mengurai kekerasan keagamaan

Mengurai Kekerasan Keagamaan

Oleh Mudjahirin Thohir

DI antara sejumlah masalah sosial di negeri ini, selain kemiskinan, pengangguran, dan mafia hukum, ada juga kekerasan keagamaan.  Ada sejumlah kelompok keagamaan yang menistakan kelompok keagamaan lain dengan berbagai dalih pembenaran ”agama” atas tingkah lakunya itu.  Jika kondisi demikian tidak segera ditangani, tentu ini akan memperpanjang deretan permasalahan.

Read more…

Konflik dan Damai dalam Kehidupan Sosial

KONFLIK DAN DAMAI DALAM KEHIDUPAN SOSIAL

Oleh Mudjahirin Thohir[2]

 

1. Pendahuluan

            Manusia dari segi nurture, yakni dari lahir (by given) telah memiliki ciri-ciri bawaan sendiri seperti bentuk ketubuhan, warna kulit, dsb secara berbeda. Kemudian dari segi culture (budaya), manusia hidup dibesarkan dan dipengaruhi oleh lingkungan fisikal dan lingkungan sosial yang berbeda pula. Pengaruh dari keduanya itu, menjadikan kita pada batas-batas tertentu memiliki kemiripan, kesamaan, atau perbedaan.  Dari perbedaan-perbedaan seperti inilah mulai kita kenal munculnya istilah kemajemukan.

Read more…

JATI DIRI BANGSA

KEBUDAYAAN DAN JATI DIRI BANGSA[1]

Sumbangan Pemikiran untuk Indonesia

Oleh Mudjahirin Thohir[2]

 

Pendahuluan

Kebudayaan yang saya maksud dalam kajian ini ialah kebudayaan berdasarkan teori ideasional, sedangkan konsep jati diri bangsa saya tempatkan sebagai  “keakuan eksistensial’ warga bangsa Indonesia itu sendiri. Keduanya, yakni kebudayaan dan jatidiri bangsa tersebut akan saya kaji “sebagai ancangan ke depan”, sehingga pembicaraannya lebih kepada idealisasi kebudayaan dan jati diri bangsa Indonesia yang memungkinkan warga bangsa ini berpotensi dan potensial bersama kebudayaannya untuk dapat hidup sejajar dengan bangsa-bangsa lain secara terhormat. Tentu untuk ancangan seperti itu, kita perlu melihat kembali  modal dasar apa yang sudah ada dan bagaimana keadaannya, lalu “tanpa berputus asa” berusaha selalu mencari jalan keluarnya.

                Dalam teori ideasional, kebudayaan pada intinya adalah satuan-satuan pikiran, gagasan,  keyakinan, dan spirit atau etos yang bersemayam dan yang mendasari rencana-tencana, adaptasi=adaptasi, pilihan-pilihan tindakan dan keputusan bagi umumnya warga bangsa terutama bagi para pengambil keputusan dari berbagai jenjang. Mulai dari jenjang lingkup  kecil sampai lingkup besar seperti Negara bangsa.  Sasaran kepada para actor yang berperan sebagai pengambil keputusan di sini karena corak dari perwujudan kebudayaan Indonesia ke depan apakah akan menjadi bangsa yang komparatif dan kompetitif atau sebaliknya, dipengaruhi (kalau tidak ditentukan) oleh para pengambil keputusan, yakni para pemimpin dari segala tingkatan. Hal ini mengingat bahwa – sifat dasar warga bangsa Indonesia adalah ‘patuh’. Kepatuhan kepada para pemimpin, baik dalam level dan dimensi yang berbeda-beda, pemimpin: agama, politik, ekonomi, dan budaya, dst. Ungkapan:  patuh; mematuhi, kepatuhan –   masih tetap menjadi dan dijadikan ‘kata kunci’ untuk dan atas nama keselarasan dalam berbagai pergaulan hidup di bumi Indonesia ini. Hanya saja masalahnya yang patut dipertanyakan ialah, apakah “patuh kepada aturan atau patuh kepada individu yang kebetulan menjadi pimpinan”. Yang pertama mengacu kepada keteguhan terhadap pilihan (sebagaimana ungkapan: “malang-malang putung, rawe-rawe rantas) dan kedisiplinan. Sedang kedua menggambarkan kepada etika feodalistik yang mengkonstruksi kehidupan sosial secara asimetrik.

Read more…

PEMILUKADA

PEMILUKADA DI JAWA TENGAH: ORIENTASI, PROSESI DAN IMPLIKASI

Oleh Mudjahirin Thohir[1]

I. Pendahuluan

Ada ungkapan berhikmah: “La islama illa bi jama’ah, wa la jama’ata illa bi imarah, wa la imarata illa bi tho’ah”.  Arti bebasnya: “Tiada kedamaian dalam kehidupan masyarakat, kalau di dalam masyarakat itu tidak ada persatuan. Persatuan itu tidak akan terwujud kalau di dalamnya tidak ada kepemimpinan. Kepemimpinan itu tidak  banyak maknanya kalau tidak ada ketaatan”.

