PENELITIAN ILMIAH

PENDAHULUAN

 Oleh Mudjahirin Thohir

 

Menanglah engkau dengan ilmu, hiduplah lama!

Orang lain mati, ahli ilmu terus hidup (Sayyidina Ali)

 

 

 

A

da  tiga  alat utama  bagaimana ilmuwan  itu bekerja. Pertama  bahasa, kedua logika, dan ketiga metodologi.  Ketiganya digunakan secara bersama untuk memahami fenomena sosial-budaya masyarakat yang dipelajari. Selebihnya dari itu adalah kejujuran.

            Bahasa dipakai sebagai alat mengungkap gagasan dan pikiran. Dengan begitu bahasa adalah alat komunikasi sekaligus alat untuk memahami isi dari komunikasi itu sendiri. Komunikasi antar-orang, termasuk komunikasi ilmuwan terhadap fenomena alam dan fenomena kebudayaan.

            Manusia menggunakan bahasa sesuai dengan yang dia ketahui dan yang dirasakan guna menyampaikan gagasan atau menerima gagasan, pemberitahuan, keluh-kesah, pernyataan menghormat, bersahabat, atau pernyataan permusuhan dari orang lain.  Siapa dia berkomunikasi dengan siapa, tentang hal apa,  di mana, untuk tujuan apa dengan cara bagaimana. Dengan demikian, cara orang mengekspresikan gagasan terkait dengan masalah-masalah di luarnya seperti  kesadaran atas status sosial dan tradisi yang berlaku dan diberlakukan. Mengapa cara mengekspresikan gagasan dengan cara seperti itu, tidak dengan cara lain, di sinilah analisis kebudayaan nantinya berbicara.

            Lewat bahasa yang diketahui, gagasan dan pikiran diformulasi menjadi serangkaian konsep kebahasaan. Konsep bisa berupa kata atau istilah (construct). Kursi misalnya, adalah kata yang artinya “tempat duduk”. Karena berarti demikian maka kursi difungsikan untuk diduduki, tidak dipanggul. Kalau dipanggul, pasti ada penjelasan lain, misalnya dilakukan oleh sejumlah kuli-kasar untuk dibawa masuk ke rumah, ke mobil cup terbuka. Karena kursi berfungsi sebagai tempat duduk, maka  muncul makna baru dari kata kursi itu, misalnya kedudukan. Misalnya adanya ungkapan: “Para anggota DPR (mohon maaf untuk tidak dibaca wakil-wakil rakyat) bersitegang untuk memperebutkan kursi ketua komisi. Kata “kursi” di sini merupakan kata lain dari “kedudukan sebagai”. Sedang bersitegang adalah suasana yang muncul dengan tanda-tanda tertentu, misalnya saat berbicara tangannya digebrakkan ke meja, atau berbicara sambil merebut mik ketua sidang dsb. Tanda-tanda itu bisa diamati. Motivasi apa yang mendorong mereka untuk bertindak seperti itu? Dari sinilah pemahaman sosial budaya dengan membaca secara semiotik untuk bisa menangkap makna, sangat dibutuhkan bagi para peneliti sosial-budaya.

            Tetapi konsep “kedudukan”, bukan lagi konsep sebagai kata melainkan dalam bahasa teknisnya, ia sudah disebut sebagai istilah atau konstruk. Ketika sudah menjadi istilah maka ia memiliki pengertian-pengertian khusus. Namun begitu, baik konsep yang berbentuk kata atau istilah, ia harus jelas artinya dan terukur sasarannya. Proses untuk memperjelas makna di balik kata atau istilah yang digunakan, ialah dengan mencari atau dicarikan indikator-indikatornya[1]. Indikator dibutuhkan, biar jelas ciri-cirinya dan jelas pula maksudnya.

