Archive for July, 2010

nasionalisme dan karakter bangsa (Friday, July 30th, 2010)

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Wingdings; panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-charset:2; mso-generic-font-family:auto; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:IN;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:85.05pt 113.4pt 113.4pt 85.05pt; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:1225408119; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-2088350246 67698699 1526521856 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l0:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; font-family:Wingdings;} @list l0:level2 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:65.35pt; mso-level-number-position:left; margin-left:65.35pt; text-indent:-11.35pt; font-family:Symbol; text-decoration:none; text-line-through:none; vertical-align:baseline;} @list l0:level3 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:1.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; font-family:Wingdings;} ol {margin-bottom:0in;} ul {margin-bottom:0in;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

KULIAH S2:

NASIONALISME DAN KARAKTER BANGSA

I. PENGERTIAN NASIONALISME

II. PERBEDAAN PATRIOTISME, CHAUVINISME, DAN NASIONALISME

III. KELAHIRAN NASIONALISME

1. PENGERTIAN NASIONALISME

Ø Dimensi Antropologi

Dalam ranah antropologi, nasionaliusme dipandang sebagai sistem budaya yang mencakup perasaan, komitmen, dan kesetiaan pada bangsa dan negara, serta rasa memiliki terhadap bangsa dan negara itu.

Ø Menurut Benedict Anderson:

Nation (bangsa) adalah suatu komunitas politik yang terbatas dan berdaulat yang dibayangkan (immagined communities). Komunitas ini dikatakan sebagai imagined communities sebab tidak mungkin seluruh warga dalam suatu komunitas dapat saling mengenal, saling berbicara, dan saling mendengar. Akan tetapi, mereka memiliki bayangan yang sama tentang komunitas mereka. Suatu bangsa dapat terbentuk, jika sejumlah warga dalam suatu komunitas mau menetapkan diri sebagai suatu bangsa yang mereka angankan atau bayangkan.

Ø Menurut Ernest Renan:

Unsur utama dalam nasionalisme adalah le desir de’etre ensemble (kemauan untuk bersatu). Kemauan bersama ini disebut nasionalisme yaitu suatu paham yang memberi ilham kepada sebagian besar penduduk bahwa nation state adalah cita-cita dan merupakan bentuk organisasi politik yang sah, sedangkan bangsa merupakan sumber semua tenaga kebudayaan dan kesejahteraan ekonomi.

Pendapat Benedict Anderson

Ø Hans Kohn, Nasionalisme Arti dan Sejarahnya (Jakarta: Penerbit Erlangga, 1984).

Nasionalisme adalah salah satu kekuatan yang menentukan dalam sejarah modern. Paham ini berasal dari Eropa Barat pada abad ke-18. Selama abad ke-19 ia telah tersebar di seluruh Eropa dan dalam abad ke-20,ia telah menjadi suatu pergerakan dunia.

Nasionalisme adalah suatu paham yang berpendapat bahwa kesetiaan tertinggi inividu harus diserahkan kepada negara kebangsaan. Sebelum lahir paham nasionalisme, kesetiaan orang tiak ditujukan kepada negara kebangsaan, tetapi kepada berbagai bentuk kekuasaan sosial, organisasi politik atau raja feodal, kesatuan ideologi seperti suku atau clan, negara kota, kerajaandinasti, gereja atau golongan keagamaan.

Unsur-unsur nasionalisme yang selalu ada di sepanjang sejarah: perasaan ikatan yang erat dengan tanah air, dengan tradisi-tradisi setempat, dan dengan penguasa-penguasa resmi di daerahnya.

Nation/bangsa merupakan golongan-golongan yang beragam dan tidak dapat dirumuskan secara eksak. Kebanyakan bangsa memiliki faktor-faktor obyektif tertentu yang membedakan mereka dengan bangsa-bangsa lainnya, seperti persamaan keturunan, bahasa, daerah, kesatuan politik, adat-istiadat, tradisi, dan perasaan agama. Akan tetapi, tidak satu pun di antara faktor-faktor ini bersifat mutlak untuk merumuskan bangsa. Rakyat Amerika tidak mensyaratkan bahwa mereka harus seketurunan untuk menjadi bangsa Amerika, dan rakyat Swis menggunakan tiga atau empat bahasa, tetapi merupakan bangsa yang memiliki pembatasan kebangsaannya secara tegas.

Faktor-faktor obyektif itu memang penting untuk merumuskan suatu bangsa, namun yang paling penting adalah kemauan bersama untuk bersatu (menurut Ernest Renan le desir d’etre ensemble) sebagai suatu bangsa. Kemauan bersama ini dinamakan nasionalisme, yaitu suatu paham yang memberi ilham kepada sebagian besar penduduk bahwa nation state (negara kebangsaan) adalah cita-cita dan merupakan bentuk organisasi politik yang sah, dan bangsa adalah sumber semua tenaga kebudayaan dan kesejahteraan ekonomi.

Ø Benedict Anderson, Imagined Communities Reflections on The Origin and Spread of Nationalism (London: Thetford Press Limited, 1983).

Bangsa adalah komunitas politik yang terbatas dan berdaulat yang dicita-citakan atau diangankan. Komunitas politik itu dikatakan sebagai imagined, karena anggota komunitas itu tidak pernah saling mengenal, saling bertemu, atau bahkan saling mendengar. Yang ada dalam pikiran masing-masing anggota komunitas tersebut adalah hanya gambaran tentang komunitas mereka. Suatu bangsa akan terbentuk, jika sejumlah besar warga dalam suatu komunitas mau menetapkan diri sebagai suatu bangsa yang mereka angankan.

Ø Sartono Kartodirdjo, Pembangunan Bangsa tentang Nasionalisme, Keadaran dan Kebudayaan Nasional (Yogyakarta: Aditya Media, 1993)

Nasionalisme adalah ideologi yang mencakup prinsip kebebasan (liberty), kesatuan (unity), kesamarataan (equality), serta kepribadian yang menjadi nilai kehidupan kolektif suatu kemunitas untuk merealisasikan tujuan politik yaitu pembentukan dan pelestarian negara nasional.

Nasionalisme berakar dari timbulnya kesadaran kolektif tentang ikatan tradisi dan deskriminasi pada masa kolonial yang sangat membatasi ruang gerak bangsa Indonesia. Reaksi terhadap situasi itu merupakan kesadaran untuk membebaskan diri dari tradisi dan untuk melawan pengingkaran terhadap identitas bangsa.

Jaringan komunikasi yang semakin meluas membuka kesempatan untuk melembagakan pengelompokan kaum terpelajar, yang sekaligus menjadi wahana untuk memobilisasi peserta dalam pergerakan, dan merupakan forum untuk menyelenggarakan dialog yang kemudian dapat menjelma sebagai arena politik.

Nasionalisme Indonesia ditandai dengan pembentukan organisasi Boedi Oetomo (BO). Penandaan ini bukan karena formatnya atau kegiatannya, tetapi karena kebutuhan akan identitas, solidaritas, kemandirian, dan kesadaran kolektifnya.

Kesadaran nasional Indonesia tumbuh pada awal abad ke-20 di kalangan tepelajar. Dewasa ini seharusnya setiap warga negara memiliki kesadaran nasional melalui pengajaran sejarah khususnya, dan pendidikan nasional pada umumnya, sehingga melembagalah keadaran nasional yang berbentuk loyalitas kepada bangsa dan negara.

Dalam proses pertumbuhan kebudayaan nasional, muncul nilai-nilai baru sebagai akibat modernisasi dan globalisasi seperti materialisme, konsumerisme, hedonisme, dan sebagainya. Gejala-gejala ini perlu dihadapi dengan nilai-nilai religius dan idealisme yang terutama berasal dari nasionalisme.

Nasionalisme merupakan bagian dari karakter atau kepribadian bangsa, yaitu nilai-nilai dan norma hidup yang memolakan perangai serta tingkah laku individu dalam kerangka kehidupan kolektifnya. Kepribadian bangsa terdiri atas beberapa unsur yaitu: 1). Kebudayaan nasional, 2). Identitas nasional, 3). Etos bangsa, 4). Nasionalisme.

Karakter bangsa dapat dilacak dari pengalaman kolektifnya atau sejarahnya. Karakter bangsa sangat dipengaruhi oleh etos bangsa, yaitu nilai-nilai hidup yang membentuk pola kelakuan serta gaya hidup bangsa. Sebagai contoh: Menurut Max Weber, etos protestan mendasari perkembangan kapitalisme.

