Teori Nur Muhammad dan teori Kejadian Alam Semesta

TEORI NUR MUHAMMAD DAN TEORI KEJADIAN ALAM SEMESTA:

TINJAUAN DARI FILSAFAT, ILMU PENGETAHUAN DAN AGAMA

Nur Fauzan Ahmad, S.S. M.A

A. Pendahuluan

Faham Nur Muhammad ini berkaitan erat dengan awal penciptaan dunia. Keduanya menjelaskan bahwa Nur Muhammad merupakan asal terciptanya alam semesta. Timbulnya faham ini ternyata ada hubungannya dengan filsafat Yunani khususnya Neo Platinisme dengan teori emanasinya. Pada bagian ini akan diuraikan bagaimana pandangan filosof Yunani, khususnya Plotinus sebagai pembina teori emanasi tentang penciptaan dunia, bagaimana pandangan filosuf Islam, bagaimana pula pandangan agama Hindu, Budha, dan Nasrani. Sebagai perbandingan, dipaparkan pula teori penciptaan dunia menurut ilmu pengetahuan dan Al-Quran.

B. Teori Nur Muhammad di dalam Hikayat Nur Muhammad

Hikayat Nur Muhammad (selanjutnya disebut HNM) merupakan khazanah sastra Melayu yang terkenal dengan bukti banyaknya penyambutan terhadapnya sehingga terjadi banyak variasi. Naskah HNM yang akan dipakai sebagai dasar analisis resepsi ini naskah Gen. 378 C/ Ml. 378 C. Di Perpustakaan Nasioanl RI Jakarta terdapat 7 naskah yang berisi Hikayat Nur Muhammad.

Berikut disajikan deskripsi dari naskah HNM yang merupakan koleksi dari Perpustakaan Nasional RI.

Nomor Naskah

Bat. Gen. 378 C / Ml. 378 C

Ukuran Naskah

15 x 20 cm

Jumlah halaman

11 halaman dimulai dari halaman 15 sampai 25.

Jumlah Baris

15 baris. Setiap baris diberi nomor di bagian kanan teks.

Huruf

Arab Melayu

Tulisan

Tulisan tangan huruf cukup jelas

Tinta

Hitam

Bahasa

bahasa Melayu

Keadaan Naskah

Naskah sudah agak lapuk, sebagian sudah dilapisi dengan kertas minyak dan berlubang di beberapa tempat. Di beberapa halaman terdapat coretan dan catatan yang mungkin dibuat oleh para pembaca atau penyambut terdahulu

Water mark

Terdapat gambar mahkota.

Kolofon

Tidak ada

Penomoran

ditulis dengan pensil di bagian atas halaman dengan angka latin.

Keterangan Lain

Beberapa kata yang agak sulit dibaca atau meragukan bacaannya diberi coretan dan lingkaran. Hal ini menunjukkan bahwa naskah ini sering dibaca dan diteliti. Pada halaman 26 terdapat skema atau bagan tentang awal, akhir , dahi dan batin Muhammad..

Pada naskah ini terdapat tujuh cerita yang saling berdiri sendiri, yaitu:

1. ….. tidak terbaca (hal 1-4)

2. Tak berjudul tetapi isinya masalah tarikat, ma’rifat dan syari’at. (hal 4-14)

3. Hikayat Nur Muhammad. Hal 15-25

4. berisi masalah tauhid, ma’rifat dan soal-soal sholat (tidak teratur dan tak berjudul) hal 26-30

5. berisi tanda-tanda sakaratul maut (tak berjudul) hal 31-43

6. ….. (tak terbaca) hal 44 –47

7. Hikayat Fatimah r.a. Tatkala Ia Berkata dengan Pedang Ali yang Bernama Dzil Faqor. Hal 44 – 47.

8.

Pokok-pokok Isi Cerita

Jika dibandingkan dengan naskah lain, naskah ini bisa dikatakan paling lengkap ceritanya. Isinya menceritakan bahwa Nur Muhammad merupakan awal penciptaan Allah. Ia diperintahkan bersujud dan melakukan kewajiban kelima rukun Islam. Lalu ia dijadikan seekor burung yang sangat indah berkepala Ali, bermatakan Hasan dan Husein dan orang-orang anggota keluarga Nabi (hal. 15-16).

Tuhan menciptakan tujuh laut, kemudian Nur Muhammad diperintahkan untuk berenang ke dalamnya. Sekeluarnya dari ketujuh laut itu Nur Muhammad disuruh untuk menggerakkan badannya sehingga keluarlah tetesan-tetesan air. Dari tetesan air badannya itulah tercipta segala sesuatu (hal 16-19). Tuhan menciptakan empat unsur, air, api, angin dan tanah. Nur Muhammad disuruh mendatangi keempat unsur tadi. Kesemuanya menyombongkan diri kecuali tanah. Akhirnya Tuhan menciptakan manusia dari tanah dan setiap manusia pasti bertabiat empat unsur tadi (hal 19-23). Cerita ditutup dengan akibat dari orang yang mau membaca dan menaruh Hikayat Nur Muhammad, di sini dicontohkan pengalaman Sayid Azzunawi (hal 23-24).

Naskah ini dianggap sebagai naskah individual yang siap untuk dianalisis berikutnya. Hal ini didasari bahwa tidak ada yang diperkirakan menyimpan teks asli dalam pengertian filologi tradisional (Baried, at all 1985a). Di samping itu karena di dalam konvensi Melayu terdapat kebebasan besar bagi penyalin untuk menyambut atau menyalin (Teeuw, 1983: 149), maka masing-masing naskah salinan berhak menjadi sumber kajian bagi studi teks. Teks individu yang merupakan salinan entah yang keberapa ini merupakan kreasi dan bentuk sambutan terhadap naskah asli yang merupakan bentuk ajaran dalam dunia tasawuf.

Hikayat tentang Nur Muhammad ini semula memang berasal dari sebuah paham yang dikemukakan oleh Al Hallaj. Semula ia merupakan ajaran di dalam tasawuf falsafi. Dalam perkembangan berikutnya, setelah disistemasikan oleh Ibnu Araby dan Abdul Karim al-Jili dan masuk ke Nusantara, cerita ini berkembang bahkan jauh dari aslinya. Hampir semua naskah menyebutkan bahwa Nur Muhammad adalah sebagai asal mula kehidupan. Berikut akan dijelaskan bagaimana tanggapan HNM, khususnya versi G sebagai dasar pemahaman terhadap doktrin Nur Muhammad itu.

C. Teori Kejadian Alam Semesta dalam Pandangan Filsafat

Filsafat adalah induk dari segala ilmu. Ia merupakan awal mula ilmu pengetahuan. Ia memandang alam ini sebagai satu kesatuan yang belum terpecah-pecah dan membahasnya secara keseluruhan yang bersangkutan satu dengan yang lainnya. Kalau ilmu-ilmu lain yang disebut ilmu vak misalnya ilmu alam, ilmu ekonomi, ilmu hukum, membahas sebab dan akibat dari sesuatu, maka filsafat menyelidiki hakikat dari sesuatu itu. Jika ilmu-ilmu vak dalam pembahasannya harus menjawab “bagaimana” dan “apa sebabnya”, maka filsafat lebih dalam lagi, yaitu membahas “apakah dia sebenarnya, dari manakah asalnya dan “hendak ke mana perginya”. Ilmu filsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta, dan manusia sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana sikap manusia itu sebenarnya setelah mancapai pengetahuan itu (Bakri.1986:12).

