CERITA RAKYAT DI SEPUTAR DAERAH JEPARA

ANALISIS CERITA RAKYAT JEPARA

1. Cerita Rakyat dalam Setting Pengetahuan Tradisional
Dunia kehidupan adalah “dunia” atau “semesta” yang rumit. Rumit karena terdiri dari entiti-entiti yang dapat dilihat dan yang tidak dapat dilihat secara kasab mata. Oleh masing-masing entiti itu, terjadi saling interaksi dan juga saling melahirkan masalah. Oleh karena itu, masalah dalam dunia kehidupan, tidak selamanya bisa dijelaskan berdasarkan akal sehat dan penalaran rasional, tetapi juga banyak peristiwa yang ternyata hanya bisa dimengerti berdasarkan intuisi dan spekulasi – oleh karena sifat masalahnya yang gaib dan tersembunyi.

Oleh karena secara fenomenologis menunjukkan hal itu, maka manusia membangun suatu pemahaman baru berdasarkan pengetahuan tradisional untuk menemukan rasa aman. Pengetahuan tradisional yang ternyata dapat membantu menumbuhkan kepercayaan-kepercayaan dan rasa aman itu, salah satunya bersumber dari cerita-cerita rakyat . Di dalam cerita rakyat itu, folk disadarkan lewat peristiwa masa lalu yang antara lain bersifat gaib, aneh, dan rumit, tetapi selalu ada jalan keluarnya. Transformasi pengetahuan tradisional lewat cerita-cerita rakyat itu, menandai adanya kepentingan akan nilai-nilai yang dapat mengukuhkan keberadaan imajinasi-imajinasi, intuisi-intuisi, dan spekulasi-spekulasi untuk menjawab masalah-masalah atau peristiwa-peristiwa yang gaib, sakral, dan mencengangkan.
Apa yang ada dalam alam pikiran kolektif, selanjutnya terformulasi ke dalam sejumlah pandangan mendasar mengenai kehidupan. Formulasi pandangan itu, selanjutnya disebut sebagai nilai-nilai budaya. Nilai-nilai budaya, sebagaimana dijelaskan oleh Koentjaraningrat dan Harsya W. Bahtiar (1969: 22) dapat ditinjau ke dalam empat pandangan yang terdapat dalam kehidupan manusia yaitu (1) pandangan manusia terhadap alam yang mengelilinginya; (2) pandangan manusia mengenai tempatnya dalam ruang dan waktu; (3) pandangan manusia terhadap arti kerja, dan (4) hubungan manusia dengan sesamanya.
Pandangan manusia terhadap alam yang mengelilinginya bertolak pada konsep kosmos. Kosmos itu terdiri dari gejala yang bermacam ragam: gejala hidup dan mati, jasmani dan rohani, gunung, tumbuh-tumbuhan, ruang dan waktu, hari dan tempat, siang dan malam. Semuanya tidak dilihat secara matematis, tetapi secara kualitatif dengan tingkat kekuatan serta kekudusannya masing-masing – karena penglihatan di sini lebih mengacu kepada hubungan emosi dan intuisi. Orientasi berfikir demikian mengandaikan bahwa sebetulnya tidak mungkin menghadapi dunia secara objektif dengan mengenakan ukuran-ukuran yang berlaku secara umum. Oleh karena itu kesadaran manusia terletak dalam tilikan (insight) mengenai hakekat hubungan manusia dengan kosmos. Hubungan di sini tidaklah dijelaskan melalui analisis dan sintesis, melainkan berdasarkan intuisi dan spekulasi untuk memperoleh kesatuan antara manusia (mikrokosmos) dengan dunianya (makro-kosmos) secara harmonis (lihat pula Poespowardojo, 1985: 201). Dalam pengertian yang lebih ke-kini-an, kepercayaan ini menjelaskan bahwa pada dasarnya manusia itu tidak bisa melepaskan diri dari entiti-entiti yang bersifat gaib, dan karena itu manusia menjadi meyakini terhadap adanya kekuatan-kekuatan gaib. (Bandingkan pada Roberthein-Geldern, 1972: 2).
Pengetahuan-pengetahuan tradisional untuk memahami dan meyakini adanya kekuatan-kekuatan gaib, seringkali dibungkus oleh cerita-cerita mitos . Mitos itu sendiri perwujudannya berupa cerita-cerita (gaib) yang memberikan pedoman dan arah tertentu kepada masyarakat ybs. Cerita-cerita mitos diturunkan secara lisan dari satu generasi kepada generasi berikutnya dengan cara-cara tertentu sehingga membentuk sebuah dunia tersendiri dan dengannya orang menjadi yakin adanya. Inti dari cerita-cerita mitos tersebut adalah lambang-lambang yang mencetuskan pengalaman manusia, yakni lambang-lambang kebaikan dan kejahatan, hidup dan kematian, dosa dan pensucian, perkawinan dan kesuburan – sehingga dengan itu, masyarakat manusia memiliki pegangan mengenai bagaimana hidup itu dijalani.

