DIALOG CANGIK dan LIMBUK: (July 22nd, 2009 by ratna)

DIALOG CANGIK dan LIMBUK:

Dalam kajian feminisme

 

Dimuat di Kajian Sastra, No. 3, Tahun XXVIII,

halm 192-201, Juli 2004

 

 

Abstract

Cangik and Limbuk are additional figures in a leather puppet show and their dialogues do not belong to ‘Pakem’ (the core story). The dialogues and the figures of Cangik and Limbuk are presented to entertain and to evoke laugh from the audience. The scene of Cangik and Limbuk, because it interests a big number of audience, is often used to convey message from the government or sponsors. Considering that the creator of Cangik and Limbuk are a group of ‘dalangs’ (the persons who make the leather puppets alive) and ‘dalangs’ functions as the conveyor of the norms/values of the society in which they live which are Javanese and patriarchal at the same time, the paper attempts to analyze Cangik and Limbuk using the perspekstive of feminism. The result shows that the dialogues and the figures of Cangik and Limbuk are used as a media to convey what the society wants its women to behave. By positioning the women as intended by the Javanese-patriarchal society, the society can control the women; thus order will be maintained and the power of Javanese-patriarchal society will not be questioned and will be accepted as status quo.

 

Read the rest of this entry »

BEDAH BUKU Nh DINI “LA GRANDE BORNE” (July 22nd, 2009 by ratna)

BEDAH BUKU Nh DINI “LA GRANDE BORNE”

NASIB FEMINISME

DI DALAM KARYA-KARYA Nh DINI

 

 

(Dipresentasikan dalam acara ‘Peluncuran dan Bedah Buku La Grande Borne karya Nh. Dini,’ diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jawa Tengah di Gedung Prof. Sunardi, Jl. Hayamwuruk, Semarang, tgl. 5 Maret 2007)

 

 

 

Ketika suatu hari di pertengahan Februari saya yang sedang berada di Depok di telepon pak Triyanto untuk menjadi pembicara dalam peluncuran dan bedah buku tentang novel terbaru Nh Dini, saya sempat terkaget-kaget. Terus terang, ini pertama kalinya tawaran seperti ini datang. Saya sempat ragu, saya akan diminta berbicara tentang apa. “Ente bicara tentang feminisme,” kata pak TT (panggilan saya untuk pak Triyanto). “Tapi saya belum baca novel terbaru Nh Dini,” saya jawab dengan agak ragu; dan dengan sigap buku itupun segera dikirim ke saya melalui mas Mulyo bagus ketika saya pulang ke Semarang dan menengok Fakultas Sastra. Weekend terakhir bulan Februari (ketika saya sudah balik ke Depok lagi) saya khususkan membaca novel terbaru Nh Dini tersebut.

   Berdasarkan “pesanan” dari pak TT, saya gunakan perspektif feminisme dalam ‘membaca’ novel La Grande Borne. Memang, sejak beberapa waktu belakangan ini saya sedang berusaha fokus belajar dan belajar tentang feminisme; suatu cara pandang yang berbeda untuk melihat segala sesuatu dari perspektif perempuan. Cara pandang ini diyakini berbeda dengan perspektif laki-laki sehingga diharapkan lebih mampu melihat dengan kritis ketimpangan-ketimpangan dalam relasi gender yang selama ini belum/kurang terperhatikan. Dalam ‘membaca’ La Grande Borne saya terapkan dua pendekatan: Feminisme Psikoanalisis untuk menyoroti masalah seks dan perselingkuhan dan Feminisme Multikultur untuk melihat masalah seputar budaya (Jawa-Indo-Perancis) yang mewarnai novel tersebut.

 

Analisis Feminisme Psikoanalisis dalam La Grande Borne:

Agar supaya analisis dengan pendekatan Feminisme Psikoanalisis ini lebih mudah diikuti maka saya terpaksa memberikan garis besar cerita La Grande Borne: Tokoh perempuan dalam novel tersebut yang bernama Dini adalah perempuan Jawa berumur 40 tahun yang bersuamikan diplomat Perancis. Setelah tugas-tugas suami ke berbagai negara, mereka diceritakan menetap di Perancis, tidak jauh dari Paris. Tokoh Dini, suami Perancisnya, dan dua anaknya menetap di sebuah apartemen di kawasan La Grande Borne. Hubungan suami istri mereka sudah tidak diwarnai hubungan seks lagi sejak kelahiran anak kedua. Tokoh Dini diceritakan memiliki PIL, pelaut Perancis yang sering disebut Dini sebagai ‘Kaptenku’ dan dipanggilnya dengan nama Indonesia ‘Bagus.’ Mereka berusaha selalu bisa bertemu ketika ‘Kaptenku’ ini libur dari tugas berlayar. Pertemuan sembunyi-sembunyi ini diwarnai hubungan seks. Selain itu tokoh Dini juga ‘ditaksir’ dua lelaki Perancis lain, yang satu mencuri ciuman dari tokoh Dini dan dengan yang satunya lagi tokoh Dini ini menikmati petting.