KULIAH S2 SEJARAH: NASIONALISME DAN KARAKTER BANGSA

1. Diskusi tentang nasionalisme

2. Diskusi tentang karakter bangsa

3. Pembagian tugas untuk membuat paper dengan tema-tema:

· Karakter Bangsa Pada Masa Perluasan Kebudayaan India (abad V – abad XV).

· Karakter Bangsa Pada Masa Islamisasi (Abad XV – Abad XVII).

· Karaker Bangsa Pada Masa Perluasan Pengaruh Barat (Abad XVII – Awal Abad XX).

· Nasionalisme dan Karakter Bangsa Pada Masa Kolonial Belanda dan Jepang (1900-1945).

· Nasionalisme dan Karakter Bangsa Setelah kemerdekaan sampai dengan masa Reformasi.

Bidang-bidang kajian: politik, ekonomi, dan budaya.

2. PENGERTIAN NASIONALISME

Ø Hans Kohn, Nasionalisme Arti dan Sejarahnya (Jakarta: Penerbit Erlangga, 1984).

Nasionalisme adalah salah satu kekuatan yang menentukan dalam sejarah modern. Paham ini berasal dari Eropa Barat pada abad ke-18. Selama abad ke-19 ia telah tersebar di seluruh Eropa dan dalam abad ke-20,ia telah menjadi suatu pergerakan dunia.

Nasionalisme adalah suatu paham yang berpendapat bahwa kesetiaan tertinggi inividu harus diserahkan kepada negara kebangsaan. Sebelum lahir paham nasionalisme, kesetiaan orang tiak ditujukan kepada negara kebangsaan, tetapi kepada berbagai bentuk kekuasaan sosial, organisasi politik atau raja feodal, kesatuan ideologi seperti suku atau clan, negara kota, kerajaandinasti, gereja atau golongan keagamaan.

Unsur-unsur nasionalisme yang selalu ada di sepanjang sejarah: perasaan ikatan yang erat dengan tanah air, dengan tradisi-tradisi setempat, dan dengan penguasa-penguasa resmi di daerahnya.

Nation/bangsa merupakan golongan-golongan yang beragam dan tidak dapat dirumuskan secara eksak. Kebanyakan bangsa memiliki faktor-faktor obyektif tertentu yang membedakan mereka dengan bangsa-bangsa lainnya, seperti persamaan keturunan, bahasa, daerah, kesatuan politik, adat-istiadat, tradisi, dan perasaan agama. Akan tetapi, tidak satu pun di antara faktor-faktor ini bersifat mutlak untuk merumuskan bangsa. Rakyat Amerika tidak mensyaratkan bahwa mereka harus seketurunan untuk menjadi bangsa Amerika, dan rakyat Swis menggunakan tiga atau empat bahasa, tetapi merupakan bangsa yang memiliki pembatasan kebangsaannya secara tegas.

Faktor-faktor obyektif itu memang penting untuk merumuskan suatu bangsa, namun yang paling penting adalah kemauan bersama untuk bersatu (menurut Ernest Renan le desir d’etre ensemble) sebagai suatu bangsa. Kemauan bersama ini dinamakan nasionalisme, yaitu suatu paham yang memberi ilham kepada sebagian besar penduduk bahwa nation state (negara kebangsaan) adalah cita-cita dan merupakan bentuk organisasi politik yang sah, dan bangsa adalah sumber semua tenaga kebudayaan dan kesejahteraan ekonomi.

Ø Benedict Anderson, Imagined Communities Reflections on The Origin and Spread of Nationalism (London: Thetford Press Limited, 1983).

Bangsa adalah komunitas politik yang terbatas dan berdaulat yang dicita-citakan atau diangankan. Komunitas politik itu dikatakan sebagai imagined, karena anggota komunitas itu tidak pernah saling mengenal, saling bertemu, atau bahkan saling mendengar. Yang ada dalam pikiran masing-masing anggota komunitas tersebut adalah hanya gambaran tentang komunitas mereka. Suatu bangsa akan terbentuk, jika sejumlah besar warga dalam suatu komunitas mau menetapkan diri sebagai suatu bangsa yang mereka angankan.

Ø Sartono Kartodirdjo, Pembangunan Bangsa tentang Nasionalisme, Keadaran dan Kebudayaan Nasional (Yogyakarta: Aditya Media, 1993)

Nasionalisme adalah ideologi yang mencakup prinsip kebebasan (liberty), kesatuan (unity), kesamarataan (equality), serta kepribadian yang menjadi nilai kehidupan kolektif suatu kemunitas untuk merealisasikan tujuan politik yaitu pembentukan dan pelestarian negara nasional.

Nasionalisme berakar dari timbulnya kesadaran kolektif tentang ikatan tradisi dan deskriminasi pada masa kolonial yang sangat membatasi ruang gerak bangsa Indonesia. Reaksi terhadap situasi itu merupakan kesadaran untuk membebaskan diri dari tradisi dan untuk melawan pengingkaran terhadap identitas bangsa.

Jaringan komunikasi yang semakin meluas membuka kesempatan untuk melembagakan pengelompokan kaum terpelajar, yang sekaligus menjadi wahana untuk memobilisasi peserta dalam pergerakan, dan merupakan forum untuk menyelenggarakan dialog yang kemudian dapat menjelma sebagai arena politik.

Nasionalisme Indonesia ditandai dengan pembentukan organisasi Boedi Oetomo (BO). Penandaan ini bukan karena formatnya atau kegiatannya, tetapi karena kebutuhan akan identitas, solidaritas, kemandirian, dan kesadaran kolektifnya.

Kesadaran nasional Indonesia tumbuh pada awal abad ke-20 di kalangan tepelajar. Dewasa ini seharusnya setiap warga negara memiliki kesadaran nasional melalui pengajaran sejarah khususnya, dan pendidikan nasional pada umumnya, sehingga melembagalah keadaran nasional yang berbentuk loyalitas kepada bangsa dan negara.

Dalam proses pertumbuhan kebudayaan nasional, muncul nilai-nilai baru sebagai akibat modernisasi dan globalisasi seperti materialisme, konsumerisme, hedonisme, dan sebagainya. Gejala-gejala ini perlu dihadapi dengan nilai-nilai religius dan idealisme yang terutama berasal dari nasionalisme.

Nasionalisme merupakan bagian dari karakter atau kepribadian bangsa, yaitu nilai-nilai dan norma hidup yang memolakan perangai serta tingkah laku individu dalam kerangka kehidupan kolektifnya. Kepribadian bangsa terdiri atas beberapa unsur yaitu: 1). Kebudayaan nasional, 2). Identitas nasional, 3). Etos bangsa, 4). Nasionalisme.

Karakter bangsa dapat dilacak dari pengalaman kolektifnya atau sejarahnya. Karakter bangsa sangat dipengaruhi oleh etos bangsa, yaitu nilai-nilai hidup yang membentuk pola kelakuan serta gaya hidup bangsa. Sebagai contoh: Menurut Max Weber, etos protestan mendasari perkembangan kapitalisme.

File bisa didownload di sini : nasionalisme-karakter-bangsa

KEBUDAYAAN LOKAL VERSUS GLOBAL (Friday, July 30th, 2010)