Ada tiga persoalan pokok ilmu yang dipelajari filasafat menurut Aristoteles yaitu metefisika (pendahuluan filsafat), metafisika(persoalan filsafat),dan etika(tujuan filasafat) (Bakri,1986:17).

Metafisika sebagai salah satu cabang ilmu filsafat, adalah suatu ilmu yang menyelidiki apakah hakikat di balik alam nyata ini. Metafisika ini sering juga disebut ontologi yang berarti juga ilmu hakikat (Bakri,1986:50-51). Pertanyaan-pertanyaan dari mana alam ini berasal, apakah alam ini diciptakan atau ada dengan sendirinya, dan ke mana perginya alam ini, merupakan pertanyaan-pertanyaan metafisika.

1. Kejadian Alam Semesta dalam Pandangan Filosuf Yunani

Ada tiga mazhab (pemikiran) yang pernah hidup di Yunani, sebelum para filosof muncul dari kawasan terse­but. Yaitu: Ionik, Dorik, dan Eleatik. Di antara para filosof Ionik, yaitu Thales dari Miletus, menyatakan bahwa air adalah asal-muasal dari seluruh benda. Sedang Anaxamines dari Milesian memandangnya udaralah penyebabnya. Dan Diogenes dari Apollonia, memandang udara sebagai sebab pertama bagi satu jenis jiwa yang cerdas. Phytagoras dari mazhab kedua, dari Dorik, memandang bilangan sebagai sebab pertama. Sedangkan filosof Eleatik, Xenophenes, memandang Tuhan sebagai satu dan segalanya. Sementara Parmenides memandang wujud mutlak dan pemikiran mut­lak adalah serupa. Dan Zenolah yang pertama kali menya­takan bahwa ada dunia yang tidak nyata dan realitas yang mutlak (Khan: 1987:41)

Filsafat Yunani yang pertama kali timbul adalah filasafat materialisme, yaitu suatu aliran yang menganggap bahwa yang ada itu hanyalah materi, dan segala sesuatu yang lain itu yang disebut jiwa atau roh tidaklah merupakan suatu kenyataan yang berdiri sendiri. Aliran ini biasanya dikaitkan dengan teori atomistik dalam bentuknya yang kuno. Menurut teori ini semua benda tersusun dari sejumlah bahan yang disebut unsur. Unsur itu bersifat tetap;t idak dapat dirusakkan. Bagian-bagian yang kecil dari unsur itu yang disebut atom (Bakri ,1986:52).

Para ahli filsafat materialisme menyelidiki asal-usul kejadian alam ini pada unsur-unsur kebendaan yang pertama. Thales (625-545SM) menganggap bahwa unsur asal itu adalah air. Anaximandros (610-525SM) menganggap bahwa unsur asal itu adalah apheirion, yakni suatu unsur yang tak terbatas. Anaximenes (585-525 SM) menganggap bahwa unsur asal itu adalah udara. Tokoh terakhir dari alam ini Demokritos menganggap bahwa hakikat alam ini merupakan atom-atom yang jumlahnya tak dapat dihitung dan sangat halus. Atom-atom itulah yang merupakan asal dari kejadian peristiwa alam.

Selanjutnya Demokritos, (Bakri 1986:53-54) mengemukakan dalil tentang atomistik sebagai berikut :

1. Dari yang tidak ada tidak akan terjadi apa-apa. Apa yang ada tidak dapat ditiadakan lagi. Semua perubahan hanya merupakan percampuran dan perpisahan dari bagian.

2. Tidak ada suatu peristiwa pun yang terjadi dengan kebetulan. Semua terjadi dari suatu dasar dan dengan kepastian.

3. Tidak ada yang lain dalam alam ini kecuali atom-atom dan ruang kosong.

4. Atom-atom tak terhitung jumlahnya an terbentuknya berbeda-beda

5. Atom-atom yang lebih besar dengan melalui ruang kosong itu menabrak atom-atom yang lebih kecil dan dengan itu terjadilah gerakan yang terus menerus yang mengembangkan kejadian dunia ini.

6. Bangun dan rupa benda yang berbeda-beda dalam alam ini disebabkan dari keadaan yang beraneka ragam dari atom-atom yang berbeda jumlah, besar dan bentuk dan susunannya.

7. Jiwa juga terdiri dari atom-atom, hanya bentuknya halus,licin dan bulat serupa dengan atom api.Atom jiwa ini mempunyai sifat gerak yang paling banyak dan dengan gerakannya yang meliputi segenap badan timbullah gejala-gejala hidup olehnya.

Pada abad ke-19 M, aliran ini mendapat tantangan hebat dari kaum agamawan, sebab mereka dengan terang-terangan tidak mengakui adanya Tuhan yang sudah diyakini mengatur budi masyarakat. Kaum agamawan mengkritiknya antara lain:

1. Materialisme menyatakan bahwa alam wujud ini terjadi dengan sendirinya dari chaos (kacau balau), padahal (menurut Hegel) kalau kacau balau namanya.

2. Materialisme menerangkan bahwa segala peristiwa diatur oleh hukum alam. Padahal pada hakikatnya hukum hukum alam ini adalah perbuatan rokhani pula.

3. Materialisme mendasarkan segala kejadian dunia dan kehidupan pada asal benda itu sendiri, padahal dalil itu tambah menunjukkan adanya sumber dari luar alam itu sendiri yaitu Tuhan.

4. Materialisme tidak sanggup menerangkan suatu kejadian yang peling sahaja sekalipun.Misalnya mereka katakan tentang berfikir adalah suatu gerakan fikiran itu hanya gerakan sel otak saja,lalu apa bedanya dengan fikiran baik dan fikiran buruk, sedang keduanya sama-sama gerakan belaka (Bakri,1986:55).

Karena ketimpangan-ketimpangan itu lahirlah aliran idealisme (serbacita), yang disebut juga spiritualisme (serbaroh). Mereka menganggap bahwa roh atau sukma adalah hakikat yang sebenarnya, sementara materi hanyalah badan, bayangan atau penjelmaan saja. Bagi mereka, materi itu tidak ada. Yang kita sebut materi sebenarnya adalah suatu kumpulan berbagai tenaga yang menempati ruang. Tenaga itu adalah sejenis rohani.

Aliran ini merupakan aliran yang sangat penting dalam perkembangan sejarah pemikiran manusia. Di dalam filsafat Barat, hal itu kita temukan misalnya pada Plato. Ia mengatakan bahwa alam cita-cita, alam fikiran (idea) itu adalah yang merupakan kenyataan yang sebenarnya. Sedangkan alam nyata itu hanyalah bayangan dari alam idea. Tokoh lain, Aristoteles memberikan sifat kerokhanian itu dengan ajarannya yang menggambarkan alam idea itu sebagai suatu tenaga (entelechie) yang berada dalam benda itu.

Dalam memberikan penjelasan tentang sebab kehadian alam ini para filosuf Yunani menerangkan, misalnya seperti kata Anaximandros bahwa unsur sumber itu adalah apherion. Unsur ini tidak sama dengan benda,maka ia tentu berasal dari yang tak terhingga dan tak berkeputusan (Bakri,1986:61).

Heraklitos menyatakan bahwa sumber kejadian adalah api, karena api adalah unsur yang berubah terus. Perubahan peristiwa dalam alam adalah sangat teratur dan terus menerus serta tak berujung pangkal. Teraturnya perubahan dalam alam yang berputar logos yaitu fikiran dunia yang mengatur perubahan ini. Logos itu mirip dengan sunnatullah atau iradat Allah dalam ilmu Kalam. Hanya sayangnya ia tidak menemukan siapa pencipta sebab pertama.

