Pemikiran Sufistik (Nur Muhammad) Hamzah Fansuri

fauzan

Tulisan ini merupakan kajian tehadap naskah Hikayat Nur Muhammad yang penulis dapatkan dari Koleksi Naskah Musium Pusat Jakarta dengan kode Ml.378C. Hikayat Nur Muhammad adalah sebuah hikayat yang menceritakan tentang Nur Muhammad sebagai awal penciptaan semesta. Ide ini didasari oleh ajaran yang dilontarkan oleh Ibnu Araby, seorang ahli sufi falsafi wachdatul wujud. Ide Araby itu dituangkan di dalam buku karyanya Fushushul-Hikam. Namun sebelum karya besarnya itu lahir, gagasan adanya Nur Muhammad itu dituangkan di dalam risalah kecilnya yang berjudul Syajarat al-Kaun. Ide awal paham Nur Muhammad ini adalah dari seorang tokoh sufi kontroversial Al Challaj. Ide Nur Muhammad ini merupakan untaian dari tiga ajaran utamanya yaitu chulul dan wachdatl adyan. Menurutnya Nur Muhammad merupakan jalan hidayah (petunjuk) dari semua Nabi. Karena itu agama yang dibawa oleh para Nabi pada prinsipnya sama apalagi dalam keyakinan al-Challaj, semua Nabi merupakan emanasi wujud sebagaimana terumus dalam teori chulul-nya.

               Teori Nur Muhammad ini kemudian diteruskan oleh Ibnu Araby (638H/240M) dalam karyanya al-Futuhat al-Makiyyah,  dan Fusush al-Hikam. Bagi Ibnu Arabi, Nur Muhamad merupakan asal-usul kejadian semua makhluk yang hidup dan sumber yang terpancar daripada ilmu para Nabi dan wali. Dengan kata lain Nur Muhamad ialah roh yang nyata dengan rupa para Nabi dan wali sejak Nabi Adam a.s. diutus hingga Nabi Muhamad s.a.w. dan sejak wujud Martabat al-Wilayah atau kenabian dalam pemikiran Sufi. Ilmu para nabi dan wali adalah suatu pancaran dari Nur Muhamad yang merupakan induk kepada segala yang wujud ini.
               Ide ini akhirnya disistemasikan dan ditegaskan oleh Abdul  Karim al-Jili (832H) dalam kitabnya al-Insan al-Kamil fi Ma’arifah al-awa’il wa al-Awakhir. Dia menghubungkan dengan konsep manusia sempurna (insan kamil). Ide ini akhirnya masuk dan meluas di kalangan sufi Melayu sejalan dengan masuknya agama Islam ke nusantara.

1. Peranan Ahli Tasawuf dalam Masuk dan Berkembangnya Agama Islam ke Nusantara

Timbulnya gagasan Nur Muhammad di dalam kesusastraan Melayu ini tak bisa dilepaskan dengan masuknya Agama Islam ke Nusantara (Melayu ). Seminar Masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia di Aceh pada tanggal 10-16 Juli 1978 menegaskan hasil Seminar Sejarah Islam di Medan tahun 1963 bahwa Agama Islam masuk ke Indonesia pada abad I Hijriah yang langsung dibawa dari tanah Arab, dan daerah yang pertama kali menerima adalah Aceh (Hasymy: 1989:band . Daudy,1983: 24; bandingkan juga mis. Arnold,1985:317).

Kerajaan Islam yang pertama kali berdiri adalah Perlak pada tahun 225 H (abad ke-9 M). Agama Islam yang masuk ke Indonesia pada awal-awal itu masih asli, karena langsung dari Arab.Snouck Horgronje mengatakan bahwa watak Islam pada zaman Nabi adalah seperti anak muda yang penuh dengan vitalitas dan kemauan dan hanya dibekali oleh Al-Qur’an dan Sunnah Nabi dalam suatu lingkungan yang terbatas. Pada zaman Khalifah, watak Islam ibarat orang dewasa malahan sudah orang tua (Abdul Gani dalam Hasymy ed. , 1989:112). Maka boleh jadi yang masuk adalah pengaruh yang aneh maka biasanya akan menjadi tonggak yang akan dikenang orang.

Akibat perkenalannya dengan pemikiran-pemikiran Yunani, sehubungan dengan semakin besar dan jayanya Islam pada abad ketiga Hijriyah dan kemudian diadakan penerjemah besar-besaran terhadap buku-buku hasil pemikiran dan pengetahuan Yunani yang dikenal sudah tinggi khususnya pemikiran filsafat, maka mulailah ajaran Islam kemasukan faham filsafat. Di samping itu semakin meluasnya Islam ke beberapa kerajaan yang besar dan sudah maju ilmu pengetahuan serta kebudayaanya semacam Persia, maka Islam sudah berakulturasi dengan budaya setempat sehingga lahir pemikiran tempatan yang ‘disesuaikan’ dengan Islam.

Sebagaimana yang dikatakan di atas bahwa Acehlah yang pertama mula menerima Islam karena memang sejak abad ke 1-6 M Aceh telah memainkan peranan penting dalam perdagangan maritim internasional (Daudy ,1983:90). Setelah agama Islam masuk di pulau Sumatra, peranan Aceh dalam perdagangan semakin menonjol , terutama setelah lahirnya kerajaan Pasai pada abad ke-13 M (ibid : 10-11). Pada abad ke-16 M, kerajaan Aceh Darussalam muncul sebagai suatu negara yang kuat dan berkedaulatan di bawah kekuasaan Sultan Ali Mughayat Syah (Daudy, 1983:16). Kerajaan Aceh mencapai puncak keemasan pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (wafat 1636 M). Peranan ahli sufi semakin menonjol dalam penyebaran agama Islam di kawasan Asia Tenggara setelah Baghdad jatuh ke tangan orang Mongol pada tahun 1258 M. Mereka bukan saja terdiri dari orang-orang Arab tetapi juga orang-orang Persi dan India (Daudy, 1983 :26) yang kedatangan mereka itu disambut dengan sangat baik oleh berbagai kerajaan.

