A. PENDAHULUAN
Sering kita jumpai dalam berbagai bahasa, ungkapan yang digunakan untuk menunjukkan sebuah kejadian dari dua sisi yang berbeda. Dalam linguistik, ungkapan tersebut dinamakan diatesis, atau voice dalam bahasa Inggris, atau tai (態)dalam bahasa Jepang. Diatesis merupakan salah satu kategori gramatikal yang menunjukkan hubungan antara subjek dengan predikat, atau pelaku dengan perbuatan. Bahasa Jepang memasukkan diatesis ke dalam kategori gramatikal verba bersama persona (人称), aspek(想), kala(時性),dan modalitas(法性).
Pembagian diatesis dalam bahasa Jepang banyak macamnya menurut definisi ahli yang berbeda. Teramura (1982:205) membagi diatesis menjadi:
1. Diatesis pasif
2. Diatesis kausatif
3. Diatesis potensial
4. Diatesis spontanitas
Sementara itu Noda (1991) menjelaskan bahwa pembahasan mengenai diatesis umumnya menyangkut diatesis pasif, kausatif, transitif dan intransitif. Pembagian yang berbeda dari para ahli linguis tidaklah menjadi persoalan, karena yang terpenting adalah pembagian tersebut tidak terlepas dari pemahaman dasar tentang diatesis itu sendiri. Iori, dalam bukunya yang berjudul Atarashii Nihongogaku Nyuumon, memberi batasan tentang diatesis melalui contoh sebuah peristiwa.
Pada tahun 1990, diadakan pertandingan olahraga baseball antara dua klub besar, Seibu dan Orix. Dalam pertandingan tersebut, pitcher klub Seibu, Matsuzaka, berhasil menghentikan Ichirou, pemukul dari klub Orix.
Pada hari berikutnya, pendukung klub Seibu mengatakan:
(1) 松坂がイチローを抑えた。 (Iori, 2001:98)
Matsuzaka menghentikan Ichirou.
Sedangkan pendukung klub Orix mengatakan :
(2) イチローが松坂に抑えられた。 (Iori, 2001:98)
Ichirou dihentikan oleh Matsuzaka.
Jika dilihat secara makna, kalimat (1) dan (2) sama saja, tetapi kedua kalimat tersebut dipakai oleh pembicara dari posisi yang berbeda, dalam kasus ini adalah pembicara dari kubu Seibu dan pembicara dari kubu Orix. Dari kedudukan mana si pembicara mengungkapkan sebuah kejadian, itulah inti dari diatesis ( Iori, 2001: 98 ). Berdasarkan pemahaman ini, Iori membagi diatesis menjadi tiga, yaitu diatesis pasif (受動態), kausatif (使役態), dan ungkapan memberi-menerima (授受表現).
Kalimat pasif bahasa Jepang, disebut juga dengan judoubun atau ukemibun(受動文 / 受身文). Jenis kalimat yang berada dalam diatesis pasif ini, merupakan tipe kalimat yang dimiliki bahasa manapun di dunia, termasuk bahasa Jepang. Namun, kalimat pasif bahasa Jepang memiliki beberapa keunikan yang tidak dimiliki bahasa lain. Misalnya, verba dalam kalimat pasif bahasa Jepang dapat berupa verba intransitif, dan makna yang terkandung biasanya menjadi adversatif.
(3) 隣の人に大声で騒がれた。 (Iori. dkk, 2000:294)
Orang di sebelah saya ribut.
Dapat kita amati, jika kalimat bahasa Jepang di atas diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, maka strukturnya tidak lagi berupa kalimat pasif. Kemudian, jika kalimat tersebut diubah ke dalam bentuk aktif, strukturnya menjadi tidak berterima secara gramatikal, maupun dari maknanya.
(4) *隣の人が(私を)大声で騒いだ。
Dilatarbelakangi oleh masalah yang telah dikemukakan di atas, makalah ini akan menitikberatkan pembahasan pada hal-hal sebagai berikut:
1. Bagaimana struktur kalimat pasif bahasa Jepang?
2. Ada berapa tipe kalimat pasif dalam bahasa Jepang?
3. Kapan kalimat pasif bahasa Jepang digunakan?
B. PENELITIAN TERDAHULU
Kalimat pasif bahasa Jepang, sebelumnya telah banyak dibahas dalam berbagai penelitian, diantaranya:
1. Chokusetsu Ukemibun niokeru Bougo no Eikyou nitsuite (2008), oleh Mika Asano dalam jurnal Ryukoku University.
2. Nihongo Ukemibun no Saikou (2006), oleh Michiko Onodera dalam jurnal Takushoku University.
C. PEMBAHASAN
Dalam bahasa Inggris, kita mengenal kalimat pasif yang diturunkan dari kalimat aktifnya. Misalnya:
(5) a. The thieves stole the painting.
b. The painting was stolen by the thieves.
