KONSEP NUR MUHAMMAD DALAM HIKAYAT NUR MUHAMMAD DAN KETERKAITANNYA DENGAN TEKS UMDATUL ANSHAB, JUDUL KARAM DAN AKHBÃRUL AKHIRAT FI ACHWÃLIL-QIYAMAT

Image Hosted by ImageShack.us

Gagasan tentang Nur Muhammad ini bermula dari ajaran dalam tasawuf dalam menjelaskan kejadian alam semesta. Tema ini banyak dibicarakan dalam banyak karya kitab tasawuf termasuk dalam karya sastra. Karya-karya tasawuf Melayu yang membicarakan konsep Nur Muhammad antara lain Achbãrul-Achirat fi Achwãlil-Qiyamat, Kitab al-Kaukabud-Durri fin-Nũril-Muchammadi oleh Syaikh Muhammad bin Isma’il Daud al-Fatani, Kitab Kashful-Ghaibiyyah oleh Zainal-‘Abidin al-Fatani, Sirrul-Asrār karya Syaikh Abul Qadir al-Jaylani, Kitab Madarijus-Su’ud oleh Nawawi al-Bantani. Sabilul-Iddikar wal-I’tibār oleh Imam al-Haddad. Selain itu cerita tentang Nur Muhammad ini didapati juga di dalam naskah Melayu berbentuk cerita seperti Hikayat Muhammad Ali Hanafiyah, Hikayat Syah I Merdan, Sejarah Melayu, Hikayat Anbiya, Syair Ikan Tongkol.

Selain itu tercatat sekitar 45 kitab tasawuf dan tauhid yang dapat ditemui yang menyinggung dan membicarakan Nur Muhammad ini, antara lain:

1. Ash-Shifa, oleh Qadi ‘Iyad

2. Tafsir Jalalain oleh Imam al-Suyuti

3. Tanwirul-Miqbas atau Tafsir ibn CAbbas oleh Firuzabadi

4. Tafsir al-Kabir karya Imam Fakhrud-Din ar-Razi

5. Tafsir al-Baidawi karya Qadi al-Baidawi.

6. Ma’alim al-Tanzil karya Al-Baghwi

7. Tafsir Abi Su’ud

8. Tafsir at-Thabari karya At-Thabari

9. Tafsir al-Khazīn

10. Tafsir al-Madarik oleh An-Nasafi

11. Syarah al-Jalalain oleh As-Sawi

12. Ruh al-Ma’āni oleh Al-Alusi

13. Syarah Tafsir Ruhul-Ma’āni oleh Ismail Haqqi

14. Sharah ash-Shifa oleh Al-Qari

15. ar-Riyad al-Aniqa oleh as-Suyuti

16. Tafsir Ibnu Katsir oleh Ibn Katsir

17. Tafsirnya Ghara’ibul-Qur’an oleh Al-Nisaburi

18. Syarah al-Mawahib Al-Laduniyyah oleh Al-Zarqani

19. Al-Isabah Ibn Hajar

20. Sunan oleh at- Tirmidzi

21. Dala’ilun-Nubuwwah oleh Baihaqi

22. Shahih Buchari dan Muslim oleh Bukhari, Muslim

23. Musnad oleh Imam Ahmad

24. al-Mustadrak oleh Al-Hakim

25. Tafsir dan Maulid Rasul Allah oleh Ibn Katsir

26. Sirah oleh Ibn Ishaq

27. Mizan al-I’tidal oleh Dhahabiq

28. ar-Riyadhun-Nadhira oleh Al-Tabari

29. al-Milal wan-Nihal oleh Al-Shahrastani

30. Madarijun-Nubuwwah (dalam Bahasa Parsi) oleh ‘Abd al-Haq al-Dihlawi

31. Al-Atharul-marfu’ fil- Akhbãr il-maudu’a oleh Abd al-Hayy al-Lucknowi

32. Musnad oleh Abd al-Razzaq

33. An-Ni’matul-Kubra ‘alal-‘ālamin oleh Abidin (Ahmad al-Shami) wafat 1320 H. dengan komentarnya atas syair ibn Hajar al-Haitami

34. Kashful-Khafa’ oleh Al-‘Ajluni (Isma’il bin Muhammad, wafat 1162 H)

35. Al-Anwar fi Maulidin-Nabi Muhammad sallal-Lāhu Calaihi wa sallam oleh Bakri (Sayyid Abu al-Hasan Ahmad ibn ‘Abd Allah wafat abad ke3 H)

