Archive for the ‘KHUTBAH’ Category

HIJRAH, ETOS KERJA SEORANG MUSLIM

Monday, December 13th, 2010

KHUTBAH JUMAT
HIJRAH, ETOS KERJA MUSLIM

Drs. H. M Nur Fawzan Ahmad, M.A[1]

ألحمدلله. ألحمدلله الذى قسم الزمان اعواما. وقسم الاعوام شهورا وأيّاما. على ما اقتضته الحكمة والتدبير .وافتتح كل عام بشهره المحرّم. وجمله بيوم عاشوراءالمعظّم. الّذى فضّله فىالجاهليّة والاسلام. أحمده سبحانه وتعالى واشكروه. واتوب اليه واستغفروه . واشهد ان لااله الاّ الله وحده لاشر يك له شهادة تنجى قائله يوم الزّحان. واشـهد انّ سـيّدنا محمّداعبده ورسـوله سيّد الأنام. اللهمّ صلّ وسلّم على سيّدنا محمّد ا لّذي انقذنا من الظّلام. وعلى اله وصحبه الكرام . (امّا بعد) فياعبادالله, اتّقواالله حقّ تقاته ولاتموتنّ الاّ وأنتم مسـلمون. فقد قال الله تعالى فىالقرأن العظيم. اعوذ بالله من الشيطان الرجيم. بسم الله الرحمن الرحيـم. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Saudaraku rahimakumullah,

Kita baru saja masuk pada bulan Muharram, salah satu bulan yang dimuliakan Allah seperti firman Allah dalam QS Attaubah: 36

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَات وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلاَ تَظْلِمُواْ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ وَقَاتِلُواْ الْمُشْرِكِينَ كَآفَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَآفَّةً وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

[9.36] Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.

Oleh karena itu sudah selayaknya kita senantiasa meningkatkan takwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa.

. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Sebelum kita kupas apa makna hijrah, maka kita lihat sekilas sejarah ditetapkannya peristiwa hijrah Rasul sebagai awal kalender Islam.

Pada tangga 6 bulan Agustus 610 M Rosululloh Muhammad SAW dilantik menjadi Rosul. Kemudian pada tanggal 28 Juni 623 M beliau Hijrah dari kota Mekkah ke kota Madinah. Tepat pada tanggal 9 Juni 633 Masehi Rosululloh wafat.

Setelah Rosulullah wafat kemudian kepala Negara diganti oleh shohabat Abu Bakar Shiddiq r.a. selama 2 tahun dan pada tahun 635 M setelah Shohabat Abubakar wafat. Selanjutnya kepala negara diganti oleh Shohabat Umar bin Khottob selama 10 tahun.

Jadi Rosululloh SAW sebagai rasul selama 13 tahun dan kemudian menjadi rosul dan Kepala Negara di Madinah selama 10 tahun. Shohabat Abu Bakar Shiddiq r.a. menjadi kepala negara di Madinah selama 2 tahun. Shohabat Umar bin Khothob r.a. menjadi kepala negara di Madinah selama 10 tahun.

Pada waktu shohabat Umar bin Khottob menjadi kepala negara di Madinah, banyak negara-negara yang takluk dengan Madinah seperti : Negara Mesir, Negara Irak atau Mesopotamia, Negara Yaman, Negara Bahrain, Negara Persi atau Iran, Negara Palestina, Negara Syiria, Negara Turki. Sebelumnya negara-negara tersebut masuk wilayah Negara Rumawi yang Kristen. Negara Negara seperti Kuffah, Baghdad, Basroh di Irak masuk wilayah Negara Persi.

Ibu Kota Negara sebagai pusat kendali pemerintahan di bawah seorang Kepala Negara yang disebut Amirul Mukminin adalah di Madinah di bawah pimpinan Shohabat Umar Bin Khothob. Pada tahun ke 5 Sayyina Umar bin khothob menjabat Kepala Negara beliau mendapat surat dari Musa Al As’ari Gubernur Kuffah, yang isinya adalah sebagai berikut : “kataba musa al as’ari ila umar ibnul khothob. innahu taktiina minka kutubun laisa laha taariikh.” Artinya: Telah menulis surat Gubernur Musa Al As’ari kepada Kepala Negara Umar bin Khothob. Sesungguhnya telah sampai kepadaku dari kamu beberapa surat-surat tetapi surat-surat itu tidak ada tanggalnya.