            Dengan demikian ada empat laki-laki Perancis dalam kehidupan tokoh Dini (suami, ‘Kaptenku’, laki-laki Perancis yang mencium, serta laki-laki Perancis yang ‘petting’). Relasi tokoh Dini dengan empat pria Perancis yang diwarnai (pernah/agak diwarnai) hubungan seksual inilah yang menjadi dasar pijakan analisis Feminisme Psikoanalisis. Jika kita ingat konsep id-ego-superegonya Freud, maka ada beberapa hal menarik yang bisa kita tarik dari relasi tokoh Dini dengan empat lelaki Perancis ini. Yang pertama: masalah seks. Id (dalam kasus ini berupa dorongan seksual) tokoh perempuan bernama Dini yang selama ini ter-represi oleh budaya patriarkis Jawa (yang cenderung merepresi dorongan/pelampiasan seksual perempuan) membludak alias meluap dan  mendapatkan penyalurannya terutama dengan ‘Kaptenku’ dan kemudian dengan lelaki Perancis yang mengajaknya petting.

Yang kedua: masalah perselingkuhan. Perselingkuhan ini bisa dimaknai ganda. Pertama: selingkuh penis, yaitu tokoh perempuan Dini mengganti penis Jawa (yang tidak dipilihnya) dengan penis Perancis (malah lebih dari 1 penis!). Kedua: selingkuh seperego, yaitu tokoh perempuan Dini memilih mengganti superego Jawa patriarkis dengan superego Perancis. Hal ini bisa dibaca dari frasa berulang-ulang dari tokoh Dini ketika menyebut suami Perancisnya: “suami pilihanku sendiri.” Ternyata superego pilihan sendiri dari tokoh perempuan Dini ini sama patriarkisnya meskipun mungkin beda bentuk dan penerapannya dengan superego Jawa patriarkis yang dihindarinya. Suami (superego pilihannya sendiri) ternyata mengekang dan melecehkan keberadaan tokoh Dini sebagai perempuan yang dianggap ‘tidak tahu’ dan ‘tidak menghasilkan uang keperluan rumah tangga” sehingga kemudian tokoh Dini tidak dianggap memiliki hak berbicara dan harus menurut aturan represif suami Perancisnya. Penolakan tokoh perempuan Dini terhadap superego Perancis yang patriarkis-represif ini disimbolkan dengan cara hidup yang tanpa hubungan seks.

Ketiga: merasa tidak mendapatkan superego yang ‘pas’ seperti yang diinginkannya dari suami Perancis yang patriarkis, tokoh Dini ‘selingkuh superego’ lagi. Kali ini bukan dari superego Jawa ke superego Perancis, tetapi dari superego suami ke superego PIL (yang sama-sama Perancis). Muncullah sang ‘Kapten’ yang menawarkan superego idaman/ideal yang diangankan tokoh Dini. Superego yang Perancis-Jawa; yang memberi tempat pada ‘suara’ perempuan; yang bisa mengerti, menghargai, dan merealisasikan keinginan perempuan yang sering tidak terkatakan; yang tidak mendominasi, toleran, ‘tepa seliro’; yang mengutamakan/mau bermusyawarah dengan perempuan daripada keputusan sepihak dari laki-laki.

Berhentikah pencarian tokoh Dini atas superego ideal? Ternyata belum/tidak. Superego ideal yang ditawarkan ‘Kaptenku’ ternyata hanyalah bersifat imajiner alias bayangan, alias tidak riil. Hal ini bisa dibaca dari ‘matinya’ tokoh ‘Kaptenku’, meninggalkan tokoh Dini limbung dan groping in the dark (mencari-cari dalam kegelapan) lagi superego ideal idamannya. Maka petualangan tokoh perempuan yang bernama Dini mencari superego ideal bagi perempuan Jawa pun berlanjut. Munculnya laki-laki Perancis yang ‘naksir’ tokoh perempuan Dini dan mencuri paksa ciuman dari Dini bisa dibaca sebagai tawaran superego lain. Tetapi superego model ini ditolak tokoh Dini; tokoh Dini merasa terintimidasi oleh superego yang cenderung ‘mencuri paksa’ untuk masuk ini.

