Bedah Kamus Besar Bahasa Indonesia

June 10th, 2009 by mudjahirin

Kamis, 28 Mei 2009 | 19:18 WIB

SEMAmudjahirinRANG, KOMPAS.com- Jawa Tengah didaulat menjadi tuan rumah Konvensi Nasional III Forum Bahasa Media Massa (FBMM) yang akan digelar di Hotel Le Beringin Salatiga, 4-5 Juni mendatang.

Sekretaris Umum Pengurus Pusat FBMM Tri Agung Kristanto menjelaskan, konvensi diikuti oleh utusan FBMM, baik pengurus pusat maupun pengurus daerah, serta perwakilan Pusat Bahasa dan Balai Bahasa se-Indonesia. Konvensi antara lain untuk memilih pengurus dan merumuskan program kerja FBMM.

”Saat ini terdapat 12 kepengurusan daerah FBMM, yang kami harapkan masing-masing mengirim dua orang utusan,” kata Tri Agung yang juga wartawan Kompas itu.

Dia mengungkapkan, masa kepengurusan Pengurus Pusat FBMM periode 2007-2009 segera berakhir. Sesuai dengan program kerja yang ditetapkan, Pengurus Pusat FBMM pada akhir masa tugasnya mesti menyelenggarakan konvensi dan seminar terkait dengan perkembangan Bahasa Indonesia. ”Konvensi ini merupakan bagian dari pertanggungjawaban pengurus, selain untuk membentuk kepengurusan baru juga untuk membangun kembali silaturahmi dengan pengurus FBMM dari seluruh Indonesia,” tuturnya.

Bedah kamus

Tri Agung menjelaskan, bersamaan dengan konvensi, FBMM bekerja sama dengan Balai Bahasa Jawa Tengah menyelenggarakan seminar nasional ”Bedah Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) IV”. Seminar itu menghadirkan pembicara Meity Qudrotillah Taqdir (Pusat Bahasa), Prof Dr Liek Wilardjo (UKSW Sala tiga), Prof Dr Mudjahirin Thohir (Undip), serta TD Asmadi (Pengurus Pusat FBMM), dengan moderator Widiyartono R (Ketua FBMM Jateng).

”FBMM juga memiliki tugas untuk kian memasyarakatkan pengunaan Bahasa Indonesia yang baik, termasuk dengan menggunakan acuan kamus,” ujar Tri. Selain peserta konvensi, Tri mengatakan, FBMM juga mengundang kalangan perguruan tinggi, guru, media massa, serta pemerhati Bahasa Indonesia untuk mengikuti seminar bedah KBBI IV tersebut.

”Selama seminar dan konvensi, para peserta bisa memperoleh KBBI IV itu dengan harga khusus,” imbuhnya. (*)

CATATAN SEBELUM PENELITIAN LAPANGAN

May 24th, 2009 by mudjahirin

mudja

Catatan sebelum turun ke lapangan

Oleh Mudjahirin Thohir

I. Data

a. Data adalah segala sesuatu (baca: informasi), bisa dalam wujud: artefak, gambar, dokumen, laporan, maupun script hasil pengamatan, wawancara, maupun diskusi – yang memiliki relevansi (secara langsung atau tidak langsung) dengan masalah penelitian.

b. Untuk mengetahui (memiliki) kepekaan bahwa sesuatu itu relevan, sangat tergantung pada seberapa luas pemahaman para peneliti terhadap ranah atau taxonomi atas masalah penelitian tersebut.

c. Untuk memiliki pemahaman atas ranah/taxonomi masalah penelitian, sangat tergantung pada luasnya bacaan (di sini arti penting kajian kepustakaan) dan teori-teori yang terkait. (Ingat, fungsi teori ialah laksana jembatan bagi penyebrang, atau peta/denah bagi orang asing yang masuk daerah baru).