Dengan melihat contoh kalimat (5) di atas, kita dapat mengetahui ada beberapa langkah yang dibutuhkan untuk membentuk kalimat pasif dalam bahasa Inggris. Pertama, objek langsung dalam kalimat aktif dipindahkan menjadi subjek dalam kalimat pasif. Sedangkan subjek dalam kalimat aktif bergeser menjadi objek dalam kalimat pasif dan diberi preposisi by. Kemudian kata kerja aktif diubah menjadi kata kerja pasif (past participle).
Perubahan struktur kalimat dari aktif ke pasif dalam bahasa Inggris disebut dengan passivization transformation (Tsujimura, 1996:233). Secara sederhana perubahan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:
Passivization: NP V NP
1 2 3 → 3 be 2-en by 1
Proses pembentukan kalimat pasif dalam bahasa Jepang memiliki kemiripan dengan passivization dalam bahasa Inggris, sehingga secara struktur, kalimat pasif bahasa Jepang seringkali dibandingkan dengan kalimat pasif bahasa Inggris. Berikut adalah struktur kalimat pasif bahasa Jepang yang diturunkan dari kalimat aktifnya:
(6) a. 泥棒が次郎を殴った。
Perampok memukul Jiro.
b. 次郎は泥棒に殴られた。
Jiro dipukul oleh perampok.
Dari contoh kalimat di atas, secara singkat proses pembentukan kalimat pasif dalam bahasa Jepang adalah sebagai berikut:
Kalimat aktif: 泥棒が次郎を殴った。
Kalimat pasif: 次郎は泥棒に殴られた。
Secara struktur, kalimat pasif bahasa Jepang memiliki banyak kemiripan dengan bahasa Inggris atau bahasa lainnya, namun kalimat pasif bahasa Jepang dibedakan menjadi beberapa tipe.
日本語には、意味上、二種類の受身形があると言われている。「中立受身文」と「被害受身文」である。(久野、1983:192)
Berdasarkan makna, Kuno (1983) membagi kalimat pasif bahasa Jepang menjadi 2, yaitu chuuritsu ukemibun (pasif netral) dan higai ukemibun (pasif adversatif). Sedangkan Howard dan Niyekawa Howard (1976) membagi kalimat pasif berdasarkan strukturnya, yaitu chokusetsu ukemibun (pasif langsung) dan kansetsu ukemibun (pasif tak langsung).
(7) この子は皆にかわいがられている。 (Kuno, 1983:192)
Anak ini disayangi oleh semua orang.
(8) 山田は、花子に、アパートに来られた。
Yamada kedatangan Hanako di apartemennya.
Kalimat (7), berdasarkan makna, merupakan kalimat pasif netral. Sedangkan berdasarkan struktur, merupakan kalimat pasif langsung. Kalimat (8), berdasarkan makna, merupakan kalimat pasif adversatif. Sedangkan berdasarkan struktur, merupakan kalimat pasif tak langsung.
Dibandingkan dengan bahasa lain, penggunaan kalimat pasif dalam bahasa Jepang sangat minim. Pada prakteknya, kalimat pasif bahasa Jepang biasa digunakan hanya pada saat-saat berikut:
1. Saat kita tidak mempertanyakan atau mempermasalahkan subjek.
(9) a. (?) 1945年8月6日、広島に原爆を投下した。 (Iori, 2001:105)
Pada tanggal 6 Agustus 1945, menjatuhkan bom ke Hiroshima.
b. 1945年8月6日、広島に原爆を投下された。
Pada tanggal 6 Agustus 1945, Hiroshima dijatuhi bom.