Dalam bentuknya yang lebih disederhanakan, mitos-mitos itu terselip ke dalam cerita-cerita rakyat di dalam kisah tentang permulaan terbentuknya desa atau wilayah , maupun cerita-cerita kejadian istimewa lainnya dengan tokoh-tokoh yang luar biasa pula. Kesemuanya itu kemudian menjadi ingatan bagi warga masyarakat ybs tentang asal-usul, identitas, dan superioritas kelompok. Di sinilah cerita rakyat yang terkait dengan kisah asal-usul terbentuknya desa atau wilayah menjadi sangat penting, karena dengan itu orang menjadi tahu tentang identitas diri atau kelompoknya.
Tokoh yang istimewa yang menjadikan desa itu mewujud, ter-‘baptis’-kan sebagai hero bagi warga masyarakat yang bersangkutan. Dari konsep hero itulah kemudian lahir pemahaman bersama mengenai punden, yakni suatu tokoh yang dijadikan pepundian (pujaan) semi sakral yang oleh generasi sesudahnya dipahami berada dalam ruang istirah tertentu yang disebut makam. Dari pemahaman demikian, maka sang tokoh (hero) , yang berada dalam tempat istirah (makam) itulah pepunden yang diingat dan yang dipuja sebagai protektor bagi warganya. Sebagai protektor maka pepunden tidaklah “mati” tetapi ia ada dalam alam yang berbeda. Oleh karena dipersepsi demikian maka sesungguhnya antara warga masyarakat itu dengan pepundennya, dapat melakukan hubungan-hubungan simbolik. Hubungan-hubungan itu direkam ke dalam simbol-simbol kebudayaan yang terwujud ke dalam ritual manganan dan dalam upacara komunal tahunan yang dikenal dengan upacara sedekah bumi . Sedang upacara yang bersifat privat atau pribadi diwujudkan ke dalam nazaran atau janji yang diucapkan oleh alasan-alasan dan harapan-harapan tertentu. Semua tingkah laku simbolik tadi lantas disebut secara borongan sebagai tradisi. Oleh karena sebagai tradisi, maka masing-masing orang berusaha menjaganya. Demikian inilah corak dari pandangan dunia (worldview) masyarakat-masyarakat tradisional yang ada di mana saja, termasuk yang ada pada masyarakat Jawa pesisir utara, seperti masyarakat Jepara. Setiap pandangan dunia itu, memiliki struktur rasionalitasnya sendiri dan menunjukkan struktur mekanisme pemeliharaannya sendiri pula (Berger, 1994: 53). Memahami struktur rasionalitas dan struktur mekanisme pemeliharaan terhadap segala apa yang ditradisikan sebagaimana yang terekam pada cerita-cerita rakyat yang masih hidup di Jepara (lihat Bab III) merupakan hal penting yang perlu kita ketahui bersama.

2. Deskripsi Cerita Rakyat
Cerita rakyat sebagaimana yang terekam pada Bab III di depan, biasanya digubah dari bahan bahan sejarah atau disangkutpautkan dengan hal hal yang bersejarah, dengan bukti bukti seperti asal usul nama desa, senjata atau benda benda lain. Bukti bukti itu secara langsung atau tidak lang¬sung, berfungsi bagi sebagian besar kolektif yang menuturkannya sebagai identifikasi, kebanggaan diri maupun superioritas kelompok – sepertinya, demikian itulah faktanya. Hanya saja fakta di sini tentu bukanlah fakta sejarah (his storiografy) (Rusyana, 1971: 408). Fakta fakta dalam cerita rakyat adalah fakta yang dibangun atau disisipi oleh sejumlah kebebasan imajinasi penutur-nya, karena motif penyampaian fakta fakta itu cenderung berbeda dengan motif penuturan fakta menurut ilmu sejarah. Motif dalam cerita rakyat diarahkan kepada fungsi fungsi untuk apa cerita itu dari dan untuk kolektifnya. William Bascom (1965; dikutip pula oleh Danandjaja, 1984: 4) menun¬jukkan empat fungsi. Keempat fungsi itu ialah: (1) mencermin¬kan angan angan, ide ide kelompok; (2) sebagai sarana penge¬sahan pranata pranata dan sistem kebudayaan; (3) sebagai alat pendidikan; dan (4) sebagai alat pemaksa serta pengawas. Pada sisi lain, ia juga bisa berfungsi untuk memberi hiburan, mengukuhkan rasa setiakawanan kelompok, sebagai sarana menya¬takan protes sosial atau sebagai sarana memberikan tempat untuk melepaskan diri dari realitas yang dihadapi (lihat Dundes, 1965: 277, dikutip pula oleh Danandjaja, 1980: 151).
Umumnya suatu cerita rakyat yang hidup di antara masyarakat-masyarakat yang ada, memiliki versinya sendiri baik dalam hal nama nama tokoh, perwatakan [characters]; latar cerita [setting]; dan alur [plot] cerita. Cerita-cerita rakyat yang hidup di Jepara, bisa jadi mempunyai versi tersendiri yang berbeda dengan cerita-cerita rakyat serupa di luar Jepara. Yang menyamakan di antara versi versi cerita rakyat itu, ialah motif yang ingin disampaikan oleh penuturnya (Bandingkan pada Brunvand, 1968: 4), yaitu pendidikan tidak langsung kepada masyarakat (folk)-nya.
Deskripsi mengenai cerita rakyat yang membicarakan mengenai asal-usul desa atau daerah (13 buah) dilihat berdasarkan judul, tema, tokoh, dan pesan yang ingin disampaikan oleh cerita itu sbb:
No Judul Tema Tokoh Pesan
Protagonis Antagonis
1 Asal-usul desa di Bangsri Iri hati -Ki Gede Bangsri
-Sunan Muria Ki Suranggoto Memperjuangkan kebenaran akan selalu menghadapi rintangan, dan harus berani berkorban.

