PENELITIAN: ILMIAH DAN NONILMIAH

Oleh Mudjahirin Thohir

Imam Buchori, suatu hari menemui seorang informan yang tengah memberi makan kudanya. Ditanyailah informan itu perihal hadits Rasul. Barangkali dia tahu barang satu dua. Informan itupun lantas berkisah tentang apa yang pernah dia dengar dan dia saksikan tentang laku Sang Rasul. Sambil menceriterakan pengalamannya, informan tadi, menarik kembali makanan yang akan diberikan kepada kudanya pada saat mulut kuda itu dimoncongkan ke arah makanan. Melihat perilaku informan tersebut, Sang Imam Bukhari permisi dan menganggap apa yang disampaikannya itu palsu belaka.

3.1. Hakekat Meneliti

Orang yang ingin bisa mengendarai mobil, apalagi bercita-cita menjadi tukang bengkel mobil yang baik, dia harus tahu komponen-komponen penting mobil dan mengetahui fungsi-fungsinya, termasuk mengetahui keterkaitan antara satu komponen dengan komponen lainnya. Tahu tentang pedal gas, rem, kopling, dsb. Setelah itu, diapun dipersyaratkan untuk tahu mengoperasionalkan secara baik. Akan lebih baik lagi kalau tahu bagaimana mengatur dan memperlakukan komponen-komponen itu sehingga menghasilkan laju mobil tadi sesuai dengan yang diinginkan. Selebihnya dari itu ialah merawat dan memperbaiki ketika mobil mogok atau tidak mau hidup mesinnya. Demikian halnya bagi seorang peneliti. Sebelum masuk ke dalam dunia penelitian, berbagai istilah-istilah kunci dan bagaimana keterkaitan antar istilah-istilah kunci itu perlu dipahami supaya tidak mengalami salah alamat terhadap pekerjaannya itu. Supaya tahu arah pada saat melakukan penelitian.
Meneliti pada dasarnya adalah seni memanfaatkan anugrah Tuhan berupa pikiran, perasaan, kemauan serta kesanggupan untuk berfikir sistematis mengenai apa yang sesungguhnya terjadi, di mana dan kapan kejadian-kejadian itu berlangsung, dengan cara bagaimana kelangsungan kejadiannya itu dan atas alasan apa saja menjadikan semuanya terjadi guna memperoleh pengertian yang komprehensif atas apa yang diamati. Ini artinya, ketika dan selama kita melakukan penelitian, terdapat sejumlah aktivitas otak, hati, dan indrawi yang berjalan dan dijalankan secara bertahap atau secara bersama-sama untuk alasan menemukan jawaban terhadap fenomena alam atau fenomena sosial-budaya yang hendak kita pelajari.

Otak kita bekerja yaitu mensortir (memilah dan memilih) masalah-masalah untuk kemudian mencari solusi dengan cara mengumpulkan data atau informasi yang representatif, lalu menganalisis dan menafsirkannya. Mencari data artinya melihat, mengamati, dan menanyakan sejumlah hal kepada orang-orang yang memiliki pengetahuan tentang hal-hal itu. Dalam bahasa Neuman (1994:2), research is a way of going about finding answers to questions. Meneliti sama artinya dengan mencari temuan jawaban-jawaban terhadap masalah yang diajukan.

3.2. Kategori Penelitian

Peneliti atau mengadakan riset (research), kendatipun secara umum berada dalam wacana keilmuan, tetapi tidak berarti hanya kaum akademisi saja yang mempraktikkan kegiatan tersebut. Ada kalanya di kalangan awam terlibat kepada kegiatan penelitian, meskipun prosedur yang dilakukan seringkali belum tentu taat azas. Hal ini tidak lalu berarti bahwa kegiatan penelitian di kalangan ilmuwan selalu berada dalam taat azas. Oleh karena itu, tidak setiap penelitian dapat dikategorikan sebagai penelitian ilmiah. Begitu pula, tidak setiap kegiatan penelitian ilmiah, dapat dikategorikan sahih.
Kegiatan penelitian pada dasarnya bisa dilakukan oleh tidak saja para ahli, dalam arti para akademisi, para peneliti profesional, tetapi juga bisa dilakukan oleh orang awam. Hanya saja, dari ketiga golongan itu, diasumsi akan memberi bobot keilmiahan yang berbeda. Itulah sebabnya, suatu penelitian dapat dikategorikan sebagai tidak ilmiah, atau sudah bisa dikategorikan sebagai penelitian ilmiah tetapi tidak sahih, atau memang berkategori ilmiah yang sahih. Jadi, dalam bobot penelitian sebetulnya dapat dibuat kategorisasi sbb:

Penelitian

Penelitian nonilmiah Penelitian Ilmiah
Sahih Tidak sahih

3.2.a. Penelitian nonilmiah

Suatu kegiatan penelitian ada kalanya menjadi bersifat tidak ilmiah ketika syarat-syarat dasar keilmiahan itu tidak tercapai atau dihindari, baik karena alasan keawaman (ketidaktahuan) maupun karena penyalahgunaan. Hal ini, ada kaitannya dengan soal gairah meneliti.
Dalam gairah meneliti itu, arti rasa ingin tahu mengenai jawaban suatu masalah atau beberapa masalah yang dihadapi atau yang diramalkan bisa terjadi, juga tumbuh di kalangan masyarakat umum. Hanya saja, bagaimana cara memahami masalah yang diajukan bisa jadi tidak bersifat sistematis, tidak objektif, dan tidak menggunakan metode ilmiah. Kondisi itu bisa terjadi karena mereka mengandalkan kepada misalnya common sense, bersifat intuitif, atau bersifat pilih-pilih (subjektif) dalam kaitannya dengan data apa yang harus dikumpulkan dan bagaimana data itu dikumpulkan, serta dianalisis dan diinterpretasi. Tujuan dari kegiatan penelitian demikian ini biasanya bersifat praktis dan sepihak dalam arti sepanjang jawaban yang ingin ditemukan sudah tercapai — terlepas dari apakah jawabannya itu sahih atau tidak sahih — bukanlah masalah yang dipentingkan. Kalau kondisi itu terjadi di kalangan masyarakat awam, mungkin masih bisa dipahami. Tetapi kalau yang melakukan penelitian tersebut pada dasarnya sudah memahami prosedur penelitian berdasar metode ilmiah, menurut Knafl (1991: 360) sikap seperti itu dapat dikategorikan sebagai “perbuatan jahat di dalam ilmu pengetahuan” (misconduct in science). Perbuatan jahat itu bisa berupa: pemalsuan, penjiplakan, atau praktik-praktik lain yang menyimpang dari “norma” yang telah disepakati dalam komuniti ilmiah..
Perbuatan jahat di dalam dunia ilmu pengetahuan (kegiatan penelitian), bisa terjadi karena paling tidak dua alasan yang saling mempengaruhi. Pertama, adanya kekuatan luar yang memaksakan agar hasil penelitian nantinya bisa menyimpulkan sesuai dengan yang diharapkan oleh pihak luar seperti misalnya penguasa atau penyandang dana, sementara penelitinya sendiri merasa takut terhadap “ancaman” itu. Kedua, karena moralitas peneliti itu sendiri yang rendah, sehingga lebih mementingkan “penghasilan” daripada kebenaran. Kalau tidak hati-hati, penelitian pesanan atau penelitian sebagai pembelaan (research as advocacy) terkadang terjebak ke arah ini. (bandingkan pada Morfit, 1983: 68-9)