Read the rest of this entry »

AGAMA MASYARAKAT NELAYAN

May 24th, 2009 by mudjahirin

mudja3

AGAMA MASYARAKAT NELAYAN

Catatan untuk “Memahami Kehidupan Beragama Masyarakat Nelayan

di Jawa Tengah dan Jawa Timur”

Oleh

Mudjahirin Thohir[1]

  1. Muqodimah

Melakukan penelitian sosial keagamaan masyarakat nelayan merupakan serangkaian aktivitas intelektual dan fisikal, yang bergerak dan digerakkan oleh kebutuhan untuk memahami dan mengerti berbagai masalah (realitas) kehidupan beragama di kalangan mastyarakat nelayan secara ilmiah. Dengan ditemukan pemahaman dan pengertian atas realitas dimaksud, memungkinkan pihak-pihak terkait bisa melakukan serangkaian tindakan seperti pemberdayaan. Dengan demikian, penelitian (seyogyanya), memang tidak sekedar untuk memenuhi rasa ingin tahu (intellectual exercise) tetapi juga karena dorongan untuk melakukan perbaikan dan pemberdayaan masyarakat yang dipelajari.

Rasa ingin tahu terhadap realitas, didasarkan atas kaidah ilmiah (secara teoritik dan metodologik) sehingga temuan itu sendiri menjadi bermakna.

Teori sebagai serangkaian penjelasan logik, berfungsi untuk mengantarkan peneliti mengenali “lebih dekat” kemungkinan penjelasan berbagai gejala-gejala (realitas yang ingin dipelajari). Lewat teori, memungkinkan kita menyusun hipotesis[2]. Lewat hipotesis, memungkinkan peneliti lebih bisa mengfokuskan kebutuhan akan ‘informasi-informasi apa saja yang dianggap penting[3] dan karena itu harus dikumpulkan’. Bagaimana proses untuk mengumpulkan informasi? Di sinilah metodologi mengambil peran.

Read the rest of this entry »

KEMISKINAN DALAM PERSPEKTIF SOSIAL BUDAYA

May 23rd, 2009 by mudjahirin

KEMISKINAN DALAM PERSPEKTIF

SOSIAL BUDAYA[1]


Beberapa Pointers

Oleh Mudjahirin Thohir[2]

Pada dasarnya, setiap orang mau berubah, sepanjang perubahan yang ditawarkan itu mereka pahami lalu mereka yakini akan bisa meningkatkan kualitas kehidupan duniawi dan ukhrawinya. Di sinilah komunikasi dan kejujuran dibutuhkan. Selebihnya, adalah soal teknis dan sarana-prasarana.

Siapa orang Miskin?

  1. Miskin adalah kondisi yang secara umum menggambarkan seseorang atau suatu rumahtangga atau komunitas yang berada dalam serba kekurangan, terutama dalam kaitannya dengan pemenuhan kebutuhan yang paling dasar. Akibat dari itu yang bersangkutan mengalami berbagai keterbatasan baik terhadap peran-peran yang secara social, ekonomi, politik, maupun budaya yang harus dilakukan.
  2. Keterbatasan-keterbatasan dan pembatasan-pembatasan seperti itu, bisa karena akibat dari internal individu atau rumahtangga yang gagal beradaptasi terhadap lingkungan atau di dalam merespon perubahan. Pada saat yang sama, bisa terjadi sebaliknya, yaitu lingkunganlah yang melahirkan kemiskinan.

Read the rest of this entry »

CERITA RAKYAT

May 5th, 2009 by mudjahirin

Kesenian Rakyat, Hak Cipta, dan Penghargaan

§  Oleh Mudjahirin Thohir

UNTUK dapat hidup secara normal, masyarakat manusia membutuhkan tiga syarat dasar yakni pemenuhan kebutuhan fisikal, sosial, dan adab. Di antara kebutuhan adab itu ialah pemenuhan kebutuhan untuk dapat mengekspresikan cita rasa keindahan. Cita rasa keindahan yang terpancar dalam kesenian.

