Archive for January, 2012

Pedoman Penulisan TA dan Praktik Kerja

Sunday, January 15th, 2012

BAGIAN I

PEDOMAN PELAKSANAAN PRAKTIK KERJA

Praktik Kerja bertujuan agar mahasiswa memiliki pengalaman kerja di bidang perpustakaan dan informasi pada suatu instansi atau lembaga resmi agar sedapat mungkin memperoleh kesempatan untuk menerapkan apa yang telah mereka peroleh selama masa pendidikan. Praktik Kerja diakhiri dengan penyerahan Laporan Praktik Kerja.

1. Petunjuk Pelaksanaan Praktik Kerja

a. Mahasiswa dapat memilih sendiri tempat praktik kerja dengan persetujuan Ketua Program.

b. Mahasiswa yang akan menempuh Praktik Kerja harus mengisi Formulir Rencana Praktik Kerja.

c. Praktik Kerja dilaksanakan di bawah petunjuk dan pengawasan Program dan oleh seorang penanggung jawab yang ditetapkan pejabat pada tempat praktik kerja.

e. Jumlah waktu pelaksanan praktik kerja: sekurang-kurangnya 100 jam kerja dan harus dibuktikan dengan surat keterangan dari tempat praktik kerja.

f. Penilaian Praktik Kerja dilakukan oleh Penanggung Jawab Praktik pada Lembar Penilaian Praktik Kerja.

g. Meskipun dapat praktik di tempat kerja, para mahasiswa yang sudah/sedang bekerja di perpustakaan disarankan untuk praktik di tempat lain agar lebih menambah wawasan.

h. Praktik kerja dilaksanakan setelah mahasiswa memperoleh 80 SKS (pada semester V)

j. Biaya praktik kerja ditanggung oleh mahasiswa yang bersangkutan.

2. Persyaratan Bentuk Laporan Praktik Kerja

- Isi Laporan Praktik Kerja

Pendahuluan (BAB I) berisi antara lain: latar belakang dan tujuan praktik kerja; waktu dan prosedur persiapan praktik kerja; bidang kegiatan utama yang dilaksanakan dalam praktik kerja.

Keberadaan organisasi tempat praktik kerja (BAB II) berisi antara lain: sejarah/latar belakang organisasi tempat praktik kerja, bentuk badan usaha dari organisasi tempat praktik kerja (PT, CV, NV, Firma, Yayasan, dll), struktur organisasi; personalia pimpinan; bidang usaha/kegiatan organisasi tempat praktik kerja, dsb.

Aktivitas praktik kerja (BAB III) berisi antara lain: job deskripsi organisasi tempat mahasiswa praktik, pada bagian apa saja mahasiswa terlibat/dilibatkan, hambatan-hambatan yang dihadapi, usaha-usaha yang dilakukan untuk mengatasi hambatan-hambatan tersebut; dan juga menyoroti penggunaan teknologi informasi yang diterapkan.

Penutup (BAB IV) berisi simpulan mengenai sistem kinerja tempat organisasi mahasiswa praktik berdasarkan pengalaman selama praktik dan saran untuk perbaikan di masa mendatang.

Bibliografi

Keterangan tambahan:

Mahasiswa membuat proposal sebagai bekal untuk melamar tempat praktik, yang ditandatangani ketua dan sekretaris program, dan surat permohonan dari program. Kemudian di tempat praktik mahasiswa dibimbing seorang penanggung jawab praktik yang ditentukan oleh pihak organisasi tempat praktik.

3. Tata Cara Penulisan, Bentuk Laporan Praktik Kerja.

Untuk keseragaman laporan perlu diperhatikan:

a. Laporan Praktik Kerja ditik dengan word processor.

b. Laporan Praktik Kerja ditulis dalam bahasa Indonesia.

c. Kertas yang dipergunakan jenis HVS, warna putih, minimal 70 gram, ukuran kuarto 21×29,7 cm.

d. Kertas diketik pada satu halaman saja, tidak timbal balik.

e. Lajur bagian kiri kertas dikosongkan selebar 4,5 cm, bagian atas 4 cm, bagian bawah 3 cm, dan bagian kanan 2,5 cm.

f. Penomoran halaman dengan angka Arab berlaku untuk bagian tubuh laporan diletakkan pada sudut kanan atas. Sedangkan halaman judul tiap-tiap bab diberi nomor pada tengah bawah.

g. Halaman-halaman pengantar, daftar isi dan daftar singkatan diberi nomor dengan angka Romawi kecil.

h. Tebal Laporan Praktik Kerja sekurang-kurangnya 10 halaman isi BAB (tidak termasuk judul, halaman pengesahan, kata pengantar, daftar isi, daftar singkatan, motto dan lampiran-lampiran).

i. Laporan Praktik Kerja dijilid dengan kertas karton manila berwarna biru muda. Pada halaman judul itu harus dicantumkan data-data seperti yang terdapat pada contoh berikut (di bawah ini).

j. Jumlah yang harus diserahkan 3 (tiga) eksemplar.


4. Contoh Halaman Judul dan Halaman Pengesahan

a. Contoh Halaman Judul

LAPORAN PRAKTIK KERJA

(judul)

Diajukan sebagai syarat untuk melengkapi mata kuliah

Praktik Kerja dan Laporan

Oleh:

Sri Ayu Pustakawati

NIM AOD007…….

PROGRAM STUDI DIPLOMA III PERPUSTAKAAN DAN INFORMASI

FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS DIPONEGORO

SEMARANG

200….

b. Contoh Halaman Pengesahan

Disetujui :

Penanggung Jawab Praktik, Dosen Pembimbing,

(Tanda Tangan) (Tanda Tangan)

Nama Terang Nama Terang

NIP NIP


Penulisan Proposal Tugas Akhir

A. Format Proposal

1. Halaman Pengesahan

Halaman ini berisi judul/ topik masalah, nama pengusul (mahasiswa), jangka waktu, ruang lingkup/ bidang, tanda tangan pengusul, dosen pembimbing dan ketua program.

2. Format Proposal

a. Judul Tugas Akhir

1) Judul ditulis dalam bentuk frasa.

2) Judul dapat menggunakan judul utama dan anak judul.

3) Judul dapat diubah apabila dirasa dapat mmenemukan topik yang lebih menarik.

b. Ruang lingkup/ Bidang

Materi pokok bahasan berada pada ruang lingkup perpustakaan dan atau informasi.

c. Latar Belakang Masalah

1) Bagian ini berisi hal-hal yang memberikan motivasi pemilihan pokok permasalahan untuk keperluan penulisan Tugas Akhir.

2) Bagian ini juga dapat berisi alasan-alasan mengenai pemilihan topik masalah.

d. Rumusan Masalah

Bagian ini berisi rumusan masalah yang ditulis dengan serangkaian pernyataan atau pertanyaan

e. Tujuan penulisan Tugas Akhir

Bagian ini menyebutkan maksud dan tujuan penulisan Tugas Akhir.

f. Metode

1) Pengumpulan Data

a) mengumpulkan data primer berupa antara lain dokumen, surat, photo, peta, dan sebagainya. (berdasarkan jenis topik masalah).

b) mengumpulkan data sekunder (studi pustaka) yang berkaitan dengan topik masalah.

2) Pengolahan Data

Data primer dianalisis secara deskriptif, komparatif. atau inferens

g. Daftar Pustaka

Bagian ini berisi nara sumber kutipan yang akan digunakan dalam laporan TA, dapat berupa buku, terbitan berkala, dan sebagainya.

h. Lampiran

Bagian ini berisi sumber-sumber pendukung laporan, seperti kuesioner, surat-surat dan sebagainya.


B. Contoh Halaman Judul dan Halaman Pengesahan Proposal

USULAN PENULISAN TUGAS AKHIR

Judul :

PENGKLASIFIKASIAN BAHAN PUSTAKA

DI PERPUSTAKAAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan studi

pada Program Studi Diploma III Perpustakaan dan Informasi

Oleh :

Jaka Pustaka

NIM A0D006…….

PROGRAM STUDI DIPLOMA III PERPUSTAKAAN DAN INFORMASI

FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS DIPONEGORO

SEMARANG

2012

2. Contoh halaman pengesahan proposal

USULAN TUGAS AKHIR

_____________________________________________________________

1. Judul / Topik Masalah : Pengklasifikasian Bahan Pustaka di Perpustakaan Daerah Provinsi Jateng

_____________________________________________________________

2. Nama Mahasiswa : Jaka Pustaka

NIM : A0D006……………..

_____________________________________________________________

3. Lokasi Objek Penulisan : Perpustakaan Daerah Propinsi Jawa Tengah Semarang (Dikosongi bila tidak ada)

_____________________________________________________________

4. Jangka Waktu Penulisan : 3 (tiga) bulan, terhitung dari tanggal persetujuan proposal

_____________________________________________________________

5. Ruang Lingkup / Bidang : Perpustakaan

_____________________________________________________________

Semarang, ………………. 2012

Disetujui:

Dosen Pembimbing, Pelaksana,

Yuli Rochmiarti, S.Sos., M.Si Siti Ajeng Pustakawati

NIP 1970 NIM A0D012…………

Mengetahui:

Ketua Program Studi D III Perpustakaan dan Informasi,

Nur Fauzan Ahmad, S.S., M.A.

NIP 19680212199901003

BAGIAN II

PEDOMAN PENULISAN TUGAS AKHIR

A. Aturan Penulisan Tugas Akhir

1. Bagian Awal

Bagian ini berisi judul tugas akhir, halaman persetujuan dosen pembimbing, halaman tanggal pengujian dan pengesahan TA, Motto (kalau ada), kata pengantar, abstrak, daftar isi, daftar tabel, daftar lampiran dan daftar gambar. Masing-masing diketik pada halaman tersendiri dengan menggunakan nomor halaman i, ii, iii, dan seterusnya (lihat contoh lamp. daftar isi).

Abstrak merupakan intisari laporan TA dengan tujuan untuk memberi gambaran ringkas dari isi laporan tersebut dan selanjutnya memancing pembaca untuk tergerak membaca laporan tersebut. Abstrak memuat antara lain judul laporan, tujuan, metode, pokok-pokok permasalahan, dan usaha-usaha pemecahan masalah; dan ditulis dalam 1 spasi dan tidak lebih dari 1 (satu) halaman.

2. Bagian Pendahuluan (Bab I ± 10%)

Bab pendahuluan pada tugas akhir meliputi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat, metode, dan sistematika penulisan.

a. Latar Belakang Masalah

Bab ini berisi hal-hal yang melatarbelakangi masalah yang dibahas/ diteliti dan motivasi pemilihan masalah. Penulis mengemukakan sebab-sebab mengapa masalah tersebut perlu diteliti dan ditulis berdasarkan pengalaman, literatur, dan kajian teoritis yang dibacanya, misalnya:

1) arti penting atau peranan topik pembicaraan;

2) perlunya pembinaan/ peningkatan di bidang topik pembicaraan itu;

3) perlunya masukan sebagai bahan pembinaan/ peningkatan di bidang topik pembicaraan; dan

4) perlunya penelitian dilakukan baik untuk kemanfaatan praktisnya (pembinaan/ peningkatan kemampuan, ketrampilan, pengetahuan, sikap petugas) maupun untuk kemanfaatan keilmuan (pengembangan teori)

b. Rumusan Masalah

Subbab ini memuat rumusan masalah atau definisi pengertian yang berkaitan dengan judul tulisan. Apabila masalah yang ditulis pada judul masih perlu dibatasi, maka pembatasan masalah tersebut ditulis pada subbab ini.

c. Tujuan dan Manfaat

Subbab ini berisi tentang tujuan mahasiswa menulis tugas akhir, dan segala manfaat yang diambil dari penulisan tersebut.

d. Metode

Subbab ini memuat metode pengumpulan data dan metode pengolahan data yang dilakukan oleh mahasiswa dalam proses penulisan tugas akhir. Metode pengumpulan data dilakukan dengan beberapa cara berikut:: observasi, wawancara, kuesioner, pengumpulan dokumen, studi pustaka, dan sebagainya. Metode pengolahan data juga dapat dilakukan secara desrkriptif, komparatif, inferens, dan sebagainya.

3. Bagian Tinjauan Literatur / Landasan Teori (Bab II ± 25%)

Bagian ini merupakan jalan yang akan dilewati oleh penulis untuk membangun kerangka berpikir (dasar teori). Kerangka berpikir akan dimanfaatkan oleh penulis makalah sebagai pisau analisis masalah. Agar pisau analisis masalah semakin tajam, studi kepustakaan harus mampu menelusuri berbagai teori, pendapat, otoritas, serta hasil-hasil penelitian sebelumnya yang relevan dengan permasalahan yang dikemukakan. Semakin lengkap butir-butir teori yang dikemukakan menunjukkan bahwa penulis memiliki referensi bacaan yang lengkap pula.

4. Bagian Gambaran Umum Tempat Objek (Bab III ± 20%)

Bagian ini memberikan gambaran sepintas mengenai tempat objek penulisan laporan Tugas Akhir, seperti perpustakaan, taman bacaan, pusat informasi. Penulisan difokuskan pada sejarah singkat, sistem organisasi, misi, dan aktivitas / kegiatan umum dan kegiatan-kegiatan lain yang berhubungan dengan masalah yang dibahas. Tujuan dari pemaparan ini ialah untuk memberikan gambaran secara objektif situasi dan kondisi tempat objek penulisan. Pembaca akan bisa lebih memahami pembahasan apabila didukung oleh kejelasan situasi dan kondisi tempat objek penulisan tersebut.

5. Bagian Pembahasan Masalah (Bab IV ± 40%)

Bagian Pembahasan atau analisis masalah merupakan bagian yang utama dari seluruh laporan TA; keberhasilan penulis dalam beberapa hal tergantung pada bagian ini, dan ini merupakan bagian tersulit untuk menuliskannya. Beberapa hal penting yang perlu dipertimbangkan dalam bagian Pembahasan adalah sebagai berikut.

a. Sebutkan prinsip-prinsipnya, hubungannya, dan generalisasi yang ditunjukkan pada bagian Hasil.

b. Sebutkan penyimpangan-penyimpangan atau tidak adanya korelasi atau hubungan, dan rumuskan hal-hal yang kurang pasti.

c. Tunjukkan bagaimana hasil dan interpretasi cocok atau berlawanan dengan kerangka teori yang dikemukakan.

d. Bahaslah implikasi-implikasi teoritis pada laporan anda, demikian juga kemungkinan adanya aplikasi praktis.

e. Sebutkan simpulan hasil pembahsan/analisis secara lengkap.

6. Bagian Penutup (Bab IV ± 5%)

Bagian ini berisi simpulan hal-hal yang pokok yang telah diuraikan dalam Bab III dan saran-saran dari penulis terhadap objek atau tempat objek penulisan. Pada bagian penutup tidak terdapat kutipan sumber, uraian, contoh-contoh, dan panjangnya tidak lebih dari dua halaman.

7. Daftar Pustaka

Setelah bagian penutup dicantumkan daftar pustaka dan lampiran-lampiran. Daftar pustaka berupa buku, majalah, surat kabar, dokumen, dsb. Daftar lampiran dapat berupa dokumen/arsip, gambar-gambar, foto, dan sebagainya

8. Lampiran (bila ada)

B. Metode Pengetikan Tugas Akhir

1. Tugas Akhir (TA) diketik dalam bahasa Indonesia dengan menggunakan program aplikasi komputer word processing.

2. Kertas yang dipergunakan jenis HVS, warna putih, minimal 70 gram, dengan ukuran kuarto 21 x 29 cm (A4).

3. Kertas diketik pada satu halaman saja, tidak bolak-balik.

4. Lajur bagian kiri kertas dikosongkan selebar 4,5 cm, bagian atas 4 cm, bagian bawah 3 cm, dan bagian kanan 3 cm.

5. Penomoran halaman dengan angka Arab berlaku untuk bagian tubuh laporan (termasuk daftar pustaka, dan lampiran), dan ditempatkan pada halaman bagian tengah bawah 1, 2, 3, dst.).

6. Halaman-halaman pengantar, daftar isi dan daftar singkatan diberi nomor dengan angka Romawi kecil (I, ii, iii, dst.).

7. Tebal Tugas Akhir (TA) sekurang-kurangnya 20 halaman isi, yaitu BAB I - IV (tidak termasuk Pendahuluan, Daftar Pustaka, dan Lampiran-lampiran).

8. Sistematika penulisan harus konsisten dan sesuai aturan yang berlaku. Misalnya, angka Romawi ( II) untuk bab, huruf besar Latin (A.) untuk sub bab, angka Arab (3.) untuk sub-sub bab, huruf Latin kecil (f.) untuk sub-sub sub bab, angka Arab dan kurung satu ( 2) ) untuk sub-sub-sub sub bab, dan seterusnya.

9. Tugas Akhir (TA) yang sudah diujikan dan hasil revisi sudah disetujui para penguji kemudian dijilid dengan kertas karton manila berwarna biru muda dan diberi sampul plastik mika. Mahasiswa wajib menyerahkan 3 eksemplar (untuk program, perpustakaan, dan dosen pembimbing).

C. Contoh-contoh Bagian Tugas Akhir

1. Contoh Halaman Judul

PENGKLASIFIKASIAN BAHAN PUSTAKA

DI PERPUSTAKAAN NASIONAL PROVINSI JAWA TENGAH

TUGAS AKHIR

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Menyelesaikan Studi

pada Program Studi Diploma III Perpustakaan dan Informasi

Oleh :

Jaka Pustaka

NIM A0D006…….

PROGRAM STUDI DIPLOMA III PERPUSTAKAAN DAN INFORMASI

FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS DIPONEGORO

SEMARANG

2012

2. Contoh Halaman Persetujuan

Disetujui oleh

Dosen Pembimbing,

Yuli Rochmiarti, S.Sos., M.Si

NIP 1970

3. Contoh Halaman Pengesahan

Tugas akhir ini telah diuji oleh Panitia Penguji pada tanggal : ………………

Ketua, Anggota,

Drs. Mujid Farihul Amin, M.Pd. Dra. Sri Ati, M.Si.

NIP 1967 NIP 1954

Disahkan pada tanggal : ………………………………………

Oleh:

Ketua Program Studi D III Perpustakaan dan Informasi

Fakultas ilmu budaya Universitas Diponegoro

Nur Fauzan Ahmad, S.S., M.A.

NIP 19680212199901003

4. Contoh Abstrak

ABSTRAK

Laporan tugas akhir ini berjudul ‘Sistem Layanan Sirkulasi Terautomasi di Perpustakaan Daerah ‘Widya Taruna Loka’ Kabupaten Wonosobo’. Tujuan penulisan tugas akhir ini adalah untuk mengetahui sistem layanan sirkulasi terautomasi di Perpustakaan Daerah ‘Widya Taruna Loka’ Kabupaten Wonosobo. Kendala-kendala yang dihadapi dan untuk mengetahui gambaran tentang tugas, fungsi, dan peran layanan sirkulasi di Perpustakaan Daerah “Widya Taruna Loka’ Kabupaten Wonosobo.

Metode yang digunakan penutis untuk mengumpulkan data yaitu studi pustaka, observasi dan wawancara. Sedangkan untuk pengolahan data digunakan metode deskriptif yaitu dengan melukiskan obyek penelitian apa adanya.

Kegiatan layanan sirkulasi terautomasi di Perpustakaan Daerah ‘Widya Taruna Loka’ Kabupaten Wonosobo meliputi peminjaman dan pengembalian bahan pustaka, pembuatan peraturan tata tertib perpustakaan, dan pemberian sanksi. Dalam Pelaksanaan layanan sirkulasi terautomasi tersebut, Perpustakaan Daerah “Widya Taruna Loka1 Kabupaten Wonosobo menghadapi beberapa kendala yaitu tenaga, keterlambatan pengembalian buku, dan hambatan pengoperasian komputer.

Upaya yang dilakukan oleh Perpustakaan Daerah ‘Widya Taruna Loka’ Kabupaten Wonosobo untuk mengatasi masalah tenaga engan cara mengikutsertakan para pegawai perpustakaan untuk mengikuti pelatihan atau diktat tentang perpustakaan. Untuk keterlambatan pengembalian bahan pustaka di atas dengan memberikan peringatan tertulis kepada pemmjam dan dicabut keanggotaannya yang sudah habis masa pinjam. Sedangkan untuk mengatasi hambatan pengoperasian komputer bagi pengelola dilakukan dengan mengikutkan pelatihan bagi staf.

Catatan: Abstrak ditulis dalam satu spasi dan tidak boleh lebih dari satu halaman.

5. Contoh Daftar Isi

DAFTAR ISI

HALAMAN

KATA PENGANTAR ………………………………………………………………………v

DAFTAR ISI ………………………………………………………………………………..vii

ABSTRAK ………………………………………………………………………………….viii

BAB I : PENDAHULUAN ……………………………………………………….. 1

A. Latar Belakang ………………………………………………….1

B. Rumusan Masalah ……………………………………………..2

C. Tujuan Penulisan ……………………………………………….2

D. Metode …………………………………………………………….3

E. Sistematika Penulisan …………………………………………3

BAB II : LANDASAN TEORI ……………………………………………………..5

A. Definisi Klasifikasi ………………………………………………5

B. Jenis-jenis Klasifikasi ………………………………………….7

C. Jenis-jenis Bahan Pustaka ……………………………………9

D. Prosedur Pengklasifikasian …………………………………11

.

BAB III : GAMBARAN UMUM PERPUSTAKAAN NASIONAL

JAWA TENGAH ……………………………………………………….. 14

A. Sejarah Singkat Perpustakaan …………………………… 14

B. Strukttur Organisasi dan Pembagian Tugas ……………16

C. Misi dan Kegiatan Perpustakaan ………………………….18

BAB IV : PENGKLASIFIKASIAN BAHAN PUSTAKA DI PERPUSTAKAAN NASIONAL JAWA TENGAH ……………….. 20

Sistem Klasifikasi yang Digunakan ………………………………..20

A. Proses Pengklasifikasian ……………………………………22

B. Permasalahan yang Dihadapi ………………………………35

C. Antisipasi Mengatasi Permasalahan ………………………37

BAB V : PENUTUP ………………………………………………………………. 38

A. Simpulan ………………………………………………………..38

B. Saran-saran …………………………………………………….38

DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………………….. 39

LAMPIRAN-LAMPIRAN ………………………………………………………………..40

6. Contoh Daftar Pustaka

DAFTAR PUSTAKA

Basuki, Sulistyo. 1993. Pengantar IImu Perpustakaan. Jakarta: PT Gramedia.

Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen P & K. 1990. Peraturan Pemerintah RI Nomor 30 tahun 1990 tentang Pendidikan Tinggi. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen P & K.

Hardjoprakoso, Mastini. 1992. Pedoman Penyelenggaraan Perpustakaan. Jakarta: Perpustakaan Nasional RI.

Keraf, Gorrys. 1978. Komposisi: Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa. Ende-Flores: Nusa Indah.

Koentjaraningrat. 1997. Penelitian Metode Masyarakat. Jakarta: Gramedia.

Lasa HS. 1995. Jenis-jenis Pelayanan Informasi Perpustakaan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Martoatmodjo, Karmidi. 1993. Pelayanan Bahan Pustaka. Jakarta: Universitas Terbuka. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Moedjono, Parlinah. 1991. “Sistem Pembinaan Perpustakaan Perguruan Tinggi dan Masalahnya”, Makalah disajikan dalam Temu Karya penyusunan naskah sistem pembinaan perpustakaan di Perpustakaan Nasional, Jakarta 2-4 Desember 1991.

Nawawi, Hadari 1990. Metode Penelitian di Bidang Sosial Yogyakarta: Gadjah Mada Universitas Press.

Soeatminah. 1992. Perpustakaan, Kepustakawanan, dan Pustakawan. Yogyakarta: Kanisius.

Sri Istikomah. 1998. Layanan Perpustakaan dan Informasi. Semarang: Perpustakaan Daerah Jawa Tengah.

