HATINURANI BANGSA
Antara Peradaban dan Kebiadaban
mudjahirin thohir
Saya beragama
ketika
saya melihat keindahan Tuhan
dan melihat keindahan ciptaan-Nya.
Sebuah Persaksian
Dilihat dari sumber daya alam yang tersedia, laut dan darat,
melimpah ruah di bumi Indonesia.
Dilihat dari agama yang dipeluk penduduk, tak ada yang tersisa.
Semuanya mengaku beragama
Dilihat dari ideologi negara, terhiaskan oleh Pancasila.
Dilihat dari kemasyarakatan, gotongroyong disemboyankan.
Dilihat dari konfigurasi budaya, kepatuhan dan ketaatan ditanamkan.
Tetapi kenapa?
Di negeri yang tidak kurang sesuatu apa, justru kekurangan semuanya
Sumber daya alam: minim pengelolaan.
Limpahan rizki di lautan terbiarkan
Sawah dikelola seperti dulu kala
Bukankah ini pertanda kemandulan pengetahuan?
Sumber daya alam: maxi pengrusakan
Tak sengaja dan disengaja
Tak sengaja karena keterpaksaan, seperti petani kentang di lereng-lereng perbukitan
Tak sengaja karena ketidaktahuan, seperti penggali pasir di sungai merapi
Tak sengaja karena kenekatan, seperti pengejar ikan dengan putas mematikan
Inilah perilaku kaum miskin dalam wadah Indonesia
Para priyayi berselingkuh dengan kekuasaan
Hutan kayu ditebang, mutiara hitam digadaikan
Nota dilipatkan.
Agama?
Untuk identitas sosial, bukan untuk menghadirkan jiwa sosial.
Untuk memisahkan, bukan untuk menyatukan.
Untuk ke-Tuhan-an, bukan untuk kemanusiaan.
Untuk menghibur orang miskin, bukan untuk menghilangkan kemiskinan
Untuk pujian, bukan untuk pelayanan.
Pancasila?
Di negeri ini ia menjadi penanda: Indonesia
Dihafal di luar kepala, tanpa diresapi maknanya.
Sering disalahgunakan untuk tameng
Sering dibangunkan untuk digugat, bukan untuk dihayat.
Gotongroyong?
Berkumpul atas nama warga kampung
Bersihkan got-got karena kunjungan para pembesar
Bukan bergotongroyong membangun Indonesia ke depan.
Bukankah kita pancasilais, agamis, dan berbudaya adi luhung?
Kenapa kita miskin, tidak jujur, dan tidak beruntung?
Kepatuhan dan ketaatan?
Patuh dan taatlah kepada atasan, kata seorang pejabat kepada bawahan.
Taat itu perintah agama.
Atasan itu bagai bapakmu, jadi jalankan apa yang diminta.
Kalau tidak, tahu sendiri akibatnya.
Sumber daya alam yang subur, ternyata tidak membawa penduduk makmur
Mereka yang mengaku beragama, ternyata banyak yang tidak jujur.
Mereka yang mengaku berpancasila, ternyata banyak yang bermuka dua.
Mereka yang menyerukan gotongroyong, ternyata tak berjiwa menolong.
Mereka yang mengajarkan untuk patuh, ternyata mental dan moralnya sendiri rapuh.