Empedokles menggambarkan bahwa kodrat yang menyatukan dan mengatur alam ini adalah cinta dan kodrat cinta. Itulah yang membawa manusia pada Tuhan. Anaxagoras menganggap bahwa kodrat yang mengemudikan alam itu adalah Nus. Nus itu awal dan akhir dari alam. Plato menggambarkan Tuhan sebagi Demeiourgos (Sang Pencipta) dari alam ini dan sebagai IdeaTertinggi dari alam idea yakni alam asli yang menjadi sumber dan contoh dari alam nyata di dunia ini. Aristoteles mengakui adanya Tuhan atas dasar teori Penggerak Pertama atau Sebab Pertama (Prima Causa).

Dari penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa para filosuf materialisme dari zaman Yunani kuno seperti Thales, Anaximandros, Anaximenes sampai pada Demokritos mengatakan bahwa alam semesta ini ada dengan sendirinya. Dengan kata lain alam semesta ini tercipta sendiri dari yang tidak ada (Djaelani, 1993:87). Paham ini sejalan dengan

2. Kejadian Alam Semesta Dalam Pandangan Filsafat Neo-Platonisme (Teori Emanasi Plotinus)

Plotinus (meninggal th. 270 M) mengajarkan teori emanasi/ pancaran. Ia menyusun sebuah hierarki ke-Adaan yang berpuncak pada Yang Tunggal. Dari Yang Tunggal secara berturut-turut memancarkan Ruh (nous) dan Jiwa. Yang Tunggal sebagai Prinsip pertama atau disebut juga Yang Baik, berada jauh menjulang ke atas, tidak dapat diperikan, tidak dapat didekati definisi-definisi, tidak dapat ditunjuk kata-kata, tidak dapat dihampiri, tidak mempunyai individualitas dan bebas dari segala bentuk kekembaran, tanpa wujud atau tanpa kehendak. Pendeknya di seberang sanalah segala sesuatu yang ada (Djaelani, 1993:90-91).

Dari sumber yang tidak terhampiri tersebut mengalirkan sebuah substansi Roh. Dalam proses itu Yang Tunggal tetaplah sempurna, tidak berubah. Hal ini di dalam Enneade III, 8, 10 dilukiskan laksana sebuah sumber yang tidak berawal, memberikan airnya kepada semua sungai tanpa mengurangi airnya sendiri, tetapi tetap tenang dan tidak berubah. Sungai-sungai yang bersumber padanya semula memperpadukan airnya, kemudian masing-masing mengikuti arusnya sendiri-sendiri (Zoetmulder, 1990:16).

Pada proses selanjutnya, substansi yang kedua (Roh) itu merupakan rantai antara Yang Tunggal dengan dunia yang beraneka. Dalam bentuknya yang ideal dunia itu sebagai prototip/ contoh purba bagi dunia inderawi (Kosmos noetos). Idea-idea itu berbaur dan larut dalam satu ketunggalan yang meliputi segala sesuatu. Roh hanya memandang dirinya sendiri. Di dalam dirinya sendirilah segala sesuatu yang lain dipersatukan menjadi tunggal. Di sini akal Budi Ilahi dilepaskan dari Zat ke-Allah-an dan dijadikan sebagai satu kenyataan tersendiri.

Substansi yang ketiga, yaitu Jiwa yang mengalir dari Roh, akan menunaikan fungsi tersebut. Apabila Roh hampir terdapat dalam dalam lingkungan Ilahi, maka jiwa mendekati dunia gejala-gejala keilahian itu. Jiwa-jiwa individual berkaitan erat denga jiwa satu-satunya itu. Dalam jiwa itulah jiwa-jiwa itu menyatu bagaikan dalam puncak bersama. Dalam penyatuan itu ada beberapa jiwa yang tetap manunggal, tetapi ada juga yang menjauhi Sang Jiwa. Artinya ia berpaling kepada dunia materi dan menjiwai dengan sinarnya. Jiwa yang sesat itu perlu dikembalikan. dibebaskan. mereka harus kembali kepada Ada sejati dan menjauhi Yang Tak Ada dengan cara meloloskan diri dari badan sehingga dapat terbangun dan menjadi dirinya sendiri. Selanjutnya dikatakan bahwa segala sesuatu yang Ada itu adalah tunggal (Zoetmulder, 1990:14-17).

Dalam proses kejadian alam, secara ringkas Plotinus beranggapan bahwa:

1. Alam semesta keluar dari zat pencipta yang azali dan abadi dan yang tidak dapat dicapai penglihatan , tidak dapat dibatasi oleh akal fikiran serta tidak dapat diketahui hakekatnya oleh otak manusia.

2. Semua roh adalah cabang dari roh yang satu dan berhubungan dengan Pencipta Pertama dengan perantaraan logos (akal).

3. Alam semesta dalam gerak pertumbuhannya ataupun gerak pembentukannya tunduk atau membutuhkan kepada tiga hal tersebut (pencipta pertama, akal dan roh) dan berada di bawah kekuasaannya. Menurut Plotinus, yang mula-mula keluar dari pencipta pertama adalah akal (logos) yang seolah-olah dianakkan. Dari akal yang mempunyai kekuatan mengadakan keluar roh yang merupakan kesatuan roh-roh (Abu Zahrah, 1969:39).

Logos (The Divine Mind) yang merupakan The World of Form/ alam mitsal ini oleh kaum Masehi dilekatkan kepada Nabi Isa a.s. Sehingga Isa/Yesus itu merupakan asal segala yang ada. Oleh kaum sufi, khususnya yang ekstrim, filsafat Neo-Platonisme yang berupa logos itu dilekatkan kepada konsep Nur Muhammad/ al-haqiqqatul-Muhammadiyah (Rasyidi, 1977:129). Misalnya pada konsep al-Hallaj, Ibn Araby dan Abdul Karim Al-Jilli di atas.

Menurut Hanafi (1990:32-33), Plotinus mendasarkan filsafatnya kepada dua dialektika (jalan), yaitu dialektika menurun (away down/ al-jadalun-‘nazil) dan dialektika menaik (away up/al-jadalus-‘said). Dialektika menurun digunakan untuk menjelaskan Wujud Tertinggi (The Highest Being, The First, at-‘Tabi’atul-ula, atau Wujudul-Awwal) dan cara keluarnya alam dari-Nya Dengan penjelasan terhadap “Wujud Tertinggi” itu maka Plotinus terkenal dengan teorinya “Yang Esa”. Ia sampai pada satu kesimpulan bahwa semua wujud, termasuk di dalamnya “Wujud Pertama” (Tuhan), merupakan rangkaian mata rantai yang kuat-erat, dan terkenal dengan istilah kesatuan wujud (Wahdatul-Wujud).

Di sini kita lihat bahwa emanasi Plotinus berarti selain melimpah dari Tuhan (Yang satu) juga mengarah kembali kepada Tuhan dan alam mahluk. Bagi Plotinus, setiap orang dapat mengusahakan diri untuk bersatu dengan Tuhan dengan arti menjadi Tuhan. Maka dari itulah Neo-Platonisme dari Plotinus ini dianggap berfaham pantheisme, yaitu suatu aliran yang menganggap bahwa semua alam ini adalah Tuhan (Bakri, 1986:66-67).

