MIRAS DAN FREE SEX REMAJA

MIRAS DAN FREE SEX REMAJA
Dalam Perspektif Sosial Budaya
Oleh Mudjahirin Thohir

Muqodimah
Secara langsung, pecandu narkoba (khususnya mereka yang mempergunakan jarum suntik) dapat menjadi saran penularan HIV/AIDS. Secara tidak langsung narkoba dan miras biasanya terkait erat dengan pergaulan seks bebas. Di samping itu kecanduan obat terlarang pada orang tua akan mengakibatkan bayi lahir dengan ketergantungan obat sehingga harus mengalami perawatan intensif yang mahal. Kebiasaan menggunakan narkoba/miras dapat menurun pada sifat-sifat anak yang dilahirkan, yaitu menjadi peminum dan pecandu, atau mengalami gangguan mental/cacat. Perempuan “pemakai” mempunyai sikap hidup malas dan kekurangan gizi sehingga mengakibatkan bayi dalam kandungan gugur, berat lahir rendah atau cacat.
Ingin mencoba? Jangan pernah berpikir untuk mencoba dan jangan mau kalau dijadikan ”kelinci” percobaan. Tindakan mencoba merupakan langkah awal untuk terjerumus. Mencoba karena ditawari meski tanpa membeli, apalagi kalau harus membeli. Keduanya sama jeleknya. Yang pertama, bisa jadi karena Anda akan dijadikan ”sasaran pengedar”. Yang kedua, Anda akan terkuras ”kantongnya”. Mengapa? Karena kedua-keduanya, yakni ditawari atau membeli dan mengkonsumsi minum-minuman keras, akan melahirkan ”ketergantungan”.
Tetapi mengapa, dewasa ini banyak remaja masuk dalam jeratan miras, dan ”berlatih” menjadi ”dokter-dokteran”? Tulisan ini akan mencoba menganalisis kecenderungan seperti itu dalam perspektif sosial-budaya.

2. Fakta Pengguna sebagai Fenomena Gunung Es

Beberapa kasus
Meningkatnya masalah-masalah sosial di masyarakat sudah terjadi di berbagai kota besar maupun kota kecil. Di Jawa, maupun di luar Jawa. Pendeknya, berbagai tindakan negatif sudah terjadi di hampir semua kawasan di Indonesia.
Belakangan ini, terjadi, seperti kekerasan dalam rumah tangga, pemerkosaan, kecelakaan lalulintas dan kasus kriminal lainnya. Belum termasuk yang jadi cacat. Pemerkosaan terjadi dimana-mana, pemalakan dan pemaksaan di jalan serta perampasan. Kasus-kasus itu terjadi, umumnya disebabkan oleh akibat minuman keras (Miras).

Di Jayapura, baru-baru ini, terdapat delapan siswa yang masih mengenakan
pakaian seragam SMA ditemukan pesta minuman keras (Mabuk Bersama). Mereka melakukan pesta miras itu, di belakang gereja dekat Jembatan Overtoom Kota Jayapura.

Di Balikpapan, kedapatan empat pemuda (26/5/2007) menggelar pesta miras
berkadar alkohol di atas 40 % di kawasan Jl Mulawarman Sepinggan Balikpapan Selatan, tengah malam lalu, sekitar pukul 22.00 Wita.

Di Pasuruan, Satnarkoba menyita sedikitnya 1.340 botol miras berbagai merk.
Kini seluruh miras tersebut diamankan di mapolres. Petugas sempat kerepotan saat merazia sejumlah toko yang menjual miras. Pasalnya, oleh pemilik, minuman haram tersebut disembunyikan.

Di Cianjur, ada siswa dan siswi sekolah menengah umum negeri di Cianjur
terlibat seks bebas. Melakukan seks oral di kelas. Adegan itu direkam seorang pelajar lain, dengan telepon selulernya. Tidak lama kemudian, gambar ”dokter-dokteran” itu, beredar di antara para pelajar pemilik seluler di Cianjur. Lebih memalukan lagi, seorang guru terlibat kegiatan seks bebas bersama mereka. Guru pengajar biologi, ayah tiga anak. Tapi, pergaulan bebas itu sama sekali bukan monopoli pelajar Cianjur.
Para remaja di kota-kota lain pun, terutama kota besar, kini dinilai cenderung lebih permisif dalam urusan seks. Ini gejala apa?