Kemudian Kholifah Umar bin Khothob mengumpulkan para tokoh-tokoh dan shohabat-shohabat yang ada di Madinah. Di dalam musyawarah itu membicarakan rencana akan membuat Tarikh atau kalender Islam. Dan didalam musyawarah muncul bermacam-macam perbedaan pendapat. Di antara pendapat tersebut adalah sebagai berikut:

· Ada yang berpendapat sebaiknya tarikh Islam dimulai ari tahun lahirnya Nabi Muhammad SAW.

· Ada yang berpendapat sebaiknya kalender Islam dimulai dari Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi rosululloh.

· Ada yang berpendapat sebaiknya kalender Islam dimulai dari Rosululloh di Isro Mi’roj kan .

· Ada yang berpendapat sebaiknya kalender Islam dimulai dari wafatnya Nabi Muhammad SAW.

· Sayyidina Ali krw. Berpendapat, sebaiknya kalender Islam dimulai dari tahun Hijriyahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah atau pisahnya negeri syirik ke negeri mukmin. Pada waktu itu Mekkah dinamakan Negeri Syirik, bumi syirik.

Akhirnya musyawarah yang dipimpin oleh Amirul Mukminin Umar Bin Khothob sepakat memilih awal yang dijadikan kalender Islam adalah dimulai dari tahun Hijriyahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah. Kemudian kalender Islam tersebut dinamakan Tahun Hijriyah.

Jadi, ditetapkan tahun Hijriyah itu dimulai sejak Umar bin Khothob menjabat Kepala Negara setelah 5 tahun dimulai diberlakukan bertepatan dengan tahun 640M. Setelah tahun Hijriyah berjalan 5 tahun kemudian Shohabat Umar Bin Khothob wafat.

1. Peristiwa yang menarik adalah mengapa peristiwa hijrah ditetapkan sebagai awal kelender, bukan saat lahirnya, matinya, Israknya, dll? Ini merupakan penghargaan Islam terhadap prestasi, bukan prestise. Seseorang dihargai karena prestasi bukan prestise.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

[49.13] Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Sabda Rasul

ان الله تعلى لا ينظر الى اجسا مكم ولا الى صواركم ولكن ينظر الى قلوبكم

Dari Abu Hurairah, Abdurrahman bin Shakhr ra, ia berkata Rasulullah bersabda: Sesungguhnya Allah tidak melihat pada tubuh kalian, dan tidak pula kepada rupa kalian, tetapi Dia memandang kepada hati kalian. (HR Muslim)

2. Hijrah Dinamis

Dalam ajaran Islam sarat dengan istilah syari’at, tharikat, manhaj, shirath, sabil. Semua itu mempunyai arti dasar jalan. Hakikat jalan adalah untuk bergerak berpindah, dinamis, senantiasa beraktivitas. Ini adalah etos kerja muslim. Jadi kalau sebuah jalan kok tidak ada pergerakan, ada yang menghambat, macet, dsb, maka ia telah menghianati hakikat jalan.

Maka tak ada tempat bagi orang Islam untuk berhenti, diam, pasif, menunggu, meminta-minta, berhitung dengan seandainya jikalau umpama saja. Tetapi harus senantiasa aktif, bergerak dinamis.

Allah tak akan merubah nasib seorang kalau dia sendiri tak merubahnya. Bahkan Allah menegur orang yang menderita karena tak mau berjuang akibat tak mau pindah, tak mau bergerak.

إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلآئِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُواْ فِيمَ كُنتُمْ قَالُواْ كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الأَرْضِ قَالْوَاْ أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُواْ فِيهَا فَأُوْلَـئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَسَاءتْ مَصِيرً ا

Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?”. Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?”. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali, [QS An-Nisa 4.97]

إِلاَّ الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاء وَالْوِلْدَانِ لاَ يَسْتَطِيعُونَ حِيلَةً وَلاَ يَهْتَدُونَ سَبِيلاً فَأُوْلَـئِكَ عَسَى اللّهُ أَن يَعْفُوَ عَنْهُمْ وَكَانَ اللّهُ عَفُوًّا غَفُورًا

kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita atau pun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah),   mereka itu, mudah-mudahan Allah memaafkannya. Dan adalah Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. [QS An-Nisa, 4.98-99]