Aliran Neo-Platonisme merupakan campuran dari unsur-unsur Platonisme, Phitagoras, Aristoteles, Stoa dan Tasawuf Timur. Jadi, Neo-Platonisme mengandung unsur-unsur kemanusiaan (hasil usaha pemikiran manusia) keagamaan dan keberhalaan (bukan agama langit). Neo-Platonisme itu datang kepada kaum Muslimin dengan melalui aliran Masehi Timur Dekat, tetapi dengan sampul lain yaitu Tasawuf Timur dan pengakuan akan keesaan Tuhan, zat “Yang Pertama”, dengan ketunggalan yang sebenar-benarnya. Karenanya, mereka tertarik dengan filsafat tersebut . hal itu disebabkan filosuf-filosuf Yunani tidak bertentangan dengan Islam selama mereka mengakui keesaan Tuhan dan menganggap zuhud sebagai jalan menuju kebahagiaan manusia (Hanafi, 1990:31-32).

Teori emanasi Plotinus ini selanjutnya berpengaruh ke dalam filsafat Islam sebagaimana terlihat pada bahasan berikut.

3. Kejadian Alam Semesta Menurut Filosof Islam

Pada awal perkembangan Islam, sebenarnya kaum Muslimin tidak bermaksud mengutip pemikiran-pemikiran filsafat dari fihak mana pun. Bila kemudian terjadi perembesan sebagian ilmu-ilmu itu kepada orang Arab itu adalah akibat dari eratnya hubungan dengan bangsa-bangsa lain di sekitarnya yang terjadi sejak zaman jahiliyyah.

Pada masa Daulah Abasiyah, khalifah Al-Mansyur membangun kota Baghdad yang kemudian menjadi mercusuar di Timur dan jantung dunia Islam dalam kurun waktu yang amat panjang. Dari kota Jundshabur, pusat ilmu pengetahuan dan filsafat pindah ke Baghdad. Pada tahun 215 H, Khalifah Al-Makmun mendirikan akademi penerjemahan yang bernama Baitul Hikmah (Al-Ahwani, 1993:32-33). Selanjutnya pada masa khalifah Harun Al-Rasyid tahun 786 M, penerjemahan buku-buku ilmu pengetahuan Yunani ke dalam bahasa Arab pun mulai marak (Nasution, 1990:10-11). Sejak itulah timbul filosof-filosof dan ahli ilmu pengetahuan di kalangan umat Islam. Mereka itu misalnya Al-Razi dan Al-Zarkasyi dalam bidang kedokteran; Al Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, dll di kalangan filsafat. Muhammad, Ahmad dan Hasan dalam bidang Matematika. Jabir dalam bidang kimia; Al-Biruni dalam bidang astronomi, geografi dan sejarah, serta Al-Haitami di bidang optika (Nasution,1990:12-13).

Kaum filosof berpegang pada pendapat yang mereka warisi dari orang Yunani bahwa alam semesta adalah qadim/ azali sebagaimana dikemukakan oleh Aristoteles dan Plato serta Plotinus walaupun tidak secara tegas. Menurut Plato, alam memang qadim, tetapi Tuhanlah yang mengaturnya; sekalipun pada bab lain dari Dialogue-nya, ia mengatakan bahwa “Kreator” (pencipta) itulah yang mengharapkan ide azali, kemudian Ia mencipta alam seperti ide itu (Al-Ahwani,1993:110-111). Sementara itu Plotinus menampilkan teori emanasi (pemancaran,faidh/sudur pelimpahan), semacam teori wahdatul wujud.

Jika dikaitkan dengan pandangan Islam, pendapat-pendapat di atas tentu bertentangan. Islam dengan tegas menyatakan bahwa Tuhan sama sekali berbeda dengan alam. Ia maha tinggi dari segala sesuatu (QS,122). Islam menegaskan bahwa Tuhan menciptakan dari ketiadaan, dan Dia berkuasa untuk mengganti ciptaan-Nya atau mengembalikannya seperti semula (QS,39:38; 2:117; 21:16:3 ;30:8 ;11:123).

Para filosof Islam saling berbeda pendirian dalam menanggapi pendapat tersebut. Sebagian berpendapat seperti filosof Yunani bahwa alam ini qadim tetapi berusaha menafsirkannya dengan tidak mengingkari kekuasaan Tuhan yang Maha Pencipta. Sebagian mengikuti pendapat Islam bahwa alam ini tidak qadim dan tidak azali. Sebagian lainnya menganggap bahwa alam ini merupkan rangkaian kejadian yang berasal dari Zat Tuhan melalui pelimpahan “faidh/ emanasi”.

Berikut akan dibicarakan berbagai pendapat filosof Islam tentang kejadian semesta alam ini antara lain oleh Al-Farabi, Ibnu Sina, dan Al-Kindi, serta Ibnu Rusyd.

Al-Kindi yang berasal dari Kindah di Yaman tetapi lahir Kufah (irak) pada tahun 796 M (Nasution,1990:14), termasuk filosof yang menentang pendapat bahwa alam itu qadim. Beliau berpendapat bahwa alam itu berakhir (mutanahim), tidak azali. Hal itu didasarkan atas teori matematika dalam pendangannya mengenai alam semesta, beliau menampilkan teori bahwa setiap benda pasti berakhir. Demikian pula keseluruhan benda itu, yakni seluruh alam wujud. Karena setiap benda mempunyai jenis dan macam, maka benda itu tidak mungkin azali, sebab yang azali tidak berjenis. Jadi, bukan sesuatu yang azali (Al-Ahwani,1993:111). Al Kindi memandang alam ini adalah ciptaan Tuhan, tetapi tidak menerangkan bagaimana cara penciptaan itu kepada kita.

Menurut Al-Farabi (870 M,- 950 M) segala sesuatu itu keluar dari Tuhan (Yang Awal/Wujud Pertama). Jika sesuatu itu diadakan oleh Tuhan Yang Awal (Al ‘awwal) maka tidak bisa tidak mengetahui zat-Nya dan mengetahui bahwa ia menjadi dasar susunan wujud yang sebaik-baiknya. Jadi, ilmu-Nya menjadi sebab bagi wujud semua yang diketahui-Nya. Bagi Tuhan cukup dengan mengetahui zat-Nya yang menjadi sebab adanya alam agar alam ini terwujud. Jadi, dengan demikian keluarnya alam (makhluk) dari Tuhan itu tanpa gerak atau alat, karena emanasi adalah pekerjaan alam semesta (Nasution,1990:26; Hanafi,1991:92-93; Al-Ahwani,1993:113).

Eksistensi (wujud) segala sesuatu dari Yang Awal itu berlangsung secara melimpah/ faidh. Wujud pertama yang keluar dari Tuhan disebut Akal Pertama. Akal ini mengandung dua segi. Pertama, segi hakikatnya sendiri yaitu wujud yang mumkin. Kedua, segi lain, yaitu wujud yang nyata (wajib) yang terjadi dari Tuhan, sebagai zat yang menjadikan. Dari wujud yang nyata ini keluarlah Akal Kedua.dari pemikiran Akal Pertama, dalam kedudukannya sebagai Wujud yang Mumkin dan tidak mengetahui dirinya, timbullah Langit Pertama (First Heaven) atau benda langit terjauh dengan jiwannya sama sekali.

Dari Akal Kedua, timbullah Akal Ketiga dan Langit Kedua atau bintang-bintang tetap beserta jiwannya, dengan cara seperti yang terjadi pada akal pertama. Dari akal ketiga keluarlah akal keempat dan planet saturmus beserta jiwanya. Dari akal keempat keluarlah akal kelima dan planet yupiter beserta jiwanya. Dari akal kelima keluarlah akal keenam dan planet mars beserta jiwanya. Dari akal keenam lahir akal ketujuh dan matahari beserta jiwanya. Dari akal ketujuh lahir akal kedelapan dan planet venus beserta jiwanya. Dari akal kedelapan lahirlah akal kesembilan dan planet merkurius beserta jiwanya. Dari akal kesembilan keluarlah akal kesepuluh dan bulan.

