KEBUDAYAAN KERATON DAN LEMBAGA ADAT

UPAYA DAN FASILITASI ORGANISASI KEMASYARAKATAN
BIDANG KEBUDAYAAN KERATON DAN LEMBAGA ADAT
Bagaimana Pelestarian dan Pengembangannya

Oleh Mudjahirin Thohir

1. Pendahuluan

Kajian mengenai kebudayaan, khususnya kebudayaan Jawa, termasuk bagaimana melestarikan dan mengembangkannya, tidaklah sesederhana sebagaimana yang kita duga. Hal ini disamping definisi atau pengertian terhadap konsep kebudayaan itu sendiri beraneka ragam, juga secara substantif, kebudayaan Jawa itu sendiri sangat kompleks, tidak monolitik (tidak satu warna) karena sebaran kebudayaan dan masyarakat Jawa sendiri yang secara historis memiliki keberagaman. Begitu pula pengaruh-pengaruh kebudayaan asing ke dalamnya.
Tulisan ini mencoba merunut secara ringkas mengenai kebudayaan Jawa dimaksud untuk memungkinkan kita mendiskusikan langkah-langkah bagaimana melestarikan dan mengembangkannya.

2. Keragaman Pengertian Kebudayaan (Jawa)

Kebudayaan dapat dilihat ke dalam tiga sisi. Dari sisi materi(al), dari sisi behavioral, dan dari sisi ideasional.
Dari sisi material, kebudayaan terwujud ke dalam bentuk artefak. Konsep “cagar budaya” misalnya, secara umum diacukan kepada benda-benda budaya yang harus dilestarikannya. Dari sisi behavioral kebudayaan diacukan kepada sikap-sikap dan tindakan-tindakan yang berpola (pattern of behavior) yang dianggap sebagai cermin kebudayaan. Ungkapan seperti “tingkahlakune ora Njawani” bermakna bahwa orang Jawa itu memiliki “model tingkah laku yang khas Jawa” atau tingkah laku menurut etika (tatakrama) Jawa. “Ngomong njangkar karo orangtua, umpamanya”. Sedang dalam arti ideasional, kebudayaan bermakna dan diberi makna pada pengetahuan dan keyakinan (atau pengetahuan yang telah diyakini kebenarannya) dan karena itu dijadikan pedoman acuan bertingkah laku.
Saya termasuk yang menyukai memberi makna kebudayaan menurut teori ideasional. Dengan demikian, kebudayaan Jawa adalah keseluruhan pengetahuan dan keyakinan yang dimiliki oleh umumnya orang Jawa dan digunakan sebagai acuan bertingkah laku dalam kerangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Makan misalnya, bukanlah kebudayaan tetapi cara bagaimana konsep makan yang baik menurut umumnya orang Jawa (seperti sambil duduk, dengan menggunakan tangan kanan dsb) adalah tingkahlaku kebudayaan (khas) Jawa. Begitu pula, artefak bukanlah kebudayaan tetapi ia adalah benda-benda budaya. Di mana lalu kebudayaannya? Kebudayaannya berada di balik benda artefak tadi, berupa pengetahuan dan filsafat yang mendasarinya sehingga terwujud benda-benda budaya dimaksud.
Kebudayaan, baik dalam artian material, behavioral, maupun ideasional sebagaimana penjelasan di atas – secara historis lokusional, terbagi ke dalam dua ranah, yakni keraton dan rakyat. Kebudayaan Jawa khas keraton, dan kebudayaan Jawa khas rakyat. Menurut istilah Robert Redfield, Kebudayaan Kraton disebut dengan The Great Tradition (Tradisi Besar) sementara kebudayaan Rakyat disebutt sebaliknya yaitu The Little Tradition (Tradisi Kecil).
Jika The Great Tradition tadi ditarik ke wilayah seni, maka ia dikategorikan sebagai seni alus seperti membatik dan seni tari. Sedang the little tradition adalah seni kasar seperti seni-seni rakyat pada umumnya, umpanya ketoprak, ludruk, dsb.
The great tradition, seni halus milik kraton itu – diidentifikasi sebagai kebudayaan yang hidup dan berkembang di istana (Jawa) yang dalam konsep kewilayahan dikenal dengan sebutan kutanegeri atau wilayah negarigung. Sedang the little tradition atau seni kasar hidup dalam kebudayaan rakyat yang tinggal di kawasan luar yang disebut dengan mancanegari. Kebudayaan Jawa yang semakin nampak berbeda dengan seni kraton ialah kebudayaan masyarakat pasisiran. Jika struktur kebudayaan Jawa dilihat secara melingkar, nampak sebagai berikut.