            Apabila konsep yang telah dibatasi oleh indikator-indikator itu dikaitkan dengan konsep lain, maka hubungan antara konsep-konsep itu dikenal sebagai hubungan antar variabel. Melihat masalah atau mencari jawaban terhadap masalah dengan menghubungkan dua variabel atau lebih, merupakan salah satu ciri dari berfikir keilmuan. Cara demikian lazim digunakan terutama oleh para peneliti kuantitatif. Peneliti  kuantitatif terbiasa memahami bahkan menguji realitas dengan mereduksikan realitas sosial itu sendiri ke dalam bahasa hubungan variabel. Tidak demikian halnya dengan peneliti kualitatif. Yang terakhir ini melihat relitas sebagai sesuatu yang kompleks (multiple), subjektif, dan ada dalam pikiran aktor-aktor atau subjek yang diteliti. Bukan dari yang meneliti. Cara yang berbeda demikian itu disebabkan paradigma keilmuan yang digunakan oleh keduanya berbeda. Dalam paradigma keilmuan, peneliti kuantitatif bergerak pada paradigma positivisme, sedang peneliti kualitatif bergerak pada paradigma intrepretative. Perbedaan keduanya itu akan dikaji tersendiri pada sub-bab paradigma keilmuan di belakang nanti.

             Variabel sebagaimana digunakan oleh peneliti kuantitatif, adalah kata atau istilah yang di dalamnya mengandung variasi kategori. Misalnya variabel seks atau “jenis kelamin”. Ketika kita menyebut “jenis kelamin” atau “sex” maka dengan sendirinya menghadirkan peluang jawaban pengertian yang dituju, yaitu: laki, perempuan, atau wadam. Kalau kita menghubungkan dua atau antar variabel, maka hubungan keduanya itu bisa melahirkan permasalahan penelitian yang perlu jawabannya atau melahirkan pernyataan simpulan sementara alias hipotesis. Misalnya “bagaimana  tingkat keagamaaan (religiusitas)[2] dilihat dari jenis kelamin?”. Variabel “keagamaan” seseorang dicoba   dilihat dari sisi perbedaan (variabel) jenis kelamin, yaitu yang laki-laki dengan perempuan”.  Kalau kemudian ditemukan jawaban sementara bahwa “perempuan lebih religius daripada laki-laki”, maka jawaban ini – sepanjang belum dibuktikan kebenarannya, posisi pernyataan itu hanyalah simpulan sementara (hipotesis). Tetapi kalau ada pertanyaan: “apa beda antara perempuan dengan ban sepeda yang kempes?”, nah pertanyaan ini sekedar joke alias lelucon saja. Mengapa? Karena jawaban yang dikehendaki, bukanlah jawaban ilmiah melainkan jawaban plesetan. Jawabannya mengagetkan yakni: “Kalau perempuan, dinaiki baru dipompa, sedang “ban” dipompa dulu baru dinaiki”. Begitu pula kalau ada orang berbicara soal “sex”, maka perlu juga hati-hati, sebab kata sex di sini bisa jadi bukan dimaksudkan sebagai kategori kelamin yang berbeda, melainkan bisa saja lebih bermakna pada “hubungan kelamin”. Kalau begitu, makna kata atau konsep, sangat tergantung pada konteksnya. Konteks itulah yang akan membukakan rahasia di balik pernyataan-pernyataan atau tindakan-tindakan simbolik manusia.

            Dalam penelitian kualitatif, variabel itu ditempatkan sebagai faktor-faktor. Posisinya dalam realitas, faktor-faktor itu berada dalam hubungan saling terkait dan kompleks.  Ini artinya, gejala atau fenomena sosial tidak cukup dijelaskan dari hubungan variabel pengaruh (independent variable) terhadap variabel terikat (dependent variabel) sebagaimana yang lazim dalam penelitian kuantitatif, tetapi realitas-realitas itu sendiri hanya bisa dipahami dalam konteksnya.