Read the rest of this entry »

PENELITIAN ILMIAH

April 26th, 2009 by mudjahirin

PENDAHULUAN

 Oleh Mudjahirin Thohir

 

Menanglah engkau dengan ilmu, hiduplah lama!

Orang lain mati, ahli ilmu terus hidup (Sayyidina Ali)

 

 

 

A

da  tiga  alat utama  bagaimana ilmuwan  itu bekerja. Pertama  bahasa, kedua logika, dan ketiga metodologi.  Ketiganya digunakan secara bersama untuk memahami fenomena sosial-budaya masyarakat yang dipelajari. Selebihnya dari itu adalah kejujuran.

            Bahasa dipakai sebagai alat mengungkap gagasan dan pikiran. Dengan begitu bahasa adalah alat komunikasi sekaligus alat untuk memahami isi dari komunikasi itu sendiri. Komunikasi antar-orang, termasuk komunikasi ilmuwan terhadap fenomena alam dan fenomena kebudayaan.

            Manusia menggunakan bahasa sesuai dengan yang dia ketahui dan yang dirasakan guna menyampaikan gagasan atau menerima gagasan, pemberitahuan, keluh-kesah, pernyataan menghormat, bersahabat, atau pernyataan permusuhan dari orang lain.  Siapa dia berkomunikasi dengan siapa, tentang hal apa,  di mana, untuk tujuan apa dengan cara bagaimana. Dengan demikian, cara orang mengekspresikan gagasan terkait dengan masalah-masalah di luarnya seperti  kesadaran atas status sosial dan tradisi yang berlaku dan diberlakukan. Mengapa cara mengekspresikan gagasan dengan cara seperti itu, tidak dengan cara lain, di sinilah analisis kebudayaan nantinya berbicara.

Read the rest of this entry »

PROSEDUR PENELITIAN ILMIAH

April 26th, 2009 by mudjahirin

PROSEDUR penelitian  ilmiah

 

 

4.1. Langkah-langkah Penelitian

 

Meneliti adalah melakukan serangkaian aktivitas intelektual secara sistematis, yaitu  dengan langkah-langkah yang teratur atau runtut.

               Langkah pertama, memilih bidang, topik kajian atau judul penelitian. Bidang kajian atau subjek ilmu.  Subjek ilmu dalam arti sebagai pokok persoalan yang dipelajari. Sedang judul, menjelaskan mengenai fokus atau ruanglingkup masalah yang dipelajari. Langkah pertama ini tidak datang dengan sendirinya, sebab timbulnya gagasan untuk meneliti biasanya karena telah didahului oleh serangkaian aktivitas lainnya seperti melakukan mengamatan awal atau membaca sekian banyak referensi sehingga diperoleh sejumlah informasi. Dengan demikian, gagasan untuk melakukan penelitian ilmiah bisa karena ingin membuktikan atau mempelajari lebih lanjut mengenai hal-hal atau informasi-informasi yang telah didapat sebelumnya yang dianggap belum cukup.

               Langkah kedua adalah melakukan kegiatan penelitian itu sendiri. Jika penelitian lapangan, maka aktivitas yang dilakukan ialah mengumpulkan data lapangan. Di dalam proses pengumpulan data lapangan itu, sejumlah hal harus dijalani, seperti masalah apa saja harus ditanyakan kepada siapa saja (informan), di mana dan kapan serta bagaimana melakukan wawancara. Ketika wawancara itu berlangsung, dalam suasana seperti apa sehingga informasi yang diberikan dapat terandalkan kebenarannya. Bagaimana pula mencatatnya, dan sebagainya.

               Langkah ketiga ialah menganalisis terhadap informasi, dalam arti memahami makna dari sekumpulan informasi yang telah didapatkan. Langkah keempat ialah menyusun laporan penelitiannya, dan langkah kelima adalah menyebar-luaskan hasil temuan.