Sejak jaman Sultan Malik al-Zahir (wafat 1326 M) Pasai telah menjadi pusat studi dan dakwah Islam. Di istana sering berkumpul para ulama besar Persia, India, Arab, dll. untuk berdikusi masalah-masalah agama antara lain masalah esoterik, pemikiran-pemikiran filsafat juga mistik. Selain itu juga menjadi pusat pengiriman mubalig ke berbagai tempat seperti di Jawa, Malaka, Patani, dll.( Daudy, 1983:27-29). Hubungan dengan India sangat erat sehingga istilah agama seperti gelar Makhdum yang dipergunakan di India untuk guru-guru dan ulama juga digunakan di Pasai.

Sifat kehidupan agama dalam kerajaan Pasai pada abad ke-14 -15 sangat didominir oleh ajaran mistik. Diduga ajaran tarikat sufi juga telah berkembang dalam jaman itu. Itulah yang merupakan faktor yang sangat menentukan jalannya kehidupan dan pemikiran keagamaan dalam kerajaan Aceh Darussalam yang lahir kemudian sekitar abad ke-16 (Daudy, 1983: 30). Aceh kedatangan sufi-sufi dari berbagai negara yang secara langsung menciptakan iklim kehidupan mistik dan melahirkan pemikiran terhadap masalah-masalah keagamaan,juga buku-buku tasawuf yang penting karya Abdul Karim al-Jilli (Insanul-Kalim fil-Ma’rifatil-awakhir wal-awa’il), Ibnu Arabi (Fusushul-Hikam, Futuhatul-Makiyyah), Muhammad bin Fadhlullah al-Burhanpuri (at-Tuhfatul-Mursalah ila Ruhin- Nabi). Keempat kitab itu sangat memainkan peranan pentingnya dalam perkembangan pemikiran agama terutama tentang filsafat mistik wachdatul wujud / pantheisme yang diajarkan oleh Hamzah Fansuri dan Syamsuddin as-Sumatrani yang dikenal dengan ajaran wujudiyyah dan teori martabat tujuh. Akhirnya ajaran mistik Islam ini sangat mendominansi Aceh.

Orientasi kehidupan keagamaan yang lebih berciri kepada ajaran mistik telah memberikan peluang luas bagi ahli-ahli sufi. Mereka dijadikan menjadi penasehat dan mufti (Daudy, 1983:22-23), walaupun ia sangat menyimpang dari ajaran resmi yang diakui dan dihayati kalangan istana dan umum. Contohnya adalah Syamsuddin as-‘Sumatrani. Dia adalah seorang tokoh yang tasawuf wujudiyyah yang telah memperoleh kedudukan tinggi sebagai orang kedua dalam kerajaan Aceh pada masa Sultan Iskandar Muda. Selain berkedudukan sebagai mufti dengan gelar Syeikhul-Islam, dia juga sering dipercaya Sultan dalam urusan-urusan kenegaraan. Dengan kedudukannya, menjadikan nya sebagai tokoh mistik yang dihormati dan disegani (Daudy,1984:33-34). Contoh lain misalnya Syeikh Nuruddin Arraniry yang datang ke Aceh sebelum 1637 M dan yang untuk kedua kalinya (1637 M) diberi kesempatan oleh Sultan Iskandar Tsani sebagai mufti. Dialah yang menyanggah ajaran wujudiyyah-nya Hamzah Fansuri dan Syamsuddin.

Kalau kita mau meneliti secara jujur, maka kita akan berkesimpulan bahwa di tahun-tahun pertama masuknya Islam ke Nusantara jasa terbesar adalah dari golongan sufi. Hampir semua daerah yang pertama kali memeluk Islam bersedia menukar kepercayaan asalnya dari dinamisme, animisme, maupun Budhisme dan Hinduisme yang saat itu sudah menyebar, ini menunjukan keahlian tokoh-tokoh sufi dalam menyusun sistem dan metode penyebaran yang dengan cara-cara khas mereka (Abdullah,1980:15). Penyebaran islam ke Kelatan dan Kedah misalnya, dilakukan oleh ulama sufi yang bernama Syeikh Abdullah. Di Patani, penyebaran Islam dilakukan oleh tiga ulama Sufi yaitu Syeikh Shafiyuddin, Syeikh Said Barsisa dan Syeikh Gombak Abdul Mubin (Abdulah,1980: 15-20). Penyebaran Islam di Jawa dilakukan oleh para wali yang selanjutnya dikenal dengan sebutan Wali Sanga. Para wali tersebut termasuk juga para ahli tasawuf (sufi).

Pengaruh tasawuf di dalam kehidupan kerajaan Aceh semakin jaya terutama semasa berkuasanya Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam Syah (1606/1607-1636). Pada masa itu banyak ulama-ulama intelek yang berdomosili di Aceh. Pertama, secara geografis, kerajaan Aceh sangat strategis dalam lalu lintas perdagangan di Asia Tenggara. Kedua, sultan Aceh yang bernama Iskandar Muda Mahkota Alam Syah sangat mencintai Islam, alim ulama,dan ilmu pengetahuan, yang semua itu didukung oleh rakyatnya. Sementara itu pada masa dahulu orang Islam memang termasuk orang yang ahli dalam berdagang. Namun, bagi mereka, berdagang bukanlah menjadi tujuan pokok, tetapi hanya sebagai alat untuk menyebarkan agama Islam (Abddulah,1990:30).

Pada saat itu sebagaimana dikatakan di depan, ulama-ulama yang menganut faham mistik sangat mendapat tempat yang paling utama. Dari Makkah telah datang Al Alim Allamah Syeikh Abdul Khair dan Al-Alim Allamah Syeikh Muhammad Al-Yamin pada sekitar tahun 990H/1582 M (Zainuddin,tt:252). Keduanya adalah tokoh sufi yang sealiran dengan ulama Hidustan seperti Syeikh Syaifur-Rijal. Faham kedua tokoh dari Mekkah tadi disokong olah Syeikh Hamzah Fansuri dan muridnya Syeikh Syamsuddin As-Sumatrani. Selain itu Syeikh Fadhlullah al-Burhanpuri yang menulis kitab memperkuat sokongannya terhadap dua Syeikh dari Arab tadi. Kitab Tuhfatul-Mursala tersebut menjadi pegangan kuat kaum sufi yang menganut ajaran martabat tujuh yang kemudian disimpulkan di dalam ajaran wachdatul wujud (Abddulah, 1980: 32).

