KEMAJEMUKAN, KONFLIK DAN RESOLUSINYA

KEMAJEMUKAN, KONFLIK, DAN RESOLUSI KONFLIK

Dari Pendekatan Kualitatif

 

Oleh Mudjahirin Thohir (Koordinator Kualitatif)

 

 

PENDAHULUAN

 

Suatu penelitian yang baik, paling tidak, memperhatikan beberapa hal penting. Pertama, pemahaman terhadap substansi permasalahan yang dijadikan kajian; kedua, motivasi peneliti, dan ketiga, fasilitasi. Ketiga hal tersebut kedudukannya tidak bisa berdiri sendiri tetapi saling berinteraksi.

 

Menyadari pentingnya ketiga komponen tersebut, maka penelitian mengenai: Kemajemukan, Konflik, dan Resolusi Konflik, yang dilakukan oleh Limpad, terutama penelitian dengan menggunakan pendekatan kualitatif, dan secara kebetulan juga, koordinasinya dipercayakan kepada saya, prosesnya telah sayya juga memperhatikan ketiga unsur tersebut.

 

Proses itu sendiri – dalam realitasnya – tentu saja – di sana sini – terdapat beberapa kelemahan dan kelebihannya.

 

Tulisan ini mencoba mengevaluasi kembali apa yang sebenarnya terjadi di sepanjang proses itu, lalu apa kelemahan yang muncul ke depan, dan di mana kelebihan yang bisa ditampilkan.

 

Dari evaluasi yang jujur, setidaknya kita bisa berfikir lebih jauh bahwa ada sesuatu yang sebenarnya bisa kita lakukan tetapi mungkin dalam kegiatan penelitian, ternyata belum optimal kita lakukan. Sebaliknya adalah kelebihan dan keuntungan yang bisa dijadikan  pelajaran berharga untuk  penelitian berikutnya. Di sinilah pentingnya kita menempatkan evaluasi itu sebagai introspeki atau refleksi diri.

  Read more…

HATI NURANI BANGSA

HATINURANI BANGSA

Antara Peradaban dan Kebiadaban

 

mudjahirin thohir

 

 

 

 

Saya beragama

ketika

 saya  melihat keindahan Tuhan

dan melihat keindahan ciptaan-Nya.

 

 

Sebuah Persaksian

 

Dilihat dari sumber daya alam yang tersedia, laut dan darat,

melimpah ruah di bumi Indonesia.

Dilihat dari agama yang dipeluk penduduk, tak ada yang tersisa.

Semuanya mengaku beragama

Dilihat dari ideologi negara, terhiaskan oleh Pancasila.

Dilihat dari kemasyarakatan, gotongroyong disemboyankan.

Dilihat dari konfigurasi budaya, kepatuhan dan ketaatan ditanamkan.

Tetapi kenapa?

Di negeri yang tidak kurang sesuatu apa, justru kekurangan semuanya

 

Sumber daya alam: minim pengelolaan.

Limpahan rizki di lautan terbiarkan

Sawah dikelola seperti dulu kala

Bukankah ini pertanda kemandulan pengetahuan?

 

Sumber daya alam: maxi pengrusakan

Tak sengaja dan disengaja

Tak sengaja karena keterpaksaan, seperti petani kentang di lereng-lereng perbukitan

Tak sengaja karena ketidaktahuan, seperti penggali pasir di sungai merapi

Tak sengaja karena kenekatan, seperti pengejar ikan dengan putas mematikan

Inilah perilaku kaum miskin dalam wadah Indonesia

 

Para priyayi berselingkuh dengan kekuasaan

Hutan kayu ditebang, mutiara hitam digadaikan

Nota dilipatkan.

 

Agama?

Untuk identitas sosial, bukan untuk menghadirkan jiwa sosial.

Untuk memisahkan, bukan untuk menyatukan.

Untuk ke-Tuhan-an, bukan untuk kemanusiaan.

Untuk menghibur orang miskin, bukan untuk menghilangkan kemiskinan

Untuk  pujian, bukan untuk pelayanan.

 

Pancasila?

Di negeri ini ia menjadi penanda: Indonesia

Dihafal di luar kepala, tanpa diresapi maknanya.

Sering disalahgunakan untuk tameng

Sering  dibangunkan untuk digugat, bukan untuk dihayat.

 

Gotongroyong?

Berkumpul atas nama warga kampung

Bersihkan got-got karena kunjungan para pembesar

Bukan bergotongroyong membangun Indonesia ke depan.

 

Bukankah kita pancasilais, agamis, dan berbudaya adi luhung?

Kenapa kita miskin, tidak jujur, dan tidak beruntung?

