A. PENDAHULUAN

Sering kita jumpai dalam berbagai bahasa, ungkapan yang digunakan untuk menunjukkan sebuah kejadian dari dua sisi yang berbeda. Dalam linguistik, ungkapan tersebut dinamakan diatesis, atau voice dalam bahasa Inggris, atau tai (態)dalam bahasa Jepang. Diatesis merupakan salah satu kategori gramatikal yang menunjukkan hubungan antara subjek dengan predikat, atau pelaku dengan perbuatan. Bahasa Jepang memasukkan diatesis ke dalam kategori gramatikal verba bersama persona (人称), aspek(想), kala(時性),dan modalitas(法性).

Pembagian diatesis dalam bahasa Jepang banyak macamnya menurut definisi ahli yang berbeda. Teramura (1982:205) membagi diatesis menjadi:

1. Diatesis pasif

2. Diatesis kausatif

3. Diatesis potensial

4. Diatesis spontanitas

Sementara itu Noda (1991) menjelaskan bahwa pembahasan mengenai diatesis umumnya menyangkut diatesis pasif, kausatif, transitif dan intransitif. Pembagian yang berbeda dari para ahli linguis tidaklah menjadi persoalan, karena yang terpenting adalah pembagian tersebut tidak terlepas dari pemahaman dasar tentang diatesis itu sendiri. Iori, dalam bukunya yang berjudul Atarashii Nihongogaku Nyuumon, memberi batasan tentang diatesis melalui contoh sebuah peristiwa.

Pada tahun 1990, diadakan pertandingan olahraga baseball antara dua klub besar, Seibu dan Orix. Dalam pertandingan tersebut, pitcher klub Seibu, Matsuzaka, berhasil menghentikan Ichirou, pemukul dari klub Orix.

Pada hari berikutnya, pendukung klub Seibu mengatakan:

(1) 松坂がイチローを抑えた。 Iori, 2001:98

Matsuzaka menghentikan Ichirou.

Sedangkan pendukung klub Orix mengatakan :

(2) イチローが松坂に抑えられた。 (Iori, 2001:98)

Ichirou dihentikan oleh Matsuzaka.

Jika dilihat secara makna, kalimat (1) dan (2) sama saja, tetapi kedua kalimat tersebut dipakai oleh pembicara dari posisi yang berbeda, dalam kasus ini adalah pembicara dari kubu Seibu dan pembicara dari kubu Orix. Dari kedudukan mana si pembicara mengungkapkan sebuah kejadian, itulah inti dari diatesis ( Iori, 2001: 98 ). Berdasarkan pemahaman ini, Iori membagi diatesis menjadi tiga, yaitu diatesis pasif (受動態), kausatif (使役態), dan ungkapan memberi-menerima (授受表現).

Kalimat pasif bahasa Jepang, disebut juga dengan judoubun atau ukemibun(受動文 受身文. Jenis kalimat yang berada dalam diatesis pasif ini, merupakan tipe kalimat yang dimiliki bahasa manapun di dunia, termasuk bahasa Jepang. Namun, kalimat pasif bahasa Jepang memiliki beberapa keunikan yang tidak dimiliki bahasa lain. Misalnya, verba dalam kalimat pasif bahasa Jepang dapat berupa verba intransitif, dan makna yang terkandung biasanya menjadi adversatif.

(3) 隣の人に大声で騒がれた。 Iori. dkk, 2000:294

Orang di sebelah saya ribut.

Dapat kita amati, jika kalimat bahasa Jepang di atas diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, maka strukturnya tidak lagi berupa kalimat pasif. Kemudian, jika kalimat tersebut diubah ke dalam bentuk aktif, strukturnya menjadi tidak berterima secara gramatikal, maupun dari maknanya.

(4) *隣の人が(私を)大声で騒いだ。

Dilatarbelakangi oleh masalah yang telah dikemukakan di atas, makalah ini akan menitikberatkan pembahasan pada hal-hal sebagai berikut:

1. Bagaimana struktur kalimat pasif bahasa Jepang?

2. Ada berapa tipe kalimat pasif dalam bahasa Jepang?

3. Kapan kalimat pasif bahasa Jepang digunakan?

B. PENELITIAN TERDAHULU

Kalimat pasif bahasa Jepang, sebelumnya telah banyak dibahas dalam berbagai penelitian, diantaranya:

1. Chokusetsu Ukemibun niokeru Bougo no Eikyou nitsuite (2008), oleh Mika Asano dalam jurnal Ryukoku University.

2. Nihongo Ukemibun no Saikou (2006), oleh Michiko Onodera dalam jurnal Takushoku University.

C. PEMBAHASAN

Dalam bahasa Inggris, kita mengenal kalimat pasif yang diturunkan dari kalimat aktifnya. Misalnya:

(5) a. The thieves stole the painting.

b. The painting was stolen by the thieves.