36. Tarikh al-Khamis fi Achwal Anfasi Nafisa oleh Diyarbakri (Husain bin Muhammad, wafat 966 H).

37. Matali’ ul-Masarrat oleh Fasi (Muhammad ibn Ahmad wafat 1052 H.)

38. Sirrul-Asrār fi Ma Yuhtahu ilaihil-Abrar oleh Syaikh ‘Abdul-Qadir al-Jilani.

39. Tafsir Ruchul-Bayan oleh Haqqi Ismail, (wafat 1137 H)

40. Fatawa Hadithiyyah oleh Ibn Hijyrrejar al-Haitami (wafat 974 H)

41. Yek Rauzah oleh Syaikh Ismail ad-Dihlawi (wafat 1246 H)

42. al-Futuchatul-Achmadiyyah bil-Minah al-Muhammadiyyah: syarah atas Al-Bushiri oleh Sulaiman al-Jamal (wafat 1204 H).

43. Namus al-A’dzam wa al-Qamus al-Aqdam fi Ma’rifat Qadar al-Bani sallal-Lāhu Calaihi wa sallam oleh Abdul-Qadir al-Jili

44. Syarah al-Bushiri oleh Kharputi (‘Umar bin Ahmad, wafat 1299)

45. al-Qari Hasyiyah Al-Maurid al-Rawi fi Maulidin-Nabi oleh Sayyid Muhammad ibn ‘Alawi al-Maliki al-Hasani

Karya-karya di atas menunjukkan betapa luasnya persebaran tema Nur Muhammad.

Pembahasan ini akan dibatasi pada bagaimana konsep Nur Muhammad dalam Hikayat Nur Muhammad dan kaitannya dengan teks sastra Melayu lainnya. Adapun teks Melayu yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah Hikayat Nur Muhammad (HNM naskah G yang dipakai sebagai dasar kajian). Sedang yang dimaksud naskah lain adalah naskah Umdatul Anshab, yang merupakan terjemahan dari kitab Raudhatul-Achbab, Judul-Karam serta cerita Nur Muhammad dalam bagian awal kitab Akhbãrul Akhirat fi Achwalil-Qiyamat.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkapkan konsep Nur Muhammad sebagaimana terdapat dalam HNM dan teks lainnya. Teks HNM ini tersebar di beberapa naskah. Masing-masing teks mempunyai keunggulan dan kekurangan. Namun justru kekurangan dan keunggulan itu saling melengkapi. Ada yang panjang karena ingin menjelaskan keseluruhan materi, selain itu ada juga yang karena panjang maka terpaksa ceritanya disingkat sehingga hanya memuat hal-hal yang pendek sehingga tidak memungkinkan dimasukkannya detil-detil. Selain itu mungkin karena satu tujuan tertentu terpaksa cerita utama dipendekkan sementara sebagian detilnya diperluas. Di dalam naskah HNM yang merupakan versi pendek ini konsep Nur Muhammad ini diceritakan dengan singkat. Oleh karenanya pemahaman menyeluruh tentang konsep ini dibutuhkan bantuan teks lain. Hal itu disebabkan untuk mendapatkan makna sepenuhnya karya sastra tidak boleh dilepaskan dari konteks sejarah dan konteks sosial budayanya, dalam hal ini adalah konteks sejarah sastranya. Karya sastra tidak lahir dalam situasi kosong kebudayaan (Teeuw, 1980:11), termasuk situasi sastranya. Karya sastra biasanya diciptakan berdasarkan konvensi sastra yang telah ada sebelumnya, dengan meneruskan tradisinya. Namun di sisi lain pengarang sebagai manusia tidak terlepas dari kreativitas sehingga dapat terjadi upaya penyimpangan-penyimpangan terhadap tradisi yang sudah ada. Dalam penciptaan karya sastra selalu terjadi ketegangan antara konvensi dan pembaharuan (Teeuw, 1980: 12). Upaya pemahaman ini dapat ditempuh dengan pendekatan intertekstual.

