SURA

Orang Jawa, mempunyai pengetahuan bersama (dalam istilah ilmu sosial disebut pengetahuan budaya; cultural knowledge) yang diperoleh dari orangtua dan lingkungan sosialnya, secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Pengetahuan bersama tersebut, berupa penjelasan-penjelasan, ungkapan-ungkapan, teka-teki dalam bentuk perlambang-perlambang. Semacam teori, metode dan teknik-teknik. Gunanya untuk memahami dan menjelaskan gejala-gejala atau fakta-fakta yang ditemuinya.
Kalau ada warga masyarakat yang kondisi badannya menunjukkan gejala kurang enak badan (lungrah, nggreges, atau mriyang) misalnya, maka gejala itu dianggap sebagai penyakit ringan. Timbul sebagai akibat bekerja terlalu keras dan mengabaikan kemampuan fisiknya. Misalnya, kurang beristirahat, dan kurang minum dan kurang makan dengan gizi yang cukup. Untuk dapat sembuh kembali, mungkin cukup dipijat atau istirahat.

Tetapi ketika ada orang yang tiba-tiba sakit padahal dirinya tidak kerja keras. Atau tiba-tiba ada orang terpeleset, jatuh dan sakit, padahal tidak berjalan di tempat yang licin. Atau ada anak yang bermain petak umpet di sekitar makam atau di pojok kampung, pada saat sore hari menjelang maghrib lantas pulang ke rumah tiba-tiba tubuhnya menjadi tegang, panas dan sulit berbicara. Penyakit-penyakit seperti itu dianggap sebagai penyakit aneh atau tidak lumrah.
Berdasarkan pengetahuan budaya orang Jawa, penyakit itu bersifat personalistik, yaitu suatu penyakit yang datang karena kiriman-orang yang tidak senang seperti penyakit terkena teluh, atau digawe wong. Jika tidak karena kiriman orang, penyakit itu datang karena gangguan atau kemasukan makhluk halus seperti setan atau jin seperti penyakit sebab kesambet, dan semisalnya. Oleh karena dipersepsi demikian maka cara penyembuhannya, tidak akan dibawa kepada mantri kesehatan atau dokter, melainkan dibawa kepada dukun, wong pinter, atau tabib.
Kepercayaan terhadap hal-hal seperti itu, didasari oleh pengetahuan budaya mengenai ruang dan waktu. Kepercayaan terhadap ruang penjelasannya adalah bahwa yang menempati alam (ruang) ini bukan hanya manusia tetapi juga makhluk-makhluk halus bahkan roh-roh halus. Masing-masing memiliki teritorialnya sendiri. Kalau orang memasuki ruang teritorial lain, ia harus meminta ijin dahulu. Kalau masuk tanpa ijin apalagi sampai mengganggu ruang-gerak mereka, hasilnya adalah kemarahan. Kalau marah, maka makhluk halus itu akan menuntut balasan seperti mengganggu atau menyengsarakan. Oleh karena nalar itu, maka orang-orang tua dahulu mengajarkan, kalau masuk ke tempat asing, seperti hutan, makam, atau laut, supaya uluk-salam kepada penguasa (gaib) atau sing mbau-reksa.
Pengetahuan mengenai waktu, dijelaskan berdasarkan kategori hari, bulan, atau tahun. Siang hari misalnya adalah waktu untuk aktivitas manusia. Sedang malam hari adalah waktu untuk aktivitas makhluk-makhluk halus. Masa antara, seperti sore hari (wanci surup; menjelang maghrib) dipahami sebagai saat-saat di mana anak-anak setan, atau anak jin, mulai keluar untuk bermain-main atau semisalnya. Karena itu, orang-orang tua di kampung menasehati anak-anaknya untuk berhenti bermain ketika waktu surup akan tiba. Biar tidak bertabrakan dengan anak-anak setan. Biar tidak sakit kesambet, dan semisalnya.
Dalam hal bulan pun ada pembagiannya. Ada bulan baik untuk melangsungkan perkawinan, atau mendirikan rumah, seperti bulan Besar (Dzulhijjah) seperti sekarang. Makanya banyak orang Jawa yang memanfaatkan bulan Besar untuk mengawinkan anaknya. Tiap hari kita mendapat undangan untuk menghadiri pesta perkawinan. Untuk itu, kita mesti pandai-pandai mengatur keuangan rumahtangga.
Sebaliknya untuk bulan Sura. Dalam pengetahuan budaya orang Jawa, bulan Sura dianggap bulan yang tidak baik untuk melakukan pesta perkawinan, mendirikan rumah dan semisalnya. Mengapa? Karena di dalam bulan Sura, dianggap banyak malapetaka. Dalam tradisi petangan Jawa, tanggal dan hari-hari di dalam bulan itu banyak hari na’as, sangar dsb. Banyak na’as itu terkadang juga dikaitkan dengan berbagai peristiwa yng dianggapnya sebagai ujian atau cobaan Tuhan. Misalnya, peristiwa banjir badang Nabi Nuh, Nabi Ibrahim dibakar oleh kaum kafir, dan peristiwa terbunuhnya Hasan-Husin, cucu Rasulullah.
Pandangan itu menjelaskan bahwa umumnya orang Jawa, mensikapi bulan Sura dari segi cobaan dan ujian yang dikategorikan malapetaka. Karena sudut pandangnya begitu maka bulan Sura dikategorikan sebagai bulan yang tidak baik untuk bersenang-senang, melainkan bulan untuk melakukan perenungan-perenungan, dan keprihatinan-keprihatinan, agar selamat tidak kena na’as atau kesialan-kesialan. Karena itu menjadi bisa dimengerti kalau kemudian banyak di antara orang Jawa yang melakukan tirakatan, berpuasa, dan banyak melakukan kegiatan selametan.
Suatu pandangan yang justru berbeda dengan masyarakat Sunda. Orang Sunda, berfikir sebaliknya. Yakni, pada bulan Sura, Nabi Ibrahim bisa selamat dari kobaran api yang membakar tubuhnya. Nabi Nuh selamat dari banjir badang. Oleh karena itu, bulan Sura justru dianggap bulan yang sangat baik untuk melakukan kegiatan penting seperti melangsungkan perkawinan atau membangun rumah.
Hal itu menandakan bahwa persepsi terhadap suatu peristiwa akan mempengaruhi terhadap sistem tindakan dan keputusan. Kalau bulan Sura dipersepsi negatif untuk melakukan kegiatan penting, maka akan muncul kecenderungan untuk menghindarinya. Sebaliknya kalau dipersepsi positif, bulan Sura justru dimanfaatkan sebaik-baiknya.
Jadi bagaimana? Ya terserah bagaimana kita memaknainya. Tetapi yang jelas, selama bulan Sura nanti, sebaiknya jangan memancing kekeruhan. Apalagi mengobok-ngoboknya. Jika tidak hati-hati, bisa terpeleset sendiri***.

Leave a Reply