Dengan melihat contoh kalimat (5) di atas, kita dapat mengetahui ada beberapa langkah yang dibutuhkan untuk membentuk kalimat pasif dalam bahasa Inggris. Pertama, objek langsung dalam kalimat aktif dipindahkan menjadi subjek dalam kalimat pasif. Sedangkan subjek dalam kalimat aktif bergeser menjadi objek dalam kalimat pasif dan diberi preposisi by. Kemudian kata kerja aktif diubah menjadi kata kerja pasif (past participle).

Perubahan struktur kalimat dari aktif ke pasif dalam bahasa Inggris disebut dengan passivization transformation (Tsujimura, 1996:233). Secara sederhana perubahan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

Passivization: NP V NP

1 2 3 3 be 2-en by 1

Proses pembentukan kalimat pasif dalam bahasa Jepang memiliki kemiripan dengan passivization dalam bahasa Inggris, sehingga secara struktur, kalimat pasif bahasa Jepang seringkali dibandingkan dengan kalimat pasif bahasa Inggris. Berikut adalah struktur kalimat pasif bahasa Jepang yang diturunkan dari kalimat aktifnya:

(6) a. 泥棒が次郎を殴った。

Perampok memukul Jiro.

b. 次郎は泥棒に殴られた。

Jiro dipukul oleh perampok.

Dari contoh kalimat di atas, secara singkat proses pembentukan kalimat pasif dalam bahasa Jepang adalah sebagai berikut:

Kalimat aktif: 泥棒次郎殴った。

Kalimat pasif: 次郎泥棒殴られた。

Secara struktur, kalimat pasif bahasa Jepang memiliki banyak kemiripan dengan bahasa Inggris atau bahasa lainnya, namun kalimat pasif bahasa Jepang dibedakan menjadi beberapa tipe.

日本語には、意味上、二種類の受身形があると言われている。「中立受身文」と「被害受身文」である。(久野、1983192

Berdasarkan makna, Kuno (1983) membagi kalimat pasif bahasa Jepang menjadi 2, yaitu chuuritsu ukemibun (pasif netral) dan higai ukemibun (pasif adversatif). Sedangkan Howard dan Niyekawa Howard (1976) membagi kalimat pasif berdasarkan strukturnya, yaitu chokusetsu ukemibun (pasif langsung) dan kansetsu ukemibun (pasif tak langsung).

(7) この子は皆にかわいがられている。 (Kuno, 1983:192)

Anak ini disayangi oleh semua orang.

(8) 山田は、花子に、アパートに来られた。

Yamada kedatangan Hanako di apartemennya.

Kalimat (7), berdasarkan makna, merupakan kalimat pasif netral. Sedangkan berdasarkan struktur, merupakan kalimat pasif langsung. Kalimat (8), berdasarkan makna, merupakan kalimat pasif adversatif. Sedangkan berdasarkan struktur, merupakan kalimat pasif tak langsung.

Dibandingkan dengan bahasa lain, penggunaan kalimat pasif dalam bahasa Jepang sangat minim. Pada prakteknya, kalimat pasif bahasa Jepang biasa digunakan hanya pada saat-saat berikut:

1. Saat kita tidak mempertanyakan atau mempermasalahkan subjek.

(9) a. (?) 194586日、広島に原爆を投下した。 (Iori, 2001:105)

Pada tanggal 6 Agustus 1945, menjatuhkan bom ke Hiroshima.

b. 194586日、広島に原爆を投下された。

Pada tanggal 6 Agustus 1945, Hiroshima dijatuhi bom.

Kalimat (9)a di atas menggunakan kata kerja aktif touka suru, yang berarti ‘menjatuhkan’. Kata kerja ini membutuhkan subjek (sebagai pelaku perbuatan) terhadap objek (yang dikenai perbuatan) , atau dalam bahasa Jepang memiliki pola「が<動作主>、を<対象>. Namun dalam konteks kalimat ini, subjek sulit untuk dimunculkan, karena itulah yang digunakan adalah bentuk pasifnya.

2. Saat penerima dampak lebih dekat dibanding pelaku.

(10)a. 知らない男が弟を殴った。 (Iori, 2001:105)

Lelaki tak dikenal memukul adik saya.

b. 弟は知らない男に殴られた。

Adik saya dipukul lelaki tak dikenal.

Penerima dampak pada kalimat (10) di atas adalah otouto (adik saya), dan pelaku perbuatan (memukul) adalah shiranai otoko (lelaki tak dikenal). Secara konteks, jelas terlihat hubungan si pembicara dengan otouto lebih dekat, dibandingkan dengan shiranai otoko, sehingga dalam bahasa Jepang, lebih tepat jika kita menggunakan kalimat dengan bentuk pasif.