2 Desa Cepogo Adu kepandaian -Subadra
-Srikandi
-Arjuna - Keutamaan orang adalah dari kepandaian yang dimiliki
3 Desa Bucu Idem Idem - Idem
4 Desa Sumanding Janji kesetiaan -Srikandi
-Arjuna Kebahagiaan berumahtangga berawal dari pernyataan janji setia
5 Desa Jlegong Perseruan antara jin dan manusia -Ratu Kalinyamat
-Nyai Singalelo -jin Brengkel Godaan untuk seorang pemimpin bisa datang dari makhluk gaib (jin)
6 Desa Sukodono Mendirikan suatu desa Kek Soguna Jagoan Troso Kebenaran mengalahkan kebatilan
7 Desa Klelet Kisah perjalanan Syeh Maulana Maghribi - Kebesaran seseorang tercermin pada kesediaan menolong orang lain yang sedang mengalami kesulitan
8 Desa Ujung-pandang Ekologi Pohon pandan - Nama desa bisa didasarkan pada ciri khas yang mudah diingat seperti banyaknya pohon pandan
9 Desa Welahan Perjalanan laut Dampoawang - Peninggalan milik hero dapat menjadi pengingat jasanya
10 Desa Ketileng Cinta tak sampai -Singalelo
-Kalinyamat - Jangan mencintai seseorang yang tidak mungkin sepadan sebab akan bertepuk sebelah tangan
11 Desa Tegalsambi & Telukawur Kesetiaan suami isteri -Syeh Jondan
-Bodrolangu
-Raja bujang - Jangan menghukumi sebelum jelas duduk masalahnya
12 Karimun-jawa Harapan orangtua terhadap anak -Sunan Muria
-Amir Hasan - Buah mangga tidak jauh jatuhnya dari pohonnya
13 Desa Ngasem Perjalanan tanpa tujuan Wanita yang tersesat - Setiap kesulitan di dalamnya pasti ada jalan keluarnya.

Dari tema asal-usul desa, berikutnya diikuti oleh cerita rakyat yang berkaitan dengan makam atau punden (pepunden) atau paling tidak, tempat itu dikeramatkan. Cerita-cerita rakyat yang berhasil dihimpun yang menunjukkan ke arah tema-tema itu dapat dideskripsikan sbb:

No
Judul
Tema Tokoh
Pesan
1 Punden Senopati Perang melawan penjajah -p. Senopati
-Kuda sembrani Membela negara adalah kewajiban
2 Makam Mbah Logo Kesaktian prempuan Mbah Logo
Makam orang sakti adalah keramat
3 Makam Mbah Lundu Kepatuhan Mbah Lundu
Kepatuhan merupakan tanda kehormatan diri
4 Makam Mbah Ngarang Kesaktian Mbah Ngarang
Orang yang memiliki kesaktian biasanya dapat memberi berkah kepada orang lain
5 Makam Mbah Buyut Sukun Cinta tak sampai -Mbah Buyut
-Wanita cantik
Orang yang jatuh cinta biasanya akan tunduk kepada yang dicintainya.
6 Makam Setinggil Mencari selamat dalam peperangan -Angkatan perang kerajaan Jepara
Tempat yang sering digunakan untuk berperang ternyata menunjukkan keramat
7 Makam R.A. Nurani Membantu orang miskin -R. Mursal
-R.Nurani Mencuri itu jelek, tetapi menolong orang lain meskipun dari barang curian, masih memberi manfaat.
8 Punden Gundil Semangat menyiarkan agama Wali Barangsiapa membangun tempat ibadah (masjid) maka ia akan dimuliakan Allah.
9 Punden Watu Lembu Kebersamaan Nyi Geyong Kebersamaan akan mendatangkan kekuatan untuk mencegah kejahatan.
10 Klentheng Pemujaan tokoh keramat Dampoawang Orang yang kurang percaya diri cenderung mencari keteguhan lewat tokoh yang dikeramatkan.