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Bookman Old Style”; panose-1:2 5 6 4 5 5 5 2 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:IN;} p.MsoHeading7, li.MsoHeading7, div.MsoHeading7 {mso-style-next:Normal; margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:0in; margin-left:.25in; margin-bottom:.0001pt; text-align:center; mso-pagination:widow-orphan; page-break-after:avoid; mso-outline-level:7; mso-layout-grid-align:none; punctuation-wrap:simple; text-autospace:none; font-size:14.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; font-weight:bold; mso-bidi-font-weight:normal;} p.MsoFootnoteText, li.MsoFootnoteText, div.MsoFootnoteText {mso-style-noshow:yes; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:IN;} p.MsoHeader, li.MsoHeader, div.MsoHeader {margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; tab-stops:center 3.0in right 6.0in; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:IN;} span.MsoFootnoteReference {mso-style-noshow:yes; vertical-align:super;} /* Page Definitions */ @page {mso-footnote-separator:url(”file:///C:/DOCUME~1/DEWIYU~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/12/clip_header.htm”) fs; mso-footnote-continuation-separator:url(”file:///C:/DOCUME~1/DEWIYU~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/12/clip_header.htm”) fcs; mso-endnote-separator:url(”file:///C:/DOCUME~1/DEWIYU~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/12/clip_header.htm”) es; mso-endnote-continuation-separator:url(”file:///C:/DOCUME~1/DEWIYU~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/12/clip_header.htm”) ecs;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:85.05pt 113.4pt 113.4pt 85.05pt; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:69422857; mso-list-template-ids:-989165074;} @list l0:level1 {mso-level-start-at:2; mso-level-tab-stop:.25in; mso-level-number-position:left; margin-left:.25in; text-indent:-.25in;} @list l0:level2 {mso-level-text:”%1\.%2\.”; mso-level-tab-stop:.25in; mso-level-number-position:left; margin-left:.25in; text-indent:-.25in;} @list l0:level3 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.”; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; margin-left:.5in; text-indent:-.5in;} @list l0:level4 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.”; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; margin-left:.5in; text-indent:-.5in;} @list l0:level5 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.”; mso-level-tab-stop:.75in; mso-level-number-position:left; margin-left:.75in; text-indent:-.75in;} @list l0:level6 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6\.”; mso-level-tab-stop:.75in; mso-level-number-position:left; margin-left:.75in; text-indent:-.75in;} @list l0:level7 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6\.%7\.”; mso-level-tab-stop:1.0in; mso-level-number-position:left; margin-left:1.0in; text-indent:-1.0in;} @list l0:level8 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6\.%7\.%8\.”; mso-level-tab-stop:1.0in; mso-level-number-position:left; margin-left:1.0in; text-indent:-1.0in;} @list l0:level9 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6\.%7\.%8\.%9\.”; mso-level-tab-stop:1.25in; mso-level-number-position:left; margin-left:1.25in; text-indent:-1.25in;} @list l1 {mso-list-id:928083402; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1167000228 -1836912732 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l1:level1 {mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ascii-font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-hansi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} @list l2 {mso-list-id:1171989220; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1154981348 1058292674 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l2:level1 {mso-level-text:”\(%1\)”; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l3 {mso-list-id:1788814524; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:893175470 -371446792 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l3:level1 {mso-level-text:”\(%1\)”; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l4 {mso-list-id:1794834516; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-166551916 661969276 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l4:level1 {mso-level-text:”\(%1\)”; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} ol {margin-bottom:0in;} ul {margin-bottom:0in;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

KEBUDAYAAN LOKAL VERSUS KEBUDAYAAN GLOBAL:

HIDUP ATAU MATI ?

Oleh:

Dewi Yuliati

Disajikan dalam:

Dialog Budaya Daerah Jawa Tengah

Diselenggarakan oleh:

Departemen Pendidikan dan Pariwisata,

Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta

Di Semarang, tanggal 9-10 Mei 2007

KEBUDAYAAN LOKAL VERSUS KEBUDAYAAN GLOBAL:

HIDUP ATAU MATI?

Oleh: Dr. Dewi Yuliati M.A.[1]

Abstract

This article presents the discussion about the position of Indonesian local culture among the global culture. The Indonesian local culture was always developed by the influences of global culture which entered Indonesia since the pre-history times until the modern era. The conclusion is that that there were many threats to the existence of the local culture, so the Indonesian people should strengthen their self confidences and national character.

Key words: budaya lokal, pengaruh global

1. Pendahuluan

Untuk membahas kebudayaan, ada suatu cakupan pengertian wujud dan isi kebudayaan yang telah dipaparkan secara jelas oleh Koentjaraningrat. Dalam menjelaskan isi kebudayaan, Koentjaraningrat merujuk pada konsepsi B. Malinowski[2] tentang unsur-unsur budaya universal (cultural universals), sebagai berikut: (1) bahasa, (2) teknologi, (3) sistem mata pencarian hidup atau ekonomi, (4) organisasi sosial, (5) sistem pengetahuan, (6) religi, dan (7) kesenian. Menurut Koentjaraningrat setiap unsur kebudayaan itu dapat mempunyai tiga wujud, yaitu:

(1) wujud kebudayaan sebagai kompleks gagasan, konsep, dan pemikiran manusia. (2) wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas.

(3) wujud kebudayaan sebagai benda.

Sebagai contoh, bahasa dapat berwujud sebagai sistem budaya (tata bahasa, norma-norma ujaran, dan aturan-aturan pemakaiannya); dapat berwujud sebagai suatu kompleks aktivitas (aktivitas manusia untuk bercakap-cakap, berkomunikasi dengan alat-alat komunikasi); dan dapat berwujud sebagai benda (tulisan di atas lontar, tulisan di atas kertas, di atas mikrofis, di atas mikrofilm, dan sebagainya).[3]

Untuk menulis artikel ini, saya terinspirasi oleh suatu buku berjudul Suicide or Survival? The Challenge of The Year 2000, yang diterbitkan oleh UNESCO pada tahun 1978. Buku tersebut telah diterjemahkan oleh Lembaga Studi Ilmu-ilmu Kemasyarakatan Yayasan Bhinneka Tunggal Ika dan diterbitkan oleh PT GUNUNG AGUNG, Jakarta, 1982.

Dengan membaca buku tersebut di atas, orang dapat memahami bahwa pada perempat terakhir abad ke-20, masyarakat intelektual di dunia telah merasa khawatir tentang ketidakmampuan masyarakat di negara-negara berkembang untuk mempertahankan dan mengembangkan kebudayaan lokal dalam konteks perluasan kebudayaan negara-negara maju, terutama Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni (IPTEKS).

Para cendekiawan Indonesia pun ikut mewaspadai pengaruh negatif kemajuan IPTEKS global itu terhadap eksistensi kebudayaan lokal. Di satu sisi, kemajuan IPTEKS memang telah mendorong masyarakat untuk memasuki suatu kondisi yang menyediakan kemudahan dan kenikmatan-kenikmatan tertentu. Akan tetapi di sisi lain, kemajuan IPTEKS itu juga telah menghimpit dan merusak kebudayaan lokal.[4]

Perkembangan teknologi komunikasi, informasi, dan jaringan transportasi, telah memperlancar kedatangan arus budaya global di Indonesia, dan kita pun sampai pada persoalan “apakah masyarakat Indonesia membiarkan kebudayaannya mati karena dilindas oleh budaya asing (luar negeri) atau mempertahankan serta mengembangkannya?” dan “bagaimana keluar dari himpitan budaya global yang tidak mengenal batas ruang dan waktu itu”?.

2. Globalisasi Tak Mengenal Ruang dan Waktu

Kedatangan arus kebudayaan global di Indonesia dapat dikatakan “tidak mengenal waktu dan ruang.” Kehadiran pengaruh-pengaruh kebudayaan global di Indonesia dapat ditelusuri dari masa ke masa sejak dari zaman pra sejarah sampai kedatangan pengaruh kebudayaan Barat.

Jika ditinjau dari segi waktu, dapat dikatakan bahwa pengaruh kebudayaan bangsa-bangsa lain di dunia sudah masuk di Indonesia sejak ribuan tahun sebelum Masehi.

Penelitian Madeleine Colani, seorang ahli prasejarah Perancis, menunjukkan bahwa di pegunungan Bacson dan daerah Hoabinh di Tonkin, terdapat pusat kebudayaan mesolithikum di Asia yang berupa pebbles (kapak Sumatera dan kapak pendek). Kebudayaan ini menyebar sampai ke Indonesia melalui Thailand dan Malaysia Barat.

Kebudayaan mesolithikum berlanjut dengan suatu masa kebudayaan yang disebut neolithikum yang masuk ke Indonesia kira-kira pada 2.000 sebelum Masehi. Von Heine Geldern menamakan kebudayaan pada zaman neolithik itu kebudayaan kapak persegi.Selain ditemukan di Indonesia (Sumatera, Jawa, dan Bali), kebudayaan kapak persegi juga terdapat di Malaysia Barat, India, sehingga disimpulkan bahwa kebudayaan tersebut berasal dari daratan Asia.

Zaman neolithik disusul oleh zaman logam atau perunggu yang meninggalkan warisan budaya berupa alat-alat yang dibuat dari perunggu. Kebudayaan perunggu di Asia Tenggara disebut juga kebudayaan Dongson, sesuai dengan nama tempat penyelidikan pertama di daerah Tonkin, Vietanam. Berdasarkan penyelidikan Von Heine Geldern, kebudayaan Dongson atau kebudayaan perunggu di Indonesia berasal dari tahun 300 sebelum Masehi.