وَمَن يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللّهِ يَجِدْ فِي الأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً وَمَن يَخْرُجْ مِن بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلى اللّهِ وَكَانَ اللّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS An-Nisa4.100]

دع الاوطان واغترب

ما في المقام لذي عقل وذي أدب * من راحة فداع الاوطان واغترب

سافر تجد عوضا عمّن تفارقه * وانصب فانّ لذيذ العيش في النّصب

انيّ رأيت وقوف الماء يفسده * ان سال طاب وان لم يجر لم يطب

والاسد لولا فراق الغاب مافترست * والسّهم لولا فراق القوس لم يصب

والشمش لووفقت في الفلك دائمة * لملّهّا النّاس من عجم و من عرب

والتير كا لترب ملقىً في اماكنه * والعود في أرضه نوع من الحطب

فأءن تغرّب هذا عزّ مطلبه * وأن تغرّب ذاك غزّ كالّذهب

Jika di tempat tinggalmu sudah tidak ada lagi orang yang berilmu dan beradab (sebagai tempat penenang maka tinggalkanlah negerimu dan berlakuklah sebagai musafir (orang asing)

Pergilah niscaya engkau akan mendapatkan pengganti orang yang kautinggalkan. Kemudian menetaplah di tempat yang baru itu karena lezatnya kehidupan itu pada ketetapan (tidak berpindah2). Sesungguhnya aku melihat terhentinya air dapat membuat rusak, tetapi jika air itu mengalir akan menjadi baik dan sehat, dan bila tidak mengalir akan tidak baik.

Seekor singa kalau dia tidak bergerak dari sarangnya tentu ia tidak akan mendapatkan mangsanya. Sebuah panah tidak akan mengenai sasaran kalau ia tidak mau bergerak dan berpisah dari busurnya.

3. Pilar-Pilar Hijrah

Membaranya besi Makah (penyiksaan, kezaliman dan berbagai penyelewengan terhadap pengikut rasulullah) ketika itu, menjadikan Rasulullah SAW diperintahkan untuk melakukan perpindahan syar’I (hijrah) dari Mekah ke Madinah. Perpindahan ini sendiri adalah awal dari tekad perubahan atau dalam istilah apapun (reformasi, tajdid, islah, dll.) dari situasi yang tidak menguntungkan kepada situasi yang lebih menguntungkan. Dari situasi yang stagnan terhadap situasi yang lebih dinamis.

Dalam hubungan ini Umat harus segera melakukan pilar-pilar hijrah dari masa ke masa:

Pertama: Hijrah ‘aqadiyah. Yaitu tekad dan komitmen penuh untuk melakukan hijrah dari berbagai “tuhan” dalam hidup kita, termasuk tuhan-tuhan tokoh, harta, kedudukan, persepsi, dll. Menuju kepada Tuhan Yang Maha Tunggal, Allah SWT. Barangkali, wacana ketuhanan Ibrahim akan sangat membantu kita dalam hal ini. Ibrahim memulai menemukan tuhannya dalam bentuk bintang-bintang. Namun karena timbul bulan yang kelihatannya lebih besar dan bersinar, ia pun memiliki keberanian untuk mengetakan “no” kepada bintang-bintang tersebut. Beberapa masa kemudian, ternyata bulan seolah mengilang dari pancaran mentari yang bersinar. Maka dengan kebesaran jiwa yang dimilikinya, Ibrahim mampu melepaskan diri dari mempertuhankan bulan menuju kepada keyakinan akan ketuhanan matahari. Tapi tatkala matahari tenggelam, ia pun berkesimpulan, “inni wajjahtu wajhiya lilladzi fatarassamawati walardh haniifan musliman wa maa ana minal musyrikiin”.

Proses pencapaian kemurnian akidah Ibrahim ini adalah contoh kongkrit yang sering terjadi dalam kehidupan kita. Betapa kekaguman kita terhadap seorang tokoh misalnya, namun jika pada akhirnya fakta mengharuskan kita untuk mengambil sikap bersebelahan, maka kita harus melakukannya. Sikap sebagian ummat selama ini, yang cenderung mengidolasasikan (memberhalakan) pemimpin sesudah masanya diilhami oleh hijrah (perpindahan positif) ke arah yang lebih positif.

