Archive for the ‘Artikel’ Category

KEMAJEMUKAN, KONFLIK DAN RESOLUSINYA

Friday, July 30th, 2010

KEMAJEMUKAN, KONFLIK, DAN RESOLUSI KONFLIK

Dari Pendekatan Kualitatif

 

Oleh Mudjahirin Thohir (Koordinator Kualitatif)

 

 

PENDAHULUAN

 

Suatu penelitian yang baik, paling tidak, memperhatikan beberapa hal penting. Pertama, pemahaman terhadap substansi permasalahan yang dijadikan kajian; kedua, motivasi peneliti, dan ketiga, fasilitasi. Ketiga hal tersebut kedudukannya tidak bisa berdiri sendiri tetapi saling berinteraksi.

 

Menyadari pentingnya ketiga komponen tersebut, maka penelitian mengenai: Kemajemukan, Konflik, dan Resolusi Konflik, yang dilakukan oleh Limpad, terutama penelitian dengan menggunakan pendekatan kualitatif, dan secara kebetulan juga, koordinasinya dipercayakan kepada saya, prosesnya telah sayya juga memperhatikan ketiga unsur tersebut.

 

Proses itu sendiri – dalam realitasnya – tentu saja – di sana sini – terdapat beberapa kelemahan dan kelebihannya.

 

Tulisan ini mencoba mengevaluasi kembali apa yang sebenarnya terjadi di sepanjang proses itu, lalu apa kelemahan yang muncul ke depan, dan di mana kelebihan yang bisa ditampilkan.

 

Dari evaluasi yang jujur, setidaknya kita bisa berfikir lebih jauh bahwa ada sesuatu yang sebenarnya bisa kita lakukan tetapi mungkin dalam kegiatan penelitian, ternyata belum optimal kita lakukan. Sebaliknya adalah kelebihan dan keuntungan yang bisa dijadikan  pelajaran berharga untuk  penelitian berikutnya. Di sinilah pentingnya kita menempatkan evaluasi itu sebagai introspeki atau refleksi diri.

  (more…)

AMPUNAN UNTUK YANG BERPUASA

Friday, July 30th, 2010

AMPUNAN UNTUK YANG BERPUASA

Oleh Mudjahirin Thohir

——————————————————————————————–

 

MENJELANG Bulan Ramadlan, kita amati, begitu banyak orang pergi ke makam. Di sana, mereka duduk bersimpuh di dekat pusara. Memanjatkan doa. Orang Jawa menyebut hal ini sebagai kirim dongo.  Berkirim doa agar mereka diampuni dosanya. Perilaku mendoakan para arwah seperti ini, atau karena dilakukan pada bulan Ruwah, lantas disebut Ruwahan. Dengan ampunan Tuhan, memudahkan arwah leluhurnya itu, dinaikkan dari alam barzah (alam kubur) ke alam jannah (swargi). Istilah “naik” dalam bahasa Jawa disebut munggah, sehingga proses menuju atau ritual yang terkait dengan itu, disebut  punggahan.

(more…)

BERMUNAJAT

Friday, July 30th, 2010

BERMUNAJAT

Oleh Mudjahirin Thohir

 

           

            Ada sejumlah orang kaya yang membiasakan berumroh pada setiap akhir bulan Ramadan. Mereka mengaku, lebih nikmat sholat tarawih berjamaah di Masjidil Haram. Syukur bagi, menunggu Lailatul Qodar sambil  iktikaf di samping Ka’bah.

            Ada sejumlah pejabat yang berpakaian serba mewah, aktif mengikuti tarawih keliling. Dari satu instansi ke instansi yang lain. Usai sholat terawih, berlanjut dengan ceramah. Setelah itu, dijamu dengan aneka menu.