Zaman pra sejarah disusul dengan zaman sejarah, yaitu suatu masa yang telah meninggalkan kebudayan tertulis. Bukti tertua tentang keberadaan kerajaan di Indonesia adalah tujuh buah prasasti yang berbentuk yupa (tugu peringatan upacara korban) di Kutei, Kalimantan Timur. Prasasti-prasasti yang berasal dari kira-kira tahun 400 Masehi itu menunjukkan bahwa pengaruh kebudayaan India telah nyata di Indonesia. Huruf yang digunakan dalam prasasti tersebut adalah huruf Pallawa dengan bahasa Sanskerta. Rajanya pun bergelar dengan nama India, Mulawarman, padahal ia adalah cucu dari seorang asli Kutei yang bernama Kundungga.

Masa pengaruh kebudayaan India di Indonesia berlangsung cukup lama, dari abad ke-5 sampai dengan abad ke-15. Pada akhir abad ke-15 sudah muncul kerajaan yang bercorak Islam di Jawa, Kerajaan Demak. Meskipun Demak baru berdiri pada akhir abad ke-15, pengaruh Islam sudah masuk di Indonesia sejak akhir abad ke-11. Ini dapat dibuktikan dengan melihat keberadaan makam seorang perempuan bernama Fatimah Binti Maimun di Leran, dekat Gresik, yang berangka tahun 1082 Masehi. Keterangan yang lebih nyata dapat diketahui dari catatan Marco Polo, seorang penjelajah yang berasal dari Italia. Ketika mengunjungi Perlak di Sumatera Utara pada tahun 1292, ia menjumpai banyak penduduk yang beragama Islam dan pedagang-pedagang Islam dari India yang aktif menyebarkan agama Islam. Marco Polo juga mengunjungi Samodra. Di daerah ini ia menjumpai batu nisan Sultan Samodra yang bernama Malik Al Saleh. Tulisan pada batu nisan itu menunjukkan bahwa Sultan Samodra telah wafat pada bulan Ramadhan tahun 676 sesudah Hijrah atau 1297 Masehi.

Pada abad ke-16, mulai muncul pengaruh kebudayaan Barat di Indonesia. Raja Mataram meniru cara berpakaian ala Belanda dengan memakai jaket kulit dan topi berbulu, kemudian juga diikuti oleh para kerabat istana. Inovasi teknik dalam bidang pengecoran logam untuk pembuatan senjata api juga merupakan bukti masuknya pengaruh kebudayaan Barat. Perubahan cepat terjadi sejak awal abad ke-20 yang ditandai dengan perluasan pendidikan ala Barat, khususnya di kalangan kaum muda di perkotaan. Baik dalam tingkah laku maupun dalam kehidupan spiritual, kaum muda Indonesia telah meniru model kehidupan Barat. Rasionalisme, individualisme, dan kebebasan berbicara diasimilasikan oleh kaum muda Indonesia secara mudah. Kemampuan berbahasa Belanda dan pengetahuan Barat dinilai sebagai prestise sosial yang tinggi, karena merupakan jembatan bagi mereka untuk memperoleh penghasilan yang lebih baik dalam pekerjaan di lingkungan pemerintahan dan swasta.[5]

Mulai awal abad ke-20, pemerintah kolonial Belanda juga mengadakan perombakan sistem pemerintahan di Indonesia, dengan pembentukan gemeente (Kota praja), residentie (keresidenan), dan provintie (provinsi). Sampai sekarang, bangsa Indonesia masih melanjutkan sistem pemerintahan bentukan Belanda itu.

Pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21, kehadiran arus kebudayaan global semakin tak terbendung. Perluasan pengaruh kemajuan IPTEKS yang berasal dari Barat, Korea, dan Jepang memperoleh ladang subur di Indonesia. Pengaruh itu dapat disaksikan terutama pada penggunaan teknologi modern dalam bidang informasi, komunikasi, dan transportasi. Dengan pemanfaatan internet dan Hand phone, orang bisa memperoleh berbagai informasi di dunia dan bisa berkomunikasi antarbangsa. Semua itu bisa dilakukan pada jam berapa saja dan di mana saja. Dengan kemajuan teknologi dalam bidang transportasi (sepeda motor), banyak orang Indonesia berpaling dari kebiasaan naik sepeda, naik becak, atau berjalan kaki untuk kemudian mengganti kebiasaan itu dengan naik sepeda motor. Banyak orang menganggap bahwa naik sepeda motor lebih efisiensi waktu, ngirit, dan lebih bergengsi. Kondisi ini merupakan akses bagi perkembangan budaya membeli dengan sistem cicilan, karena kondisi pendapatan yang pas-pasan.

Jika ditinjau dari segi ruang, kepulauan Indonesia merupakan suatu wilayah yang terbuka untuk kedatangan pengaruh unsur-unsur kebudayaan dari seluruh penjuru dunia; dari arah utara, selatan, barat, timur, barat laut, timur laut, barat daya, dan tenggara. Selain itu, tanah di kepulauan ini menyediakan berbagai komoditi (pertambangan dan pertanian) yang dicari oleh pasar internasional. Oleh karena itu, Indonesia menjadi tempat berkumpulnya hampir semua agama di dunia yang datang bersamaan dengan proses perdagangan. Agama Hindu dan Budha adalah pendatang yang paling awal, kemudian diikuti oleh Islam, Katolik, dan Protestan. Kong Fu Tse sebetulnya datang bersamaan dengan pendatang Cina ke Indonesia, tetapi paham ini tidak mendapat banyak pengikut di kalangan penduduk pribumi. Agama-agama Islam, Katolik, Protestan, Hindu, dan Budha telah mengakar secara kuat di kalangan penduduk kepulauan Indonesia. Oleh Karena itu, dalam tingkatan tertentu sistem-sistem budaya agama tersebut telah kehilangan identifikasinya sebagai sistem budaya asing, meskipun tidak hilang sama sekali. Sebagai contoh, pada sistem budaya agama Islam terdapat pemakaian bahasa Arab sebagai alat komunikasi keagamaan, yang dihubungkan dengan peradaban Arab di negara-negara Timur-Tengah; sistem budaya agama Katolik masih berkaitan dengan Roma; sistem budaya Protestan masih berhubungan dengan Palestina Kuno dan negara-negara Protestan seperti Belanda, Jerman, dan Amerika; sistem budaya Hindu dan Budha masih berasosiasi dengan India.

Selain sistem kebudayaan agama, sistem kebudayaan keduniawian masuk juga ke Indonesia. Unsur-unsur kebudayaan keduniawian Belanda, Inggris, Amerika, Cina , Korea, Jepang, dan lain-lain tetap dikenal sebagai sistem budaya asing. Namun demikian, beberapa unsur dalam sistem budaya asing ini telah menjadi bagian dari sistem budaya nasional Indonesia, contohnya: Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni.

2. Pengikisan Rasa Bangga Terhadap Kebudayaan Indonesia

Seperti telah diterangkan di atas, kebudayaan memiliki pengertian yang sangat luas. Oleh karena itu, pembahasan difokuskan pada kebudayaan dalam pengertian yang lebih sempit, yaitu bahasa dan kesenian. Kedua unsur kebudayaan itu diambil sebagai fokus pembahasan, karena mempunyai fungsi penting sebagai identitas kebudayaan lokal.[6] Berikut ini dibahas kondisi unsur-unsur kebudayaan itu dalam kaitannya dengan desakan arus kebudayaan global.

2.1. Pengikisan Rasa Bangga Untuk Berbahasa Daerah dan Indonesia

Kedatangan bangsa-bangsa asing di Indonesia yang telah berlangsung sejak puluhan abad silam, telah berpengaruh terhadap kehidupan bahasa-bahasa daerah di Indonesia serta terhadap perkembangan bahasa Indonesia. Ketika bangsa India datang dengan sistem kebudayaan agamanya, para raja atau pemegang kekuasaan politik di suatu wilayah tertentu merasa perlu untuk menggunakan nama yang berkarakter India, seperti: Mulawarman, raja Kutei, tidak menggunakan nama asli Kutei, padahal ia keturunan Kundungga, orang asli Kutei. Ketika sistem kebudayaan agama Islam datang, Suta Wijaya, raja Kerajaan Mataram I, menggunakan gelar Panembahan Senapati Ing Alaga Sayidin Panatagama, dan sebagainya. Gejala ini menunjukkan bahwa pada waktu itu terjadi suatu anggapan bahwa nama asli daerahnya tidaklah cukup untuk berposisi sejajar dengan mitra pergaulan antarbangsa, sehingga identitas diri perlu dirubah agar komunikasi menjadi setara. Demikian juga, ketika pengaruh kebudayaan Barat dengan sistem kebudayaan agama Kristennya masuk ke Indonesia, banyak orang Indonesia yang mengambil nama atau nama baptis yang bernuansa Barat atau Kristen, seperti: Angelina, Tabita, Maria, Johanes, Christian, dan lain-lain.