Sumardji P. 1992. Pelayanan Perpustakaan. Yogyakarta: Kanisius.

D. Kutipan

Dalam mengutip suatu penyataan atau pendapat, perlu dicantumkan nama akhir pengarang (family name), tahun sumber kutipan diterbitkan, dan halaman tempat kutipan diambil) sebagaimana terlihat dalam contoh.

Contoh Kutipan

a. Kutipan Pendek (Short Quotations), apabila panjang kutipan tiga baris ketikan, kutipan dimasukkan dalam paragraf. Contoh:

1) Akal budi merupakan “alat batin untuk menimbang baik buruk, benar tidak dan sebagainya.” (Poerwadarminto, 1976: 158). Akal budi ini dapat menimbulkan kesadaran moral pada diri manusia, yakni “kesadaran diri kita sendiri berhadapan dengan baik buruk” (Drijarkara,1978:13). Juga Davis menambahkan, “Morality…. lays stress upon the inner sense of obligation, tahune feeling right and wrong” (1967: 73). Manusia mampu membedakan mana perbuatan yang baik yang selayaknya dikerjakan, dan perbuatan jelek yang sepantasnya ditinggalkan. Manusia yang menuntut pemuasan-pemuasan individu menjadi sadar bahwa ada individu-individu lain di sekitarnya.

2) Because Berch (1982: 92) recognizes that housework has traditionally been defined by many people as “just puttering around the house”, she provides detailed tables to demonstrate the time required to keep a household running efficiently.

b. Kutipan Panjang (Long Quotations)

Apabila panjang kutipan minimal empat baris ketikan, kutipan ditulis secara terpisah dengan indentasi 10 ketukan dari margin kiri dan dibuat satu spasi. Contoh,

Menurut Amirin (1989 : 12), definisi sistem adalah :

“sehimpunan unsur yang melakukan sesuatu kegiatan atau menyusun skema atau tatacara melakukan sesuatu kegiatan pemrosesan untuk mencapai sesuatu atau beberapa tujuan, dan hal ini dilakukan dengan cara mengolah data dan /atau energi dan/atau barang (benda) dalam jangka waktu tertentu guna menghasilkan informasi dan/atau energi dan/atau barang (benda).”

7. Penggunaan Bahasa

Laporan ditulis dalam bahasa Indonesia dengan ragam tulis formal.

PEDOMAN PEMBIMBINGAN DAN UJIAN TUGAS AKHIR (TA)

A. Tugas Pembimbing TA

1. Pengajuan proposal TA dilakukan setelah mahasiswa menyelesaikan tugas PKL dan mengumpulkan hasilnya.

2. Pembimbingan penyusunan proposal TA dimulai pada awal semester VI (lihat Pedoman Penulisan Proposal TA)

3. Untuk menghindari penulisan TA dengan judul yang sama, mahasiswa diharuskan berkonsultasi terlebih dahulu ke program (ada pengumuman lebih lanjut).

4. Pembimbingan penulisan TA meliputi antara lain sistematika penulisan, penggunaan bahasa dan isi tulisan.

5. Konsultasi hendaknya dilakukan per bab untuk menghindari kesalahan fatal.

B. Ujian Tugas Akhir

1. Tata cara ujian TA

a. Mahasiswa yang telah selesai menulis laporan TA dan disetujui / ditandatangani oleh dosen pembimbing dapat mendaftarkan diri ke Kantor D III Perpustakaan dan Informasi untuk pemrosesan pelaksanaan ujian.

b. Laporan TA digandakan (3 eksemplar) dan diserahkan pada masing-masing dosen penguji paling lambat 5 hari sebelum tanggal ujian.

c. Ujian diselenggarakan secara lisan dalam bahasa Indonesia oleh tim penguji yang terdiri dari dosen pembimbing dan satu dosen penguji. Dosen pembimbing tidak menguji, tetapi wajib hadir untuk memberi saran dan masukan.

d. Mahasiswa diwajibkan mengenakan pakaian resmi ujian, yaitu celana panjang/ rok warna hitam, baju putih lengan panjang, jaket almamater, dan sepatu hitam.

e. Mahasiswa menunjukkan Kartu Mahasiswa Fakultas ilmu budaya Undip yang masih berlaku sebagai bukti diri.

f. Penilaian didasarkan pada hasil tulisan laporan TA dan kemampuan ujian lisan.

g. Bila ada revisi, batas waktu revisi maksimal 1 bulan dari tanggal ujian. Lebih dari batas waktu, ujian dianggap gugur dan harus diulangi lagi.

h. Tugas Akhir yang belum layak uji dikembalikan kepada mahasiswa yang bersangkutan untuk diperbaiki terlebih dahulu sesuai saran para calon penguji.



TULISAN AKADEMIK

Sunday, January 15th, 2012

TULISAN AKADEMIK

A. Latar Belakang

Menulis ilmiah merupakan kegiatan yang bertujuan untuk menghasilkan tulisan akademik. Tulisan akademik ialah karya tulis yang disusun akademisi untuk memperoleh gelar akademik, misalnya disertasi untuk mencapai gelar doktor (S-3), tesis untuk mencapai gelar master (S-2), skripsi untuk mencapai gelar sarjana (S-1), dan karya tulis atau Tugas Akhir bagi program diploma.Tulisan ilmiah bisa juga untuk memenuhi tugas-tugas akademik, misalnya laporan penelitian, makalah untuk diskusi/ seminar/ simposium. Makalah untuk memenuhi tugas suatu mata kuliah pun termasuk tulisan akademik.

Dalam kurikulum Perguruan Tinggi, karya tulis mempunyai jumlah SKS yang besar, dan dinilai melalui forum ujian. Nilai yang diperoleh pada dasarnya merupakan akumulasi dari kecerdasan, pengetahuan, dan keterampilan yang diperoleh selama di bangku kuliah. Dengan demikian, karya tulis merepresentasikan intelektualitas penulisnya. Bahkan, karya tulis juga merupakan representasi integritas moral penulisnya. Karena karya tulis merupakan representasi kualitas intelektual dan integritas moral penulisnya, karya tulis merupakan unsur yang signifikan dalam meniti jenjang karier yang lebih tinggi bagi penulisnya.

Inilah yang kemudian menjadi alasan penting, pembuatan makalah ini. Selanjutnya dalam makalah ini akan dibahas tentang jenis dan tata cara menulis akademik. Secara rinci, bab ini akan membahas

1. Bagaimanakah tahap-tahap dalam penulisan akademik?

2. Bagaimanakah cara pembuatan makalah dan laporan ?

3. Bagaimanakah sistematika penulisan laporan dan makalah ?

Tujuan pembahasan bab ini adalah

1. Menjelaskan tahap-tahap menulis akademik

2. Menjelaskan tentang tata cara pembuatan makalah dan laporan

3. Menjelaskan sistematika penulisan laporan dan makalah

B. MENULIS AKADEMIK

Menulis akademik merupakan kegiatan yang bertujuan untuk menghasilkan tulisan akademik. Tulisan akademik ialah karya tulis yang disusun akademisi untuk memperoleh gelar akademik, misalnya disertasi untuk mencapai gelar doktor (S-3), tesis untuk mencapai gelar master (S-2), skripsi untuk mencapai gelar sarjana (S-1). Menulis akademik dibagi menjadi dua yaitu:

1. Menulis Makalah

Dalam proses perkuliahan, mahasiswa harus memiliki kemampuan menulis makalah. Karena merupakan karya ilmiah akademik, makalah harus sesuai dengan syarat-syarat dan ketentuan penulisan akademis.

Makalah atau paper atau kertas kerja adalah karya tulis yang membahas suatu masalah berdasarkan logika, pustaka, atau fakta yang disajikan pada sebuah diskusi, lokakarya, simposium, atau seminar. Isi makalah dapat berupa gagasan atau pandangan penulis terhadap sesuatu yang belum dibuktikan terlebih dahulu melalui proses penelitian atau bisa ditulis berdasarkan laporan penelitian yang berupa intisari atau temuan hasil penelitian yang telah dilakukan penulis.

a. Jenis Makalah

Dalam kegiatan akademik maupun nonakademik, secara umum, makalah dibedakan menjadi dua, yaitu makalah biasa (common paper) dan makalah posisi (position paper). Makalah biasa adalah makalah yang dibuat seseorang (mahasiswa) untuk menunjukkan pemahamannya terhadap permasalahan yang dibahas. Penulis makalah hanya mendeskripsikan berbagai aliran teori atau pandangannya terhadap masalah yang dikaji atau dibicarakan. Penulis pada umumnya memberi tanggapan, kritik, atau saran mengenai aliran tertentu atau pendapat yang dikemukakan orang lain, tetapi tidak memihak pada salah satu aliran teori tertentu atau pendapat orang lain tersebut. Di samping itu, makalah biasa bisa juga berisi pendeskripsian suatu kebijakan, gagasan atau temuan penulis makalah kepada masyarakat.

Adapun dalam makalah posisi, penulis tidak hanya dituntut mempelajari aliran teori tertentu, tetapi juga berbagai aliran dan pandangan orang yang berbeda-beda. Dari aliran yang bermacam-macam dan pandangan yang berbeda-beda itulah, penulis dapat memihak salah satu aliran dan pendapat orang tertentu, atau dapat membuat suatu sintesis dari beberapa aliran dan pandangan orang lain tersebut. Jadi, dalam membuat makalah jenis ini, penulis harus mempunyai kemampuan untuk melakukan analisis, sintesis dan evaluasi.

b. Sistematika Makalah

Sistematika makalah adalah urutan dalam penyusunan makalah. Sistematika makalah pada umumnya terdiri dari enam komponen, yaitu:

1) Judul Karangan dan Nama Penulis

Judul merupakan nama sebuah karangan yang pada umumnya menjadi pembuka untuk mengetahui isi karangan. Karena judul itu menjadi kunci pembuka seseorang untuk membaca sebuah tulisan, maka judul itu harus buat sebaik mungkin. Judul yang baik harus memenuhi: dapat mencerminkan isi karangan, dapat menunjukkan focus, dapat membangkitkan rasa ingin tahu pembaca, dapat menjawab permasalahan pokok karangan, harus disusun secara singkat yaitu berbentuk kelompok kata, bukan bentuk kalimat panjang.

Nama penulis pada umumnya diletakkan di bawah judul karangan. Lazimnya, nama pengarang tidak dicantumkan gelar akademiknya. Di samping nama penulis, biasanya disertakan pula identitas penulis seperti asal penulis, lembaga/instansi, dan keterangan lain yang diperlukan.

2) Abstrak dan Kata Kunci

Abstrak atau ringkasan makalah merupakan intisari makalah secara keseluruhan. Pada umumnya panjang abstrak makalah antara 100 – 200 kata dan diketik satu spasi. Meskipun sangat singkat, tetapi isi abstrak harus mencakup latar belakang dan masalah, tujuan, teori, hasil, dan simpulan. Kata kunci (key words) ditulis di bawah abstrak; lima kata atau istilah penting yang diambil dari makalah

3) Pendahuluan

Pendahuluan makalah merupakan suatu uraian yang menyatakan adanya kesenjangan antara kondisi ideal dengan kondisi real, atau kesenjangan antara teori dan praktik. Di samping itu, bagian pendahuluan dapat pula berisi alasan-alasan logis tentang pentingnya topik itu dibicarakan.

4) Pembahasan

Bagian ini merupakan bagian utama atau inti dari makalah. Pada bagian ini dikemukakan deskripsi tentang subjek studi, analisis permasalahan, dan solusinya. Pada bagian ini, hal-hal yang dipermasalahkan dalam bagian pendahuluan harus dianalisis berdasarkan teori, sehingga masalah yang dipersoalkan menjadi jelas posisinya dan terpecahkan persoalanya.

5) Simpulan

Simpulan merupakan hasil akhir dari seluruh pembahasan yang berisi jawaban atas semua permasalahan dalam pendahuluan.

6) Daftar pustaka

Daftar pustaka merupakan rujukan sumber yang diacu dalam makalah. Rujukan ini disusun menurut abjad dari nama bagian akhir penulis pertama. Penulisan rujukan yang berupa buku maupun majalah tidak dibedakan, tetapi untuk sumber surat kabar dan internet sedikit berbeda. Untuk teknis penulisan daftar pustaka akan diuraikan pada subbab laporan.

2. Menulis Laporan

Dalam kegiatan ilmiah akademik yang dimaksud laporan adalah dokumen yang menyampaikan informasi mengenai sebuah masalah yang telah atau sedang diteliti dalam bentuk fakta-fakta yang diarahkan kepada pemikiran dan tindakan yang akan diambil. Pengertian konseptualnya laporan adalah suatu cara komunikasi yang dilakukan seseorang (penulis laporan) untuk menyampaikan informasi kepada seseorang, badan atau lembaga karena tanggung jawab yang dibebankan kepadanya. Sebenarnya laporan merupakan suatu bentuk dokumen yang sangat bervariasi sehingga sulit diberikan suatu batasan pengertian yang jelas. Variasi-variasi itu dapat dalam bentuk angka-angka, isian formulir, surat, gambaran perkembangan suatu keadaan, dan ada pula yang berbentuk buku.

Laporan merupakan unsur yang sangat penting dan strategis dalam konteks komunikasi formal tertulis karena berkaitan dengan pemberitahuan, keputusan maupun kebijakan-kebijakan yang harus seringkali harus ditindaklanjuti. Oleh sebab itu, untuk memudahkan pemahaman isi (maksud dan tujuan) laporan bagi pembaca, pembuat laporan harus memperhatikan sungguh-sungguh tujuan pembuatan laporan.

a. Dasar-dasar Laporan

Sebuah laporan selalu bertolak dari dasar-dasar yang pasti, yaitu pihak yang memberi laporan, pihak yang menerima laporan serta sifat dan tujuan laporan. Dalam hal ini yang dimaksud pemberi laporan adalah pihak (bisa perseorangan, kelompok, atau badan/ lembaga tertentu) yang bertanggung jawab melaporkan proses dan hasil kegiatan yang sedang atau telah dikerjakan kepada pihak lain (bisa perseorangan, kelompok, atau badan/ lembaga tertentu), diminta maupun tidak diminta. Misalnya, seorang siswa melaporan proses dan hasil kegiatan praktikum mata pelajaran tertentu di laboratorium yang ditujukan kepada guru mata pelajaran yang bersangkutan; atau seorang mahasiswa melaporan proses dan hasil penelitian ilmiah sebagai tugas akhir dalam bentuk skripsi, tesis, atau disertasi yang ditujukan kepada pihak fakultas atau universitas.

Yang dimaksud penerima laporan adalah pihak (bisa perseorangan atau badan/ lembaga tertentu) yang menugasi pihak lain (bisa perseorangan, kelompok, atau badan/ lembaga tertentu) untuk melakukan suatu kegiatan tertentu sehingga pihak penugas perlu mendapat laporan atas proses dan hasil pelaksanaan tugas tersebut. Hubungan pertalian yang berbeda antara pelapor dan penerima laporan biasanya akan memberi warna yang berbeda pula dalam hal gaya, isi, dan tujuan laporan yang akan dibuat.

b. Tujuan Laporan

Yang dimaksud tujuan laporan adalah memerikan secara lengkap dan objektif proses dan hasil suatu kegiatan yang sedang atau telah dilaksanakan agar dapat dipahami, dimanfaatkan, atau ditindaklanjuti oleh seseorang atau badan/lembaga lain. Tujuan sebuah laporan sangat bergantung pada siatuasi yang ada antara pemberi dan penerima laporan. Apabila pemberi laporan ditugasi oleh pihak lain untuk melakukan kegiatan tertentu, maka tujuan laporan lebih ditentukan oleh penerima laporan sesuai tugas yang dibebankan tersebut. Sebaliknya, apabila pemberi laporan tidak sedang ditugasi oleh pihak lain, maka tujuan laporan ditentukan sendiri oleh pemberi laporan sesuai usulan yang diajukannya. Tujuan laporan pada umumnya ialah untuk :

1) Mengambil suatu keputusan

2) Untuk mengatasi atau memecahkan suatu masalah

3) Mengetahui perkembangan suatu keadaan

4) Menentukan langkah atau strategi memperbaiki suatu keadaan

5) Menemukan gejala atau fenomena suatu objek dan keadaan sehingga diperoleh langkah tepat atau strategis untuk mengatasi suatu permasalahan.

Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, pemberi laporan harus memperhatikan tujuan laporan yang dikehendaki, sehingga arah, ilustrasi, rincian, serta paparan proses dan hasil pelaksanaan kegiatan dapat tepat sebagaimana yang dikehendaki tujuan akhir laporan.

c. Sifat Laporan

Ukuran baik atau buruknya sebuah laporan sebenarnya bergantung pada keberhasilannya dalam memenuhi fungsinya, yakni memberi kejelasan dan mempersuasi pemikiran pembaca sebagaimana yang dikehendaki laporan tersebut. Untuk memenuhi fungsi tersebut, sebaiknya pemberi laporan memperhatikan secara seksama beberapa kriteria yang menunjukkan sifat-sifat sebuah laporan. Beberapa kriteria itu antara lain :

1) Bahasa harus baik dan benar, jelas, serta efektif

2) Isi harus urut dan sistematik

3) Fakta, data, dan bahan harus tepercaya

4) Harus mengandung imajinasi

5) Isi harus lengkap sesuai dengan ruang lingkupnya

6) Proses dan hasil pembahasan harus objektif

7) Pemerian laporan harus disajikan menarik.

d. Macam Laporan

Keraf dalam bukunya Komposisi: Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa menuliskan bahwa umumnya laporan dibuat sesuai kepentingan yang menyertainya. Ada laporan yang dibuat untuk kepentingan dunia usaha, kepentingan dunia pendidikan, pemerintahan, dan sebagainya. Bermacam-macam laporan itu digolong-golongkan sesuai dengan bentuk dan maksudnya. Bermacam-macam laporan itu antara lain :

1) Laporan Perkembangan dan Laporan Keadaan

Laporan perkembangan (progress report) pada dasarnya berbeda dengan laporan keadaan (status report). Secara etimologis laporan perkembangan adalah suatu laporan yang bertujuan memerikan perkembangan suatu subjek atau objek pada saat tahap-tahap tertentu. Pemerian perkembangan itu bisa berupa perubahan, peningkatan, atau tahap-tahap tertentu yang telah tercapai. Adapun laporan keadaan berupa pemerian situasi dan kondisi subjek atau objek pada saat laporan itu dibuat. Dengan demikian, perbedaan dua bentuk laporan itu sebenarnya terletak pada aksentuasinya. Laporan perkembangan menitikberatkan pada apa yang sudah terjadi sejak permulaan sampai saat laporan itu dibuat, sedangkan laporan keadaan menitikberatkan pada kondisi yang ada akibat dari kejadian-kejadian yang berlangsung sejak permulaan hingga saat laporan itu dibuat.

2) Laporan Berkala

Laporan berkala disebut juga laporan periodik. Laporan berkala dibedakan dari laporan-laporan lain berdasarkan tujuannya. Laporan berkala adalah laporan yang dibuat dalam jangka waktu tertentu, misalnya laporan tahunan, tengah tahunan, atau lima (5) tahunan, dan seterusnya. Pada umumnya laporan ini dikaitkan dengan pelaksanaan kegiatan yang berupa projek sehingga formatnya lebih sering berupa daftar isian. Secara akumulatif laporan berkala ini menjadi bahan dasar laporan akhir.

3) Laporan Laboratoris

Pembuatan laporan laboratoris bertujuan menyampaikan hasil percobaan atau penelitian yang dilakukan dalam laboratorium. Mengingat begitu banyak jenis laboratorium, maka format laporan ini sangat bervariasi bergantung pada format spesifik bidang ilmu penelitian atau percobaan. Format laporan laboratorium medik tentu berbeda dengan format laporan laboratorium industri, forensik, budaya, seni, dan sebagainya. Laporan laboratoris biasanya digunakan sebagai petunjuk teoritis dan teknis untuk melakukan tindakan-tindakan tertentu.

4) Laporan Hasil Penelitian Ilmiah

Di antara bentuk-bentuk laporan yang ada, laporan hasil penelitian ilmiah ini bersifat lebih khusus, karena terikat oleh kaidah-kaidah baku, terutama dalam hal sistematika dan ragam bahasanya. Sistematika penulisan laporan ini merujuk pada ketentuan yang telah dibakukan dalam buku-buku pedoman penulisan karangan ilmiah yang banyak sekali ditulis orang. Kententuan-ketentuan yang terdapat dalam buku-buku pedoman itu prinsipnya tidak berbeda satu dengan lainnya. Kalau pun ada perbedaan biasanya terletak pada kelengkapan-kelengkapan laporan, bukan pada substansi dan tata urutnya. Kelengkapan-kelengkapan laporan yang berbeda itu misalnya halaman-halaman daftar, lampiran-lampiran, dan sebagainya. Laporan penelitian ilmiah ini biasanya berupa laporan tugas akhir dari suatu institusi pendidikan, terutama di lingkungan pendidikan tinggi. Beberapa contoh laporan ini antara lain skripsi, tesis, disertasi, dan lain-lain.

5) Laporan Praktik Kerja

Dalam hal sistematika dan ragam bahasa yang digunakan antara laporan praktik kerja dan laporan penelitian ilmiah prinsipnya tidak berbeda. Yang agak berbeda antara keduanya adalah substansi dari sebagian isi. Dalam laporan praktik kerja terdapat bab yang berisi deskripsi objektif tentang situasi dan kondisi lingkungan tempat praktik kerja tersebut dilakukan, terutama menyangkut sejarah badan/lembaga/institusi dan gambaran fisik tempat yang bersangkutan.

e. Bentuk Penyajian Laporan

Menurut Keraf, perbedaan bentuk-bentuk penyajian laporan terletak pada format, sistematika, dan tujuan laporan. Berdasarkan tujuan pembuatan laporan sekurangnya-kurangnya terdapat lima bentuk penyajian laporan, antara lain :

1) Laporan formal

2) Laporan semiformal

3) Laporan prosiding

4) Laporan antara

5) Laporan akhir

f. Struktur Laporan

Seperti halnya karangan pada umumnya, laporan harus disampaikan dalam bentuk dan struktur yang baik dan sistematis. Bentuk yang baik bertalian dengan teknik penulisan, sedangkan struktur bertalian dengan organisasinya. Oleh sebab itu struktur laporan terutama yang berbentuk buku, harus dilengkapi oleh unsur-unsur yang baku. Unsur-unsur struktur laporan yang umum berlaku dalam penyusunan laporan, antara lain :

1) Halaman judul

2) Daftar penyerahan

3) Daftar isi

4) Intisari atau abstrak

5) Pendahuluan

6) Isi laporan

7) Simpulan dan saran

8) Apendiks

9) Bibliografi

g. Format laporan

Format laporan pada umumnya memiliki unsur-unsur yang terbagi atas tiga bagian, yaitu:

1) Bagian awal

a) Halaman sampul (cover)

Halaman sampul (cover) memuat judul laporan, yaitu diletakkan ditengah halaman dengan bentuk dan ukuran huruf yang proporsional . Yang kedua adalah logo, lambang badan lembaga atau institusi, yaitu diletakkan di tengah asal judul dengan ukuran sesuai ketentuan. Di bawah judul dicantumkan nama krtua atau anggota tim pembuat laporan dan ditulis lengkap dengan atau tanpa gelar kesarjanaan. Selanjutnya adalah nama badan, lembaga atau institusi. Dan yang terakhir adalah tahun penulisan laporan.

b) Halaman judul

Halaman judul berisi hal-hal yang sama seperti halaman sampul (cover).

c) Halaman pengesahan

Halaman pengesahan antara lain memuat : Judul lapor, identitas laporan lengkap dengan daftar nama ketua dan anggota tim pembuat laporan dan tanggal pengesahan laporan yang ditandai oleh tanda tangan ketua tim pembuat laporan serta tanda tangan pimpinan badan, lembaga atau institusi.

d) Prakata

Prakata memuat penjelasan singkat latar belakang dan tujuan kegiatan yang dilaporkan. Selain itu, juga dicantumkan ucapan terimakasih kepada pihak (perorangan dan lembaga) tertentu yang membantu proses kegiatan sejak persiapan hingga penulisan laporan. Dalam prakata sedapat mungkin dihindari hal-hal yang bersifat ilmiah.

e) Daftar isi

Daftar isi memuat gambaran secara menyeluruh tentang isi laporan yang dapat menuntun pembaca apabila ingin melihat langsung bagian tertentu. Daftar isi memuat urutan judul, subjudul, dan subjudul-subjudul yang lebih kecil beserta nomor halaman.

f) Daftar tabel (jika ada)

Daftar tabel memuat urutan judul tabel serta nomor halaman.

g) Daftar gambar (jika ada)

Daftar gambar memuat urutan judul gambar dan nomor halaman.

h) Daftar Lampiran (jika ada)

Daftar lampiran memuat urutan judul lampiran dan nomor halaman.

i) Abstrak atau Intisari

Abstrak atau intisari ditulis bahasa Indonesia. Tulisan ini merupakan pembukaan laporan, yang umumnya tidak lebih dari lima ratus kata, spasi rapat, berisi : tujuan utama dan lingkup kegiatani, penjelasan singkat metode yang digunakan, ringkasan faktual hasil pelaksanaan kegiatan, dan simpulan utama.