Kedua, Hijrah Ta’abbudiyah. Yaitu tekad dan komitmen penuh dari ummat ini untuk melakukan perubahan konsepsi terhadap ibadah dalam Islam. Selama ini, ummat masih memahami makna ibadah sebagai kegiatan-kegiatan ritual yang terlepas dari masalah-masalah sosial dalam kehidupannya. Konsekwensinya, terjadi “personal split” (personalitas yang kontradiktif), di satu sisi merasa menjadi hamba yang saleh karena banyak melakukan haji, namun di sisi lain, tanpa menyadari, menjadi hamba yang korup dalam berbagai bentuknya.

Pemahaman terhadap konsepsi ibadah di atas sudah masanya diubah, direform, sehingga ummat ini tidak lagi kehilangan banyak kunci-kunci surga. Kunci-kunci surga dalam bentuk amal-amal kemasyarakatan, termasuk dalam pengelolaan negara dan bangsa. Untuk ini, khutbah Jum’at sudah harus dirubah isinya, yang selama ini melihat pembicaraan mengenai hal-hal politis (tanpa bermaksud politiking), dianggap tabu. Sebab hanya dengan menyadarkan ummat akan makna ibadah dalam proses amar ma’ruf, penegakan keadilan dan penanaman motivasi agar ummat bangkit melakukan kewajiban dan memperjuangkan hak, ummat akan terhindari dari perilaku penguasa yang cenderung memperbudak.

Ketiga, Hijrah Akhlaqiyah. Yaitu perubahan perilaku, baik lahir maupun bathin (Al Akhlaq wassuluk), ke arah yang islami. Akhlaq yang diajarkan oleh Islam sesungguhnya adalah perilaku manusia yang universal. Satu contoh misalnya, ketika di musim haji anda akan merasakan betapa “attitude” manusia akan beragam, termasuk yang sangat “kasar” (melompat di atas kepala sesama yang lagi duduk berdzikir) misalnya. Padahal, dalam hadits disebutkan bahwa dilarang duduk di antara dua orang tanpa seizinnya (hadits). Lalu bagaimana melompati kepala orang?

Keempat, Hijrah ‘Aqliyah Tsaqaafiyah. Yaitu tekad untuk membenahi sistem pemikiran dan cara pandang kita sebagai Muslim. Salah satu ajaran penting Islam dalam hal ini adalah bahwa manusia telah dimuliakan dengan kemampuan intelektual (’allama Aadam). Oleh sebab adalah pengingkaran terbesar terhadap ni’mat Allah jika kemampuan ini tersia-siakan, dengan mengekor kepada cara pandang orang lain tanpa reserve. Termasuk cara pandang dalam melihat kehidupan misalnya. Amerika yang dipersepsikan sebagai “the most super power” and by some others perceived to be the most civilized country, cenderung diikuti dalam berbagai kebijakannya. Tanpa disadari sebagian ummat ini terlibat dengan perilaku ini, yang sesungguhnya pada saat yang sama terjatuh dalam sebuah penjajahan baru, yaitu intellectual colonization (penjajahan intellektual).

Kelima, Hijrah Usrawiyah. Yaitu tekad dan komitmen baru untuk melakukan perubahan dalam pola pembangunan keluarga. Keluarga disebutkan secara khusus karena keluarga merupakan institusi terpenting untuk melakukan pembenahan-pembenahan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Gagalnya institusi keluarga merupakan kegagalan dalam institusi kemasyarakatan yang lebih luas.

Kalau selama ini, sebagian ummat terlalu “materialistic minded” dalam membangun kehidupan keluarganya, mungkin sudah masanya dilakukan pembenahan dengan peruabahan ke arah yang lebih seimbang antara “material dan spiritual”. Jika ummat terlalu termotivasi untuk mendidik anak ke jenjang tertinggi, Ph.D dalam ekonomi, politik, dll. Mungkin sudah masanya dibarengi dengan pendidikan tertinggi pula dalam hal kerohaniaan. Intinya, hijrah ke arah kehidupan keluarga yang Islami, yang ditandai oleh kesuksesan dunia akhirat (fiddunya hasanah wa fil aakhirati hasanah).

