Cina yaitu Amoy, Kanton, dan Makao, dan banyak di antara mereka menemukan jalan ke Semarang. Ong Tae-Hae, seorang Cina yang berasal dari Fukien, yang pernah tinggal di Indonesia (1783-1791), mengatakan bahwa di Batavia terdapat sebuah gedung yang dikenal sebagai “Loji Semarang”. Para pendatang Cina, yang ingin meneruskan perjalanan mereka ke Jawa Tengah, akan menginap di gedung itu sampai mereka mendapatkan perahu-perahu yang dapat mengangkut mereka ke Semarang.10 Sebagian besar masyarakat Cina di Semarang menghuni daerah perkotaan dan mereka membaurkan diri dalam kebudayaan Jawa.11

Ong Tae-hae juga memberikan gambaran tentang keinginan orang-orang Cina untuk membaur dalam masyarakat Jawa sebagai berikut. Orang-orang Cina yang menetap di perantauan selama beberapa keturunan dan tanpa pernah kembali ke negeri asal mereka, sering mencontoh bahasa, makanan, dan pakaian penduduk asli dan belajar Al Qur’an. Mereka tidak merasa enggan untuk menjadi orang Jawa, ketika mereka telah menjadi pemeluk agama Islam. Mereka tidak memakan daging babi, dan berasimilasi dengan adat-istiadat penduduk asli. Dalam perjalanan waktu, pemerintah kolonial Belanda menempatkan mereka di bawah pengawasan seorang kapten (seorang Kapitan Cina Peranakan).12

Suatu saluran pembauran yang penting adalah perkawinan antara para pedagang Cina dan kalangan bangsawan Jawa, karena dengan perkawinan itu, mereka dapat memperoleh kedudukan tinggi dalam pemerintahan.13 Perkawinan antara pendatang Cina dan perempuan Jawa sangat mungkin terjadi, karena pada umumnya mereka yang pergi merantau adalah orang laki-laki saja. Hal Ini dapat terjadi, sebab adat Cina pada saat itu melarang kaum wanita keluar dari halaman rumah, apalagi pergi jauh. Dengan demikian banyak imigran Cina menikah dengan wanita pribumi, yang kemudian dapat memasukkan kebiasaan-kebiasaan pribumi dalam keluarganya seperti memakai kain dan baju kurung panjang, memotong gigi, memakan sirih, jongkok-menyembah dan sebagainya.14

Dalam hal berkesenian, juga terjadi asimilasi. Kondisi ini dapat dilihat antara lain pada saat masyarakat Cina di Semarang merayakan terbentuknya Republik Cina pada tahun 1911. Perayaan diselenggarakan di pemukiman Cina, yang tidak hanya dimeriahkan dengan orkes, tetapi juga dengan gamelan.15 Dulu masyarakat Cina di Jawa, terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur, mempunyai kesenian tersendiri yang dinamakan orkes “pat-iem”. Kesenian ini dimainkan terutama di pemakaman Cina. Anehnya, seluruh pemain orkes tersebut adalah orang Jawa.16 Kwa Tong Hay, seorang Cina Semarang, menuturkan bahwa alat-alat musik “pat-iem” terdiri alat alat petik, gesek, dan alat tiup yang berupa terompet kecil.17

Jika diamati, dalam kesenian Gambang Semarang juga terdapat perpaduan antara unsur budaya Cina dan Jawa. Alat-alat musiknya terdiri atas instrumen Cina (kongahian , shu kong, kecrek, dan suling) dan instrumen Jawa (bonang, gambang, dan gong). Dulu para penari dan penyanyi wanita (kebanyakan orang Cina) memakai kain sarung batik “Semarangan”, kebaya “encim” (terbuat dari kain polos yang dibordir pada bagian pergelangan tangan dan sudut-sudut bagian depan), serta gelung konde. Pada mulanya para pemain musiknya terdiri dari orang-orang Jawa dan Cina. Banyak lagu yang didendangkan berirama mandarin, di samping lagu-lagu keroncong.

Sebelum Gambang Semarang dilembagakan sebagai suatu perkumpulan kesenian di Semarang, ada kemungkinan bahwa kesenian tersebut merupakan kesenian “kelilingan” (dalam bahasa Jawa “mbarang”). Hal ini dapat disimak dari penuturan Soengkono (berusia 74 tahun, tinggal di Jalan Menteri Supeno Selatan 1115 D Semarang). Pada sekitar tahun 1930 Soengkono pernah menyaksikan pentas kesenian yang alat-alat musiknya terdiri atas gambang, terompet kecil, kencreng, dan alat musik gesek. Pentas yang paling mengesankan baginya adalah pentas di taman Balai Kambang, milik pribadi seorang pengusaha kaya Oei Tiong Ham, yang terletak di Gergaji. Setahun sekali, dalam rangka menyambut hari lebaran, Oei Tiong Ham membuka taman Balai Kambang untuk dikunjungi segenap lapisan masyarakat. Kesenian tersebut pernah pentas di Balai Kambang untuk merayakan hari lebaran. Selain di Balai Kambang, kesenian ini juga pernah pentas di makam Cina “Bong Bunder” (di belakang SMU Negeri I Semarang) dan di klenteng-klenteng. Ternyata, pentas kesenian tersebut dapat menarik perhatian masyarakat dari berbagai daerah lain seperti: Cirebon, Betawi, Surabaya, Kudus, Rembang, Pekalongan dan sebagainya. Soengkono menggambarkan kesenian itu bernuansa Cina dan Jawa. Suara gambang dan tiupan terompet serta bunyi kencreng merupakan perpaduan suara musik Jawa dan Cina. Nuansa Cina dan Jawa dalam kesenian tersebut juga dapat dilihat pada busana yang dipakai oleh penyanyi dan penari yaitu kebaya bordir dan sarung pesisiran. Soengkono mengatakan bahwa kesenian itu dikenal dengan Gambang Semarang.18 Sumber-sumber tersebut di atas dapat memperkuat dugaan bahwa Gambang Semarang yang dikoordinasi oleh Lie Hoo Soen merupakan suatu bentuk pengembangan kesenian yang pernah ada sebelumnya di kota Semarang.

Perpaduan antara unsur-unsur seni Cina dan Jawa dalam Gambang Semarang merupakan salah satu gambaran bahwa di kalangan masyarakat Semarang telah terjadi proses asimilasi atau integrasi antara unsur-unsur budaya pribumi dan budaya Cina. Terlepas dari kontroversi mengenai asal-usul Gambang Semarang, tidak dapat diingkari bahwa kesenian itu lahir atas prakarsa masyarakat Semarang sendiri dan sampai kini juga masih dibutuhkan serta diperhatikan oleh banyuak pihak di Semarang. Lagi pula, Gambang Semarang terus mengalami pengembangan sesuai dengan selera masyarakat Semarang. Sebagai contoh, lagu-lagu yang disajikan tidak hanya lagu-lagu Betawi, tetapi juga lagu-lagu khas Gambang Semarang seperti “Gambang Semarang”, “Impian Semalam”, “Aksi Kucing”. Di samping itu juga ditampilkan lagu-lagu khas Jawa Tengah: “Jangkrik Genggong”, “Walang Kekek”, dan lagu-lagu kroncong.

Prakarsa Lie Hoo Soen untuk mengembangkan Gambang Semarang pada tahun 1930-an , yang mengikutsertakan baik orang Cina maupun pribumi merupakan suatu gejala, bahwa ketika itu telah tumbuh semangat integratif, dan kesenian ini dapat menampung semangat itu secara baik. Dalam berkesenian harus selalu ada kerjasama dan komunikasi yang bagus agar dapat dihasilkan produk yang baik pula. Kesenian ini terus dikembangkan dalam suasana integratif, dan pengembangannya dilakukan oleh berbagai kalangan masyarakat di Kota Semarang yang meliputi perorangan, pemerintah, perhotelan, dan juga kalangan perguruan tinggi.

Pada saat Lie Hoe Soen ingin membentuk perkumpulan kesenian di Semarang, di kota ini memang sudah ada orang-orang yang potensial untuk menyelenggarakan kesenian tersebut yakni Mak Irah dan Mak Royom (kakak Mak Irah). Mereka adalah orang-orang pribumi yang berasal dari Ciputat, Jakarta. Sebelum pindah ke Semarang, di Jakarta mereka berkarya sebagai seniwati Gambang Kromong. Sebagaimana dikisahkan oleh Jayadi (keponakan Mak Irah) , Mak Irah memutuskan untuk merantau ke kota lain bersama Mak Royom, karena ia mengalami kekecewaan dalam hidup perkawinannya. Oleh orang tuanya Mak Irah dijodohkan dengan seorang Cina yang telah lanjut usia. Dari perkawinannya itu Mak Irah memperoleh nama Cina “Oei Cing Moi”. Pada saat itu di Jakarta, khususnya di kalangan seniman Gambang Kromong, para penyanyi (Tjio Kek) pribumi diberi nama Cina yang diambil dari nama-nama bunga indah seperti Bwee Hoa, Han Siauw, Bouw Tan dan sebagainya.19 Setelah mempunyai seorang anak, ternyata Mak Irah tidak sanggup lagi untuk mempertahankan rumahtangganya, dan akhirnya ia meninggalkan suaminya. Ada kemungkinan bahwa pada saat itu di Semarang sudah berkembang suatu kesenian yang serupa dengan Gambang Kromong di Jakarta, sehingga Mak Irah dan Mak Royom dapat bergabung dalam kesenian itu. Setelah menyaksikan kemahiran Mak Irah dalam menari, pada suatu hari Lie Hoo Soen menjumpai Mak Irah untuk membicarakan kemungkinan mengadakan pertunjukan Gambang Kromong di Semarang. Pertunjukan ini dimaksudkan terutama untuk merayakan hari besar di klenteng- klenteng. Mengingat pada waktu itu di Semarang belum ada pemain musik Gambang Kromong, Mak Irah pergi kembali ke Ciputat Jakarta untuk menemui adiknya, Subadi, seorang seniman Gambang Kromong. Bagi Mak Irah, kesempatan yang ditawarkan oleh Lie Hoo Soen merupakan keberuntungan, karena di Ciputat yang merupakan basis Islam Muhammadiyah masyarakatnya kurang menyukai kesenian Gambang Kromong. Atas dasar pertimbangan bahwa Semarang lebih memungkinkan untuk hidup dengan bekal keahlian kesenian Gambang Kromong, Mak Irah mengajak Subadi untuk pindah ke Semarang. Subadi adalah pemain Gambang Kromong yang serba bisa. Selain dapat memainkan seluruh alat musik dalam kesenian itu, khususnya alat gesek (sukong, kongahian, tehian dan yana), Subadi juga bisa menyanyi dan melawak. Akhirnya, tiga bersaudara itu memutuskan untuk tinggal di Semarang dan berkarya sebagai seniman dalam grup kesenian yang dibina oleh Lie Hoo Soen.20 Oleh karena pada saat itu di Semarang belum banyak orang yang mahir dalam kesenian Gambang Kromong, Subadi diminta oleh Lie Hoo Soen untuk melatih para pemain musik dalam kesenian yang dipimpinnya yaitu: Tan Hok Gie (pemain kromong), Nyo Ping Liong (pemain kendang), Liem Han Hing (pemain Gong), Mintoni ( pemain sukong), Oei Tek Bie (pemain gim), Oei Tiong Oen (pemain biola), Untung (pemain suling), Lim Tik No (pemain samhian), Poei Tjo Dwan (pemain kongahyan), Tjiam Bok Swie (pelatih, pemain gambang). Dalam perkembangan, kesenian yang diorganisasi oleh Lie Hoo Soen ini dikenal dengan Gambang Semarang. Kesenian ini tidak hanya tersohor di Semarang, tetapi juga di kota-kota lain, terutama pada saat diselenggarakan pasar malam. Beberapa kota yang pernah mengundang kesenian Gambang Semarang untuk meramaikan pasar malam adalah Kudus, Pati, Juwana, Temanggung, Parakan, Wonosobo, Magelang, Weleri, Pekalongan, dan Cirebon. Betapa terkenal kesenian ini, sehingga pada tahun 1940 tercipta suatu lagu dengan judul “Empat Penari”. Lagu tersebut tercipta atas kerja sama antara Oei Yok Siang, pembuat lagu, dan Sidik Pramono, penulis syair lagu. Kedua seniman ini bertempat-tinggal di Magelang. Sidik Pramono adalah pemain orkes Perindu di Magelang. Pada tahun yang sama lagu “Gambang Semarang” telah disiarkan pertama kali oleh orkes Perindu di studio Laskar Rakyat Magelang dengan biduanita Nyi Ertinah.21 Berikut ini ditampilkan syair lagu tersebut secara lengkap:

Empat penari, kian kemari

jalan berlenggang, aduh ………..

sungguh jenaka menurut suara

Irama Gambang

Sambil menyanyi, jongkok berdiri

kaki melintang, aduh …………..

langkah gayanya menurut suara

Gambang Semarang

Bersuka ria, gelak tertawa

Semua orang, karena ……………

Hati tertarik grak grik

si tukang kendang

Sambil menyanyi, jongkok berdiri

kaki melintang, aduh …………..

langkah gayanya menurut suara

Gambang Semarang.

Syair lagu tersebut dapat dipahami sebagai suatu kesaksian dan ekspresi perasaan terkesan akan nilai estetis yang ditampilkan oleh kesenian Gambang Semarang. Di samping lagu “Empat Penari”, Oei Yok Siang juga menciptakan lagu-lagu lain yang cocok dengan iringan musik Gambang Semarang seperti “Aksi Kucing” dan “Impian Semalam”.

Penari-penari tempo dulu yang sangat terkenal adalah Mak Irah (periode tahun 1930-an sampai dengan tahun 1940-an) dan nyonya Sam (periode tahun 1950-an sampai dengan tahun 1970-an). Jika Mak Irah terkenal dengan kecantikannya, nyonya Sam sangat dikagumi karena berpinggul besar dengan gerakan-gerakan pinggulnya ngondek, dan ngeyek. Dengan wajah yang cantik, tubuh yang bagus, dan suara yang merdu, Nyonya Sam terkenal sebagai primadona Gambang Semarang. Jika nyonya Sam pentas, pengunjung berdatangan dari berbagai tempat untuk menyaksikan sang primadona itu.