Sedang cerita yang berkaitan dengan kejadian-kejadian istimewa yang dikenali oleh sebagain penduduk Jepara terdeskripsi sebagai berikut:

No Judul Tema Tokoh Pesan
1 Air terjun Sangga Langit Salah paham -orangtua
-anak
-menantu Meski pekerjaan itu sangat berat, tetapi orang tidak boleh menghindar, sebab menghindar akan mendatangkan masalah baru.
2 Gunung Truwili Permusuhan manusia dg setan -Kalinyamat
-Setan Truwili Setan di mana pun dan kapanpun akan berusaha mencelakakan manusia.
3 Kali Gelis Perjalanan Kali-nyamat dan Nyai Tumenggung -Kalinyamat
-Nyai T.Singalela
-Setan Brengkel Tuhan akan senantiasa menyertai orang-orang yang berjuang menegakkan kebenaran
4 Watu Ampar Anak yang tidak mengakui ibunya sendiri -Sam Po Kong
-Ibu Sam Po Kong -Restu ibu restu Tuhan, amarah ibu, amarah Tuhan.

Selain cerita-cerita rakyat di atas, masih ada cerita-cerita lain yang diingat oleh folknya seperti yang berkaitan dengan upacara-upacara tradisi manganan, sedekah bumi, sedekah laut, dan bahkan cerita yang menyangkut legenda Ki Betara Sungging. Legenda yang terakhir ini sangat mungkin hanya dimiliki oleh warga Jepara karena isi atau temanya menyangkut kisah seseorang yang menurunkan bakat (talensi) keahlian mengukir bagi orang Jepara. Hal demikian semakin memperjelas bahwa cerita-cerita rakyat yang diingat oleh folk-nya itu, memiliki motif-motif dan pesan-pesan yang ingin diturunkan kepada generasi berikutnya sebagai pendidikan tidak langsung.

3. Motif dan pesan dari Cerita Rakyat
Cerita-cerita rakyat sebagaimana yang terdeskripsikan di atas, di dalamnya selalu ada motif-motif dan pesan-pesan yang hendak disampaikan oleh penuturnya. Motif maupun pesan pada setiap cerita rakyat, biasanya mengambil bentuk tersirat dan bersembunyi di balik peristiwa atau kejadian-kejadian yang terjadi dari sang tokoh utama cerita itu. Berikut akan disajikan motif dan pesan cerita berdasarkan kategori temanya.