Keenam, Hijrah Ijtima’iyah. Tekad dan komitmen dari semua anggota ummat ini untuk melakukan perubahan-perubahan ke arah yang lebih positif dalam kehidupan jama’ahnya, dalam segala skala kehidupannya, baik politik, ekonomi, legal dan hukum dll. Untuk mencapai perubahan ini, diperlukan strategi-strategi yang sesuai, yang menuntut kemampuan ijtihadiyah dari anggota ummat ini. Mungkin akan keliru, jika ada di kalangan ummat ini yang mengakui bahwa metode pencapaian jama’ah islam (istilah apapun namanya, negara atau khilafah islamiyah) adalah miliknya semata. Berbagai kelompok, yang berada pada jalur ini (upaya pencapaiannya), berada pada persimpangan “ijtihadi” yang mungkin benar dan mungkin salah. Yang pasti, bahwa memang ada perbedaan kadar kebenaran dan kesalahan yang dimiliki masing-masing kelompok tersebut. Tinggal bagaimana agar kebenaran yang ada pada masing-masing pihak dapat dikoordinasikan sehingga mampu menutupi kekurangan-kekurangan yang ada.

Demikian sekilas refleksi hijrah. Selamat Tahun Baru 1422 H. Semoga perjalanan kita, dalam setiap langkah yang diambil mendapat ridha dan hidayah serta ma’unah Allah SWT.


مَنْ كَانَ يَوْمُُهُ خَيْرًا مِنْ أمْسِهِ فَهُوَ رَابِحٌ, وَمَنْ كانَ يَوْمُهُ سَوَاءً مِنْ أمْسِهِ فَهُوَ خُسْرَانٌ, وَمَنْ كانَ يَوْمُهُ شَرّا مِنْ أمْسِهِ فَهُوُ هَالِكٌ.

Artinya:
“Barang siapa pada hari ini dalam keadaan yang lebih baik dari hari kemarin, maka ia termasuk orang yang beruntung, dan barang siapa yang pada hari ini sama dari hari kemarin maka ia termasuk orang yang merugi, dan barang siapa yang pada hari ini dalam keadaan yang lebih buruk dari hari kemarin,maka ia termasuk orang yang celaka”

اعوذ بالله من الشّيطا ن الرّ جيم وَالْعَصْرِ * إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍإِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ*

بارك الله لى ولكم فى القر آن العظيم .ونفعنى و إيا كم بما فيه من ا لأ يات والذكر الحكيم و تقبل منى ومنكم تلاوته إنه هو السميع العليم. واستغفر والله العظيم لي ولكم . فيا فوز المستغفر ين ويا نجاة التائـبين.

=====================

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.


[1] Sekretaris Umum PW Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Jateng, Anggota Komisi Sejarah dan Peradaban Islam MUI Jateng, Ketua Badko TPQ Jateng, Pengurus YPKPI Masjid Raya Baiturrahman Jateng, Pengurus LAZISMA Masjid Agung Jateng. Sehari-hari dosen tetap pada FIB Undip, dan dosen tidak tetap pada Akper Pemprov, Akper Kesdam, Poltekkes Depkes, STIKES Karya Husada, STIKES Widya Husada, dll

Mengembalikan Keindahan Islam dengan Berjamaah di Masjid

Friday, July 24th, 2009

 

Kaum muslimin jamaah sholat jumat yang berbahagia
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah SWT, dengan menjadikan setiap amal bernilai ibadah di sisi Allah. Kemudian dengan sekuat tenaga untuk meninggalkan larangan Allah. Menjadikan ketakwaan adalah sesuatu yang selalu dipersiapkan untuk menghadapi kematian.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”.