 

Kepatuhan dan ketaatan?

Patuh dan taatlah kepada atasan, kata seorang pejabat kepada bawahan.

Taat itu perintah agama.

Atasan itu bagai bapakmu, jadi jalankan apa yang diminta.

Kalau tidak, tahu sendiri akibatnya.

 

Sumber daya alam yang subur, ternyata tidak membawa penduduk makmur

Mereka yang mengaku beragama, ternyata banyak yang tidak jujur.

Mereka yang mengaku berpancasila, ternyata banyak yang bermuka dua.

Mereka yang menyerukan gotongroyong, ternyata tak berjiwa menolong.

Mereka yang mengajarkan untuk patuh, ternyata mental dan moralnya sendiri  rapuh.

 

AMPUNAN UNTUK YANG BERPUASA

AMPUNAN UNTUK YANG BERPUASA

Oleh Mudjahirin Thohir

——————————————————————————————–

 

MENJELANG Bulan Ramadlan, kita amati, begitu banyak orang pergi ke makam. Di sana, mereka duduk bersimpuh di dekat pusara. Memanjatkan doa. Orang Jawa menyebut hal ini sebagai kirim dongo.  Berkirim doa agar mereka diampuni dosanya. Perilaku mendoakan para arwah seperti ini, atau karena dilakukan pada bulan Ruwah, lantas disebut Ruwahan. Dengan ampunan Tuhan, memudahkan arwah leluhurnya itu, dinaikkan dari alam barzah (alam kubur) ke alam jannah (swargi). Istilah “naik” dalam bahasa Jawa disebut munggah, sehingga proses menuju atau ritual yang terkait dengan itu, disebut  punggahan.

Read more…

BERMUNAJAT

BERMUNAJAT

Oleh Mudjahirin Thohir

 

           

            Ada sejumlah orang kaya yang membiasakan berumroh pada setiap akhir bulan Ramadan. Mereka mengaku, lebih nikmat sholat tarawih berjamaah di Masjidil Haram. Syukur bagi, menunggu Lailatul Qodar sambil  iktikaf di samping Ka’bah.

            Ada sejumlah pejabat yang berpakaian serba mewah, aktif mengikuti tarawih keliling. Dari satu instansi ke instansi yang lain. Usai sholat terawih, berlanjut dengan ceramah. Setelah itu, dijamu dengan aneka menu.

Read more…

ORANG-ORANG YANG BERBAHAGIA

Orang-orang Yang Berbahagia

Oleh Mudjahirin Thohir

 

HARI-hari menjelang Lebaran, terdapat sejumlah panorama sosial bernafaskan keagamaan. Panorama sosial itu bagaikan drama kolosal. Para aktor, yang terdiri dari para shoimin (orang-orang yang [mengaku] berpuasa), berakting mengikuti skrip teks demi teks yang dihafal. Mereka berakting dalam setting pentas (stage): rumah, masjid, dan pasar.  Mereka beradaptasi atas peran ganda yang dimainkan: Sebagai hamba Tuhan dan sebagai makhluk sosial.

Read more…

NIKMATNYA BERPUASA

NIKMATNYA BERPUASA

Oleh Mudjahirin Thohir

 

            Dalam tubuh manusia, terdapat segumpal darah. Begitu kata Rasul. Jika ia baik, baik pula keseluruhannya. Sebaliknya. Jika buruk, buruk pula seluruhnya. Segumpal darah itu adalah hati.

            Dalam bahasa lain, hati adalah qolbun.  Disebut qolbun karena memiliki sifat atau kecenderungan yang berubah-ubah. Terkadang, mengikuti dorongan id. Pada kali lain, mengikuti apa kata super-ego.

            Id adalah dorongan nafsu. Bersifat hewani. Hasratnya tertuju kepada kesenangan, kemewahan, dan keserakahan. Maklum, digerakkan oleh kekuatan setan. Sedang super-ego adalah hati nurani. Oleh Imam Ghozali, disebut  Nafsu muthmainnah. Ia bertindak atas dasar akal budi. Akal budi sering mengatur kehidupan bercorak manusiawi. Ketika id mengajak menyimpang, super-ego bilang: Jangan. Misalnya, jangan menipu, jangan korupsi, dan jangan semena-mena.

            Pergumulan tiada akhir antara id dan superego demikian, menjelaskan bahwa qolbun manusia,  berada di antara tarikan setan dan Tuhan. Apa yang disukai setan, dibenci Tuhan. Sebaliknya, tindakan yang sukai Tuhan, dibenci setan. Barangkali hanya satu hal yang sama-sama dibenci oleh keduanya, yaitu memperkosa anak-anak setan.