(more…)

ORANG-ORANG YANG BERBAHAGIA

Friday, July 30th, 2010

Orang-orang Yang Berbahagia

Oleh Mudjahirin Thohir

 

HARI-hari menjelang Lebaran, terdapat sejumlah panorama sosial bernafaskan keagamaan. Panorama sosial itu bagaikan drama kolosal. Para aktor, yang terdiri dari para shoimin (orang-orang yang [mengaku] berpuasa), berakting mengikuti skrip teks demi teks yang dihafal. Mereka berakting dalam setting pentas (stage): rumah, masjid, dan pasar.  Mereka beradaptasi atas peran ganda yang dimainkan: Sebagai hamba Tuhan dan sebagai makhluk sosial.

(more…)

NIKMATNYA BERPUASA

Friday, July 30th, 2010

NIKMATNYA BERPUASA

Oleh Mudjahirin Thohir

 

            Dalam tubuh manusia, terdapat segumpal darah. Begitu kata Rasul. Jika ia baik, baik pula keseluruhannya. Sebaliknya. Jika buruk, buruk pula seluruhnya. Segumpal darah itu adalah hati.

            Dalam bahasa lain, hati adalah qolbun.  Disebut qolbun karena memiliki sifat atau kecenderungan yang berubah-ubah. Terkadang, mengikuti dorongan id. Pada kali lain, mengikuti apa kata super-ego.

            Id adalah dorongan nafsu. Bersifat hewani. Hasratnya tertuju kepada kesenangan, kemewahan, dan keserakahan. Maklum, digerakkan oleh kekuatan setan. Sedang super-ego adalah hati nurani. Oleh Imam Ghozali, disebut  Nafsu muthmainnah. Ia bertindak atas dasar akal budi. Akal budi sering mengatur kehidupan bercorak manusiawi. Ketika id mengajak menyimpang, super-ego bilang: Jangan. Misalnya, jangan menipu, jangan korupsi, dan jangan semena-mena.

            Pergumulan tiada akhir antara id dan superego demikian, menjelaskan bahwa qolbun manusia,  berada di antara tarikan setan dan Tuhan. Apa yang disukai setan, dibenci Tuhan. Sebaliknya, tindakan yang sukai Tuhan, dibenci setan. Barangkali hanya satu hal yang sama-sama dibenci oleh keduanya, yaitu memperkosa anak-anak setan.

(more…)

MASYARAKAT PESISIR

Friday, July 30th, 2010

SOSIOLOGI PEDESAAN

MASYARAKAT JAWA PESISIRAN

 

Oleh Mudjahirin Thohir

 

 

 

1. Pendahuluan

Pada dasarnya, manusia, dalam batas-batas tertentu, memiliki kepribadian, gaya hidup, dan kecenderungan-kecenderungan yang (a) sama dengan manusia lain; (b) sama dengan sebagian manusia lain; dan (c) tidak sama dengan manusia lain. Bagaimana ketiga kemungkinan itu bisa dijelaskan berdasarkan pada perspektif antropologis? Demikian pula, bagaimana karakteristik masyarakat Jawa Pesisiran, apakah mereka memiliki karakteristik yang khas dan berbeda dengan masyarakat Jawa yang berada dalam wilayah (sosialisasi) Negarigung dan Mancanegari? Jika memang menunjukkan perbedaan-perbedaan, maka pada masalah-masalah apa perbedaan itu bisa dilihat, dan faktor-faktor apa yang menyebabkan perbedaan itu ada? Kemudian ketika kita sudah bisa menandai corak dari masyarakat Jawa Pesisiran itu,  maka bagaimana kita bisa mendekati mereka secara pas sehingga sasaran untuk dapat memberdayakan potensi mereka dapat berjalan dengan baik?

        Dalam tulisan ini akan dibicarakan masalah tipologi masyarakat Jawa dan kebudayaannya, khususnya masyarakat Jawa Pesisiran.