Pada era tahun 1970-an, di kalangan etnis Jawa muncul fenomena baru dalam ranah bahasa. Banyak keluarga mendidik putera-puterinya untuk berkomunikasi dengan bahasa Indonesia sejak mereka belajar berbicara. Fenomena ini merupakan salah satu bentuk proses demokratisasi dan modernisasi yang nota bene berasal dari Barat. Bahasa Jawa dianggap berkonotasi feodal dan kuno. Sikap feodal ini antara lain tercermin dalam komunikasi berbahasa Jawa yang mengandung stratifikasi penggunaan terhadap siapa seseorang berbicara, yaitu: Kromo Inggil untuk berbicara dengan orang-orang yang harus dihormati, Kromo madya untuk berbicara dengan orang-orang yang berstatus sejajar; dan ngoko untuk berbicara dengan orang-orang yang statusnya sejajar atau lebih rendah.

Gejala perlawanan terhadap feodalisme dan keinginan untuk menjadi modern itu memunculkan pengingkaran terhadap bahasa Jawa, contohnya:

(1) komunikasi antara pembantu dan majikan tidak lagi menggunakan bahasa Jawa, tetapi dengan bahasa Indonesia.

(2) Sikap demikian juga terjadi pada komunikasi antara orang tua dan anak; Sebutan papa dan mama atau papi dan mami menggantikan sebutan bapak dan ibu. Gejala ini juga terjadi di kalangan rakyat jelata yang sebelumnya menggunakan sebutan simbok dan pakné untuk menyebut ayah dan ibunya. Sebutan papa dan mama atau papi dan mami menunjukkan bahwa pemakai sebutan itu ingin menjadi modern, tidak terkesan kuno dan ndeso. Gejala ini sekaligus menunjukkan bahwa bahasa-bahasa Barat (Inggris dan Belanda) dianggap lebih modern dan bergengsi.

(3) Bahasa Jawa kromo inggil dan kromo madya hampir tidak lagi dipergunakan dalam pergaulan sehari-hari, kecuali bahasa Jawa ngoko, karena dianggap demokratis dan menunjukkan kesejajaran.

(4) Banyak orang Jawa yang tidak lagi menggunakan nama-nama Jawa, karena lebih memilih nama-nama yang bernuansa Islam atau Arab, Kristen atau Barat, dan Hindu atau India.

Meskipun bahasa Jawa mengandung nuansa feodal, sesungguhnya juga berisi nilai-nilai positif untuk memperkuat kualitas hidup, contohnya: tata krama kepada orang tua dan orang-orang yang harus dihormati, kehalusan budi, sopan-santun, serta identitas etnis.

Sebagai akibat dari globalisasi dewasa ini, bahasa Indonesia juga mengalami pengingkaran. Banyak orang sering mengganti kata-kata bahasa Indonesia dengan kata-kata serapan dari bahasa Inggris, ketika mereka sedang berbicara dengan bahasa Indonesia, meskipun sering terjadi kesalahan ucapan, contohnya: mawas diri diganti dengan intropeksi (seharusnya: introspeksi), perundingan diganti dengan negoisasi (seharusnya: negosiasi), bersifat wanita diganti dengan feminim (seharusnya: feminin), dan lain-lain. Salah ucap ini justru sering dilakukan oleh public figure, sehingga sebagian masyarakat yang melakukan kesalahan serupa justru mendapat pembenaran dari contoh-contoh itu. Ada kesan bahwa kemampuan menggunakan bahasa asing dianggap lebih intelek dan bergengsi dari pada hanya menggunakan bahasa sendiri.

2.2. Pengikisan Kebanggaan terhadap Seni Arsitektur Lokal

Gejala pengikisan kebanggaan masyarakat Indonesia terhadap seni arsitektur lokal dapat disimak antara lain pada pernyataan Totok Roesmanto yang dimuat pada Semarang Metro, tanggal 4 Mei 2007, sebagai berikut:

Kehidupan konsumerisme masyarakat bisa menimbulkan kecenderungan menyukai model baru. Hal itu berlaku dalam banyak hal, termasuk pemilihan desain bangunan. Seiring perkembangan informasi, masyarakat juga makin mudah mengikuti perkembangan arsitektur dunia. Di satu sisi, hal itu membawa dampak positif, karena pengetahuan yang dimiliki bisa berkembang. Tapi tidak menutup kemungkinan itu justru akan menggeser potensi arsitektur lokal. Saat ini kecenderungannya seperti itu, sehingga menyebabkan makin menipisnya pemahaman dan kebanggaan terhadap potensi arsitektur Indonesia. Masyarakat pun sering kurang peduli terhadap potensi lokal daerahnya.[7]

Pernyataan Totok Roesmanto itu mencerminkan keprihatinan yang mendalam akan kepunahan kebudayaan lokal, terutama dalam bidang seni arsitektur. Sekarang, sangat sulit untuk melihat bangunan-bangunan baru yang bernuansa lokal. Banyak bangunan yang bercorak lokal tradisional rusak atau punah, sedangkan bangunan baru sudah bernuansa global (terutama arsitektur Barat). Sebagai contoh, Kota Semarang memiliki warisan arsitektur tradisional lokal berupa rumah tradisional Semarang yang terletak di kampung-kampung di sekitar Kota Lama (Kampung Kulitan, Kampung Malang, Kauman, Mertojoyo, dan sebagainya). Karena tidak ada pemahaman dan pengetahuan penduduk atau penghuni tentang nilai historis dan budaya, banyak rumah tradisional yang sudah sirna atau dibangun kembali dengan arsitektur modern, padahal nilai-nilai tradisional itu memiliki arti penting sebagai identitas budaya dan aset kepariwisataan.

3. Keluar dari Himpitan Kebudayaan Global

Sebagai akibat proses pembangunan, masyarakat mengalami peningkatan dinamika dengan gejala-gejala yang menyertainya, seperti mobilitas penduduk, media komunikasi modern (media cetak, televisi, komputer), peningkatan jumlah komoditi sebagai hasil teknologi mutakhir, peningkatan pelayanan dan kemudahan, dan lain-lain. Semua gejala itu menimbulkan perubahan sosial budaya. Dalam masa perubahan itu, individu sering kehilangan orientasi, dan bahkan sering pula mengalami krisis identitas. Untuk mengatasi persoalan identitas tersebut, diperlukan upaya-upaya yang serius untuk memperkuat kebudayaan nasional.

Sartono Kartodirdjo menyatakan bahwa di antara unsur-unsur kebudayaan, bahasa memiliki fungsi yang penting untuk memperkuat identitas nasional, karena beberapa alasan, yaitu: (1) bahasa mencerminkan gaya dan etos peradaban; (2) bahasa mengekspresikan jiwa kebudayaan, serta mengungkapkan kepribadian bangsa; (3) bahasa berfungsi sebagai media komunikasi; (4) bahasa dapat mengungkapkan perasaan estetis; (5) bahasa merupakan media untuk membangun ide, kesadaran, pikiran, memori, dan imaginasi manusia.[8]

Mengingat pentingnya fungsi bahasa itu, upaya-upaya yang perlu dilakukan untuk keluar dari “pengikisan bahasa lokal” (bahasa Indonesia dan bahasa daerah) adalah sebagai berikut:

(1) Meningkatkan kualitas dan intensitas komunikasi dalam keluarga dengan menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa daerah.

(2) Meningkatkan kualitas kemampuan guru-guru dan dosen-dosen pengajar Bahasa Indonesia serta bahasa daerah masing-masing secara rutin dan berkesinambungan, misalnya: menyelenggarakan pelatihan-pelatihan atau kursus-kursus yang berkaitan dengan pengajaran bahasa Indonesia dan bahasa daerah.

(3) Meningkatkan kualitas para siswa dan mahasiswa untuk mengekspresikan kemampuan berbahasa Indonesia dan berbahasa daerah, baik secara lisan maupun tertulis.

(4) Mempergiat penelitian terhadap bahasa-bahasa daerah agar dapat dihasilkan lebih banyak tata bahasa, kamus, dan buku pelajaran bahasa daerah.