2) Bagian Isi

a) Bab Pendahuluan

Pendahuluan memuat deskripsi latar belakang: alasan-alasan mengapa kegiatan yang dilakukan penting dan menarik. Rumusan masalah hendaknya dimasukkan ke dalam konteks atau teks dengan cara mengidentifikasi studi-studi yang relevan dalam kegiatan yang dilakukan. Selain itu, dalam bab ini juga dicantumkan rumusan tujuan kegiatan. Hal utama yang perlu dihindari dalam penyusunan pendahuluan adalah kecenderungan penulis laporan untuk membuat pendahuluan menjadi suatu ulasan (review) yang sangat panjang yang terlalu banyak mengulas bahan pustaka.

Struktur umum susunan subbab dalam bab pendahuluan terdiri atas latar belakang dan masalah, tujuan dan manfaat kegiatan, ruang lingkup kegiatan, metode dan langkah kerja kegiatan, landasan teori, dan sistematika penulisan laporan. Penjelasan ringkas berkenaan dengan uraian isi tiap-tiap subbab adalah latar belakang dan masalah, subbab ini memuat fakta, data, asumsi, statemen (pernyataan), dan informasi-informasi tertentu yang secara objektif dan rasional menjadi faktor-faktor penyebab pentingnya suatu kegiatan dilakukan. Faktor-faktor tersebut sekaligus merupakan alasan-alasan yang secara objektif dan rasional juga meyakinkan pembaca bahwa kegiatan tersebut penting dan menarik. Uraian subbab ini diakhiri dengan rumusan masalah yang jumlahnya bisa lebih dari satu. Lazimnya rumusan masalah tersebut dinyatakan secara eksplisit dalam bentuk kalimat pertanyaan, yang bersifat problematik.

Tujuan dan manfaat kegiatan, tujuan penelitian dirumuskan berdasarkan masalah-masalah yang ada sehngga rumusannya berkorelasi dengan rumusan masalah. Rumusan tujuan kegiatan dinyatakan secara eksplisit dalam formulasi kalimat yang operasional. Artinya, pemecahannya harus didasarkan pada parameter yang jelas, serta dapat dikerjakan dengan metode, teori, dan teknik tertentu.

Ruang lingkup kegiatan, subbab ruang lingkup memuat paparan tentang subjek dan objek kegiatan Juga memuat paparan aspek/segi/unsur kegiatan yang akan dilakukan, serta relevansinya dengan tujuan kegiatan.

Metode dan langkah kerja kegiatanSubbab ini merupakan bagian penting sebuah kegiatan. Dalam subbab ini diuraikan metode yang dipilih sesuai dengan tujuan kegiatan. Adapun langkah kerja kegiatan yang umum dilakukan didasarkan pada tahap-tahap umum sebuah kegiatan, yaitu tahap perencanaan, persiapan, pelaksanaan, dan penyajian laporan hasil kegiatan. Hal yang perlu diperhatian dalam pelaksanaan kegiatan adalah sebagai berikut : Bentuk kegiatan hendaknya dijelaskan identifikasinya secara lengkap, Metode dan teknikl yang digunakan harus dijelaskan kaitan (relevansinya) dengan tujuan kegiatan, dan Langkah-langkah kegiatan hendaknya dijelaskan selengkap-lengkapnya tahapan kegiatan, serta rincian pelaksanaannya pada setiap tahap tersebut. Dalam hal ini adalah desain kegiatan.

Sistematika penulisan laporan Subbab sistematika penulisan laporan memuat urutan penyajian laporan proses dan hasil kegiatan secara ringkas dan sistematik. Diawali dengan bab 1 pendahuluan berikut subbab-subbabnya, kemudian bab 2 proses pelaksanaan kegiatan berikut subbab-subbabnya, dan begitu seterusnya hingga bab akhir berupa penutup, daftar pustaka, dan lampiran.

b) Bab pembahasan atau pelaksanaan kegiatan

Bab pembahasan/pelaksanaan kegiatan memuat seluruh proses pelaksanaan kegiatan, berupa uraian penerapan metode dan teknik pelaksanaan kegiatan sesuai dengan sasaran kegiatan. Caranya dengan memisahkan pembahasan/pelaksanaan kegiatan dalam beberapa bab terpisah sesuai dengan ruang lingkup kegiatan atau sasaran kegiatan

c) Bab Penutup

Bab ini terdiri dari subbab simpulan dan subbab saran yang dipaparkan secara terpisah. Simpulan merupakan pernyataan singkat dan tepat penjabaran proses dan hasil pembahasan/pelaksanaan kegiatan untuk menunjukkan pencapaian tujuan kegiatan. Penulisan simpulan disusun secara runtut sesuai urutan tahapan kegiatan. Dalam hal ini, simpulan yang merupakan jawaban terhadap masalah utama kegiatan hendaknya dipaparkan terlebih dahulu, baru kemudian secara berurutan dipaparkan simpulan-suimpulan lain sesuai derajat keutamaannya.

Saran disusun berdasarkan pertimbangan dan pengalaman penulis dan ditujukan kepada pihak lain, terutama penerima laporan, agar mendapat tanggapan lebih lanjut.

3) Bagian akhir

a) Daftar pustaka

Di bagian ini dicantumkan semua pustaka yang dirujuk sebagai referensi kegiatan. Tata cara penulisan daftar pustaka dimulai dengan nama pengarang yang disusun ke bawah menurut abjad. Dalam urutan ke bawah tidak ada perbedaan antara buku dan majalah/jurnal/bulletin, perbedaannya terletak pada penulisan huruf dan tanda bacanya. Hasil wawancara dapat digunakan sebagai daftar pustaka apabila telah ditranskripsikan dalam bentuk tulisan yang diberi judul. Adapun daftar pustaka yang bersumber dari internet cara penulisannya diatur secara khusus dalam tata tulis tersendiri. Pada umumnya urutan cara penulisan daftar pustaka untuk buku dan majalah adalah buku : nama pengarang, tahun penerbitan, judul buku, jilid, kota tempat penerbitan, dan nama penerbit. Judul buku menggunakan huruf miring (Italic), tanpa diapit tanda kutip. Majalah atau koran : nama pengarang, tahun penerbitan, judul tulisan, nama majalah, hari/minggu, tanggal, tahun terbit, nomor halaman, dan nomor kolom. Judul tulisan atau artikel ditulis dalam tanda kutip, nama majalah/koran ditulis dengan menggunakna huruf miring. Makalah : nama pengarang, tahun penulisan, judul makalah, nama kegiatan (seminar, diskusi, lokakarya, dan lain-lain), tanggal pelaksanaan kegiatan, institusi pelaksana kegiatan. Judul makalah ditulis dalam tanda kutip.

Artikel dalam kumpulan karangan : nama pengarang, tahun penerbitan, judul artikel, nama penyunting, judul kumpulan karangan, nama kota penerbitan, nama penerbit. Judul artikel ditulis dalam tanda kutip dan judul kumpulan karangan ditulis dengan huruf miring. Internet : nama pengarang, tahun penulisan, judul karangan, nama situs, tanggal/ bulan/ tahun, nomor halaman, judul karangan dalam tanda kutip, nama situs ditulis dengan munggunakan huruf miring.

Tidak semua bidang ilmu menganut cara penulisan daftar pustaka yang sama. Oleh karena itu, pembuat laporan hendaknya berkonsultasi dengan konsultan untuk menyesuaikan cara penulisan daftar pustaka dengan bidang ilmunya masing-masing.

b) Lampiran

Lampiran memuat materi yang bukan merupakan faktor utama dalam mengartikan hasil pelaksanaan kegiatan, sifatnya hanya melengkapi bagian utama laporan kegiatan. Lampiran harus tersedia apabila diperlukan pemeriksaan kembali terhadap analisis pelaksanaan kegiatan. Lampiran tidak perlu mencantumkan semua data bahan/materi/data yang terkumpul selama pelaksanaan kegiatan.

C. Simpulan

Dalam menulis akademik terdapat sistematika khusus dan tata bahasa yang baku dalam penulisannya. Pentingnya menulis akademik di kursi pendidikan perguruan tinggi merupakan alasan setiap mahasiswa untuk mempelajari cara menulis akademik yang baik dan benar. Untuk itulah hal ini perlu dipelajari secara komperhensif.

Menulis akademik dengan sempurna tidaklah mudah. Sebagai modal utama menulis akademik adalah mahasiswa bisa melakukan studi pustaka, untuk memperbanyak referensi dalam menulis akademik.

DAFTAR PUSTAKA

Brotowidjoyo, Mukayat.1985.Penulisan Karangan Ilmiah. Yogyakarta : PT Melton Putra

Keraf, Gorys.1970.Komposisi. Jakarta : Nusa Indah

Surosono, dkk. 2008.Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Semarang: Fasindo

Sejarah Timbulnya Gagasan Nur Muhammad

Sunday, January 15th, 2012

SEJARAH TIMBULNYA GAGASAN NUR MUHAMMAD

SAMPAI MASUKNYA KE NUSANTARA

Oleh Nur Fauzan Ahmad, S.S., M.A.

Intisari

Gagasan Nur Muhammad banyak mendominasi dalam pemikiran para sufi terbukti dari banyaknya naskah tasawuf yang membicarakannya. Tulisan ini bertujuan mengungkapkan latar belakang timbulnya gagasan Nur Muhammad dan masuknya ke Nusantara. Dari hasil kajian studi pustaka yang dilakukan didapatkan hasil bahwa gagasan ini bermula dari tafsiran filosofis terhadap Al Quran surat An-Nuur: 24 yang dilakukan oleh Muqattil. Paham Nur Muhammad dalam tradisi sufi bermula dengan adanya pemujaan dan penghargaan terhadap manusia agung, Nabi Muhammad saw. Ide itu diperkuat oleh Al Hallaj dan Ibnu Araby serta Abdul Karim Al Jilli. Sejalan dengan masuknya Islam ke Indonesia yang dibawa oleh para ahli tasawuf, gagasan Nur Muhammad ini masuk ke Nusantara dalam pemikiran para sastrawan yang juga para ahli tasawuf seperti Nurudin Ar Raini, Syamsudin Sumatrani, Abdurrauf Singkeli.

Kata kunci: Nur Muhammad, sejarah, nusantara

Abstract

The idea of Nur Muhammad much dominate in the thinking of Sufi mysticism is evident from the many texts that talk about it. This paper aims to reveal the background of the emergence of the idea of Nur Muhammad and the entry of Nusantara. From the results of studies conducted literature study showed that this idea stems from a philosophical interpretation of the Quran An-Nuur letter: 24 performed by Muqattil. The idea of Nur Muhammad in sufism tradition began with the veneration and respect of the great man, the Prophet Muhammad PBUH. The idea was reinforced by Al Hallaj, Ibn Araby and Abdul Karim al-Jilli. In line with the entry of Islam into Indonesia brought by the experts of sufism, the idea of Nur Muhammad was entered to Nusantara in the thinking of writers who are also experts like Nurudin Ar Raini mysticism, Syamsudin Sumatrani, Abdurrauf Singkeli.

Keywords: Nur Muhammad, sejarah, nusantara

1. Pendahuluan.

Cerita tentang Nur Muhammad merupakan sastra tasawuf. Di dalam kesusastraan Melayu, khususnya sastra sufi, terdapat banyak teks yang membicarakan cerita Nur Muhammad ini. Teks ini tersebar di berbagai naskah. Ada yang berdiri sendiri dalam bentuk satu naskah. Ada pula yang merupakan satu bagian dari banyak cerita dalam satu naskah. Naskah ini terdapat di beberapa tempat penyimpanan/ koleksi. Di Indonesia terdapat di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Jakarta, di Belanda terdapat di Perpustakaan Universitas Leiden, di Inggris terdapat di Bodleian Library, London, serta di pelbagai koleksi, baik di koleksi pribadi maupun koleksi perpustakaan umum lain.

Di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) Jakarta terdapat tujuh buah naskah yang tersimpan di dalam Katalogus Koleksi Naskah Melayu ( Sutaarga: 1972: 172-173 ). yaitu :

1. C.st. 119/ Ml. 644 selanjutnya disebut naskah A

2. v.d.w. 76/ Ml. 643. selanjutnya disebut naskah B

3. Bat. Gen. 96/ Ml. 96. selanjutnya disebut naskah C

4. Bat. Gen. 406 B/ Ml. 406 B. selanjutnya disebut naskah D

5. v.d.w. 75/ Ml. 642. selanjutnya disebut naskah E

6. Bat. Gen. 388 F/ Ml. 388 F. selanjutnya disebut naskah F

7. Bat. Gen. 378 C/ Ml. 378 C. selanjutnya disebut naskah G

Di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda, cerita Nur Muhammad dijumpai di dalam berbagai naskah antara lain

1. Cod. Or. 12. 125/ Oph. 3. 80

2. Cod. 12. 139/ Oph. 17. 120

3. Cod. Or. 12. 132/ Oph. 10A. 120 (Ronkel, 1921: 247-249)

Di Inggris, naskah yang memuat HNM ini terdapat di dalam koleksi Bodleian Library London dengan nomor naskah MS.Jav.c.2 No. 42 M (Depparpostel, 1991:15)

Di dalam kesusastraan Melayu cerita tentang Nur Muhammad ini terdapat juga di dalam Hikayat Muhammad Ali Hanafiyah, Hikayat Syah I Merdan (Juynboll.1899: 202), Sejarah Melayu, Syair Ikan Tunggal Bernama Fadhil karya Hamzah Fansuri (Sangidu, 2003a), Hikayat Nabi nomor Ml. 803/ v.d.w. 102 ( hal 1-27), juga pada naskah Akhbar al-Akhirat fil-Akhwal al Qiyamat, nomor Ml. 803/ v.d.w. 48 dan naskah yang bernomor Ml.804/ Br. 275 (Sutaarga, 1972: 282).

Cerita tentang Nur Muhammad ini terdapat pula di dalam naskah kitab-kitab tasawuf berikut. Naskah-naskah itu antara lain Daqaiqul-Akhbar fi - akhwalil-Qiyamah (An Nabhan, tt), kitab Bachrul-Lahut (Abdullah,tt:14). Syajaratul-Kaun (Ibnu Araby), Daqaiqul -Akhbar fi Dzikril-Jannah Wan-Naar oleh Abdul Rahim bin Ahmad Al Qadhi dan yang dalam terjemahan Melayunya ditulis oleh Syaikh Ahmad ibn Muhammad Yunus Langka, Al Kaukab ad-Durri fin-Nuuril-Muchammadi oleh Syaikh Muhammad bin Isma’il Daud al-Fatani, Madarijus-Su’ud oleh Nawawi al Bantani, Sirrul Asraar oleh Syekh Abdul Qadir al-Jailany, Sabiilul -Iddikar wal- I’tibar oleh Imam Al Haddad, Bad’ Khalq al-Samawat wa al-Ardh karya Syekh Nuruddin Ar-Raniry, Kasyful Ghaibiyah oleh Zain al-‘Abidin al-Fatani.

Di dalam kesusatraan Jawa, cerita Nur Muhammad ini pun disebut dalam beberapa karya sastranya, misalnya Wirid Hidayat Jati, Serat Centhini, naskah-naskah primbon seperti Serat Wirid dan Niti Mani (Zoetmoelder 1991: 115-126).

Adanya gagasan cerita ini tidak bisa dilepaskan dari pengaruh Islam yang begitu kental mewarnai cerita. Hal itu terjadi karena gagasan itu lahir dari kalangan sufi (tasawuf). Gagasan ini mirip dengan pemikiran para filosof Yunani ketika menjelaskan tentang proses terjadinya alam semesta. Proses kelahiran tasawuf sendiri memang panjang. Ajaran tasawuf memang bersumber dari ajaran Islam sendiri (dalam batas-batas kewajaran) dan dari luar Islam (khususnya pada ajaran-ajaran yang ekstrim/ melebihi batas kewajaran. Di antara pengaruh ajaran di luar Islam itu adalah pengaruh Hindu (India), Persia, khusus­nya agama Zoroaster dan Mani. (Nasr, 1995 : 162 -163), agama Nasrani, Filasafat Yunani khususnya Neo-Platonisme dan Filsafat Mistik Phitagoras (Abdullah, 1982 : 22; Hamka, 1984: 45-66).

Tulisan ini akan membahas apakah ajaran Nur Muhammad itu dan bagaimana latar belakang timbulnya gagasan itu. Di sini akan dibahas bagaimana latar konsep Nur Muhammad dalam tasawuf falsafi, bagaimana pandangan tokoh Al Hallaj, Ibnu Araby dan Abdul Karim AlJilli sebagai pelatak dasar konsep Nur Muhammad, dan bagaimana doktrin Nur Muhammad ini masuk dan mempengaruhi pemikiran di Nusantara.

1. Latar Belakang Timbulnya Gagasan Nur Muhammad

Nur Muhammad merupakan sebuah paham di dalam tasawuf, falsafi, yang menganggap bahwa dunia seisinya itu bermula dari Nur Muhammad. Paham Nur Muhammad dalam tradisi sufi bermula dengan adanya pemujaan dan penghargaan terhadap manusia agung, Nabi Muhammad saw., yang namanya selalu disandingkan bersama Allah dalam persaksian (syahadat) seorang muslim. Bermula dari seorang teolog abad ke-6 M yang bernama Muqattil menafsirkan Al-Qur’an (QS,24:35) yang terkenal dengan “ayat cahaya” . Ayat tersebut berbunyi:

“Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dari pohon minyak yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur(nya) dan tidak di sebelah barat(nya), yang minyaknya saja hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS,24:35).

Ayat itu oleh Muqattil dihubungkan dengan Nabi Muhammad saw. Kata mishbach (lampu) itu dianggap sebagai lambang yang tepat bagi Muhammad. Melalui Muhammadlah cahaya Ilahi dapat menyinari dunia. Melalui Muhammad juga umat manusia dituntun menuju sumber cahaya itu (Schimmel,1991: 174-175). Kata “tidak dari timur dan dari barat” mengacu kepada tugas kerasulan Nabi Muhammad saw yang rachmatan lil-‘alamin (memberi rahmat/ kasih sayang untuk segenap alam).

Ide Muqattil itu diambil oleh Sahl al-Tustari, tokoh sufi Irak (wafat th. 896 M) yang mengatakan adanya ”lajur cahaya”, yaitu sejenis timbunan yang terdiri dari segenap jiwa-jiwa yang suci (Atja, 1966:l5). Berdasarkan teori Muqattil di atas, esensi Muhammad menurut Tustari, disebut ‘amud al-nur’ (tiang cahaya), yakni jasad halus dari keyakinan yang diemanasi dari Tuhan sendiri yang membungkuk kepada-Nya selama satu juta tahun sebelum diciptakan-Nya makhluk-­makhluk (Massignon: 283). Tentang peran Nabi Muhammad Tustari mengatakan:

“Allah dalam keesaan-Nya yang mutlak dan realitas transenden-Nya ditegaskan sebagai misteri yang tak tertembus dari cahaya illahi yang bagaimana pun juga, mengungkapkan dirinya sendiri dalam praktek perwujudan prakeabadian dari “persamaan cahaya-Nya” (matsalu nurihi), yaitu persamaan cahaya Muhammad (nur Muhammad) dalam prakeabadian dilukiskan seba­gai suatu masa bercahaya dari pemuliaan primordial di haribaan Allah yang mengambil bentuk suatu tiang tembus cahaya ‘amud cahaya Illahi dan membentuk Muhammad sebagai ciptaan utama Allah” (Schimmel, 1991;176).

Dalam menjelaskan terminologi ayat cahaya tersebut, Tustari mengatakan bahwa ketika Allah berkehendak menciptakan Muhammad, Dia memunculkan sebuah cahaya dari cahaya-Nya. Ketika Ia mencapai selubung keagungan hijabul-’adzamah, Ia membungkuk dan bersujud di hadapan Allah. Allah menciptakan dari sujudnya itu sebuah tiang yang besar bagaikan kaca kristal dari cahaya yang dari luar maupun dalam yang dapat tembus pandang” (Schimmel , 1991:176) .

Selanjutnya Tustari mengaitkan cahaya Muham­mad dengan surat An-’Najm (53) ayat 13 yang berbunyi : “Walaqad ra’aahu nazlatan ukhraa” artinya: Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain” (QS,53:13) .

Kata pada waktu yang lain” ditafsirkan Tustari dengan ketika tiang cahaya Muhammad berdiri di hadapan Allah. (Di dalam Hikayat Nur Muhammad diceritakan tentang Nur Muhammad disuruh bersujud selama lima puluh tahun di hadapan Allah. Dije­laskan bahwa sebelum dimulai penciptaan selama sejuta tahun Nur Muhammad itu berdiri di hadapan-Nya untuk memuji-Nya dengan keteguhan iman dan (kepadanya) diungkapkan misteri oleh “misteri” itu sendiri di pohon Sidratil-Muntaha (QS, 53:14) yaitu tempat berakhirnya pengetahuan setiap orang (Bowering via Schimmel, 1991: 177).

Ketika penciptaan dimulai, Allah menciptakan Adam dari cahaya Muhammad. Cahaya para nabi, cahaya kerajaan langit, cahaya malakut adalah dari cahayanya. Begitu juga cahaya dunia dan dunia yang akan datang berasal dari cahayanya” (Schimmel, 1991:177).

Akhirnya, ketika kemunculan para nabi dalam alam raya spiritual di dalam prakeabadian telah sempurna, Muhammad dibentuk tubuhnya dalam bentuk temporal dan terestrial, dari lempung Adam, yang telah diambil dari tiang Nur Muhammad dalam prakeabadian. Dengan demikian, penciptaan cahaya prakeabadian telah disempurnakan. Manusia pertama dicetak dari cahaya Muhammad yang telah terkristal dan mengambil sosok pribadi Adam (Schimmel, 1991:177).

Ide itu ditangkap oleh Al Hallaj yang kemudian mengembangkannya di dalam faham Nur Muhammad. Konsep al Hallaj tentang Nur Muhammad selanjutnya diteruskan oleh Ibnu Araby dengan konsep wachdatul wujudnya dan dilanjutkan oleh Abdul Karim Al Jilli dalam Insanul kamil.