a. Motif dan Pesan dari cerita asal-usul Desa
Cerita asal-usul desa di kecamatan Bangsri, mengkisahkan perlawanan dua orang tokoh, yaitu Ki Ageng Bangsri dan Ki Suro Nggoto. Kedua tokoh ini ditampilkan seakan-akan melambangkan dua kecenderungan umum manusia yaitu bersaing memperebutkan kehormatan diri. Dalam rangka memperebutkan kehormatan itu, masing-masing menunjukkan keahlian dan kedigdayaan.
Ada unsur-unsur yang menarik dari kronik cerita ini, yaitu (a) kedua tokoh itu semula sama-sama menjadi murid Sunan Muria, (b) sehingga kedua tokoh itu (nenek moyang orang Bangsri) dinisbatkan sebagai orang santri, tetapi (c) tidak setiap orang santri terbebas dari sifat-sifat iri hati. Ki Suro Nggoto melakukan kekerasan oleh karena iri kepada kawan seperguruan yang diberi kesempatan oleh gurunya. Jalan yang ditempuh untuk mengekspresikan rasa itu ditunjukkan dengan cara mengganggu yaitu menciptakan ketegangan-ketegangan dan teror-teror agar peluang untuk mengadu keahlian kepada lawan (Ki Ageng Bangsri) dapat terjadi. Inilah pilihan untuk melakukan tindak kekerasan dalam rangka mencapai ambisinya: mempermalukan.
Pada segi lain, Ki Ageng Bangsri, bahkan gurunya yaitu Sunan Muria ingin memberi pelajaran kepada kawan atau muridnya yang membikin keonaran. Setiap orang yang melakukan kekerasan harus dibalas sesuai dengan perbuatannya. Tetapi dalam kenyataan, memperbaiki keadaan yang kurang baik itu tidak mudah. Untuk memperbaiki keadaan, ternyata harus ada pengorbanan. Pada kronik cerita di sini, Ki Ageng Bangsri terpaksa harus mengorbankan anaknya sendiri demi kepentingan lebih banyak orang.
Apa motif di balik cerita rakyat tersebut? Pertama adalah memberi kesadaran kepada folknya bahwa antara yang baik dan yang buruk selalu muncul sebagai kenyataan yang meliputi kehidupan manusia. Kedua, bahwa perselisihan manusia itu banyak bersumber dari rasa iri oleh akibat memperebutkan peluang. Rasa iri itu cenderung akan diikuti dengan tindakan-tindakan negatif. Ketiga, jika terjadi tindakan negatif yang membahayakan banyak orang, maka ia harus dicegah. Keempat, bahwa pencegahan terhadapa hal-hal demikian itu ternyata juga harus ada yang dikorbankan. Inilah suatu hukum dari kehidupan sosial. Motif untuk memberi pendidikan dalam cerita ini terutama terlihat dari kesediaan Ki Ageng Bangsri mengorbankan anaknya sendiri (Dewi Wiji) untuk tebusan yang dituntut oleh lawannya (Suro Nggoto) demi terbebasnya warga dari ancaman pembunuhan. Maka pesan yang hendak disampaikan oleh cerita seperti ini ialah hendaknya orang menjauhkan diri dari rasa iri dan dengki, menjauhkan diri dari tindakan-tindakan kekerasan, dan bersamaan dengan itu orang hendaknya juga sadar bahwa adanya dua karakter manusia seperti yang terwakili oleh Suro Nggoto (antagonis) dan Ki Ageng Bangsri (protagonis) sehingga terserah kepada folknya siapa di antara kedua tokoh itu yang dijadikan teladan dalam kehidupannya.
Dalam kehidupan empirik di lapangan, karakter yang melekat pada diri kedua tokoh itu, yaitu iri hati, keras kepala, suka menyelesaikan masalah dengan cara-cara kekerasan (Ki Suro Gnggoto) yang dilawankan dengan kehalusan, keberanian, dan kesediaan berkorban (Ki Ageng Bangsri) secara tidak langsung juga merepresentasikan karakter folknya. Oleh karenanya dalam kehidupan sehari-hari masyarakat yang bersangkutan, sering menunjukkan umpatan kebencian, atau mengekspresikan pujian pada diri sendiri atau kelompoknya dengan memposisikan diri sebagai “anak keturunan” sang tokoh. Umpatan seperti: “dasar keturunan Suro Nggoto!” yang dialamatkan kepada orang kedua (lawan bicara), maupun pujian diri, seperti: “lho, belum tahu tho dengan anak turun Ki Ageng Bangsri?”, adalah gambaran mengenai pengidentifikasian berdasarkan pengetahuan-pengetahuan yang diperolehnya dari cerita rakyat yang beredar dan hidup di lingkaran folk-nya sendiri.