            Kalau hipotesis atau simpulan sementara telah dibuktikan kebenarannya dan berlaku umum serta  tahan lama, maka temuan seperti itu dapat diperlakukan sebagai tesis. Dari pengembangan tesis, terbangun teori. Dari teori-teori itu pula, ilmu pengetahuan berkembang. Keseluruhan atau kumpulan pengetahuan manusia untuk mengenali kata, istilah, dugaan, hipotesis, sampai teori inilah yang disebut dengan pengetahuan budaya (cultural knowledge).  Sumber dari cultural knowledge dan verifikasi akan kebenarannya, tidaklah berasal dari  sumber yang tunggal. Ada kalanya kebenaran itu ditarik atas dasar keyakinan semata. Keyakinan itu sendiri sumbernya bisa dari rumor yang sudah tersebar, dari dongeng, dari mitos, dari agama, atau dari penalaran logis semata. Itulah masalahnya, mengapa ada berbagai macam kebenaran. Seperti kebenaran konstitutif sebagaimana yang selama ini kita terima dari ajaran-ajaran agama, seperti kebenaran agama yang dikemas dalam konsep mukjizat. Ada kebenaran etika, yaitu kebenaran yang telah diterima menurut etika sosial yang berlaku dan diperlakukan. Ada kebenaran ekspresif yaitu kebenaran (baca: kecocokan; kesesuaian) yang dikembangkan dalam ilmu-ilmu keindahan (estetika) sebagaimana tumpuan para seniman. Dan ada kebenaran logik, yaitu kebenaran yang ditarik dari penalaran. Dalam logika itupun titik tolaknya bisa bertumpu pada rasionalitas atau empirik.

            Teori muncul dan berkembang adalah karena telah melampaui pemikiran logis. Karena dengan logika,  orang diajak untuk bisa berfikir  benar. Berfikir benar secara deduktif atau secara induktif. Berfikir secara deduktif artinya berfikir dengan menggunakan proses penarikan kesimpulan berdasarkan pada pengajuan premis mayor dan premis minornya. Premis mayor artinya pernyataan umum, sementara premis minor artinya pernyataan khusus. Proses itu dikenal dengan istilah silogisme. Misalnya,  “Semua orang akhirnya akan mati” (premis mayor). Hasan adalah orang (premis minor). Oleh karena itu, “Hasan akhirnya juga akan mati” (kesimpulan). Jadi, berfikir deduktif adalah berpikir dari yang  umum ke yang khusus. Dari yang abstrak ke yang konkrit. Dari teori ke fakta-fakta.  Sebaliknya adalah berfikir induktif. Berfikir induktif adalah berfikir dari yang khusus ke yang umum. Berfikir induktif adalah berfikir berdasarkan pada pengajuan fakta-fakta dahulu. Fakta-fakta itu bisa berupa serangkaian gejala-gejala, peristiwa-peristiwa, atau kasus-kasus. Dari pengajuan fakta-fakta itulah kemudian ditarik kesimpulan umum.             Kalau diskemakan, perbedaan berfikir deduktif dengan berfikir induktif, terlihat sebagaimana skema berikut.

(Miller & Brewer. 2003:1)

Teori/ konsep-konsep

Abstraksi

Hipotesis

Fakta/ observasi empiris

Text Box: Induksi Text Box: Deduksi           

 

 

            Bagi ilmuwan, pemikiran deduktif dan induktif seperti itu umumnya digunakan sesuai dengan kebutuhan. Adakalanya, pemikiran deduktif dimanfaatkan untuk melihat dalil-dalil umum. Sifatnya lebih abstrak.  Teori, umumnya mengikuti logika berfikir deduktif ini. Tetapi pada kali lain, kita memberikan contoh-contoh dahulu. Dari contoh-contoh itulah kita mengambil kesimpulan atau generalisasi. Proses yang terakhir inilah yang kita kenal dengan induktifikasi alias mengformulasi pemikiran secara induktif.

Sedang metodologi,  difungsikan  untuk  bagaimana   dapat menangkap blue print atau kerangka dasar tentang teori dan operasionalisasinya di lapangan. Metodologi dilihat dan diperlakukan sebagai alat atau strategi untuk memahami  dan  merumuskan masalah,  menemukan  langkah-langkah  untuk  bisa  memahami  masalah,  menemukan data,  mengolah, menganalisis dan menafsirkan sesuai dengan teori yang digunakan. Ingat, mengamati fakta dengan medologi yang berbeda, bisa berbeda pula kesimpulannya. Mengapa? Karena mengamati bagi peneliti, mirip dengan memotret bagi juru kamera. Gambar atau foto yang dibidik, hasilnya tergantung dari angle atau fokus bidikannya.