3. Analisa
Remaja adalah kategori usia transisional. Masa ambang status perpindahan dari anak-anak ke dewasa. Di bilang anak-anak sudah tidak. Tetapi dibilang dewasa, juga belum. Jadi apa? Ya ”Anak Baru Gede” alias ABG.
Di Purwodadi, beberapa pemilik toko sempat mengelak dikatakan menjual miras.
Namun, petugas tetap melakukan penggeledahan. Akhirnya, di toko milik Roni, tersebut petugas
menemukan sejumlah miras berbagai merk. Selain di toko-toko yang biasa
menjual miras, petugas juga merazia warung remang-remang di kawasan
Pandaan dan Gempol. Hasilnya ribuan miras berbagai merk berhasil
diamankan dari tempat itu. Selain mengamankan ribuan miras, petugas
juga sempat mengamankan sembilan pemilik minuman haram tersebut.
Yang kemudian, pemilik miras tersebut di serahkan ke PN untuk dijatuhi sanksi tindak pidana ringan.
Dekatkan diri dengan tuhan. Jadikan keluarga sebagai tempat perlindungan jika menghadapi suatu masalah. Carilah sahabat yang baik. Bergabunglah dengan kelompok yang memiliki tujuan yang positif. Jauhi kelompok yang tidak memiliki tujuan yang jelas.
Ingatlah bahwa masalah narkoba dan miras adalah masalah kita bersama.Karena itu janganlah mengucilkan atau menjauhi mereka yang terkena nakoba dan miras.
Sebaliknya rangkulah mereka dan bantulah mereka keluar dari permasalahan
tersebut. Dukunglah dan bantulah keluarga korban untuk bersama-sama
menolong korban. Jika mengalami banyak hambatan dalam membantu
keluarga korban, rujuklah penanganan korban melalui keluarganya kepada pihak yang memiliki kemampuan untuk itu.
Untuk itu, jika mau menyelamatkan generasi saat ini, maka saatnya perlu ada aturan atau Perda pelarangan penjualan miras.
Mengapa? Karena miras sama sekali tidak menguntungkan, kecuali hanya mendatangkan kerugian bagi yang mengkonsumsinya. Dari sisi kesehatan tidak baik, seperti halnya pecandu narkoba dan obat-obatan terlarang lainnya. Miras bisa membuat yang menkonsumsinya selalu ketergantungan miras, jadi generasi yang loyo dan malas bekerja, termasuk belajar. Begitu juga dari segi ekonomi sangat merugikan (pengeluaran yang tidak wajar), terlebih merusak moral anak bangsa. Selain itu, miras membuat yang menkonsumsinya kehilangan kontrol, jadi loyo kerja tidak produktif. Tak hanya itu, Miras juga menimbulkan berbagai macam penyakit bagi penggemarnya. Merusak mental dan perilaku generasi muda yang merupakan
generasi masa depan keluarga, generasi masa depan daerah dan bangsa Indonesia.
“Lalu generasi macam apa yang kita akan hasilkan kedepan?

Revolusi Seks Bangku Sekolah

Bagaimana mereka bisa begitu bebas dalam urusan seks? “Awalnya dikerjain pacar,” lalu mereka putus, lalu mencari gebetan baru dengan status anyar: Di antara dengan melayani pria hidung belang. Sebab, ia butuh duit untuk membeli handphone –nama beken telepon seluler. Dan “tuntutan pergaulan” itu terus berlanjut karena tiap bulan pulsa teleponnya habis. Sedangkan orangtuanya yang pas-pasan tak memberinya jatah duit.

Para remaja kini betul-betul tersesat ke zaman baru. Menurut seksolog Profesor Wimpie Pangkahila, pandangan masyarakat tentang seks memang telah berubah jauh.
Seks tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang sakral untuk dibicarakan,
bahkan mulai dianggap sah-sah saja dilakukan meski tanpa ikatan.

“Akibatnya, perilaku seksual masyarakat makin bebas, tidak lagi terikat oleh norma-norma. Dulu hamil sebelum menikah dianggap kecelakaan. Sekarang orang menikah dengan perut buncit. Mulai hal biasa.