(5) Menyelenggarakan sayembara penulisan dan pembacaan puisi, drama, dan penulisan karya sastra serta ilmiah, baik berbahasa Indonesia maupun berbahasa daerah di tingkat nasional dan daerah.

(6) Meningkatkan kualitas komunikasi antara guru dan siswa atau antara dosen dan mahasiswa dengan menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa daerah berdasarkan kaidah-kaidah bahasa Indonesia dan bahasa daerah yang benar.

(7) Mengajarkan bahasa-bahasa daerah di kampus-kampus atau di sekolah-sekolah dalam muatan lokal.

Selain bahasa, kesenian juga merupakan unsur budaya yang memiliki potensi penting sebagai identitas kebudayaan nasional. Baik Sartono Kartodirdjo[9] maupun Koentjaraningrat[10] menyatakan bahwa kesenian merupakan unsur kebudayaan yang paling dapat menunjukkan sifat khas dan mutu kepada masyarakat global, dan sekaligus dapat menunjukkan karakter atau kepribadian bangsa, serta menjadi media pemersatu bangsa-bangsa. Melalui berkesenian (seni tari, seni busana, seni suara, seni pahat, seni rupa, dan seni arsitektur), orang dapat mengekspresikan rasa, karsa, dan cipta yang sesuai dengan kepribadian individu, identitas budaya masyarakat atau daerahnya masing-masing. Melalui penikmatan kesenian, dapat tumbuh rasa kagum, gembira, bahagia, dan apresiasi terhadap karya seni. Bahkan, melalui berkesenian, dapat juga digalang persahabatan antarbangsa.

Mengingat nilai penting kesenian dalam lingkup kebudayaan global itu, perlu selalu diupayakan pengembangan kesenian-kesenian daerah dan penguatan nilai-nilai lokal dalam kesenian, dengan cara-cara sebagai berikut:

(1) Pemerintah memberikan fasilitas atau subsidi secara rutin dalam jumlah tertentu kepada perkumpulan-perkumpulan kesenian yang memerlukannya dan cukup bermutu. Bantuan ini dimaksudkan untuk meningkatkan prestasi para pengelola kesenian dalam penciptaan karya seni dan untuk merangsang inovasi ke arah pengembangan kesenian nasional yang meliputi seni tari, seni musik, sepi drama, seni busana, seni rupa, seni bangunan (arsitektur), dan sebagainya.

(2) Semua pemangku kepentingan (stake holders: pemerintah, seniman/seniwati, pengelola kesenian, masyarakat peminat seni, dan media massa) dapat melakukan diseminasi karya-karya seni melalui media elektronik, media cetak, dan pertunjukan-pertunjukan atau pameran-pameran.

(3) Semua pemangku kepentingan (stake holders) harus giat untuk meningkatkan gerakan apresiasi kesenian, contohnya melalui kegiatan ekstrakurikuler di sekolah-sekolah dan di kampus-kampus, mengadakan berbagai lomba kesenian di sekolah-sekolah, di kampus-kampus, dan di lingkup kelurahan, kecamatan, dan seterusnya, pada acara-acara tertentu.

(4) Semua pemangku kepentingan dapat melakukan gerakan revitalisasi dan pembudayaan kembali kesenian yang kini sudah hampir punah atau sudah punah, contohnya: pertunjukan wayang orang, wayang kulit, ketoprak, ludruk, seni kerawitan, musik kulintang, musik angklung, Kesenian Gambang Semarang, seni bangunan (arsitektur) lokal, dan sebagainya.

4. Simpulan

Sepanjang sejarah, bangsa Indonesia tidak pernah luput dari pengaruh kebudayaan asing, dan kini banyak pihak sering meratapi kepunahan kebudayaan lokal sebagai akibat desakan kebudayaan global.

Kecemasan akan kemunduran kebudayaan lokal oleh kebudayaan global itu tidak perlu terjadi, jika diperhatikan dan dilaksanakan prinsip-prinsip sebagai berikut.

  1. Tiap kebudayaan yang akan diwariskan kepada generasi penerus tidak bisa dibiarkan hidup secara pasif.
  2. Nilai-nilai lama suatu kebudayaan yang diwariskan itu harus dikaji, dianalisis, dan diberi spirit baru yang sesuai dengan jiwa zaman, sehingga tetap dapat bertunas serta hidup subur di tengah-tengah masyarakat pendukungnya. Untuk itu, diperlukan kegiatan mencipta yang dapat memberi jiwa baru kepada suatu kebudayaan sesuai dengan keadaan masyarakat yang telah berubah dengan nilai-nilai serta ukuran-ukuran baru.
  3. Jika tidak ada kegiatan mencipta seperti itu, niscaya kebudayaan akan “hidup segan mati pun tak hendak” atau bahkan benar-benar mati.

DAFTAR PUSTAKA

Malinowski, B., A Scientifcis Theory of Culture and Other Essays , Chapel Hill: University of North Caroline Perss, 1944.

Alfian (ed.), Persepsi Masyarakat Tentang Kebudayaan, Jakarta: PT Gramedia, 1985.

Darmanto JT dan Sudharto PH, Mencari Konsep Manusia Indonesia Suatu Bunga Rampai , Jakarta: Penerbit Erlangga, 1986.

Koentjaraningrat, Kebudayaan Mentalitet dan Pembangunan , Jakarta: PT Gramedia, 1974.

Sartono Kartodirdjo, Kebudayaan pembangunan dalam Perspektif Sejarah, Yogyakarta: Gadjah Mada Univerity Press, 1987.

SEMARANG METRO Suara Merdeka, Jumat, 4 Mei 2007.

Wertheim W.F., Masyarakat Indonesia dalam Transisi, Kajian Perubahan Sosial, terjemahan dari Indonesian Society in Transition, A Study Of Social Change, Yogya: PT Tiara Wacana, 1999.


[1] Dewi Yuliati adalah dosen di Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Diponegoro.

[2] B. Malinowski, A Scientifcis Theory of Culture and Other Essays (Chapel Hill: University of North Caroline Perss, 1944).

[3] Koentjaraningrat, “Persepsi tentang Kebudayaan Nasional”, dalam Alfian (ed.), Persepsi Masyarakat Tentang Kebudayaan (Jakarta: PT Gramedia, 1985), hlm. 100-105.

[4] Satjipto Rahardjo, “Gambaran Tentang Manusia dari Sudut sosialogi”, dalam Darmanto JT dan Sudharto PH, Mencari Konsep Manusia Indonesia Suatu Bunga Rampai (Jakarta: Penerbit Erlangga, 1986), hlm. 69.

[5] W.F. Wertheim, Masyarakat Indonesia dalam Transisi, Kajian Perubahan Sosial, terjemahan dari Indonesian Society in Transition, A Study Of Social Change, (Yogya: PT Tiara Wacana, 1999),hlm.230, 236, 237.

[6] Koentjaraningrat, 1985, op. cit., hlm. 114.

[7] SEMARANG METRO Suara Merdeka, Jumat, 4 Mei 2007.

[8] Sartono Kartodirdjo, Kebudayaan pembangunan dalam Perspektif Sejarah (Yogyakarta: Gadjah Mada Univerity Press, 1987), hlm. 17-18.

[9] Sartono Kartodirdjo, op. cit., hlm. 19.

[10] Koentjaraningrat, Kebudayaan Mentalitet dan Pembangunan (Jakarta: PT Gramedia, 1974), hlm. 107-108.

cv dewi yuliati (Friday, July 30th, 2010)


st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} p.MsoBodyText, li.MsoBodyText, div.MsoBodyText {margin:0in; margin-bottom:.0001pt; text-align:justify; line-height:200%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:Arial; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-font-style:italic;} p.MsoBodyTextIndent2, li.MsoBodyTextIndent2, div.MsoBodyTextIndent2 {margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:6.0pt; margin-left:.25in; line-height:200%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:151065245; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-2139618794 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 {mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l1 {mso-list-id:191574178; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1646176882 67698703 -1504556904 67698703 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l1:level1 {mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l1:level2 {mso-level-number-format:alpha-upper; mso-level-tab-stop:1.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l1:level3 {mso-level-tab-stop:117.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:117.0pt; text-indent:-.25in;} @list l2 {mso-list-id:467624272; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-699607894 67698709 -141021966 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l2:level1 {mso-level-number-format:alpha-upper; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l2:level2 {mso-level-tab-stop:1.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-weight:normal;} @list l3 {mso-list-id:1704208001; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-930342326 67698703 -821887830 -603942820 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l3:level1 {mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l3:level2 {mso-level-number-format:alpha-upper; mso-level-tab-stop:1.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l3:level3 {mso-level-tab-stop:117.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:117.0pt; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-weight:normal;} ol {margin-bottom:0in;} ul {margin-bottom:0in;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}
table.MsoTableGrid
{mso-style-name:”Table Grid”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
border:solid windowtext 1.0pt;
mso-border-alt:solid windowtext .5pt;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-border-insideh:.5pt solid windowtext;
mso-border-insidev:.5pt solid windowtext;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

RIWAYAT HIDUP

I. IDENTITAS DIRI

Nama lengkap dengan gelar

:

Dr. Dewi Yuliati, M.A.