Fakta dan data adalah kenyataan yang harus dipahami dengan benar. Kenyataan  itu  ada jenis-jenisnya.  Kenyataan empiris, kenyataan logis, kenyataan etis, kenyataan ekspresif, dan kenyataan konstitutif. Oleh  karena itu, kebenaran  dari  kenyataan, tidak  terlepas  dari bagaimana kita  mendifinisikan  (konsep: bahasa), menalarkan (logika) dan memahamkan secara  sistematis (metoda).

Kenyataan empiris (kenyataan pertama), yaitu  kenyataan yang  dapat  ditangkap dari pengamatan kemudian direkonstruksi oleh peneliti ke dalam bentuk kata-kata atau gambar. Itu pula sebabnya, kenyataan sosial yang dituturkan oleh peneliti merupakan “realitas yang dikonstruksi” (reconstruction reality).  Misalnya  kalau  kita pergi ke pasar Johar (Semarang). Di sana, kita temukan 10 orang pengemis.  Kalau berdasarkan dari hasil pengamatan  itu,  kita lantas mengatakan bahwa di pasar Johar saya melihat 10  orang pengemis,  maka  pernyataan itu adalah  benar.  Karena  secara empiris  kita memang melihat pengemis di tempat  tersebut sejumlah itu.  Tetapi  kalau dengan pengamatan itu, kita  lantas berkesimpulan bahwa  “jumlah pengemis di pasar Johar adalah 10 orang”, maka pernyataan ini harus diuji kebenarannya.  Pengujian atas dasar kriteria atau ukuran yang jelas. Misalnya, siapa yang disebut pengemis di sini? Apa tanda-tanda mereka? Apakah dari ciri luarnya ataukah dari kegiatan yang dilakukannya atau kedua-duanya? Apakah pengemis adalah orang yang berpakaian sangat buruk, terlepas dari mereka sedang mengemis atau tidak? Ataukah pengemis itu adalah orang-orang yang meminta-minta dengan mengucapkan kata-kata menghamba dengan menadahkan tangan? Nah, ini artinya apa? Artinya, “pengemisadalah suatu konsep. Sebagai suatu konsep, maka untuk memahaminya dibutuhkan indikator, yaitu ciri-ciri khusus yang melekat atau yang diacu pada konsep tersebut. Penjabaran ciri-ciri itu disebut sebagai operasionalisasi konsep atau definisi operasional.

Kalau pendifinisian itu sudah jelas, berikutnya adalah  soal waktu. Artinya, apakah jumlah 10 orang pengemis itu  kita peroleh  dari pengamatan sesaat, ataukah secara berulang atau tetap.  Hari ini, mungkin memang ada 10 orang pengemis, tetapi besuk bisa lebih banyak atau lebih sedikit. Kalau setiap hari jumlah pengemis itu tidak tetap, lalu kriteria apa yang kita gunakan? Ini artinya, penelitian yang obyek sasarannya dapat berubah-ubah seperti halnya contoh pengemis tadi, secara metodologis juga harus dijelaskan pula kapan  dan jangka waktu penelitian itu dilakukan.

Kemudian,  apakah  misalnya  tindakan  mengamati secara berulang itu, ditentukan batas-batas arealnya  (menurut batasan pengertian: pasar Johar), atau menurut pengertian kita sendiri.  Dengan  kata lain, hasil pengamatan  itu  sebenarnya baru pada bagian dari yang disebut areal pasar Johar atau dari keseluruhan  areal yang  dikategorikan pasar Johar.  Jika keseluruhannya,  bagaimana  kita  mendifinisikan  batas  areal  pasar Johar itu. Nah, untuk menyatakan secara benar terhadap apa yang kita amati sendiri berdasarkan ukuran keilmuan, adalah tidak gampang. Apalagi untuk gejala-gejala tingkah laku manusia yang selalu banyak arti dan tersembunyi.

Kedipan mata yang dilakukan oleh seseorang  misalnya, bisa mengandung bermacam-macam makna. Bisa berarti kedua orang itu menggunakan bahasa-bahasa isyarat untuk melakukan kongkalikong. Bisa pula kedipan mata itu terjadi karena orang tersebut  memang mata sebelahnya  cacat sehingga selalu berkedip. Mungkin juga orang tersebut sedang mengejek orang yang kedipannya tidak baik, atau dia sedang bermain peran. Kalau semua peristiwa (mengedip-ngedipkan mata) difoto atau difilmkan mungkin tidak ada perbedaan, namun maknanya pastilah berbeda-beda.