 

Masyarakat dalam arti terkecil adalah rumahtangga atau keluarga. Dalam arti luas adalah Negara. Di antara keduanya adalah masyarakat daerah, seperti masyarakat Jawa Tengah. Jika masyarakat  di beberapa daerah kabupaten/kota di Jawa Tengah dalam waktu dekat akan memilih pemimpin (bupati /walikota), maka menurut akal sehat, pemilukada[2]   adalah untuk kepentingan mewujudkan kedamaian. Bagaimana agar pemilukada damai dan mendamaikan? Apa prasyarat untuk mencapai ke impian tersebut?

Jika pemilukada kita analogikan dengan jalan raya, maka sebetulnya di sana kita melihat banyak pengguna jalan. Kendaraan yang digunakan bisa berlainan, tempat yang mau dituju untuk dicapai juga berlainan. Tetapi ada satu impian bersama para pengguna jalan itu, yakni sampai ke tempat tujuan dengan selamat. Untuk itu mereka memilih untuk tidak menabrak  dan menghindar untuk ditabrak. Menabrak atau ditabrak, sama-sama ruginya. Rugi waktu, rugi kerusakan kendaraan, dst. Jadi ada kosep dasar, yaitu: selamat. Tetapi mengapa masih sering juga terjadi tabrakan?

Read more…

TAYANGAN TELEVISI

MENYOAL TAYANGAN TELEVISI

Oleh

Mudjahirin Thohir

 

.

 

            Tahun 1960-an, kondisi ekonomi negara Korea Selatan relatif sama dengan ekonomi negara Ghana. Dua negara ini, memiliki tingkat Produk Domestik Bruto per kapita setara. Tetapi 30 tahun kemudian, Korea Selatan menjadi raksasa industri dengan ekonomi terbesar ke-14 di dunia. Negara Korea Selatan hadir sebagai negara dengan perusahaan-perusahaan multinasional, ekspor mobil, alat elektronik, dan barang-barang canggih lainnya dalam jumlah besar, serta pendapatan per kapitanya, menjadi 15 kali lebih besar daripada Ghana. Bagaimana menjelaskan perubahan dahsyat seperti ini? Banyak faktor berperan, tetapi tidak syak lagi, budaya memainkan peran besar. Orang Korea Selatan menghargai hidup hemat, investasi, kerja keras, pendidikan, organisasi, dan disiplin. (Lihat Harrison & Huntington, eds. 2002).

Read more…

AGAMA DAN NEGARA

AGAMA DAN NEGARA: KASUS INDONESIA

Pokok-pokok Pikiran[1]

                               

Oleh Mudjahirin Thohir[2]

 

 

  1. Ada empat jenis kebenaran yang oleh manusia, baik sebagai individu maupun sosial, dijadikan pedoman berekspresi dan berinteraksi. Keempat kebenaran itu ialah kebenaran konstitutif, kebenaran kognitif, kebenaran evaluatif, dan kebenaran ekspresif[3].

Read more…

KEBAHASAAN

MASYARAKAT INDONESIA DAN RUU KEBAHASAAN[1]

Oleh Mudjahirin Thohir[2]

 

1. Indonesia adalah sebuah masyarakat majemuk yang terdiri atas masyarakat-masyarakat sukubangsa yang secara bersama-sama mewujudkan diri sebagai satu bangsa atau nasion yaitu bangsa Indonesia. Sebagai sebuah bangsa, masyarakat Indonesia hidup dalam sebuah satuan politik yaitu sebuah negara kesatuan yang bercorak republik yang menempati sebuah wilayah negara Indonesia.

  Read more…

KEMAJEMUKAN, KONFLIK DAN RESOLUSINYA

KEMAJEMUKAN, KONFLIK, DAN RESOLUSI KONFLIK

Dari Pendekatan Kualitatif

 

Oleh Mudjahirin Thohir (Koordinator Kualitatif)

 

 

PENDAHULUAN

 

Suatu penelitian yang baik, paling tidak, memperhatikan beberapa hal penting. Pertama, pemahaman terhadap substansi permasalahan yang dijadikan kajian; kedua, motivasi peneliti, dan ketiga, fasilitasi. Ketiga hal tersebut kedudukannya tidak bisa berdiri sendiri tetapi saling berinteraksi.

 

Menyadari pentingnya ketiga komponen tersebut, maka penelitian mengenai: Kemajemukan, Konflik, dan Resolusi Konflik, yang dilakukan oleh Limpad, terutama penelitian dengan menggunakan pendekatan kualitatif, dan secara kebetulan juga, koordinasinya dipercayakan kepada saya, prosesnya telah sayya juga memperhatikan ketiga unsur tersebut.

 

Proses itu sendiri – dalam realitasnya – tentu saja – di sana sini – terdapat beberapa kelemahan dan kelebihannya.

 

Tulisan ini mencoba mengevaluasi kembali apa yang sebenarnya terjadi di sepanjang proses itu, lalu apa kelemahan yang muncul ke depan, dan di mana kelebihan yang bisa ditampilkan.