Read more…

MASYARAKAT PESISIR

SOSIOLOGI PEDESAAN

MASYARAKAT JAWA PESISIRAN

 

Oleh Mudjahirin Thohir

 

 

 

1. Pendahuluan

Pada dasarnya, manusia, dalam batas-batas tertentu, memiliki kepribadian, gaya hidup, dan kecenderungan-kecenderungan yang (a) sama dengan manusia lain; (b) sama dengan sebagian manusia lain; dan (c) tidak sama dengan manusia lain. Bagaimana ketiga kemungkinan itu bisa dijelaskan berdasarkan pada perspektif antropologis? Demikian pula, bagaimana karakteristik masyarakat Jawa Pesisiran, apakah mereka memiliki karakteristik yang khas dan berbeda dengan masyarakat Jawa yang berada dalam wilayah (sosialisasi) Negarigung dan Mancanegari? Jika memang menunjukkan perbedaan-perbedaan, maka pada masalah-masalah apa perbedaan itu bisa dilihat, dan faktor-faktor apa yang menyebabkan perbedaan itu ada? Kemudian ketika kita sudah bisa menandai corak dari masyarakat Jawa Pesisiran itu,  maka bagaimana kita bisa mendekati mereka secara pas sehingga sasaran untuk dapat memberdayakan potensi mereka dapat berjalan dengan baik?

        Dalam tulisan ini akan dibicarakan masalah tipologi masyarakat Jawa dan kebudayaannya, khususnya masyarakat Jawa Pesisiran.

 

2. Tipologi Masyarakat Jawa

Dilihat dari dekat jauhnya dari pusat-pusat pemerintahan administratif, masyarakat Jawa bisa dibedakan ke dalam dua jenis yaitu (a) mereka yang tinggal di perkotaan dan, (b) yang tinggal di pedesaan. Penduduk perkotaan adalah mereka yang tinggal di pusat-pusat kota propinsi, kota madya, dan kabupaten. Dewasa ini penduduk yang tinggal di pusat  kota kecil di Jawa seperti kawedanan dan kecamatan pun sudah bisa dikategorikan sebagai orang-orang kota. Masalahnya prasarana dan sarana perkotaan sudah mulai tersedia di daerah pusat-pusat  kawedanan dan atau kecamatan, kendati dalam skala yang lebih kecil dan terbatas. Salah satu ciri dari perkotaan – dalam unit yang paling kecil – warganya dipimpin oleh seorang lurah bukan kepala desa.  Ini berarti, desa-desa yang tersebar dan yang masih dipimpin oleh kepala desa masuk dalam kategori penduduk pedesaan. Namun demikian, ada juga desa-desa yang berdekatan dengan perkotaan, termasuk  penduduk yang ada di dalamnya, yang sudah mulai bisa memanfaatkan fasilitas dan bahkan bergaya hidup orang kota.

        Warga kota ataupun warga desa, keduanya tinggal secara menyebar dalam lingkungan yang berbeda.  Lingkungan hidup mereka, adakalanya berupa (a) pegunungan, (b) dataran, dan (c) pantai. Istilah pantai di sini lebih mengacu kepada “laut”. Jadi, masyarakat pantai adalah masyarakat yang tinggal di kawasan yang relatif dekat dengan laut. Jadi, masyarakat pantai adalah masyarakat yang tinggal di kawasan yang relatif dekat dengan laut. Tetapi kalau tinjauannya pada wilayah kebudayaan Jawa dari masa lalunya yaitu pada masa kerajaan Mataram[1], maka masyarakat Jawa di sini dapat dibedakan ke dalam tiga tipe wilayah kebudayaan, yaitu (a) negarigung, (b) mencanegari, dan (c) pasisiran.

        Daerah Negarigung yaitu daerah di seputar kota Solo dan Yogyakarta. Masyarakat di kedua daerah itu disebut “tiyang negari” (orang negeri). Kebudayaan yang dahulunya berakar dari keraton. Oleh karena berakar dari keraton, maka peradabannya masuk pada ketegori peradaban besar. Ciri dari peradaban ini ialah:  mengutamakan kehalusan (baik bahasa, tingkah laku, maupun kesenian).  Pandangan-pandangan keagamaannya (dahulunya) cenderung sinkretik (bandingkan pada Geertz, 1984, Koentjaraningrat, 1984).