                                      

 

 

 

 

4.2. Ruang lingkup Masalah Penelitian

Penelitian dilakukan umumnya didasarkan pada adanya  masalah, tujuan yang ingin dicapai, teori yang digunakan dalam melihat masalah, serta metode yang digunakan untuk menjawab masalah.

Read the rest of this entry »

KEBUDAYAAN

April 26th, 2009 by mudjahirin

KEBUDAYAAN

Oleh Mudjahirin Thohir

 

 

Pendahuluan

 

Kebudayaan pada dasarnya adalah keseluruhan pengetahuan yang dimiliki secara bersama oleh warga suatu masyarakat.  Pengetahuan yang telah diakui sebagai kebenaran sehingga fungsional sebagai pedoman. Satuan-satuan pengetahuan itu terumuskan dalam wujud kata-kata, kalimat-kalimat, ungkapan-ungkapan, pepatah-petitih, peribahasa, wacana-wacana, dalil-dalil, rumusan-rumusan, bahkan teori-teori. Keseluruhannya digunakan secara selektif dan kontekstual sesuai dengan  kebutuhan atau persoalan yang dihadapi. Penggunaan pengetahuan oleh orang per orang atau kelompok orang atau masyarakat, menggambarkan bahwa sejatinya pengetahuan dimaksud telah dipahami, diresapi, dan diyakini berkat adanya suatu proses pendidikan panjang (dari sejak kecil sampai dewasa) dalam bentuk internalisasi dan sosialisasi.

Read the rest of this entry »

FILOLOGI DAN KEBUDAYAAN

April 26th, 2009 by mudjahirin

FILOLOGI & KEBUDAYAAN

Oleh Mudjahirin Thohir

 

 

‎1. Pendahuluan

‎Filologi dan kebudayaan adalah dua istilah yang dalam cabang-cabang ilmu bisa dibicarakan dan membicarakan objek-objek kajiannya secara tersendiri. Tetapi substansi dari apa yang dibicarakan oleh filologi dan kebudayaan sebagai ilmu, pada dasarnya adalah tak terpisahkan.  Dilihat sebagai cabang-cabang ilmu tersendiri karena masing-masing telah memiliki fokus kajian, teori dan metodologi pendekatan serta tujuan yang hendak dicapai. Kedunya, relatif berbeda. Sedang substansi dari apa yang ingin diketahui oleh ilmu filologi dan ilmu kebudayaan untuk hal-hal tertentu adalah sama, yakni: artefak.

Read the rest of this entry »

TEKNOLOGI BARU

April 25th, 2009 by mudjahirin

PEMBANGUNAN TEKNOLOGI BARU DI INDONESIA: PERLUKAH? [1]

Oleh Mudjahirin Thohir[2]

1.       Pendahuluan

Ada adagium bahwa dalam kehidupan di dunia ini, semuanya akan berubah. Yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri. Jika demikian halnya, maka perubahan adalah keniscayaan. Keniscayaan perubahan itu, berdampak kepada masyarakat manusia secara tidak sama. Dalam satu sisi, berdampak negatif, tetapi dalam sisi yang lain berdampak positif. Negatif  atau positifnya dampak dari perubahan, terkait dengan kesiapan kita sendiri. Dalam hal ini, ada empat kategori masyarakat manusia mensikapi perubahan. Pertama, pasif bahkan apatis. Persetan dengan perubahan. Bukankah hidup itu bagaikan air, mengalir. Kedua, reaktif, yakni baru (akan) bereaksi ketika perubahan itu sudah datang di depan pintu rumah. Ketiga, adalah bersikap antisipatif. Artinya, sudah mengantisipasi kemungkinan terjadinya perubahan. Keempat, justru ikut proaktif melakukan perubahan itu sendiri. Tiga kelompok yang pertama, termasuk dalam kategori merespon atau menanggapi terhadap desakan dari luar, sementara kelompok keempat justru menjadi agent perubahan.

Read the rest of this entry »