Alam fikiran sufi yang mempunyai pengaruh luas dan bercorak pantheistik terutama jelas sekali di kalangan ahli-ahli fikir Sumatra Utara semenjak abad ke-16 dan permulaan abad ke-17 Masehi. Ada dua orang di antara tokoh-tokoh sufi itu yang sangat menarik untuk dibicarakan sehubungan dengan aliran pantheistik ini yaitu Syech Hamzah Fanshuri dan Syech Syamsuddin Sumatrani. Beliau berdua sangat terpengaruh oleh alam fikiran Ibnu Araby yang terkenal dengan ajaran wachdatul-wujudnya yang oleh penentangnya (misalnya Syeikh Nuruddin ar-Raniry) disebut wujudiyah. Ajaran lain yang terkenal dari beliau yang juga mempengaruhi pemikiran tasawuf di Sumatera ini adalah ajaran tentang al-chaqiqatul muchammadiyah/ nur muhammad.

Di sini akan penulis paparkan bagaimana pandangan Syeikh Hamzah Fansuri dalam proses terciptanya alam semesta yang ada kaitannya dengan faham Nur Muhammad.

2. Gagasan Nur Muhammad di dalam Karya Hamzah Fansuri

Nama Hamzah Fansuri di lapangan penyelidikan sastra Indonesia dan para ulama sangat terkenal. Para ahli hampir semuanya mencatat bahwa dia bersama muridnya Syamsuddin, adalah tokoh yang sefaham dengan sufi ekstrem Al-Challaj dengan faham hulul, al-chaqiqatul-muhammadiyah dan wahdatul adyan. Hal yang selalu disanggah oleh orang atas diri Hamzah adalah karena faham wachdatul-wujud, hulul, dan ittihad. Orang sering menuduhnya sebagai orang yang zindik, syirik, kafir, sesat dan sebagainya. Ada orang yang menuduh beliau adalah pengikut faham Syi’ah. Ada pula orang yang mempercayai bahwa dia itu bermazhab Syafi’i di dalam fiqih, sedang dalam tasawuf Hamzah mengikut tarikat Qadiriyah (Abdullah,1980 :36-37).

Beberapa kitab karyanya antara lain: Asrar al-Arifin fi Bayanil-Ilmis-‘Suluki wat-‘Tawhid, Syarbul Asyiqin, Zinatul-Muwahiddin, dan Ruba’i Hamzah Fansuri. Karya prosanya ini banyak mengingatkan kepada karya Ibnu Araby (Hadiwijono,tt:14-15). Di lapangan sastra, khususnya syair, Hamzah telah menulis antara lain :

1. Syair Burung Pingai,

2. Syair Dagang,

3. Syair Pungguk,

4. Syair Sidang Faqir,

5. Syair Ikan Tongkol, dan

6. Syair Perahu (Abdullah,1980:37)

Karya-karya syairnya menunjukan bahwa dia sangat mengenal tasawuf Persia yang bersifat erotis (Hadiwijono,tt:15).

Menurut Hamzah, Allah adalah suatu zat yang Mutlak yang mendahului segala sesuatu sebagaimana dikemukakannya di dalam Asrar Arifin.

“ketika bumi dan langit belum ada, arasy dan kursyi belum ada, surga dan neraka belum ada, alam sekalian belum ada, apa yang pertama? Yang pertama ialah Zat, yang ada pada dirinya, tiada sifat dan tiada nama. Itulah yang pertama. (hal.5)

Selanjutnya dikatakan bahwa Zat Allah itu tak bisa diibaratkan, tak bisa diuraikan dengan ibarat, sebab tak ada ibarat yang bisa dipakai untuk mengurai keadaan Allah. Pada-Nya tiada atas atau bawah, tak ada dahulu atau kemudian, tak ada kanan atau kiri dan seterusnya (Asrar hal 8). Allah adalah Zat yang Mutlak yang diibaratkan sebagai laut yang tiada berkesudahan (Asrar hal. 30). Di dalam beberapa syairnya, laut itu disebutnya sebagai Laut Batiniyyah (Bahrul-Butun), laut yang dalam (Bahrul-amiq) dan laut yang mulia (Bahrul-‘ulyan) (Hadiwijono,tt:26).

Hakekat sebenarnya dari Zat Allah itu tanpa pembeda-bedaan (la ta’ayyun).Hamzah mengambarkan cara Zat Mutlak itu menjelma (tanazzul) seperti laut (Zinatul-Muwahiddin hal 15) Penjelmaan atau pengaliran ke luar itu terjadi dalam beberapa pangkat atau mertabat yaitu : (1) pangkat laut yang bergerak di dalamnya segala sesuatu tersimpan, (2) pangkat ombak,di dalamnya terjadi peninjauan Zat atas diri-Nya sendiri (3) pangkat asap dan awan, di dalamnya realitas yang terpendam berada sebagai satu kesatuan yang kemudian membagi-bagi diri untuk kemudian mengalir ke luar ke dalam dunia gejala /fenomena ini, (4) pangkat hujan, di dalamnya realitas yang terpendam itu keluar atas perintah ilahi “ fa yakun”, serta (5) pangkat sungai,yaitu gambaran dunia yang kongkrit ini. Lebih jauh Hamzah mengatakan dalam Zinatul –Muwahidin :