3. Saat menyatukan subjek antara induk kalimat dan anak kalimat.

(11) a. (?) 先生が太郎を叱って、太郎は泣いた。 (Iori, 2001:106)

Guru memarahi Taro, lalu Taro menangis.

b. 先生に叱られて、太郎は泣いた。

Taro menangis karena dimarahi guru.

Dapat kita amati bahwa subjek induk dan anak kalimat (11)a diatas berbeda, yaitu sensei (guru) dan Taro, sedangkan topiknya hanya satu, yaitu Taro. Jika digunakan struktur kalimat aktif, akan menimbulkan ketidakjelasan siapa yang menjadi topik, sehingga lebih tepat jika strukturnya adalah kalimat pasif.

4. Saat menunjukkan perasaan terganggu.

(12)a. 私は友達におもちゃを壊された。 (Iori, 2001:107)

Mainan saya dirusak oleh teman.

b. (?) 私は友達におもちゃを直された。

Mainan saya diperbaiki oleh teman.

c. 私は友達におもちゃを直してもらった。

Mainan saya diperbaiki oleh teman.

Saat kita merasa rugi atau terganggu akibat perbuatan seseorang, dalam bahasa Jepang perasaan tersebut diungkapkan dalam bentuk kalimat pasif seperti terlihat pada contoh kalimat (12)a. Namun sebaliknya, jika kita merasa diuntungkan oleh perbuatan seseorang, bentuk ungkapan yang dipakai tidak lagi bentuk pasif seperti pada kalimat (12)b, tetapi berubah menjadi kalimat pasif benefaktif seperti pada kalimat (12)c.

D. SIMPULAN

Melalui pembahasan di atas, rumusan masalah yang terdapat pada pendahuluan sebelumnya telah terjawab. Kalimat pasif bahasa Jepang memiliki kemiripan struktur dengan kalimat pasif bahasa Inggris, yaitu diturunkan dari kalimat aktifnya. Hanya bedanya, bahasa Jepang juga memiliki bentuk kalimat pasif yang bukan merupakan turunan dari kalimat aktifnya, yaitu kalimat pasif tak langsung (dilihat dari strukturnya), dan kalimat pasif adversatif (dilihat dari maknanya).

Kalimat pasif bahasa Jepang pun tidak dapat digunakan secara luas. Ada empat situasi yang biasanya diungkapkan dengan bentuk kalimat pasif. Pertama, saat kita tidak mempertanyakan atau mempermasalahkan subjek. Kedua, saat penerima dampak, dibandingkan pelaku, lebih dekat dengan pembicara. Ketiga, saat menyatukan subjek induk dan anak kalimat untuk memperjelas topik. Dan keempat, saat menunjukkan perasaan terganggu akibat perbuatan seseorang.

DAFTAR PUSTAKA

Iori, Isao. 2001. Atarashii Gengogaku Nyuumon. Tokyo : Three A Network.

Iori, Isao. dkk. 2000. Nihongo Bunpou Handbook. Tokyo : Three A Network.

Kuno, Susumu. 1983. Shin Nihon Bunpou Kenkyuu. Tokyo : Daishukan Shoten.

Noda, Hisashi. 1991. Hajimete no Hito no Nihongo Bunpou. Tokyo : Kuroshio Shuppan.

Tsujimura, Natsuko. 1996. An Introduction to Japanese Linguistics. Oxford : Blackwell.

A. PENDAHULUAN

Sebuah kalimat dapat terbentuk dari gabungan verba atau adjektiva yang menjadi predikat dengan beberapa frase nominal. Dalam bahasa Inggris pernyataan tersebut dirumuskan dengan:

S NP + VP + Aux

S = Sentence (kalimat)

NP = Noun Phrase (frase nominal)

VP = Verb Phrase (frase verbal)

Aux = Auxiliary (verba bantu)

sedangkan dalam bahasa Jepang menjadi:

文 → 名詞句+動詞句+助動詞

文=bun (kalimat)

名詞句=meishiku (frase nominal)

動詞句=doushiku (frase verbal)

助動詞=jodoushi (verba bantu)

Rumusan di atas dapat terlihat pada contoh kalimat berikut:

(1) 猿が木から落ちた。 (Iori. dkk, 2001:16)

Monyet jatuh dari pohon.

Kalimat di atas terbentuk dari nomina (monyet) ,(pohon), verba 落ちる(jatuh), dan verba bantu bentuk lampau ~た. Sedangkan danから yang melekat pada nomina disebut dengan partikel kasus(格助詞). Fungsi partikel kasus dalam kalimat di atas, dan dalam kalimat-kalimat bahasa Jepang lainnya adalah memberikan peran semantis pada nomina yang dilekatinya. Partikel kasus memberi peran semantis agentif, dan partikel kasus からmemberi peran semantis ablatif.