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah

(more…)

PEMILU DALAM PANDANGAN MUSLIM

Friday, July 24th, 2009

ihramISLAM dalam artian yang spesifik adalah wahyu Allah SWT kepada Nabi Muhammad saw berupa ajaran dan tuntunan hidup untuk keselamatan umat manusia di dunia dan akhirat. Islam agama yang sempurna, firmanNya : “Hari ini Aku sempurnakan bagi kalian agamamu….” ( QS. Al-Maidah: 3). Islam agama yang universal mencakup semua aspek kehidupan, firmanNya: “Masuklah kalian ke dalam agama Islam secara kaffah (menyeluruh) dan jangan mengikuti langkah-langkah setan..” (QS. Al-Baqarah: 208). Dan Islam adalah agama yang adil, seimbang, karenanya umatnya pun adalah umat yang berkeadilan, firmanNya: “dan demikianlah Kami jadikan kalian umat yang adil…” (QS. Al-Baqarah: 208).
Maka tidak dibenarkan bagi seorang muslim melontarkan ungkapan-ungkapan seperti: “Saya muslim dalam ibadah”, atau “saya muslim dalam akhlak”, atau “saya mukmin dalam masyarakat “, “muslim yang penting hatinya…”, sebab ungkapan-ungkapan tersebut memberikan makna parsialisme, atau sikap dikotomi antar ajaran-ajaran Islam.

(more…)

KEUTAMAAN BULAN RAJAB

Friday, July 24th, 2009

ihram

 

Kita hidup senantiasa berganti, dari jam ke jam, hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan dan tahun ke tahun, semuanya telah diatur Allah. Allah berfirman

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَات وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلاَ تَظْلِمُواْ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ وَقَاتِلُواْ الْمُشْرِكِينَ كَآفَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَآفَّةً وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

[9.36] Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.

(more…)

GHURUR/ TERTIPUOleh HM. Nur Fawzan Ahmad

Wednesday, July 22nd, 2009

fauzan

Mari bartaqwa, di mana pun berada. Dalam kondisi apa pun . Ketaqwaan ini harus senantiasa ditingkatkan terus sejalan dengan perjalanan waktu dan banyaknya tantangan hidup yang dihadapi. Karena Allah senantiasa melihat kita di mana pun kamu berada. Jangan menjadi orang yang tertipu (ghurur). Yaitu kita merasa sudah cukup dan yakin dengan ibadah kita. Atau malah ogah-ogahan beribadah karena merasa jatuh berdosa.

Ghurur artinya tipuan. Yaitu tertipunya diri dengan diamnya jiwa pada sesuatu yang cocok dengan ajakan hawa nafsu. Dia tidak berusaha menolaknya tetapi bahkan menurutinya.

Kata ghurur (tanpa derivatnya) disebut tidak kurang dari 9 kali, yaitu: Ali Imran 3:185; AnNisa’ 4:120; Al-An’am 6:112; Al-A’raf 7:22; Al-Isra’ 17:64; Al-Ahzab 33:12; Faathir 35:40; Hadiid 57:20; dan Al-Mulk 67:20.

Dari ayat-ayat tersebut penting untuk dikutip ayat ini

يَعِدُهُمْ وَيُمَنِّيهِمْ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلاَّ غُرُورًا

Syaithan itu memberikan janji-janji kepada mereka (manusia) dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaithan itu tidak menjanjikan kepada mereka kecuali tipuan belaka.” (An Nisa’ 4:120).

Ada dua hal yang menyebabkan ghurur (tipu daya) :

(more…)

Kutbah Idul Adha IKRAR CINTA

Wednesday, July 22nd, 2009

fauzan

الله أكبر الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله والله أكبر ، الله أكبر ولله الحمد.
الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا . لا إله إلا الله ولا نعبد إلا إياه مخلصين له الدين ولو كره المشركون . لا إله إلا الله وحده صدق وعده ونصر عبده وأعز جنده وهزم الأحزاب وحده . لا إله إلا الله والله أكبر . الله أكبر ولله الحمد .
إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونستهديه ونتوب إليه ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا ، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلله فلا هادي له ، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله ، بلغ الرسالة وأدى الأمانة ونصح للأمة وجاهد في الله حق جهاده.
اللهم صل على محمد وعلى آله وأزواجه أمهات المؤمنين وأصحابه الأخيار رضوان الله عليهم ومن دعا بدعوته وسلك سلوكه واتبع سنته إلى يوم الدين . أما بعد أيها المسلمون أوصيكم ونفسي بتقوى الله عز وجل.