Suatu kenangan akan keindahan Gambang Semarang juga dinyatakan oleh Hartono, seorang seniman lukis kelahiran Surakarta. Ketika masih remaja, pada tahun 1940 Hartono pernah menyaksikan pertunjukan Gambang Semarang di Taman Sriwedari Surakarta untuk merayakan Idul Fitri. Penampilan empat penari yang diiringi lagu Gambang Semarang merupakan puncak pertunjukan tersebut. Ternyata para penari dengan gerakan goyang pinggul mampu mengundang tepuk tangan masyarakat Surakarta yang berselera halus. Lagu Gambang Semarang yang bernuansa Jawa-Mandarin, sejak saat itu, dinyanyikan juga oleh para seniman di Surakarta. Lebih lanjut Hartono menceriterakan bahwa pada tahun 1949 ia juga pernah menonton Gambang Semarang di Kampung Senjoyo Semarang dalam suatu pesta perkawinan. Menurutnya ada suatu atraksi yang sangat lucu dalam pertunjukan tersebut. Pelawak laki-laki, yang mengenakan sarung batik “semarangan”, mencengkal bagian depan sarungnya, sehingga ketika ia bergoyang bersama penari, “cengkal” tersebut menggambarkan alat vitalnya.22

Dengan memperhatikan kisah Hartono ini muncul suatu dugaan bahwa dulu penciptaan gerak-gerak tari dalam kesenian Gambang Semarang telah diilhami oleh suatu sense erotis yang tersirat dalam suatu nyanyian Cina yang populer pada saat itu yaitu “Sipatmo”. Nyanyian ini juga merupakan salah satu lagu dalam kesenian Gambang Kromong di Jakarta.23 “Sipatmo” berarti delapanbelas rabaan yang merupakan gerakan-gerakan manusia ketika melakukan persetubuhan.24 Makna “Sipatmo” ini dapat diduga mempengaruhi gerak-gerak tari dalam kesenian Gambang Semarang. Gan Kok Hwi, seorang Cina Semarang yang pernah menyaksikan Gambang Semarang pada tahun 1960-an, menuturkan bahwa dalam pertunjukan tersebut ditampilkan sebuah lagu Cina yang dinyanyikan dengan gerak-gerak erotis. Gerakan dari jongkok sampai berdiri dengan gerak tangan yang “usap-mengusap” sering dapat mengundang penonton naik panggung untuk ikut menari.25 Gerakan erotis ini menjadi ciri primadona Gambang Semarang periode tahun 1950-an Nyonya Ong Sam Nio (Nyonya Sam) . Masyarakat penikmat Gambang Semarang masa itu sangat terkesan akan gerakan erotis nyonya Sam, sehingga muncul suatu sebutan untuknya “egolane serrr, kayak lele”.26 Menurut Tutik, mantan penari Gambang Semarang, penari-penari lain yang sejaman dengan nyonya Sam yaitu Cik Swan, Cik Ling, dan Sus Mi. Tutik mengaku bahwa ia tertarik ikut menjadi penari dalam kesenian itu karena ia pernah menonton nyonya Sam menari. Menurutnya gerak tari nyonya Sam terasa enak untuk dipraktikkan.27

Pada tahun 1942, ketika Gambang Semarang pentas di arena Pasar Malam Magelang, terjadi pertempuran dengan Jepang. Para pemain Gambang Semarang menyelamatkan diri dan peralatan musiknya ditinggalkan begitu saja, sehingga hilang. Mak Royom pun tidak diketahui nasibnya. Apakah ia masih hidup atau sudah meninggal, tidak seorang pun mengetahuinya. Dengan terjadinya peristiwa itu Gambang Semarang bubar, dan selama beberapa tahun tidak ada pentas. Walaupun telah terjadi peristiwa yang menyeraiberaikan para pemain Gambang Semarang serta memusnahkan peralatan musiknya, ternyata kecintaan orang Semarang terhadap kesenian tersebut tidak pernah hilang. Hal ini terbukti pada tahun 1949 muncul lagi seorang pemerhati Gambang Semarang yang bernama The Lian Kian, bertempat tinggal di Kampung Seong Semarang. Karena alat-alat musik Gambang Semarang sudah hilang, ia membeli instrumen Gambang Kromong di Betawi. Subadi masih tetap diminta untuk melatih para pemain musik kesenian ini. Akan tetapi, The Lian Kian tidak bertahan lama dalam mengelola Gambang Semarang, karena ia kalah judi. Pengelolaan Gambang Semarang dilanjutkan oleh Yauw Tia Boen (lebih dikenal dengan panggilan “Cik Boen”), yang juga bertempat tinggal di Kampung Seong. Di samping Gambang Semarang, Cik Boen juga mengkoordinasi perkumpulan musik “Irama Indonesia” yang menyajikan berbagai warna musik seperti jaz, keroncong, dangdut, dan lagu Barat. Ketika dikelola oleh Cik Boen, Gambang Semarang mengalami inovasi dalam berbagai unsur seninya. Alat-alat musiknya dilengkapi dengan bass, saxofon, klarinet, orkes keroncong, alat musik tiup, dan drum. Dengan demikian nyanyiannya juga ikut berkembang. Pada saat itu dalam kesenian Gambang Semarang dinyanyikan juga lagu-lagu Barat.28 (wawancara dengan Jayadi, tanggal 13 Maret 1998). Cik Boen juga merekrut para seniman waria yang pandai menyanyi dan menari seperti: Heny, Emy, Farida, dan Wiwik. Penyanyi dan penari yang lain adalah Nungki, Tutik, Mulyati, Sus Min, dan Rukmini. Cik Boen tidak hanya berperan sebagai pengelola kesenian ini, tetapi ternyata ia juga dapat memainkan alat musik kromong. Bahkan ia juga pandai melawak dan menari. Lawakan dan tariannya disampaikan secara spontan. Pemain musik lainnya adalah antara lain Noto dan Pahing. Para penari Gambang Semarang pada saat itu sering menari dan berkostum dengan gaya India, karena pada saat itu film-film India sedang populer, sehingga mempengaruhi penampilan mereka. Pada saat itu Gambang Semarang sering dipentaskan di klenteng-klenteng: Gang Lombok, Gang Baru, Bon Lancung dan lain-lain. Di samping itu kesenian ini juga sering dipentaskan untuk memeriahkan pasar malam di Tegal Wareng Semarang.29 Kepemimpinan Cik Boen dalam kesenian Gambang Semarang harus berakhir, ketika ia menjadi melarat karena hampir seluruh hartanya digunakan untuk mengurusi kesenian ini. Bahkan pada awal tahun 1960-an ia meninggal.30 Setelah Cik Boen meninggal, Gambang Semarang juga mengalami masa suram selama lebih kurang 10 tahun.

Pada tahun 1972 Noto, seniman Gambang Semarang dari masa Cik Boen, ingin menghidupkan kembali kesenian ini. Dengan dana yang relatif kecil ia dapat mengadakan peralatan musik. Tentu saja dengan dana yang relatif kecil itu, kualitas bahan-bahannya juga kurang bagus . Gambang dibuat dari kayu sengon sehingga tidak berbunyi keras. Walaupun begitu Noto dan grupnya pernah diminta untuk pentas di hotel Patra Jasa Semarang pada tahun 1974. Penari dan penyanyi yang terkenal pada saat itu adalah Tuti Yuliati dan Istinah Amin.

Pada sekitar tahun 1970-an dan 1980-an perhatian terhadap kesenian Gambang Semarang muncul dari berbagai kalangan, baik secara individual maupun kelompok. Pada tahun 1972 mulai muncul perhatian yang bukan berasal dari masyarakat umum, tetapi dari pemerintah Kotamadya Daerah Tingkat II Semarang. Pada saat itu Walikota Semarang, Hadijanto, menugaskan kepada Iman Prakoso, Kabin. Kebudayaan Kotamadya Semarang, untuk menghidupkan kembali kesenian Gambang Semarang. Iman Prakoso menolak tugas tersebut, dengan alasan bahwa Gambang Semarang bukan kesenian asli Semarang. Karena Iman Prakoso tidak bersedia menjalankan tugas tersebut, kemudian Walikota menugaskan Thukul, Kepala Bidang Sarparlu. Pelaksanaan tugas ini dilimpahkan kepada Sekolah Dasar “Kartini”. Pengelolaannya dipimpin oleh Soesman, guru sekolah dasar tersebut. Para pesertanya direkrut dari guru-guru sekolah dasar di Kotamadya Semarang. Namun ternyata setelah kesenian tersebut dipentaskan, justru menjadi bahan perdebatan yang ramai di DPRD Semarang. Pada saat itu suasana masih sangat sensitif terhadap kebebasan pergaulan antara pria dan wanita. Padahal, ketika itu tarian Gambang Semarang diciptakan berpasangan dan bergandengan tangan antara pria dan wanita. Oleh sebab itu DPRD menolaknya, dan Gambang Semarang sekolah dasar “Kartini” bubar. Peralatannya masih disimpan di sekolah dasar tersebut.31

Salah seorang anggota masyarakat Semarang yang lain, Bah Kalud, juga berpartisipasi dalam kancah pelestarian kesenian Gambang Semarang. Pada tahun 1976 Bah Kalud meminta Jayadi, seniman Gambang Semarang, untuk membeli peralatan musik di Ciputat Jakarta. Akan tetapi kemudian peralatan musik tersebut dibeli oleh Jayadi sendiri, dan Bah Kalud membuat instrument musik lagi yang kemudian dijual kepada Thio Tiong Gie (pengurus Klenteng Gang Lombok). Setelah memiliki peralatan musik, Thio Tiong Gie mendirikan Paguyuban “Gambang Semarang”. Organisasi ini mendapat pengesahan dari Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Tengah tertanggal 26 Juli 1979 dengan kategori kesenian rakyat. Beberapa pemain musik dalam kelompok kesenian ini yaitu Subadi, Jayadi, Noto, Min, Yatin, dan Yuri. Upaya Tio Thiong Gie dalam mengembangan Gambang Semarang telah membuahkan hasil yang cukup membanggakan. Paguyuban kesenian yang dipimpinnya itu telah memperoleh beberapa tanda penghargaan. Penghargaan pertama diperoleh dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Pengembangan Jawa Tengah dalam rangka Festival Pertunjukan Rakyat Propinsi Jawa Tengah pada tanggal 18 Nopember 1980. Penghargaan yang lain didapatkan dari Pemerintah Kotamadya Daerah Tingkat II Semarang dalam rangka penyelenggaraan Karnaval Dugderan pada tahun 1992.

Pada tahun 1985 Grup “Aktifitas Seniman Remaja” (ASR), di bawah pimpinan Burhanuddin, membentuk “Gambang Remaja”. Pelatihnya adalah seniman Gambang Semarang “kawakan” Jayadi (pemain kromong) dan Juri (pemain suling). Dalam grup ini peralatan musik Gambang Semarang ditambah dengan siter, dan juga dilengkapi dengan organ. “Gambang Remaja” sering dipentaskan untuk menyambut turis di pelabuhan Semarang. Selain itu ASR juga pernah mementaskan opera “Ande-ande Lumut” dengan iringan musik Gambang Semarang di Gedung Olah Raga Simpang Lima Semarang. Penonton pertunjukan ini harus membayar dengan membeli tiket, dan jumlah penontonnya cukup banyak. Pengemasan tari dan busana “Gambang Remaja” ditangani oleh Asri Meiati, pimpinan Sanggar “Asri Budaya”. Pengemasan tersebut dibuat atas persetujuan Iman Prakoso, Kepala Bidang Kebudayaan Kotamadya Semarang pada saat itu.32

Tidak lama setelah “Gambang Remaja” terbentuk, pada tahun 1986 seorang budayawan Semarang, Amen Budiman, juga mendirikan perkumpulan Gambang Semarang “Kembang Goyang”. Pelatih dan pemainnya diambil dari paguyuban “Gambang Semarang” di Klenteng Gang Lombok. Menurut Sayekti, penyanyi dalam perkumpulan “Kembang Goyang”, kesenian yang dipimpin oleh Amen Budiman ini dipentaskan untuk berbagai acara yaitu pameran masakan Semarang, pesta perkawinan, pesta ulang tahun, dan acara menyambut tahun baru.33 Menjelang Amen Budiman wafat (1995), peralatan musiknya dijual kepada Hotel Graha Santika Semarang. Pada hari-hari tertentu hotel tersebut menyajikan Gambang Semarang untuk menghibur tamu-tamunya.

Pada tahun 1990-an kalangan pemerhati kesenian Gambang Semarang menjadi semakin luas. Masalah yang menjadi pusat perhatian dan pemikiran tidak saja mengenai masalah pengembangannya, tetapi juga menyangkut soal pencarian kesepakatan untuk mengakuinya sebagai salah satu identitas budaya kota Semarang. Usaha-usaha dan diskusi tentang hal ini muncul dari berbagai lembaga yang terkait seperti Dinas Pariwisata, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, dan beberapa Perguruan Tinggi. Usaha Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kotamadya Semarang untuk mengembangkan Gambang Semarang terus berlanjut sampai dengan dekade 1990-an. Hal ini dapat dibuktikan dengan melihat karya Agus Supriyanto, seorang staf Seksi Kebudayaan di instansi tersebut. Atas dorongan Iman Prakoso, yang ketika itu masih menjabat sebagai Kasi Kebudayaan, Agus Supriyanto mencipta tari Gado-gado Semarang dengan iringan musik Gambang Semarang. Lagu “Gado-gado Semarang” dicipta oleh Kelly Puspita atas permintaan Hadiyanto, walikota Semarang periode tahun 1970-an.34 Menurut Agus Supriyanto lagu “Gado-gado Semarang” dipilih sebagai dasar penciptaan dan iringan tari yang diciptakannya karena syair lagu tersebut mencerminkan identitas Semarang. Semula tari ini hanya dilakukan oleh wanita, tetapi kemudian dikembangkan menjadi tari pasangan antara pria dan wanita, yang dimaksudkan sebagai tari pergaulan. Tari tersebut menampakkan gerak-gerak erotis yang menonjolkan gerakan payudara dan pantat. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kotamadya Semarang telah memasyarakatkan tari Gado-gado Semarang melalui jalur pendidikan formal. Di sekolah-sekolah SMP dan SMU di Kotamadya Semarang diajarkan tarian tersebut. Sebelum itu guru-guru tari di Kotamadya Semarang mendapat penataran dengan materi tarian tersebut. Kemudian juga diadakan lomba tari Semarangan antarsiswa SMP dan SMU di Kotamadya Semarang. Tarian ini juga pernah diikutsertakan dalam festival kesenian tingkat Jawa Tengah dan dipentaskan di Taman Mini Indonesia Indah untuk mewakili Kotamadya Semarang.