Kalimat (1) di atas disebut dengan kalimat verba(動詞文), yaitu kalimat yang intinya terletak pada verbanya. Dengan kata lain, verba tersebut merupakan unsur yang wajib hadir(必須補語)untuk mewujudkan peristiwa dalam kalimat. Sedangkan nomina-nomina yang mengikutinya disebut dengan unsur pelengkap (副次補語). Dalam penelitian partikel kasus, dikenal pula partikel kasus yang wajib hadir dalam kalimat (必須成分/項), misalnya pada kalimat:

(2) 父は結婚記念日にレストランで母に指輪を贈りました。

Ayah menghadiahkan ibu cincin di restoran pada hari ulangtahun pernikahan.

Dapat dilihat bahwa (ayah), (ibu), dan 指輪 (cincin) merupakan unsur yang wajib hadir, sedangkan 結婚記念日(hari ulangtahun pernikahan) dan レストラン(restoran) merupakan unsur pelengkap. Sehingga partikel ,, danyang melekat pada ketiga unsur wajib di atas merupakan partikel kasus yang wajib hadir pula. Ini menunjukkan bahwa partikel kasus juga menjadi bagian yang penting dalam sebuah kalimat.

Partikel kasus, selain berfungsi untuk memberi peran semantis yang dilekatinya, juga berfungsi menentukan struktur kalimat sesuai konteks.

(3) ともやくんは学校人形を作った。

(4) ともやくんは紙人形を作った。

(5) ともやくんは彫刻刀人形を作った。

Kalimat (3), (4), dan (5) di atas sama-sama memiliki partikel kasus (de), namun dengan peran semantis yang berbeda. Partikel pada kalimat (3) adalah penanda lokatif, sedangkan pada kalimat (4) adalah penanda sumber, dan pada kalimat (5) adalah penanda instrumen. Sedangkan pada kalimat (6), (7), dan (8) berikut, masing-masing memiliki partikel , , dan yang sama-sama menjadi penanda objek.

(6) 健一郎はだまって靴をぬぎ、だまって廊下たった。 (Okuda, 1983:295)

(7) 僕は花子好きだ。 (Kuno, 1974:49)

(8) 太郎が花子殴った。 (Kuno, 1974:49)

Dengan mengamati kalimat (3) sampai (8) di atas, dapat ditarik simpulan sederhana bahwa sebuah partikel dapat memberi lebih dari satu peran semantis. Sebaliknya, sebuah peran semantis dapat ditunjukkan oleh lebih dari satu partikel.

Ada sembilan partikel pada bahasa Jepang yang termasuk ke dalam partikel kasus, yaitu , , , , , から, まで, , danより. Masing-masing partikel kasus memberi peran semantis tertentu. Dalam makalah ini akan dibahas tiga buah partikel kasus yang berbeda namun memiliki salah satu fungsi yang sama sebagai penanda objek, yaitu partikel kasus , , dan .

Partikel kasus , , sendiri masing-masing memiliki kekhasan dalam memberi peran semantis pada nomina yang dilekatinya. Partikel kasus umumnya berfungsi sebagai penanda lokatif dan direktif. Partikel kasus sebagai penanda agentif, sedangkan partikel kasus sebagai penanda objek.

Dilatarbelakangi oleh masalah yang telah dikemukakan di atas, makalah ini akan menitikberatkan pada hal-hal sebagai berikut:

1. Apakah peran semantis yang dimiliki oleh partikel , , dandalam sebuah kalimat?

2. Bagaimana perbedaan partikel kasus , , dan saat menandai objek?

3. Apakah ketiganya dapat saling menggantikan?

Adapun tujuan dari penelitian dalam makalah ini adalah:

1. Mendeskripsikan peran semantis yang dimiliki oleh partikel kasus, , dan.

2. Mendeskripsikan perbedaan partikel kasus , , dansaat menandai objek.

3. Mengetahui apakah partikel kasus , , dandapat saling menggantikan pada saat menandai objek dalam sebuh kalimat.

Sumber data yang dipakai dalam makalah ini berasal dari beberapa buku tata bahasa Jepang, yaitu:

1. Iori, Isao. 2001. 日本語文法ハンドブック. 東京:スリーエーネットワーク.

2. Iori, Isao. 2000. 新しい言語学入門. 東京:スリーエーネットワーク.

3. Kuno, Susumu. 1983. 日本文法研究.東京: 大終館書店..

4. Okuda, 1983. 日本語文法・連語論. 東京:むぎ書房.

B. PENELITIAN TERDAHULU

Partikel , , dan telah banyak dibahas oleh para peneliti bahasa, beberapa diantaranya adalah:

1. Young Japanese Children’s Comprehension of “Object-Action” Sentences with Case Particles, “O” and “NI” oleh Yoshiko Uriu dalam Japanese Journal of Educational Psychology (1995). Penelitian ini membahas sampai dimanakah remaja Jepang mampu membedakan penggunaan partikel kasus dan saat menandai objek. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa sebagian besar remaja Jepang tidak dapat membedakan dengan baik penggunaan kedua partikel tersebut saat menandai objek. Mereka lebih sering memakai partikel kasus dibandingkan , karena partikel dianggap sebagai partikel yang hanya menandai kasus lokatif atau direktif saja.