Begitu pula dengan kata-kata atau ucapan orang. Kata-kata yang sama yang diucapkan oleh orang yang sama, bisa berarti saling berbeda maknanya karena konteksnya berbeda. Ucapan  “mamma” yang dilakukan oleh seorang bayi misalnya, bisa berarti ibu, bisa juga berarti keluhan sakit. Ucapan “setan” pun bisa bermakna amat berbeda. Seorang juragan yang jengkel kepada pembantunya, bisa mengekspresikan rasa sebalnya dengan mengucapkan “dasar setan! Kerjanya Cuma bisa mengganggu, bukan membantu”. Tetapi ketika seorang perjaka terbuai oleh kelihaian berkata-kata dari gadis kekasihnya, bisa saja perjaka tadi lantas secara spontan mencubit hidung gadis itu dan berucap secara pelan: “kamu memang  setan” sambil tersenyum nakal. Tentu kedua peristiwa itu menunjukkan makna setan secara berbeda. Yang pertama, setan bermakna menyebalkan dan menjengkelkan sehingga kata “setan” merupakan representasi dari “kemarahan”, sementara yang kedua, kata “setan” berasosiasi kepada makna-makna cerdik, menggemaskan, dan menimbulkan gairah-gairah tertentu. Bahkan bagi masyarakat Inggris, ucapan “pig” artinya bisa babi atau seorang polisi (Lihat Bean, 1981: 188).

Nah, untuk menangkap makna (meaning) di balik tingkah laku manusia, tidaklah gampang. Makna tindakan dan kata-kata, tidak semata-mata denotatif, tetapi juga konotatif.  Ada yang bersifat homonim atau polisemi.

Menyimpulkan secara benar ternyata harus hati-hati sekali. Karena itulah kita sering melihat perbedaan solah tingkah orang yang berilmu dengan orang yang kurang berilmu. Orang berilmu,  berfikir lebih dahulu baru mengatakan. Sedang orang yang tak berilmu, justru berkata lebih dahulu baru kemudian memikirkan apa makna dari kata yang telah dikatakan. Itupun kalau sempat. Celakanya, banyak orang suka mengatakan tanpa memikirkan.  Maka, kalau ingin menjadi orang yang baik lagi bermakna dalam hidupnya, jadilah orang berilmu. Kata Rasulullah, ”manusia yang terbaik ialah mukmin yang berilmu. Jika  diperlukan dia berguna. Dan jika tidak diperlukan, maka dia dapat mengurusi dirinya sendiri”.

              Kenyataan  kedua, adalah kenyataan logis[3].  Kenyataan  logis adalah   kenyataan  kebenaran  yang  didasarkan  pada   logika  (penalaran).  Misalnya kalau kita mengatakan bahwa 2 + 2 =  4. Pernyataan  4  adalah benar menurut kenyataan  logika matematik.  Tetapi kalau  kita mengatakan bahwa “jika mahasiswa diberi  fasilitas belajar  yang cukup, maka akan semakin berhasil baik”,  adalah  kenyataan yang diramalkan. Kebenaran logika ini bersifat sementara. Benar atau salah ramalan itu, perlu diuji di lapangan. Sebelum melangkah mencari data dengan  baik dan menemukan jawabannya, maka ramalan itu baru benar  sebagai hipotesis (simpulan sementara). Hipotesis  itu, belum memenuhi  persyaratan  untuk disebut  sebagai kebenaran, karena masih berada  pada  tingkat  common sense (akal sehat) atau harapan saja.