Adapun ta’ayyun awwal itu ditamsilkan oleh ahli suluk seperti laut. Apabila laut timbul maka ombak namanya, yakni apabila alim memandang dirinya, maklum jadi pada dirinya; Apabila laut itu melepas jadi nyawa, asap namanya, yakni nyawa ruh idlafi kepada namanya, yakni ruh idhafi dengan a’yan tsabitah keluar dengan qaul (kun fa yakun) berbagai-bagai. Apabila hujan itu jatuh ke bumi, sungai namanya, yakni setelah ruh idhafi dengan isti’dad asli dengan a’yan tsabitah hilir di bawah kun fa yakun sungai namanya. Apabila sungai itu pulang ke laut,laut hukumnya. Tetapi laut itu maha suci tiada berlebih dan tiada berkurang . Jika keluar sekalian itu tiada ia kurang, jika masuk pun sekalian itu tiada ia kurang lebih, karena ia suci dari pada segala suci (hal.15)

Tahap-tahap pengaliran/ martabat itu diistilahkan dengan achadiyah, wachdah, wachidiyyah. Pangkat achadyiah disebut juga pangkat la-ta’ayyun (tanpa pembeda-beda). Wachda digambarkan sebagai gerak ombak. Pangkat ini disebutnya sebagai ta’ayyun awwal (pembedaan pertama). Pada pangkat ini terjadi empat pembedaan yaitu :pengetahuan (ilm), eksistensi (wujud), pengamatan (syuhud), dan cahaya (nur). Pada pembedaan pertama ini Zat Allah menjadi sadar akan diri-Nya sendiri serta memiliki pengetahuan tentang segala daya yang terpendam pada diri-Nya sebagai kesatuan. Di sini berarti bahwa Zat Allah tahu bahwa diri-Nya sendiri yang ada, tiada yang lain kecuali Dia. Ia tahu bahwa Ia memiliki daya untuk menjelmakan Diri-Nya (Hadwijono,tt:30-32).

Tingkatan wachda ini disebut juga ”cahaya Muhammad” (Nur Muhammad) atau “realitas Muhammad” (Chaqiqatul-Muhammadiyah). Dikatakannya di dalam Syarabul-Asyikin :

“Taayyun awaal wujud yang jama’i, pertama di sana nyata. Ruh idlafi, semesta alam sana lagi ijmali, itulah bernama chaqiqat Muchammad nabi (hal.14).

Di tempat lain dikatakan :

Wachdat itulah yang bernama “kamal zati”. Menyatakan sana ruh Muhammad an- nabi, tatkala itu bernama “ruh idlafi”(hal.52)

Di dalam Asrar Arifin dia mengatakan :

“. . .’ilm yang melihat maklumat itu, chaqiqat Muchammad saw. Antara ‘alim dan ma’lum itulah asal cahaya Muhammad pertama-tama bercerai dari pada Zat.

Adapun pada suatu ibarat,itulah bernama “ruh idhafi”, yakni nyawa bercampur ;dan pada saat ibarat : “aqlul-kulli” namanya[yakni] perhimpunan segala budi. Dan pada suatu ibarat “nur” namanya, yakni cahaya; pada suatu ibarat ”kalamul-a’la” namanya, yakni kalam yang maha tinggi; dan pada suatu ibarat “lauch” namanya, yakni papan tempat menyurat; karena itulah maka sabda Rasullulah: ”awwalu maa khalaqa- Allaahu ta’aala ar-‘Ruah, awwalu maa khalaqa- Allaahu ta’aala an-Nuur, awwalu maa khalaqa Allaahu ta’aala al-‘aql; awwalu maa khalaqa Allaahu ta’aala al-qalam”(hal.19)

Di sini dijelaskan bagaimana kedudukan Nur Muhammad. Nur Muhammad adalah pengetahuan(‘ilm) yang melihat kepada ma’lum atau ide. Tempatnya berasal di antara yang mengenal dan yang dikenal (antara Zat yang Mutlak dan dunia). Oleh karena itu pada bagian lain disebutkan bahwa Nur Muhammad bersinar dari Zat Allah (Syarabul Asyikin hal. 97) dan bahwa seluruh alam semesta dijadikan dari pada cahaya Muhammad. Sebaliknya Nur Muhammad dijadikan dari pada Zat Allah dan bahwa seandainya tiada cahaya Muhammad, maka alam semesta ini tidak akan ada (Asrarul-Arifin hal.20)

Pada pangkat wachda ini peranannya dalam penjelmaan akali sangat penting. Sebagaimana diketahui bahwa penjelmaan ada dua yaitu penjelmaan yang terjadi dalam diri Zat yang Mutlak yang sifatnya akali dan penjelmaan yang terjadi di luar Zat yang Mutlak, sifatnya bisa dilihat. Hubungan keduanya itu sama dengan hubungan antara perwujudan dan gambar yang dipantulkan, atau sebagai lahir dan batin, sedemikian rupa sehingga Zat yang Mutlak itu tampak di dalam dunia gejala. Wachda adalah cermin yang memantulkan gambar dari yang Mutlak atau bayang Yang Mutlak. Wachda adalah pangkat penilikan diri dari Zat yang Mutlak, yang dengannya Yang Mutlak mengenal diri-Nya dan kemudian seolah-olah Yang Mutlak bangkit dari lamunan-Nya. Wachda adalah logos. Ia disebut juga “nur Muhammad” (Hadiwijono,tt:47).

Pangkat selanjutnya adalah wachidiyya yang disebut juga pembeda-bedaan kedua (ta’ayyun tsani). Pada pangkat ini realitas Muhammad pada ta’ayyun awwal menimbulkan manusia atau chaqiqat insan.

Ketiga pangkat penjelmaan, achadiyah, wachda, wachidiyya, semuanya terjadi dalam satu eksistensi Ilahi. Maka ketiganya disebut sebagai “Maratib-ilahi” (Hadiwijono,tt:42)

Penjelmaan selanjutnya dikatakan Hamzah:

“Apabila awan itu titik udara,hujan namanya; yakni ruh idhafi dengan a’yan tsabitah keluar dari qaul kun fa yakun, berbagai-bagai (Zinatul-Muwahidin hal.15).

Di bagian lain (Syarabul-Asyikin hal 52-53) Hamzah menyebutkan adanya pembeda-bedaan ketiga (ta’ayyun tsalis) yang dinamai pula a’yan kharija (realitas yang keluar). Pengertian a’yan kharija menunjukkan bahwa penjelmaan ini dan penjelmaan berikutnya terjadi di luar Zat yang Mutlak, yaitu di dalam dunia gejala ini (Hadiwijono, tt:42).