2. 対象格と場所格の連続性:格助詞式論 oleh 加藤重広 dalam Hokkaido University Collection of Scholarly and Academic Papers (2006). Dalam artikel ini dibahas partikel sebagai penanda objek dan lokatif. Saat menandai lokatif, partikel meliputi 経路格dan 離格.

3. 格助詞で終わる文について―「~を/が~に」構文と「~に~を」構文― oleh 杉村奉dalam 名古屋大学大学院修士学位論文 (2002). Tesis ini membahas kalimat iklan yang berakhiran dengan partikel dan. Meskipun tidak dideskripsikan fungsi partikel dansecara spesifik, penulis mencantumkan kalimat-kalimat yang menggunakan partikel kasus dansebagai penanda objek.

C. PEMBAHASAN

Berikut akan dibahas terlebih dahulu peran semantis yang dimiliki oleh tiap partikel kasus , , dansecara garis besar dan kekhasannya saat menandai objek.

1. Partikel kasus

Yamada (2004) memaparkan beberapa peran semantis partikel kasus , yaitu:

Penanda objek (対象):壁にもたれる、人に話しかける

Penanda lokatif (存在場所):庭に池がある

Penanda waktu (時間)5時に起きる

Penanda titik tiba (到着点) penanda datif (受け手) penanda hasil (変化結果):学校に行く/妹に本をやる/信号が赤に変わる

Penanda direktif (方向):大阪に向かう

Penanda titik keberangkatan (出所):父に本をもらう、先生に聞く

Penanda bagian (割合の分母):3日に1度、50人に1人

Partikel kasusyang memiliki peran semantis sebagai penanda objek pada umumnya digunakan bersama verba seperti もたれる (bersandar), 話しかける (menyapa), 似る (menyerupai), dan 勝つ (memenangkan). Yamada (2004) menjelaskan, partikel digunakan saat objek yang ditandai adalah objek tidak langsung.

2. Partikel kasus

Yamada (2004) mendeskripsikan penggunaan partikel kasus berdasarkan peran semantis yang dimilkinya sebagai berikut:

Penanda agentif keadaan atau pelaku dari aktivitas (動作・状態の主体) 太郎が走る、空が青い

Penanda objek perasaan (感情の対象):読書が好きだ

Partikel kasuspada umumnya dikenal sebagai penanda agentif atau pelaku dalam sebuah kalimat. Namun, ada beberapa verba dan adjektiva yang menggunakan partikel kasus untuk menandai objek. Kuno (1973) dan Chino (1996) membagi partikel kasusyang menandai objek menjadi enam, yaitu:

Menunjukkan objek yang baru, seperti halnya memperkenalkan seseorang : こちらが山田さんです。

Menunjukkan objek dari nomina ketangkasan (できる、分かる)dan kemampuan (上手、下手、得意、器用):

山田さんはゴルフができます。

田中さんはピアノがひけます。

林さんは中国語が分かります。

Menunjukkan objek verba sensasi (見える、聞こえる):

ここから富士山が見えます。

朝の台所は、コーヒーのかおりがします。

Menunjukkan objek verba dan adjektiva keperluan (必要、要る):

私はお金が要る。

交通の安全のため、きびしい規則が必要です。

Menunjukkan objek dari adjektiva keinginan (ほしい、~たい):

時間とお金がほしい。

冷たいものが飲みたい。

Menunjukkan objek verba dan adjektiva emosi(好き、きらい、うれしい):

ジョンさんは納豆がきらいです。

秋になると、台風が心配です。

Dengan mengamati enam kelompok di atas, dapat disimpulkan bahwa partikel kasus yang menandai objek digunakan bersama verba dan adjektiva yang menunjukkan keadaan. Verba yang pada dasarnya menunjukkan aktifitas, juga dapat menunjukkan keadaan, namun jumlahnya tidak banyak, misalnya 「できる、分かる、聞こえる、見える、ある、dan 要る」.

