Materi Kuliah Morfologi: Komposisi
Posted by: mujid in Uncategorized on July 30th, 2010
Materi dapat diunduh di sinikomposisi
Materi Kuliah Sintaksis: Pengertian Sintaksis
Posted by: mujid in Uncategorized on July 30th, 2010
Materi dapat diunduh di sini pengertian-sintaksis
Wacana: Macam-macam Wacana
Posted by: mujid in Uncategorized on July 30th, 2010
Materi dapat diunduh di sini Materi Wacana
Frasa Pronominal dalam Bahasa Indonesia
Posted by: mujid in Sintaksis Bahasa Indonesia on July 30th, 2010
Keberadaan frasa pronominal dapat terlihat dengan jelas pada pemakaiannya dalam kalimat dan adanya pengakuan dari para ahli bahasa. Unsur pembentuk frasa pronominal adalah pronomina ditambah kelas kata yang lain. Jadi, frasa pronominal merupakan perluasan pronomina. Frasa pronominal termasuk frasa yaitg bertipe endosentrik. Ada yang endosentrik atributif maupxin koordinatif baik tunggal maupun ganda.
ANALISIS KONTRASTIF KATA “LANANG” DAN “WADON” Suatu Tinjauan Sosiosemantik untuk Mengungkap Status Wanita Jawa
Posted by: mujid in Sosiosemantik on October 28th, 2009
Hendarto Supatra dan Mujid F. Amin
I. Pengantar
Berdasarkan informasi lapangan atau data empiris yang diperoleh oleh Amin Yitno dalam makalahnya berjudul “Gejala Matrifokalitas di Masyarakat ]awa” (1985) dapat disimpulkan bahwa keasimetrisan hubungan antara status pria dan wanita Jawa sejak dulu hanya terjadi pada ka-langan priyayi. Pada kalangan wong cilik, bahkan ibu atau wanita me-rupakan tokoh sentral di dalam keluarga: matrifokalitas itulah yang terjadi pada masyarakat Jawa. Modernisasi hanyalah memperkuat status kebilateralan hubungan status tersebut.
Informasi empirik tersebut di atas sangat berbeda dengan nilai-nilai yang dianggap luhur yang tertuang dalam berbagai karya sastra kuna yang jelas-jelas memberi pedoman atau petunjuk perilaku yang sekaligus juga menggambarkan status wanita Jawa yang ideal atau yang diingin-kan. Kenyataan ini barangkali bisa dijadikan sebagai petunjuk tentang te-lah adanya perubahan atau pergeseran nilai sosial pada masyarakat Jawa.
MACAM DAN FUNGSI GAYA BAHASA BERDASARKAN ‘LANGSUNG TIDAKNYA MAKNA YANG DINYATAKAN’ DALAM PROSA LIRIK PENGAKUAN PARIYEM KARYA LINUS SURYADI AG: SEBUAH KAJIAN STILISTIKA
Posted by: mujid in Stilistika on October 24th, 2009
Mujid Farihul Amin, Ary Setyadi, Redyanto Noor
Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra
Universitas Diponegoro Semarang
Permasalahan utama dalam penelitian ini adalah mengenai macam (-macam) ‘gaya bahasa’ yang ada dalam prosa lirik “Pengakuan Pariyem” dan fungsi atau manfaatnya.
Tujuan penelitian ini adalah untuk memberi gambaran bahwa: 1) gaya bahasa sangat berperan dalam membangun pengertian keindahan dalam karya sastra, 2) kehadiran ‘gaya bahasa’ dalam karya sastra dapat difungsikan untuk tujuan-tujuan tertentu, dan 3) keberadaan (ilmu) stilistika juga dapat dimanfaatkan untuk kajian karya sastra.
Metode yang dipakai dalam penelitian ini mencakup dua metode secara secara sekaligus, yaitu 1) metode yang berlaku dalam dunia (ilmu) bahasa dan (ilmu) sastra, dan 2) metode yang berlaku dalam bidang (ilmu) stilistika.
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa macam gaya bahasa berdasarkan `langsung-tidaknya makna (yang dinyatakan)` dalam prosa lirik Pengakuan Pariyem adalah: 1. gaya bahasa personifikasi; 2. gaya bahasa simile/persamaan; 3. gaya bahasa metafora; 4. gaya bahasa sinekdoke; 5. gaya bahasa hiperbola; dan 6. gaya bahasa eufemisme. Dilihat dari segi fungsinya gaya bahasa berfungsi sebagai pencipta unsur keindahan (estetika), pencipta kesan atau citraan, dan pemberi ciri penggunaan bahasa dalam (karya) sastra.
Saran yang dapat dikemukakan adalah upaya penelitian ini dipandang perlu ditindaklanjuti dengan mengadakan penelitian lanjutan mengenai macam dan fungsi gaya bahasa dengan objek penelitian yang berbeda.
BAHASA INDONESIA: BAHASA PENGANTAR DUNIA PENDIDIKAN
Posted by: mujid in Bahasa Indonesia on February 26th, 2009
Sampai 28 Oktober tahun 2006 ini, sudah 78 tahun usia bahasa Indonesia sejak pertama kali disebut secara resmi pada Soempah Pemoeda 28 Oktober 1928. Kurun waktu yang tidak dapat dikatakan sebentar, tetapi tidak juga terlalu tua. Dalam rentang waktu tersebut, berbagai peristiwa berkaitan dengan bahasa Indonesia terjadi. Kongres bahasa Indonesia, berbagai ejaan yang muncul sejak Ejaan van Ophuysen sampai Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, seminar-seminar, penelitian-penelitian, dan secara legal formal adalah ditetapkannya bahasa Indonesia secara resmi sebagai bahasa nasional dan bahasa negara dalam bab XV pasal 36 Undang-undang Dasar 1945.
Hello world!
Posted by: mujid in Uncategorized on February 24th, 2009
Welcome to Staff.undip.ac.id. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!