Pada pemikiran akal kesepuluh, berhentilah timbulnya/ keluarnya akal-akal. Tetapi dari akal kesepuluh muncul bumi serta roh-roh dan materi pertama yang menjadi dasar dari keempat unsur; api, air, udara, dan tanah. Akal kesepuluhlah yang mengatur dunia yang ditempati oleh manusia.

Sedang menurut Al-Farabi, alam terjadi dengan tidak melalui permulaan dalam waktu. Artinya tidak terjadi secara berangsur-angsur, tetapi sekaligus dengan tak berwaktu. Materi asal dari alam memancar dari wujud Allah. Pemancaran itu terjadi dari qadim (tak bermula). Pemancaran diartikan sebagai penjadian. Materi dan alam dijadikan tetapi mungkin sekali bersifat qadim (Nasution, 1990: 26-32: Hanafi, 1991 : 81 – 113 dan Al Ahwani, 1990 : 113 – 115). Dari sini tampak bahwa pemikiran Al- Farabi ini berpijak pada aliran Neo Platonisme dengan teori emanasinya.

Sedangkan menurut Ibnu Sina yang nama lengkapnya Ali Abu Huseein Ibnu Abdillah Ibnu Sina (1037 M) Tuhan memancar dari Akal Pertama. Dari Akal Pertama memancar Akal Kedua dan langit pertama. Demikian seterusnya sehingga mencapai Akal Kesepuluh dan bumi. Dari Akal Kesepuluh memancarlah segala apa yang terdapat di bumi yang berada di bawah bulan. Akal Pertama itu adalah Jibril. (Nasution, 1990 : 30).

Berlainan dengan Al-Farabi, Ibnu Sina mengatakan bahwa keluarnya suatu dari yang satu itu tidak secara “tiga-tiga”. Pertama Akal Pertama mengerti akan dirinya yaitu Tuhan, maka terjadilah “akal” di bawahnya yang kedudukannta lebih rendah dari pada Akal Pertama. Kedua, karena akal yang lebih rendah itu mengerti akan zatnya sendiri maka terjadilah “cakrawala tertinggi” (al-falaqul-aqsa) yang kesempurnaannya berupa jiwa ( an-nafs, soul). Ketiga, karena watak yang memungkinkan terjadinya eksistensi yang lebih rendah sebagai hasil dari pengertian akan zatnya sendiri maka terjadilah “ cakrawala tertinggi” ( al-falaqul-aqsa) (lihat al-Ahwani, 1993 : 116 ; Nasution, 1990 : 34-38).

Dengan demikian dari “Akal” keluarlah tiga eksistensi yaitu : Akal, jiwa (nafs, soul) dan jisim (materi). Ibnu Sina menyesuaikan istilah filsafat dengan istilah agama. Dalam risalahnya yang berjudul Ma’rifat al-Nafs an-‘Natiqah, sebagaimana dikutip Al-Ahwani (1993 : 116), ia mengatakan :

“Akal mempunyai tiga daya pengertian. Pertama, ia mengerti akan penciptanya, yaitu Tuhan. Kedua, ia mengerti akan zatnyasendiri mempunyai kewajiban terhadap Al-Awwal , yakni Tuhan. Ketiga, ia mengerti akan kemungkinan yang ada pada zatnya sendiri. Dari pengertian Penciptanya, akal itu menghasilkan akal pula, yaitu substansi akal lain, tak ubahnya seperti sinar yang memantulkan sinar lainnya. Dari pengertian akan zatnya sendiri yang mempunyai kewajiban terhadap Al-Awwal, (tuhan) terjadilah al-Nafs (jiwa), yang juga merupakan substansi rohani seperti akal, tetapi menurut urutan ia lebih rendah. Dari pengertian akan kemungkinan yang ada pad zatnya sendiri terjadilah substansi kebendaan (jasmani, fisik) yaitu al-Falaq al-Aqsa (Cakrawala Tertinggi).

Al-Falak al Aqsa itu adalah juga Al-Falak al-Atlas yang di dalam istilah agama dikenal sebagai Al-Arsy. Akal kesepulah disebut juga Akal Efektif (Al-Aql-Fa’al), sebagai pemberi bentuk (wahib as-Suwar) yaitu Ar-Ruhul-Amin, Jibril dan An-Namus al-Akbar.

Dari Al-Wajib al-wujud turun secara berurutan beberapa eksistensi (wujud) hingga sampai ke Akal Kesepuluh dan planet bulan. Dari sini timbullah alam unsur, yaitu alam kaun wal-fasad (Alam Kejadian dan kerusakan, alam dunia) dengan empat unsur tersebut terjadilah benda-benda logam yang kemudian meningkat menjadi tumbuh-tumbuhan. Selanjutnya meningkat menjadi hewan. Akhirnya meningkatlah menjadi manusia sebagai hewan yang paling sempurna (Nasution, 1990 : 34-40 ; Hanafi, 1991 :115-133 ; dan Al-Ahwani 115-117).

Sementara itu pendapat Ibnu Rusyd (1126 M-1198 M) tentang alam semesta lebih dekat pada pendapat Aristoteles. Menurutnya, alam seluruhnya dan benda-benda alam yang bersifat partial tersusun dari dua elemen yang saling berlawanan, yaitu materi dan bentuk. Hayula (primordial Matter / materi purba) tidak mungkin timbul dari bentuk. Hal itu disebabkan adanya penafsiran dari sesuatu yang wujud, terutama yang konkrit, tidak mungkin dapat dilakukan kecuali berdasarkan dua elemen, yaitu elemen materi dan elemen bentuk. Jika ada suatu wujud yang berupa “gambaran” semata-mata dan berupa fi’il semurni-murninya, ia dapat ditafsirkan dengan satu ‘illah, yaitu ‘illah suwariyyah (formal-cause), dan itu hanya Tuhan saja. Sedangkan alam mesti ditafsirkan dengan dua ‘illah. (Al-Ahwani (1993 : 117)

Segala sesuatu yang mempunyai eksistensi kongkrit, yang terjadi kemudian rusak di alam wujud, semuanya terdiri dari materi dan bentuk. Terjadinya pun dari benda-benda serupa. Jadi, benda adalah asal terjadinya segala sesuatu yang berwujud. Dalam kaitannya tentang apakah alam ini qadim atau baru, ia mengambil sikap tengah-tengah. Ia mengambil permasalahan itu dalam tiga golongan berdasarkan tiga jenis yang terdapat didalam alam wujud. Ketiganya itu adalah :

1. Semua eksistensi kongkrit yang bersifat partial seperti tumbuh-tumbuhan, hewan, logam dan semua benda yang serupa adalah baru, karena keberadaannya berasal dari zat lain.

2. Suatu wujud yang tidak terjadi dari sesuatu dan tidak berasal dari sesuatu serta tidak didahului waktu. Ia adalah qadim. Sesuatu itu adalah Allah, karena dialah pembuat segalanya.

3. Sesuatu yang berada di antara keduanya, yaitu ada yang tidak berasal dari sesuatudan tidak di dahului waktu, tetapi ia dari sesuatu, yaitu dari Fa’il.

Jadi, secara ringkas dapat dikatakan bahwa keberadaan alam itu menurut Ibnu Sina, berasal dari “sesuatu” yaitu Fa’il. Fa’il itu adalah Tuhan sebagai “penggerak Alam”. Sebagai penggerak, Dia tidak bergerak, tetapi menggerakkan alam melalui zhauq (hasrat atau kerinduan), bukan melalui perbuatan sebenarnya. Alamlah yang rindu kepada Tuhan, karenanya ia lalu bergerak (Nasution, 1990 : 47-54 dan Hanafi, 1991 : 165-192).