Pada awal tahun 1990 IKIP Negeri Semarang juga muncul dalam wacana pengembangan Gambang Semarang. Bintang, seorang sarjana seni tari yang mengajar di Institut tersebut, telah menciptakan tari yang diiringi dengan musik serta lagu Gambang Semarang dan diberi nama tari “Denok”. Penciptaan tari ini berdasar pada unsur-unsur gerak tari “jalan ngondek”, “jalan ngeyek”, dan “jalan tepak”. Di samping itu juga dimasukkan unsur-unsur gerak tari Jawa. Busananya juga dibuat seperti busana yang dipakai dalam Gambang Semarang yaitu kebaya encim dan kain pesisiran. Denok adalah suatu panggilan untuk anak gadis Semarang. Tarian ini menggambarkan kelincahan gadis-gadis Semarang, dan dapat ditarikan secara masal atau tunggal.35

Fakultas Sastra Universitas Diponegoro adalah salah satu lembaga yang ikut berperanan dalam pengembangan kesenian ini. Langkah awal yang dilakukannya adalah mengadakan pameran budaya “Semarangan” dalam rangka Dies Natalis Universitas Diponegoro pada tahun 1993. Dalam event tersebut dipamerkan antara lain peralatan musik Gambang Semarang dan masakan “Semarangan”. Upaya pengembangan terus dilanjutkan dengan mengadakan sarasehan tentang “Pelestarian dan Pengembangan Kesenian Gambang Semarang” pada tanggal 20 Januari 1994. Dari sarasehan tersebut diperoleh kesepakatan bahwa Gambang Semarang perlu dilestarikan dan dikembangkan karena kesenian tersebut mempunyai nilai penting sebagai aset wisata, aset ekonomi, dan juga sebagai salah satu identitas budaya kota Semarang. Masalah yang muncul adalah apakah masyarakat Semarang masih menggemari kesenian ini, dan apakah mereka dapat menerima kesenian tersebut sebagai salah satu identitas kota Semarang. Hasil sarasehan ini terus menjadi bahan pemikiran Fakultas Sastra Universitas Diponegoro, sehingga akhirnya diputuskan untuk dibawa ke forum lokakarya yang diselenggarakan pada tanggal 25 Juli 1994. Pada intinya lokakarya tersebut membicarakan langkah-langkah untuk mengembangkan seluruh aspek seni Gambang Semarang yang meliputi seni tari, musik, nyanyian, lawak, busana, dan dialek.

Usaha pengembangan Gambang Semarang terus dilanjutkan dengan cara menerapkan hasil lokakarya tersebut dalam kegiatan pelatihan Gambang Semarang bagi mahasiswa, dosen, dan karyawan Fakultas Sastra Universitas Diponegoro. Instansi ini telah memiliki peralatan musik sendiri yang dibeli dari Jayadi, dan seniman ini bersama rekannya Yuri diminta untuk melatih. Dalam pelatihan itu semua aspek seni digarap dan dikembangkan berdasarkan unsur-unsur seni yang telah dimiliki oleh kesenian ini.

Pengembangan tari didasarkan pada gerak-gerak khasnya yaitu genjot, lambeyan, ngondek, dan ngeyek, serta diperkaya dengan unsur-unsur gerak tari Jawa, Sunda, dan Bali. Hal itu mengingat kenyataan bahwa masyarakat Semarang memang bersifat heterogen, terdiri dari berbagai suku bangsa. Selain itu, penggarapan tari juga didasarkan pada kondisi geografis Semarang yang merupakan daerah pantai, sehingga dibuat gerak-gerak tari yang menggambarkan deburan ombak dengan ditandai suara kendang yang bertalu-talu. Musiknya juga dikembangkan dengan cara menambahkan alat musik siter serta diciptakan lagu-lagu baru seperti “Goyang Semarang”, “Lenggang Semarang”, dan “Tigapuluh Tahun Fakultas Sastra”. Lagu “Goyang Semarang” dapat dinyanyikan dalam rangka lawak, karena lagu tersebut dapat dibawakan secara bersahutan dan dibuka dengan irama “rap” yang syairnya dapat disesuaikan dengan kondisi aktual pada saat pertunjukan. Selain itu juga disajikan lagu-lagu Barat, Dang- Dut, keroncong, dan tembang-tembang Jawa.

Busana penari mendapat penggarapan dan pengembangan selaras dengan model busana pesisiran. Kebaya dibuat dari bahan polos dengan hiasan bordir pada seluruh bagian tepinya, dan ujung depan kebaya dibuat meruncing ke bawah. Kain yang digunakan adalah kain batik pesisiran dan dilengkapi dengan “sonder” sebagai pemanis busana tari. Sanggul penari digarap dengan cara memadukan unsur-unsur sanggul Jawa, Eropa, dan Cina.

Seni lawak juga mendapat penggarapan yang cukup penting dalam rangka pengembangan Gambang Semarang sebagai salah satu identitas budaya kota Semarang. Salah satu unsur budaya Semarang yang dapat diidentifikasi secara mudah adalah dialek. Oleh karena itu, dalam bagian lawak dimasukkan dialek Semarang dengan harapan bahwa hal tersebut dapat menampilkan identitas Semarang.

Gambang Semarang Fakultas Sastra UNDIP ini telah dipentaskan dalam berbagai acara: perayaan lustrum Fakultas Sastra Universitas Diponegoro, Dies Natalis Universitas Diponegoro, penyambutan turis dari Amerika di Kota Lama, pembukaan pameran pembangunan di Taman Budaya Raden Saleh, penyambutan Duta Besar Australi di Hotel Patra Jasa, “Talkshow” Kepariwisataan di Hotel Grand Candi, penyuluhan guru-guru SMP di kotamadya Semarang dan lain-lain.

Untuk mengembangkan kesenian Gambang Semarang, Fakultas Sastra Universitas Diponegoro telah menjalin kerja sama dengan lembaga-lembaga lain yaitu Pemerintah Kotamadya Daerah Tingkat II Semarang, Dewan Kesenian Jawa Tengah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, harian Suara Merdeka, Akademi Pariwisata, dan Hotel Graha Santika.

Kepedulian masyarakat Semarang untuk mengembangkan Gambang Semarang merupakan suatu bukti bahwa kesenian tersebut tetap memiliki masyarakat pendukung. Oleh karena itu, suatu hal yang perlu dipikirkan dan direalisasikan adalah penyediaan cultural apparatus, yaitu organisasi dan lingkungan yang menunjang pertumbuhan budaya.36

IV. Simpulan dan Saran

Jika Gambang Semarang tetap memiliki masyarakat penggemar adalah suatu hal yang dapat dipahami. Kesenian tersebut sangat berpotensi sebagai entertainment, karena masing- masing unsur seninya yaitu musik, tari, vokal, lawak, dan busana mengandung unsur artistik yang khas serta bersifat menghibur. Semarang, sebagai pusat kegiatan pemerintahan, perdagangan, industri, dan juga pendidikan , tentu saja memiliki masyarakat yang membutuhkan seni pertunjukan sebagai sarana relax untuk melepas ketegangan kesibukan sehari-hari. Suatu hal yang juga perlu dicatat adalah bahwa kesenian Gambang Semarang telah menjadi sarana integrasi yang bersahabat serta menghibur di antara orang Indonesia dan Cina di kota Semarang.

Sebagai suatu kesenian dengan akar historis yang kuat dan nilai-nilai positif yang telah disebut di atas, kualitas kesenian ini perlu senantiasa ditingkatkan sesuai dengan tuntutan jamannya. Secara bersama-sama pemerintah dan masyarakat dapat membentuk management untuk mengelola modal, sumber daya manusia, ruang, waktu, promosi, dan pemasaran kesenian Gambang Semarang. Kualitas dan kuantitas pementasan kesenian ini dapat digarap sedemikian rupa agar tetap mendapat apresiasi masyarakat. Karena kesenian tersebut mengandung unsur-unsur kesenian yang khas milik “orang Semarang”, ia dapat menjadi salah satu identitas budaya kota Semarang.

CATATAN

1. Rustopo, Gendhon Humardani (1923-1983) – Arsitek dan Pelaksana Pembangunan Kehidupan Seni Tradisi Jawa Yang Modern Mengindonesia, Suatu Biografi, (Thesis, Universitas Gadjah Mada), 1990.

2. Taufik Abdullah dan Abdurrachman Surjomihardjo, Ilmu Sejarah Dan Historiografi Arah dan Perspektif, (Jakarta: PT Gramedia), 1985, hlm. xiv.

3. Iman Moch. Kaliri, dkk., Melihat dari dekat Gambang Semarang, (Kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kodya Semarang), 1980, hlm. 5-6. Lihat juga Sie Boen Lian, “Gambang Kromong Muziek” dalam Mededelingen van Het China Instituut, 1938, hlm. 80-81.

4. Jajang Gunawijaya & Asep Solihin, Perkembangan Gambang Kromong, (Proyek Pelestarian dan Pengembangan Kesenian Tradisional Betawi Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, 1996, hlm. 19.

5. Iman Moch. Kaliri, dkk., op. cit., hlm. 2-3.

6. Liem Thian Joe, Riwajat Semarang (Dari Djamannja Sam Poo Sampe Terhapoesnja Kongkoan), Semarang, 1933, hlm. 3-4.

7. Willmott, The Chinese of Semarang: A Changing Minority Community in Indonesia, (Ithaca, New York: Cornell University Press), 1960, hlm. 1-2.

8. Amen Budiman, “Mekarnya Pecinan”, dalam Suara Merdeka, 18 Juli 1975.

9. H.J. De Graaf, dkk., Cina Muslim di Jawa Abad XV dan XVI antara Historisitas dan Mitos, Terjemahan oleh Alfajri, (Yogyakarta: PT Tiara Wacana), 1998, hlm. 3.

10. Peter Carey, Orang Jawa dan Masyarakat Cina (1755-1825), Terjemahan oleh Pustaka Azet, (Jakarta: Pustaka Azet), 1985, hlm. 19-20.

11. Mona Lohanda, The Kapitan Cina of Batavia 1837-1942, (Jakarta: Djambatan), 1996, hlm. 57.

12. Peter Carey, op. cit., hlm. 20-21.

13. Ibid., hlm. 32.

14. Liem Thian Joe, op. cit, hlm. 12.

15. Ibid., hlm. 202.

16. Sie Boen Lian, op. cit., hlm. 79.

17. Wawancara dengan Kwa Tong Hay, September 1998.

18. Wawancara dengan Soengkono, 5 Oktober 1998.

19. Phoa Kian Sioe, “Orkest Gambang, Hasil Kesenian Tionghoa Peranakan di Djakarta”, dalam Pantjawarna, Juni 1949, hlm. 38.

20. Wawancara dengan Jayadi, 13 Maret 1998.

21. Tjia Koen Hwa, “Siapa Pentjipta Aksi Kutjing, Gambang Semarang & Impian Semalam”, dalam Pantjawarna, tahun XII 16 April 1960, hlm. 30.

22. Wawancara dengan Hartono, 12-13 Oktober 1998.

23. Mekar Sari 25 Desember 1991, hlm. 42.

24. Wawancara dengan Kwa Tong Hay, 9 Oktober 1998.

25. Wawancara dengan Gan Kok Hwi, 9 Oktober 1998.

26. Amen Budiman, “Gambang Semarang”, dalam Suara merdeka, 9 Pebruari 1974.

27. Wawancara dengan Tutik, 18 Oktober 1998.

28. Wawancara dengan Jayadi, 13 Maret 1998.

29. Wawancara dengan Emy, 20 September 1998.

30. Wawancara dengan Jayadi, 13 Maret 1998.

31. Wawancara dengan Iman Prakoso, 25 September 1998.

32. Wawancara dengan Imam Prakoso, 25 September 1998.

33. Wawancara dengan Sayekti, 1 September 1998.

34. Wawancara dengan Kelli Puspita, 23 Agustus 1998.

35. Wawancara dengan Bintang, September 1998.

36. Kuntowijoyo, Demokrasi dan Budaya Demokrasi, Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, hlm. 248.

DAFTAR PUSTAKA

Budiman, Amen. 1974. “Gambang Semarang”, dalam Suara Merdeka 9 Pebruari 1974.

____________. 1975. “Mekarnya Pecinan”, dalam Suara Merdeka 18 Juli 1975.

Carey, Peter, 1985. Orang Jawa & Masyarakat Cina (1755-1825). Terjemahan oleh Pustaka Azet. Jakarta: Pustaka Azet.

Dhanang Respati Puguh, dkk., 1999. Penataan Kesenian Gambang Semarang sebagai Identitas Budaya Semarang. Laporan Penelitian Hibah Bersaing Perguruan Tinggi Tahun I Anggaran 1998/1999. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Universitas Diponegoro.

De Graaf, H.J. dkk., 1998. Cina Muslim di Jawa Abad XV dan XVI antara Historisitas dan Mitos. Terjemahan oleh Alfajri. Yogyakarta: PT. Tiara Wacana.

Gunawijaya, Jajang, & Asep Solihin. 1996. Perkembangan Gambang Kromong. Laporan penelitian tidak diterbitkan. Proyek Pelestarian dan Pengembangan Kesenian Tradisional Betawi Dinas Kebudayaan DKI Jakarta.

Kuntowijoyo, 1994. Demokrasi dan Budaya Demokrasi. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.

Liem Thian Joe, 1933. Riwayat Semarang (Dari Djamannja Sam Poo Sampe Terhapoesnja Kongkoan). Semarang.