Intertekstual menegaskan sebuah karya baru bermakna optimal dalam hubungannya atau pertentangannya dengan teks lain. Untuk itu setiap teks sastra perlu dibaca dan dipahami dengan latar teks-teks lain (Kristeva dalam Culler, 1975:139), karena setiap teks merupakan mozaik kutipan-kutipan, penyerapan dan transformasi teks-teks lain. Hasil mosaik itu bisa berupa penerimaan, penyimpangan, perombakan atau penentangan atas teks sumber pada sebagian maupun seluruh bentuk formalnya. Sedangkan isi, pikiran, tema, masalah dan amanat tetap sama (Teeuw, 1988, 213-214). Atau bisa jadi bentuk formal sama, dalam arti melanjutkan konvensi yang ada, sebagian atau seluruhnya, sedangkan isi berbeda dengan teks sebelumnya (Teeuw, 1988:213-217). Untuk membuktikan adanya kutipan-kutipan, penyerapan, atau transformasi dari teks lain dapat dilakukan dengan menggambarkan kasus-kasus atau kejadian yang dipermasalahkannya di dalam teks sastra, baik kasus-kasus atau kejadian-kejadian yang meneladani dan menentang (Culler, 1981: 107). Cara lain menurut Riffaterre adalah dengan menjajarkan unsur-unsur struktur secara menyeluruh yang didapat di dalam karya sastra yang diperbandingkan.

Konsep Nur Muhammad ini merupakan sebuah cerita simbolik di dalam tasawuf tentang penciptaan. Di dalam naskah HNM, konsep Nur Muhammad ini diceritakan dengan singkat. Oleh karena itu, untuk memperoleh pemahaman konsep Nur Muhammad ini secara keseluruhan dibutuhkan bantuan teks lain. Teks lain sebagai pembanding di sini adalah teks Umdatul Anshab, Judul Karam serta Akhbãrul Akhirat fi achwãlil-Qiyamat.

A. Keterkaitan Teks Umdatul Anshab dengan Hikayat Nur Muhammad

Teks Umdatul Anshab (Hikayat Nur Muhammad naskah A) ini hanya terdapat satu buah di Perpustakaan Nasional RI Jakarta. Seperti telah dikemukakan pada bab II, naskah yang merupakan koleksi Perpustakaan Nasional RI Jakarta ini bernomor v.d.w. 76/ ML.643. Naskah ini berukuran 32 x 20 cm, dengan jumlah halaman sebanyak 111 halaman. Masing-masing halaman terdapat 19 baris. Naskah ini bertuliskan tangan dengan huruf Arab Melayu (Jawi) berjenis khat riq’i, tulisan dengan tinta hitam, pada kata-kata Arab tertentu ditulis dengan tinta merah. Kondisi naskah masih baik, memakai kertas Eropa yang sudah mulai menguning. Pada kertasnya terdapat lingkaran yang di tengahnya terdapat gambar singa bermahkota, dengan tangan kanan membawa pedang, terdapat tulisan CONCORDIA.

Naskah ini mempunyai kolofon yang terdapat pada halaman 110 yang berbunyi “Tammat alkitab ini kepada hari Sabtu sepuluh hari bulan Rabiul Akhir jam pukul lima sore kepada hijrah 1253, Haji Syamsuddin orang Banjar”. Di dalam naskah ini terdapat dua cerita, yaitu Umdatul-Anshab yang bercerita tentang silsilah turun temurunnya Nur Muhammad yang terdapat pada halaman 1 – 111, dan cerita Abu Samah pada halaman berikutnya. Naskah ini merupakan naskah yang panjang. Isinya dapat disimpulkan pada keterangan yang terdapat pada halaman pertama naskah itu, yaitu:

Adapun kemudian daripada itu maka inilah semata tarikh yang mukhtasar, padahal keduanya kami pindahkan daripada bahasa Parsi pada menyatakan berpindah – pindah cahayanya yang amat elok daripada sulbi yang banyak kepada segala rahayu yang suci, dan pada menyatakan segala kenyataannya yang turun temurun daripada nasabnya yang amat tinggi martabat, dan pada segala Ibunya yang suci.

