Filsafat Sastra

SASTRA DAN FILSAFAT

Oleh Siswo Harsono

Pokok persoalan filosofis berkaitan dengan tema dan pesan dalam karya sastra baik secara intrinsik melalui jenis-jenis tokoh maupun  teknik-teknik  penokohan dalam karya sastra yang meliputi deskripsi, dramatisasi, solilokui, opini, dan kontekstualisasi. Filsafat yang dijadikan acuan dalam tulisan ini adalah eksistensialisme Sartre.

Persoalan eksistensialisme Sartrean berkaitan dengan persoalan religious manusia yang memiliki tiga kategori, pertama being-in-itself, being-for-itself, dan being-for-other. Persoalan ontologis ini berkaitan dengan tokoh dan penokohan dalam karya sastra, terutama dengan persoalan self seseorang sebagai tubuh dan sebagai kesadaran serta sebagai liyan. Dalam kaitannya dengan penokohan, secara deskriptif berkaitan dengan eksistensi fisik tokoh, secara dramatic berkaitan dengan perilaku yang dipilih oleh tokoh tersebut, secara solilokui berkaitan dengan kesadaran diri tokoh, secara opini berkaitan dengan komentar liyan terhadap tokoh tersebut, dan secara kontekstual berkaitan dengan being-in-the world, keberadaan tokoh tersebut di dalam lingkungan dunianya.

Pokok persoalan eksistensial yang lain yang khas Sartrean adalah konsep relasi antar manusia yang bersumber pada konflik. Konflik tersebut memposisikan situasi tokoh yang selalu antagonistic terhadap tokoh yang lain. Lebih ekstrim lagi menurut Sartre, orang lain adalah neraka sebagai mana terdapat dalam salah satu dramanya yang berjudul No Exit.

Tema-tema eksistensial yang lain misalnya cinta. Menurut Sartre, relasi cinta juga merupakan relasi konflik karena dalam relasi tersebut ada usaha-usaha perebutan dan penaklukan subjektivitas. Artinya, orang yang mencintai berusaha mengobjektivikasi orang yang dicintainya, dan sebaliknya orang yang diobjektivikasi tersebut berusaha mengobjektivikasi balik.

Tema yang lainnya adalah freedom (kebebasan). Tema ini merupakan tema yang diperjuangkan oleh para eksistensialis untuk memperoleh kemerdekaan dalam kehidupan setiap individu tanpa diintervensi oleh siapapun. Perjuangan terhadap kebebasan ini dalam eksistensialisme Sartrean bahkan sampai menihilkan eksistensi Tuhan, oleh karena itu eksistensialisme Sartre merupakan eksistensialisme sayap kiri atau eksistensialisme atheis. Bagi Sartre, eksistensi Tuhan merupakan sumber ketidakbebasan karena manusia tidak dapat bersembunyi dari keberadaan-Nya. Satu-satunya cara untuk memperoleh kebebasan hanyalah dengan menihilkan-Nya.

Tema yang berikutnya adalah kematian. Tema ini dianggap sebagai persoalan yang bertolak belakang dengan eksistensi manusia. Dengan kata lain kematian adalah puncak absurditas keberadaan manusia dalam ketidakbermaknaan. Akan tetapi, bagi Heidegger kematian justru merupakan tujuan hidup manusia yang disampaikan dalam aporisme terkenalnya yaitu sein zum tode—ada untuk mati.

Sedangkan tema eksistensial yang berkaitan dengan gender dalam eksistensialisme adalah adanya anggapan laki-laki sebagai the first sex dan perempuan sebagai the second sex. Dengan demikian kedudukan perempuan dalam eksistensialisme Sartre berada pada posisi subordinat di bawah laki-laki sebagai superordinat. Feminisme eksistensial sebagai salah satu tema dalam sastra berkaitan dengan relasi eksistensial antargender yang berada dalam posisi sub/superordinat. Posisi hirarkis ini menunjukkan ketidaksetaraan yang tentu saja dalam konteks feminis bersifat tidak adil.

Tema-tema tersebut di atas di samping sebagai tema-tema filosofis juga sering menjadi tema-tema sastra. Dalam novel dan drama Sartre itu sendiri sering memiliki kesamaan tematis dengan risalah filsafatnya. Dalam novel La Nause, Sartre menunjukkan relasi konflik eksistensial manusia antara diri dengan liyan yang sering menimbulkan rasa muak, sebagaimana menjadi judul novel tersebut. Dalam drama No Exit, Sartre menampilkan kondisi manusia yang berada dalam pintu tertutup tanpa jalan keluar sehingga kondisinya mirip dengan situasi neraka, akan tetapi tidak ada api neraka, yang ada hanyalah liyan.

Sedangkan tema-tema absurdisme seperti yang digambarkan oleh Albert Camus juga sangat eksistensial. Misalnya dalam novel The Stranger, Camus menyampaikan hilangnya subjektivitas tokoh Meursault yang diobjektivikasi dalam pengadilan. Di samping itu, atheism tokoh tersebut tampak ketika ia lebih memilih hukuman mati daripada pertobatan di depan Tuhan. Pilihan terhadap kematian identik dengan konsep Heidegger, Sein zum Tode. Dalam novel La Peste, Camus menunjukkan sikap rasionalis atheis. Dr. Reux yang menganggap bahwa pes adalah persoalan penyakit yang alamiah bukan persoalan kutukan Tuhan terhadap manusia sebagaimana anggapan Paul Teureu. Persoalan tersebut juga berkaitan dengan konsep filosofis Camus tentang The Wall. Dalam konsep tersebut, dunia dianggap sebagai hanya berada di dalam dinding empiris manusia, sedangkan dunia di luar dinding tersebut dianggap tiada. Dengan demikian hal-hal yang ada di luar dinding empiris manusia seperti Tuhan, surga, dan neraka semua itu tidak ada.

Pokok dan tokoh eksistensialis dalam khasanah sastra Inggris digarap antara lain oleh Henrik Ibsen dan George Bernard Shaw. Walaupun kedua dramawan tersebut banyak mengungkap persoalan sosial, relasi konflik antar tokoh dan masyarakat tipikal eksistensial. Dalam khasanah sastra Rusia, pokok dan tokoh eksistensialis digarap antara lain oleh Ivan Turgenev dalam novel Father and Son. Tokoh novel tersebut, Bazarov menunjukkan sikap eksistensialis yang bertentangan dengan ayahnya yang religius. Konflik ayah-anak tersebut sebenarnya merupakan konflik antargenerasi di Rusia. Kemenangan Bazarov adalah kemenangan atheism.

Pokok dan tokoh dalam perspektif filsafat sebenarnya berkaitan dengan isme-isme lain di dalam dunia filsafat. Selain eksistensialisme pokok dan tokoh sastra Inggris juga sering mengangkat filsafat positivisme, utilitarianisme, humanism, empirisme, dan lain-lain.

Berdasarkan kajian tersebut, pokok persoalan filosofis berkaitan dengan tema dan pesan moral dalam karya sastra. Tema eksistensial berkaitan dengan moralitas eksistensial yang lebih mementingkan kemanusiaan. Tema positivistik berkaitan dengan moralitas ilmiah yang lebih mementingkan keeksakan hidup manusia. Tema utilitarian berkaitan dengan azas manfaat yang lebih mementingkan kemaslahatan umat manusia. Tema humanis berkaitan dengan moralitas kemanusiaan yang dibangun dan dilaksanakan secara bertanggungjawab oleh manusia. Tema empiris berkaitan dengan moralitas factual yang lebih mementingkan pengalaman hidup manusia.

Improve the web with Nofollow Reciprocity.