3. Partikel kasus

Yamada (2004) mendeskripsikan penggunaan partikel kasus sebagai berikut:

Penanda objek (対象):彼女を愛する

Penanda rute (経過する場所) penanda waktu (時間) :川を渡る/夏休みを海外で過ごす

Penanda titik keberangkatan (出所):大学を出る

Penanda direktif 視覚動作の方向:下を向く、彼の方を見る

Partikel pada umumnya berfungsi sebagai penanda objek dalam kalimat bahasa Jepang. Objek yang ditandai adalah objek langsung, yaitu jika aktifitas yang ditunjukkan oleh verba memberi dampak kuat pada objek tersebut. Namun, bagaimana mengukur kekuatan verba yang memberi dampak pada objek tidak memiliki batasan yang jelas. Kemudian, pada beberapa tipe kalimat, seperti:

(9) 登る。 (Iori, 2001:25)

Mendaki gunung.

partikel tidak lagi menandai objek langsung, namun menunjukkan proses.

Melihat kekhasan yang dimiliki partikel kasus , , danmelalui penjelasan di atas, ketiganya dapat diperbandingkan sebagai berikut:

1. 「を」dan「に」

Sebelumnya telah dijelaskan bahwa partikel kasus digunakan saat menandai objek langsung, sedangkan partikel kasus digunakan untuk menandai objek tidak langsung. Verba yang menggunakan partikel kasus misalnya 「殴る」「愛する」, sebagian besar adalah verba transitif, dan verba yang menggunakan partikel kasus misalnya「似る」「勝つ」sebagian besar adalah verba intransitif.

Namun, pengecualian terjadi pada verba「キスする」yang merupakan verba transitif, tidak menggunakan partikel kasus , melainkan partikel kasus, menjadi 「~にキスする」. Sedangkan verba 「結婚する」yang merupakan verba intransitif tidak menggunakan partikel kasus , melainkan partikel , sehingga menjadi 「~と結婚する」. Kemudian, untuk verba seperti 「触る」, baik partikel kasus maupunkeduanya dapat digunakan.

(10) 髪(○を触る/○に触る)。 (Iori, 2001:26)

Membelai rambut.

Iori menjelaskan, partikel kasus dan dapat digunakan pada kalimat di atas. Saat partikel kasusdigunakan, maka verba 「触る」menunjukkan aktifitas sekejap. Sedangkan jika partikel kasusdigunakan, aktifitas「触る」dilakukan dalam jangka waktu yang lama (tidak sekejap).

(11) 山(○を/○に)登る。 (Iori, 2001:23)

Mendaki gunung.

Kalimat (11) di atas pun dapat menggunakan partikel kasus, maupun. Jika kalimat di atas menggunakan partikel kasus, verba 「登る」menekankan waktu proses pendakiannya. Sedangkan jika yang digunakan adalah partikel kasus, yang ditekankan adalah waktu setelah pencapaiannya.

(12) 登っているとき、突然雨が降ってきました。 (Iori, 2001:23)

Saat mendaki gunung, tiba-tiba hujan turun.

(13) 登った後、足が痛くなりました。 (Iori, 2001:23)

Setelah mendaki gunung, kaki menjadi sakit.

2. 「を」dan「が」

Masalah partikel kasusdansering muncul pada kalimat dengan verba bentuk ~たいdan adjektiva sepertiほしいatau 好き. Kuno (1973), menjelaskan perbedaan 「を」dan「が」melalui contoh-contoh kalimat berikut:

(14) お茶飲みたい。

(Saya) ingin minum teh.

(15) お金ほしい。

(Saya) ingin uang.

(16) 花子好きだ。

(Saya) menyukai Hanako.

Ada beberapa ahli bahasa yang menyatakan bahwa partikel kasusseperti pada kalimat-kalimat di atas adalah partikel yang menandai subjek. Misalnya pada kalimat 「花子好きだ。」, Hanako adalah subjek, dan kalimat tersebut bermakna “Hanako disukai”. Namun Kuno berpendapat bahwa partikel di atas adalah partikel kasus penanda objek. Nomina お茶, お金, dan花子 adalah objek yang ditandainya.

Partikel kasus digunakan karena kata yang mengisi fungsi predikat dalam kalimat di atas adalah verba dan adjektiva yang menunjukkan keinginan atau perasaan si pembicara. Jika partikeldigunakan dalam ketiga kalimat di atas, maka maknanya akan bergeser menjadi sebuah pernyataan objektif. Dengan kata lain, keinginan dan perasaan yang ditunjukkan oleh predikatnya membuat jarak dengan si pembicara.

D. SIMPULAN

Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan poin-poin sebagai berikut:

1. Partikel kasus , , danmemiliki beberapa peran semantis yang berbeda, namun ketiganya sama-sama dapat menandai objek.

2. Objek yang ditandai oleh partikel kasusadalah objek tidak langsung, dan verba yang digunakan sebagian besar adalah verba intransitif.