Kenyataan  ketiga adalah kenyataan etik  (ethics) yaitu  kenyataan yang  disepakati berdasarkan kepada adat-istiadat atau  nilai-nilai budaya yang dijunjung oleh masyarakat. Dalam berbagai perilaku sosial kita menemukan pola-polanya justru karena pola kelakuan itu bersumber pada etika sosial masyarakat yang bersangkutan. Kalau orang bertakziyah (melayat) orang yang  sedang duka, sebaiknya berpakaian gelap seperti hitam, atau berpakaian putih, dan jangan berpakaian yang berwarna mencolok. Saran itu menjelaskan bahwa dalam kenyataan etis, yang diperbincangkan bukanlah masalah benar atau salah, melainkan soal cocok atau tidak cocok; sesuai atau tidak sesuai. Ukurannya lebih kepada cita-rasa dalam berinteraksi sosial. “Manusia, apalagi peneliti, perlu diajarkan etika”, kata Franz Magnis Suseno (1989). Mengapa? “agar manusia dapat mengerti sendiri mengapa dia harus bersikap begini atau begitu”.

Kalau etika disinonimkan dengan akhlak, maka di sinilah esensi dari tugas agama. Rasul mengatakan:”Dan tidaklah aku diutus oleh Tuhan kecuali untuk  memperbaiki akhlak manusia”. Etika atau akhlak itu, dalam bahasa ilmu sosial adalah pedoman termasuk sikap dan tindakan yang dianggap baik yang dilawankan dengan sikap-sikap dan tindakan yang tidak baik menurut ukuran-ukuran masyarakat manusia. Akhlak adalah perwujudan dari kebudayaan yang berlaku dan diberlakukan di dalam kehidupan bersama. Di sini pula perlunya, mengapa seorang peneliti khususnya peneliti sosial, untuk memahami kebudayaan masyarakat yang diteliti, agar ukuran-ukuran dan penilaian-penilaian yang kita terapkan menjadi sesuai. Ini artinya, perilaku manusia dipengaruhi oleh pengetahuan dan keyakinan. Dalam tradisi kualitatif, cara memandang tingkah laku berpola menurut pandangan aktornya disebut dengan perspektif emik. Berdasarkan pada perspektif emik ini, maka perilaku orang Jawa pedesaan yang tradisional yang umumnya memanfaatkan ruang dapur untuk tempat barang-barang yang kotor, tidak dengan sendirinya mereka termasuk golongan orang yang tidak memahami kebersihan. Boleh jadi mereka berlaku seperti itu karena mereka mengkategorikan ruang dapur itu sebagai ruang untuk tempat-tempat kotor sesuai dengan konsep atau istilah yang mereka gunakan  yaitu: pawon, sebagai kata lain dari  opo-opo sing awon, atau panggonan awuan (untuk tempat abu, atau yang kotor-kotor). Tetapi mengapa tukang parkir berpakaian warna oranye? Barangkali jawabannya: Kalau berpakaian seragam loreng-loreng, nanti dikiranya tentara atau satgas partai politik di negeri ini. Nah lu!

 Kenyataan keempat adalah kenyataan ekspresif. Pada  kenyataan ekspresif ini, objeknya adalah kesenian dalam pengertian yang sangat luas. Seni suara, seni pentas, seni lukis dsb. Suatu dunia yang hidup dan dinafasi oleh soal-soal cita rasa. Misalnya bunyi puisi Sitor Situmorang: “Malam lebaran/ Bulan di atas kuburan”.  Kalau isi puisi ini dipahami dengan kebenaran empiris maupun logis, adalah tidak benar. Tidak mungkin pada malam lebaran itu ada bulan, sebab lebaran adalah tanggal satu, sehingga bulan tidak akan nampak. Tetapi dalam dunia seni, puisi itu bisa menghadirkan kontemplasi karena menghadirkan dua hal yaitu suasana yang berlawanan: suka dalam duka.

Cita rasa seni sebagaimana etika  tidak terlalu berurusan dengan soal benar atau salah, tetapi adalah soal indah atau tidak indah. Dalam bahasa Santayana (1955:12), “aesthetics, that is, the theory of perception or of susceptibility”.[4] Indah atau tidak indah itu ukurannya tidaklah dengan ukuran logika formal[5] tetapi oleh teori-teori keindahan (estetika), seperti teori romantisme, rasionalisme, atau teori pragmatisme.  Karena itu,  untuk bisa menilai secara pas terhadap hasil-hasil  seni itu,  perlu  didekati dengan teori-teori  seni  yang  dianggap  sesuai terhadap objek yang dikaji. Mengukur keindahan seni tari ballet tidak tepat kalau menggunakan ukuran keindahan seni ndang dut. Indah atau tidak indahnya seni itu berdasarkan pada teori seni. Bisa juga selera dan cita-rasa orang yang menilai. Kalau cita-rasa orang yang menilai adalah rendah, maka jangan mereka dituntut untuk menilai seni yang agung. Ukurlah dirimu sendiri, kamu ada di pihak mana?