Pada pangkat ini realitas yang terpendam yang di dalam pangkat wahidiyya berkumpul sebagai awan, sekarang mengalir ke luar sebagai roh. Oleh karena itu pangkat ini disebut juga alam arwah. Selanjutnya dari pangkat alam arwah ini menjelma keluar menjadi hujan, air dan sungai yang terkenal dengan pangkat-pangkat alam mitsal, alam ajsam, alam insan.

Pangkat alam mitsal, adalah pangkat penjelmaan di mana pembagian rohaniah adalah suatu kenyataan. Alam ini adalah alam cita/ ide. Alam ini merupakan perbatasan antara alam arwah dan alam segala tubuh. Alam ini bercirikan warna seperti alam impian (Hadiwijono:45). Alam Ajsam atau alam segala tubuh adalah dunia yang terdiri dari anasir yang halus yang tak bisa diamati oleh indera, serta tak binasa. Pangkat penjelmaan terakhir adalah alam insan, yaitu dunia yang nampak ini. Alam ini disebut juga alam manusia sempurna (alam insan al-kamil).

Ketujuh pangkat penjelmaan yang selanjutnya sering disebut teori martabat tujuh itu sebenarnya bisa dirangkumkan menjadi tiga pangkat, yaitu dari Zat yang Mutlak (Achadiya), pangkat penengah di mana realitas yang terpendam (a’yan tsabita) timbul, baik sebagai kesatuan maupun sudah terinci (wahda dan wahidiyya), dan pangkat dunia gejala, yaitu realitas keluar (a’yan kharija). Demikianlah penjelasan Hamzah Fasuri tentang tanazzul (mengalir ke luar)-nya Zat yang Mutlak. Dia menempatkan Nur Muhammad sebagai penghubung/ perantara antara Zat yang Mutlak (Tuhan) dengan dunia. Dari Nur Muhammadlah Zat yang Mutlak bersinar. Dari Nur Muhammad pula asal segala kejadian alam ini. Pangkat penjelmaan terakhir adalah alam insan, yaitu dunia yang nampak ini. Alam ini disebut juga alam manusia sempurna (alam insan al-kamil). Pernyataan-pernyataan Hamzah ini mengingatkan kita kepada pemikiran Ibnu Araby dan filsafat emanasi dalam Neo-Platonisme.

4.4.3 Nur Muhammad dalam Pandangan Syeikh Nuruddin Ar- Raniry

Nama lengkapnya adalah Nuruddin Muhammad bin Ali bin Hasanji bin Muhammad ar-Raniry al-Quraisy al-Syafi’i. Dia adalah seorang sarjana India keturunan Arab yang dilahirkan di Ranir (Rander) di daerah Gujarat. Nuruddin adalah seorang Syeikh dalam tarikat Rifa’iyyah. Sebelum tahun 1637 M, ia pernah datang ke Aceh. Namun, kedatangannya yang pertama kali itu tidak mendapat sambutan dari Sultan Iskandar Muda. Ketika itu yang bertindak sebagai mufti Aceh adalah Syeikhul-Islam Syamsuddin as-Sumatrani yang menganut paham “wujudiyyah”.

Nuruddin datang ke Aceh untuk kedua kalinya pada tahun 1047 H (1637 M), pada zaman Sultan Iskandar Tsani. Sultan ini memberi kedudukan yang sangat baik kepadanya. Dia diberi kesempatan untuk menyanggah faham “wujudiyyah” dari Hamzah Fansuri dan Syamsuddin (Daudy, 1984 : 35-39). Selain sebagai ulama dan mufti di istana, Nuruddin juga seorang penulis yang sangat produktif. Dia menulis kitab dari berbagai cabang ilmu pengetahuan seperti fikih, hadits, sejarah, mistik, filsafat, perbandingan agama, dll. Dalam disertasinya tentang Asrar al Insan fil-Ma’rifatir-‘Ruh war-‘Rahman (1961), Tudjimah telah mencatat paling tidak terdapat 29 hasil karya Syaikh Nurrudin, antara lain Shiratal-Mustaqim, Bustanus-‘Salatin fi Dzikril-Awwalin wal-Akhirin Lathaiful-Asrar, Asrar al-Insan fi Ma’rifatir-‘Ruh war-‘Rahman, Tibyan fi Ma’rifatil-Adyan, Akhbarul-Akhirat fi Ahwalil-Qiyamah, Hilludz’Dzill, dll (Daudy, 1984 47-98)

Menurut Syeikh Nuruddin, hakikat alam ini dijadikan Allah melalui tajalli. Segala fenomena dan peristiwa yang terjadi di ala mini disebabkan oleh tajalli Allah yang senantiasa terjadi pada setiap saat dan waktu. Dia menolak teori emanasi atau faidh-nya Al-Farabi, karena akan membawa kepada pengakuan bahwa alam ini qadim sehingga jatuh kepada syirik. Teori tersebut juga menafikan kekuasaan Allah karena alam ini, menurut teori tersebut, melimpah dengan sendirinya tanpa iradah-Nya, seperti cahaya yang melimpah dari matahari. Namun demikaian, beliau yang juga penganut teori tajalli telah mengatakan adanya a’yan tsabitah sebagai sesuatu yang qadim, yang pada hakikatnya sama dengan teori emanasi dari al-Farabi. Rupanya hal ini kurang disadari olehnya (Daudy, 1984: 124-126).