 

2. Tipologi Masyarakat Jawa

Dilihat dari dekat jauhnya dari pusat-pusat pemerintahan administratif, masyarakat Jawa bisa dibedakan ke dalam dua jenis yaitu (a) mereka yang tinggal di perkotaan dan, (b) yang tinggal di pedesaan. Penduduk perkotaan adalah mereka yang tinggal di pusat-pusat kota propinsi, kota madya, dan kabupaten. Dewasa ini penduduk yang tinggal di pusat  kota kecil di Jawa seperti kawedanan dan kecamatan pun sudah bisa dikategorikan sebagai orang-orang kota. Masalahnya prasarana dan sarana perkotaan sudah mulai tersedia di daerah pusat-pusat  kawedanan dan atau kecamatan, kendati dalam skala yang lebih kecil dan terbatas. Salah satu ciri dari perkotaan – dalam unit yang paling kecil – warganya dipimpin oleh seorang lurah bukan kepala desa.  Ini berarti, desa-desa yang tersebar dan yang masih dipimpin oleh kepala desa masuk dalam kategori penduduk pedesaan. Namun demikian, ada juga desa-desa yang berdekatan dengan perkotaan, termasuk  penduduk yang ada di dalamnya, yang sudah mulai bisa memanfaatkan fasilitas dan bahkan bergaya hidup orang kota.

        Warga kota ataupun warga desa, keduanya tinggal secara menyebar dalam lingkungan yang berbeda.  Lingkungan hidup mereka, adakalanya berupa (a) pegunungan, (b) dataran, dan (c) pantai. Istilah pantai di sini lebih mengacu kepada “laut”. Jadi, masyarakat pantai adalah masyarakat yang tinggal di kawasan yang relatif dekat dengan laut. Jadi, masyarakat pantai adalah masyarakat yang tinggal di kawasan yang relatif dekat dengan laut. Tetapi kalau tinjauannya pada wilayah kebudayaan Jawa dari masa lalunya yaitu pada masa kerajaan Mataram[1], maka masyarakat Jawa di sini dapat dibedakan ke dalam tiga tipe wilayah kebudayaan, yaitu (a) negarigung, (b) mencanegari, dan (c) pasisiran.

        Daerah Negarigung yaitu daerah di seputar kota Solo dan Yogyakarta. Masyarakat di kedua daerah itu disebut “tiyang negari” (orang negeri). Kebudayaan yang dahulunya berakar dari keraton. Oleh karena berakar dari keraton, maka peradabannya masuk pada ketegori peradaban besar. Ciri dari peradaban ini ialah:  mengutamakan kehalusan (baik bahasa, tingkah laku, maupun kesenian).  Pandangan-pandangan keagamaannya (dahulunya) cenderung sinkretik (bandingkan pada Geertz, 1984, Koentjaraningrat, 1984).

(more…)

MASYARAKAT PESISIR

Friday, July 30th, 2010

SOSIOLOGI PEDESAAN

MASYARAKAT JAWA PESISIRAN

 

Oleh Mudjahirin Thohir

 

 

 

1. Pendahuluan

Pada dasarnya, manusia, dalam batas-batas tertentu, memiliki kepribadian, gaya hidup, dan kecenderungan-kecenderungan yang (a) sama dengan manusia lain; (b) sama dengan sebagian manusia lain; dan (c) tidak sama dengan manusia lain. Bagaimana ketiga kemungkinan itu bisa dijelaskan berdasarkan pada perspektif antropologis? Demikian pula, bagaimana karakteristik masyarakat Jawa Pesisiran, apakah mereka memiliki karakteristik yang khas dan berbeda dengan masyarakat Jawa yang berada dalam wilayah (sosialisasi) Negarigung dan Mancanegari? Jika memang menunjukkan perbedaan-perbedaan, maka pada masalah-masalah apa perbedaan itu bisa dilihat, dan faktor-faktor apa yang menyebabkan perbedaan itu ada? Kemudian ketika kita sudah bisa menandai corak dari masyarakat Jawa Pesisiran itu,  maka bagaimana kita bisa mendekati mereka secara pas sehingga sasaran untuk dapat memberdayakan potensi mereka dapat berjalan dengan baik?

        Dalam tulisan ini akan dibicarakan masalah tipologi masyarakat Jawa dan kebudayaannya, khususnya masyarakat Jawa Pesisiran.