Kenyataaan kelima ialah kenyataan konstitutif atau terkadang disebut kenyataan metafisik atau kenyataan agama. Kenyataan konstitutif adalah kenyataan  berdasarkan  kepada  pengetahuan, kepercayaan, dan keyakinan kepada yang gaib. Berbagai mitos, ritual-ritual, dan keagamaan, masuk dalam ranah kebenaran konstitutif ini.  Berbagai upacara tradisional rakyat seperti upacara sedekah bumi, atau sedekah laut yang dilakukan oleh komunitas nelayan dengan cara antara lain menyajikan persembahan (sesajian) kepada “penjaga atau penguasa laut”, pengetahuan dan praktek ini adalah benar dalam ranah konstitutif.  Begitu pula, neraka dan  syurga  adalah nyata ada. “Inna jannata haq wa innal naara haq” (sesungguhnya surga itu benar adanya, dan neraka juga benar adanya). Begitulah sepenggal kalimat yang diwasiyatkan seorang kyai kepada jenazah yang baru saja dimasukkan ke liang lahat. Hanya saja keberadaannya itu tidak terjangkau oleh dalil-dalil ilmu empiris, melainkan hanya oleh keyakinan keagamaan.

Mencoba mengukur keyakinan keagamaan – jika ingin dijadikan ukuran keilmuan – adalah lewat ukuran derajat kesalehan keagamaan atau religiositas. Mengapa? Ya itu tadi, yakni kenyataan agama  (kepercayaan) adalah  kenyataan  yang didasarkan  pada  keyakinan.  Misalnya kisah  perjalanan  Nabi Muhammad SAW  pada  peristiwa  Mi’raj (naik  ke atas langit). Dalam semalam, Nabi Muhammad dapat melakukan perjalanan yang teramat jauh yaitu naik ke langit sampai ke Sidratul Muntaha dan pulang kembali ke bumi sebelum di ufuk timur muncul mentari pagi. Pernyataan ini adalah benar berdasarkan  pada keyakinan  pemeluk  agama Islam. Sebaliknya bagi  mereka  yang bukan  Islam, belum tentu meyakini kebenaran kenyataan  tersebut. Demikian juga misalnya orang Jawa santri yang melakukan selamatan Dul Qodiran. Mereka melakukannya karena didasarkan kepada pemahaman tawasulan, yaitu mediator dalam rangka meminta keselamatan kepada Tuhannya. 

Tanpa mengerti makna di balik kelakuannya itu, sebagai peneliti sosial-budaya akan keliru menafsirkannya. Kalau penafsiran keliru, akan keliru pula penyimpulannya.  Itulah sebabnya kita perlu mengenal level-level tanda. Kalau tingkahlaku itu sebagai tanda, dan tanda tersebut kita tempatkan sebagai teks maka untuk memahami maknanya, dibutuhkan tingkatan-tingkatan pembacaan tanda. Pertama adalah membaca apa yang tersurat (to read by the line), lalu membaca yang tersirat (to read off the line), dan membaca berdasarkan konteksnya (to read beyond  the line).

Berdasarkan  kepada  kenyataan-kenyataan  di  atas,   maka kebenaran juga memiliki lima ruang lingkup, yaitu:  kebenaran empiris, kebenaran logis, kebenaran etis, kebenaran  ekspresif  (seni)  dan  kebenaran konstitutif (agama).  Pada  masing-masing  wilayah kebenaran itu, belum tentu bisa diterapkan untuk menilai kenyataan pada wilayah yang tidak sama.