D. Kejadian alam Semesta Menurut Teori Ilmu Pengetahuan

Dalam teori Big Bang (dentuman besar), Gamow, Alpher dan Herman berpendapat bahwa alam semesta yang semula berbentuk gas yang mengisi seluruh ruang, yang bila dipergunakan teleskop Mt. Wilson untuk mengamatinya akan terlihat ruang yang beradius 500.000.000 tahun cahaya, meledak dengan satu dentuman dahsyat. Setelah itu materi yang terdapat di alam semesta mula-mula berdesakan satu sama lain dalam suhu dan kepadatan yang sangat tinggi, sehingga hanya berupa proton, neutron dan elektron, tidak mampu membentuk susunan yang lebih berat.

Ledaka dahsyat (Big-Bang) mengakibatkan alam semesta menggembung (berekspansi) keseluruh arah sehingga membentuk galaksi-galaksi bintang-bintang, matahari, planet-planet, bulan dan meteorit (Soedewo, 1968 : 283 ; Ibrahim, dalam Ulumul-Qur’an Januari-Maret 1990 : 67; Kompas tanggal 1 juli 1992).

Proses evolusi alam semesta memakan waktu kosmologis selama enam era yaitu era planck (penggelembungan alam semesta, disini tercipta partikel-partikel yang berpasang-pasangan), era Hadron, era Lepton, era Radiasi, era Kelima (pembentukan protogalaksi), dan era keenam (runtuhnya protogalaksi). Pada era keenam inilah terjadi galaksi yang berasal dari runtuhnya protogalaksi. Dalam peristiwa ini materi dari protogalaksi (bintang atau gas) bergarak dengan kecepatan tinggi menuju ke suatu pusat, tanpa ada gaya yang melawannya (Djay dalam Ulumul Qur’an , Januari-Maret 1990 : 17).

Terjadinya evolusi bumi sampai layak dihuni manusia menurut teori palaentologi juga memakan waktu enam waktu geologis, dimana tiap-tiap periode itu ditandai oleh peristiwa yang menonjol, seperti munculnya gunung-gunung, benua dan lai-lain. Keenam periode itu adalah :

1. Azoicum, yaitu zaman tidak / belum adanya kehidupan, pada saat ini bumi baru tumbuh. Masanya kira-kira satu milyar tahun.

2. Ercheozoicum, yaitu zaman kehidupan primitif dengan ditandai aktivitas gunung api dan timbulnya gunung-gunung. Pada saat ini sudah ada kehidupan berupa semacam ganggang primitif. Lama periode ini sekitar 600.000.000 tahun.

3. Protozoicum, zaman mulainya kehidupan, dengan di temukannya fosil. Lamanya kira-kira 650.000.000 tahun.

4. Palaezoicum, zaman purba. Disini semua phylum yang meninggalkan fosil sudah ada dalam permulaan zaman ini. Zaman ini dibagi lagi dalam tujuh subzaman yaitu : Cambrian, Ordivician, Silurias, Devonian, Mississipian, pennsylvanian dan Permian. Lamanya kira-kira 350.000.000 tahun.

5. Meso-zoicum, yaitu zaman pertengahan : Invertebrata laut jum-lahnya menurun, tetapi Crustaceao modern muncul. Lamanya kira-kira 140.000.000 tahun. Dan

6. Cenozoicum, yaitu zaman sekarang yang dimulai sejak 60.000.000 tahun yang lalu. Pada zaman ini muncul makhluk-makhluk tingkat tinggi dan manusia. Selama bumi berkembang itu alam semesta lainnya ikut pula berubah (Kusumamihardja et all, 1978 : 62-63).

Dari kesimpulan tersebut bisa diperkirakan bahwa alam semesta ini sudah berumur 15.000.000.000 tahun.

Pada alam semesta sudah ditentukan adanya hukum-hukum yang pasti sehingga semua benda langit berjalan secara teratur dan rapi. Determinisme dan mekanisme menjadi prinsip yang nyata bagi alam semesta (Titus et all, 1984 : 98-108).

E. Penciptaan Alam Semesta Menurut Al-Qur’an

Berbicara mengenai penciptaan alam semesta dengan segala aspeknya, Al-qur’an telah menyinggungnya dalam berbagai ayat. Menurut Al Qur’an, alam ini tidak ada dengan sendirinya tetapi diciptakan oleh Allah dengan cara yang teratur dan dengan tujuan yang benar (haq), bukan main-main tanpa tujuan (QS, 44 : 38).

Pada mulanya alam semesta ini berbentuk asap atau gas / dukhan (QS, 41 : 11-12) untuk kemudian bercerai / berpisah membentuk benda-benda langit seperti bintang-bintang, matahari, planet-planet, bumi dan bulan (Djaelani, 1993 : 75).

Proses penciptaan alam semesta ini terjadi dalam masa enam hari (masa, era) (QS, Hud :7 dan Al- Furqan : 59). Pengertian hari (yaum) di dalam Al Qur’an bisa berarti seribu tahun harinya manusia (QS, Al Haj : 47) atau bisa juga sama dengan lima puluh ribu tahun menurut ukuran manusia (QS, Al-Ma’arij : 4). Jadi satu harinya Tuhan bisa berarti jutaan tahun. Jika waktu enam hari (masa) ini kita kaitkan dengan teori Palaentologi yang menyatakan bahwa periodisasi pertumbuhan planet bumi ini terbagi atas enam periode yaitu : Azoicum, Exchoicum, Protorozoikum, Mezosoikum dan Cenozoikum (Kusumamihar-dja, et. All. 1978:-63). Bila kata hari (yaum) ditafsirkan secara metaforik sebagai tingkatan-tingkatan perubahan waktu, maka pemetaan konformal dari era (masa) proses terjadinya alam semesta dapat disamakan dengan evaluasi alam semesta dari teori Big-Bang (ledakan dashyat), juga sama dengan waktu kosmologi yang berjumlah enam, yaitu Era Planck, Era Hadron, Era Lepton, Era radiasi, era pembentukkan Protogalaksi (Djay,1990:18).

Dalam penciptaan alam semesta ini Al Qur’an menyiratkan kepada kita bahwa air adalah molekul yang pertama terjadi dalam proses molekulosynthese di alam semesta. Peristiwa itu terjadi sewaktu gaya elektro-magnetik sudah menunjukkan watak sendiri setelah umur alam semestamencapai 700.000 tahun yang dikenal sebagai “waktu rekombinasi”. Peranan air dalam proses biologis dan biokimiawi sudah banyak dipahami dan dijelaskan dalam banyak literatur (Djay, 1990:16-17).

Di dalam penciptaan alam semesta ini Tuhan telah pula memberikan undang-undang / hukum alam semesta (sunnatullah). Hukum yang mengatur alam semesta ini bersifat pasti dan tetap yang dalam istilah al-Quran disebut takdir atau qadar, artinya sesuai ukuran yang persis dan pasti (QS, Muhammad:2).

Alam semesta ini terus mengembang atau berekspansi ke seluruh arah dalam ruang yang seolah-olah tanpa batas. Artinya alam semesta ini dalam proses menjadi (QS Fatir: 1; Al-Ankabut:20). Gerak dan dorongan yang penuh keajaiban dalam perjalanan alam semesta itu adalah sebagai tanda-tanda yang aneh yang seharusnya menjadi bahan pemikiran manusia yang berakal (QS, An-Nur: 44; An Nah: 12).

