Esei Sastra
KONTESTASI KESALEHAN RITUAL VERSUS SOSIAL
(Kritik Sosial terhadap Praktik Keberagamaan)
Oleh Siswo Harsono
Kajian sosiologis cerpen “Robohnya Surau Kami” karya AA Navis memerlukan beberapa lapis analisis. Pertama, analisis yang berkaitan dengan surau itu sendiri sebagai tempat ibadah. Kedua, analisis yang berkaitan dengan tokoh kakek sebagai marbot atau penjaga surau yang mati bunuh diri. Ketiga, analisis yang berkaitan dengan tokoh Haji Saleh sebagai seorang ahli ibadah yang masuk neraka menurut cerita Ajo Sidi pada si kakek. Ketiga lapis analisis tersebut berkaitan deangan beberapa persoalan sosial. Robohnya surau berhubungan dengan ketuaan secara fisik bagunannya, secara personal penjaganya, dan secara ritual yang anti-sosial.
Fisik bangunan surau yang sudah usang menunjukkan ketidakpedulian umat terhadap rumah ibadah tersebut. Keusangan tersebut seiring dengan ketuaan si kakek penjaga surau. Kakek tersebut hidup dengan penuh pengabdian terhadap agama yang diwujudkan dengan kesetiaannya menjaga surau seorang diri. Ketaatannya dalam beragama lebih mementingkan beribadah daripada bekerja. Secara ritual kakek itu seorang yang saleh, namun secara sosial dia hanyalah seorang pengasah pisau bagi masyarakat di sekitarnya. Pekerjaan mengasah pisau ini bermanfaat bagi para wanita dan pria yang memerlukan ketajaman pisau-pisaunya. Namun pekerjaan tersebut hanya menjadi mata pencaharian yang ala kadarnya. Dengan kata lain, tidak menguntungkan secara finansial.
Keberagamaan si kakek menjadi bahan olok-olok oleh si pembual Ajo Sidi. Dia memperolok-olok si kakek dengan menceritakan kisah Haji Saleh yang konon walaupun saleh secara ritual tetap dimasukkan ke dalam neraka oleh Tuhan karena dia selama hidupnya tidak memiliki kesalehan sosial sama sekali. Pada intinya kesalehan ritual Haji Saleh tidak dapat menyelamatkan dirinya dari siksa neraka karena dia tidak memiliki kesalehan sosial. Kesalehan ritual bahkan menjadikan Haji Saleh sombong dan individualis. Kesombongan seorang yang saleh yang merasa pasti masuk surga. Kesombongan seorang individualis yang merasa tidak memerlukan orang lain dalam keberagamaannya. Hubungan vertikal antara dia dan Tuhan adalah satu-satunya tiket masuk surga.
Cerita Ajo Sidi memutarbalikkan perkara tersebut. Baginya, yang paling penting adalah kesalehan sosial. Hubungan horisontal antara sesama manusia itulah yang dapat menyelamatkan manusia dari siksa neraka, dan dapat dijadikan tiket masuk surga. Kesalehan sosial diwujudkan dengan bekerja. Bagi Ajo Sidi, bekerja lebih utama daripada beribadah. Cerita Haji Saleh digunakan untuk mendekonstruksi keberagamaan yang berorientasi pada kesalehan ritual. Dengan cerita tersebut, kesalehan sosial yang diwujudkan dengan bekerja menjadi lebih utama.
Kontestasi kesalehan ritual dengan kesalehan sosial dimenangkan oleh yang terakhir. Si kakek mati bunuh diri setelah mendengar kisah Haji Saleh masuk neraka. Sedangkan Ajo Sidi tetap bekerja pada hari si kakek meninggal. Keberlangsungan hidup dengan terus bekerja merupakan simbol kemenangan kesalehan sosial. Sebaliknya kematian si kakek merupakan kekalahan kesalehan ritual di dunia, dan dimasukkannya Haji Saleh ke dalam neraka merupakan kekalahan kesalehan ritual di akherat.
Inilah isu sosial yang penting dalam cerpen “Robohnya Surau Kami” karya AA Navis. Meskipun demikian, persoalan sosiologi sastra tidak berhenti pada level tekstual saja, namun berlanjut pada level kontekstual yang berkaitan dengan persoalan produksi-konsumsi sastra. Dari sisi produksi, sosiologi sastra perlu melibatkan kajian penulis dan penerbit. AA Navis sebagai penulis cerpen tersebut juga terikat dengan lingkungan sosio-kulturalnya. Sebagai orang Padang, dia hidup dalam lingkungan sosial dan budaya Minangkabau. Di satu pihak masyarakat Minangkabau adalah masyarakat yang religius; di pihak lain, masyarakat tersebut juga memiliki budaya perdagangan yang selalu merantau.
Kesalehan rutual merupakan representasi dari masyarakat Minangkabau yang religius. Sedangkan kesalehan sosial yang diwujudkan dalam bekerja merupakan representasi dari masyarakat pedagang.
Si kakek penjaga surau hidup dalam habitus (meminjam istilah Bourdieu) religius yang selalu beribadah secara ritual. Sedangkan Ajo Sidi yang selalu merantau hidup dalam habitus sosial yang selalu bekerja. Bagi masyarakat religius, cerita keagamaan merupakan tuntunan kehidupan. Bagi masyarakat perantau, cerita dari berbagai tempat yang identik dengan bualan menjadi bahan hiburan. Dalam kontestasi kedua habitus itulah masyarakat Minangkabau yang ritual dikalahkan oleh yang sosial, beribadah dikalahkan oleh bekerja.
AA Navis sebagai seorang juru dakwah secara naratif menggunakan kisah Haji Saleh sebagai kritik sosial terhadap kehidupan keberagamaan yang hanya mementingkan kehidupan ritual tetapi mengabaikan kehidupan sosial. Tentu saja sasaran kritik AA Navis tidak terbatas pada masyarakat Minangkabau saja, alusi latar yang menyangkut Indonesia menunjukkan sasaran kritik kehidupan keberagamaan dalam sekala nasional.
Dalam segi konsumsi sastra, cerpen “Robohnya Surau Kami” tentu saja ditujukan untuk konsumsi nasional karena menggunakan Bahasa Indonesia. Hal tersebut akan berbeda jika cerpen itu ditulis dalam Bahasa Minangkabau. Kata “Surau” mengacu pada tempat ibadah masyarakat kampung Islam, bukan Hindu, Buddha, Konghucu, Kristen, atau Yahudi. Adapun kata “Kami” mengacu pada komunitas pemilik surau tersebut. Dengan demikian tidak terjadi totalisasi terhadap keruntuhan tempat ibadah dan praktik keberagamaan secara universal.***