Lohanda, Mona. 1996. The Kapitan Cina of Batavia 1837-1942. Jakarta: Djambatan

Moch. Kaliri, Iman, dkk. 1980. Melihat dari dekat Gambang Semarang. Kantor Departemen P Dan K Kodya Semarang.

Phoa Kian Sioe. 1949. “Orkest Gambang, Hasil Kesenian Tionghoa Peranakan di Djakarta”. Dimuat dalam Pantjawarna. Juni 1949.

Rustopo. 1990. Gendhon Humardani (1923-1983) - Arsitek dan Pelaksana Pembangunan Kehidupan Seni Tradisi Jawa Yang Modern Mengindonesia, Suatu Biografi. Thesis tidak diterbitkan. Universitas Gajah Mada.

Rejeki. 1991. “Ora Kabeh Budaya Asing Ala Tumraping Kesenian Tradisional”. dalam Mekar Sari, 25 Desember 1991.

Sie Boen Lian, 1938. “Gambang Kromong Muziek” dalam Mededelingen van Het China Instituut.

Tjia Koen Hwa. 1960. “Siapa pentjipta Aksi Kutjing, Gambang Semarang & Impian Semalam”. dalam Pantjawarna, tahun XII 16 April 1960.

Willmott, 1960. The Chinese of Semarang: A Changing Minority Community in Indonesia. Ithaca, New York: Cornell University Press.


[*] Artikel ini merupakan pengembangan salah satu bab dalam penelitian Hibah Bersaing Perguruan Tinggi yang berjudul Penataan Kesenian Gambang Semarang sebagai Identitas Budaya Semarang. Dalam penelitian ini penulis menjadi salah seorang anggota yang bertugas meneliti dan menulis sejarah Gambang Semarang.

KESENIAN GAMBANG SEMARANG: SUATU BENTUK INTEGRASI

BUDAYA JAWA DAN CINA

Oleh: Dewi Yuliati[*]

Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Diponegoro

ABSTRACT

Gambang Semarang is a traditional performing art which was born and officially developed in Semarang since the third decade of the twentieth century. This performing art is one of the forms of cultural integration between the Javanese and Chinese Culture. There are controversial opinions about the origin of this performing art. Each opinion has an acceptable argument. Apart from that controversy , Gambang Semarang has been actually possesed and developed by Semarang’s people until now, so this performing art is very potential to become Semarang’s cultural identity.

I. Pendahuluan

Gambang Semarang adalah salah satu kesenian yang lahir dan berkembang di Semarang, yang menampilkan unsur-unsur seni musik, vokal, tari dan lawak. Jika dilihat pola garapannya, Gambang Semarang dapat dikategorikan sebagai kesenian tradisional kerakyatan, karena ia berkembang di kalangan rakyat jelata, telah menempuh perjalanan sejarah yang cukup lama, dan perkembangannya tetap bertumpu pada unsur-unsur seni yang telah dimilikinya sejak dulu.

Pada umumnya kesenian tradisional diartikan sebagai suatu kesenian yang tumbuh dan berkembang di daerah tertentu, yang didukung oleh masyarakat setempat.1 Gambang Semarang pun lahir karena inisiatif dan dukungan masyarakat Semarang yang ingin memenuhi kebutuhannya akan kesenian.

Berdasarkan fungsinya sebagai tontonan, Gambang Semarang merupakan seni pertunjukan communal support, karena selama ini biaya produksi kesenian itu selalu ditanggung oleh masyarakat penyelenggara

pertunjukan, sedangkan penontonnya adalah anggota masyarakat yang hadir tanpa membayar. Dengan kata lain Gambang Semarang hanya bermain apabila ada permintaan, dan pihak yang “nanggap” itu menanggung seluruh biaya pentas.

Gambang Semarang dipentaskan dalam berbagai event seperti perayaan tahun baru Cina di klenteng-klenteng, acara pernikahan, khitanan, karnaval “dugderan” (perayaan menyambut bulan suci Ramadhan), penyambutan turis mancanegara, pasar malam di berbagai kota, dan sebagainya. Dalam setiap pementasan tampak ada urutan penyajian.

Urutan penampilan kesenian Gambang Semarang adalah sebagai berikut. Pertunjukan dimulai dengan lagu pembukaan yang berupa instrumentalia. Lagu-lagu yang biasa disajikan untuk pembukaan adalah “Cepret Payung”, “Kicir-kicir”, “Jangkrik Genggong”, dan lagu-lagu lain. Setelah itu disajikan vokal-instrumental dengan lagu-lagu antara lain: “Awe-awe”, “Lenggang Surabaya”, “Puteri Solo”, “Aksi Kucing”, atau lagu-lagu yang cocok dengan iringan musik Gambang Semarang. Penyajian berikutnya adalah tari dengan iringan lagu “Empat Penari” atau lagu-lagu yang lain . Apabila dilihat secara sepintas tari dalam seni pertunjukan Gambang Semarang tidak memiliki aturan-aturan gerak yang baku. Akan tetapi jika diperhatikan secara cermat, tari tersebut memiliki unsur-unsur gerak tari yang disebut lambeyan, genjot, ngondek, dan ngeyek. Selanjutnya ditampilkan selingan lawak dengan tema yang disesuaikan dengan kondisi aktual. Kadang-kadang para pelawak juga menyanyikan lagu-lagu yang cocok untuk dibawakan secara bersahutan seperti lagu “Jali-jali”. Syair lagunya sering diganti dengan kata-kata lucu untuk saling mengejek, menyindir, atau bermuatan kritik. Pertunjukan ini diakhiri dengan lagu-lagu penutup atau lagu-lagu yang memuat kata-kata “pamit” seperti “Walang Kekek” , “Keroncong Kemayoran”, dan “Jali-jali”.

II. Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian sejarah. Dengan demikian metode yang dipergunakan adalah metode historis yaitu mencari, menemukan, dan menguji sumber-sumber sehingga dapat diperoleh fakta sejarah yang otentik dan kredibel. Kemudian fakta-fakta sejarah yang masih fragmentaris itu disusun dan ditulis dalam suatu kisah yang sistematis, utuh, dan komunikatif. Untuk mencapai penulisan sejarah yang demikian, diperlukan suatu penelitian yang tidak saja berdasarkan pada pertanyaan-pertanyaan pokok “apa”, “siapa”, “kapan”, dan “di mana”, tetapi juga berlandaskan pada pertanyaan-pertanyaan “bagaimana”, “mengapa”, serta “apa jadinya”. Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan pokok adalah fakta sejarah serta unsur-unsur yang turut membentuk peristiwa di tempat dan pada waktu tertentu. Jawaban terhadap pertanyaan “bagaimana” merupakan rekonstruksi yang menjadikan semua unsur itu terkait dalam suatu diskripsi yang disebut sejarah. Jawaban terhadap pertanyaan “mengapa” dan “apa jadinya” akan menerangkan hubungan kausalitas.2

III. Gambang Semarang: Sarana Integrasi Budaya Jawa dan Cina

Mengungkap sejarah Gambang Semarang merupakan pekerjaan yang tidak mudah, sebab perjalanan hidupnya tidak meninggalkan jejak-jejak tertulis. Namun demikian, upaya untuk merekonstruksi sejarah Gambang Semarang masih tetap dapat dilakukan dengan metode sejarah lisan. Saksi-saksi sejaman, baik para seniman Gambang Semarang maupun orang-orang yang pernah menonton kesenian itu, masih dapat memberikan kesaksian-kesaksian. Sumber-sumber lisan tersebut mempunyai nilai yang sangat berharga bagi penulisan sejarah Gambang Semarang. Pada umumnya mereka sudah tua, sehingga terbuka kemungkinan bahwa Gambang Semarang tidak akan dapat terungkap sejarahnya apabila mereka sudah tidak dapat mengingat lagi atau bahkan meninggal.

Sampai saat ini asal-usul kesenian Gambang Semarang masih diperdebatkan. Banyak orang mengatakan bahwa Gambang Semarang adalah kesenian “import” dari Betawi, karena memang dulu alat-alat musiknya pernah dibeli dari Jakarta dan tidak berbeda dengan alat-alat musik Gambang Kromong yang terdiri atas: gambang, bonang (kromong), suling, kendang, gong, kecrek, alat gesek (sukong dan kongahian atau tehian), dan terompet.3 Akan tetapi, sebaliknya, ada suatu pernyataan bahwa kesenian Gambang Kromong justru berasal dari Semarang. Kesenian ini dibawa oleh para imigran Cina yang langsung menuju Semarang. Di sini mereka mengembangkan kesenian yang dikenal dengan Gambang Semarang.4 Masing-masing pernyataan tersebut dapat dijelaskan dengan dasar-dasar historis sebagai berikut.

Pernyataan pertama didasari oleh kenyataan bahwa pada saat kesenian Gambang Semarang dibentuk secara melembaga, alat-alat musik dan juga pelatihnya memang didatangkan dari Jakarta. Pembentukan kesenian ini tidak dapat terlepas dari peranan Lie Hoo Soen, yang pernah menjadi anggota volksraad (Dewan Rakyat) Semarang. Ia dilahirkan pada tanggal 5 April 1898 di Semarang, dan meninggal pada tahun 1986. Pada sekitar tahun 1930, ketika ia masih menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat), ia pernah membicarakan dalam Dewan tentang kebutuhan Kota Semarang akan kesenian. Sebagai penggemar musik keroncong dan pengurus organisasi kesenian “Krido Hartojo”, Lie Hoo Soen mempunyai gagasan untuk menciptakan kesenian khas Semarang. Gagasannya ini disampaikannya kepada walikota Semarang saat itu, Boissevain. Walikota menyetujui usulan Lie Hoo Soen, dan memerintahkannya untuk membeli alat-alat musik Gambang Kromong di Jakarta. Setelah alat-alat musik tersedia, latihan-latihan segera diadakan dan kesenian Gambang Aemarang telah dapat dipentaskan pada tahun 1932.5

Akar historis pernyataan kedua dapat dijelaskan dengan mempelajari berbagai sumber. Pada sekitar tahun 1416 orang-orang Cina mendarat di Semarang. Mula-mula mereka mendarat di Banten, kemudian berpencar ke tempat-tempat lain seperti Jepara, Lasem, Rembang, Demak, Buyaran, dan Semarang. Orang Cina yang datang pertama kali di Semarang ialah Sam Po Tay Djin. Di sini ia meninggalkan suatu monumen terkenal “Klenteng Gedong Batu”. Daerah di sekitar “Klenteng Gedong Batu” ini merupakan tempat pemukiman orang-orang Cina yang pertama di Semarang.6 Sam Po adalah seorang pelaut, yang diperintahkan oleh kaisar dinasti Ming, Bing Sing Tjouw, untuk mengunjungi dan menaklukkan berbagai negeri di daerah Pasific sampai ke Arabia. Ketika mereka berlayar di sepanjang pantai utara pulau Jawa, seorang pembantu Sam Po, Ong King Hong, menderita sakit. Oleh karena itu, Sam Po memerintahkan agar kapalnya berlabuh dulu di sebuah tanjung, yang kini menjadi pelabuhan Semarang. Setelah itu mereka berlayar ke pedalaman dengan menyelusuri Kali Garang. Dalam pelayaran itu, tidak jauh dari pantai, mereka menemukan sebuah gua yang kemudian dijadikan persinggahan oleh Sam Po. Para pengikut Sam Po membangun sebuah rumah kecil untuk si sakit Ong King Hong. Sam Po memberikan obat-obatan kepada Ong King Hong. Setelah Ong King Hong sembuh, Sam Po melanjutkan perjalanannya, sedangkan Ong King Hong memilih untuk tinggal di daerah itu bersama dengan 10 orang pengikut, sebuah kapal, dan dengan perbekalan yang cukup banyak.

Setelah merasa sehat dan kuat, Ong King Hong menyuruh para pengikutnya untuk membersihkan lingkungan, menanam tanaman-tanaman, dan membangun rumah. Ong King Hong tidak kembali ke negeri Cina, tetapi ia dan para pengikutnya melakukan pelayaran perdagangan di sepanjang pantai utara Jawa. Para pengikutnya mengambil istri orang-orang Indonesia, dan daerah itu berkembang menjadi tempat yang ramai dan subur.