Walaupun alam terus berekspansi, namun pada akhirnya ia akan hancur/ musnah atas kehendak Tuhan rabbul-‘alamin/ semesta alam sebagaiman disebutkan misalnya di dalam QS, Al-Haqqah: 13-16 dan surat Al-Mursalat: 8-10. Jadi alam tidaklah abadi. Hal ini dibuktikan sebagaimana hasil Konferensi Tingkat Tinggi Bumi (Earth Summit) di Rio de Janeiro padda awal Juni 1992 bahwa dalam kurun waktu dua puluh tahun terakhir ini tumbuh-tumbuhan dan pepohonan yang tumbuh dikawasan hutan sebanyak 200.000.000 hektar telah musnah. Di samping itu 20.000 species binatang dan tumbuhan yang hidup didekat (bersama-sama) manusia telah lenyap (Tempo, 13 Juni 1992: 52-54). Juga sebuah seminar tentang teori evolusi organik di Chicago AS pada bulan Oktober 1980 dilaporkan bahwa berdasarkan penyelidikan fosil selama beratus-ratus tahun terbukti bahwa berbagai species kehidupan muncul secara mendadak pada suatu ketika pada kurun waktu geologis, bertahan selama berjuta tahun tanpa perubahan lalu punah (Tempo, 27 Oktober 1980: 23).

Dari uraian di atas kita ketahui bahwa ternyata ada persesuaian antara proses terjadinya alam semesta menurut Al-Qur’an dengan teori ilmu pengetahuan, misalnya dengan teori Big-Bang (Kusumamiharja et all, 1978: 54-55).

F. Kejadian Alam Semesta Menurut Konsep India (Agama Hindu)

Agama Brahma, yang pada masa belakangan disebut dengan agama Hindu, bermula dengan keyakinan terhadap kodrat Maha Tunggal (Brahma). Tetapi belakangan agama Hindu berbalik dari keyakinan Monotheisme kepada Politheisme, yakni berbalik menganut keyakinan tentang sekian banyak dewa-dewa seperti terdapat di dalam kisah-kisah Mahabhrata dan kisah Ramayana, yang merupakan kitab terpandang dalam agama Hindu.

Kitab suci yang asli dalam agama Brahma itu ialah Veda yang berasal dari vydia (ilmu) yang terdiri atas empat bagian yaitu”

1. Rig-veda,

2. Sama-veda,

3. Yayur-veda,

4. Atharva-veda.

Pembahasan bidang pokok-pokok keyakina / kepercayaan (akidah) dari Veda terdapat dalam himpunan Upanishads. Menjelang abad IX M, jumlah Upanishads itu telah mencapai 108 buah. Pada akhir abad IX itu muncul seorang pembaharu yang bernama Shankara yang mendapat sentuhan-sentuhan agama Islam, ketika Agama Islam menguasai anak benua India pada waktu itu (Syo’ib, 1988:8-9). Shankara melakukan penelitian terhadap ke-108 buah Upanishads. Dari sejumlah 108 buah itu hanya mengakui 16 buah yang otentik, selebihnya dinyatakan sisipan pada masa belakangan.

Ajaran Upanishads tentang Tuhan dan Alam, biasanya disebut filsafat Upanishads, merupakan sumber terkuat bagi pertumbuhan dan perkembangan mistik. Bahkan filsafat Plotinus (205-270 M) tentang Tuhan dan Alam yang pengaruhnya kuat terhadap agama Kristen dan dunia Islam dinyatakan terpengaruh oleh filsafat Timur oleh ahli sejarah Filsafat. Pertama, tentang kepercayaan terhadap kodrat Maha Tunggal. Kedua, kepercayaan bahwa Alam itu pancaran Zat Tuhan (Syou’ib, 1988:9).

Berikut ini kita lihat beberapa kutipan dari Upanishads:

Sungguh, alam semesta ini berasal dari Brahman. Di dalam brahman, ia hidup dan beroleh perwujudannya. Pasti, seluruhnya adalah Brahman. Biarlah seseorang terbebas dari cemar nafsu, menyembah Brahman saja (Upanishads, Chandoya).

Pada mula sesekali berada Maha Ada sendirian, Mahaesa tanpa ada yang kedua. Dia, yang Mahaesa, berpikir terhadap diri-Nya: Biarlah Aku menjadi banyak, biarlah Aku berkembang. Lantas dari zat-Nya sendiri. Dia melantunkan alam semesta dari zat-Nya sendiri, ia pun masuk ke dalam setiap ada (Upanishads, Chandogya).

Dia, zat yang cemerlang, lebih halus dari yang paling halus, yang di dalam-Nya berada alam semesta dan seluruh mahluk yang hidup di dalamnya. Dia itu Brahman yang tidak lenyap. Dia itu prinsip kehidupan. Dia itu berbicara. Dia itu ingatan. Capailah Dia, O sahabatku, tujuan satu-satunya yang perlu dicapai (Upanishads, Mundaka).

Brahman itu Maha Agung; Dia itu zat yang cemerlang, Dia itu di luar seluruh pemikiran. Dia itu lebih halus dari yang paling halus, lebih jauh dari yang paling jauh, lebih dekat dari yang paling dekat. Dia bersemayam dala seroja hati seriap mahluk (Upanishads, Mundaka).

Brahman ini, zat ini, tersembunyi amat dalam sekali di dalam seluruh mahluk, tidak di wahyukan kepada seluruhnya; tetapi hanya kepada orang suci, yang hatinya murni, memusatkan ingatan kepadanya saja. Dia diwahyukan. Iandria orang cendikiawan tunduk kepada ingatannya, dan ingatannya tunduk kepada akalnya, dan akalnya tunduk kepada aku-nya, dan aku-nya itu tunduk kepada Dia (Upanishads, Katha).

Di dalam filsafat Hindu, faham emanasi tertuang di dalam kitab Upanishad (kitab kedua dalam agam Hindu). Kitab itu memberi gambaran tentang terjadinya alam semesta. Dinyatakan bahwa alam semesta ini oleh Brahman (Ada Tertinggi, Tuhan) ditimbulkan oleh unsur-unsur semesta itu sendiri sambil melakukan tapas, lalu masuk ke dalam semesta itu (Tait, Up.2.6). Di lain tempat dikatakan bahwa semesta ini terjadi karena sabda dari Dia Yang Tak Terumuskan (Brihad, Up.3.9).

Di dalam Mundaka Upanishad, Brahma itu diumpamakan sebagai seekor laba-laba yang mengeluarkan benang-benangnya lalu ditariknya kembali atau dengan rambut yang tumbuh di kulit badan atau dengan percikan-percikan api yang dipancarkan oleh api. Di dalam pandangan ini dunia merupakan emanasi dari Brahman (Zotmulder, 1991:60).

G. Kejadian Alam Semesta dalam Konsep Nasrani

Menurut kepercayaan kaum Nasrani, alam ini diciptakan Tuhan Allah selama enam hari dengan perantaraan Firman-Nya. Dalam Alkitab terbitan Lembaga Alkitab Indonesia (1962) terdapat pernyataan bahwa yang pertama dijadikan Allah adalah langit dan bumi. Pada saat itu keadaan bumi tertutup kabut tebal danRoh Allah melayang-layang di atas muka air (Pasal 1, ayat 1-2).

Pada hari pertama Allah membuat terang dan gelap sebagai penanda adanya siang dan malam (Pasal 1: 3-5). Selanjutnya di hari kedua barulah dicipta langit yan membentang di antara air (Pasal 1: 6-7). Pada hari ketiga Allah membuat daratan dan lautan serta menciptakan rumput, tumbuh-tumbuhan berbiji dan berbuah dengan segala tabiatnya (Pasal 1: 9-13).