2. Nur Muhammad di dalam Konsep Tasawuf Falsafi

Manusia mempunyai kecenderungan untuk berdekatan dengan Tuhan penciptanya. Hal ini merupakan cerminan kerinduan nurani manusia terhadap Tuhannya. Manusia menyadari bahwa dirinya berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya. Gejala ini universal dan konstan tidak terbatas oleh ruang dan waktu, baik di Barat maupun di Timur, sejak dahulu sampai sekarang dan yang akan datang (Sofwan: 1999: 99). Perjalanan batin dalam mencapai kesempurnaan hidup yakni berada sedekat-dekatnya dengan Tuhan bahkan menyatu itu disebut mistik (Gaynor, 1953:119). Dimensi mistik ini terdapat pada setiap agama bahkan juga pada ajaran-ajaran yang menyerupai agama (pseudo agama). Di dalam agama Islam, mistik ini dikenal dengan istilah tasawuf.

Tujuan tasawuf adalah mendekatkan diri sedekat mungkin dengan Tuhan sehingga ia dapat melihat-Nya dengan mata hati karena rohnya dapat bersatu dengan Roh Tuhan. Filsafat yang menjadi dasar pendekatan diri itu adalah, pertama, Tuhan bersifat rohani, maka bagian yang dapat mendekatkan diri dengan Tuhan adalah roh, bukan jasadnya. Kedua, Tuhan adalah Mahasuci, maka yang dapat diterima Tuhan untuk mendekati­ adalah roh yang suci. Tasawuf adalah ilmu yang membahas masalah pendekatan diri manusia kepada Tuhan melalui penyucian rohnya (Nasution dalam Rahman [ed], 1995: 161)

Pada perkembangan awalnya tasawuf mengambil bentuk zuhud, dalam arti sikap hidup sederhana dan menjauhi kemewahan duniawi dan untuk memperhalus budi pekerti/ akhlak dalam rangka mencapai tujuan mendekatkan diri dengan Tuhan. Jadi, awalnya merupakan sebuah gerakan moral untuk memperhalus akhlak di tengah kekakuan dan keketatan ajaran syariat. Oleh karena itulah tasawuf semacam ini disebut tasawuf akhlaki/ sunni (Ardani: 1989: 6) yang dikategorikan sebagai mistik kepribadian (mysticisme personality) (Schimmel: 1986:3). Disebut tasawuf sunni karena tasawuf ini dikembangkan oleh golongan sunni (ahlussunnah wal Jamaah) yang tetap berpegang pada ortodoksi Al Quran dan sunnah Nabi. Disebut mistik kepribadian karena hubungan antara Tuhan dan manusia tidak sampai pada penyatuan esensi, karena pada dasarnya keduanya berbeda. Yang terjadi hanyalah upaya mengkonsentrasikan keseluruhan aktivitas hanya kepada Allah (wahdatusy-syuhud), dan bahwa yang ada hanyalah Allah.

Tasawuf sebagai gerakan kerohanian untuk mendekatkan diri kepada Allah, pada perkembangan awal memang didorong oleh ajaran Islam sendiri yaitu Al Qur’an dan contoh kehidupan Nabi Muhammad saw. Ajaran perilaku kesederhanaan dan zuhud sebagaimana dicontohkan Nabi itu ditiru oleh para sahabat misalnya Abu Dzar Al-Ghifari dan Salman Al Farisi (Abdullah, 1984:5-14). Bahkan para sahabat Nabi yang akibat hijrah ke Madinah menjadi miskin sehingga mereka tinggal di masjid Nabi dan tidur di bangku batu dengan memakai pelana (suffah) sebagai bantalnya itu sering disebut sebagai ahlussuffah. Kata ahlussuffah inilah yang merupakan salah satu sebab kenapa peri hidup kerokhanian itu disebut dengan kata tasawuf (Nasution, 1990: 50-51).

Pada perkembangan selanjutnya, yaitu di masa tabi’in, lahir penganjur kehidupan tasawuf yang awal yaitu Hasan Al-Basri yang digelari Abu Sa’id (21-110 H). Beliau mengajarkan khauf (takut) kepada Tuhan. Ketika beliau wafat (110 H ), lahir Abu Hasyim Shufi al-Kufi yang wafat pada tahun 150 H/ 761 M (Abdullah, 1982:16-17). Selanjutnya hidup pula para sufi lain misalnya Rabi’ah al-Adawiyah, seorang sufi wanita (714-801 M) yang mengajarkan machabbah/ cinta kepada Allah semata (Nasution, 1990:70-74). Selanjutnya Sufyan ats-’Tsaury (602-732 M) men­gajarkan kehidupan zuhud dan menentang kemewahan (Abdullah, 1982:17) dengan sikap menjaga muru’ah, berusaha sendiri tidak mengemis kepada raja-raja (Hamka, 1984:84). Sedangkan Dzun-Nun Al-Mishry (180-245 H) dikenal sebagai Bapak Ma’rifat, karena beliau mengajarkan ma’rifah/ gnosis, yang berarti mengetahui Tuhan dari dekat (Nasution, 1990: 74-78).

Dengan berkembangnya Islam pada masa Khulafaur-Rasyidin (tahun 11-40 H) dan kemudian dipegang oleh dinasti Umayyah sejak tahun 40-132 H, dunia Islam mulai dimasuki kebudayaan-kebudayaan asing yang datang dari Parsi, Yunani, India dan sebagainya. Pada masa pemerintahan Abasyiyah, khususnya pada masa pemerintahan Al-Makmun dan Harun Al-Rasyid, umat Islam telah sampai ke puncak ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang tinggi (Muin, 1986:18). Menurut Prof. Dr. Hasan Ibrahim Hasan dalam Tarikhul-Islam, pada abad-abad tersebut ilmu tasawuf memang sudah berkembang dan dalam perkembangannya sudah masuk ke tahap sinkretisme antara ajaran tasawuf dan ajaran filsafat Neo-Platonisme, ajaran Hindu dan Budha serta Zoroaster sehingga membentuk suatu metode tasawuf yang dinamakan ”Filsafat Tasawuf” (Syukur, 1982:65).

Akibat persinggungan dengan filsafat Yunani khususnya Neo-Platonisme, faham Syi’ah serta aliran mistik Kristen dan kebudayaan “tempatan” lainnya, tasawuf yang semula bertujuan memperhalus akhlak berkembang menjadi pandangan hidup yang disistematisir atas dasar pemikiran filsafat. Corak tasawuf ini bertujuan tidak sekedar mendekatkan diri kepada Tuhan bahkan juga untuk bersatu dengan-Nya. Oleh karenanya tasawuf ini dikenal dengan tasawuf non sunni atau tasawuf falsafi (Ardani, 1989:6) dan dapat dikategorikan sebagai misticisme infinity/ tasawuf ketakterhinggaan (Schimmel: 1986:3).

Tasawuf ini menekankan pada tujuan pencapaian derajat insan kamil/ manusia sempurna. Insan Kamil merupakan cermin/ duplikat Tuhan yang diciptakan atas nama-Nya sebagai refleksi gambaran nama dan sifat-sifat-Nya. Kondisi ini dapat terwujud apabila manusia sudah dapat mencapai kesatuan mutlak dengan Tuhannya (wachdatul wujud). Persatuan hamba dan Tuhannya itu diungkapkan dengan bermacam-macam istilah, misalnya Abu Yazid al Busthami menyebut ittichad, isyraq oleh as-Suhrawardi, chulul oleh al Hallaj, wachdatul wujud oleh Ibnu ’Araby. Dari sini mulailah berkembang ektrimitas tasawuf. Beberapa ekstrimitas tasawuf itu antara lain Pantheistis/ wichdatul-wujud, Non-Formalisme, Asketisr Isolasionis, Fatalistis, Messianistis dan Egoistis (Abdullah, 1982:46-66).

Pada tahun 801 M di Bustam lahir seorang sufi yang berpandangan ekstrim yaitu Abu Yazid al-Bistami (wafat 847 M) dari Persia. Beliau mengajarkan fana dan baqa. Menurut beliau, untuk bisa (ittichad) bersatu dengan Allah, seseorang harus menghancurkan dirinya (fana) yang diiringi dengan hidup terus (baqa). Di sini Abu Yazid telah dekat benar dengan Allah bahkan telah mencapai ittichad sehingga ia sampai mengucapkan kata-kata yang pada intinya mengandung pengakuan bahwa dirinya adalah Tuhan (Nasution, 1990:79-86).

Paham ittichad ini pada perkembangan selanjutnya menjadi chulul (Tuhan mengambil tempat pada manusia) yang dikembangkan oleh Hussein Ibnu Mansyur Al Hallaj yang akhirnya dilanjutkan oleh Muhyiddin Ibnu Araby dalam bentuk wachdatul wujud. Pada ajaran Al Hallaj inilah gagasan Nur Muhammad mulai timbul.

3. Al Hallaj Peletak Dasar Gagasan Nur Muhammad

Spekulasi Sahl At-Tustari tentang ayat cahaya di atas mempengaruhi para sufi berikutnya seperti Al Hallaj[1]. Di dalam kitabnya Thasin Al-Shiraj yang merupakan bab I dari kitab Al Thawasin (hal 9-11) Al Hallaj mengatakan

“Dia adalah sebuah lampu dari cahaya yang tak terlihat…. sebuah bulan yang bercahaya di antara bulan-bulan lainnya, yang rumahnya berada dalam lingkaran segala misteri. Kebenaran Ilahi ( Tuhan ) menyebutnya ummy dikarenakan kesempurnaan aspirasinya yang mulia (Himmah) …

Cahaya-cahaya kenabian, dari cahayanyalah mereka muncul, dan cahaya-cahaya mereka berasal dari cahayanya, yang tiada cahaya terang serta mendahului praeksistensi, dari pada cahaya tokoh mulia ini.

Menurut al-Hallaj, Muhammad memiliki dua hakikat, yakni pertama hakikat cahaya azali yang telah ada sebelum adanya se­gala sesuatu dan menjadi landasan ilmu serta ma’rifat (Nicholson, 1975:51). Kedua, hakikat yang baru dalam kedudukannya sebagai seorang nabi, pada ruang dan waktu tertentu. Cahaya yang pertama itulah yang menjadi landasan semua para nabi dan para imam/ wali yang lahir sesudahnya. (Mahmud, 1967:379-380) Dalam syair indahnya, al-Hallaj meng­ungkapkan:

Tha Sin.

Sinar cahaya gaib pun tampak dan kembali.

Sinar itu pun melintasi dan mendominasi segala sesuatu. Sebuah bulan bersinar cemerlang di antara berbagai bulan, zodiaknya ada dalam bintang rahasia.

Yang Maha Benar (Tuhan) memberi nama Ummi (yang tidak ditandai dengan huruf) kepada sinar itu, untuk menghimpun aspirasi-Nya dan dia juga diberi nama Hurmi (Muhammad) karena keagungan karunia-Nya,

serta Makki karena tempat kelahirannya pada kedekatan-Nya (Al Hallaj)

Al-Hallaj adalah salah seorang sufi pertama yang mengisyaratkan sesuatu semacam logos Islam dan menekankan kekudusan Muhammad dan bahkan menegaskan keabadian dan praeksistensinya. Menurut Al-Hallaj (Afifi,1989 : 123) eksistensi Muhammad telah terjadi bahkan sebelum noneksistensi dan namanya pun ada sebelum pena. Ia telah dikenal sebelum substansi-substansi dan kejadian-kejadian dan sebelum realitas-realitas yang belum maupun yang sudah. Ia datang dari suatu suku yang bukan timur bukan barat ( bandingkan dengan ayat cahaya ).

Bagi Al-Hallaj, Muhammad adalah cahaya yang tak pernah padam yang terus menerus menerangi hati para sufi. Semua Nabi dan orang suci mendapatkan cahaya (pengetahuan) mereka dari cahaya Muhammad saja. Cahayanya lebih cemerlang dan lebih abadi (Aqdam) dari pada cahaya pena. (Thawasin hal 11-12).

Ada tiga pokok ajaran Al Hallaj yang menggemparkan ulama fikih yaitu Chulul, al-chaqiqatul-Mucammadiyah dan wachdatul-adyan. Menurut Al Hallaj, kejadian alam ini pada mulanya berasal dari al-Chaqiqatul-Muchammadiyah atau Nur Muham­mad, Nur Muhammad itulah asal segala sesuatu. Menurutnya Nabi Muhammad saw itu terjadi atas dua rupa; rupa yang qadim dan azali. Rupa yang pertama adalah qadim (dahulu) yang terjadi sebelum terjadinya seluruh yang ada. Rupa yang kedua berwujud manusia, sebagai Nabi dan Rasul utusan Allah. Rupa yang kedua ini menempuh mati. Tetapi rupanya yang qadim tetap ada meliputi alam. Maka dari Nur (cahaya) rupanya yang qadim itulah diambil segala nur untuk menciptakan segala nabi dan rasul serta para wali (Syukur, 1982 : 54 ; Hamka, 1984 : 123).

Al Hallaj mengatakan bahwa dalam kejadian, Nur Muhammadlah yang awal namun dalam kenabian, dialah yang akhir. Al-Chaq adalah sama dengan Nur Muhammad, dengan dialah hakikat itu. Dia yang pertama dalam hubungan dan yang akhir dalam kenabian. Dialah yang batin dalam hakikat dan yang lahir dalam ma’rifat. Nur Muhammad itulah pusat kesatuan alam, dan pusat kesatuan nubuwwat segala Nabi, dan Nabi-nabi itu nubuwwatnya, atau pun dirinya hanyalah sebagian saja dari pada cahaya Nur Muhammad itu. Segala macam ilmu, hikmat dan nubuwwat adalah pancaran belaka dari sinarnya ” (Hamka, 1984 : 123)

Pemikiran Al-Hallaj tentang al-Chaqiqatul-Muchammadiyah ini tidak bisa dipisahkan dengan faham Chulul-nya. Chulul ialah menjelmanya ruh Ketuhanan (lahut) ke dalam insan (nasut). Hal ini akan terjadi bilamana kebatinan seseorang insan telah suci bersih di dalam menempuh perjalanan hidup kebatinan, maka akan naiklah pangkat (maqam) hidupnya ke maqam lain, misalnya Muslimin, Mukminin, Shalihin dan Muqarrabin. Muqarrabin artinya orang yang paling dekat dengan Tuhan. Di atas Muqarrabin itulah orang sudah sampai puncaknya bisa bersatu dengan Tuhan sehingga tidak ada perbedaan antara Asyik dan Ma’syuk, sehingga tiada perbedaan antara hamba dan Tuhan (Hamka,1984:120). Sedangkan menurut Abu Nasr Al-Tusi dalam Al-Luma’, chulul adalah faham yang mengatakan bahwa Tuhan memilih tubuh-tubuh manusia tertentu untuk mengambil tempat di dalamnya, setelah sifat-sifat kemanusiaan yang ada dalam tubuh itu dilenyapkan (Tusi, 2002:689).

Menurut Al Hallaj, sebelum Allah menjadikan makhluk, Ia hanya melihat dirinya sendiri (tajallil-chaq li nafsihi). Dalam kesendirian-Nya itu terjadilah dialog antara Tuhan dengan diri-Nya sendiri, dialog yang tidak menggunakan kata-kata atau huruf-huruf. Yang dilihat Allah hanyalah kemuliaan dan ketinggian zat-Nya. Allah melihat kepada zat-Nya lalu Ia jatuh cinta pada zat-Nya sendiri, Cinta inilah yang menjadikan wujud dan sebab dari yang banyak ini. Ia pun mengeluarkan dari yang tiada (ex nihilo) bentuk/ copy dari diri-Nya. Bentuk/ copy itu adalah Adam. Adam pun lalu dimuliakan dan diagungkan-Nya. Pada diri Adamlah Allah muncul dalam bentuknya, sehingga Allah menyuruh para malaikat sujud kepada Adam. Hal ini disebabkan pada diri Adamlah Allah menjelma sebagaimana Ia menjelma dalam diri Isa a.s (Nasution, 1990:89; Hamka, 1964:120-121).

Di sini bertemulah kepercayaan Kristen yang menganggap Allah menjelma ke dalam diri Isa al-Masih putera Mariam dengan kepercayaan Al Hallaj. Bagi Al Hallaj, bukanlah pada Isa al-Masih saja Tuhan bisa menjelma, tetapi juga pada setiap insan yang telah sanggup mem-fanakan dirinya ke dalam Tuhan sehingga mendapat baqa di dalam Tuhan. Al Hallaj mengutip satu hadis yang sangat berpengaruh besar bagi ahli sufi “Innallaaha chalaqa Adama ‘alaa suuratihi” (Sesungguhnya Tuhan menciptakan Adam sesuai dengan bentuk-Nya) (Nasution, 1990:88-89)

Sepintas pernyataan dan ajaran Al Hallaj ini berbau pantheisme, namun sebenarnya Al Hallaj sendiri di tempat lain mengatakan bahwa keinsanannya tenggelam ke dalam ketuhanan, tetapi tidaklah mungkin ada percampuran. Hal itu disebabkan ketuhanan senantiasa menguasai keinsanannya. Katanya selanjutnya:

Barang siapa yang menyangkal bahwa ketuhanan bercampur dengan keinsanan jadi satu, atau keinsanan masuk ke dalam ketuhanan, maka kafirlah orang itu. Sebab Allah ta’ala itu berdiri dalam zat-Nya dan sifat-Nya daripada makhluk dan sifat-Nya pula. Tidaklah Tuhan serupa dengan manusia dalam rupa, dan bentuk yang mana jua pun.”(Hamka, 1984:122)

Pernyataan Al Hallaj yang menggemparkan yaitu ana al-haq tidak boleh boleh dipandang sebagai ucapan manusia, melainkan ucapan Allah yang ada di dalam manusia itu. Allah bagi Al Hallaj adalah transenden dan imanen. Allah tidaklah identik dengan manusia (Hadiwiyono, tt:19).

Di lain tempat Al Hallaj sendiri menyangkal adanya persatuan antara hamba dan Tuhan (sebagaimana ajaran al ittichad dari Abu Yazid al Busthami). Di dalam chulul, tetap ada dua wujud, tetapi bersatu dalam satu tubuh (Nasution, 1990: 90). Zoetmulder sendiri menyangkal bahwa Al Hallaj adalah seorang pantheis maupun seorang monis, walaupun tulisan-tulisan dan gagasan-gagasannya turut mengembangkan faham pantheisme dalam sufi Islam dan sekalipun ucapan-ucapan yang dilepaskan dari konteksnya dan yang disalahartikan, berbau pantheis (Zoetmulder, 1991:37-44).

5. Nur Muhammad Menurut Ibnu Araby

Ajaran Al Hallaj ini lebih populer dan mencapai titik lebih tinggi dalam dunia tasawuf setelah dikembangkan oleh Ibnu Araby[2]. Ibnu Araby adalah tokoh peletak dasar dan pembina hakiki konsep wachdatul-wujud dalam bentuk yang paling sempurna. Ajaran tasawufnya terdiri atas tiga pokok yaitu wachdatul-wujud, Nur Muhammad dan wachdatul-adyan (Syukur,1982:65).

Tentang wachdatul-wujud, Ibnu Araby mengatakan bahwa wujud itu adalah satu. Wujud makhluk adalah wujud al-khaliq. Pada hakekatnya tidak ada perbedaan antara keduanya. Pembedaan itu hanya dalam rupa dan ragam saja. Wujud alam adalah wujud Allah. Allah adalah hakekat alam. Chaliq (pencipta) dan makhluk (yang dicipta) adalah satu. Abid (hamba) dan ma’bud (yang disembah) adalah satu. Kita harus memandang chaliq dan wujud itu yang kelihatan dua padahal satu wujud dari dua wajah (ain) yang satu. Oleh karena itu dia telah menegakkan faham serbasatu dan menolak faham serbadua (Hamka,1984: 153-155: Syukur, 1982: 66-67; Afifi, 1989: 27-31).

Ibnu Araby adalah pengembang ajaran dari Al Hallaj mengenai al-chaqiqatul-muchammadiyah (Nur Muhammad), (Syukur, 1982: 67; Afifi, 1989: 123). Ibnu Araby juga percaya bahwa Tuhan Allah adalah ”Suatu yang satu”. Dialah wujud yang mutlak. Nur Allah itu adalah sebagian dari dirinya. Itulah hakekat Muhammadiyah. Itulah kenyataan pertama dalam uluhiyah. Darinya terjadi segala alam dalam setiap tingkatnya seumpama alam jabarut dan malakut, alam asal, alam ajsam dan alam arwah. Dialah segenap kesempurnaan ilmu dan amal yang mewujud pada Nabi sejak Adam sampai Muhammad, sampai kepada para wali dan segala tubuh Insan yang Kamil. Dia tetap ada. Hakekat Muhammadiyah itulah yang memenuhi tubuh Muhammad. Bila Muhammad telah mati, ia mati secara tubuh, namun Nur Muhammad/ hakekat Muham­mad itu tetap hidup. Sebab ia adalah sebagian dari Tuhan. Jadi Allah, Adam, dan Muhammad adalah satu. Insan Kamil adalah Allah dan Adam pula pada hakikatnya.

Dalam aspek mistik logosnya, dia mengaitkan dirinya dengan Muhammad (seperti Al Hallaj) sebagai kepala herarki sufi dan rumah dari pengetahuan esoterik mereka. Tetapi Muhammad di sini bukan Muhammad Nabi, yakni bukan Muhammad yang diidentifikasikan sebagai logos, tetapi ia adalah realita (hakikat) dari Muhammad yang merupakan prinsip aktif dalam semua pengetahuan kudus dan esoterik. Hakikat realita Muhammad menurut doktrinnya adalah intelek pertama, prinsip rasional universal yang terdapat sepenuhnya dalam kelas orang-orang yang disebut dalam kategori Manusia Sempurna (Insan Kamil) atau disebut juga Kutub/ kepala spiritual dari herarki Nabi dan para orang suci.

Manusia adalah batang tubuh yang paling sempurna dari atribut-atribut Tuhan. Manusia Sempurna adalah sebuah mikrokosmos aktual tempat semua atribut dan kesempurnaan Tuhan termanifestasi. Manusia Sempurna adalah suatu miniatur realitas. Esensi Manusia Sempurna adalah suatu ragam dari Tuhan (al-Arsy). Pengetahuannya merupakan salinan atau cerminan Tuhan. Hatinya berkait dengan model asli Surya dari Ka’bah. Bawaan spiritualnya berkait dengan malaikat-malaikat. Ingatannya berkait dengan Saturnus, pemahamannya dengan Yupiter, intelektualnya adalah Matahari, dsb (Afifi, 1989:119-121).

Manusia Sempurna bukanlah seorang manusia atau suatu bentuk melainkan suatu prinsip universal Tuhan itu sendiri yang kesempurnaannya dimanifestasikan dalam tiap-tiap yang sempurna. Emas adalah logam yang sempurna/ Syajaratul-waq-waq (tanaman yang paling sempur­na). Manusia adalah hewan yang paling sempurna. Manusia Yang Sempurna telah menambah realitas-realitas hidup kepada realita-realita dunia karena ia adalah wakil Tuhan (khalifah) yang diatributkan pada dia.

Pemikiran Ibnu Araby ini, khususnya tentang logos, bersumber dari Al Hallaj yang menekankan kepada kekudusan Muhammad bahkan menegaskan keabadian dan praeksistensinya. Baginya Muhammad adalah cahaya yang telah padam yang terus-menerus menerangi hati para sufi. Semua Nabi dan wali mendapatkan cahaya (pengetahuan) dari cahaya Muhammad (Afifi, 1989:124). Menurut Afifi dua sumber utama logosnya adalah sumber-sumber non-Islam, misalnya filsafat Helenistik yang sebagian besar dipinjam dari Stoics, Philo dan Neo-Platonisme. Unsur-unsur ini sebagian besar mempengaruhi aspek metafisika dan manusia dari doktrin ini. Selain itu juga dari unsur Islami termasuk seperti Al-Qur’an dan Hadits, Sufi-sufi Pantheistik terdahulu (seperti Al Hallaj, Abu Yasid al-Bistami dan sebagainya), asketik-asketik Muslim, Theologi-teologi Skolastik (Asy’ari dan Mu’tazilah), Karmatian dan Ismailliyah/ Syi’ah (terutama Ikhwanush-Shafa), Aristotelian dan Neo-Platonik Persia, teruta­ma Ibnu Sina, serta Isyraqi ( Afifi, 1989:256-257).