Seperti Sam Po, Ong King Hong adalah seorang Muslim yang taat, dan ia pun mengajarkan moral, kebenaran, serta praktik-praktik agama Islam kepada para pengikutnya. Ia juga mendorong para pengikutnya untuk mencapai prestasi tinggi seperti Sam Po. Ia memiliki patung kecil Sam Po yang diletakkannya dalam gua, dan ia menyuruh para pengikutnya untuk memujanya pada hari-hari tertentu. Ong King Hong meninggal pada usia 87 tahun, dan dimakamkan secara muslim. Di kalangan orang Jawa, Ong King Hong dikenal dengan sebutan Kiai Juru Mudi Dampo Awang, dan makamnya diziarahi baik oleh orang Jawa maupun Cina pada hari-hari tertentu dalam tahun Jawa. Sam Po juga mendapat nama penghormatan, yaitu Sam Po Tay Jin, yang berarti Sam Po yang besar. Pada hari-hari tertentu dalam tahun Cina, patung Sam Po juga diziarahi oleh orang-orang Cina.7 Dalam perkembangan, petilasan Sam Po dan makam Ong King Hong ini terkenal dengan sebutan klenteng Gedong Batu. Setelah berakhirnya perang antara Cina dan kompeni Belanda di Semarang yang berlangsung pada tanggal 14 Juni – 13 Nopember 1741, atas perintah kompeni, masyarakat Cina di daerah Gedong Batu harus pindah ke tempat yang sudah ditentukan yakni Kampung Pecinan.8

Menurut sumber lain, sebelum itu ternyata sudah ada masyarakat Cina di Semarang. Hal ini dapat dilihat pada Catatan Tahunan Semarang dan Cirebon yang memberitakan bahwa pada tahun 1413 armada Tiongkok Dinasti Ming singgah di Semarang selama satu bulan untuk perbaikan kapal. Laksmana Haji Sam Po Bo, Haji Ma Hwang, dan Haji Feh Tsin sering melakukan sholat di masjid Tionghoa Hanafi di Semarang.9

Pada akhir abad ke-17 Semarang menjadi salah satu tujuan para imigran Cina, di samping Batavia dan Surabaya. Kehadiran orang-orang Cina di wilayah Indonesia pada akhir abad ke-17 didorong oleh dua faktor penting yaitu jatuhnya dinasti Ming (1368-1644) serta dibukanya kembali perdagangan antara Cina dan wilayah Asia Tenggara pada tahun 1683. Para imigran tersebut berasal dari daerah-daerah pantai bagian Selatan daratan Cina yaitu Amoy, Kanton, dan Makao, dan banyak di antara mereka menemukan jalan ke Semarang. Ong Tae-Hae, seorang Cina yang berasal dari Fukien, yang pernah tinggal di Indonesia (1783-1791), mengatakan bahwa di Batavia terdapat sebuah gedung yang dikenal sebagai “Loji Semarang”. Para pendatang Cina, yang ingin meneruskan perjalanan mereka ke Jawa Tengah, akan menginap di gedung itu sampai mereka mendapatkan perahu-perahu yang dapat mengangkut mereka ke Semarang.10 Sebagian besar masyarakat Cina di Semarang menghuni daerah perkotaan dan mereka membaurkan diri dalam kebudayaan Jawa.11

Ong Tae-hae juga memberikan gambaran tentang keinginan orang-orang Cina untuk membaur dalam masyarakat Jawa sebagai berikut. Orang-orang Cina yang menetap di perantauan selama beberapa keturunan dan tanpa pernah kembali ke negeri asal mereka, sering mencontoh bahasa, makanan, dan pakaian penduduk asli dan belajar Al Qur’an. Mereka tidak merasa enggan untuk menjadi orang Jawa, ketika mereka telah menjadi pemeluk agama Islam. Mereka tidak memakan daging babi, dan berasimilasi dengan adat-istiadat penduduk asli. Dalam perjalanan waktu, pemerintah kolonial Belanda menempatkan mereka di bawah pengawasan seorang kapten (seorang Kapitan Cina Peranakan).12

Suatu saluran pembauran yang penting adalah perkawinan antara para pedagang Cina dan kalangan bangsawan Jawa, karena dengan perkawinan itu, mereka dapat memperoleh kedudukan tinggi dalam pemerintahan.13 Perkawinan antara pendatang Cina dan perempuan Jawa sangat mungkin terjadi, karena pada umumnya mereka yang pergi merantau adalah orang laki-laki saja. Hal Ini dapat terjadi, sebab adat Cina pada saat itu melarang kaum wanita keluar dari halaman rumah, apalagi pergi jauh. Dengan demikian banyak imigran Cina menikah dengan wanita pribumi, yang kemudian dapat memasukkan kebiasaan-kebiasaan pribumi dalam keluarganya seperti memakai kain dan baju kurung panjang, memotong gigi, memakan sirih, jongkok-menyembah dan sebagainya.14

Dalam hal berkesenian, juga terjadi asimilasi. Kondisi ini dapat dilihat antara lain pada saat masyarakat Cina di Semarang merayakan terbentuknya Republik Cina pada tahun 1911. Perayaan diselenggarakan di pemukiman Cina, yang tidak hanya dimeriahkan dengan orkes, tetapi juga dengan gamelan.15 Dulu masyarakat Cina di Jawa, terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur, mempunyai kesenian tersendiri yang dinamakan orkes “pat-iem”. Kesenian ini dimainkan terutama di pemakaman Cina. Anehnya, seluruh pemain orkes tersebut adalah orang Jawa.16 Kwa Tong Hay, seorang Cina Semarang, menuturkan bahwa alat-alat musik “pat-iem” terdiri alat alat petik, gesek, dan alat tiup yang berupa terompet kecil.17

Jika diamati, dalam kesenian Gambang Semarang juga terdapat perpaduan antara unsur budaya Cina dan Jawa. Alat-alat musiknya terdiri atas instrumen Cina (kongahian , shu kong, kecrek, dan suling) dan instrumen Jawa (bonang, gambang, dan gong). Dulu para penari dan penyanyi wanita (kebanyakan orang Cina) memakai kain sarung batik “Semarangan”, kebaya “encim” (terbuat dari kain polos yang dibordir pada bagian pergelangan tangan dan sudut-sudut bagian depan), serta gelung konde. Pada mulanya para pemain musiknya terdiri dari orang-orang Jawa dan Cina. Banyak lagu yang didendangkan berirama mandarin, di samping lagu-lagu keroncong.

Sebelum Gambang Semarang dilembagakan sebagai suatu perkumpulan kesenian di Semarang, ada kemungkinan bahwa kesenian tersebut merupakan kesenian “kelilingan” (dalam bahasa Jawa “mbarang”). Hal ini dapat disimak dari penuturan Soengkono (berusia 74 tahun, tinggal di Jalan Menteri Supeno Selatan 1115 D Semarang). Pada sekitar tahun 1930 Soengkono pernah menyaksikan pentas kesenian yang alat-alat musiknya terdiri atas gambang, terompet kecil, kencreng, dan alat musik gesek. Pentas yang paling mengesankan baginya adalah pentas di taman Balai Kambang, milik pribadi seorang pengusaha kaya Oei Tiong Ham, yang terletak di Gergaji. Setahun sekali, dalam rangka menyambut hari lebaran, Oei Tiong Ham membuka taman Balai Kambang untuk dikunjungi segenap lapisan masyarakat. Kesenian tersebut pernah pentas di Balai Kambang untuk merayakan hari lebaran. Selain di Balai Kambang, kesenian ini juga pernah pentas di makam Cina “Bong Bunder” (di belakang SMU Negeri I Semarang) dan di klenteng-klenteng. Ternyata, pentas kesenian tersebut dapat menarik perhatian masyarakat dari berbagai daerah lain seperti: Cirebon, Betawi, Surabaya, Kudus, Rembang, Pekalongan dan sebagainya. Soengkono menggambarkan kesenian itu bernuansa Cina dan Jawa. Suara gambang dan tiupan terompet serta bunyi kencreng merupakan perpaduan suara musik Jawa dan Cina. Nuansa Cina dan Jawa dalam kesenian tersebut juga dapat dilihat pada busana yang dipakai oleh penyanyi dan penari yaitu kebaya bordir dan sarung pesisiran. Soengkono mengatakan bahwa kesenian itu dikenal dengan Gambang Semarang.18 Sumber-sumber tersebut di atas dapat memperkuat dugaan bahwa Gambang Semarang yang dikoordinasi oleh Lie Hoo Soen merupakan suatu bentuk pengembangan kesenian yang pernah ada sebelumnya di kota Semarang.

Perpaduan antara unsur-unsur seni Cina dan Jawa dalam Gambang Semarang merupakan salah satu gambaran bahwa di kalangan masyarakat Semarang telah terjadi proses asimilasi atau integrasi antara unsur-unsur budaya pribumi dan budaya Cina. Terlepas dari kontroversi mengenai asal-usul Gambang Semarang, tidak dapat diingkari bahwa kesenian itu lahir atas prakarsa masyarakat Semarang sendiri dan sampai kini juga masih dibutuhkan serta diperhatikan oleh banyuak pihak di Semarang. Lagi pula, Gambang Semarang terus mengalami pengembangan sesuai dengan selera masyarakat Semarang. Sebagai contoh, lagu-lagu yang disajikan tidak hanya lagu-lagu Betawi, tetapi juga lagu-lagu khas Gambang Semarang seperti “Gambang Semarang”, “Impian Semalam”, “Aksi Kucing”. Di samping itu juga ditampilkan lagu-lagu khas Jawa Tengah: “Jangkrik Genggong”, “Walang Kekek”, dan lagu-lagu kroncong.

Prakarsa Lie Hoo Soen untuk mengembangkan Gambang Semarang pada tahun 1930-an , yang mengikutsertakan baik orang Cina maupun pribumi merupakan suatu gejala, bahwa ketika itu telah tumbuh semangat integratif, dan kesenian ini dapat menampung semangat itu secara baik. Dalam berkesenian harus selalu ada kerjasama dan komunikasi yang bagus agar dapat dihasilkan produk yang baik pula. Kesenian ini terus dikembangkan dalam suasana integratif, dan pengembangannya dilakukan oleh berbagai kalangan masyarakat di Kota Semarang yang meliputi perorangan, pemerintah, perhotelan, dan juga kalangan perguruan tinggi.

Pada saat Lie Hoe Soen ingin membentuk perkumpulan kesenian di Semarang, di kota ini memang sudah ada orang-orang yang potensial untuk menyelenggarakan kesenian tersebut yakni Mak Irah dan Mak Royom (kakak Mak Irah). Mereka adalah orang-orang pribumi yang berasal dari Ciputat, Jakarta. Sebelum pindah ke Semarang, di Jakarta mereka berkarya sebagai seniwati Gambang Kromong. Sebagaimana dikisahkan oleh Jayadi (keponakan Mak Irah) , Mak Irah memutuskan untuk merantau ke kota lain bersama Mak Royom, karena ia mengalami kekecewaan dalam hidup perkawinannya. Oleh orang tuanya Mak Irah dijodohkan dengan seorang Cina yang telah lanjut usia. Dari perkawinannya itu Mak Irah memperoleh nama Cina “Oei Cing Moi”. Pada saat itu di Jakarta, khususnya di kalangan seniman Gambang Kromong, para penyanyi (Tjio Kek) pribumi diberi nama Cina yang diambil dari nama-nama bunga indah seperti Bwee Hoa, Han Siauw, Bouw Tan dan sebagainya.19 Setelah mempunyai seorang anak, ternyata Mak Irah tidak sanggup lagi untuk mempertahankan rumahtangganya, dan akhirnya ia meninggalkan suaminya. Ada kemungkinan bahwa pada saat itu di Semarang sudah berkembang suatu kesenian yang serupa dengan Gambang Kromong di Jakarta, sehingga Mak Irah dan Mak Royom dapat bergabung dalam kesenian itu. Setelah menyaksikan kemahiran Mak Irah dalam menari, pada suatu hari Lie Hoo Soen menjumpai Mak Irah untuk membicarakan kemungkinan mengadakan pertunjukan Gambang Kromong di Semarang. Pertunjukan ini dimaksudkan terutama untuk merayakan hari besar di klenteng- klenteng. Mengingat pada waktu itu di Semarang belum ada pemain musik Gambang Kromong, Mak Irah pergi kembali ke Ciputat Jakarta untuk menemui adiknya, Subadi, seorang seniman Gambang Kromong. Bagi Mak Irah, kesempatan yang ditawarkan oleh Lie Hoo Soen merupakan keberuntungan, karena di Ciputat yang merupakan basis Islam Muhammadiyah masyarakatnya kurang menyukai kesenian Gambang Kromong. Atas dasar pertimbangan bahwa Semarang lebih memungkinkan untuk hidup dengan bekal keahlian kesenian Gambang Kromong, Mak Irah mengajak Subadi untuk pindah ke Semarang. Subadi adalah pemain Gambang Kromong yang serba bisa. Selain dapat memainkan seluruh alat musik dalam kesenian itu, khususnya alat gesek (sukong, kongahian, tehian dan yana), Subadi juga bisa menyanyi dan melawak. Akhirnya, tiga bersaudara itu memutuskan untuk tinggal di Semarang dan berkarya sebagai seniman dalam grup kesenian yang dibina oleh Lie Hoo Soen.20 Oleh karena pada saat itu di Semarang belum banyak orang yang mahir dalam kesenian Gambang Kromong, Subadi diminta oleh Lie Hoo Soen untuk melatih para pemain musik dalam kesenian yang dipimpinnya yaitu: Tan Hok Gie (pemain kromong), Nyo Ping Liong (pemain kendang), Liem Han Hing (pemain Gong), Mintoni ( pemain sukong), Oei Tek Bie (pemain gim), Oei Tiong Oen (pemain biola), Untung (pemain suling), Lim Tik No (pemain samhian), Poei Tjo Dwan (pemain kongahyan), Tjiam Bok Swie (pelatih, pemain gambang). Dalam perkembangan, kesenian yang diorganisasi oleh Lie Hoo Soen ini dikenal dengan Gambang Semarang. Kesenian ini tidak hanya tersohor di Semarang, tetapi juga di kota-kota lain, terutama pada saat diselenggarakan pasar malam. Beberapa kota yang pernah mengundang kesenian Gambang Semarang untuk meramaikan pasar malam adalah Kudus, Pati, Juwana, Temanggung, Parakan, Wonosobo, Magelang, Weleri, Pekalongan, dan Cirebon. Betapa terkenal kesenian ini, sehingga pada tahun 1940 tercipta suatu lagu dengan judul “Empat Penari”. Lagu tersebut tercipta atas kerja sama antara Oei Yok Siang, pembuat lagu, dan Sidik Pramono, penulis syair lagu. Kedua seniman ini bertempat-tinggal di Magelang. Sidik Pramono adalah pemain orkes Perindu di Magelang. Pada tahun yang sama lagu “Gambang Semarang” telah disiarkan pertama kali oleh orkes Perindu di studio Laskar Rakyat Magelang dengan biduanita Nyi Ertinah.21 Berikut ini ditampilkan syair lagu tersebut secara lengkap:

Empat penari, kian kemari

jalan berlenggang, aduh ………..

sungguh jenaka menurut suara

Irama Gambang

Sambil menyanyi, jongkok berdiri

kaki melintang, aduh …………..

langkah gayanya menurut suara

Gambang Semarang

Bersuka ria, gelak tertawa

Semua orang, karena ……………

Hati tertarik grak grik

si tukang kendang

Sambil menyanyi, jongkok berdiri

kaki melintang, aduh …………..

langkah gayanya menurut suara

Gambang Semarang.

Syair lagu tersebut dapat dipahami sebagai suatu kesaksian dan ekspresi perasaan terkesan akan nilai estetis yang ditampilkan oleh kesenian Gambang Semarang. Di samping lagu “Empat Penari”, Oei Yok Siang juga menciptakan lagu-lagu lain yang cocok dengan iringan musik Gambang Semarang seperti “Aksi Kucing” dan “Impian Semalam”.