Lewat lingkaran di atas, Clifford Geertz dengan melihat sisi-sisi keagamaan orang Jawa dilihat dari inti struktur sosial Jawa, membaginya ke dalam tiga varian, seperti berikut.

Inti struktur sosial jawa Desa Abangan Animistik Slametan
Pasar Santri Islam -Pelaksanaan ibadah
-keormasan
Birokrasi Pemerintahan Priyayi Hinduistik -Pengembangan etiket kraton yang bercorak halus

Dari sudut ini, maka topik yang diajukan oleh panitia yaitu upaya dan fasilitasi organisasi kemasyarakatan bidang kebudayaan keraton dan lembaga adat arahnya lebih tertuju kepada budaya dan tradisi keraton. Pertanyaannya ialah bagaimana melestarikan dan mengembangkannya?

3. Pembudayaan dan Pembelajaran
Sudah semestinyalah setiap orang perlu menghargai dan menghormati kebudayaannya. Sebab, jika kita telah kehilangan pemahaman atas kebudayaan yang kita miliki, biasanya akan mudah kehilangan arah dan orientasi.
Untuk itu, saya akan mengajukan dua tesis pertama, bahwa inti dari bagaimana kebudayaan itu bisa tetap hidup (tentu dengan berbagai modifikasi), ialah dengan pembelajaran (internalisasi dan sosialisasi) secara proporsional dan rasional. Bukan dengan cara mendogmakan apalagi meng-idologi-kan. Kedua, bahwa kebudayaan itu – dilihat dari rentang waktu – berada dalam tiga kategori, pertama, adalah kebudayaan yang sudah jadi (membentuk) sebagai kebudayaan masa lalu, kedua adalah kebudayaan yang dalam proses membentuk (kebudayaan masa kini) dan kebudayaan yang akan dibentuk (yaitu kebudayaan [Jawa] masa depan).
Tesis pertama, bagaimana kebudayaan itu akan tetap lestari, adalah dengan cara membelajaran (learning) secara berkelanjutan, sehingga membentuk empat pilar dalam diri pendukungnya. Jika digambarkan adalah sebagai berikut.

adaptasi dr Google

Pembelajaran (internalisasi dan sosialisasi) mengacu pada memberikan makna atau pengertian terhadap berbagai pengetahuan dan tindakan budaya. Kedua, pembelajaran secara berkelanjutan sehingga pilihan tindakan itu menjadi identitas (misalnya sebagai menjadi orang Jawa). Ketiga, pembelajaran atas pengetahuan budaya itu menjadi milik bersama (komunitas Jawa), dan keempat pembelajaran itu pada akhirnya secara reflektif dijalankan (tanpa disadari) karena sudah menjadi ruh kehidupannya. Tentu strategi pembelajaran itu bisa dimulai dari mana saja, tetapi intinya keempat komponen tadi ada dalam satu kesatuan.
Dengan demikian, jika kebudayaan keraton termasuk berbagai tradisi (kejawaan) akan dikenalkan kepada generasi sekarang dan mendatang, maka bagaimana prosesnya bisa dimulai dengan skema di atas.
Sedang proses bagaimana mengenalkan substansi maupun wujud dari hasil kebudayaan (artefak dsb) itu kepada generasi sekarang dan mendatang, perlu mempertimbangkan berbagai perubahan sosial yang ada di luarnya, yaitu menempatkan kebudayaan dalam rentang waktu sebagai berikut.

Masa lalu Masa kini Masa depan
Kebudayaan yang sudah jadi, sudah terbentuk Kebudayaan yang sedang memproses, sedang membentuk. Kebudayaan yang direncanakan.
Misal: desain rumah joglo masa lalu. Rumah joglo yang dimodifikasi. Rancangan konsep rumah joglo masa depan.
Tradisional Modern Post-modern

4. Penutup
Semoga uraian singkat ini menggugah kesadaran kita bersama, bahwa yang namanya melestarikan dan mengembangkan kebudayaan, tidaklah tepat hanya karena fanatisme dengan memposisikan kebudayaan kita adalah kebudayaan adiluhung yang tidak boleh berubah apalagi diubah. Kebudayaan akan berubah mengikuti zamannya. Tugas kita adalah bagaimana agar perubahan kebudayaan (Jawa) itu tidak mengubah esesensinya. Dan esensi kebudayaan itu ada pada norma-norma, nilai-nilai, dan keyakinan-keyakinan, sebagaimana gambar berikut.

sumber: google.

Untuk kajian lebih mendalam, dapat dilengkapi dalam diskusi. Terimakasih.

Leave a Reply