Syeikh Nuruddin dalam Asrar al-Insan halaman 34-35 mengatakan bahwa yang mula-mula dijadikan Allah adalah “aAkal pertama” yang disebut juga hakikat Muhammad atau Ruh A’dzam. Ia adalah esa pada dzat (hakikat), tetapi banyak dari segi pengertian akal. Oleh karena itu, ia berfungsi sebagai sebab dan relasi. Selanjutnya dari kejamakan akali dalam dzatnya, melimpahlah “akal kedua” dan falak (bandingkan dengan konsep Al-Farabi). Jumlah semua akal ada sepuluh dan jumlah falak ada sembilan. Urut-urutan falak itu adalah Arasy, Kursyi, bintang Zuhal (Saturnus), Mustari (Yupiter), Mirrih (Mars), Syam (Matahari), Zuhara (Venus), Utharid (Mercurius), dan Qamar (bulan). Kesembilan falak tersebut disebut Aba’ (bapak). Di bawahnya ada Ummahat (ibu) yang terdiri dari empat unsur yaitu udara, air, api, dan tanah. Dari sebab pengaruh falak Aba’ kepada empat unsur (Ummahat) itu lahirlah berturut-turut imadat, nabatat, dan hayawanat. Yang terakhir ini adalah manusia, dengan lahirnya manusia maka sempurnalah penciptaan alam seluruhnya (Daudy, 1984: 126-127).

Dalam Asrar al-Insan halaman 40, Nuruddin mengatakan bahwa sebagai hakikat Muhammad, “akal pertama” menduduki tempat yang sentral dalam alam ini. Ia yang mula-mula melimpah (tajalli) dari Allah dan meneruskan limpahan itu kepada akal-akal di bawahnya. Di halaman 39, Nur Muhammad sebagai Qalam Allah yang sama sifatnya dengan sifat Allah. Oleh karena itu ia adalah sebab bagi segala yang ada dan yang tidak ada. Ia adalah juga permulaan dan kesudahan segala makhluk (Daudy, 1984: 127-128).

Pendirian Nuruddin tentang asal-usul jiwa manusia ini sangat erat kaitannya dengan teorinya tentang nur atau ruh Muhammad. Dia mendasarkan pendapatnya dari sebuah hadis Nabi yang artinya : “Yang mula-mula dijadikan Allah adalah nurku “ (dalam riwayat lain ruhy)”.

Dan satu hadis lain : “Jika bukan karenamu (Muhammad), tidaklah aku jadikan alam ini”.

Jadi, Nuruddin berpendapat bahwa alam beserta isinya, termasuk segala ruh makhluk ini dijadikan dari Nur Muhammad. Dia melukiskan dalam Jawahirul-Ulum fi Kasyfil-Ma’lum halaman 125, dan di dalam Asrarul-Insan halaman 29, 37-38 sebagai berikut:

“ Tatkala jadilah Nur Muhammad Saw dari pada Adam kepada wujud maka dijadikan Haqq ta’ala dari pada nur itu arwah segala ‘ulul-azmi itu segala mursal. Dan dari pada segala arwah segala mursal itu arwah-arwah segala anbiya’. Dan dari segala arwah anbiya’ itu arwah segala awliya’. Dan dari arwah segala awliya’ itu itu arwah arwah segala mukmin. Dan dari segala arwah segala mukmin itu arwah segala munafik. Dan dari arwah segala munafik itu arwah segala kafir. Dan syaitan, dan dari arwah segala jin dan syaitan itu arwah segala hayawanat. Dan dari segala arwah segala hayawanat itu arwah segala nabatat. Dan dari arwah segala nabatat itu arwah segala jamadat (Daudy, 1984: 156-157).

Di dalam Jawahir halaman 124, beliau menjelaskan proses terjadinya Nur Muhammad. Dikatakan bahwa Nur Muhammad itu tercipta sebagai hasil kerinduan Allah terhadap Dzat-Nya. Oleh karena kerinduan itu timbullah citra rinduan (shuratul-ma’syuq) pada ilmu-Nya, lalu Allah berfirman kepadanya dengan firman ciptaan “Kun”, maka lahirlah Nur Muhammad (Daudy, 1984: 157).

Munculnya segala arwah dari nur Muhammad bukan berarti bahwa Nur Muhammad terdiri dari bagian-bagian yang dapat berpindah kepada makhluk lain. Menurut Nuruddin, terjadinya arwah dari ruh Nur Muhammad adalah seperti pelita (dian) yang darinya dapat dinyalakan beribu-ribu pelita lain. Jadi yang berpindah bukanlah cahayanya tetapi bekasnya (atsar) yang dapat menyalakan banyak pelita.

Dia juga mengatakan dalam Asrar-al-Insan halaman 147 bahwa yang dimaksud dengan Insan Kamil adalah manusia yang dalam dirinya telah memiliki hakikat Muhammad atau Nur Muhammad atau ruh Muhammad sebagai makhluk awal mula dan sebab bagi terciptanya segala mahluk. Untuk memperkuat pendapat-pendapatnya, Nuruddin juga mengutip beberapa hadis (yang menurut para ulama ahli hadis, dianggap sebagai hadis palsu) antara lain :

“ Pertama-tama dijadikan Allah Ta’ala itu cahayaku, dan pada riwayat lain rukhy (Asrarul-Insan hal. 47)

“Adalah aku Nabi, dan Adam antara air dan tanah (Jawahir hal. 159)

“ Jikalau tiada karena engkau, ya Muhammad, niscaya tiada kujadikan segala alam ini (Jawahir hal. 125-126)

Hadis-hadis di atas menyatakan bahwa Nabi Muhammad atau Nur Muhammad telah dijadikan sebelum alam ini. Dia tercipta sebelum adanya dalam bentuk sebagai seorang Nabi Insani (fisik). Nur itu kadim lagi azali. Nur Muhammad selalu berpindah-pindah dari generasi ke generasi berikutnya dalam berbagai bentuk para nabi seperti Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, dll. yang berakhir kepada bentuk Nabi penutup, Muhammad saw. Seterusnya Nur itu berpindah kepada para Imam di kalangan Syi’ah Imamiyah dan berakhir pada Imam Mahdi Al-Muntazar. Di kalangan kaum tasawuf, Nur itu berpindah kepada para wali (awliya’) dan berakhir kepada wali penutup (khatamul-awliya’), yakni Nabi Isa yang akan turun pada akhir zaman (Daudy, 1984: 185-186). Bandingkan dengan konsep Insan al-Kamil dari Abdul Karim al-Jilli. Di sini tampak sekali pengaruh Al-Jilli pada Nuruddin.