3. Partikel kasusdigunakan untuk menandai objek saat verba dan adjektiva yang digunakan berfungsi menunjukkan keadaan, keinginan, atau perasaan si pembicara.

4. Partikel kasusdigunakan sebagai penanda objek langsung, dan verba yang digunakan sebagian besar adalah verba transitif atau verba yang memberikan dampak kuat pada objeknya.

5. Partikel, , dan dapat saling menyulih atau bersubsitusi pada konteks-konteks tertentu, yang secara gramatikal tetap berterima namun mengalami sedikit pergeseran makna.

E. DAFTAR PUSTAKA

Chino, Naoko. 1996. Partikel Penting Bahasa Jepang. Jakarta : Kesaint Blanc.

Iori, Isao. 2001. 日本語文法ハンドブック. 東京:スリーエーネットワーク.

Iori, Isao. 2000. 新しい言語学入門. 東京:スリーエーネットワーク.

Kuno, Susumu. 1983. 日本文法研究.東京: 大終館書店.

Okuda, 1983. 日本語文法・連語論. 東京:むぎ書房.

Yamada, Toshihiro. 2004. 国語教師が知っておきたい日本語文法. 東京:  くろしお出版

A. PENDAHULUAN

Kata-kata yang dimiliki bahasa Jepang memiliki lebih banyak sinonim jika dibandingkan dengan kata-kata yang dimiliki bahasa Indonesia. Misalnya, untuk mengatakan ‘bertambah’ dalam bahasa Jepang, kita bisa menggunakan fueru (増える), masu(増す), dan zouka(増加). Begitu pula kata lainnya, yang dalam bahasa Indonesia sama-sama berarti bertanya, kiku (聞く)dan tazuneru(尋ねる).

Kata-kata yang bersinonim tersebut seringkali menyulitkan para pembelajar bahasa Jepang saat ingin menggunakannya dalam sebuah kalimat, baik itu tulisan maupun lisan, sehingga analisis makna kata-kata yang bersinonim menjadi sebuah hal yang penting agar pemilihan kata yang kita lakukan sesuai dengan maksud yang ingin kita sampaikan.

Dalam post kali ini, akan dibahas konjungsi (setsuzokushi 接続詞 ) sonoue (そのうえ)dan shikamo(しかも)sebagai sinonim, yang keduanya dalam bahasa Indonesia dapat dipadankan dengan ’selain itu’.

B. KAJIAN TEORI

Teramura (1982), pernah meneliti tentang persamaan dan perbedaan konjungsi mo, shi, dan shikamo. Dalam penelitiannya, Teramura menyebutkan bahwa konjungsi shikamo yang muncul pada sebuah klausa atau kalimat, sebenarnya memiliki fungsi yang mirip dengan konjungsi mo, dan shi. Hanya saja, shikamo lebih mengandung subjektifitas atau penilaian pribadi dari si pembicara, sedangkan mo dan shi lebih netral (1984:73). Dalam penelitian ini, Teramura tidak membahas keterkaitan dengan konjungsi sonoue.

Dalam Nihongo Bunpou Handbook (2004), pada bagian pembukaannya menyebutkan, terdapat konjungsi yang memiliki kemiripan arti seperti sarani, sonoue, shikamo, omakeni. Di antara keempat konjungsi tersebut, sonoue dan shikamo lebih banyak digunakan saat mengungkapkan pernyataan yang subjektif.

Izuhara Eiko (2007), pernah melakukan penelitian tentang konjungsi sonoue dan shikamo yang dimuat dalam jurnal Aichi Gakuin University. Ia mengaitkan kedua konjungsi ini dengan konjungsi lain dengan makna yang hampir sama, yaitu soreni, soshite dan sorekara.

C. METODE PENELITIAN

Dalam post ini akan dideskripsikan setiap makna yang dimiliki kedua konjungsi tersebut, serta persamaan dan perbedaan dari segi makna dan penggunaannya. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif analitik. Objek dari penelitian ini adalah konjungsi sonoue dan shikamo, dan penelitian ini merupakan studi kasus terhadap kedua konjungsi tersebut.

Kajian kebahasaan yang dilakukan dalam penelitian ini digunakan telaah sinkronis, yaitu bahasa Jepang modern yang digunakan pada masa sekarang ini. Sementara generalisasinya dilakukan secara induktif, yaitu berdasarkan pada hasil analisis kedua konjungsi tersebut yang berpedoman pada data jitsurei. Sumber data diambil dari kalimat-kalimat dalam buku-buku pelajaran liguistik bahasa Jepang, kamus-kamus, dan karya-karya ilmiah lainnya yang dipublikasikan maupun yang tidak.