Demikian pula, pengguna “tokoh santri” yang ditampilkan oleh penuturnya dalam cerita ini, mengidentifikasikan bahwa mayoritas penduduk di desa-desa di wilayah itu cenderung adalah kelompok santri pula. Mengapa? Karena tanpa menunjukkan kemiripan antara tokoh dalam cerita dengan umumnya folk (pendengar), maka cerita rakyat yang bersangkutan tidak akan mendapat pendukungnya. Logika ini juga berlaku untuk menjelaskan cerita rakyat yang berasal dari desa Cepogo, Bucu, dan Sumanding.
Pada ketiga desa itu, nenek moyang (danyang)-nya adalah sama yaitu “Srikandi”. Danyang Srikandi ini hadir di antara tokoh lain, Harjuna, Subadra, dan Semar. Tokoh-tokoh itu pada dasarnya adalah tokoh-tokoh yang terambil dari tokoh dan kronik yang bersumber dari kisah pewayangan. Karena kuatnya pengaruh cerita-cerita wayang bagi umumnya masyarakat yang bersangkutan, maka seakan-akan tokoh-tokoh itu hadir dalam kehidupan empirik dan bukan lagi bersifat imajinatif.
Kuatnya pengaruh tokoh-tokoh wayang bagi ketiga masyarakat tersebut juga karena dari segi keagamaan masyarakat di tiga desa itu, basiknya adalah bertipologi Kejawen, yaitu suatu penghayatan keagamaan yang umumnya dipilih orang Jawa dengan cara melakukan sinkretisme antara filsafat-filsafat kehidupan yang diajarkan oleh Hindu-Budha dengan filsafat yang diajarkan dalam Islam.
Kalau dewasa ini, kepercayaannya kepada cerita-cerita pewayangan yaitu bahwa Srikandi diyakini sebagai danyang desa-desa itu semakin menyusut, hal ini antara lain adalah pengaruh masuknya pemahaman keagamaan yang dibawa oleh pemuka Muhammadiyah maupun NU. Mereka (masyarakat Bucu, Cepogo, dan Sumanding) yang mengaku beragama Islam tetapi masih kuat, tinggal terbatas pada generasi-generasi tua. Sementara untuk generasi mudanya, cenderung tidak mengingat bahkan tidak memperdulikan mengenai hal tersebut, suatu tanda dari gejala perubahan kebudayaan.
Kendatipun terjadi perubahan pensikapan terhadap cerita mengenai asal-usul desanya, tetapi tidak berarti bahwa folknya tidak mempercayai lagi terhadap kejadian-kejadian yang bersifat gaib. Kepercayaan kepada entiti-entiti yang bersifat gaib seperti tabiat jin atau setan yang selalu ingin mengganggu manusia, maupun kekuatan-kekuatan sakti yang dimiliki oleh para wali atau tokoh pendiri desa, masih tetap bertahan juga. Hal ini menggambarkan bahwa sebetulnya kekuatan sakti merupakan konsep umum yang berlaku dalam kognisi orang Jawa.
Pada cerita Desa Jlegong, perseteruan antara jin dan manusia sangat ditonjolkan. Dan dalam cerita itu, manusia memenangkan perseteruan itu. Kemenangan di sini dipilih oleh penutur cerita tersebut, sebagai pendidikan tidak langsung kepada generasi berikutnya, yaitu setiap orang yang kuat imannya (dicontohkan oleh Ratu Kalinyamata dan Nyai Singalelo) akan memenangkan atau terlepas dari godaan makhluk halus (setan). Pesan yang hendak disampaikan oleh cerita ini, ialah hati-hatilah terhadap godaan setan, dan perkuatlah iman jika ingin memenangkan diri dari godaan setan itu.
Kekuatan iman, kesalehan hidup, dan kebiasaan berlaku lurus, bukan saja akan menunjukkan kehormatan bagi yang bersangkutan, tetapi juga akan memberikan berkah bagi pihak lainnya. Syeh Maulana Maghribi (tokoh utama) pada cerita Desa Klelet, maupun tokoh Sunan Muria dan Amir Hasan pada cerita Karimun Jawa, adalah contoh yang dapat digunakan sebagai bukti historiknya.
Di luar tema-tema kesaktian itu, juga menarik diungkapkan yaitu asal-usul terbentuknya (nama) desa bisa jadi karena kebutuhan folk untuk melestarikan tokoh-tokoh tertentu yang pernah mengalami kesulitan hidupnya seperti cerita asal-usul terbentuknya nama Desa Ngasem, desa Ketileng, desa Tegal Sambi dan desa Teluk Awur. Motif yang ingin disampaikan oleh penutur cerita-cerita seperti ini adalah menyadarkan kepada folknya yaitu bahwa pada setiap kesulitan – sepanjang yang bersangkutan tidak berputus asa – selalu ada jalan keluarnya. Maka pesan dari cerita-cerita tersebut adalah teguh iman, dan tidak berputus asa adalah kewajiban bagi setiap orang yang ingin berhasil dalam hidupnya. Kek Soguna ketika babat-alas untuk mendirikan desa Sukodono adalah contoh konkritnya. Maka, cerita demikian ini memberi pesan kepada folknya terutama warga desa Sukodono, agar tabah menghadapi cobaan sebagaimana ketabahan Kek Soguna, tokoh pemula desa tersebut.