Maka adalah tarikh mukhtashar ini kami pilih akan dia daripada segala yang indah–indah perkataannya itu, jalan perhimpunan daripada kitab yang bernama Raudatul Achbab dan kami namai akan Umdatul Ansab artinya pohon segala nasab. (TM 1-2)

Naskah ini mempunyai judul berlain-lainan. Dalam Katalogus Koleksi Naskah Melayu Museum Pusat naskah ini diberi judul Hikayat Nur Muhammad VI (Sutaarga dkk, 1972: 173). Sementara pada sampul naskah tertulis judul Abu Samah. Naskah ini disusun berdasarkan tarikh mukhtasar yang diterjamahkan dari naskah berbahasa Persia Rudhatul- Khabay (Rudhatul Jaba) yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab Umdatul-Ansab. Muhammad Fanani yang telah menyunting naskah ini yang kemudian diterbitkan oleh Pusat Bahasa (1995) memberi judul Hikayat Nur Muhammad. Dia menyebutkan bahwa naskah ini merupakan terjemahan dari risalah (naskah) berbahasa Parsi Raudhat al-Ajaba yang kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab dengan judul Umdat al-Anshab. Setelah itu baru diterjemahkan ke dalam Bahasa Melayu oleh Syamsuddin dari Banjar di bawah pengawasan Paduka Seri Sultan Tajul Alam Syafiatuddin Syah, pada hari Rabu, 28 Rajab tahun 1079 H. (1669 M) Hal itu termaktub di dalam pembukaan dan penutup naskah (hal 1 dan halaman 109).

Winstedt menganggap bahwa tarikh muchtashar itu sebagai terjemahan Melayu dari karangan Parsi Raudhatul Achbab. Selanjutnya Raudhatul Achbab merupakan terjemahan dari bahasa Arab berjudul Umdatul- Anshab (1969: 70). Pendapat itu ditentang oleh Voorhoeve (1952a: 207-208 via Braginsky, 1998: 610-611). Dia mengatakan bahwa data kolofon itu kurang tepat. Dikatakannya bahwa Umdatul-Anshab itu adalah karya Arab yang merupakan terjemahan dari sebuah fragmen Raudatul-Achbab yang panjang, yang digubah oleh penulis Parsi bernama Ata Allah Ibn Fazlullah Jamal Al-Husaini pada tahun1494 - 1495. Voorhoeve berpendapat bahwa Umdatul – Anshab adalah terjemahan dari bahasa Parsi, bukan sebaliknya. Sementara Ismail Hamid berpendapat bahwa hikayat mengenai Nur Muhammad yang lebih dahulu daripada tarikh mukhtasar ini adalah Tarjumah Mawlid al-Mustofa yang ditulis oleh al-Kazaruni pada tahun 1331 (Hamid,1984:247-250; 1989: 32). Menurut Abdul Muqtadir dalam Catalague of the Arabic and Persian Manuscripts in Oriental Library at Bakhkipore (1918: 82-85) Al Kazaruni bercita-cita menulis riwayat hidup Nabi Muhammad yang sebaik-baiknya. Dia lalu berdoa supaya dapat mimpi bertemu Nabi. Dari hasil mimpinya itulah maka dihasilkan karya itu. Tarjumah Mawlid al-Mustofa lebih banyak menumpukan pembicaraanya tentang doktrin penciptaan Nur Muhammad (dalam Hamid, 1984: 250). Oleh karena itu menurut Ismail Hamid karya ini dimungkinkan merupakan sumber asal tentang cerita Nur Muhammad dalam bahasa Melayu.

Adanya perbedaan pemberian judul ini disebabkan oleh cara membaca (mentransliterasi) naskah ini. Di dalam naskah tertulis رضة الاحبابي. Sutaarga membacanya sebagai Radhatul Khabay/ Radatul Jaba (Sutaarga, 1972: 173), sedang Fanani membacanya Raudhatul Ajaba (1995). Di dalam penelitian ini kata tersebut dibaca Raudhatul Achbab (taman kekasih). Oleh penulisnya naskah ini dikatakan sebagai tarikh mukhtasar maksudnya sebuah sejarah yang ringkas tentang silsilah keturunan Nabi Muhammad saw. Naskah ini selesai ditulis (dijawikan dari kitab Umdatul Anshab) pada hari Sabtu, 10 Rabiul Akhir 1253 Hijriah (15 Juni 1837 M).

Dalam penelitian ini naskah ini selanjutnya disebut Umdatul-Anshab (selanjutnya disebut UA) sesuai dengan pernyataan yang ada di dalam teks sendiri.

Maka adalah tarikh mukhtasar ini kami pilih akan dia daripada segala yang indah–indah perkataannya atas jalan perhimpunan daripada kitab yang bernama Raudatul Achbab dan kami namai akan Umdatul Anshab, artinya pohon segala nabi.


Comments are closed.