Jenis kelamin

:

Perempuan

Jabatan Fungsional

:

Lektor Kepala

NIP

:

19540725 198603 2 001

Alamat kantor

:

Jurusan Sejarah

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Jl. Prof. Soedarto, S.H., Tembalang, Semarang

Nomor telepon/ faks.

:

024-7463144/ 024-7463144

Alamat rumah

:

Vila Tembalang Blok G/8, Tembalang, Semarang

Nomor telepon

:

Rumah: 024-6712246

Mobile phone: 024-70763456; 081-2282-5388

E-mail

:

Dewi_yulliati@yahoo.co.id

II. RIWAYAT PENDIDIKAN

Program

S1

S2

S3

Nama Perguruan Tinggi

Universitas Diponegoro Semarang

Universitas Indonesia Jakarta

Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Tahun Lulus

1985

1993

2005

Gelar

Dra.

M.A.

Dr.

Bidang Ilmu

Sejarah

Sejarah

Sejarah

III. PENELITIAN

1. Sobo-Kartti Sebagai Wahana Pelestari Kesenian Tradisional Jawa, dana DPP SPP, 1988, sebagai ketua peneliti

2. Industrialisasi di Semarang 1906-1930, DPP SPP, 1996, sebagai ketua peneliti.

3. Gaya Hidup Kelas Menengah di Kodia Dati II Semarang, dana Operasi dan Fasilitas Undip No. 202/XXIII/3/-/1996, sebagai ketua peneliti.

4. Vernacular Press in Java during The Japanese Occupation 1942-1945, Sumitomo Foundation Grand, 1997, sebagai ketua peneliti.

5. “Peranan Seni sebagai Media Propaganda di Jawa Pada Masa Pendudukan Jepang”, Penelitian Dosen Muda, 2001/2002, sebagai ketua peneliti.

6. Visualisasi Struktur Kota Kerajaan Demak dan Pengembangannya untuk Sebuah Taman Wisata, Penelitian Hibah Bersaing Perguruan Tinggi 1997/1998, sebagai anggota peneliti.

7. Perubahan Pola Agraris di Ambon-Lease Tahun 1855-1890: Dari Pola Monokultur menjadi Multicutur, dana DPP SPP, 1997, sebagai anggota peneliti.

8. Penataan Kesenian Gambang Semarang sebagai Identitas Budaya Semarang, Penelitian Hibah Bersaing Perguruan Tinggi, 1999/2000, sebagai anggota peneliti.

9. Peranan Ratu Kalinyamat di Jepara Pada Abad XVI, Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional, 1999/2000, sebagai anggota peneliti.

10. “Penelusuran Hari Jadi Provinsi Jawa Tengah”, sebagai anggota peneliti, Kerja sama Fakultas Sastra dengan Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Tengah, 2003.

11. “Melacak Jejak Pers Jawa Tengah”, kerja sama dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Tengah, sebagai ketua peneliti, 2007-2008.

12. ”Menuju Kota Industri, Semarang Pada Era Kolonial”, penelitian mandiri, 2005.

13. ”Mengungkap Sejarah dan Pesona Motif Batik Semarang”, penelitian mandiri, 2007.

14. ”Upacara-upacara Tradisional di Kabupaten Pekalongan dan Pengembangannya Untuk Kepariwisataan”, sebagai ketua peneliti, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah Dinas pendidikan dan Kebudayaan, 2008.

15. ”Pengkajian Dan Penulisan Upacara Tradisi Di Kotamadya Pekalongan Jawa Tengah”, sebagai anggota peneliti, Subdin Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, Semarang, 2008.

16. ”Inventarisasi Upacara-upacara Tradisional di Kabupaten Magelang”, sebagai ketua peneliti, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah, 2010.

IV. KARYA ILMIAH

A. Makalah

1. ”Pembinaan dan Pengembangan Gambang Semarang”, makalah diskusi Pembinaan Gambang Semarang yang diselenggarakan oleh Fakultas Sastra Universitas Diponegoro Semarang, 20 Januari 1994.

2. “Pengawasan terhadap Pers Bumiputera di Jawa Pada Masa Pendudukan Jepang 1942-1945, makalah disumbangkan kepada Seminar Nasional “Negara dalam Sejarah Indonesia: Reinterpretasi dan Redefinisi Terhadap Anti Integrasi Bangsa”, tanggal 31 Agustus 1999.

3. ”Pengawasan Terhadap Pers Bumiputera di Jawa Pada Masa Pendudukan Jepang 1942-1945”, makalah dipresentasikan dalam seminar hasil-hasil penelitian, 8 November 1999, Fakultas Sastra Universitas Diponegoro.

4. “Analisis Historis tentang Terbentuknya Kesadaran Kelas Buruh di Semarang pada Perempat Pertama Abad ke-20”, makalah disajikan dalam lokakarya internasional ”Penelitian Sejarah Indonesia Lintas Orde Kekuasaan: 1930-1965”, Nederlandsch Indië Oorlog Documentatie (NIOD)– LIPI, Yogyakarta, 20 Agustus 2004.

5. “Kebudayaan Lokal Versus Kebudayaan Global: Hidup atau Mati?”, makalah disajikan dalam Dialog Budaya Daerah Jawa Tengah, Departemen Pendidikan dan Pariwisata, Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta, di Semarang 9-10 Mei 2007.

6. ”Menelusuri Jejak-jejak Pers Di Jawa Pada Paroh Pertama Abad XX”, makalah dipresentasikan dalam Seminar Nasional Persatuan Wartawan Indonesia di Gedung Pers Semarang, 23 Agustus 2007.

7. “Menyibak Fajar Nasionalisme Indonesia: Boedi Oetomo, Kristalisasi Kesadaran Berbangsa”, makalah disajikan dalam Seminar Nasional “Refleksi Satu Abad Kebangkitan Nasional Indonesia”, Fakultas Sastra, 29 Mei 2008.

8. ”Pelestarian Kesenian Daerah Jawa Tengah”, makalah ini disajikan dalam Kegiatan Temu Muka Seni dan Budaya Daerah Provinsi Jawa Tengah, 17 Juni 2009, di Gedung PKK Provinsi Jawa Tengah.

9. “Frustration-Agression: The Basic Factors of Workers’ Strike, A Case Study on Railway Workers’ Strike in Semarang in The Colonial Era”, a paper presented in ENCOMPASS CONFERENCE, Medan, 6-8 January 2009.

10. “Menyibak Fajar Nasionalisme Indonesia”, makalah dipresentasikan dalam Sarasehan Sejarah Regional Daerah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah, Magelang, 23 Mei 2009.

11. “Buruh dan Ketidakadilan: Ladang Subur Bagi Perluasan Marxisme”, makalah dipresentasikan dalam seminar akademik, di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, 29 Desember 2009.

B. Artikel

1. “Pers, Pemerintah dan Pembangunan Bangsa”, Suara Merdeka, Februari 1989.

2. “Sobo-Kartti: Pelestari Kesenian Tradisional Jawa”, Suara Merdeka, November 1989.

3. “Semaoen , Buruh dan Pers Bumiputera dalam Pergerakan Kemerdekaan”, Sejarah Vol. 5, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1994.

4. “Haatzaai Artikelen Pengikat Kebebasan Pers Pada Masa Kolonial Belanda”, Lembaran Sastra No. 17, Semarang: Fakultas Sastra Universitas Diponegoro, 1993-1994.

5. ”Gambang Semarang Identitas yang Terbuang ?”, Suara Merdeka, 6 Agustus 1994.

6. “Gambang Semarang dan Pengembangannya”, Suara Merdeka, 18 dan 25 Nopember 1995.

7. “Industrialisasi di Semarang 1906-1930”, Lembaran Sastra No.23. Semarang: Fakultas Sastra Universitas Diponegoro, 1997.