Ada apa di balik kasus-kasus diatas?
Gelombang kebebasan seks terasa kian menggelora setelah internet membumi pertengahan 1990-an, diikuti teknologi telepon seluler yang kian canggih. Keduanya memberikan fasilitas baru bagi pergaulan yang nyaris tanpa sekat. Internet bukan cuma menyuguhkan gambar-gambar seronok lewat situs-situs pornonya, juga menjadi media untuk mencari kawan baru dengan semangat mesum. Telepon seluler yang dilengkapi kamera kini cenderung dianggap peranti dokumentasi baru untuk hal-hal yang paling pribadi.
Semuanya telah menjadi alat gaul baru yang memicu perilaku aneh.

Lihat saja, banyak foto jorok para remaja tersebar dari layar seluler, bahkan masuk jaringan internet. Yang paling heboh adalah kasus foto telanjang siswa kelas III sebuah SMU Negeri, di Mojokerto, Jawa Timur, yang juga menjadi Yuk (Gadis) Mojokerto 2005. Foto-foto bugilnya terpajang di situs smu1puri.cjb.net, sejak Oktober lalu.
Pose-pose telanjang itu, seperti dilaporkan wartawan Gatra di Surabaya,
Rach Alida Bahaweres, diduga dibuat oleh pacar sang gadis di sebuah penginapan di Lawang, Malang, pada September lalu. Entah siapa yang kemudian mentransfernya ke internet dan apa motifnya. Yang jelas, gadis Mojokerto itu, Endang Christy Handayani, 18 tahun, tetap menolak mengakui gambar-gambar itu sebagai foto dirinya. Kini, Endang yang cukup berpretasi di sekolahnya itu menghilang setelah gelar Yuk Mojokertonya dicabut. Gambar-gambar mesum para gadis lokal lainnya di internet –kadang dalam adegan panas dengan pasangannya– tak terjelaskan asal-usulnya. Namun, semuanya menunjukkan bahwa kebebasan baru sudah lahir: seks terang-terangan.

Revolusi seks yang mencuat di Amerika Serikat dan Eropa pada akhir 1960-an seolah sudah merambah ke sini, melalui peranti teknologi informasi, dan sarana hiburan yang makin canggih. Bintang-bintang porno film biru Amerika kini dengan gampang bisa dinikmati melalui alat pemutar VCD dan DVD.
Hasil riset Synote tahun 2004 juga membuktikannya. Riset dilakukan di empat kota yakni Jakarta, Surabaya, Bandung dan Medan. Dari 450 responden, 44% mengaku berhubungan seks pertama kali pada usia 16-18 tahun. Bahkan ada 16 responden yang mengenal seks sejak usia 13-15 tahun. Sebanyak 40% responden melakukan hubungan seks di rumah. Sedangkan 26% melakukannya di tempat kos, dan 20 % lainnya di hotel.

Survei Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) terhadap 2.880 remaja usia 15-24 tahun di enam kota di Jawa Barat pada 2002, juga menunjukkan angka menyedihkan. Sebanyak 39,65% dari mereka pernah berhubungan seks sebelum nikah.

Sungguh celaka: para remaja mungkin mengidentikkan kebebasan seks dengan pergaulan modern. Padahal, menurut seksolog dokter Naek L. Tobing, seks bebas adalah kehidupan primitif. “Seks bebas terjadi sebelum agama-agama lahir,” katanya.
Ketika peradaban semakin maju, dan ilmu pengetahuan berkembang, seks bebas ternyata terbukti membawa banyak persoalan. Selain merusak tatanan sosial juga menyebarkan berbagai penyakit gawat.

Tanpa peran agama, pendidikan dan kontrol keluarga, kebebasan seks bisa jadi bakal makin menyesatkan. Sekuat-kuatnya mental seorang remaja untuk tak tergoda pola hidup seks bebas kalau terus menerus mengalami godaan dan dalam kondisi sangat bebas dari kontrol tentu satu saat akan tergoda pula untuk melakukannya.
Godaan semacam itu terasa lebih berat lagi bagi remaja yang memang benteng mental dan keagamaannya tak begitu kuat.***

Leave a Reply