Penari-penari tempo dulu yang sangat terkenal adalah Mak Irah (periode tahun 1930-an sampai dengan tahun 1940-an) dan nyonya Sam (periode tahun 1950-an sampai dengan tahun 1970-an). Jika Mak Irah terkenal dengan kecantikannya, nyonya Sam sangat dikagumi karena berpinggul besar dengan gerakan-gerakan pinggulnya ngondek, dan ngeyek. Dengan wajah yang cantik, tubuh yang bagus, dan suara yang merdu, Nyonya Sam terkenal sebagai primadona Gambang Semarang. Jika nyonya Sam pentas, pengunjung berdatangan dari berbagai tempat untuk menyaksikan sang primadona itu.

Suatu kenangan akan keindahan Gambang Semarang juga dinyatakan oleh Hartono, seorang seniman lukis kelahiran Surakarta. Ketika masih remaja, pada tahun 1940 Hartono pernah menyaksikan pertunjukan Gambang Semarang di Taman Sriwedari Surakarta untuk merayakan Idul Fitri. Penampilan empat penari yang diiringi lagu Gambang Semarang merupakan puncak pertunjukan tersebut. Ternyata para penari dengan gerakan goyang pinggul mampu mengundang tepuk tangan masyarakat Surakarta yang berselera halus. Lagu Gambang Semarang yang bernuansa Jawa-Mandarin, sejak saat itu, dinyanyikan juga oleh para seniman di Surakarta. Lebih lanjut Hartono menceriterakan bahwa pada tahun 1949 ia juga pernah menonton Gambang Semarang di Kampung Senjoyo Semarang dalam suatu pesta perkawinan. Menurutnya ada suatu atraksi yang sangat lucu dalam pertunjukan tersebut. Pelawak laki-laki, yang mengenakan sarung batik “semarangan”, mencengkal bagian depan sarungnya, sehingga ketika ia bergoyang bersama penari, “cengkal” tersebut menggambarkan alat vitalnya.22

Dengan memperhatikan kisah Hartono ini muncul suatu dugaan bahwa dulu penciptaan gerak-gerak tari dalam kesenian Gambang Semarang telah diilhami oleh suatu sense erotis yang tersirat dalam suatu nyanyian Cina yang populer pada saat itu yaitu “Sipatmo”. Nyanyian ini juga merupakan salah satu lagu dalam kesenian Gambang Kromong di Jakarta.23 “Sipatmo” berarti delapanbelas rabaan yang merupakan gerakan-gerakan manusia ketika melakukan persetubuhan.24 Makna “Sipatmo” ini dapat diduga mempengaruhi gerak-gerak tari dalam kesenian Gambang Semarang. Gan Kok Hwi, seorang Cina Semarang yang pernah menyaksikan Gambang Semarang pada tahun 1960-an, menuturkan bahwa dalam pertunjukan tersebut ditampilkan sebuah lagu Cina yang dinyanyikan dengan gerak-gerak erotis. Gerakan dari jongkok sampai berdiri dengan gerak tangan yang “usap-mengusap” sering dapat mengundang penonton naik panggung untuk ikut menari.25 Gerakan erotis ini menjadi ciri primadona Gambang Semarang periode tahun 1950-an Nyonya Ong Sam Nio (Nyonya Sam) . Masyarakat penikmat Gambang Semarang masa itu sangat terkesan akan gerakan erotis nyonya Sam, sehingga muncul suatu sebutan untuknya “egolane serrr, kayak lele”.26 Menurut Tutik, mantan penari Gambang Semarang, penari-penari lain yang sejaman dengan nyonya Sam yaitu Cik Swan, Cik Ling, dan Sus Mi. Tutik mengaku bahwa ia tertarik ikut menjadi penari dalam kesenian itu karena ia pernah menonton nyonya Sam menari. Menurutnya gerak tari nyonya Sam terasa enak untuk dipraktikkan.27

Pada tahun 1942, ketika Gambang Semarang pentas di arena Pasar Malam Magelang, terjadi pertempuran dengan Jepang. Para pemain Gambang Semarang menyelamatkan diri dan peralatan musiknya ditinggalkan begitu saja, sehingga hilang. Mak Royom pun tidak diketahui nasibnya. Apakah ia masih hidup atau sudah meninggal, tidak seorang pun mengetahuinya. Dengan terjadinya peristiwa itu Gambang Semarang bubar, dan selama beberapa tahun tidak ada pentas. Walaupun telah terjadi peristiwa yang menyeraiberaikan para pemain Gambang Semarang serta memusnahkan peralatan musiknya, ternyata kecintaan orang Semarang terhadap kesenian tersebut tidak pernah hilang. Hal ini terbukti pada tahun 1949 muncul lagi seorang pemerhati Gambang Semarang yang bernama The Lian Kian, bertempat tinggal di Kampung Seong Semarang. Karena alat-alat musik Gambang Semarang sudah hilang, ia membeli instrumen Gambang Kromong di Betawi. Subadi masih tetap diminta untuk melatih para pemain musik kesenian ini. Akan tetapi, The Lian Kian tidak bertahan lama dalam mengelola Gambang Semarang, karena ia kalah judi. Pengelolaan Gambang Semarang dilanjutkan oleh Yauw Tia Boen (lebih dikenal dengan panggilan “Cik Boen”), yang juga bertempat tinggal di Kampung Seong. Di samping Gambang Semarang, Cik Boen juga mengkoordinasi perkumpulan musik “Irama Indonesia” yang menyajikan berbagai warna musik seperti jaz, keroncong, dangdut, dan lagu Barat. Ketika dikelola oleh Cik Boen, Gambang Semarang mengalami inovasi dalam berbagai unsur seninya. Alat-alat musiknya dilengkapi dengan bass, saxofon, klarinet, orkes keroncong, alat musik tiup, dan drum. Dengan demikian nyanyiannya juga ikut berkembang. Pada saat itu dalam kesenian Gambang Semarang dinyanyikan juga lagu-lagu Barat.28 (wawancara dengan Jayadi, tanggal 13 Maret 1998). Cik Boen juga merekrut para seniman waria yang pandai menyanyi dan menari seperti: Heny, Emy, Farida, dan Wiwik. Penyanyi dan penari yang lain adalah Nungki, Tutik, Mulyati, Sus Min, dan Rukmini. Cik Boen tidak hanya berperan sebagai pengelola kesenian ini, tetapi ternyata ia juga dapat memainkan alat musik kromong. Bahkan ia juga pandai melawak dan menari. Lawakan dan tariannya disampaikan secara spontan. Pemain musik lainnya adalah antara lain Noto dan Pahing. Para penari Gambang Semarang pada saat itu sering menari dan berkostum dengan gaya India, karena pada saat itu film-film India sedang populer, sehingga mempengaruhi penampilan mereka. Pada saat itu Gambang Semarang sering dipentaskan di klenteng-klenteng: Gang Lombok, Gang Baru, Bon Lancung dan lain-lain. Di samping itu kesenian ini juga sering dipentaskan untuk memeriahkan pasar malam di Tegal Wareng Semarang.29 Kepemimpinan Cik Boen dalam kesenian Gambang Semarang harus berakhir, ketika ia menjadi melarat karena hampir seluruh hartanya digunakan untuk mengurusi kesenian ini. Bahkan pada awal tahun 1960-an ia meninggal.30 Setelah Cik Boen meninggal, Gambang Semarang juga mengalami masa suram selama lebih kurang 10 tahun.

Pada tahun 1972 Noto, seniman Gambang Semarang dari masa Cik Boen, ingin menghidupkan kembali kesenian ini. Dengan dana yang relatif kecil ia dapat mengadakan peralatan musik. Tentu saja dengan dana yang relatif kecil itu, kualitas bahan-bahannya juga kurang bagus . Gambang dibuat dari kayu sengon sehingga tidak berbunyi keras. Walaupun begitu Noto dan grupnya pernah diminta untuk pentas di hotel Patra Jasa Semarang pada tahun 1974. Penari dan penyanyi yang terkenal pada saat itu adalah Tuti Yuliati dan Istinah Amin.

Pada sekitar tahun 1970-an dan 1980-an perhatian terhadap kesenian Gambang Semarang muncul dari berbagai kalangan, baik secara individual maupun kelompok. Pada tahun 1972 mulai muncul perhatian yang bukan berasal dari masyarakat umum, tetapi dari pemerintah Kotamadya Daerah Tingkat II Semarang. Pada saat itu Walikota Semarang, Hadijanto, menugaskan kepada Iman Prakoso, Kabin. Kebudayaan Kotamadya Semarang, untuk menghidupkan kembali kesenian Gambang Semarang. Iman Prakoso menolak tugas tersebut, dengan alasan bahwa Gambang Semarang bukan kesenian asli Semarang. Karena Iman Prakoso tidak bersedia menjalankan tugas tersebut, kemudian Walikota menugaskan Thukul, Kepala Bidang Sarparlu. Pelaksanaan tugas ini dilimpahkan kepada Sekolah Dasar “Kartini”. Pengelolaannya dipimpin oleh Soesman, guru sekolah dasar tersebut. Para pesertanya direkrut dari guru-guru sekolah dasar di Kotamadya Semarang. Namun ternyata setelah kesenian tersebut dipentaskan, justru menjadi bahan perdebatan yang ramai di DPRD Semarang. Pada saat itu suasana masih sangat sensitif terhadap kebebasan pergaulan antara pria dan wanita. Padahal, ketika itu tarian Gambang Semarang diciptakan berpasangan dan bergandengan tangan antara pria dan wanita. Oleh sebab itu DPRD menolaknya, dan Gambang Semarang sekolah dasar “Kartini” bubar. Peralatannya masih disimpan di sekolah dasar tersebut.31

Salah seorang anggota masyarakat Semarang yang lain, Bah Kalud, juga berpartisipasi dalam kancah pelestarian kesenian Gambang Semarang. Pada tahun 1976 Bah Kalud meminta Jayadi, seniman Gambang Semarang, untuk membeli peralatan musik di Ciputat Jakarta. Akan tetapi kemudian peralatan musik tersebut dibeli oleh Jayadi sendiri, dan Bah Kalud membuat instrument musik lagi yang kemudian dijual kepada Thio Tiong Gie (pengurus Klenteng Gang Lombok). Setelah memiliki peralatan musik, Thio Tiong Gie mendirikan Paguyuban “Gambang Semarang”. Organisasi ini mendapat pengesahan dari Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Tengah tertanggal 26 Juli 1979 dengan kategori kesenian rakyat. Beberapa pemain musik dalam kelompok kesenian ini yaitu Subadi, Jayadi, Noto, Min, Yatin, dan Yuri. Upaya Tio Thiong Gie dalam mengembangan Gambang Semarang telah membuahkan hasil yang cukup membanggakan. Paguyuban kesenian yang dipimpinnya itu telah memperoleh beberapa tanda penghargaan. Penghargaan pertama diperoleh dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Pengembangan Jawa Tengah dalam rangka Festival Pertunjukan Rakyat Propinsi Jawa Tengah pada tanggal 18 Nopember 1980. Penghargaan yang lain didapatkan dari Pemerintah Kotamadya Daerah Tingkat II Semarang dalam rangka penyelenggaraan Karnaval Dugderan pada tahun 1992.

Pada tahun 1985 Grup “Aktifitas Seniman Remaja” (ASR), di bawah pimpinan Burhanuddin, membentuk “Gambang Remaja”. Pelatihnya adalah seniman Gambang Semarang “kawakan” Jayadi (pemain kromong) dan Juri (pemain suling). Dalam grup ini peralatan musik Gambang Semarang ditambah dengan siter, dan juga dilengkapi dengan organ. “Gambang Remaja” sering dipentaskan untuk menyambut turis di pelabuhan Semarang. Selain itu ASR juga pernah mementaskan opera “Ande-ande Lumut” dengan iringan musik Gambang Semarang di Gedung Olah Raga Simpang Lima Semarang. Penonton pertunjukan ini harus membayar dengan membeli tiket, dan jumlah penontonnya cukup banyak. Pengemasan tari dan busana “Gambang Remaja” ditangani oleh Asri Meiati, pimpinan Sanggar “Asri Budaya”. Pengemasan tersebut dibuat atas persetujuan Iman Prakoso, Kepala Bidang Kebudayaan Kotamadya Semarang pada saat itu.32

Tidak lama setelah “Gambang Remaja” terbentuk, pada tahun 1986 seorang budayawan Semarang, Amen Budiman, juga mendirikan perkumpulan Gambang Semarang “Kembang Goyang”. Pelatih dan pemainnya diambil dari paguyuban “Gambang Semarang” di Klenteng Gang Lombok. Menurut Sayekti, penyanyi dalam perkumpulan “Kembang Goyang”, kesenian yang dipimpin oleh Amen Budiman ini dipentaskan untuk berbagai acara yaitu pameran masakan Semarang, pesta perkawinan, pesta ulang tahun, dan acara menyambut tahun baru.33 Menjelang Amen Budiman wafat (1995), peralatan musiknya dijual kepada Hotel Graha Santika Semarang. Pada hari-hari tertentu hotel tersebut menyajikan Gambang Semarang untuk menghibur tamu-tamunya.