b. Motif dan Pesan pada cerita Pepunden atau Makam
Dalam kesadaran orang Jawa tentang “ruang”, makam atau punden adalah ruang sakral (lawannya: profan) dan keramat. Konsep “keramat” di sini berarti tempat yang dimuliakan dan oleh karena itu di seputar tempat makam itu, orang tidak bisa bertindak seenaknya kalau tidak ingin dirinya terkena afadz (celaka, apes, nasib buruk).
Makam atau punden sebagaimana yang dideskripsikan pada Bab III, halaman 82 di atas (terkumpul 10 cerita) semuanya adalah makam-makam yang sangat dikeramatkan oleh folknya. Ini menjelaskan bahwa makam yang dijadikan pepunden adalah makam dalam pengertian yang sangat khusus yaitu tempat para tokoh yang memiliki kesaktian-kesaktian dalam hidupnya, dan juga memberi nilai kemanfaatan terutama bagi masyarakat yang hidup sejamannya. Pangeran Senopati (dalam cerita Punden Senopati) adalah pahlawan perang melawan penjajah yang sangat pemberani sehingga dirinya bahkan kudanya (kuda sembrani) dianggap memiliki kesaktian-kesaktian tertentu. Punden Gundil adalah makamnya seorang waliyullah. Dan setiap waliyullah dalam pandangan masyarakat adalah memiliki atau diberi karamah (Jawa: keramat) oleh Allah berupa kelebihan-kelebihan.
Raden Mursal dan Raden Nurani (dalam cerita Makan RA. Nurani) dikenal oleh folknya sebagai orang yang memperhatikan orang-orang yang sengsara dalam hidupnya. Mereka sangat membantu orang-orang miskin, meskipun barang yang diberikan “terpaksa” harus mereka peroleh dengan cara mencuri milik orang-orang kaya yang tidak adil dan orang-orang kaya yang tidak memikirkan masyarakatnya.
Karena pengorbanannya selama masa hidupnya itulah maka generasi berikutnya melakukan penghormatan-penghormatan. Pada masyarakat-masyarakat tertentu, penghormatan itu diwujudkan dengan cara melakukan tradisi manganan di seputar makam/punden. Demikian juga bagi seseorang yang memiliki hajat atau nazar (disebut juga: kaul) misalnya ketika yang bersangkutan berhasil dalam usahanya, mereka melakukannya di seputar makam tokoh yang dikagumi.
Tindakan mengkeramatkan, mengunjungi, dan melakukan tradisi manganan di atas makam seperti ini – kalau tidak hati-hati, akan menimbulkan kesalahan ketauhidan dalam hal keagamaan, tetapi bagi yang sudah paham tata-caranya, maka mereka akan tahun bahwa sumber segala permohonan itu hanya Allah subhanahu wa Ta’ala. Tetapi bagi yang tidak memahaminya, dikhawatirkan akan mendekati bahkan masuk ke musyrikan. Sikap hati-hati itulah yang mendorong para tokoh agama yang ada di desa Kedung Leper, Kecamatan Bangsri, melakukan perubahan seperlunya terhadap “tradisi” sedekah bumi dan “manganan” yang semula dilakukan di seputar makam Mbah Suromoyo, “pepunden” desa itu, diubah tempat dan waktunya serta isinya. Sejak tahun 1990-an, upacara tradisional yang semula dilakukan pada bulan Apit (perhitungan bulan Jawa) diganti dengan bulan Agustus, tanggal malam 17, dan dilakukan di seputar kantor (kepala) desa. Begitu pula bentuk acaranya, kalau dahulu menekankan pada acara manganan di seputar makam, dewasa ini diubah dengan membaca kitab suci Alqur’an (30 juz), diikuti dengan mau’idhoh hasanah (semacam ceramah) dari seorang kyai, lalu diakhiri dengan doa. Sehabis do’a, masyarakat yang bersangkutan membagi-bagi makanan yang dibawa bersama untuk dimakan bersama di antara mereka yang hadir.
Pola demikian ini mencirikhasi kepada sistem berfikir keagamaan menurut pola berfikir warga masyarakat nahdliyyah (NU) yaitu tidak menghilangkan sama sekali tradisi ke-adat-an yang sudah ada, tetapi mengubah isi dan motivasi yang mendasarinya. Kalangan tokoh-tokoh masyarakat yang kebetulan adalah tokoh/ pengurus NU di tingkat desa (Kedungleper) menjelaskan sikap perubahan tradisi sedekah bumi dan acara manganan bersama itu dengan ungkapan: al mahafadzu alal qodish sholih wal akdu bil jadidil ashlah (tetap memelihara tradisi masa lalu yang dianggap sudah baik dan menyempurnakan kemudian dengan cara-cara yang lebih baik).
Pensikapan yang berbeda terjadi di kalangan warga Muhammadiyah yang tinggal di desa Bucu dan desa Cepogo, kecamatan Bangsri. Di kalangan tokoh-tokoh Muhammadiyah itu, segala tradisi ke-adat-an harus dihilangkan karena menurut mereka tradisi seperti itu tidak didapat keterangannya baik dalam alqur’an maupun sunnah rasul. Karena tuntutan warga Muhammadiyah seperti itu, maka sejak tahun 1990-an (tepatnya pada tahun 1993) tradisi makanan dan sedekah bumi di desa ini dihilangkan, sedang di desa Cepogo upacara ini hanya dilakukan oleh sebagian warga secara tidak merata. Dengan kata lain, warga Muhammadiyah yang jumlahnya relatif besar, sama sekali tidak mau terlibat bahkan mengambil jarak terhadap berbagai kegiatan yang dikaitkan dengan upacara-upacara adar. Apapun bentuknya.
Di luar corak pensikapan yang berbeda mengenai tradisi sedekah bumi dan acara manganan sebagaimana yang ditunjukkan oleh warga desa (mayoritas NU) di desa Kedungleper, dan warga masyarakat Muhammadiyah sebagaimana yang ada di desa Bucu, untuk desa-desa lain dengan cara-cara yang tetap. Masyarakat desa Kancilan, desa Bondo, desa Jerukwangi, dll, masih tetap melakukan tradisi adat ‘sedekah bumi’ dengan syarat-syarat yang ‘harus’ menyertainya, seperti memotong ternak untuk kegiatan makan bersama dan pertunjukan hiburan tradisional yaitu kesenian tayuban atau wayangan. Tanpa melakukan cara-cara yang ‘tepat’ dikhawatirkan akan mendatangkan bahaya seperti sakit atau hasil pertanian menjadi berkurang dsb. Dengan kata lain, meninggalkan tradisi berarti akan mencelakakan diri sendiri. Dari pensikapan demikian itu, maja umumnya masyarakat desa memang tidak mudah untuk melakukan perubahan-perubahan.