Menurut Nuruddin (dalam Daudy, 1984: 187-188), Nur Muhammad/ ruh Muhammad adalah hakikat pertama yang mula-mula lahir dalam ilmu Allah (ta’ayyun awwal) yang lahir dari tajalli dzat atas dzat. Oleh karena itu hakikat atau nur Muhammad merupakan “ hakikat jami ” yang menghimpun segala yang haq. Hal ini dikarenakan alam syahadah adalah semata-mata merupakan wadah kenyataan bagi nama allah Al-Achir, Adz-‘Dzahir, sedangkan a’yan tsabitah adalah wadah kenyataan dari Allah: Al-awwal, Al-Bathin. Jadi jika sebagian-sebagian alam ini hanya merupakan wadah tajalli bagi sebagian asma Allah dan sifatnya, maka wadah kenyataan bagi tajalli nama Allah yang menghimpun segala nama dan sifat hanyalah pada “Insan Kamil”. “Insan Kamil” merupakan cermin bagi Allah untuk melihat kesempurnaan diri-Nya. Selanjutnya “Insan Kamil” juga sebagai pengikat semesta alam. Jadi pada “Insan Kamil” terhimpun segala yang Ilahi (Asrar hal 59-61). Dari itu “Insan Kamil” merupakan mikrokosmos (alam saghir) sedangkan alam semesta ini adalah makrokosmos (alam kabir).

Dalam kitabnya Akhbarul-Akhirat fil-Ahwalil-Qiyamah, yang telah ditransliterasikan oleh Djamaris (1983), pada bab I halaman 2-10, beliau menceritakan tentang kejadian Nur Muhammad. Diceritakan bahwa Nur Muhammad adalah makhluk pertama yang diciptakan Allah ta’ala.

Alam ini diciptakan karena Nur Muhammad. Nur Muhammad dilukiskan sebagai burung merak. Ia ditempatkan oleh Allah di pohon syajaratul-yaqin. Nur Muhammad sujud kepada Allah selam 70.000 tahun serta mengucap tasbih. Nur Muhammad dilihat oleh Allah yang membuat ia malu dan sujud lima kali. Itulah sebabnya ia diwajibkan untuk sembahyang lima kali sehari semalam. Karena malunya dilihat Allah, Nur Muhammad berpeluh. Peluh itu ada yang menjadi malaikat, arsyi, kursyi, lauh, matahari, bulan, dll. Akhirnya semua arwah diperintahkan Allah untuk melihat Nur Muhammad. Bial Arwah melihat kepala Nur Muhammad, ia akan menjadi khalifah atau raja; bila yang terlihat adalah keningnya, ia akan menjadi penulis’ dan seterusnya, bermacam-macam derajat orang tergantung dari apa yang dilihatnya dari Muhammad (Djamaris, 1982: 36-40).

4.5 Paham Nur Muhammad terjalin dalam Kesusastraan Melayu

Setelah penulis membicarakan pengaruh faham Nur Muhammad di dalam sastra kitab /mistik, di sini akan penulis kemukakan pengaruh faham Nur Muhammad di dalam sastra Melayu dalam arti belles letters. Ada dua teks yang yang akan penulis ambil sebagai contoh, yaitu Hikayat Nur Muhammad. Selain itu riwayat kejadian Nur Muhammad ini terdapat pula di dalam Hikayat Muhammad Ali Hanafiyah dan Hikayat Syah I Merdan Juynboll (1899 : 202),.

4.5.1 Nur Muhammad di dalam Hikayat Muhammad Ali Hanafiyah

Di dalam katalogus Ph. S. van Ronkel (1909: 250-254) naskah Hikayat Muhammad Ali Hanafiyah (selanjunya disebut HMAH) tercatat delapan naskah. Selain yang masih berupa naskah yang jumlahnya tidak sedikit, HMAH juga telah ada yang dikerjakan oleh Ali Bahai dicetak di Singapura (Dipodjo, 1986: 171). L. F. Brakel telah membicarakan HMAH ini dalam The Hikayat Muhammad Hanfiyah (1975).

Menurut Brakel, yang sependapat pula dengan Dr. Ph.S.van Ronkel, behwa HMAH dalam sastra Melayu itu merupakan terjemahan langsung dari Parsi. Kesejajaran antara keduanya itu terlihat pada :

1. Pembagian atas bab antara keduanya sama.

2. Nama judul dalam bahasa Melayu adalah Hikayat Muhammad Hanafiyah, sama betul dengan Qissa-i-Muhammad Hanif dalam bahasa Parsi.

3. Banyaknya persamaaan dalam teks bahasa Melayu itu dengan mudah dapat dikembalikan ke dalam bahas Parsi (Dipodjojo, 1986:1982).

Hikayat ini mula-mula diminta oleh orang-orang Malaka ketika menantikan serangan orang Paringgi untuk dibacanya agar mendapatkan semangat bertempur pada pagi harinya. Pada mulanya permintaan itu ditolak oleh sultan Ahmad dan Sultan hanya berkenan meminjamkan Hikayat Amir Hamzah, tetapi karena permohonan itu dengan sangat, maka akhirnya Sultan pun berkenan meminjamkan. Hal itu dapat ditemukan pada Sejarah Melayu cerita yang ketiga puluh empat (Dipodjojo, 1986:160).

Inti ceritanya berpusat pada tokoh Muhammad Ali Hanafiyah, saudara Hasan dan Husein putra Ali bin Abi Thalib lain Ibu. Muhammad ali Hanafiyah adalah pahlawan kebanggaan kaum Syi’ah, yang menuntut balas akan kematian saudara-saudaranya yang terjebak tentara musuh di Karbela.

Isi HMAH secara garis besar isinya adalah :

1. Cerita Nur Muhammad, suatu cahaya kenabian yang ada pada setiap Nabi, cerita penciptaan Nabi Adam sampai menjelang kelahiran nabi Muhammad saw.