Unsur Helenistik yang mempengaruhinya telah dimodifikasi oleh pemikir Kristen dan Yahudi. Rupanya ada kemiripan logosnya dengan Kristen. Di dalam Kristen, Kristus menempati posisi yang agak sama dengan realitas Muhammad. Pendapat Ibnu Araby yang menganggap Muhammad sebagai kutub yang merupakan prinsip rasional yang berdiam di dalam semua nabi dan santo (orang suci), mempunyai beberapa kesamaan dengan pandangan Macarius (mengikuti Methodius) tentang kesatuan Logos (Kristus)” dengan jiwa-jiwa saleh. Dalam tiap jiwa Kristus lahir. Ibnu Araby menolak mentah-mentah semua pandangan tentang fusi atau inkarnasi, karena inkarnasi merupakan basis bagi doktrin Kristen. Realitas Muhammad adalah Tuhan itu sendiri yang dipandang dari aspek tertentu, bukan orang kedua di dalam ketuhanan. Selanjutnya Bapak, dalam doktrin Kristen adalah tidak begitu terpisah dari Dunia Fenomena sebagaimana Yang Tunggal pantheistiknya Ibnu Araby. Ia masih digambarkan sebagai Cinta Kasih, Cahaya dan Ruh, sedangkan Yang Esa-nya Ibnu Araby (Esensi) adalah Wujud transenden yang tidak dapat didekati dan tidak beratribut yang berbuat dan diketahui hanya melalui penengah yang ia namakan Realitas Muhammad (Afifi, 1989: 124-126).

Ibnu Araby juga mengutarakan adanya teori Qutub, yaitu aspek mistis dari Logos Ibnu Araby yang merupakan pengaruh Ismailiyah. Ide tentang qutub itu sama tuanya dengan sufisme. Para sufi terdahulu percaya terhadap sumber umum dari inspirasi dan wahyu dan mengidentifikasikan sumber ini dengan Muhammad dan pewaris-pewarisnya. Pada Ibnu Arabylah Muhammad (Cahaya atau Ruh atau Realitas Muhammad) dipandang begitu mantap sebagai yang identik dengan prinsip universal dari animasi, penciptaan dan inspirasi, atau bahkan dengan Tuhan sendiri. Qutub Ibnu Araby bukanlah Nabi atau wali melainkan suatu prinsip kosmis. Imam yang maksum (tak pernah salah) di dalam Syi’ah Ismailliyah dan Karmathia adalah sesuatu yang paling dekat dengan dengan prinsip ini (Afifi, 1989: 126).

Doktrin Ibnu Araby tentang Manusia Sempurna berbasis dari pemikiran Al Hallaj tentang lahut dan nasut. Pernyataan Challaj tentang Tuhan ini sama pemikirannya dengan pernyataan St. Paul: “Saya hidup, tetapi tidak hidup, melainkan Kristuslah yang hidup di dalam saya. Pada al-Hallaj, “Kristus” itu diganti dengan Tuhan (al-Chaq). Menurut Stoa, Manusia itu sendirilah yang membuat logos turun kepadanya dengan cara sedemikian rupa sehingga personalitasnya bisa dipandang sebagai bagian aktual dari logos itu. Baik Platonis maupun Stoa mengajarkan bahwa di dalam jiwa manusia terdapat unsur kudus, suatu pengertian yang nampaknya telah dikembangkan sepanjang garis-garis berbeda oleh kaum mistik dan filosuf Kristen dan Muslim seperti St. Paul di atas (Afifi, 1989: 128).

Kesantoan (wilayah) merupakan basis bagi semua pangkat spiritual. Asal mula wilayah merupakan suatu atribut Tuhan (Tuhan sendiri menamakan Diri-Nya dengan al-Waali), istilah itu hanya berlaku bagi orang-orang yang telah menyadari kesatuan esensi mereka dengan Tuhan. Istilah wilayah lebih umum dari pada nubuwwah (kenabian) atau risalah (kerasulan), karena “pengetahuan” yang dipunyainya identik dengan pengetahuan Tuhan dan pengetahuan Ruh Muhammad, sedangkan pengetahuan kenabian dan kerasulan adalah terbatas ( Afifi, 1989 : 134) .

Secara khusus Ibnu Araby menjelaskan Nur Muhammad ini di dalam kitabnya Syajaratul-Kaun. Buku ini memaparkan doktrin Ibnu Araby tentang pribadi Nabi Muhammad saw. Di situ diulas keunikan Rasulullah Muhammad, saw dalam hubungannya dengan Allah, manusia dan alam secara keseluruhan yang disimbolkan dengan “Pohon” yang muncul dari sebutir benih Kun.

Allah memeras benih pohon kun sehingga menjadi sari. Lalu ditambah sinar hidayah sehingga muncul jauharnya kemdian ditenggelamkan ke dalam lautan ar-Rahmah sampai keberkahannya merata. Dari proses ini Allah menciptakan Nur Nabi Muhammad saw. Lalu dihiasi dengan sinar arwah sehingga bersinar terang dan mulia. Dijadikannya Nur Muhammad sebagai asal muasal segala cahaya. Dialah orang yang pertama kali tercatat dalam kitab-Nya, orang yang terakhir muncul, pemimpin di hari kebangkitan, pembawa kabar gembira, menemui para manusia dengan senang hati.

6. Nur Muhammad dalam Pandangan Abdul Karim Al-Jilli

Pemikiran Ibnu Araby ini selanjutnya dikembangkan secara lebih jelas oleh Abdul Karim Al-Jilly (1365-1417 M)[3]. Al-Jilli menulis buku yang berjudul Al-Insan Al-Kamil fi Ma’rifatil-Awachir wal-Awa’il (Manusia Sempurna dalam Pengetahuan dari Hal yang Terakhir dan yang Pertama), yang biasa disingkat dengan Insanul-Kamil.

Tentang ajaran Nur Muhammad, Al-Jilli menyatakan bahwa nur itulah sumber dari segala yang berwujud. Tanpa Nur Muhammad maka tidak akan ada alam ini, karena hakikat Muhammadiyah yang disebut dalam istilah falsafah dengan logos pada dasarnya merupakan arketipe kosmos, termasuk di dalamnya arketipe dari Bani Adam (Nasr:1968: 347). Penjelasan al-Jilli tentang hakikat Muhammad lebih tegas, ringkas dan sistematis. Menurut al-Jilli, nur Muhammad mempunyai banyak nama sebanyak aspek yang dimilikinya. Ia disebut ruh dan falaq, bila dikaitkan dengan ketinggiannya. Tidak ada kekuatan makhluk yang melebihinya, semua tunduk mengitarinya, karena ia merupakan kutub dari segenap falaq. Ia disebut al-Chaqul-Makhluq bih (al-Haq sebagai alat pencipta), karena darinya tercipta segenap makhluk. Ia disebut Amr-Allah, karena hanya Allah yang lebih tahu tentang hakikatnya secara pasti. Ia juga disebut al-qalamul - a’la (pena yang tertinggi), dan al-‘Aqlul-Awwal (akal pertama), karena ia merupakan wadah pengetahuan Tuhan terhadap alam maujud, dan sederetan nama lainnya, dan akhirnya al-Jilli juga mengatakan bahwa Nur Muhammad pulalah yang mengaktual menjadi sosok ”al-Insanul-Kamil”. (Nasr, 1968: 347)

Menurut Nicholson (via Hadiwijono, tt: 1-22), dalam pandangan al-Jilli, Allah adalah Zat yang Mutlak atau Pikiran yang Murni. Sebagai Zat Yang Esa, yang bebas dari segala kualitas dan hubungan. Zat Mutlak itu digambarkan sebagai kabut (al-a’ma) yang aspek lahirnya disebut Achadiyah (keesaan abstrak). Pada keadaan ini Zat Mutlak sadar akan diri-Nya sendiri sebagai kesatuan. Ahadiyah adalah pendekatan pertama dari Zat Mutlak menuju penjelmaan. Ia juga dipandang sebagai dua aspek yaitu huwiyyah (ke-Ia-an) yang menandai kesatuan yang batin di mana Yang Mutlak sadar akan dirinya, dan aniyyah (ke-Aku-an) yang merupakan pengungkapan lahiriyah dari huwiyah.

Penjelmaan berikutnya disebut wachidiyyah (kesatuan yang relatif) yaitu kesatuan di dalam kejamakan. Di sini Zat Mutlak menyatakan Diri-Nya sebagai satu dengan diri-Nya sendiri. Selanjutnya disusul penjelmaan Rachmaniyyah, di mana Allah berada di dalam segala sesuatu yang diadakan. Sebagai penjelmaan terakhir adalah Rububiyyah atau Ketuhanan, yang meneguhkan adanya hubungan antara Allah dan makhluknya. Menurut Jilly, alam semesta ini adalah aspek lahiriah dari Zat. Sedangkan aspek batinnya adalah Allah.

Manusia adalah Zat yang Mutlak yang sudah menjadi daging. la adalah dunia kecil (mikrokosmos) di mana segala sifat Yang Mutlak dipersatukan. Manusia Sempurna adalah manusia, di mana Yang Mutlak menjadi sadar akan diri-Nya dalam segala aspeknya. Ia merupakan aliran terakhir dari penciptaan. Ia adalah alat Allah untuk melihat Diri-Nya sendiri. Ia adalah tembusan (nuskha) Allah. Secara potensial segala manusia adalah manusia sempurna, tetapi dalam kenyataannya hanya ada beberapa saja manusia sempurna itu. Yaitu para nabi dan wali, sedangkan Nabi Muhammad adalah puncaknya. Hal itu disebabkan Nabi Muhammadlah Manusia Sempurna (insan kamil) yang diciptakan pertama kali oleh Allah sebagai model pertama dari ciptaan. Konsep Manusia Sempurna itu adalah sama dengan konsep Nur Muhammad (Nasution, 1974:89). Chaqiqah muchammadiyah yang muncul dalam prakeabadian itu diciptakan sebagai yaquta baidha’ (chrysolite putih). Ketika Allah melihatnya, buyarlah ia menjadi gelombang-gelombang dan zat-zat cair lainnya, yang dari situ muncul dunia penciptaan (Schimmel, 1991:178).

Al-Jilli menyatakan bahwa nur itulah sumber dari segala maujud. Tanpa Nur Muhammad maka tidak akan ada alam ini, karena hakikat Muhammadiyah yang disebut dalam istilah falsafah dengan logos pada dasarnya merupakan arketipe kosmos, termasuk di dalamnya arketipe dari Bani Adam.

7. Masuknya Wacana Pemikiran Sufistik Nur Muhammad di Nusantara

Wacana pemikiran Nur Muhammad itu akhirnya masuk ke dalam alam pemikiran Melayu. Timbulnya gagasan Nur Muhammad di dalam kesusastraan Melayu ini tak bisa dilepaskan dengan masuknya Agama Islam ke Nusantara (Melayu). Seminar masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia di Aceh pada tanggal 10-16 Juli 1978 menegaskan hasil Seminar Sejarah Islam di Medan tahun 1963 bahwa Agama Islam masuk ke Indonesia pada abad I Hijriah yang langsung dibawa dari tanah Arab, dan daerah yang pertama kali menerima adalah Aceh (Hasymy: 1989: bandingan Daudy,1983: 24; bandingkan juga mis. Arnold,1985:317).

Banyak sarjana yang mengkaji sejarah perkembangan Islam di Indonesia berpendapat bahwa sufi memainkan peran utama dalam Islamisasi di kepulauan Indonesia( Huda, 2007: 251). Bahkan, Victor Tanja menulis, bahwa Islam yang pertama kali berkembang di kepulauan Indone­sia adalah sufisme (Tanja, 1982:21). Anthony H. John juga berpendapat bahwa su­fisme, secara langsung terlibat dalam penyebaran Islam di Indonesia. Dari abad XIII-XVIII, menurut John, aktivitas para pendakwah sufi bertindak sebagai motor dalam penyebaran Islam di Indoesia. Hal ini sesuai dengan pengaruh dominan tarekat sufi di dunia Islam setelah kejatuhan Baghdad pada 1258 (Zulkifli, 2002:7)

Pentingnya peran sufi dalam Islamisasi Indonesia didukung oleh fakta kemiripan antara ajaran sufisme dengan kebudayaan Indonesia pra-Islam. Salah satu alasan utama di balik proses konversi ke dalam Islam adalah kemam­puan para guru sufi menghadirkan Islam dalam bentuk yang menarik terutama dengan menekankan kontinuitas daripada perubahan dalam kepercayaan dan praktik tradisi kegamaan lokal. Karenanya model Is­lam yang tersebar di kawasan ini selama periode awal Islam di Indo­nesia adalah model sufisme-sinkretis yang dalam beberapa hal tidak sesuai dengan ajaran syariah (Azra, 2002:210).

Menurut Alwi Shihab, tasawuf adalah faktor terpenting bagi tersebarnya Islam secara luas di Asia Tenggara. Meski setelah itu terjadi perbedaan pendapat mengenai kedatangan tarekat, apakah bersamaan dengan masuknya Islam atau datang kemudian. Perbedaan yang sama terjadi pula mengenai tasawuf falsafi yang diasumsikan sebagai sumber inspirasi bagi penentuan metode dakwah yang dianut dalam penyebaran Islam tersebut (Shihab, 2001: 36). Sufisme atau tarekat dalam sejarah perkembangan Islam di Indonesia memiliki arti penting. “Islam Pertama” yang diperkenalkan di Jawa, sebagaimana tercatat dalam babad, adalah Islam dalam corak sufi. Islam dalam corak demikian itulah yang paling mampu memikat lapisan bawah, menengah dan bahkan bangsawan (Mufid, 1992:29).

Kerajaan Islam yang pertama kali berdiri adalah Perlak di Aceh pada tahun 225 H (abad ke-9 M). Agama Islam yang masuk ke Indonesia pada awal-awal itu masih asli, karena langsung dari Arab. Snouck Horgronje mengatakan bahwa watak Islam pada zaman Nabi adalah seperti anak muda yang penuh dengan vitalitas dan kemauan dan hanya dibekali oleh Al-Qur’an dan Sunnah Nabi dalam suatu lingkungan yang terbatas. Pada zaman Khalifah, watak Islam ibarat orang dewasa malahan sudah orang tua (Abdul Gani dalam Hasymy ed. , 1989:112). Maka boleh jadi yang masuk adalah pengaruh yang aneh maka biasanya akan menjadi tonggak yang akan dikenang orang.

Akibat perkenalannya dengan pemikiran-pemikiran Yunani, sehubungan dengan semakin besar dan jayanya Islam pada abad ketiga Hijriyah dan kemudian diadakan penerjemah besar-besaran terhadap buku-buku hasil pemikiran dan pengetahuan Yunani yang dikenal sudah tinggi khususnya pemikiran filsafat, maka mulailah ajaran Islam kemasukan faham filsafat. Di samping itu semakin meluasnya Islam ke beberapa kerajaan yang besar dan sudah maju ilmu pengetahuan serta kebudayaanya semacam Persia, maka Islam sudah berakulturasi dengan budaya setempat sehingga lahir pemikiran tempatan yang ‘disesuaikan’ dengan Islam.

Aceh adalah yang pertama mula menerima Islam karena memang sejak abad ke 1-6 M Aceh telah memainkan peranan penting dalam perdagangan maritim internasional (Daudy,1983:90). Setelah agama Islam masuk di pulau Sumatra, peranan Aceh dalam perdagangan semakin menonjol , terutama setelah lahirnya kerajaan Pasai pada abad ke-13 M (Daudy : 10-11). Pada abad ke-16 M, kerajaan Aceh Darussalam muncul sebagai suatu negara yang kuat dan berkedaulatan di bawah kekuasaan Sultan Ali Mughayat Syah (Daudy, 1983:16). Kerajaan Aceh mencapai puncak keemasan pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (wafat 1636 M). Peranan ahli sufi semakin menonjol dalam penyebaran agama Islam di kawasan Asia Tenggara setelah Baghdad jatuh ke tangan orang Mongol pada tahun 1258 M. Mereka bukan saja terdiri dari orang-orang Arab tetapi juga orang-orang Persi dan India (Daudy, 1983 :26) yang kedatangan mereka itu disambut dengan sangat baik oleh berbagai kerajaan.

Sejak jaman Sultan Malik al-Zahir (wafat 1326 M) Pasai telah menjadi pusat studi dan dakwah Islam. Di istana sering berkumpul para ulama besar Persia, India, Arab, dll. untuk berdiskusi masalah-masalah agama antara lain masalah esoterik, pemikiran-pemikiran filsafat juga mistik. Selain itu juga menjadi pusat pengiriman mubalig ke berbagai tempat seperti di Jawa, Malaka, Patani, dll ( Daudy, 1983:27-29). Hubungan dengan India sangat erat sehingga istilah agama seperti gelar Makhdum yang dipergunakan di India untuk guru-guru dan ulama juga digunakan di Pasai.

Sifat kehidupan agama dalam kerajaan Pasai pada abad ke-14 -15 sangat didominasi oleh ajaran mistik. Diduga ajaran tarikat sufi juga telah berkembang dalam jaman itu. Itulah yang merupakan faktor yang sangat menentukan jalannya kehidupan dan pemikiran keagamaan dalam kerajaan Aceh Darussalam yang lahir kemudian sekitar abad ke-16 (Daudy, 1983: 30). Aceh kedatangan sufi-sufi dari berbagai negara yang secara langsung menciptakan iklim kehidupan mistik dan melahirkan pemikiran terhadap masalah-masalah keagamaan,juga buku-buku tasawuf yang penting karya Abdul Karim al-Jilli (Insanul-Kalim fil-Ma’rifatil-awakhir wal-awa’il), Ibnu Arabi (Fusushul-Hikam, Futuhatul-Makiyyah), Muhammad bin Fadhlullah al-Burhanpuri (at-Tuhfatul-Mursalah ila Ruhin- Nabi). Keempat kitab itu sangat memainkan peranan pentingnya dalam perkembangan pemikiran agama terutama tentang filsafat mistik wachdatul wujud/ pantheisme yang diajarkan oleh Hamzah Fansuri dan Syamsuddin as-Sumatrani yang dikenal dengan ajaran wujudiyyah dan teori martabat tujuh. Akhirnya ajaran mistik Islam ini sangat mendominansi Aceh.

Orientasi kehidupan keagamaan yang lebih berciri kepada ajaran mistik telah memberikan peluang luas bagi ahli-ahli sufi. Mereka dijadikan menjadi penasehat dan mufti, walaupun ia sangat menyimpang dari ajaran resmi yang diakui dan dihayati kalangan istana dan umum. Contohnya adalah Syamsuddin as-‘Sumatrani. Dia adalah seorang tokoh yang tasawuf wujudiyyah yang telah memperoleh kedudukan tinggi sebagai orang kedua dalam kerajaan Aceh pada masa Sultan Iskandar Muda. Selain berkedudukan sebagai mufti dengan gelar Syaichul-Islam, dia juga sering dipercaya Sultan dalam urusan-urusan kenegaraan. Dengan kedudukannya, menjadikan nya sebagai tokoh mistik yang dihormati dan disegani. Contoh lain misalnya Nuruddin Arraniry yang datang ke Aceh sebelum 1637 M dan yang untuk kedua kalinya (1637 M) diberi kesempatan oleh Sultan Iskandar Tsani sebagai mufti. Dialah yang menyanggah ajaran wujudiyyah-nya Hamzah Fansuri dan Syamsuddin, walaupun sebetulnya dia sendiri adalah pengikut ajaran wahdatul wujud yang lebih moderat.

Pengaruh tasawuf di dalam kehidupan kerajaan Aceh semakin jaya terutama semasa berkuasanya Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam Syah (1606/1607-1636). Pada masa itu banyak ulama-ulama intelek yang berdomosili di Aceh. Pertama, secara geografis, kerajaan Aceh sangat strategis dalam lalu lintas perdagangan di Asia Tenggara. Kedua, sultan Aceh yang bernama Iskandar Muda Mahkota Alam Syah sangat mencintai Islam, alim ulama,dan ilmu pengetahuan, yang semua itu didukung oleh rakyatnya. Sementara itu pada masa dahulu orang Islam memang termasuk orang yang ahli dalam berdagang. Namun, bagi mereka, berdagang bukanlah menjadi tujuan pokok, tetapi hanya sebagai alat untuk menyebarkan agama Islam.

Pada saat itu sebagaimana dikatakan di depan, ulama-ulama yang menganut faham mistik sangat mendapat tempat yang paling utama. Dari Makkah telah datang Al Alim Allamah Syech Abdul Khair dan Al-Alim Allamah Syech Muhammad Al-Yamin pada sekitar tahun 990H/1582 M (Zainuddin,tt:252). Keduanya adalah tokoh sufi yang sealiran dengan ulama Hidustan seperti Syech Syaifur-Rijal. Faham kedua tokoh dari Mekkah tadi disokong olah Syech Hamzah Fansuri dan muridnya Syech Syamsuddin As-Sumatrani. Selain itu Syech Fadhlullah al-Burhanpuri yang menulis kitab memperkuat sokongannya terhadap dua Syech dari Arab tadi. Kitab Tuchfatul-Mursala tersebut menjadi pegangan kuat kaum sufi yang menganut ajaran martabat tujuh yang kemudian disimpulkan di dalam ajaran wachdatul wujud.

Alam pikiran sufi yang mempunyai pengaruh luas dan bercorak pantheistik terutama jelas sekali di kalangan ahli-ahli fikir Sumatra Utara semenjak abad ke-16 dan permulaan abad ke-17 Masehi. Ada dua orang di antara tokoh-tokoh sufi itu yang sangat menarik untuk dibicarakan sehubungan dengan aliran pantheistik ini yaitu Syech Hamzah Fanshuri dan Syech Syamsuddin Sumatrani. Mereka berdua sangat terpengaruh oleh alam fikiran Ibnu Araby yang terkenal dengan ajaran wachdatul-wujudnya yang oleh penentangnya (misalnya Syech Nuruddin ar-Raniry) disebut wujudiyah. Ajaran lain yang terkenal dari mereka yang juga mempengaruhi pemikiran tasawuf di Sumatera ini adalah ajaran tentang al-chaqiqatul muchammadiyah/ nur muhammad. Ajaran ini telihat jelas di dalam Hikayat Nur Muhammad.

Hikayat Nur Muhammad adalah bentuk lain dari pengungkapan ajaran Nur Muhammad yang pertama-tama dimunculkan oleh Al-Hallaj. Di dalam hikayat ini juga terasa adanya unsur Syiah dengan diletakkan Ali sebagai kepala burung perwujudan Nur Muhammad. Cerita seperti ini juga tidak ditemukan di dalam riwayat-riwayat Nabi, melainkan memang merupakan cerita yang berkembang dalam konteks para sufi. Di kalangan para sufi konsep Nur Muhammad telah menjadi konsep sentral hampir pada semua aliran atau tarekat tasawuf.

Ketertarikan terhadap sufisme di Kepulauan Melayu-Indonesia tidak terbatas pada kalangan ulama dan awam Muslim. Para pengua­sa Melayu di wilayah ini juga tertarik pada konsep sufistik Islam ter­utama tentang al-insan al-kamil (manusia sempurna). Mereka sering menganggap diri mereka sebagai manusia sempurna dengan menggu­nakan istilah-istilah sufistik yang terkenal “wali Allah” atau “quthub”.