Ma’asyiral Muslimin Rohimakumullah

Pada pagi ini kita berkumpul melantunkan Takbir membesarkan Allah Swt, MemujiNya, Bertasbih kepadaNya. Tiada yang layak dipuji kecuali hanya Dia, Dia yang menghidupkan, Dia yang mematikan, Dia yang memberi rezeki. Saudara-saudara kita pagi ini berangkat menuju Mina untuk melempar Jamratul ‘Aqabah. Semalam mereka bermalam di Muzdalifah. Kemarin mereka seharian penuh berwuquf di ‘Arafah, menadahkan tangan kepada Robb memohon ampunnya, membukakan pintu rahmatnya. Kita yang berada di tanah air, diganti Allah dengan puasa ‘Arafah tanggal 9 Zulhijjah yang Fadhilahnya dapat menghapuskan dosa tahun kemarin dan dosa pada tahun ini.

Allahu Akbar Allahu Akbar

(more…)

KHUTBAH IDUL AD-CHA 1429 H[1] HM Nur Fawzan AhmadPelajaran dari Nabi Ibrahim untuk Hidup dalam Kebenaran

Wednesday, July 22nd, 2009

fauzan


الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر
اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ اِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Jamaah Shalat Idul Adha Yang Dimuliakan Allah.

Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah swt yang telah memberikan kenikmatan kepada kita dalam jumlah yang begitu banyak sehingga kita bisa hadir pada pagi ini dalam pelaksanaan shalat Idul Adha. Kehadiran kita pagi ini bersamaan dengan kehadiran sekitar tiga sampai empat juta jamaah haji dari seluruh dunia yang sedang menyelesaikan pelaksanaan ibadah haji di Tanah Suci. Semua ini karena nikmat terbesar yang diberikan Allah swt kepada kita, yakni nikmat iman dan Islam.

Shalawat dan salah semoga selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad saw, beserta keluarga, sahabat dan para pengikuti setia serta para penerus dakwahnya hingga hari kiamat nanti.

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Kaum Muslimin Yang Berbahagia.

(more…)

KHUTBAH JUMAT PASCA IDUL FITRI 1429H (10 Oktober 2008) Di Masjid Al Falah Semarang MENGEMBALIKAN NURANI YANG HILANG

Wednesday, July 22nd, 2009

fauzan

الحمد لله الذي أنعـمنا بنعـمة الايمان والاسلام والشكر عـلى نـعـم الله الذى أمرنا بالصلاة و الصيام وأمرنا بالزكاة لتكميل صيام رمضان طهرة لنا لنيل التقى والبر والاحسان أشهد أن لااله الا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الذى برسالته يهدى الله لمن يشاء ذكور ا واناثا اللهم صل وسلم على سيدنا وشفيعـنا قرة أعين محمد صلى الله عليه وسلم وعلى أله واصحابه ومن اتبع الهدى <أما بعد> فيا أيها المسلمون اتقوا الله حق تقته ولا تموتن الا وأنتم مسلمون قال الله تعالى وهو أصدق القـائلين أعوذ بالله من الشيطان الرجيم وسارعوا الى مغـفـرة من ربكم وجنة عـرضها السموات والأرض أعـد ت للمتقين الذين ينفـقـون فى السراء والضراء والكاظمين الغـيظ والعـافين عن الناس والله يحب المحسنين صدق الله العظيم

Segala puji bagi Allah penggenggam segala urusan. Sungguh tanpa izin dan iradah-Nya tak mungkin kita bisa hadir di hari Agung ini. Maka bergembiralah kita karena kita telah terpilih untuk bisa hadir di bulan suci Ramadhan. Bersyukurlah kita yang telah berhasil mencelup diri kita, mensucikan diri kita di bulan Ramadhan sehingga hari ini kita bisa menyaksikan Idul Fitri tahun ini dengan penuh suka cita. Maka marilah kita senantiasa meningkatkan takwa kita kepada-Nya dengan sebenar-benar taqwa. Yaitu dengan menjalankan segala perintah Allah betapapun beratnya dan berusaha dengan sungguh-sungguh sekuat tenaga untuk menghindari larangannya sekalipun hal itu menarik bagi kita. Sungguh, hanya bagi mereka yang bertaqwalah yang akan mendapatkan kebahagiaan dan tempat terhormat di sisi Allah. Shalawat dan salam semoga tetap terlimpah kepada manusia agung teladan sepanjang zaman Rasulullah saw (more…)