3.2.b. Penelitian Ilmiah yang tidak Sahih

Penelitian ilmiah adalah suatu kegiatan yang sistematis dan objektif untuk mengkaji suatu atau beberapa masalah dalam usaha mencapai pengertian mengenai prinsip-prinsip yang mendasar dan umum berkenaan dengan landasan atau inti perwujudan masalah tersebut (Suparlan, 1994: 14). Penelitin itu dilakukan dengan berpedoman pada berbagai informasi (yang terwujud sebagai teori-teori) yang telah dihasilkan dalam penelitian-penelitian yang terdahulu. Secara teoritis, suatu penelitian dalam kerangka mengkaji masalah untuk mencapai pengertian mengenai prinsip-prinsip yang mendasar dan umum, dapat dikategorikan ilmiah kalau penelitian itu dilakukan secara sistematis, objektif, dan menggunakan metode ilmiah,
Objektivitas antara lain bisa ditempuh kalau prosedur penelitiannya terbuka, dan definisi-definisi yang digunakan tepat dan berdasarkan atas konsep-konsep dan teori-teori yang sudah ada. Begitu pula data. Data dikumpulkan secara objektif sehingga temuan-temuannya bisa ditemukan ulang oleh peneliti lain yang meneliti dan menggunakan pendekatan serta prosedur yang sama (Suparlan, 1994: 14) Tetapi di dalam praktiknya, persyaratan keilmiahan seperti itu, belum tentu secara tepat dan cermat dijalankan. Kalau kita telusuri, hal itu bisa terjadi berakar atau bermula dari epistemologi, teori, dan metodologi, yang digunakan tidak dijalankan secara konsisten oleh peneliti yang bersangkutan.
Ketidak-konsistenan bisa terjadi karena berbagai alasan, seperti pengetahuan yang kurang memadai mengenai perspektif epistemologis dan paradigma teoritis, ketrampilan metodologis, serta penyebab lain yang berkaitan dengan mental.
Kekacauan dalam menseleksi acuan-kepustakaan, terutama ketika mengacu pemikiran teoritis dengan tanpa mempertimbangkan aliran berdasarkan tradisi-tradisi keilmuan yang dipakai oleh para ahli yang pikirannya dikutip, dalam praktiknya sering terjadi di kalangan peneliti kita. Ini sering kita lihat dari paradigma teoritis yang digunakan bersifat campuran atau gado-gado, padahal paradigma teoritis harus jelas dan tidak bisa dicampuradukkan. Suatu kelemahan dari segi berfikir logis dan sistematis.
Persoalan lain yang umum terjadi, menyangkut kebiasaan menyederhanakan persoalan baik dalam kaitannya dengan metodologi maupun praktik selama proses penelitian itu berlangsung. Penelitian yang sering dilakukan di luar kepentingan akademis (penyusunan tesis, atau disertasi) kadang-kadang dilakukan tidak secara ketat-ilmiah. Begitu pula dari segi management penelitian. Dari proses pemahaman mengenai data apa yang harus dikumpulkan, bagaimana data itu dikumpulkan, siapa yang mengolah data itu, termasuk yang menganalisis dan yang membuat interpretasi, serta penyusunan laporan, tidak terjadi kesinambungan.
Pengumpulan data yang hanya beberapa hari di lapangan, dengan tanpa mempertimbangkan terjadinya rapport antara peneliti dengan subjek yang diteliti misalnya, dapat diramalkan bahwa informasi atau data yang diperolehnya, baru informasi permukaan. Untuk memperoleh temuan yang valid, kita tidak cukup mengandalkan ukuran analisis data seperti rumus-rumus statistik semata, tetapi juga harus dipertanyakan bagaimana pula dengan cara memperoleh datanya. Ingat, garbage in, garbage out. Sampah yang masuk, sampah pula yang keluar.

3.2.c. Penelitian Ilmiah yang Sahih

Kesahihan suatu penelitian tidak dilihat dari persoalan pendekatan kuantitatif atau kualitatif, tetapi lebih dilihat dari seberapa jauh tingkat konsistensi di dalam menggunakan paradigma epistemologis, teoritis, dan metodologis, serta teknik-teknik yang digunakan dalam kerangka melakukan penelitian. Masalahnya — seperti yang dikatakan oleh Masinambow (1996) — pandangan hidup atau worldview (perspektif epistemologis) menentukan kepada teori yang digunakan. Dari teori yang digunakan, mempengaruhi kepada metode, teknik, sampai kepada pemahaman mengenai “gejala” itu sendiri. Pemahaman mengenai gejala atau realitas, apakah didasarkan kepada pengertian pandangan kaum behaviorisme (positivisme, materialisme) atau idealisme.
Begitu pula masalah perspektif ontologis dan epistemologis yaitu apa itu yang disebut “gejala atau realitas” dan bagaimana memahami realitas itu, baru memberikan kemungkinan kesahihan berfikir logis kalau paradigma teoritis yang digunakan juga bertolak dari perspektif tersebut.