 

Dari evaluasi yang jujur, setidaknya kita bisa berfikir lebih jauh bahwa ada sesuatu yang sebenarnya bisa kita lakukan tetapi mungkin dalam kegiatan penelitian, ternyata belum optimal kita lakukan. Sebaliknya adalah kelebihan dan keuntungan yang bisa dijadikan  pelajaran berharga untuk  penelitian berikutnya. Di sinilah pentingnya kita menempatkan evaluasi itu sebagai introspeki atau refleksi diri.

  Read more…

HATI NURANI BANGSA

HATINURANI BANGSA

Antara Peradaban dan Kebiadaban

 

mudjahirin thohir

 

 

 

 

Saya beragama

ketika

 saya  melihat keindahan Tuhan

dan melihat keindahan ciptaan-Nya.

 

 

Sebuah Persaksian

 

Dilihat dari sumber daya alam yang tersedia, laut dan darat,

melimpah ruah di bumi Indonesia.

Dilihat dari agama yang dipeluk penduduk, tak ada yang tersisa.

Semuanya mengaku beragama

Dilihat dari ideologi negara, terhiaskan oleh Pancasila.

Dilihat dari kemasyarakatan, gotongroyong disemboyankan.

Dilihat dari konfigurasi budaya, kepatuhan dan ketaatan ditanamkan.

Tetapi kenapa?

Di negeri yang tidak kurang sesuatu apa, justru kekurangan semuanya

 

Sumber daya alam: minim pengelolaan.

Limpahan rizki di lautan terbiarkan

Sawah dikelola seperti dulu kala

Bukankah ini pertanda kemandulan pengetahuan?

 

Sumber daya alam: maxi pengrusakan

Tak sengaja dan disengaja

Tak sengaja karena keterpaksaan, seperti petani kentang di lereng-lereng perbukitan

Tak sengaja karena ketidaktahuan, seperti penggali pasir di sungai merapi

Tak sengaja karena kenekatan, seperti pengejar ikan dengan putas mematikan

Inilah perilaku kaum miskin dalam wadah Indonesia

 

Para priyayi berselingkuh dengan kekuasaan

Hutan kayu ditebang, mutiara hitam digadaikan

Nota dilipatkan.

 

Agama?

Untuk identitas sosial, bukan untuk menghadirkan jiwa sosial.

Untuk memisahkan, bukan untuk menyatukan.

Untuk ke-Tuhan-an, bukan untuk kemanusiaan.

Untuk menghibur orang miskin, bukan untuk menghilangkan kemiskinan

Untuk  pujian, bukan untuk pelayanan.

 

Pancasila?

Di negeri ini ia menjadi penanda: Indonesia

Dihafal di luar kepala, tanpa diresapi maknanya.

Sering disalahgunakan untuk tameng

Sering  dibangunkan untuk digugat, bukan untuk dihayat.

 

Gotongroyong?

Berkumpul atas nama warga kampung

Bersihkan got-got karena kunjungan para pembesar

Bukan bergotongroyong membangun Indonesia ke depan.

 

Bukankah kita pancasilais, agamis, dan berbudaya adi luhung?

Kenapa kita miskin, tidak jujur, dan tidak beruntung?

 

Kepatuhan dan ketaatan?

Patuh dan taatlah kepada atasan, kata seorang pejabat kepada bawahan.

Taat itu perintah agama.

Atasan itu bagai bapakmu, jadi jalankan apa yang diminta.

Kalau tidak, tahu sendiri akibatnya.

 

Sumber daya alam yang subur, ternyata tidak membawa penduduk makmur

Mereka yang mengaku beragama, ternyata banyak yang tidak jujur.

Mereka yang mengaku berpancasila, ternyata banyak yang bermuka dua.

Mereka yang menyerukan gotongroyong, ternyata tak berjiwa menolong.

Mereka yang mengajarkan untuk patuh, ternyata mental dan moralnya sendiri  rapuh.

 

AMPUNAN UNTUK YANG BERPUASA

AMPUNAN UNTUK YANG BERPUASA

Oleh Mudjahirin Thohir

——————————————————————————————–

 

MENJELANG Bulan Ramadlan, kita amati, begitu banyak orang pergi ke makam. Di sana, mereka duduk bersimpuh di dekat pusara. Memanjatkan doa. Orang Jawa menyebut hal ini sebagai kirim dongo.  Berkirim doa agar mereka diampuni dosanya. Perilaku mendoakan para arwah seperti ini, atau karena dilakukan pada bulan Ruwah, lantas disebut Ruwahan. Dengan ampunan Tuhan, memudahkan arwah leluhurnya itu, dinaikkan dari alam barzah (alam kubur) ke alam jannah (swargi). Istilah “naik” dalam bahasa Jawa disebut munggah, sehingga proses menuju atau ritual yang terkait dengan itu, disebut  punggahan.

Read more…

Improve the web with Nofollow Reciprocity.