8. Kesimpulan

Ide Nur Muhammad merupakan sebuah paham di dalam tasawuf, falsafi, yang menganggap bahwa dunia seisinya itu bermula dari Nur Muhammad. Paham Nur Muhammad dalam tradisi sufi bermula dengan adanya pemujaan dan penghargaan terhadap manusia agung, Nabi Muhammad saw., yang namanya selalu disandingkan bersama Allah dalam persaksian (syahadat) seorang muslim. Ide ini bermula dari Muqattil seorang teolog abad ke-6 M yang menafsirkan Al-Qur’an surat An-Nuur 24:35.

Ide Sahl At-Tustari tentang ayat cahaya di atas mempengaruhi para sufi berikutnya seperti Al Hallaj yang kemudian mengembangkannya di dalam faham Nur Muhammad. Konsep al Hallaj tentang Nur Muhammad selanjutnya diteruskan oleh Ibnu Araby dengan konsep wachdatul wujud dan dilanjutkan oleh Abdul Karim Al Jilli dalam Insanul kamil. Selanjutnya konsep itu masuk ke nusantara. Timbulnya gagasan Nur Muhammad di dalam kesusastraan Melayu ini tak bisa dilepaskan dengan masuknya Agama Islam ke Nusantara (Melayu). Seminar masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia di Aceh pada tanggal 10-16 Juli 1978 menegaskan hasil Seminar Sejarah Islam di Medan tahun 1963 bahwa Agama Islam masuk ke Indonesia pada abad I Hijriah yang langsung dibawa dari tanah Arab, dan daerah yang pertama kali menerima adalah Aceh. Peranan ahli sufi semakin menonjol dalam penyebaran agama Islam di kawasan Asia Tenggara setelah Baghdad jatuh ke tangan orang Mongol pada tahun 1258 M. Mereka bukan saja terdiri dari orang-orang Arab tetapi juga orang-orang Persi dan India yang kedatangan mereka itu disambut dengan sangat baik oleh berbagai kerajaan.

Kedatangan sufi-sufi dari berbagai negara ke Aceh secara langsung menciptakan iklim kehidupan mistik dan melahirkan pemikiran terhadap masalah-masalah keagamaan, juga buku-buku tasawuf yang penting karya Abdul Karim al-Jilli (Insanul-Kalim fil-Ma’rifatil-awakhir wal-awa’il), Ibnu Arabi (Fusushul-Hikam, Futuhatul-Makiyyah), Muhammad bin Fadhlullah al-Burhanpuri (at-Tuhfatul-Mursalah ila Ruhin- Nabi). Keempat kitab itu sangat memainkan peranan pentingnya dalam perkembangan pemikiran agama terutama tentang filsafat mistik wachdatul wujud/ pantheisme yang diajarkan oleh Hamzah Fansuri dan Syamsuddin as-Sumatrani yang dikenal dengan ajaran wujudiyyah dan teori martabat tujuh. Akhirnya ajaran mistik Islam ini sangat mendominansi Aceh.

Alam pikiran sufi yang mempunyai pengaruh luas dan bercorak pantheistik terutama jelas sekali di kalangan ahli-ahli fikir Sumatra Utara semenjak abad ke-16 dan permulaan abad ke-17 Masehi. Ada dua orang di antara tokoh-tokoh sufi itu yang sangat menarik untuk dibicarakan sehubungan dengan aliran pantheistik ini yaitu Syech Hamzah Fanshuri dan Syech Syamsuddin Sumatrani. Mereka berdua sangat terpengaruh oleh alam fikiran Ibnu Araby yang terkenal dengan ajaran wachdatul-wujudnya yang oleh penentangnya (misalnya Syech Nuruddin ar-Raniry) disebut wujudiyah. Ajaran lain yang terkenal dari mereka yang juga mempengaruhi pemikiran tasawuf di Sumatera ini adalah ajaran tentang al-chaqiqatul muchammadiyah/ nur muhammad. Ajaran ini telihat jelas di dalam Hikayat Nur Muhammad.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Hawasy. 1980. Perkembangan Ilmu Tasawuf dan Tokoh-tokohnya di Nusantara. Surabaya : Al-Ikhlas.

Abdullah, Imran T, 1999 Hikayat Meukuta Alam: Suntingan Naskah beserta analisis Struktur dan Resepsi

Abdullah, Samudi. 1982. Analisa Kritis Terhadap Tasawuf. Surabaya : PT. Bina Ilmu.

———. 1984. “Teori Penciptaan dalam Faham Wahdatul Wujud Kaum Sufi dan Kebatinan dalam Walisongo, (No. 10. Januari 1984) : hal 21-26.

Afifi, A.E.1989. Filsafat Mistis Ibnu Araby terj. Shayrir Mardi dan Nandi Rahman. Jakarta : Gaya Media Press.

Ahmad, Nur Fawzan. 1995. “Nur Muhammad, Sejarah Timbul dan Pengaruhnya, Disertai Telaah Struktur atas Hikayat Nur Muhammad” Skripsi S-1 pada Fakultas Sastra Universitas Diponegoro. Semarang

Ardani, Mohammad. 1989. Sumbangan Islam dalam Pembentukan Jatidiri Jawa: Studi Mengenai Suluk dan Serat-serta Piwulang. Makalah Seminar Jatidiri Jawa Tengah di IAIN Walisongo Semarang, 3 April 1989.

Azra, Azyumardi. 1994. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII. Bnadung: Mizan

Atja. 1966. “Hikayat Nur Muhammad”. Skripsi Sarjana Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Jakarta.

Bowering, Gerhard. 1979. “The Phrophet of Islam : The First and The Last Prophet” dalam The Message of The Prophet. Hal : 48-60. Islamabad : Gobernment of Pakistan.

Bruinessen, Martin van. 1995. KItab Kuning, Pesantren dan Tarekat: Tradisi-tradisi Islam di Indonesia. Bandung: Mizan

Daudy, Ahmad. 1983. Allah dan Manusia dalam Konsepsi Syekh Muhammad Nuruddin Ar-Raniry. Jakarta : Rajawali.

Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta : Proyek Pengadaan Terjemahan Al Qur’an.

Departemen Pariwisata Pos dan Telekomunikasi. 1991. Pameran Surat Emas Raja-Raja dan Naskah-Naskah Nusantara. Booklet. Yogyakarta : 15-21 September 1991.

Gaynor, Frank: 1953. Dictionary of Mysticism. New York: Philosopical Library

Hadiwijono, Harun. tt. Kebatinan Islam Dalam Abad Enam Belas. Jakarta : BPK Gunung Mulia.

Hallaj, Al Hussein Ibnu Manshur al- . 2002. .Kitab Thawasin. Kitab Kematian. Terjemahan Aisha Abdurrahman. Yogyakarta: Pustaka Sufi.

Hamka. 1971. Perkembangan Kebatinan di Indonesia. Jakarta : Bulan Bintang.

———. 1984. Tasawuf, Perkembangan dan Pemurniannya. Jakarta : Pustaka Panjimas.

Hasymi, A. 1989 . Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia. Bandng: PT Al Ma’arif.

Massignon, 1982. The Passion of Al Hallaj, Mystic and Martir of Islam, vol 3, Translated by Herbert Masson) . New Jersey: Princenton University Press.

Mufid, Ahmad Syafii. 1992. “Aliran-Aliran Tarekat di Sekitar Muria Jawa Tengah” dalam Jurnal Pesantren, 1/Vol IX, 1992. hlm. 29)

Muin, K.H.M. Taib Thahir Abdul. 1986. Ilmu Kalam. Jakarta : Wijaya

Nasr, Sayyid Husein. 1968. Science and Civilization in Islam, Cambridge, Harvard University Press, 1968

———- 1985. Tasauf Dulu dan Sekarang terj. Abdul Hadi W.M. Jakarta : Pustaka Firdaus.

——– 2003. Ensiklopedi Tematis, Spiritualitas Islam, Manifestasi. Bandung: Mizan

Nasution, Harun. 1974. Filsafat Agama. Jakarta : Bulan Bintang.

———.1987. “Syi’ah, Asal-Usul, Ajaran-ajaran dan Perkembangannya” makalah dalam Diskusi Buku Agama, Trend Bacaan 1980-an Cermin Meningkatnya Telaah Keagamaan di Hall D Arena Pekan Raya Jakarta, tanggal 4 Agustus 1987, dalam rangka HUT ke-16 Majalah Tempo.

———. 1990. Filsafat dan Mistisisme dalam Islam. Jakarta : Bulan Bintang.

Natsir, Lies Marcoes, 2008. “Fitnah di Balik Fitnah” Kolom. Gatra. Nomor 22.

Kamis, 10 April 2008

Nicholson, A. Studies in Islamic Mysticism, New Delhi: Idarah Adabiyat Delhi.

Ronkel, Ph.S van. 1921. Catalogus der Maleische Handschriften in Het Museum van Het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. Batavia.

Sutaarga, Amir. dkk. 1972. Katalogus Koleksi Naskah Melayu Museum Pusat. Jakarta : Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Nasional, Direktorat Jendral Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Schimmel, Annimarie , 1982. As Through a Veil: Mystical Poetry in Islam. New York: Columbia University Press .

————- 1991. Dan Muhammad adalah Kekasih Allah, Penghormatan Terhadap Nabi Saw dan Islam. terj. Rahmani Astuti & Ilyas Hasan. Bandung : Mizan.

Sofwan, Ridin. 1999. Menguak Seluk Beluk Aliran Kebatinan. Semarang: CV Aneka Ilmu bekerjasama dengan IAIN Walisongo Press.

Sudardi, Bani. 2003. Sastra Sufistik: Internalisasi Ajaran-ajaran Sufi dalam Sasta Indonesia. Solo: PT Tiga Serangkai.

Syukur, Asywadi. 1982. Ilmu Tasawuf I. Surabaya : Bina Ilmu.

al-Tusi, Abu Nasr as-Saraj. 2002. Al-Luma’ , Lajnah Nasyr at-Turats Ash-Shufi. diterjemahkan Wasmukan dan Samson Rahmat. Rujukan Lengkap Ilmu Tasawuf. Surabaya: Risalah Gusti.

Zainuddin, H.M. tt. Tarikh Aceh dan Nusantara. Medan : Pustaka Iskandar Muda.

Zoetmulder, P.J. 1990. Manunggaling Kawula Gusti. Jakarta: Gramedia

Zulkifli, 2002 Sufism in Java: The Role of Pesantren in the Maintenance of Sufism in Java. Leiden-Jakarta: INIS.

DAFTAR ISI

1. Pendahuluan. 1

2. Nur Muhammad di dalam Konsep Tasawuf Falsafi 5

3. Al Hallaj Peletak Dasar Gagasan Nur Muhammad. 8

5. Nur Muhammad Menurut Ibnu Araby. 11

6. Nur Muhammad dalam Pandangan Abdul Karim Al-Jilli 15

7. Masuknya Wacana Pemikiran Sufistik Nur Muhammad di Nusantara. 17

8. Kesimpulan. 21

DAFTAR PUSTAKA.. 22


[1] Husain bin Mansur Al-Challaj meninggal tahun 922 M / 309 H di atas tiang gantungan pada masa Khalifah al-Muktadir Billah karena pernyataan ana al-chaq yang menggemparkan. Al Hallaj sering disebut sebagai peletak dasar lahirnya gagasan Nur Muhammad (beliau menyebutnya Al-chaqiqatul Muhammadiyah (Abd Lilian, 1982:19 ; Syukur, 1982 : 53-54 ; Hamka, 1984 ; 122).

[2] Ibnu Araby mempunyai nama lengkap Abu Bakar Muhyiddin Muhammad bin Araby At-Thai Al-Haitami Al-Andalusi. Dia lahir di Mercia Spanyol tahun 598 H/ 116 M dan wafat di Damaskus tahun 638 H/ 1240 M. Semula dia menuntut ilmu fikih, Hadis dan Teologi mazhab Zahiri di Sevilla kemudian berguru kepada guru-guru yang banyak terpengaruh aliran filsafat Neo-Platonisme yang sedang berkembang pesat di Andalus (Hamka, 1984:153-154).

[3] Nama lengkapnya Abd al-Karim ibn Ibrahim ibn Abd al-Karim ibn Khalifah ibn Ahmad ibn Mahmud al-Jilli. Ia mendapatkan gelar kehormatan “Syaikh” yang biasa dipakai di awal namanya. Selain itu ia juga mendapatkan gelar “Quthb al-Din” (kutub/poros agama), suatu gelar tertinggi dalam hierarki sufi. Namanya dinisbatkan dengan al-Jilli karena ia berasal Jilan (Yaqut, 1986:201).

Teori Nur Muhammad dan teori Kejadian Alam Semesta

Sunday, January 15th, 2012

TEORI NUR MUHAMMAD DAN TEORI KEJADIAN ALAM SEMESTA:

TINJAUAN DARI FILSAFAT, ILMU PENGETAHUAN DAN AGAMA

Nur Fauzan Ahmad, S.S. M.A

A. Pendahuluan

Faham Nur Muhammad ini berkaitan erat dengan awal penciptaan dunia. Keduanya menjelaskan bahwa Nur Muhammad merupakan asal terciptanya alam semesta. Timbulnya faham ini ternyata ada hubungannya dengan filsafat Yunani khususnya Neo Platinisme dengan teori emanasinya. Pada bagian ini akan diuraikan bagaimana pandangan filosof Yunani, khususnya Plotinus sebagai pembina teori emanasi tentang penciptaan dunia, bagaimana pandangan filosuf Islam, bagaimana pula pandangan agama Hindu, Budha, dan Nasrani. Sebagai perbandingan, dipaparkan pula teori penciptaan dunia menurut ilmu pengetahuan dan Al-Quran.

B. Teori Nur Muhammad di dalam Hikayat Nur Muhammad

Hikayat Nur Muhammad (selanjutnya disebut HNM) merupakan khazanah sastra Melayu yang terkenal dengan bukti banyaknya penyambutan terhadapnya sehingga terjadi banyak variasi. Naskah HNM yang akan dipakai sebagai dasar analisis resepsi ini naskah Gen. 378 C/ Ml. 378 C. Di Perpustakaan Nasioanl RI Jakarta terdapat 7 naskah yang berisi Hikayat Nur Muhammad.

Berikut disajikan deskripsi dari naskah HNM yang merupakan koleksi dari Perpustakaan Nasional RI.

Nomor Naskah

Bat. Gen. 378 C / Ml. 378 C

Ukuran Naskah

15 x 20 cm

Jumlah halaman

11 halaman dimulai dari halaman 15 sampai 25.

Jumlah Baris

15 baris. Setiap baris diberi nomor di bagian kanan teks.

Huruf

Arab Melayu

Tulisan

Tulisan tangan huruf cukup jelas

Tinta

Hitam

Bahasa

bahasa Melayu

Keadaan Naskah

Naskah sudah agak lapuk, sebagian sudah dilapisi dengan kertas minyak dan berlubang di beberapa tempat. Di beberapa halaman terdapat coretan dan catatan yang mungkin dibuat oleh para pembaca atau penyambut terdahulu

Water mark

Terdapat gambar mahkota.

Kolofon

Tidak ada

Penomoran

ditulis dengan pensil di bagian atas halaman dengan angka latin.

Keterangan Lain

Beberapa kata yang agak sulit dibaca atau meragukan bacaannya diberi coretan dan lingkaran. Hal ini menunjukkan bahwa naskah ini sering dibaca dan diteliti. Pada halaman 26 terdapat skema atau bagan tentang awal, akhir , dahi dan batin Muhammad..

Pada naskah ini terdapat tujuh cerita yang saling berdiri sendiri, yaitu:

1. ….. tidak terbaca (hal 1-4)

2. Tak berjudul tetapi isinya masalah tarikat, ma’rifat dan syari’at. (hal 4-14)

3. Hikayat Nur Muhammad. Hal 15-25

4. berisi masalah tauhid, ma’rifat dan soal-soal sholat (tidak teratur dan tak berjudul) hal 26-30

5. berisi tanda-tanda sakaratul maut (tak berjudul) hal 31-43

6. ….. (tak terbaca) hal 44 –47

7. Hikayat Fatimah r.a. Tatkala Ia Berkata dengan Pedang Ali yang Bernama Dzil Faqor. Hal 44 – 47.

8.

Pokok-pokok Isi Cerita

Jika dibandingkan dengan naskah lain, naskah ini bisa dikatakan paling lengkap ceritanya. Isinya menceritakan bahwa Nur Muhammad merupakan awal penciptaan Allah. Ia diperintahkan bersujud dan melakukan kewajiban kelima rukun Islam. Lalu ia dijadikan seekor burung yang sangat indah berkepala Ali, bermatakan Hasan dan Husein dan orang-orang anggota keluarga Nabi (hal. 15-16).

Tuhan menciptakan tujuh laut, kemudian Nur Muhammad diperintahkan untuk berenang ke dalamnya. Sekeluarnya dari ketujuh laut itu Nur Muhammad disuruh untuk menggerakkan badannya sehingga keluarlah tetesan-tetesan air. Dari tetesan air badannya itulah tercipta segala sesuatu (hal 16-19). Tuhan menciptakan empat unsur, air, api, angin dan tanah. Nur Muhammad disuruh mendatangi keempat unsur tadi. Kesemuanya menyombongkan diri kecuali tanah. Akhirnya Tuhan menciptakan manusia dari tanah dan setiap manusia pasti bertabiat empat unsur tadi (hal 19-23). Cerita ditutup dengan akibat dari orang yang mau membaca dan menaruh Hikayat Nur Muhammad, di sini dicontohkan pengalaman Sayid Azzunawi (hal 23-24).

Naskah ini dianggap sebagai naskah individual yang siap untuk dianalisis berikutnya. Hal ini didasari bahwa tidak ada yang diperkirakan menyimpan teks asli dalam pengertian filologi tradisional (Baried, at all 1985a). Di samping itu karena di dalam konvensi Melayu terdapat kebebasan besar bagi penyalin untuk menyambut atau menyalin (Teeuw, 1983: 149), maka masing-masing naskah salinan berhak menjadi sumber kajian bagi studi teks. Teks individu yang merupakan salinan entah yang keberapa ini merupakan kreasi dan bentuk sambutan terhadap naskah asli yang merupakan bentuk ajaran dalam dunia tasawuf.

Hikayat tentang Nur Muhammad ini semula memang berasal dari sebuah paham yang dikemukakan oleh Al Hallaj. Semula ia merupakan ajaran di dalam tasawuf falsafi. Dalam perkembangan berikutnya, setelah disistemasikan oleh Ibnu Araby dan Abdul Karim al-Jili dan masuk ke Nusantara, cerita ini berkembang bahkan jauh dari aslinya. Hampir semua naskah menyebutkan bahwa Nur Muhammad adalah sebagai asal mula kehidupan. Berikut akan dijelaskan bagaimana tanggapan HNM, khususnya versi G sebagai dasar pemahaman terhadap doktrin Nur Muhammad itu.

C. Teori Kejadian Alam Semesta dalam Pandangan Filsafat

Filsafat adalah induk dari segala ilmu. Ia merupakan awal mula ilmu pengetahuan. Ia memandang alam ini sebagai satu kesatuan yang belum terpecah-pecah dan membahasnya secara keseluruhan yang bersangkutan satu dengan yang lainnya. Kalau ilmu-ilmu lain yang disebut ilmu vak misalnya ilmu alam, ilmu ekonomi, ilmu hukum, membahas sebab dan akibat dari sesuatu, maka filsafat menyelidiki hakikat dari sesuatu itu. Jika ilmu-ilmu vak dalam pembahasannya harus menjawab “bagaimana” dan “apa sebabnya”, maka filsafat lebih dalam lagi, yaitu membahas “apakah dia sebenarnya, dari manakah asalnya dan “hendak ke mana perginya”. Ilmu filsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta, dan manusia sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana sikap manusia itu sebenarnya setelah mancapai pengetahuan itu (Bakri.1986:12).

Ada tiga persoalan pokok ilmu yang dipelajari filasafat menurut Aristoteles yaitu metefisika (pendahuluan filsafat), metafisika(persoalan filsafat),dan etika(tujuan filasafat) (Bakri,1986:17).

Metafisika sebagai salah satu cabang ilmu filsafat, adalah suatu ilmu yang menyelidiki apakah hakikat di balik alam nyata ini. Metafisika ini sering juga disebut ontologi yang berarti juga ilmu hakikat (Bakri,1986:50-51). Pertanyaan-pertanyaan dari mana alam ini berasal, apakah alam ini diciptakan atau ada dengan sendirinya, dan ke mana perginya alam ini, merupakan pertanyaan-pertanyaan metafisika.

1. Kejadian Alam Semesta dalam Pandangan Filosuf Yunani

Ada tiga mazhab (pemikiran) yang pernah hidup di Yunani, sebelum para filosof muncul dari kawasan terse­but. Yaitu: Ionik, Dorik, dan Eleatik. Di antara para filosof Ionik, yaitu Thales dari Miletus, menyatakan bahwa air adalah asal-muasal dari seluruh benda. Sedang Anaxamines dari Milesian memandangnya udaralah penyebabnya. Dan Diogenes dari Apollonia, memandang udara sebagai sebab pertama bagi satu jenis jiwa yang cerdas. Phytagoras dari mazhab kedua, dari Dorik, memandang bilangan sebagai sebab pertama. Sedangkan filosof Eleatik, Xenophenes, memandang Tuhan sebagai satu dan segalanya. Sementara Parmenides memandang wujud mutlak dan pemikiran mut­lak adalah serupa. Dan Zenolah yang pertama kali menya­takan bahwa ada dunia yang tidak nyata dan realitas yang mutlak (Khan: 1987:41)

Filsafat Yunani yang pertama kali timbul adalah filasafat materialisme, yaitu suatu aliran yang menganggap bahwa yang ada itu hanyalah materi, dan segala sesuatu yang lain itu yang disebut jiwa atau roh tidaklah merupakan suatu kenyataan yang berdiri sendiri. Aliran ini biasanya dikaitkan dengan teori atomistik dalam bentuknya yang kuno. Menurut teori ini semua benda tersusun dari sejumlah bahan yang disebut unsur. Unsur itu bersifat tetap;t idak dapat dirusakkan. Bagian-bagian yang kecil dari unsur itu yang disebut atom (Bakri ,1986:52).

Para ahli filsafat materialisme menyelidiki asal-usul kejadian alam ini pada unsur-unsur kebendaan yang pertama. Thales (625-545SM) menganggap bahwa unsur asal itu adalah air. Anaximandros (610-525SM) menganggap bahwa unsur asal itu adalah apheirion, yakni suatu unsur yang tak terbatas. Anaximenes (585-525 SM) menganggap bahwa unsur asal itu adalah udara. Tokoh terakhir dari alam ini Demokritos menganggap bahwa hakikat alam ini merupakan atom-atom yang jumlahnya tak dapat dihitung dan sangat halus. Atom-atom itulah yang merupakan asal dari kejadian peristiwa alam.

Selanjutnya Demokritos, (Bakri 1986:53-54) mengemukakan dalil tentang atomistik sebagai berikut :

1. Dari yang tidak ada tidak akan terjadi apa-apa. Apa yang ada tidak dapat ditiadakan lagi. Semua perubahan hanya merupakan percampuran dan perpisahan dari bagian.

2. Tidak ada suatu peristiwa pun yang terjadi dengan kebetulan. Semua terjadi dari suatu dasar dan dengan kepastian.

3. Tidak ada yang lain dalam alam ini kecuali atom-atom dan ruang kosong.

4. Atom-atom tak terhitung jumlahnya an terbentuknya berbeda-beda

5. Atom-atom yang lebih besar dengan melalui ruang kosong itu menabrak atom-atom yang lebih kecil dan dengan itu terjadilah gerakan yang terus menerus yang mengembangkan kejadian dunia ini.

6. Bangun dan rupa benda yang berbeda-beda dalam alam ini disebabkan dari keadaan yang beraneka ragam dari atom-atom yang berbeda jumlah, besar dan bentuk dan susunannya.

7. Jiwa juga terdiri dari atom-atom, hanya bentuknya halus,licin dan bulat serupa dengan atom api.Atom jiwa ini mempunyai sifat gerak yang paling banyak dan dengan gerakannya yang meliputi segenap badan timbullah gejala-gejala hidup olehnya.