Di luar hal-hal itu, persyaratan lain untuk mencapai kesahihan dalam penelitian, juga menyangkut kepada metodologi yang digunakan serta sikap taat azas para peneliti itu sendiri. Mulai dari proses persiapan penelitian sampai pada penyusunan pelaporan penelitian.
Unsur metodologis, menyangkut cara bagaimana memahami realitas atau gejala, bagaimana gejala-gejala itu dilihat, digali, dianalisis dan diinterpretasi, dan disimpulkan. Semuanya itu perlu dipertimbangkan dan dipertanyakan kembali dalam hubungannya dengan ukuran validitas penelitian sesuai dengan pendekatan penelitian yang digunakan, yaitu apakah penelitian kuantitatif atau kualitatif. Kedua jenis pendekatan itu memiliki ukurannya sendiri-sendiri. Pada penelitian kuantitatif misalnya, pengukuran validitas eksternal (menyangkut: generalisasi deskriptif, dan generalisasi teoritik) dan validitas internal (menyangkut: validitas disain dan analisis, serta validitas dan reliabilitas pengukuran). Sedang pada penelitian kualitatif, validitas suatu penelitian dapat diukur seperti yang disarankan oleh Parsudi Suparlan (1994: 10-12) antara lain dari, apakah data yang dihasilkannya itu mencerminkan secara jelas sesuatu situasi tertentu, dan dapat dilihat sebagai replika dari kenyataan yang ada, serta apakah data yang dikumpulkannya itu berasal dari pengamatan dan wawancara mendalam kepada informan yang tepat dan dalam situasi yang tepat pula?
Di sinilah perlunya kita melihat lagi bahwa landasan dasar dari suatu kegiatan penelitian ilmiah adalah metode ilmiah. Metode ilmiah adalah suatu kerangka landasan bagi terciptanya pengetahuan ilmiah. Pengetahuan ilmiah itu didapat bisa melalui pengamatan, eksperimen, generalisasi dan verifikasi. Kalau dalam ilmu-ilmu sosial dan budaya, pengetahuan ilmiah itu umumnya diperoleh melalui wawancara dan pengamatan.

Jadi sekali lagi, perlu pemahaman secara tepat berbagai komponen kegiatan keilmuan. Komponen atau istilah-istilah penting yang terkait dengan dunia penelitian, secara sederhana dapat dibagi ke dalam tiga bagian. Bagian persiapan, bagian pelaksanaan, dan bagian penyelesaian tanggungjawab.
Bagian pertama, adalah bagian yang dapat menggugah seseorang untuk melakukan penelitian. Yang termasuk pada bagian ini ialah (1) inspirasi, (2) formulasi, dan (3) pengajuan. Bagian kedua adalah bagian (1) perancangan pengumpulan data, (2) analisis, dan (3) tafsiran. Sedang bagian ketiga adalah (1) penyusunan laporan, dan (2) publikasi. Pada masing-masing bagian itu terdiri dari sub-sub bagian seperti bagan berikut:

LANGKAH YANG DILAKUKAN

I Inspirasi Membaca, berdiskusi, mengamati, dsb.
Formulasi Menyusun ke dalam bentuk proposal
Pengajuan Menyampikan proposal kepada lembaga tertentu

II Perancangan pedoman (instrumen penelitian)
Menyusun pedoman wawancara dan pengamatan
Sosialisasi kepada tim peneliti
Uji coba
Perbaikan
Pengumpulan data Menentukan subjek (responden atau informan)
Mewawancarai, mengaamatai, dsb.