 

2. Tipologi Masyarakat Jawa

Dilihat dari dekat jauhnya dari pusat-pusat pemerintahan administratif, masyarakat Jawa bisa dibedakan ke dalam dua jenis yaitu (a) mereka yang tinggal di perkotaan dan, (b) yang tinggal di pedesaan. Penduduk perkotaan adalah mereka yang tinggal di pusat-pusat kota propinsi, kota madya, dan kabupaten. Dewasa ini penduduk yang tinggal di pusat  kota kecil di Jawa seperti kawedanan dan kecamatan pun sudah bisa dikategorikan sebagai orang-orang kota. Masalahnya prasarana dan sarana perkotaan sudah mulai tersedia di daerah pusat-pusat  kawedanan dan atau kecamatan, kendati dalam skala yang lebih kecil dan terbatas. Salah satu ciri dari perkotaan – dalam unit yang paling kecil – warganya dipimpin oleh seorang lurah bukan kepala desa.  Ini berarti, desa-desa yang tersebar dan yang masih dipimpin oleh kepala desa masuk dalam kategori penduduk pedesaan. Namun demikian, ada juga desa-desa yang berdekatan dengan perkotaan, termasuk  penduduk yang ada di dalamnya, yang sudah mulai bisa memanfaatkan fasilitas dan bahkan bergaya hidup orang kota.

(more…)

SUAP

Friday, July 30th, 2010

SUAP

DALAM RANAH MASYARAKAT INDONESIA[1]

Perspektif Sosial Budaya

 

Oleh Mudjahirin Thohir[2]

Tuhan menghendaki agar kita membuat mudah dan tidak membuat sulit segala urusan manusia (yassiru, wa la tu’asysyiru), tetapi setan berbisik lain: “Kalau bisa dibuat sulit, mengapa harus dibuat mudah”, maka di antara birokrat pun lantas bersekutu dengannya untuk atas nama keuntungan dibalik mempersulit pelayanan.

  (more…)

KEMISKINAN DALAM PERSPEKTIF SOSIAL BUDAYA

Saturday, May 23rd, 2009

KEMISKINAN DALAM PERSPEKTIF

SOSIAL BUDAYA[1]


Beberapa Pointers

Oleh Mudjahirin Thohir[2]

Pada dasarnya, setiap orang mau berubah, sepanjang perubahan yang ditawarkan itu mereka pahami lalu mereka yakini akan bisa meningkatkan kualitas kehidupan duniawi dan ukhrawinya. Di sinilah komunikasi dan kejujuran dibutuhkan. Selebihnya, adalah soal teknis dan sarana-prasarana.

Siapa orang Miskin?

  1. Miskin adalah kondisi yang secara umum menggambarkan seseorang atau suatu rumahtangga atau komunitas yang berada dalam serba kekurangan, terutama dalam kaitannya dengan pemenuhan kebutuhan yang paling dasar. Akibat dari itu yang bersangkutan mengalami berbagai keterbatasan baik terhadap peran-peran yang secara social, ekonomi, politik, maupun budaya yang harus dilakukan.
  2. Keterbatasan-keterbatasan dan pembatasan-pembatasan seperti itu, bisa karena akibat dari internal individu atau rumahtangga yang gagal beradaptasi terhadap lingkungan atau di dalam merespon perubahan. Pada saat yang sama, bisa terjadi sebaliknya, yaitu lingkunganlah yang melahirkan kemiskinan.

(more…)

CERITA RAKYAT

Tuesday, May 5th, 2009

Kesenian Rakyat, Hak Cipta, dan Penghargaan

§  Oleh Mudjahirin Thohir

UNTUK dapat hidup secara normal, masyarakat manusia membutuhkan tiga syarat dasar yakni pemenuhan kebutuhan fisikal, sosial, dan adab. Di antara kebutuhan adab itu ialah pemenuhan kebutuhan untuk dapat mengekspresikan cita rasa keindahan. Cita rasa keindahan yang terpancar dalam kesenian.

(more…)