D. PEMBAHASAN

Dalam Kamus Bahasa Jepang-Indonesia karangan Kenji Matsuura (1998), sonoue dan shikamo masing-masing diberi arti:

Sonoue: lagipula; tambahan pula (lagi); dan lagi.

Shikamo: lagi; pula

Buku Nihongo Bunpou Handbook (2004:474), menyebutkan bahwa konjungsi sarani, sonoeu, shikamo, dan omakeni memiliki kemiripan makna dengan konjungsi soshite, yaitu semuanya menekankan pada makna ~だけでなく~も (bukan hanya….juga….). Namun, penggunaan soshite dalam kalimat tidak dapat digantikan oleh sonoue atau shikamo.

(1)      デパートへ行った。そして靴を買った。

(1′)  デパートへ行った。そのうえ靴を買った。(×)

(1”)  デパートへ行った。しかも靴を買った。(×)

Izuhara (2007), menguraikan bahwa persamaan dari sonoue dan shikamo adalah, keduanya sama-sama dipakai saat ingin memberi tambahan sifat atau keterangan pada topik sebuah kalimat. Misalnya:

(2)    美味しい!簡単!そのうえ健康!

(3)    体によくて、簡単で、おしゃれな料理!

Pada kalimat (2), topik kalimatnya dilesapkan, namun jika kita amati baik-baik, kita dapat memperkirakan bahwa topiknya adalah seputar masakan, topik yang sama dengan kalimat (3). Terlepas dari apa topik yang sebenarnya dari kalimat (2) di atas, konjungsi sonoue dan shikamo memiliki fungsi yang sama, yaitu menambahkan keterangan pada topik.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, dalam buku Nihongo Bunpou Handbook dijelaskan, sonoue dan shikamo sama-sama mengandung rasa subjektifitas si pembicara. Namun, shikamo lebih menekankan perasaan si pembicara, yang biasanya menunjukkan perasaan terkejut, senang, atau susah. Jika kita amati kembali kalimat (2) dan (3) di atas, kalimat (2) menjelaskan bahwa topik kalimat (masakan) tersebut lezat (美味しい), mudah membuatnya (簡単), dan lagi (そのうえ)menyehatkan (健康). Sonoue dalam kalimat (2) dipakai saat ingin menambahkan keterangan, bahwa masakan tersebut juga menyehatkan.

Kemudian kalimat (3) menjelaskan bahwa masakan tersebut jika dimakan baik untuk tubuh (体にいい), mudah membuatnya (簡単), menarik lagi!(しかもおしゃれな料理). Dalam kalimat (3), si pembicara menceritakan bahwa masakan tidak hanya baik untuk tubuh dan mudah membuatnya saja, tapi di luar dugaan, masakan tersebut pun menarik (penampilannya). Karena itulah, sonoue cenderung dipakai untuk memberikan penilaian yang netral terhadap sesuatu, sedangkan shikamo tidak. Hal ini tampak dari contoh-contoh kalimat berikut:

(4)    彼にいろいろ教えてもらった。そのうえ、学費まで払ってもらって感動した。

(5)    あの人は名門大学の出身でハンサムです。そのうえ、性格もいいです、

(6)    彼は英語が話せるんです。しかもフランス語も話せるんです。

(7)    彼は試験に受かった。しかもトップだった。

E. SIMPULAN

Konjungsi sonoue dan shikamo, dalam bahasa Indonesia dapat dipadankan dengan ’selain itu’ atau ‘dan lagi’, yang dipakai saat ingin menambahkan keterangan dari sebuah topik kalimat. Sonoue dan shikamo, jika disubsitusikan pada kalimat yang sama, makna kalimat tersebut tidak berubah. Sehingga bisa dikatakan bahwa konjungsi sonoue dan shikamo adalah dua kata yang bersinonim.

Namun, tetap saja dua kata yang berbeda, meskipun bersinonim, memiliki perbedaan. Sonoue dan shikamo sama-sama mengandung rasa subjektifitas si pembicara. Namun, shikamo lebih menekankan perasaan si pembicara, yang biasanya menunjukkan perasaan terkejut, senang, atau susah.

F. KAJIAN PUSTAKA

Iori, Isao. dkk. 2002. Nihongo Bunpou Handbook. Tokyo: Three A Network.

Jurnal. Izuhara, Eiko. 2007. Tenka Setsuzokushi Shikamo, Sonoue no Saikou. Aichi Gakuin University.

Matsuura, Kenji. 1998. Kamus Bahasa Jepang - Indonesia. Kyoto: Kyoto sangyou University Press.

Sutedi, Dedi. 2003. Dasar-dasar Linguistik Bahasa Jepang. Bandung: Humaniora.

Teramura, Hideo. 1982. Nihongo no Shintakkusu to Imi I. Tokyo: Kuroshio Shuppan.

Welcome to Staff.undip.ac.id/sastra. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!