Analisis
Analisis tentatif Mengkode
Mentabulasi
Menganalisis sementara
Analisis temuan secara komprehensif
Tafsiran Membaca temuan dengan menerapkan teori yang digunakan

III Penyusunan laporan Menyusun draft laporan
Menyerahkan kepada reader
Menyusun kembali laporan final
Publikasi Menerbitkan secara lengkap
Menerbitkan dalam bentuk artikel
Menseminarkan

Suatu penelitian ilmiah prosesnya dilakukan melalui tahapan-tahapan. Pertama, memilih untuk bidang apa kita ingin melakukan penelitian. Soalnya, suatu masalah bisa dilihat dari berbagai sudut kajian. Tingkah laku manusia misalnya, bisa diamati bedasarkan sudut kajian ekonomi, politik, atau sosial budayanya. Kalau perspektif kajian itu sudah kita tetapkan, cobalah diikuti dengan topiknya. Tertarik untuk melihat masalah sektor informal misalnya atau upacara sosial yang penuh dengan perlambang. Dari topik bisa ditingkatkan kepada judul. Tetapi masalah penentuan judul, sebetulnya bisa bongkar pasang. Artinya, judul penelitian bisa diubah-ubah sepanjang masih relevan dengan topik yang dipilihnya itu. Judul bagaikan nama. Ia penting tetapi tidak menentukan.
Langkah kedua adalah merumuskan masalah dalam arti menagkap isue penting yang akan diangkat. Untuk mempermudah memilih permasalahan atau menangkap isue, kadang-kadang perlu dibantu dengan melakukan pengamatan, survei awal, maupun dengan membaca ulang berbagai bahan bacaan.
Langkah ketiga, kita perlu membangun sebuah bibliografi. Artinya melakukan kajian sistematis terhadap sejumlah sumber-sumber sekunder seperti buku, dan jurnal-jurnal yang terpilih, relevan dan baru. Kepentinga kepada buku-buku dan jurnal-jurnal yang baru, tentu sangat relatif. Melakukan kajian kesejarahan terhadap peristiwa masa lalu, tentu penting dan pentig pula membaca buku-buku lama. Tetapi membangun sebuah bibliografi, utamanya menyangkut tiga hal yang perlu dipertimbangkan. Ketiga hal itu ialah (a) buku yang membantu memberi pemahaman terhadap masalah yang sedang akan dikaji, (b) buku yang berkaitan dengan teori dan metodologi, dan (c) buku-buku yang membahas hal-hal yang relevan dengan masalah terkait dengannya.
Keempat, ketika kajian bibliografi sudah dimulai dan sudah memberi pengertian yang mewadahi, tugas kita berikutnya adalah mengformulasi masalah penelitian. Pada tahap pertama seperti di atas tadi adalah bermakna menangkap isue, sedang tahap ketiga itu adalah mengformulasi isue itu ke dalam rumusan permasalahan lalu mendifinisikannya. Jangan dikira bahwa merumuskan masalah itu mudah. Banyak orang kebingungan justru ketika mereka masuk ke tahapan merumuskan masalah penelitian.
Kelima, membuat outline unsur-unsur permasalahan. Pada tahapan ini kita bisa melakukan brainstorming dengan tim atau kawan. Bahkan kalau perlu kita bisa mengundang sejumlah pakar untuk mendiskusikannya. Dari para pakar akan kita peroleh pengembangan wawasan seperti keterkaitan sejumlah variabel yang dianggap relevan.
Keenam mengklasifikasi permasalahan dalam hubungannya dengan data atau bukti yang akan kita cari. Pendeknya, pada setiap merancang suatu kegiatan penelitian, kita perlu mempersiapkan A sampai Z-nya kegiatan penelitan yang akan kita lakukan.
.Dalam penelitian terutama yang bercorak kuantitatif, terdapat sejumlah kegiatan yang sangat membutuhkan kerja otak. Kerja otak itu menyangkut hal-hal sebagai berikut: (1) Perumusan masalah; (2) menentukan indikator; (3) operasionalisasi konsep; (4) menentukan hubungan-hubungan variabel; (5) memilih konsep ; (6) menyusun kuesener, (7) menganalisis, (8) menafsirkan, dan (9) menyusun laporan. ***

One Response to “PENELITIAN: ILMIAH DAN NONILMIAH”

  1. payday loans online Says:

    Payday cash advance Payday- Related Document For Payday cash loans Phone…

    Stay clear of Debt Spirals Proficient by payday cash advance lenders…

Leave a Reply