Read more…

MASYARAKAT PESISIR

SOSIOLOGI PEDESAAN

MASYARAKAT JAWA PESISIRAN

 

Oleh Mudjahirin Thohir

 

 

 

1. Pendahuluan

Pada dasarnya, manusia, dalam batas-batas tertentu, memiliki kepribadian, gaya hidup, dan kecenderungan-kecenderungan yang (a) sama dengan manusia lain; (b) sama dengan sebagian manusia lain; dan (c) tidak sama dengan manusia lain. Bagaimana ketiga kemungkinan itu bisa dijelaskan berdasarkan pada perspektif antropologis? Demikian pula, bagaimana karakteristik masyarakat Jawa Pesisiran, apakah mereka memiliki karakteristik yang khas dan berbeda dengan masyarakat Jawa yang berada dalam wilayah (sosialisasi) Negarigung dan Mancanegari? Jika memang menunjukkan perbedaan-perbedaan, maka pada masalah-masalah apa perbedaan itu bisa dilihat, dan faktor-faktor apa yang menyebabkan perbedaan itu ada? Kemudian ketika kita sudah bisa menandai corak dari masyarakat Jawa Pesisiran itu,  maka bagaimana kita bisa mendekati mereka secara pas sehingga sasaran untuk dapat memberdayakan potensi mereka dapat berjalan dengan baik?

        Dalam tulisan ini akan dibicarakan masalah tipologi masyarakat Jawa dan kebudayaannya, khususnya masyarakat Jawa Pesisiran.

 

2. Tipologi Masyarakat Jawa

Dilihat dari dekat jauhnya dari pusat-pusat pemerintahan administratif, masyarakat Jawa bisa dibedakan ke dalam dua jenis yaitu (a) mereka yang tinggal di perkotaan dan, (b) yang tinggal di pedesaan. Penduduk perkotaan adalah mereka yang tinggal di pusat-pusat kota propinsi, kota madya, dan kabupaten. Dewasa ini penduduk yang tinggal di pusat  kota kecil di Jawa seperti kawedanan dan kecamatan pun sudah bisa dikategorikan sebagai orang-orang kota. Masalahnya prasarana dan sarana perkotaan sudah mulai tersedia di daerah pusat-pusat  kawedanan dan atau kecamatan, kendati dalam skala yang lebih kecil dan terbatas. Salah satu ciri dari perkotaan – dalam unit yang paling kecil – warganya dipimpin oleh seorang lurah bukan kepala desa.  Ini berarti, desa-desa yang tersebar dan yang masih dipimpin oleh kepala desa masuk dalam kategori penduduk pedesaan. Namun demikian, ada juga desa-desa yang berdekatan dengan perkotaan, termasuk  penduduk yang ada di dalamnya, yang sudah mulai bisa memanfaatkan fasilitas dan bahkan bergaya hidup orang kota.

Read more…

SUAP

SUAP

DALAM RANAH MASYARAKAT INDONESIA[1]

Perspektif Sosial Budaya

 

Oleh Mudjahirin Thohir[2]

Tuhan menghendaki agar kita membuat mudah dan tidak membuat sulit segala urusan manusia (yassiru, wa la tu’asysyiru), tetapi setan berbisik lain: “Kalau bisa dibuat sulit, mengapa harus dibuat mudah”, maka di antara birokrat pun lantas bersekutu dengannya untuk atas nama keuntungan dibalik mempersulit pelayanan.

  Read more…

Rangkaian kata dalam Facebook

mudjahirin

Mudjahirin Thohir Jangan katakan, “saya sudah menjadi orang baik”, tetapi usahakan “menjadi orang baik”. Dengan begitu, kita menjadi terbiasa melihat segala sesuatu dari sisi “baik”-nya. Kemampuan demikian menjadikan kita teguh pendirian, santun dalam ucapan dan tindakan; peduli terhadap kesulitan orang, apresiasi terhadap prestasi orang.

Mudjahirin Thohir Agama itu indah, siapa yang bisa menggapainya, maka hidupnya penuh dengan keindahan.

Mudjahirin Thohir Ada tiga kategori orang. Pertama, tidak tahu kalau dirinya tahu, maka ingatkanlah. Kedua, tahu kalau dirinya tidak tahu, maka ajarilah. Ketiga, tahu kalau dirinya tahu, maka doronglah agar ia mau berbagi pengetahuannya.

Mudjahirin Thohir Setiap orang berkapasitas berbuat kebajikan. Tugas kita ialah mendorongnya agar kebajikan itu diwujudkan.

Mudjahirin Thohir Setiap orang punya kelemahan/kekurangan. Tugas seorang kawan ialah melengkapi kelemahan/kekurangan itu, bukan sebaliknya, mengeksploitai untuk sebuah keuntungan yang merugikan orang lain.

Read more…

Improve the web with Nofollow Reciprocity.