2. Cerita tentang Nabi Muhammad dan kejadian-kejadian yang dialaminya.

3. Cerita tentang Ali sejak memegang pemerintahan dan keturunan Ali sampai meninggalnya Muhammad Ali Hanafiyah.

Dalam hikayat tersebut cerita dimulai dengan uraian bahwa Tuhan menciptakan Nur Muhammad. Selanjutnya oleh Tuhan diciptalah ruh para Nabi, para wali dan para Arifin (orang yang bijaksana). Disuruh-Nya malaikat Jibril mengambil inti bumi. Inti bumi itu dijadikannya sebagai lembaga nabi”. Lembaga Nabi itu turun terus menerus sejak Nabi Adam a.s. melalui para Nabi yang lain sampai kepada Abdullah bin Abdul Muttalib (ayah Nabi Muhammad saw). Diceritakan bahwa ada seorang wanita kaya dari Syiria bernama Fatimah ingin bersuamikan Abdullah. Tetapi maksud itu kandas setelah mengetahui lembaga nabi itu telah berpindah ke rahim siti Aminah yang telah lebih dahulu diperistri Abdullah.

Menjelang kelahiran Nabi Muhammad, dahi Abdullah seakan-akan bercahaya bagai bintang Yahro. Cahaya itu padam setelah Abdullah beserta Siti Aminah, istrinya menyendiri dan mengingat Allah. Ketika Muhammad akan lahir, rumah Siti Aminah ada cahaya yang memancar sampai ke langit. Ketika Muhammad lahir, rumah Siti Aminah tertutup rapat sehingga orang lain tidak dapat masuk ke rumah tersebut (Dipodjojo, 1986: 170).

4.5.2. Nur Muhammad di Dalam Hikayat Syah I Merdan

Hikayat Syah I Merdan (HSM) oleh C. Hooykaas (1947:125) dimasukkan ke dalam Het Boek mit Indische Fantazie. Jalan ceritanya pada garis besarnya mirip dengan cerita Jawa yaitu Angling Darma (Atja, 1966:31-32). Hikayat ini berisi pula ajaran soal-soal keislaman yang dikemukakan dengan tanya jawab antara Syeikh Lukmanul-Hakim dan Syah Merdan.

Dalam perbincangan kedua orang itu mengenai sembahyang dikatakan bahwa sembahyang itu sifat Nabi, yakni Nabi Muhammad, berkat wali Allah. Sembahyang itu lahir dari pada Allah Ta’ala. Sholat subuh dilaksanakan dua rekaat karena asal-usul sifat Muhammad . sembahyang Lohor itu empat rekaat karena kenyatan Allah Ta’ala tu empat perkara, yaitu wujud, ilm, syuhud dan nur (bandingkandengan konsep Nuruddin di atas). Yang ada itu Allah Ta’ala dan yang nyata itu Muhammad, karena sudah tersimpan pada haq Allah Ta’ala, yakni Allah yang ada. Adapun ilmu itu mengetahui, dan yang mengetahui itu Muhammad, sedang yang diketahui adalah Allah Ta’ala. Nur adalah cahaya Muhammad /Nur Muhammad yang cahayanya itu terangnya Muhammad. Terang itu adalah ilmu Muhammad, sementara yang terang itu adalah Muhammad karena diterangi oleh Allah Ta’ala. Adapun syuhud itu adalah himpunan ilmu dan sifat pada hati kita, yaitu pengetahuan akan Allah Ta’ala.

Sembahyang Asar itu empat rekaat karena asal manusia itu dari empat perkara yaitu api, angin, air, dan tanah. Sembahyang Maghrib itu tiga rekaat karena tiga peringkat / martabat penjelmaan Tuhan yaitu Achadiya, Wachda, Wachidiyya. Ketiga martabat itu juga adalah Allah, Muhammad, dan Adam. Sembahyang Isya’ itu empat rekaat karena empat perkara yaitu wadi, madi, mani, manikam.

HSM juga menceritakan terjadinya bermacam-macam mahluk yang berasal dari karena Allah menilik pada Nur Muhammad dengan tilik kodrat-Nya. Karena sangat malunya keluarlah peluh dari dari Nur Muhammad. Dari peluh itulah terjadi berbagai kejadian yang berwujud segala makhluk.

4.5.3. Nur Muhammad di dalam Sejarah Melayu edisi Shellabear, W.G. 1979 Kuala Lumpur: Fajar Bakti Sdn. Bhd

Di dalam Sejarah Melayu dibicarakan juga Nur Muhammad ini sebagai pembuka cerita. Pada Pasal pertama dikisahkan sebagai berikut.

Dan Ialah tuhan yang abadi, lagi senantiasa adanya, dan tiada sesuatu juapun kemudian-Nya. Maka dijadikannya segala makhluk, dan tiada hajat bagi-Nya. Walamma arada azhara rubbuiyatihi fakhalaqa nura habihi, wamn dzalika’l-nuri khalal’l anbiya’a wa fara’a rutbatuhu. Maka tatkala Ia hendak menyatakanketahuannya , maka dijadikannya Nur kekasih-Nya dan daripada nur itulah dijadikan segala anbiyak, dan dipaerangkatnya martabatnya. Wastafa minhum Adama liyuzhira nurahu, falidzalika sajada ‘l malakitau kulluhum lahu. Daripada anbiya’ itu Nabi Allah Adam supaya menyatakan nur kekasihnya, maka dari kerana itulah sujud sekalian malaikat akan dia. Wa akhrajahu minal jannati kaana fiihi chikmatahu, watafadhdhala alayhi bi’l rutbati l-ulya fasara fil ardhi khalifatuhu. Dan dikeluarkannya ia dari dalam surge, adalah dalamnya hikmatnya, dan dianugerahinya akan dia maratabt yang tinggi, maka jadilah ia akan khalfahnya di bumi. Subhanalladzi tafarradha bil-uluhiyati, wala syarika lahu, wayufni’l khala’iqa ba’da khalqihi, tsumma yu’iduhu. Maha suci bagi Allah yang tinggi ketuhanannya dan tiada sekutu baginya, dan lagi akan difanakannya segala makhluk, kemudian dijadikannya, maka dikembalikannya pula. (halaman 2)


Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.