Pada abad ke-19 M, aliran ini mendapat tantangan hebat dari kaum agamawan, sebab mereka dengan terang-terangan tidak mengakui adanya Tuhan yang sudah diyakini mengatur budi masyarakat. Kaum agamawan mengkritiknya antara lain:

1. Materialisme menyatakan bahwa alam wujud ini terjadi dengan sendirinya dari chaos (kacau balau), padahal (menurut Hegel) kalau kacau balau namanya.

2. Materialisme menerangkan bahwa segala peristiwa diatur oleh hukum alam. Padahal pada hakikatnya hukum hukum alam ini adalah perbuatan rokhani pula.

3. Materialisme mendasarkan segala kejadian dunia dan kehidupan pada asal benda itu sendiri, padahal dalil itu tambah menunjukkan adanya sumber dari luar alam itu sendiri yaitu Tuhan.

4. Materialisme tidak sanggup menerangkan suatu kejadian yang peling sahaja sekalipun.Misalnya mereka katakan tentang berfikir adalah suatu gerakan fikiran itu hanya gerakan sel otak saja,lalu apa bedanya dengan fikiran baik dan fikiran buruk, sedang keduanya sama-sama gerakan belaka (Bakri,1986:55).

Karena ketimpangan-ketimpangan itu lahirlah aliran idealisme (serbacita), yang disebut juga spiritualisme (serbaroh). Mereka menganggap bahwa roh atau sukma adalah hakikat yang sebenarnya, sementara materi hanyalah badan, bayangan atau penjelmaan saja. Bagi mereka, materi itu tidak ada. Yang kita sebut materi sebenarnya adalah suatu kumpulan berbagai tenaga yang menempati ruang. Tenaga itu adalah sejenis rohani.

Aliran ini merupakan aliran yang sangat penting dalam perkembangan sejarah pemikiran manusia. Di dalam filsafat Barat, hal itu kita temukan misalnya pada Plato. Ia mengatakan bahwa alam cita-cita, alam fikiran (idea) itu adalah yang merupakan kenyataan yang sebenarnya. Sedangkan alam nyata itu hanyalah bayangan dari alam idea. Tokoh lain, Aristoteles memberikan sifat kerokhanian itu dengan ajarannya yang menggambarkan alam idea itu sebagai suatu tenaga (entelechie) yang berada dalam benda itu.

Dalam memberikan penjelasan tentang sebab kehadian alam ini para filosuf Yunani menerangkan, misalnya seperti kata Anaximandros bahwa unsur sumber itu adalah apherion. Unsur ini tidak sama dengan benda,maka ia tentu berasal dari yang tak terhingga dan tak berkeputusan (Bakri,1986:61).

Heraklitos menyatakan bahwa sumber kejadian adalah api, karena api adalah unsur yang berubah terus. Perubahan peristiwa dalam alam adalah sangat teratur dan terus menerus serta tak berujung pangkal. Teraturnya perubahan dalam alam yang berputar logos yaitu fikiran dunia yang mengatur perubahan ini. Logos itu mirip dengan sunnatullah atau iradat Allah dalam ilmu Kalam. Hanya sayangnya ia tidak menemukan siapa pencipta sebab pertama.

Empedokles menggambarkan bahwa kodrat yang menyatukan dan mengatur alam ini adalah cinta dan kodrat cinta. Itulah yang membawa manusia pada Tuhan. Anaxagoras menganggap bahwa kodrat yang mengemudikan alam itu adalah Nus. Nus itu awal dan akhir dari alam. Plato menggambarkan Tuhan sebagi Demeiourgos (Sang Pencipta) dari alam ini dan sebagai IdeaTertinggi dari alam idea yakni alam asli yang menjadi sumber dan contoh dari alam nyata di dunia ini. Aristoteles mengakui adanya Tuhan atas dasar teori Penggerak Pertama atau Sebab Pertama (Prima Causa).

Dari penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa para filosuf materialisme dari zaman Yunani kuno seperti Thales, Anaximandros, Anaximenes sampai pada Demokritos mengatakan bahwa alam semesta ini ada dengan sendirinya. Dengan kata lain alam semesta ini tercipta sendiri dari yang tidak ada (Djaelani, 1993:87). Paham ini sejalan dengan

2. Kejadian Alam Semesta Dalam Pandangan Filsafat Neo-Platonisme (Teori Emanasi Plotinus)

Plotinus (meninggal th. 270 M) mengajarkan teori emanasi/ pancaran. Ia menyusun sebuah hierarki ke-Adaan yang berpuncak pada Yang Tunggal. Dari Yang Tunggal secara berturut-turut memancarkan Ruh (nous) dan Jiwa. Yang Tunggal sebagai Prinsip pertama atau disebut juga Yang Baik, berada jauh menjulang ke atas, tidak dapat diperikan, tidak dapat didekati definisi-definisi, tidak dapat ditunjuk kata-kata, tidak dapat dihampiri, tidak mempunyai individualitas dan bebas dari segala bentuk kekembaran, tanpa wujud atau tanpa kehendak. Pendeknya di seberang sanalah segala sesuatu yang ada (Djaelani, 1993:90-91).

Dari sumber yang tidak terhampiri tersebut mengalirkan sebuah substansi Roh. Dalam proses itu Yang Tunggal tetaplah sempurna, tidak berubah. Hal ini di dalam Enneade III, 8, 10 dilukiskan laksana sebuah sumber yang tidak berawal, memberikan airnya kepada semua sungai tanpa mengurangi airnya sendiri, tetapi tetap tenang dan tidak berubah. Sungai-sungai yang bersumber padanya semula memperpadukan airnya, kemudian masing-masing mengikuti arusnya sendiri-sendiri (Zoetmulder, 1990:16).

Pada proses selanjutnya, substansi yang kedua (Roh) itu merupakan rantai antara Yang Tunggal dengan dunia yang beraneka. Dalam bentuknya yang ideal dunia itu sebagai prototip/ contoh purba bagi dunia inderawi (Kosmos noetos). Idea-idea itu berbaur dan larut dalam satu ketunggalan yang meliputi segala sesuatu. Roh hanya memandang dirinya sendiri. Di dalam dirinya sendirilah segala sesuatu yang lain dipersatukan menjadi tunggal. Di sini akal Budi Ilahi dilepaskan dari Zat ke-Allah-an dan dijadikan sebagai satu kenyataan tersendiri.

Substansi yang ketiga, yaitu Jiwa yang mengalir dari Roh, akan menunaikan fungsi tersebut. Apabila Roh hampir terdapat dalam dalam lingkungan Ilahi, maka jiwa mendekati dunia gejala-gejala keilahian itu. Jiwa-jiwa individual berkaitan erat denga jiwa satu-satunya itu. Dalam jiwa itulah jiwa-jiwa itu menyatu bagaikan dalam puncak bersama. Dalam penyatuan itu ada beberapa jiwa yang tetap manunggal, tetapi ada juga yang menjauhi Sang Jiwa. Artinya ia berpaling kepada dunia materi dan menjiwai dengan sinarnya. Jiwa yang sesat itu perlu dikembalikan. dibebaskan. mereka harus kembali kepada Ada sejati dan menjauhi Yang Tak Ada dengan cara meloloskan diri dari badan sehingga dapat terbangun dan menjadi dirinya sendiri. Selanjutnya dikatakan bahwa segala sesuatu yang Ada itu adalah tunggal (Zoetmulder, 1990:14-17).

Dalam proses kejadian alam, secara ringkas Plotinus beranggapan bahwa:

1. Alam semesta keluar dari zat pencipta yang azali dan abadi dan yang tidak dapat dicapai penglihatan , tidak dapat dibatasi oleh akal fikiran serta tidak dapat diketahui hakekatnya oleh otak manusia.

2. Semua roh adalah cabang dari roh yang satu dan berhubungan dengan Pencipta Pertama dengan perantaraan logos (akal).

3. Alam semesta dalam gerak pertumbuhannya ataupun gerak pembentukannya tunduk atau membutuhkan kepada tiga hal tersebut (pencipta pertama, akal dan roh) dan berada di bawah kekuasaannya. Menurut Plotinus, yang mula-mula keluar dari pencipta pertama adalah akal (logos) yang seolah-olah dianakkan. Dari akal yang mempunyai kekuatan mengadakan keluar roh yang merupakan kesatuan roh-roh (Abu Zahrah, 1969:39).

Logos (The Divine Mind) yang merupakan The World of Form/ alam mitsal ini oleh kaum Masehi dilekatkan kepada Nabi Isa a.s. Sehingga Isa/Yesus itu merupakan asal segala yang ada. Oleh kaum sufi, khususnya yang ekstrim, filsafat Neo-Platonisme yang berupa logos itu dilekatkan kepada konsep Nur Muhammad/ al-haqiqqatul-Muhammadiyah (Rasyidi, 1977:129). Misalnya pada konsep al-Hallaj, Ibn Araby dan Abdul Karim Al-Jilli di atas.

Menurut Hanafi (1990:32-33), Plotinus mendasarkan filsafatnya kepada dua dialektika (jalan), yaitu dialektika menurun (away down/ al-jadalun-‘nazil) dan dialektika menaik (away up/al-jadalus-‘said). Dialektika menurun digunakan untuk menjelaskan Wujud Tertinggi (The Highest Being, The First, at-‘Tabi’atul-ula, atau Wujudul-Awwal) dan cara keluarnya alam dari-Nya Dengan penjelasan terhadap “Wujud Tertinggi” itu maka Plotinus terkenal dengan teorinya “Yang Esa”. Ia sampai pada satu kesimpulan bahwa semua wujud, termasuk di dalamnya “Wujud Pertama” (Tuhan), merupakan rangkaian mata rantai yang kuat-erat, dan terkenal dengan istilah kesatuan wujud (Wahdatul-Wujud).

Di sini kita lihat bahwa emanasi Plotinus berarti selain melimpah dari Tuhan (Yang satu) juga mengarah kembali kepada Tuhan dan alam mahluk. Bagi Plotinus, setiap orang dapat mengusahakan diri untuk bersatu dengan Tuhan dengan arti menjadi Tuhan. Maka dari itulah Neo-Platonisme dari Plotinus ini dianggap berfaham pantheisme, yaitu suatu aliran yang menganggap bahwa semua alam ini adalah Tuhan (Bakri, 1986:66-67).

Aliran Neo-Platonisme merupakan campuran dari unsur-unsur Platonisme, Phitagoras, Aristoteles, Stoa dan Tasawuf Timur. Jadi, Neo-Platonisme mengandung unsur-unsur kemanusiaan (hasil usaha pemikiran manusia) keagamaan dan keberhalaan (bukan agama langit). Neo-Platonisme itu datang kepada kaum Muslimin dengan melalui aliran Masehi Timur Dekat, tetapi dengan sampul lain yaitu Tasawuf Timur dan pengakuan akan keesaan Tuhan, zat “Yang Pertama”, dengan ketunggalan yang sebenar-benarnya. Karenanya, mereka tertarik dengan filsafat tersebut . hal itu disebabkan filosuf-filosuf Yunani tidak bertentangan dengan Islam selama mereka mengakui keesaan Tuhan dan menganggap zuhud sebagai jalan menuju kebahagiaan manusia (Hanafi, 1990:31-32).

Teori emanasi Plotinus ini selanjutnya berpengaruh ke dalam filsafat Islam sebagaimana terlihat pada bahasan berikut.

3. Kejadian Alam Semesta Menurut Filosof Islam

Pada awal perkembangan Islam, sebenarnya kaum Muslimin tidak bermaksud mengutip pemikiran-pemikiran filsafat dari fihak mana pun. Bila kemudian terjadi perembesan sebagian ilmu-ilmu itu kepada orang Arab itu adalah akibat dari eratnya hubungan dengan bangsa-bangsa lain di sekitarnya yang terjadi sejak zaman jahiliyyah.

Pada masa Daulah Abasiyah, khalifah Al-Mansyur membangun kota Baghdad yang kemudian menjadi mercusuar di Timur dan jantung dunia Islam dalam kurun waktu yang amat panjang. Dari kota Jundshabur, pusat ilmu pengetahuan dan filsafat pindah ke Baghdad. Pada tahun 215 H, Khalifah Al-Makmun mendirikan akademi penerjemahan yang bernama Baitul Hikmah (Al-Ahwani, 1993:32-33). Selanjutnya pada masa khalifah Harun Al-Rasyid tahun 786 M, penerjemahan buku-buku ilmu pengetahuan Yunani ke dalam bahasa Arab pun mulai marak (Nasution, 1990:10-11). Sejak itulah timbul filosof-filosof dan ahli ilmu pengetahuan di kalangan umat Islam. Mereka itu misalnya Al-Razi dan Al-Zarkasyi dalam bidang kedokteran; Al Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, dll di kalangan filsafat. Muhammad, Ahmad dan Hasan dalam bidang Matematika. Jabir dalam bidang kimia; Al-Biruni dalam bidang astronomi, geografi dan sejarah, serta Al-Haitami di bidang optika (Nasution,1990:12-13).

Kaum filosof berpegang pada pendapat yang mereka warisi dari orang Yunani bahwa alam semesta adalah qadim/ azali sebagaimana dikemukakan oleh Aristoteles dan Plato serta Plotinus walaupun tidak secara tegas. Menurut Plato, alam memang qadim, tetapi Tuhanlah yang mengaturnya; sekalipun pada bab lain dari Dialogue-nya, ia mengatakan bahwa “Kreator” (pencipta) itulah yang mengharapkan ide azali, kemudian Ia mencipta alam seperti ide itu (Al-Ahwani,1993:110-111). Sementara itu Plotinus menampilkan teori emanasi (pemancaran,faidh/sudur pelimpahan), semacam teori wahdatul wujud.

Jika dikaitkan dengan pandangan Islam, pendapat-pendapat di atas tentu bertentangan. Islam dengan tegas menyatakan bahwa Tuhan sama sekali berbeda dengan alam. Ia maha tinggi dari segala sesuatu (QS,122). Islam menegaskan bahwa Tuhan menciptakan dari ketiadaan, dan Dia berkuasa untuk mengganti ciptaan-Nya atau mengembalikannya seperti semula (QS,39:38; 2:117; 21:16:3 ;30:8 ;11:123).

Para filosof Islam saling berbeda pendirian dalam menanggapi pendapat tersebut. Sebagian berpendapat seperti filosof Yunani bahwa alam ini qadim tetapi berusaha menafsirkannya dengan tidak mengingkari kekuasaan Tuhan yang Maha Pencipta. Sebagian mengikuti pendapat Islam bahwa alam ini tidak qadim dan tidak azali. Sebagian lainnya menganggap bahwa alam ini merupkan rangkaian kejadian yang berasal dari Zat Tuhan melalui pelimpahan “faidh/ emanasi”.

Berikut akan dibicarakan berbagai pendapat filosof Islam tentang kejadian semesta alam ini antara lain oleh Al-Farabi, Ibnu Sina, dan Al-Kindi, serta Ibnu Rusyd.

Al-Kindi yang berasal dari Kindah di Yaman tetapi lahir Kufah (irak) pada tahun 796 M (Nasution,1990:14), termasuk filosof yang menentang pendapat bahwa alam itu qadim. Beliau berpendapat bahwa alam itu berakhir (mutanahim), tidak azali. Hal itu didasarkan atas teori matematika dalam pendangannya mengenai alam semesta, beliau menampilkan teori bahwa setiap benda pasti berakhir. Demikian pula keseluruhan benda itu, yakni seluruh alam wujud. Karena setiap benda mempunyai jenis dan macam, maka benda itu tidak mungkin azali, sebab yang azali tidak berjenis. Jadi, bukan sesuatu yang azali (Al-Ahwani,1993:111). Al Kindi memandang alam ini adalah ciptaan Tuhan, tetapi tidak menerangkan bagaimana cara penciptaan itu kepada kita.

Menurut Al-Farabi (870 M,- 950 M) segala sesuatu itu keluar dari Tuhan (Yang Awal/Wujud Pertama). Jika sesuatu itu diadakan oleh Tuhan Yang Awal (Al ‘awwal) maka tidak bisa tidak mengetahui zat-Nya dan mengetahui bahwa ia menjadi dasar susunan wujud yang sebaik-baiknya. Jadi, ilmu-Nya menjadi sebab bagi wujud semua yang diketahui-Nya. Bagi Tuhan cukup dengan mengetahui zat-Nya yang menjadi sebab adanya alam agar alam ini terwujud. Jadi, dengan demikian keluarnya alam (makhluk) dari Tuhan itu tanpa gerak atau alat, karena emanasi adalah pekerjaan alam semesta (Nasution,1990:26; Hanafi,1991:92-93; Al-Ahwani,1993:113).

Eksistensi (wujud) segala sesuatu dari Yang Awal itu berlangsung secara melimpah/ faidh. Wujud pertama yang keluar dari Tuhan disebut Akal Pertama. Akal ini mengandung dua segi. Pertama, segi hakikatnya sendiri yaitu wujud yang mumkin. Kedua, segi lain, yaitu wujud yang nyata (wajib) yang terjadi dari Tuhan, sebagai zat yang menjadikan. Dari wujud yang nyata ini keluarlah Akal Kedua.dari pemikiran Akal Pertama, dalam kedudukannya sebagai Wujud yang Mumkin dan tidak mengetahui dirinya, timbullah Langit Pertama (First Heaven) atau benda langit terjauh dengan jiwannya sama sekali.

Dari Akal Kedua, timbullah Akal Ketiga dan Langit Kedua atau bintang-bintang tetap beserta jiwannya, dengan cara seperti yang terjadi pada akal pertama. Dari akal ketiga keluarlah akal keempat dan planet saturmus beserta jiwanya. Dari akal keempat keluarlah akal kelima dan planet yupiter beserta jiwanya. Dari akal kelima keluarlah akal keenam dan planet mars beserta jiwanya. Dari akal keenam lahir akal ketujuh dan matahari beserta jiwanya. Dari akal ketujuh lahir akal kedelapan dan planet venus beserta jiwanya. Dari akal kedelapan lahirlah akal kesembilan dan planet merkurius beserta jiwanya. Dari akal kesembilan keluarlah akal kesepuluh dan bulan.

Pada pemikiran akal kesepuluh, berhentilah timbulnya/ keluarnya akal-akal. Tetapi dari akal kesepuluh muncul bumi serta roh-roh dan materi pertama yang menjadi dasar dari keempat unsur; api, air, udara, dan tanah. Akal kesepuluhlah yang mengatur dunia yang ditempati oleh manusia.

Sedang menurut Al-Farabi, alam terjadi dengan tidak melalui permulaan dalam waktu. Artinya tidak terjadi secara berangsur-angsur, tetapi sekaligus dengan tak berwaktu. Materi asal dari alam memancar dari wujud Allah. Pemancaran itu terjadi dari qadim (tak bermula). Pemancaran diartikan sebagai penjadian. Materi dan alam dijadikan tetapi mungkin sekali bersifat qadim (Nasution, 1990: 26-32: Hanafi, 1991 : 81 – 113 dan Al Ahwani, 1990 : 113 – 115). Dari sini tampak bahwa pemikiran Al- Farabi ini berpijak pada aliran Neo Platonisme dengan teori emanasinya.

Sedangkan menurut Ibnu Sina yang nama lengkapnya Ali Abu Huseein Ibnu Abdillah Ibnu Sina (1037 M) Tuhan memancar dari Akal Pertama. Dari Akal Pertama memancar Akal Kedua dan langit pertama. Demikian seterusnya sehingga mencapai Akal Kesepuluh dan bumi. Dari Akal Kesepuluh memancarlah segala apa yang terdapat di bumi yang berada di bawah bulan. Akal Pertama itu adalah Jibril. (Nasution, 1990 : 30).

Berlainan dengan Al-Farabi, Ibnu Sina mengatakan bahwa keluarnya suatu dari yang satu itu tidak secara “tiga-tiga”. Pertama Akal Pertama mengerti akan dirinya yaitu Tuhan, maka terjadilah “akal” di bawahnya yang kedudukannta lebih rendah dari pada Akal Pertama. Kedua, karena akal yang lebih rendah itu mengerti akan zatnya sendiri maka terjadilah “cakrawala tertinggi” (al-falaqul-aqsa) yang kesempurnaannya berupa jiwa ( an-nafs, soul). Ketiga, karena watak yang memungkinkan terjadinya eksistensi yang lebih rendah sebagai hasil dari pengertian akan zatnya sendiri maka terjadilah “ cakrawala tertinggi” ( al-falaqul-aqsa) (lihat al-Ahwani, 1993 : 116 ; Nasution, 1990 : 34-38).

Dengan demikian dari “Akal” keluarlah tiga eksistensi yaitu : Akal, jiwa (nafs, soul) dan jisim (materi). Ibnu Sina menyesuaikan istilah filsafat dengan istilah agama. Dalam risalahnya yang berjudul Ma’rifat al-Nafs an-‘Natiqah, sebagaimana dikutip Al-Ahwani (1993 : 116), ia mengatakan :

“Akal mempunyai tiga daya pengertian. Pertama, ia mengerti akan penciptanya, yaitu Tuhan. Kedua, ia mengerti akan zatnyasendiri mempunyai kewajiban terhadap Al-Awwal , yakni Tuhan. Ketiga, ia mengerti akan kemungkinan yang ada pada zatnya sendiri. Dari pengertian Penciptanya, akal itu menghasilkan akal pula, yaitu substansi akal lain, tak ubahnya seperti sinar yang memantulkan sinar lainnya. Dari pengertian akan zatnya sendiri yang mempunyai kewajiban terhadap Al-Awwal, (tuhan) terjadilah al-Nafs (jiwa), yang juga merupakan substansi rohani seperti akal, tetapi menurut urutan ia lebih rendah. Dari pengertian akan kemungkinan yang ada pad zatnya sendiri terjadilah substansi kebendaan (jasmani, fisik) yaitu al-Falaq al-Aqsa (Cakrawala Tertinggi).

Al-Falak al Aqsa itu adalah juga Al-Falak al-Atlas yang di dalam istilah agama dikenal sebagai Al-Arsy. Akal kesepulah disebut juga Akal Efektif (Al-Aql-Fa’al), sebagai pemberi bentuk (wahib as-Suwar) yaitu Ar-Ruhul-Amin, Jibril dan An-Namus al-Akbar.

Dari Al-Wajib al-wujud turun secara berurutan beberapa eksistensi (wujud) hingga sampai ke Akal Kesepuluh dan planet bulan. Dari sini timbullah alam unsur, yaitu alam kaun wal-fasad (Alam Kejadian dan kerusakan, alam dunia) dengan empat unsur tersebut terjadilah benda-benda logam yang kemudian meningkat menjadi tumbuh-tumbuhan. Selanjutnya meningkat menjadi hewan. Akhirnya meningkatlah menjadi manusia sebagai hewan yang paling sempurna (Nasution, 1990 : 34-40 ; Hanafi, 1991 :115-133 ; dan Al-Ahwani 115-117).