Tawaran bentuk superego yang lain muncul ke hadapan tokoh Dini. Hal ini disimbolkan dengan sosok lelaki Perancis super dewasa (supermatang) dengan siapa tokoh Dini melakukan ‘petting’. Bagaimana membaca relasi ini? Tokoh Dini tergoda tawaran superego yang sepertinya memahami kebutuhan perempuan (disimbolkan dengan kesediaan tokoh Dini melakukan ‘petting’) tetapi kemudian ia tidak melanjutkan lagi penjajagan superego baru ini. Tokoh Dini digambarkan lelah, sakit, dan pasrah. Ternyata mendaparkan superego ideal-idaman yang riil (tidak sekedar imajiner) bagi perempuan Jawa itu menguras fisik dan mental; dan pertanyaan yang menyergap dan menimbulkan gelisah yang sangat adalah: “Adakah superego ideal-idaman yang riil bagi perempuan (Jawa) itu?” Pertanyaan yang belum atau tak terjawab dalam novel terbaru Nh Dini yang berjudul La Grande Borne ini. Mungkin Nh Dini akan menjawabnya dalam novelnya yang kemudian. Kita nantikan saja, dan secara personal saya menantikannya dengan harap-harap cemas (atau cemasnya lebih banyak?).

            Jika id dan superego sudah dibahas, bagaimana dengan ego tokoh Dini? Ego tokoh Dini adalah ego yang bingung, ego yang nJawani ya tidak tetapi mPrancisi ya tidak. Ego yang setengah-setengah, yang terombang ambing dalam pencarian. Ego yang limbung yang mencari cantolan atau panutan superego yang ideal-idaman (yang ternyata bentuk riilnya tidak ada!). Untuk lebih memahami ego tokoh Dini yang limbung ini pembahasan akan beralih ke pendekatan Feminisme Multikultural.

 

Analisis Feminisme Multikultural dalam La Grande Borne:

Dalam novel terbaru Nh Dini ini ada dua budaya yang muncul yaitu budaya Jawa dan budaya Perancis. Selain itu ada budaya Indo/campur yaitu budaya Jawa Perancis yang muncul pada anak-anak hasil perkawinan tokoh perempuan Jawa bernama Dini dengan lelaki Perancis.

Budaya Jawa cukup kental mewarnai novel La Grande Borne, tidak saja penggunaan kata/frasa/ungkapan Jawa tetapi filosofi Jawa juga menyeruak di sana-sini yang sering diwakili oleh memori pitutur (nasehat) ibu tokoh Dini yang digambarkan Jawa ndeles (asli). Filosofi Jawa ini mencuat ketika tokoh Dini berada dalam keadaan tertekan atau menghadapi masalah berat. Budaya Jawa juga muncul dalam pengenalan situs-situs budaya Jawa kepada anak-anak tokoh Dini dan dalam masakan-masakan Jawa yang digemari keluarga tokoh Dini. Akan tetapi, budaya Perancis cukup mendominasi. Karena selain setting tempatnya sebagian besar di Perancis, tata cara bersosialisasi juga dalam budaya Perancis. Di apartemen keluarga tokoh Dini pun bahasa Perancis mendominasi (anak-anak tokoh Dini digambarkan berbahasa Perancis untuk bahasa sehari-hari, lumayan bisa berbahasa Inggris, dan tidak bisa berbahasa Jawa). Selain itu sosok suami tokoh Dini yang diplomat Perancis meskipun mengagumi situs-situs budaya Jawa (hobi memotret peninggalan budaya Jawa kuno) tetapi tetap sangat Perancis.