8. “Pers Bumiputera di Jawa Pada Masa Pendudukan Jepang 1942-1945”, Kajian Sastra No. 24, Semarang: Fakultas Sastra Universitas Diponegoro, 1998.

9. “Gambang Semarang dalam Lintasan Sejarah”, Kajian Sastra No. 2, Semarang: Fakultas Sastra Universitas Diponegoro, 2000.

10. “Sobo-Kartti di antara Semangat dan Hambatan”, Citra Lekha Volume III, Nomor 2, Semarang: Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Diponegoro, 2000.

11. “Membedah Misteri Lokasi Kraton Demak”, Citra Lekha Volume IV No. 1, Semarang: Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Diponegoro, 2002.

12. “Terbentuknya Kesadaran Kelas Buruh di Semarang”, Hayam Wuruk No. 2 Th. XIV, 2004.

13. “Refleksi Kemiskinan Buruh di Semarang Pada Awal Abad XX”, dalam Historia, No. 12, Volume VI, jurnal terakreditisai. Bandung: Unversitas Pendidikan Indonesia, Desember 2005.

14. ”Batik Semarang: Identitas Budaya Yang Hampir Hilang?”, Seputar Semarang, edisi 138 Tahun III, 9-15 Mei 2006.

15. “Mengungkap Sejarah dan Pesona Motif Batik Semarang” Paramita, Vol. 16, No. 1, Januari 2006.

16. “Penataan Pasar Djohar Berwawasan Wisata Budaya”, Seputar Semarang, edisi 140 Tahun III, 23-29 Mei 2006.

17. ”Sistem Propaganda Jepang di Jawa 1942-1945, dalam Citra Lekha Volume X NO.2, Agustus 2006, Semarang:Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Diponegoro dan Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Jawa Tengah, 2006.

18. ”Kebudayaan Lokal Versus Kebudayaan Global: Hidup Atau Mati”, dalam Citra Lekha Volume XI NO. 1, Februari 2007, Semarang:Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Diponegoro dan Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Jawa Tengah, 2007.

19. ”Sejarah Terbentuknya Provinsi Jawa Tengah”, dalam Citra Lekha Volume XI NO.2, Agustus 2007, Semarang:Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Diponegoro dan Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Jawa Tengah, 2007.

20. ”Menyibak Fajar Nasionalisme Indonesia”, dalam Sabda, Jurnal Kajian Kebudayaan, Volume IV Nomor 1, April 2009, Semarang: Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro, 2009.

21. ”Frustration and Aggression as The Basic Factors of Workers’ Strike: A Case Study On Railway Workers’s Strike In Semarang, Central Java, In The Colonial Era”, dalam Tawarikh International Journal For Historical Studies, Volume 1, Number 2, April 2010.

C. Buku

1. Semaoen Pers Bumiputera dan Radikalisasi Sarekat Islam Semarang, Semarang: Bendera, 2000.

2. ”Pengawasan Terhadap Pers Bumiputera di Jawa Pada Masa Pendudukan Jepang 1942-1945”, dalam Dari Samodra Pasai Ke Yogyakarta, Jakarta: Yayasan Masyarakat Sejarawan Indonesia, 2002.

3. “Profil Kota Semarang 1900-1965”, dalam Resi Yang Menyepi, Semarang: Fakultas Sastra Universitas Diponegoro, 2003.

4. “Pers, Negara Kolonial, dan Nasionalisme Indonesia”, dalam Sejarah Indonesia jilid IV, Jakarta: Ikhtiar Baru-Van Hoeve, 2006.

5. Melacak Jejak Pers Jawa Tengah, Semarang: Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), 2008.

6. Mengungkap Sejarah dan Pesona Motif Batik Semarang, Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2009.

7. Menuju Kota Industri, Semarang Pada Era Kolonial, Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro Press, 2009.

D. Hak Karya Intelektual (HKI)

1. Jenis ciptaan : Seni Motif Batik

Judul ciptaan : Merak Puspa Rukmi

Nmr pendaftaran : 045431

2. Jenis ciptaan : Seni Motif Batik

Judul ciptaan : Samodra Amengku Negari

Nmr pendaftaran : 045432

Note: HKI dikeluarkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, Direktur Jenderal Hak Kekayaan Intelektual.

MOTIF BATIK SEMARANG (Friday, July 30th, 2010)

untitled


NAMA MOTIF: MERAK SEMAWIS

DESAIN MOTIF OLEH: DR. DEWI YULIATI, M.A.

DIPRODUKSI OLEH: BATIK SEMARANG INDAH,

KAMPUNG BATIK, SEMARANG, JAWA TENGAH, 2007

untitled1

NAMA MOTIF: MERAK PUSPA RUKMI

DESAIN OLEH: DR. DEWI YULIATI, M.A.

DIPRODUKSI OLEH: BATIK SEMARANG INDAH,

KAMPUNG BATIK, SEMARANG, JAWA TENGAH, 2006

SAMODRA AMENGKU NNEGARI

NAMA MOTIF: SAMODRA AMENGKU NEGARI

DESAIN OLEH: DR. DEWI YULIATI, M.A.

DIPRODUKSI OLEH: BATIK SEMARANG INDAH,

KAMPUNG BATIK, SEMARANG, JAWA TENGAH, 2006

latar belakang usul JICA (Friday, July 30th, 2010)

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Wingdings; panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-charset:2; mso-generic-font-family:auto; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:1971858212; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1689358506 67698699 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l0:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; font-family:Wingdings;} ol {margin-bottom:0in;} ul {margin-bottom:0in;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

USUL

PENGEMBANGAN LABORATORIUM SEJARAH

JURUSAN SEJARAH FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS DIPONEGORO

DIAJUKAN KEPADA JICA

I. LATAR BELAKANG

Keberadaan suatu laboratorium di Jurusan Sejarah sangat diperlukan untuk mendukung proses belajar mengajar, karena ilmu sejarah memerlukan penelitian yang berbasis historical resources, baik primer maupun sekunder. Untuk membekali mahasiswa dengan kompetensi penelitian sejarah, diperlukan laboratorium yang memiliki aset-aset kesejarahan, yaitu: primary and secondary historical resources, yang berupa arsip, dokumen, foto-foto peristiwa tertentu, peta, surat kabar, film dokumenter, dan buku-buku referensi.

Historical resources atau software dalam penelitian sejarah harus dikompilasi melalui pencarian sumber di berbagai Lembaga Kearsipan dan Perpustakaan, yaitu: Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) di Jakarta, Perpustakaan Nasional di Jakarta, Pusat Dokumentasi Ilmiah di LIPI di Jakarta, dan Lembaga-lembaga Kearsipan serta Perpustakaan di Jepang. Pencarian Historical Resources harus juga dilakukan di Jepang untuk menemukan sumber-sumber sejarah tentang detail-detail penguasaan Jepang atas Indonesia (1942-1945), yang dirasa sangat kurang tersedia di Indonesia.

Laboratorium sejarah tidak hanya memerlukan software (historical resources), tetapi juga hardware atau prasarana & sarana pendukung, seperti gedung (ruang audio visual, ruang meeting, ruang dosen & karyawan, ruang arsip, ruang baca, ruang penyimpanan artefak), komputer, mebelair, LCD, tape recorder, televisi, handycam, kaset untuk merekam sejarah lisan, screen, dan laptop untuk proses belajar-mengajar.

Sejak tahun 2008, Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro sudah memiliki labaoratorium sejarah, namun baik software maupun hardware yang dimiliki masih kurang memadai. Beberapa kekurangan dapat disebutkan sebagai berikut:

Ø ruangan yang sudah ada adalah hanya audio visual yang sangat sempit, dan tidak integrated dengan ruang referensi, ruang karyawan dan dosen, dan ruang baca;

Ø prasarana belajar-mengajar sangat terbatas, sehingga para dosen dan mahasiswa kurang dapat mempresentasikan materi pembelajaran secara lebih optimal;

Ø historical resources sangat terbatas, sehingga tidak mendukung keperluan mahasiswa untuk penelitian.

Ø Laboratorium Sejarah belum memiliki diorama sebagai prasarna untuk visualisasi peristiwa sejarah Pergerakan Nasional Indonesia, yang sangat penting untuk penguatan nation caracter building secara kontinyu.

Mengingat keberadaan Laboratorium Sejarah sangat penting dalam proses belajar-mengajar dalam ilmu sejarah, Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro merasa sangat perlu untuk mengembangkan Laboratorium Sejarah, yang diupayakan melalui permohonan kerja sama dengan dan bantuan dana dari JICA.