Sementara itu pendapat Ibnu Rusyd (1126 M-1198 M) tentang alam semesta lebih dekat pada pendapat Aristoteles. Menurutnya, alam seluruhnya dan benda-benda alam yang bersifat partial tersusun dari dua elemen yang saling berlawanan, yaitu materi dan bentuk. Hayula (primordial Matter / materi purba) tidak mungkin timbul dari bentuk. Hal itu disebabkan adanya penafsiran dari sesuatu yang wujud, terutama yang konkrit, tidak mungkin dapat dilakukan kecuali berdasarkan dua elemen, yaitu elemen materi dan elemen bentuk. Jika ada suatu wujud yang berupa “gambaran” semata-mata dan berupa fi’il semurni-murninya, ia dapat ditafsirkan dengan satu ‘illah, yaitu ‘illah suwariyyah (formal-cause), dan itu hanya Tuhan saja. Sedangkan alam mesti ditafsirkan dengan dua ‘illah. (Al-Ahwani (1993 : 117)

Segala sesuatu yang mempunyai eksistensi kongkrit, yang terjadi kemudian rusak di alam wujud, semuanya terdiri dari materi dan bentuk. Terjadinya pun dari benda-benda serupa. Jadi, benda adalah asal terjadinya segala sesuatu yang berwujud. Dalam kaitannya tentang apakah alam ini qadim atau baru, ia mengambil sikap tengah-tengah. Ia mengambil permasalahan itu dalam tiga golongan berdasarkan tiga jenis yang terdapat didalam alam wujud. Ketiganya itu adalah :

1. Semua eksistensi kongkrit yang bersifat partial seperti tumbuh-tumbuhan, hewan, logam dan semua benda yang serupa adalah baru, karena keberadaannya berasal dari zat lain.

2. Suatu wujud yang tidak terjadi dari sesuatu dan tidak berasal dari sesuatu serta tidak didahului waktu. Ia adalah qadim. Sesuatu itu adalah Allah, karena dialah pembuat segalanya.

3. Sesuatu yang berada di antara keduanya, yaitu ada yang tidak berasal dari sesuatudan tidak di dahului waktu, tetapi ia dari sesuatu, yaitu dari Fa’il.

Jadi, secara ringkas dapat dikatakan bahwa keberadaan alam itu menurut Ibnu Sina, berasal dari “sesuatu” yaitu Fa’il. Fa’il itu adalah Tuhan sebagai “penggerak Alam”. Sebagai penggerak, Dia tidak bergerak, tetapi menggerakkan alam melalui zhauq (hasrat atau kerinduan), bukan melalui perbuatan sebenarnya. Alamlah yang rindu kepada Tuhan, karenanya ia lalu bergerak (Nasution, 1990 : 47-54 dan Hanafi, 1991 : 165-192).

D. Kejadian alam Semesta Menurut Teori Ilmu Pengetahuan

Dalam teori Big Bang (dentuman besar), Gamow, Alpher dan Herman berpendapat bahwa alam semesta yang semula berbentuk gas yang mengisi seluruh ruang, yang bila dipergunakan teleskop Mt. Wilson untuk mengamatinya akan terlihat ruang yang beradius 500.000.000 tahun cahaya, meledak dengan satu dentuman dahsyat. Setelah itu materi yang terdapat di alam semesta mula-mula berdesakan satu sama lain dalam suhu dan kepadatan yang sangat tinggi, sehingga hanya berupa proton, neutron dan elektron, tidak mampu membentuk susunan yang lebih berat.

Ledaka dahsyat (Big-Bang) mengakibatkan alam semesta menggembung (berekspansi) keseluruh arah sehingga membentuk galaksi-galaksi bintang-bintang, matahari, planet-planet, bulan dan meteorit (Soedewo, 1968 : 283 ; Ibrahim, dalam Ulumul-Qur’an Januari-Maret 1990 : 67; Kompas tanggal 1 juli 1992).

Proses evolusi alam semesta memakan waktu kosmologis selama enam era yaitu era planck (penggelembungan alam semesta, disini tercipta partikel-partikel yang berpasang-pasangan), era Hadron, era Lepton, era Radiasi, era Kelima (pembentukan protogalaksi), dan era keenam (runtuhnya protogalaksi). Pada era keenam inilah terjadi galaksi yang berasal dari runtuhnya protogalaksi. Dalam peristiwa ini materi dari protogalaksi (bintang atau gas) bergarak dengan kecepatan tinggi menuju ke suatu pusat, tanpa ada gaya yang melawannya (Djay dalam Ulumul Qur’an , Januari-Maret 1990 : 17).

Terjadinya evolusi bumi sampai layak dihuni manusia menurut teori palaentologi juga memakan waktu enam waktu geologis, dimana tiap-tiap periode itu ditandai oleh peristiwa yang menonjol, seperti munculnya gunung-gunung, benua dan lai-lain. Keenam periode itu adalah :

1. Azoicum, yaitu zaman tidak / belum adanya kehidupan, pada saat ini bumi baru tumbuh. Masanya kira-kira satu milyar tahun.

2. Ercheozoicum, yaitu zaman kehidupan primitif dengan ditandai aktivitas gunung api dan timbulnya gunung-gunung. Pada saat ini sudah ada kehidupan berupa semacam ganggang primitif. Lama periode ini sekitar 600.000.000 tahun.

3. Protozoicum, zaman mulainya kehidupan, dengan di temukannya fosil. Lamanya kira-kira 650.000.000 tahun.

4. Palaezoicum, zaman purba. Disini semua phylum yang meninggalkan fosil sudah ada dalam permulaan zaman ini. Zaman ini dibagi lagi dalam tujuh subzaman yaitu : Cambrian, Ordivician, Silurias, Devonian, Mississipian, pennsylvanian dan Permian. Lamanya kira-kira 350.000.000 tahun.

5. Meso-zoicum, yaitu zaman pertengahan : Invertebrata laut jum-lahnya menurun, tetapi Crustaceao modern muncul. Lamanya kira-kira 140.000.000 tahun. Dan

6. Cenozoicum, yaitu zaman sekarang yang dimulai sejak 60.000.000 tahun yang lalu. Pada zaman ini muncul makhluk-makhluk tingkat tinggi dan manusia. Selama bumi berkembang itu alam semesta lainnya ikut pula berubah (Kusumamihardja et all, 1978 : 62-63).

Dari kesimpulan tersebut bisa diperkirakan bahwa alam semesta ini sudah berumur 15.000.000.000 tahun.

Pada alam semesta sudah ditentukan adanya hukum-hukum yang pasti sehingga semua benda langit berjalan secara teratur dan rapi. Determinisme dan mekanisme menjadi prinsip yang nyata bagi alam semesta (Titus et all, 1984 : 98-108).

E. Penciptaan Alam Semesta Menurut Al-Qur’an

Berbicara mengenai penciptaan alam semesta dengan segala aspeknya, Al-qur’an telah menyinggungnya dalam berbagai ayat. Menurut Al Qur’an, alam ini tidak ada dengan sendirinya tetapi diciptakan oleh Allah dengan cara yang teratur dan dengan tujuan yang benar (haq), bukan main-main tanpa tujuan (QS, 44 : 38).

Pada mulanya alam semesta ini berbentuk asap atau gas / dukhan (QS, 41 : 11-12) untuk kemudian bercerai / berpisah membentuk benda-benda langit seperti bintang-bintang, matahari, planet-planet, bumi dan bulan (Djaelani, 1993 : 75).

Proses penciptaan alam semesta ini terjadi dalam masa enam hari (masa, era) (QS, Hud :7 dan Al- Furqan : 59). Pengertian hari (yaum) di dalam Al Qur’an bisa berarti seribu tahun harinya manusia (QS, Al Haj : 47) atau bisa juga sama dengan lima puluh ribu tahun menurut ukuran manusia (QS, Al-Ma’arij : 4). Jadi satu harinya Tuhan bisa berarti jutaan tahun. Jika waktu enam hari (masa) ini kita kaitkan dengan teori Palaentologi yang menyatakan bahwa periodisasi pertumbuhan planet bumi ini terbagi atas enam periode yaitu : Azoicum, Exchoicum, Protorozoikum, Mezosoikum dan Cenozoikum (Kusumamihar-dja, et. All. 1978:-63). Bila kata hari (yaum) ditafsirkan secara metaforik sebagai tingkatan-tingkatan perubahan waktu, maka pemetaan konformal dari era (masa) proses terjadinya alam semesta dapat disamakan dengan evaluasi alam semesta dari teori Big-Bang (ledakan dashyat), juga sama dengan waktu kosmologi yang berjumlah enam, yaitu Era Planck, Era Hadron, Era Lepton, Era radiasi, era pembentukkan Protogalaksi (Djay,1990:18).

Dalam penciptaan alam semesta ini Al Qur’an menyiratkan kepada kita bahwa air adalah molekul yang pertama terjadi dalam proses molekulosynthese di alam semesta. Peristiwa itu terjadi sewaktu gaya elektro-magnetik sudah menunjukkan watak sendiri setelah umur alam semestamencapai 700.000 tahun yang dikenal sebagai “waktu rekombinasi”. Peranan air dalam proses biologis dan biokimiawi sudah banyak dipahami dan dijelaskan dalam banyak literatur (Djay, 1990:16-17).

Di dalam penciptaan alam semesta ini Tuhan telah pula memberikan undang-undang / hukum alam semesta (sunnatullah). Hukum yang mengatur alam semesta ini bersifat pasti dan tetap yang dalam istilah al-Quran disebut takdir atau qadar, artinya sesuai ukuran yang persis dan pasti (QS, Muhammad:2).

Alam semesta ini terus mengembang atau berekspansi ke seluruh arah dalam ruang yang seolah-olah tanpa batas. Artinya alam semesta ini dalam proses menjadi (QS Fatir: 1; Al-Ankabut:20). Gerak dan dorongan yang penuh keajaiban dalam perjalanan alam semesta itu adalah sebagai tanda-tanda yang aneh yang seharusnya menjadi bahan pemikiran manusia yang berakal (QS, An-Nur: 44; An Nah: 12).

Walaupun alam terus berekspansi, namun pada akhirnya ia akan hancur/ musnah atas kehendak Tuhan rabbul-‘alamin/ semesta alam sebagaiman disebutkan misalnya di dalam QS, Al-Haqqah: 13-16 dan surat Al-Mursalat: 8-10. Jadi alam tidaklah abadi. Hal ini dibuktikan sebagaimana hasil Konferensi Tingkat Tinggi Bumi (Earth Summit) di Rio de Janeiro padda awal Juni 1992 bahwa dalam kurun waktu dua puluh tahun terakhir ini tumbuh-tumbuhan dan pepohonan yang tumbuh dikawasan hutan sebanyak 200.000.000 hektar telah musnah. Di samping itu 20.000 species binatang dan tumbuhan yang hidup didekat (bersama-sama) manusia telah lenyap (Tempo, 13 Juni 1992: 52-54). Juga sebuah seminar tentang teori evolusi organik di Chicago AS pada bulan Oktober 1980 dilaporkan bahwa berdasarkan penyelidikan fosil selama beratus-ratus tahun terbukti bahwa berbagai species kehidupan muncul secara mendadak pada suatu ketika pada kurun waktu geologis, bertahan selama berjuta tahun tanpa perubahan lalu punah (Tempo, 27 Oktober 1980: 23).

Dari uraian di atas kita ketahui bahwa ternyata ada persesuaian antara proses terjadinya alam semesta menurut Al-Qur’an dengan teori ilmu pengetahuan, misalnya dengan teori Big-Bang (Kusumamiharja et all, 1978: 54-55).

F. Kejadian Alam Semesta Menurut Konsep India (Agama Hindu)

Agama Brahma, yang pada masa belakangan disebut dengan agama Hindu, bermula dengan keyakinan terhadap kodrat Maha Tunggal (Brahma). Tetapi belakangan agama Hindu berbalik dari keyakinan Monotheisme kepada Politheisme, yakni berbalik menganut keyakinan tentang sekian banyak dewa-dewa seperti terdapat di dalam kisah-kisah Mahabhrata dan kisah Ramayana, yang merupakan kitab terpandang dalam agama Hindu.

Kitab suci yang asli dalam agama Brahma itu ialah Veda yang berasal dari vydia (ilmu) yang terdiri atas empat bagian yaitu”

1. Rig-veda,

2. Sama-veda,

3. Yayur-veda,

4. Atharva-veda.

Pembahasan bidang pokok-pokok keyakina / kepercayaan (akidah) dari Veda terdapat dalam himpunan Upanishads. Menjelang abad IX M, jumlah Upanishads itu telah mencapai 108 buah. Pada akhir abad IX itu muncul seorang pembaharu yang bernama Shankara yang mendapat sentuhan-sentuhan agama Islam, ketika Agama Islam menguasai anak benua India pada waktu itu (Syo’ib, 1988:8-9). Shankara melakukan penelitian terhadap ke-108 buah Upanishads. Dari sejumlah 108 buah itu hanya mengakui 16 buah yang otentik, selebihnya dinyatakan sisipan pada masa belakangan.

Ajaran Upanishads tentang Tuhan dan Alam, biasanya disebut filsafat Upanishads, merupakan sumber terkuat bagi pertumbuhan dan perkembangan mistik. Bahkan filsafat Plotinus (205-270 M) tentang Tuhan dan Alam yang pengaruhnya kuat terhadap agama Kristen dan dunia Islam dinyatakan terpengaruh oleh filsafat Timur oleh ahli sejarah Filsafat. Pertama, tentang kepercayaan terhadap kodrat Maha Tunggal. Kedua, kepercayaan bahwa Alam itu pancaran Zat Tuhan (Syou’ib, 1988:9).

Berikut ini kita lihat beberapa kutipan dari Upanishads:

Sungguh, alam semesta ini berasal dari Brahman. Di dalam brahman, ia hidup dan beroleh perwujudannya. Pasti, seluruhnya adalah Brahman. Biarlah seseorang terbebas dari cemar nafsu, menyembah Brahman saja (Upanishads, Chandoya).

Pada mula sesekali berada Maha Ada sendirian, Mahaesa tanpa ada yang kedua. Dia, yang Mahaesa, berpikir terhadap diri-Nya: Biarlah Aku menjadi banyak, biarlah Aku berkembang. Lantas dari zat-Nya sendiri. Dia melantunkan alam semesta dari zat-Nya sendiri, ia pun masuk ke dalam setiap ada (Upanishads, Chandogya).

Dia, zat yang cemerlang, lebih halus dari yang paling halus, yang di dalam-Nya berada alam semesta dan seluruh mahluk yang hidup di dalamnya. Dia itu Brahman yang tidak lenyap. Dia itu prinsip kehidupan. Dia itu berbicara. Dia itu ingatan. Capailah Dia, O sahabatku, tujuan satu-satunya yang perlu dicapai (Upanishads, Mundaka).

Brahman itu Maha Agung; Dia itu zat yang cemerlang, Dia itu di luar seluruh pemikiran. Dia itu lebih halus dari yang paling halus, lebih jauh dari yang paling jauh, lebih dekat dari yang paling dekat. Dia bersemayam dala seroja hati seriap mahluk (Upanishads, Mundaka).

Brahman ini, zat ini, tersembunyi amat dalam sekali di dalam seluruh mahluk, tidak di wahyukan kepada seluruhnya; tetapi hanya kepada orang suci, yang hatinya murni, memusatkan ingatan kepadanya saja. Dia diwahyukan. Iandria orang cendikiawan tunduk kepada ingatannya, dan ingatannya tunduk kepada akalnya, dan akalnya tunduk kepada aku-nya, dan aku-nya itu tunduk kepada Dia (Upanishads, Katha).

Di dalam filsafat Hindu, faham emanasi tertuang di dalam kitab Upanishad (kitab kedua dalam agam Hindu). Kitab itu memberi gambaran tentang terjadinya alam semesta. Dinyatakan bahwa alam semesta ini oleh Brahman (Ada Tertinggi, Tuhan) ditimbulkan oleh unsur-unsur semesta itu sendiri sambil melakukan tapas, lalu masuk ke dalam semesta itu (Tait, Up.2.6). Di lain tempat dikatakan bahwa semesta ini terjadi karena sabda dari Dia Yang Tak Terumuskan (Brihad, Up.3.9).

Di dalam Mundaka Upanishad, Brahma itu diumpamakan sebagai seekor laba-laba yang mengeluarkan benang-benangnya lalu ditariknya kembali atau dengan rambut yang tumbuh di kulit badan atau dengan percikan-percikan api yang dipancarkan oleh api. Di dalam pandangan ini dunia merupakan emanasi dari Brahman (Zotmulder, 1991:60).

G. Kejadian Alam Semesta dalam Konsep Nasrani

Menurut kepercayaan kaum Nasrani, alam ini diciptakan Tuhan Allah selama enam hari dengan perantaraan Firman-Nya. Dalam Alkitab terbitan Lembaga Alkitab Indonesia (1962) terdapat pernyataan bahwa yang pertama dijadikan Allah adalah langit dan bumi. Pada saat itu keadaan bumi tertutup kabut tebal danRoh Allah melayang-layang di atas muka air (Pasal 1, ayat 1-2).

Pada hari pertama Allah membuat terang dan gelap sebagai penanda adanya siang dan malam (Pasal 1: 3-5). Selanjutnya di hari kedua barulah dicipta langit yan membentang di antara air (Pasal 1: 6-7). Pada hari ketiga Allah membuat daratan dan lautan serta menciptakan rumput, tumbuh-tumbuhan berbiji dan berbuah dengan segala tabiatnya (Pasal 1: 9-13).

Selanjutnya di hari keempat, baru diciptakan matahari, bulan dan bintang (Pasal 1: 14-19). Pada hari kelima Allah menciptakan binatang-binatang laut dan burung-burung (Pasal 1: 20-23). Sedangkan pada hari keenam diciptakan binatang liara dengan segala tabiatnya. Pada hari keenam ini pula manusia laki-laki dan perempuan diciptakan sebagai atas peta Allah. Segala isi bumi ini diperuntukkan bagi manusia (Pasal 1: 24-31).

Pada hari ketujuh Allah beristirahat (Pasal II: 1-4). Kata beristirahatlah pada pasal II itu sebagai terjemahan dari bahas Ibrani “chabbat” (Sabat). Sampai hari ini p[un hari sabtu merupakan hari libur/istirahat bagi kaum Yahudi (Buchaile, 1978:42).

Terlepas dari kontradiksinya dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, demikianlah adanya bagaimana Injil Perjanjian Lama menerangkan tentang proses kejadian alam ini. Dr. Mauriche Buchaile di dalam La Bible, le Coran et La science telah mengupas banyak hal mengenai proses terjadinya alam ini berdasarkan ilmu pengetahuan dan yang dikontrakan dengan Al Qur’an dan Bibel.

Dalam agama Kristen yang berpaham Trinitas (Katritunggalan Tuhan) terdapat kaitan dengan filsafat neo-Platonisme dan paham Nur Muhammad. Pada Injil Yahya 1:1-3 dan 14 disebutkan:

“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada sesuatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan…. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemulian-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebesaran (Lembaga Alkitab Indonesia, 1971:181).

Dalam kutipan dari Injil Yahya (Yohanes) itu disebutkan bahwa Anak (Yesus) sudah ada sebelum dunia ada, yaitu yang disebut dengan Firman (Kalam). Bila Kalam (Firman) itu tidak ada maka dunia ini pun tidak ada. Ini adalah konsepsi Neo-Platonis. Firman / Kalam dalam Injil Yahya tersebut di dalam Al Kitab bahasa Yunani (Greek) dengan Logos. Tentang hal ini dalam buku Karena Allah itu Benar Adanya yang dikeluarkan oleh Kristen sekte Saksi Yehova menyatakan bahwa Kalam atau Logos yang disebut dalam Injil Yahya itu berkuasa dan menjabat kedudukan yang tinggi ini sebagai Logos. Sebab ia adalah mahluk yang pertama dari semua mahluk lain, maka ia adalah suatu Allah, tetapi bukan Allah yang amha Kuasa, yang adalah Yehuwa (1960:33).

Dalam Yahya 1:1-3 terjemahan Emphatic Diaglott tapi masih memakai kata Logos. Istilah Logos ini yang sudah masuk ke dalam Injil Yahya, yang diterjemahkan dengan Kalam/ Firman/ The Word, sebenarnya memang mengambil dari filsafat Neo-Platonisme. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh O. Hashem: “Filsafat Neo-Platonis ini telah dimasukkan ke dalam Injil Yohannes dengan mengambil istilah Logos yang berasal dari Plato…(1965: 40).

Logos dalam Injil ini juga sebagai asal segala sesuatu yang tanpa adanya tidak akan ada segala sesuatu tadi. Hal ini sejalan dengan pemikiran Nur Muhammad dan Neo-Platonis. Perbedaan ketiganya hanya dalam masalah penekanan yang tidak prisip yang disesuaikan dengan ajaran agama di mana filsafat Neo-Platonis itu merembeskan diri, namun intinya mirip (Abdullah, 1983:31).

H. Kesimpulan

Dari pembahasan di atas kelihatan bahwa antara konsep Al Quran dengan teori ilmu pengetahuan berkenaan dengan teori kejadian alam semesta terdapat kesesuaian. Sedangkan dalam konsep filsafat Islam yang nantinya akan merembes ke dalam tasawuf falsafi agaknya bersinggungan bahkan kelihatan terdapat pengaruh konsep filsafat neo platonis, konsep Hindu dan Kristen tentang kejadian alam semesta ini.

I. Daftar Pustaka

Abdullah, Samudi. 1982. Analisa Kritis Terhadap Tasawuf. Surabaya : PT. Bina Ilmu.

———. 1983. “Teori Penciptaan dalam Faham Wahdatul Wujud Kaum Sufi dan Kebatinan dalam Walisongo, (No. 10. Januari 1984) : hal 21-26.

Al-Ahwani, Ahmad Fuad. 1993. Filsafat Islam. terj. Sutarji C. Bahri. Jakarta : Pustaka Firdaus.

Bakri, Hasbullah. 1968. Di Sekitar Filsafat Skolastik Kristen. Bandung : Sulita.

———. 1986. Sistematika Filsafat. Jakarta : Wijaya.

Buchaile, Maurice. 1978. Bibel, Al-Qur’an, Sains Modern. terj. H.M. Rasyidi. Jakarta : Bulan Bintang.

Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta : Proyek Pengadaan Terjemahan Al Qur’an.

Djay, A Rahman. 1990. “Al Qur’an Dalam Fokus Kosmologi Modern”, dalam Ulumul Qur’an (Januari-Maret). Jakarta.

Hadiwijono, Harun. tt. Kebatinan Islam Dalam Abad Enam Belas. Jakarta : BPK Gunung Mulia.

——— tt. Kebatinan dan Injil cet. Kedua. Jakarta : Gunung Mulia.

Hanafi, A. 1984. Segi-Segi Kesusastraan Pada Kisah-kisah Al-Qur’an. Jakarta : Pustaka Al-Husna.

——–. 1990. Pengantar Filsafat Islam. Jakarta : Bulan Bintang.

Khan, Khan Sahib Khaja 1987. Cakrawala Tasawuf Jakarta: PT Rajawali.

Kusumamihardja, Supan, et al. 1978. Studia Islamica. Bogor : TPAI IPB.

Lembaga Al Kitab Indonesia. 1971. Berita Untuk Manusia, Perjanjian Baru dalam Bahasa Indonesia Modern. Jakarta : Lembaga AlKitab Indonesia.

Nasution, Harun. 1974. Filsafat Agama. Jakarta : Bulan Bintang.

———. 1990. Filsafat dan Mistisisme dalam Islam. Jakarta : Bulan Bintang.

Soedewo, P.K. 1968a. Masih Hidupkah Nabi Isa dengan Badan Jasmaninya Di Langit ? Yogyakarta : Kalimasada.

———. 1968b. Keesaan Ilahi. Jakarta : Darul-Kutubil Islamiyyah.

Teeuw, A. 1978. Penelitian Struktur Sastra. Jakarta : Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

———. 1981. “Ilmu Sastra Umum dan Ilmu Sastra Malindo”. Silabus Kuliah.

———. 1983. Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta : Gramedia.

Tempo, Jakarta 13 Juni 1992, hal 52-54.

———-, Jakarta 27 Oktober 1980, hal 23.

Titus, Harold H, Marilyn S. Smith, dan Richard T. Nolan. 1984. Persoalan-persoalan Filsafat. Jakarta : Bulan Bintang.

Zahrah, Syekh Abu. 1969. Tinjauan Tentang Agama Masehi terj. A. Hanafi. M.A. Solo : A.B Siti Syamsiyyah.

Zoetmulder, P.J. 1990. Manunggaling Kawula Gusti. Jakarta: Gramedia