Pada tahun 1990-an kalangan pemerhati kesenian Gambang Semarang menjadi semakin luas. Masalah yang menjadi pusat perhatian dan pemikiran tidak saja mengenai masalah pengembangannya, tetapi juga menyangkut soal pencarian kesepakatan untuk mengakuinya sebagai salah satu identitas budaya kota Semarang. Usaha-usaha dan diskusi tentang hal ini muncul dari berbagai lembaga yang terkait seperti Dinas Pariwisata, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, dan beberapa Perguruan Tinggi. Usaha Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kotamadya Semarang untuk mengembangkan Gambang Semarang terus berlanjut sampai dengan dekade 1990-an. Hal ini dapat dibuktikan dengan melihat karya Agus Supriyanto, seorang staf Seksi Kebudayaan di instansi tersebut. Atas dorongan Iman Prakoso, yang ketika itu masih menjabat sebagai Kasi Kebudayaan, Agus Supriyanto mencipta tari Gado-gado Semarang dengan iringan musik Gambang Semarang. Lagu “Gado-gado Semarang” dicipta oleh Kelly Puspita atas permintaan Hadiyanto, walikota Semarang periode tahun 1970-an.34 Menurut Agus Supriyanto lagu “Gado-gado Semarang” dipilih sebagai dasar penciptaan dan iringan tari yang diciptakannya karena syair lagu tersebut mencerminkan identitas Semarang. Semula tari ini hanya dilakukan oleh wanita, tetapi kemudian dikembangkan menjadi tari pasangan antara pria dan wanita, yang dimaksudkan sebagai tari pergaulan. Tari tersebut menampakkan gerak-gerak erotis yang menonjolkan gerakan payudara dan pantat. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kotamadya Semarang telah memasyarakatkan tari Gado-gado Semarang melalui jalur pendidikan formal. Di sekolah-sekolah SMP dan SMU di Kotamadya Semarang diajarkan tarian tersebut. Sebelum itu guru-guru tari di Kotamadya Semarang mendapat penataran dengan materi tarian tersebut. Kemudian juga diadakan lomba tari Semarangan antarsiswa SMP dan SMU di Kotamadya Semarang. Tarian ini juga pernah diikutsertakan dalam festival kesenian tingkat Jawa Tengah dan dipentaskan di Taman Mini Indonesia Indah untuk mewakili Kotamadya Semarang.

Pada awal tahun 1990 IKIP Negeri Semarang juga muncul dalam wacana pengembangan Gambang Semarang. Bintang, seorang sarjana seni tari yang mengajar di Institut tersebut, telah menciptakan tari yang diiringi dengan musik serta lagu Gambang Semarang dan diberi nama tari “Denok”. Penciptaan tari ini berdasar pada unsur-unsur gerak tari “jalan ngondek”, “jalan ngeyek”, dan “jalan tepak”. Di samping itu juga dimasukkan unsur-unsur gerak tari Jawa. Busananya juga dibuat seperti busana yang dipakai dalam Gambang Semarang yaitu kebaya encim dan kain pesisiran. Denok adalah suatu panggilan untuk anak gadis Semarang. Tarian ini menggambarkan kelincahan gadis-gadis Semarang, dan dapat ditarikan secara masal atau tunggal.35

Fakultas Sastra Universitas Diponegoro adalah salah satu lembaga yang ikut berperanan dalam pengembangan kesenian ini. Langkah awal yang dilakukannya adalah mengadakan pameran budaya “Semarangan” dalam rangka Dies Natalis Universitas Diponegoro pada tahun 1993. Dalam event tersebut dipamerkan antara lain peralatan musik Gambang Semarang dan masakan “Semarangan”. Upaya pengembangan terus dilanjutkan dengan mengadakan sarasehan tentang “Pelestarian dan Pengembangan Kesenian Gambang Semarang” pada tanggal 20 Januari 1994. Dari sarasehan tersebut diperoleh kesepakatan bahwa Gambang Semarang perlu dilestarikan dan dikembangkan karena kesenian tersebut mempunyai nilai penting sebagai aset wisata, aset ekonomi, dan juga sebagai salah satu identitas budaya kota Semarang. Masalah yang muncul adalah apakah masyarakat Semarang masih menggemari kesenian ini, dan apakah mereka dapat menerima kesenian tersebut sebagai salah satu identitas kota Semarang. Hasil sarasehan ini terus menjadi bahan pemikiran Fakultas Sastra Universitas Diponegoro, sehingga akhirnya diputuskan untuk dibawa ke forum lokakarya yang diselenggarakan pada tanggal 25 Juli 1994. Pada intinya lokakarya tersebut membicarakan langkah-langkah untuk mengembangkan seluruh aspek seni Gambang Semarang yang meliputi seni tari, musik, nyanyian, lawak, busana, dan dialek.

Usaha pengembangan Gambang Semarang terus dilanjutkan dengan cara menerapkan hasil lokakarya tersebut dalam kegiatan pelatihan Gambang Semarang bagi mahasiswa, dosen, dan karyawan Fakultas Sastra Universitas Diponegoro. Instansi ini telah memiliki peralatan musik sendiri yang dibeli dari Jayadi, dan seniman ini bersama rekannya Yuri diminta untuk melatih. Dalam pelatihan itu semua aspek seni digarap dan dikembangkan berdasarkan unsur-unsur seni yang telah dimiliki oleh kesenian ini.

Pengembangan tari didasarkan pada gerak-gerak khasnya yaitu genjot, lambeyan, ngondek, dan ngeyek, serta diperkaya dengan unsur-unsur gerak tari Jawa, Sunda, dan Bali. Hal itu mengingat kenyataan bahwa masyarakat Semarang memang bersifat heterogen, terdiri dari berbagai suku bangsa. Selain itu, penggarapan tari juga didasarkan pada kondisi geografis Semarang yang merupakan daerah pantai, sehingga dibuat gerak-gerak tari yang menggambarkan deburan ombak dengan ditandai suara kendang yang bertalu-talu. Musiknya juga dikembangkan dengan cara menambahkan alat musik siter serta diciptakan lagu-lagu baru seperti “Goyang Semarang”, “Lenggang Semarang”, dan “Tigapuluh Tahun Fakultas Sastra”. Lagu “Goyang Semarang” dapat dinyanyikan dalam rangka lawak, karena lagu tersebut dapat dibawakan secara bersahutan dan dibuka dengan irama “rap” yang syairnya dapat disesuaikan dengan kondisi aktual pada saat pertunjukan. Selain itu juga disajikan lagu-lagu Barat, Dang- Dut, keroncong, dan tembang-tembang Jawa.

Busana penari mendapat penggarapan dan pengembangan selaras dengan model busana pesisiran. Kebaya dibuat dari bahan polos dengan hiasan bordir pada seluruh bagian tepinya, dan ujung depan kebaya dibuat meruncing ke bawah. Kain yang digunakan adalah kain batik pesisiran dan dilengkapi dengan “sonder” sebagai pemanis busana tari. Sanggul penari digarap dengan cara memadukan unsur-unsur sanggul Jawa, Eropa, dan Cina.

Seni lawak juga mendapat penggarapan yang cukup penting dalam rangka pengembangan Gambang Semarang sebagai salah satu identitas budaya kota Semarang. Salah satu unsur budaya Semarang yang dapat diidentifikasi secara mudah adalah dialek. Oleh karena itu, dalam bagian lawak dimasukkan dialek Semarang dengan harapan bahwa hal tersebut dapat menampilkan identitas Semarang.

Gambang Semarang Fakultas Sastra UNDIP ini telah dipentaskan dalam berbagai acara: perayaan lustrum Fakultas Sastra Universitas Diponegoro, Dies Natalis Universitas Diponegoro, penyambutan turis dari Amerika di Kota Lama, pembukaan pameran pembangunan di Taman Budaya Raden Saleh, penyambutan Duta Besar Australi di Hotel Patra Jasa, “Talkshow” Kepariwisataan di Hotel Grand Candi, penyuluhan guru-guru SMP di kotamadya Semarang dan lain-lain.

Untuk mengembangkan kesenian Gambang Semarang, Fakultas Sastra Universitas Diponegoro telah menjalin kerja sama dengan lembaga-lembaga lain yaitu Pemerintah Kotamadya Daerah Tingkat II Semarang, Dewan Kesenian Jawa Tengah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, harian Suara Merdeka, Akademi Pariwisata, dan Hotel Graha Santika.

Kepedulian masyarakat Semarang untuk mengembangkan Gambang Semarang merupakan suatu bukti bahwa kesenian tersebut tetap memiliki masyarakat pendukung. Oleh karena itu, suatu hal yang perlu dipikirkan dan direalisasikan adalah penyediaan cultural apparatus, yaitu organisasi dan lingkungan yang menunjang pertumbuhan budaya.36

IV. Simpulan dan Saran

Jika Gambang Semarang tetap memiliki masyarakat penggemar adalah suatu hal yang dapat dipahami. Kesenian tersebut sangat berpotensi sebagai entertainment, karena masing- masing unsur seninya yaitu musik, tari, vokal, lawak, dan busana mengandung unsur artistik yang khas serta bersifat menghibur. Semarang, sebagai pusat kegiatan pemerintahan, perdagangan, industri, dan juga pendidikan , tentu saja memiliki masyarakat yang membutuhkan seni pertunjukan sebagai sarana relax untuk melepas ketegangan kesibukan sehari-hari. Suatu hal yang juga perlu dicatat adalah bahwa kesenian Gambang Semarang telah menjadi sarana integrasi yang bersahabat serta menghibur di antara orang Indonesia dan Cina di kota Semarang.

Sebagai suatu kesenian dengan akar historis yang kuat dan nilai-nilai positif yang telah disebut di atas, kualitas kesenian ini perlu senantiasa ditingkatkan sesuai dengan tuntutan jamannya. Secara bersama-sama pemerintah dan masyarakat dapat membentuk management untuk mengelola modal, sumber daya manusia, ruang, waktu, promosi, dan pemasaran kesenian Gambang Semarang. Kualitas dan kuantitas pementasan kesenian ini dapat digarap sedemikian rupa agar tetap mendapat apresiasi masyarakat. Karena kesenian tersebut mengandung unsur-unsur kesenian yang khas milik “orang Semarang”, ia dapat menjadi salah satu identitas budaya kota Semarang.

CATATAN

1. Rustopo, Gendhon Humardani (1923-1983) – Arsitek dan Pelaksana Pembangunan Kehidupan Seni Tradisi Jawa Yang Modern Mengindonesia, Suatu Biografi, (Thesis, Universitas Gadjah Mada), 1990.

2. Taufik Abdullah dan Abdurrachman Surjomihardjo, Ilmu Sejarah Dan Historiografi Arah dan Perspektif, (Jakarta: PT Gramedia), 1985, hlm. xiv.

3. Iman Moch. Kaliri, dkk., Melihat dari dekat Gambang Semarang, (Kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kodya Semarang), 1980, hlm. 5-6. Lihat juga Sie Boen Lian, “Gambang Kromong Muziek” dalam Mededelingen van Het China Instituut, 1938, hlm. 80-81.

4. Jajang Gunawijaya & Asep Solihin, Perkembangan Gambang Kromong, (Proyek Pelestarian dan Pengembangan Kesenian Tradisional Betawi Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, 1996, hlm. 19.

5. Iman Moch. Kaliri, dkk., op. cit., hlm. 2-3.

6. Liem Thian Joe, Riwajat Semarang (Dari Djamannja Sam Poo Sampe Terhapoesnja Kongkoan), Semarang, 1933, hlm. 3-4.

7. Willmott, The Chinese of Semarang: A Changing Minority Community in Indonesia, (Ithaca, New York: Cornell University Press), 1960, hlm. 1-2.

8. Amen Budiman, “Mekarnya Pecinan”, dalam Suara Merdeka, 18 Juli 1975.

9. H.J. De Graaf, dkk., Cina Muslim di Jawa Abad XV dan XVI antara Historisitas dan Mitos, Terjemahan oleh Alfajri, (Yogyakarta: PT Tiara Wacana), 1998, hlm. 3.

10. Peter Carey, Orang Jawa dan Masyarakat Cina (1755-1825), Terjemahan oleh Pustaka Azet, (Jakarta: Pustaka Azet), 1985, hlm. 19-20.

11. Mona Lohanda, The Kapitan Cina of Batavia 1837-1942, (Jakarta: Djambatan), 1996, hlm. 57.

12. Peter Carey, op. cit., hlm. 20-21.

13. Ibid., hlm. 32.

14. Liem Thian Joe, op. cit, hlm. 12.

15. Ibid., hlm. 202.

16. Sie Boen Lian, op. cit., hlm. 79.

17. Wawancara dengan Kwa Tong Hay, September 1998.

18. Wawancara dengan Soengkono, 5 Oktober 1998.

19. Phoa Kian Sioe, “Orkest Gambang, Hasil Kesenian Tionghoa Peranakan di Djakarta”, dalam Pantjawarna, Juni 1949, hlm. 38.

20. Wawancara dengan Jayadi, 13 Maret 1998.

21. Tjia Koen Hwa, “Siapa Pentjipta Aksi Kutjing, Gambang Semarang & Impian Semalam”, dalam Pantjawarna, tahun XII 16 April 1960, hlm. 30.

22. Wawancara dengan Hartono, 12-13 Oktober 1998.

23. Mekar Sari 25 Desember 1991, hlm. 42.

24. Wawancara dengan Kwa Tong Hay, 9 Oktober 1998.

25. Wawancara dengan Gan Kok Hwi, 9 Oktober 1998.

26. Amen Budiman, “Gambang Semarang”, dalam Suara merdeka, 9 Pebruari 1974.

27. Wawancara dengan Tutik, 18 Oktober 1998.

28. Wawancara dengan Jayadi, 13 Maret 1998.

29. Wawancara dengan Emy, 20 September 1998.

30. Wawancara dengan Jayadi, 13 Maret 1998.

31. Wawancara dengan Iman Prakoso, 25 September 1998.

32. Wawancara dengan Imam Prakoso, 25 September 1998.

33. Wawancara dengan Sayekti, 1 September 1998.

34. Wawancara dengan Kelli Puspita, 23 Agustus 1998.

35. Wawancara dengan Bintang, September 1998.

36. Kuntowijoyo, Demokrasi dan Budaya Demokrasi, Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, hlm. 248.

DAFTAR PUSTAKA

Budiman, Amen. 1974. “Gambang Semarang”, dalam Suara Merdeka 9 Pebruari 1974.

____________. 1975. “Mekarnya Pecinan”, dalam Suara Merdeka 18 Juli 1975.

Carey, Peter, 1985. Orang Jawa & Masyarakat Cina (1755-1825). Terjemahan oleh Pustaka Azet. Jakarta: Pustaka Azet.

Dhanang Respati Puguh, dkk., 1999. Penataan Kesenian Gambang Semarang sebagai Identitas Budaya Semarang. Laporan Penelitian Hibah Bersaing Perguruan Tinggi Tahun I Anggaran 1998/1999. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Universitas Diponegoro.

De Graaf, H.J. dkk., 1998. Cina Muslim di Jawa Abad XV dan XVI antara Historisitas dan Mitos. Terjemahan oleh Alfajri. Yogyakarta: PT. Tiara Wacana.