Kalimat (9)a di atas menggunakan kata kerja aktif touka suru, yang berarti ‘menjatuhkan’. Kata kerja ini membutuhkan subjek (sebagai pelaku perbuatan) terhadap objek (yang dikenai perbuatan) , atau dalam bahasa Jepang memiliki pola「が<動作主>、を<対象>」. Namun dalam konteks kalimat ini, subjek sulit untuk dimunculkan, karena itulah yang digunakan adalah bentuk pasifnya.
2. Saat penerima dampak lebih dekat dibanding pelaku.
(10)a. 知らない男が弟を殴った。 (Iori, 2001:105)
Lelaki tak dikenal memukul adik saya.
b. 弟は知らない男に殴られた。
Adik saya dipukul lelaki tak dikenal.
Penerima dampak pada kalimat (10) di atas adalah otouto (adik saya), dan pelaku perbuatan (memukul) adalah shiranai otoko (lelaki tak dikenal). Secara konteks, jelas terlihat hubungan si pembicara dengan otouto lebih dekat, dibandingkan dengan shiranai otoko, sehingga dalam bahasa Jepang, lebih tepat jika kita menggunakan kalimat dengan bentuk pasif.
3. Saat menyatukan subjek antara induk kalimat dan anak kalimat.
(11) a. (?) 先生が太郎を叱って、太郎は泣いた。 (Iori, 2001:106)
Guru memarahi Taro, lalu Taro menangis.
b. 先生に叱られて、太郎は泣いた。
Taro menangis karena dimarahi guru.
Dapat kita amati bahwa subjek induk dan anak kalimat (11)a diatas berbeda, yaitu sensei (guru) dan Taro, sedangkan topiknya hanya satu, yaitu Taro. Jika digunakan struktur kalimat aktif, akan menimbulkan ketidakjelasan siapa yang menjadi topik, sehingga lebih tepat jika strukturnya adalah kalimat pasif.
4. Saat menunjukkan perasaan terganggu.
(12)a. 私は友達におもちゃを壊された。 (Iori, 2001:107)
Mainan saya dirusak oleh teman.
b. (?) 私は友達におもちゃを直された。
Mainan saya diperbaiki oleh teman.
c. 私は友達におもちゃを直してもらった。
Mainan saya diperbaiki oleh teman.
Saat kita merasa rugi atau terganggu akibat perbuatan seseorang, dalam bahasa Jepang perasaan tersebut diungkapkan dalam bentuk kalimat pasif seperti terlihat pada contoh kalimat (12)a. Namun sebaliknya, jika kita merasa diuntungkan oleh perbuatan seseorang, bentuk ungkapan yang dipakai tidak lagi bentuk pasif seperti pada kalimat (12)b, tetapi berubah menjadi kalimat pasif benefaktif seperti pada kalimat (12)c.
D. SIMPULAN
Melalui pembahasan di atas, rumusan masalah yang terdapat pada pendahuluan sebelumnya telah terjawab. Kalimat pasif bahasa Jepang memiliki kemiripan struktur dengan kalimat pasif bahasa Inggris, yaitu diturunkan dari kalimat aktifnya. Hanya bedanya, bahasa Jepang juga memiliki bentuk kalimat pasif yang bukan merupakan turunan dari kalimat aktifnya, yaitu kalimat pasif tak langsung (dilihat dari strukturnya), dan kalimat pasif adversatif (dilihat dari maknanya).
Kalimat pasif bahasa Jepang pun tidak dapat digunakan secara luas. Ada empat situasi yang biasanya diungkapkan dengan bentuk kalimat pasif. Pertama, saat kita tidak mempertanyakan atau mempermasalahkan subjek. Kedua, saat penerima dampak, dibandingkan pelaku, lebih dekat dengan pembicara. Ketiga, saat menyatukan subjek induk dan anak kalimat untuk memperjelas topik. Dan keempat, saat menunjukkan perasaan terganggu akibat perbuatan seseorang.
DAFTAR PUSTAKA
Iori, Isao. 2001. Atarashii Gengogaku Nyuumon. Tokyo : Three A Network.
Iori, Isao. dkk. 2000. Nihongo Bunpou Handbook. Tokyo : Three A Network.
Kuno, Susumu. 1983. Shin Nihon Bunpou Kenkyuu. Tokyo : Daishukan Shoten.
Noda, Hisashi. 1991. Hajimete no Hito no Nihongo Bunpou. Tokyo : Kuroshio Shuppan.
Tsujimura, Natsuko. 1996. An Introduction to Japanese Linguistics. Oxford : Blackwell.