c. Motif dan Pesan Cerita Betara Sungging
Di luar cerita rakyat yang bertema asal-usul desa dan makam atau punden, orang Jepara umumnya sangat mengenal cerita tentang Betara Sungging karena tokoh inilah yang mengukir kemashuran orang Jepara dalam dunia kerajinan ukir.
Latar cerita rakyat yang berjudul Betara Sungging ini terjadi di dalam kerajaan Jepara. Tokoh tokohnya yaitu Joko Sungging (tokoh utama), raja (bupati) Jepara, lalu permaisuri raja dan patih (sebagai tokoh pemban¬tu).
Alur yang digunakan adalah alur lurus (sebagaimana umumnya cerita cerita lisan) dan konflik ber¬awal dari kecuri¬gaan raja terhadap kejujuran (moral) Joko Sungging. Kecuri¬gaan itu muncul setelah Joko Sungging dengan tidak sengaja memberi tanda pada bagian alat vital lukisan (patung) permai¬suri raja yang dibuatnya.
Penyelesaiannya, Joko Sungging dihukum dengan cara di¬naikkan di atas layang layang. Namun karena dia adalah pahla¬wan, hukuman itu menjadi awal dari kejayaannya. Cerita rakyat Ki Joko Sungging atau Betara Sungging dengan gaya tuturan se¬perti itu, memberi dua kepuasan sekaligus kepada kolektifnya. Pertama sebagai pengingat, dan kedua sebagai hiburan. Sebagai pengingat, karena legenda dapat memeliha¬ra perasaan soli¬dari¬tas suatu kolektiva; memberi jalan yang dibe¬narkan oleh suatu masyarakat agar seorang dapat bersikap lebih superior daripada orang lain. Superioritas itu dilegetimasi lewat sejumlah kelu¬arbiasaan tokohnya. Sang tokoh digambarkan sebagai manusia di atas manusia biasa, basyarun la kal basyari. Ini nampak sekali dari cara penonjolan sang tokoh secara berlebihan. Dalam hal ini. Ki Joko Sungging dilukiskan sbb: (1) memiliki keahlian membuat patung manusia; (2) bisa terbang di atas layang layang; dan (3) apa yang diucapkan atau diramalkan menjadi kenyataan.
Penonjolan seperti itu, ber¬fungsi untuk (1) meneguhkan kepercayaan bahwa kolektifnya berada di atas kolektif yang lain; (2) memberikan pengesahan terhadap aktivitas yang dila¬kukan bersama, seperti kerajinan ukir; dan (3) menyadarkan pada sikap kebersamaan.
Pada sisi lain, penonjolan demikian nampak bersikap berat sebelah. Sikap berat sebelah seperti itu merupakan soal nilai menilai ketika warga yang bersang¬kutan menanggapi aktiv¬itas kehidupan mereka sendiri, yaitu aktivitas dalam bidang kerajinan ukir. Untuk membenarkan penilaiannya, mereka mencari pengesah¬an lewat cerita rakyat Ki Joko Sungging. Legenda sema¬cam ini, sebagai mana Bascom dan Dundes (lihat Danandjaja, 1984: 4 dan 1980: 151), katakan, juga men¬cermin¬kan angan angan, atau ide kelompok; di samping sebagai sarana pe¬ngesahan pranata pranata dan sistem kebuda¬yaan; sebagai alat pendidi¬kan; dan sebagai alat pe¬maksa serta pengawas.
Pesan pesan Ki Joko Sungging seperti (1) “Tak wariske anak putuku supoyo bisa digawe nyam¬but gawe ing dina mburine” [Ku¬wariskan peralatan yang jatuh itu kepada semua anak cucuku agar pada hari hari depannya dapat dipakai sebagai pera¬latan kerja]; (2) “Sopo wae, ono ing mbesuke, gelem uri uri ukir, bakal iso urip, cukup sandang pangane” [Siapa saja nanti, berkemau¬an melestarikan ukir mengukir, akan bisa hidup, cukup sandang pangan], meneguhkan semangat kerja kolektif yang ber-sangkutan. Dengan mengenal cerita Ki Joko Sungging ini, orang Jepara mengidentifikasi diri sebagai “pewaris keahlian mengukir”. Jika tidak mewarisinya, maka muncul ungkapan sinis: “Anda orang Jepara, mengapa tidak bisa mengukir?”.
Pada sisi lain, legenda Ki Joko Sungging juga menghadir¬kan hiburan bagi kolektifnya. Memberi hiburan karena legenda ini merekam kelu¬cuan dan memuat kelakuan orang dewasa. Dengan demikian ia memberikan suatu cara pelarian yang menye¬nangkan dari dunia nyata yang penuh kesukaran, se¬hingga dapat mengubah pekerjaan yang membo¬sankan menjadi permainan yang menyenang¬kan.
Ungkapan seperti: (1) Ketika mengencingi, kemaluan Joko Sungging tegak berdiri. Yang lebih aneh, kayu yang dikencingi itu justru mengeluarkan bau yang amat harum, sehingga oleh Joko Sungging, kayu itu dinamakan kayu cendana. Dari kayu ini pula patung permaisuri raja dibuat; (2) tunggal rasa [hu¬bungan kelamin] dengan Joko Sungging; (3) “Apabila diberi “makan” dua tiga kali sehari, masih tetap merasa kurang…”, jawabnya; dan (4) Dalam pertemuan kembali antara sang per¬mai¬suri dengan Joko Sungging inilah mereka berdua “mema¬du rasa”.
Sisipan kata kata “porno” yang dipadu dengan kisah perjalanan dan kemampuan mengkisahkan oleh para pembawa cerita, akan mengundang gelak tawa, menyenangkan dan mempermudah mengingat ingatnya.
Pada akhirnya, kedua fungsi tadi (pendidikan dan hiburan) menjadi unsur penting dalam membentuk identitas dan solidari¬tas kolektifnya.

Leave a Reply