            Kebenaran empiris adalah kebenaran atau sesuatu pernyataan dianggap benar kalau apa yang dinyatakannnya itu sesuai dengan apa yang dilihatnya. Lingkup kebenaran empiris ini tidak boleh melampui kewenangan pengukuran dan penilaian.  Apalagi kalau pengukuran dan penilaian yang digunakan hanya pada soal cita rasa dan akal-akalan, seperti kasus dialog seorang abang becak asal Madura dengan calon penumpangnya. Ada seorang laki-laki minta bisa diantar ke tempat tujuan, lalu menawar: “Bang, berapa ongkos menuju ke Kabupaten Bangkalan?”. Abang becak tadi lantas mengatakan: “Lima ribu rupiah”. Karena dianggap ongkos itu terlalu mahal, lantas ditawar sambil dibujuk: “Itu kantor kabupatennya kelihatan dari sini. Dekat bang. Masak mahal amat?”. Maka apa jawab abang becak asal Madura tadi? “Pak, bulan juga dapat dilihat dari sini, tapi jauh Pak!”.

Jika akan masuk ke soal pengukuran dan penilaian, harus bergerak ke ranah kebenaran logis. Untuk memasuki wilayah ini perlu secara tersendiri mempelajari filsafat ilmu.



[1] Misalnya, indikator “pendidik yang berhasil” itu bagaimana? Kalau kita tanyakan pertanyaan itu kepada Frans Magnis Suseno, dia akan mengatakan: “seorang pendidik baru dapat dikatakan berhasil melaksanakan tugasnya apabila berhasil membentuk anak yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, yang serba tidak puas dengan jawaban sementara, dan ikut aktif dalam kehidupan masyarakat. Untuk itu, anak akan tertarik pada politik dan tahu mengikuti perkembangan politik secara kritis dan reflekktif. Cara Magnis mendifinisikan pendidik yang berhasil ini didasarkan pada indikator produknya, bukan kepada penampilannya seperti berpakaian seragam ala Pakaian Seragam Harian (PSH) yang kita lihat setiap hari itu.

 

[2] Religiusitas adalah istilah atau konstruk. Sebagai istilah yang ingin dipelajari, maka ia dapat dilihat dan sebut sebagai variable, yakni termasuk variable keagamaan. Karena itu, sebelum melangkah lebih jauh, perlu dicarikan ukuran-ukurannya atau dimensi-dimensi yang masuk ke dalamnya ketika konsep “religiusitas” itu dibicarakan.  Glock dan Stark (lihat pada Robinson dan Shaver, eds. 1973: 642-651) menentukan empat dimensi keagamaan (religiusitas) yaitu: belief, practice, experience, dan knowledge. Pada dimensi belief (kepercayaan) bisa dengan orthodoxy index atau particularism index. Pada dimensi practice (praktek keagamaan) bisa dilakukan berdasarkan pada ritual involvement index; pada dimensi experience diukur berdasarkan pada religious experience index (contact with the supernatural); dan pada dimensi knowledge (pengetahuan keagamaan) dapat dilacak dari pengetahuannya terhadap sumber-sumber ajaran agama seperti alquran dan hadits.

[3] Suatu argumen deduktif yang secara formal sah dan yang premis-premisnya semua benar (secara empiris), dan oleh karena itu konklusinya harus benar juga (Bagus, 2002: 542).

[4] Lebih lanjut George Santayana (1955: 5) mengatakan: “We may, however, distinguish three different ways of approaching the subject. The first is the exercise of the moral  or aesthetic faculty itself, the actual pronouncing of judgment and giving of praise, blame, and precept… The second method consists in the historical explanation of conduct or of art as a part of anthropology, and seeks to discover the conditions of various types of character, forms of polity, conceptions of justice, and schools of criticism and of art… The third method in ethics and aesthetics is psychological, as the other two are respectively didactic and historical.

 

[5] Logika formal merupakan ilmu yang mempelajari bentuk-bentuk pemikiran (konsep, putusan, kesimpulan, dan pembuktian) berkenaan dengan struktur logisnya. Tugas pokoknya ialah merumuskan hukum-hukum dan prinsip-prinsip (lihat Bagus, 2002: 533).

One Response to “PENELITIAN ILMIAH”

  1. lovexoboy Says:

    …A Friend recommended your blog…

    [...]you made running a blog glance[...]…

Leave a Reply