Selanjutnya di hari keempat, baru diciptakan matahari, bulan dan bintang (Pasal 1: 14-19). Pada hari kelima Allah menciptakan binatang-binatang laut dan burung-burung (Pasal 1: 20-23). Sedangkan pada hari keenam diciptakan binatang liara dengan segala tabiatnya. Pada hari keenam ini pula manusia laki-laki dan perempuan diciptakan sebagai atas peta Allah. Segala isi bumi ini diperuntukkan bagi manusia (Pasal 1: 24-31).

Pada hari ketujuh Allah beristirahat (Pasal II: 1-4). Kata beristirahatlah pada pasal II itu sebagai terjemahan dari bahas Ibrani “chabbat” (Sabat). Sampai hari ini p[un hari sabtu merupakan hari libur/istirahat bagi kaum Yahudi (Buchaile, 1978:42).

Terlepas dari kontradiksinya dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, demikianlah adanya bagaimana Injil Perjanjian Lama menerangkan tentang proses kejadian alam ini. Dr. Mauriche Buchaile di dalam La Bible, le Coran et La science telah mengupas banyak hal mengenai proses terjadinya alam ini berdasarkan ilmu pengetahuan dan yang dikontrakan dengan Al Qur’an dan Bibel.

Dalam agama Kristen yang berpaham Trinitas (Katritunggalan Tuhan) terdapat kaitan dengan filsafat neo-Platonisme dan paham Nur Muhammad. Pada Injil Yahya 1:1-3 dan 14 disebutkan:

“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada sesuatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan…. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemulian-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebesaran (Lembaga Alkitab Indonesia, 1971:181).

Dalam kutipan dari Injil Yahya (Yohanes) itu disebutkan bahwa Anak (Yesus) sudah ada sebelum dunia ada, yaitu yang disebut dengan Firman (Kalam). Bila Kalam (Firman) itu tidak ada maka dunia ini pun tidak ada. Ini adalah konsepsi Neo-Platonis. Firman / Kalam dalam Injil Yahya tersebut di dalam Al Kitab bahasa Yunani (Greek) dengan Logos. Tentang hal ini dalam buku Karena Allah itu Benar Adanya yang dikeluarkan oleh Kristen sekte Saksi Yehova menyatakan bahwa Kalam atau Logos yang disebut dalam Injil Yahya itu berkuasa dan menjabat kedudukan yang tinggi ini sebagai Logos. Sebab ia adalah mahluk yang pertama dari semua mahluk lain, maka ia adalah suatu Allah, tetapi bukan Allah yang amha Kuasa, yang adalah Yehuwa (1960:33).

Dalam Yahya 1:1-3 terjemahan Emphatic Diaglott tapi masih memakai kata Logos. Istilah Logos ini yang sudah masuk ke dalam Injil Yahya, yang diterjemahkan dengan Kalam/ Firman/ The Word, sebenarnya memang mengambil dari filsafat Neo-Platonisme. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh O. Hashem: “Filsafat Neo-Platonis ini telah dimasukkan ke dalam Injil Yohannes dengan mengambil istilah Logos yang berasal dari Plato…(1965: 40).

Logos dalam Injil ini juga sebagai asal segala sesuatu yang tanpa adanya tidak akan ada segala sesuatu tadi. Hal ini sejalan dengan pemikiran Nur Muhammad dan Neo-Platonis. Perbedaan ketiganya hanya dalam masalah penekanan yang tidak prisip yang disesuaikan dengan ajaran agama di mana filsafat Neo-Platonis itu merembeskan diri, namun intinya mirip (Abdullah, 1983:31).

H. Kesimpulan

Dari pembahasan di atas kelihatan bahwa antara konsep Al Quran dengan teori ilmu pengetahuan berkenaan dengan teori kejadian alam semesta terdapat kesesuaian. Sedangkan dalam konsep filsafat Islam yang nantinya akan merembes ke dalam tasawuf falsafi agaknya bersinggungan bahkan kelihatan terdapat pengaruh konsep filsafat neo platonis, konsep Hindu dan Kristen tentang kejadian alam semesta ini.

I. Daftar Pustaka

Abdullah, Samudi. 1982. Analisa Kritis Terhadap Tasawuf. Surabaya : PT. Bina Ilmu.

———. 1983. “Teori Penciptaan dalam Faham Wahdatul Wujud Kaum Sufi dan Kebatinan dalam Walisongo, (No. 10. Januari 1984) : hal 21-26.

Al-Ahwani, Ahmad Fuad. 1993. Filsafat Islam. terj. Sutarji C. Bahri. Jakarta : Pustaka Firdaus.

Bakri, Hasbullah. 1968. Di Sekitar Filsafat Skolastik Kristen. Bandung : Sulita.

———. 1986. Sistematika Filsafat. Jakarta : Wijaya.

Buchaile, Maurice. 1978. Bibel, Al-Qur’an, Sains Modern. terj. H.M. Rasyidi. Jakarta : Bulan Bintang.

Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta : Proyek Pengadaan Terjemahan Al Qur’an.

Djay, A Rahman. 1990. “Al Qur’an Dalam Fokus Kosmologi Modern”, dalam Ulumul Qur’an (Januari-Maret). Jakarta.

Hadiwijono, Harun. tt. Kebatinan Islam Dalam Abad Enam Belas. Jakarta : BPK Gunung Mulia.

——— tt. Kebatinan dan Injil cet. Kedua. Jakarta : Gunung Mulia.

Hanafi, A. 1984. Segi-Segi Kesusastraan Pada Kisah-kisah Al-Qur’an. Jakarta : Pustaka Al-Husna.

——–. 1990. Pengantar Filsafat Islam. Jakarta : Bulan Bintang.

Khan, Khan Sahib Khaja 1987. Cakrawala Tasawuf Jakarta: PT Rajawali.

Kusumamihardja, Supan, et al. 1978. Studia Islamica. Bogor : TPAI IPB.

Lembaga Al Kitab Indonesia. 1971. Berita Untuk Manusia, Perjanjian Baru dalam Bahasa Indonesia Modern. Jakarta : Lembaga AlKitab Indonesia.

Nasution, Harun. 1974. Filsafat Agama. Jakarta : Bulan Bintang.

———. 1990. Filsafat dan Mistisisme dalam Islam. Jakarta : Bulan Bintang.

Soedewo, P.K. 1968a. Masih Hidupkah Nabi Isa dengan Badan Jasmaninya Di Langit ? Yogyakarta : Kalimasada.

———. 1968b. Keesaan Ilahi. Jakarta : Darul-Kutubil Islamiyyah.

Teeuw, A. 1978. Penelitian Struktur Sastra. Jakarta : Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

———. 1981. “Ilmu Sastra Umum dan Ilmu Sastra Malindo”. Silabus Kuliah.

———. 1983. Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta : Gramedia.

Tempo, Jakarta 13 Juni 1992, hal 52-54.

———-, Jakarta 27 Oktober 1980, hal 23.

Titus, Harold H, Marilyn S. Smith, dan Richard T. Nolan. 1984. Persoalan-persoalan Filsafat. Jakarta : Bulan Bintang.

Zahrah, Syekh Abu. 1969. Tinjauan Tentang Agama Masehi terj. A. Hanafi. M.A. Solo : A.B Siti Syamsiyyah.

Zoetmulder, P.J. 1990. Manunggaling Kawula Gusti. Jakarta: Gramedia

Tags:

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.