Gunawijaya, Jajang, & Asep Solihin. 1996. Perkembangan Gambang Kromong. Laporan penelitian tidak diterbitkan. Proyek Pelestarian dan Pengembangan Kesenian Tradisional Betawi Dinas Kebudayaan DKI Jakarta.

Kuntowijoyo, 1994. Demokrasi dan Budaya Demokrasi. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.

Liem Thian Joe, 1933. Riwayat Semarang (Dari Djamannja Sam Poo Sampe Terhapoesnja Kongkoan). Semarang.

Lohanda, Mona. 1996. The Kapitan Cina of Batavia 1837-1942. Jakarta: Djambatan

Moch. Kaliri, Iman, dkk. 1980. Melihat dari dekat Gambang Semarang. Kantor Departemen P Dan K Kodya Semarang.

Phoa Kian Sioe. 1949. “Orkest Gambang, Hasil Kesenian Tionghoa Peranakan di Djakarta”. Dimuat dalam Pantjawarna. Juni 1949.

Rustopo. 1990. Gendhon Humardani (1923-1983) - Arsitek dan Pelaksana Pembangunan Kehidupan Seni Tradisi Jawa Yang Modern Mengindonesia, Suatu Biografi. Thesis tidak diterbitkan. Universitas Gajah Mada.

Rejeki. 1991. “Ora Kabeh Budaya Asing Ala Tumraping Kesenian Tradisional”. dalam Mekar Sari, 25 Desember 1991.

Sie Boen Lian, 1938. “Gambang Kromong Muziek” dalam Mededelingen van Het China Instituut.

Tjia Koen Hwa. 1960. “Siapa pentjipta Aksi Kutjing, Gambang Semarang & Impian Semalam”. dalam Pantjawarna, tahun XII 16 April 1960.

Willmott, 1960. The Chinese of Semarang: A Changing Minority Community in Indonesia. Ithaca, New York: Cornell University Press.


[*] Artikel ini merupakan pengembangan salah satu bab dalam penelitian Hibah Bersaing Perguruan Tinggi yang berjudul Penataan Kesenian Gambang Semarang sebagai Identitas Budaya Semarang. Dalam penelitian ini penulis menjadi salah seorang anggota yang bertugas meneliti dan menulis sejarah Gambang Semarang.

JURUSAN SEJARAH FIB UNDIP DIKUNJUNGI MAHASISWA ASEAN +UI (April 30th, 2009 by dewiyuliati)

Pada Selasa, 28 aPRIL 2009, mahasiswa dari berbagai negara di kawasan ASEAN (Indonesia, Filipina, Kamboja, Laos, Vietnam, Malaysia, Brunei, dan Singapura) mengunjungi Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro.  Mereka adalah para peserta “Asian Emporium Short Course-Shourt-East Asia Identities: Past, Present, and Future”. Acara penyambutan tamu dikelola oleh panitia yang terdiri atas: Dr. Dewi Yuliati, M.A. (Ketua Jurusan Sejarah), Dra. Siti Maziyah, M.Hum. (Sekretaris Jurusan Sejarah), Dr. Agus Supriyono, Drs. Indriyanto, SH, M.Hum., M.A., Prof. Dr. Singgih Tri Sulistiyono, M.Hum., Prof. Dr. Sutejo Kuwat Widodo, M. Hum.

Acara penyambutan dibuka oleh Pembantu Dekan IV FIB, Drs. Suharno, M.A., dan dilanjutkan oleh Ketua Jurusan Sejarah, Dr. Dewi Yuliati, M.A.  Selanjutnya Ketua Jurusan Sejarah memperkenalkan profil Jurusan Sejarah, terutama mengenai visi dan misi Jurusan Sejarah, Aset-aset Jurusan Sejarah (laboratorium Sejarah (ruang audio-visual dan referensi), Perpustakaan, dan aset-aset lainnya), Sumber Daya Manusia, prestasi-prestasi Jurusan, dan kurikulum yang berkait dengan aspek kemaritiman. Mereka sangat tertarik pada aset-aset yang dimiliki oleh Jurusan Sejarah, terutama yang berkait dengan sejarah dan budaya Maritim Indonesia.

Pertemuan dengan mahasiswa ASEAN ini diharapkan dapat menjadi salah satu jalan bagi Universitas Diponegoro untuk  “Go International”.


PESONA MOTIF BATIK SEMARANG (April 30th, 2009 by dewiyuliati)

MOTIF-MOTIF BATIK SEMARANG

Motif: Merak Pertiwi dengan latar daun asam dan anyaman bambu, tahun 1950-an,

Koleksi peneliti; diberi nama oleh Dewi Yuliati selaku peneliti.

Motif: Puspita Sari, dengan latar kawung dipadu dengan parang rusak dan parang curigo; Nama perusahaan: Tan Kong Tien Battikerij (1920-1970); nama pemilik:Raden Nganten Sri Moerdiyanti; motif diberi nama oleh Dewi Yuliati selaku peneliti.

Motif: Cempaka Sari; Latar: parang kusumo, pada pinggiran dihiasi dengan motif batik pesisiran, buket bunga cempaka; nama perusahaan: Tan Kong Tien Batikkerij (awal abad ke-20-1970); Koleksi Raden Nganten Sri Moerdiyanti, pemilik Tan Kong Tien Batikkerij; motif diberi nama oleh Dewi Yuliati selaku peneliti.

Motif: Puspita Sari dengan latar nitik; nama perusahaan: Tan Kong Tien Batikkerij; koleksi Raden Nganten Sri Moerdiyanti (pemilik Tan Kong Tien Batikkerij); motif diberi nama oleh Dewi Yuliati selaku peneliti.

Motif: Puspita Sari dengan latar grinsing; nama perusahaan: Tan Kong Tien Battikkerij; koleksi Raden Nganten Sri Moerdijanti (pemilik Tan Kong Tin Batikkerij); motif diberi nama oleh Dewi Yuliati selaku peneliti.

Motif: Bangau Pertiwi; diproduksi oleh “Sanggar Batik Semarang 16”; tahun 2006; diberi nama oleh Dewi Yuliati selaku peneliti.

Motif: Sriti Rejeki, 1900-1910, koleksi Los Angeles Museum of Art, diberi nama oleh Dewi Yuliati selaku peneliti, direproduksi oleh perajin batik “Batik Semarang Indah” di Kampung Batik, 2007.

Motif: Merak Puspita dengan latar daun-daun asam, daun ketela, dan bunga-bunga kecil; koleksi: Kerabat Tasripin di Kampung Kulitan; diberi nama oleh Dewi Yuliati selaku peneliti.

Motif: Merak Kusuma; diproduksi oleh perajin batik “ Batik Semarang Indah” di Kampung Batik; 2007; motif diberi nama oleh Dewi Yuliati selaku peneliti.

Motif: Merak Pertiwi; diproduksi oleh perajin batik “Batik Semarang Indah”

di Kampung Batik, 2007.

Motif: Sriti Rejeki; direproduksi oleh perajin batik “Batik Semarang Indah”

di kampung Batik, 2007.

Batik Semarang (Ungaran), sekitar 1860

Perusahaan: Von Franquemont

Motif: Dewi Hsi Wang Mu, burung phoenix dan pohon persik.

Nama motif: Merak Puspa Rukmi; diproduksi oleh “Batik Semarang Indah”; tahun 2007;

motif diberi nama oleh Dewi Yuliati selaku peneliti.

Nama motif: Merak Kinasih; diproduksi oleh “Batik Semarang Indah”; tahun 2007; motif diberi nama oleh Dewi Yuliati selaku peneliti.

Sarung batik Semarang; koleksi kerabat Tasripin di Kampung Kulitan; motif: buket bunga cempaka; latar daun asam, burung-burung kecil, dan kupu-kupu.

Nama motif: Intan Puspita; diproduksi oleh: “Batik Semarang Indah; tahun 2007; motif diberi nama oleh Dewi Yuliati selaku peneliti.

Suasana penutupan Pelatihan Membatik di Kampung Batik; oleh DEKRANASDA KOTA SEMARANG, 28 Juli 2006; gambar bawah: tampak Wali Kota Semarang, Sukawi Sutarip dan Ibu Sinto sedang mengamati produk-produk batik hasil pelatihan.

Suasana penutupan Pelatihan Membatik di Kampung Batik; 28 Juli 2006; nama motif batik yang diperagakan: Wora-wari Wigati; diproduksi oleh peserta pelatihan di Kampung Batik, motif diberi nama oleh Dewi Yuliati selaku peneliti.

Nama motif: Wora-wari Wigati; diproduksi oleh: “Batik Semarang Indah”;

Motif diberi nama oleh Dewi Yuliati selaku peneliti.

Nama motif: Merak Semawis; direproduksi oleh “Batik Semarang Indah;

Motif diberi nama oleh Dewi Yuliati selaku peneliti.

Nama motif: Samodra Amengku Negari; diproduksi oleh “Batik Semarang Indah”;

Motif diberi nama oleh Dewi Yuliati selaku peneliti.

MOTIF-MOTIF BATIK SEMARANG

Motif: Merak Pertiwi dengan latar daun asam dan anyaman bambu, tahun 1950-an,

Koleksi peneliti; diberi nama oleh Dewi Yuliati selaku peneliti.

Motif: Puspita Sari, dengan latar kawung dipadu dengan parang rusak dan parang curigo; Nama perusahaan: Tan Kong Tien Battikerij (1920-1970); nama pemilik:Raden Nganten Sri Moerdiyanti; motif diberi nama oleh Dewi Yuliati selaku peneliti.

Motif: Cempaka Sari; Latar: parang kusumo, pada pinggiran dihiasi dengan motif batik pesisiran, buket bunga cempaka; nama perusahaan: Tan Kong Tien Batikkerij (awal abad ke-20-1970); Koleksi Raden Nganten Sri Moerdiyanti, pemilik Tan Kong Tien Batikkerij; motif diberi nama oleh Dewi Yuliati selaku peneliti.

Motif: Puspita Sari dengan latar nitik; nama perusahaan: Tan Kong Tien Batikkerij; koleksi Raden Nganten Sri Moerdiyanti (pemilik Tan Kong Tien Batikkerij); motif diberi nama oleh Dewi Yuliati selaku peneliti.

Motif: Puspita Sari dengan latar grinsing; nama perusahaan: Tan Kong Tien Battikkerij; koleksi Raden Nganten Sri Moerdijanti (pemilik Tan Kong Tin Batikkerij); motif diberi nama oleh Dewi Yuliati selaku peneliti.

Motif: Bangau Pertiwi; diproduksi oleh “Sanggar Batik Semarang 16”; tahun 2006; diberi nama oleh Dewi Yuliati selaku peneliti.

Motif: Sriti Rejeki, 1900-1910, koleksi Los Angeles Museum of Art, diberi nama oleh Dewi Yuliati selaku peneliti, direproduksi oleh perajin batik “Batik Semarang Indah” di Kampung Batik, 2007.

Motif: Merak Puspita dengan latar daun-daun asam, daun ketela, dan bunga-bunga kecil; koleksi: Kerabat Tasripin di Kampung Kulitan; diberi nama oleh Dewi Yuliati selaku peneliti.

Motif: Merak Kusuma; diproduksi oleh perajin batik “ Batik Semarang Indah” di Kampung Batik; 2007; motif diberi nama oleh Dewi Yuliati selaku peneliti.

Motif: Merak Pertiwi; diproduksi oleh perajin batik “Batik Semarang Indah”

di Kampung Batik, 2007.

Motif: Sriti Rejeki; direproduksi oleh perajin batik “Batik Semarang Indah”

di kampung Batik, 2007.

Batik Semarang (Ungaran), sekitar 1860

Perusahaan: Von Franquemont

Motif: Dewi Hsi Wang Mu, burung phoenix dan pohon persik.

Nama motif: Merak Puspa Rukmi; diproduksi oleh “Batik Semarang Indah”; tahun 2007;

motif diberi nama oleh Dewi Yuliati selaku peneliti.

Nama motif: Merak Kinasih; diproduksi oleh “Batik Semarang Indah”; tahun 2007; motif diberi nama oleh Dewi Yuliati selaku peneliti.

Sarung batik Semarang; koleksi kerabat Tasripin di Kampung Kulitan; motif: buket bunga cempaka; latar daun asam, burung-burung kecil, dan kupu-kupu.

Nama motif: Intan Puspita; diproduksi oleh: “Batik Semarang Indah; tahun 2007; motif diberi nama oleh Dewi Yuliati selaku peneliti.

Suasana penutupan Pelatihan Membatik di Kampung Batik; oleh DEKRANASDA KOTA SEMARANG, 28 Juli 2006; gambar bawah: tampak Wali Kota Semarang, Sukawi Sutarip dan Ibu Sinto sedang mengamati produk-produk batik hasil pelatihan.

Suasana penutupan Pelatihan Membatik di Kampung Batik; 28 Juli 2006; nama motif batik yang diperagakan: Wora-wari Wigati; diproduksi oleh peserta pelatihan di Kampung Batik, motif diberi nama oleh Dewi Yuliati selaku peneliti.

Nama motif: Wora-wari Wigati; diproduksi oleh: “Batik Semarang Indah”;

Motif diberi nama oleh Dewi Yuliati selaku peneliti.

Nama motif: Merak Semawis; direproduksi oleh “Batik Semarang Indah;

Motif diberi nama oleh Dewi Yuliati selaku peneliti.

Nama motif: Samodra Amengku Negari; diproduksi oleh “Batik Semarang Indah”;

Motif diberi nama oleh Dewi Yuliati selaku peneliti.

TERBENTUKNYA PROPINSI JAWA TENGAH (April 29th, 2009 by dewiyuliati)

Abstract

This article explains the formation of Central Java Province by tracing the historical sources of Central Java since the first existence of administrative authority in this region Central Java Province was juridically established in december 1929 and was effective on 1st january 1930. The formation of Central Java Province was aimed especially to support decentralization process, because in the first quarter of the 20th century the central government in Batavia had no more capability of handling all of its regions’ problems in Indonesia, and to endorse the political will of the liberal group to fasilitate their political interests and businesses.

 

Keywords: Desentralisasi, Propinsi Jawa Tengah.

 

Read the rest of this entry »