            Apa yang bisa dibaca dari relasi multikultur ini dengan pendekatan Feminisme Multikultural? Budaya Jawa letaknya hanya di seputar perut (diwakili masakan Jawa, misalnya nasi goreng), cenderung domestik (di dapur) serta personal (di benak tokoh Dini / memori petatah petitih Jawa). Budaya Perancis mendominasi baik dalam ranah rumah tangga tokoh Dini maupun dalam ranah publik. Tidak ada dialog atau titik temu dari dua budaya ini dalam rumah tangga tokoh Dini. Dialog antar budaya baru bersemi dalam relasi tokoh Dini dengan sang ‘Kapten.’ Akan tetapi hubungan dialogis harmonis antar budaya ini tergambarkan hanya muncul dalam tataran imajiner saja belum terwujud dalam tataran riil. Rencana ‘Kaptenku’ memboyong tokoh Dini dan kedua anaknya untuk memulai hidup baru bersama ‘Kaptenku’ belum sempat direalisasikan.

Tragisnya lagi dalam tataran imajiner inipun, hubungan dialogis harmonis antara budaya Jawa-Perancis juga terhenti mendadak, tanpa bisa dibangun kembali. Hal ini disimbolkan dengan putusnya komunikasi yang berupa ketidak-munculan surat atau dering telpun dari ‘Kaptenku’ yang dinantikan Dini dengan penuh harap. Dengan tidak adanya kesinambungan komukasi ini maka relasi multikultural yang dialogis-harmonis-partisipatif (boro-boro yang riil, bahkan yang imajiner sekalipun) tidak terwujud.

Hal lain yang bisa dibaca dengan menerapkan pendekatan Feminisme Multikultural terhadap La Grande Borne adalah kecenderungan ‘frankofilia’ yang ada pada tokoh Dini. ‘Frankofilia’ adalah kecenderungan mengagumi dan menyukai segala sesuatu yang berbau Perancis. Tokoh Dini digambarkan terlihat lebih memilih ‘sosis’ dan ‘sosok’ Perancis daripada Jawa.

 

Simpulan

Berdasarkan analisis dengan menggunakan pendekatan Feminisme Psikoanalisis dan Feminisme Multikultural terhadap novel terbaru Nh Dini yang berjudul La Grande Borne, dapat disimpulkan bahwa La Grande Borne adalah novel yang melodramatis dan patetis tentang perempuan yang jadi korban patriarki. Tokoh perempuan dalam novel ini cenderung mencari superego ideal yang nyaman di mana ia bisa nestle, atau angkrem atau mengeram dengan tenang dan penuh perlindungan. Jadi, tidak ada ‘heroinisme’ (dorongan untuk berjuang membebaskan diri/menentang penindasan patriarki Perancis) yang muncul dari tindakan-tindakan tokoh perempuannya. Lalu, bagaimanakah bentuk feminisme dalam La Grande Borne? Feminisme yang muncul adalah feminisme yang patetis (bukan ‘heroinis’) yang mencari dan sekaligus secara langsung maupun tidak mengukuhkan pilar superego patriarki (dalam kasus ini superego patriarkis Perancis). Jika demikian, sesuai dengan topik bedah buku ini: “Bagaimanakah nasib feminisme dalam karya-karya Nh Dini?” Jika yang dibayang-angankan adalah feminisme yang ‘heroinis’, maka nasib feminisme dalam karya Nh Dini akan sama dengan judul novel ini, La Grande Borne atau ‘jarak yang jauh.’ Jadi, masih jauhlah kalau kita menggantungkan harapan atas nasib feminisme (yang ‘heroinis’) dalam karya Nh Dini. Dalam bahasa gaul anak muda: Masih La Grande Borne, gitu loch!

 

 

Ratna Asmarani

Pemerhati masalah gender

PENDEKATAN FEMINIS DEKONSTRUKTIF-KULTURAL (July 21st, 2009 by ratna)

PENDEKATAN FEMINIS DEKONSTRUKTIF-KULTURAL
TERHADAP ANNA AND THE KING
Ratna Asmarani
Fakultas Sastra, Universitas Diponegoro, Semarang

Abstract:
This paper focuses on analyzing the novel entitled Anna and the King using the feminist cultural deconstructive approach. The purpose is to dig out the hidden meaning contained in the novel through deconstructive approach from a feminist perspective about two different cultures (British and Siam) that interact for a long time. The result shows that each side –Anna the British woman and King Maha Mongkut of Siam– deconstructs and is deconstructed in the process of interaction. Both, in the long run, have a blend of cultures for their own betterment and for the betterment of the people around them.

Key-words: deconstructive apprach, feminist perspective, different cultures

 

Read the rest of this entry »

Hello world! (July 17th, 2009 by ratna)

Welcome to Staff.undip.ac.id/sastra. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!