Ideologi

Ideologi, Hegemoni, dan Dekonstruksi

Oleh Siswo Harsono

1. Pendahuluan

Tulisan ini merupakan respon terhadap persoalan ideologi, hegemoni, dan dekonstruksi. Respon ini tidak berusaha mecari kelemahan dan keunggulan terhadap definisi-definisi tentang ideologi, hegemoni, dan dekonstruksi, akan tetapi lebih memfokuskan diri pada konsep-konsep kunci dari definisi-definisi tersebut. Konsep-konsep yang dipilih antara lain perjuangan kekuasaan (power struggle), perjuangan wacana (discourse struggle), perjuangan kelas (class struggle), dan perjuangan gender (gender struggle) yang berkaitan erat dengan persoalan ideologi, hegemoni, dan dekonstruksi.

2. Ideologi

Ideologi secara sederhana dapat dipahami sebagai pengetahuan tentang gagasan yang berkaitan dengan sistem pemikiran, sistem kepercayaan, dan sistem tindakan. Dalam sistem pemikiran, ideologi sering dijadikan alat legitimasi terhadap kebenaran. Dalam sistem kepercayaan, ideologi dijadikan landasan keyakinan. Adapun dalam sistem tindakan, ideologi dijadikan pedoman perilaku manusia. Dengan demikian, ideologi dijadikan acuan berpikir, berkeyakinan, dan bertindak.

Ideologi sebagai alat legitimasi digunakan oleh kelompok sosial yang dominan untuk menguasai kelompok-kelompok lain yang tidak dominan. Bagi kelompok yang tidak dominan, ideologi dijadikan alat resistensi untuk melakukan penolakan dan subversi terhadap ideologi dominan. Ideologi Marxis misalnya dijadikan alat resistensi dan subversi terhadap ideologi kapitalis. Anggapan bahwa ideologi sebagai kesadaran palsu pada dasarnya adalah pernyataan kritis untuk menolak dominasi ideologi. Dengan kata lain, antagonisme antara ideologi dominan dengan ideologi subversif merupakan perseteruan antara ideologi yang berkuasa secara terbuka dengan ideologi yang dikuasai secara tersembunyi.

Konsep tentang hubungan ideologi dengan perjuangan kelas pada dasarnya merupakan perjuangan ideologis untuk menaikkan kelas sosial menjadi kelas yang berkuasa. Perjuangan ideologis tersebut diejawantahkan dalam perjuangan kekuasaan (power struggle), dan  perjuangan wacana (discourse struggle). Dalam konteks gender dapat pula berbentuk perjuangan  gender (gender struggle).

Ketiga konsep tersebut pada dasarnya merupakan perwujudan dari ideologi sebagai alat perjuangan kekuasaan, perjuangan wacana, dan perjuangan gender untuk melakukan subversi, resistensi, dan bahkan revolusi terhadap ideologi kelas maupun ideologi gender yang berkuasa. Sebaliknya, ideologi bagi kelas yang berkuasa merupakan alat untuk pertahanan diri, legitimasi, serta untuk mendominasi.

3. Hegemoni

Jika ideologi sebagai alat legitimasi dan dominasi dilakukan dengan paksaan, maka hegemoni dilakukan dengan persetujuan dari kelas sosial yang didominasi. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hegemoni adalah ideologi tanpa paksaan atau ideologi yang diterima dengan persetujuan.

Hegemoni sebagai alat legitimasi dan dominasi tanpa paksaan tersebut dapat berbentuk hegemoni intelektual, hegemoni sosial, maupun hegemoni kultural. Cara kerja hegemoni sangat halus sehingga kelas sosial yang dihegemoni tidak menyadarinya atau bahkan mendukungnya tanpa sikap kritis sama sekali. Hegemoni intelektual dilakukan melalui sistem pendidikan, hegemoni sosial dilakukan melalui organisasi sosial, adapun hegemoni kultural dilakukan melalui bentuk-bentuk kebudayaan dan gaya hidup

Hegemoni intelektual yang dilakukan melalui sistem pendidikan berhubungan dengan legitimasi lembaga tersebut terhadap peserta didik dengan memberikan materi pendidikan yang menjanjikan serta fasilitas yang diberikan dengan penuh kemudahan. Dengan cara demikian, ideologi yang berkuasa dapat diterima dengan penuh persetujuan dan kepatuhan. Misalnya, intelektual yang dididik dalam ideologi kapitalis menerima dan menyetujui dominasi ideologi tersebut tanpa resistensi apalagi melakukan subversi. Sedangkan intelektual yang dididik dalam ideologi Marxis akan melakukan kritik dan resistensi bahkan subversi terhadap ideologi kapitalis.

Hegemoni sosial yang dilakukan melalui pembentukan dan kerjasama organisasi-organisasi sosial pada dasarnya mengacu pada kesamaan ideologis. Artinya, ideologi organisasi sosial yang dominan mendominasi organisasi-organisasi sosial di bawahnya tanpa melakukan kritik ideologis sama sekali. Adapun organisasi sosial yang berbeda ideologi akan melakukan resistensi terhadap ideologi yang mendominasinya,. Meskipun demikian, hegemoni lintas-ideologi dapat dilakukan dengan kontestasi-kontestasi ideologis terhadap organisasi-organisasi sosial. Kontestasi ideologis tersebut dapat diterima oleh organisasi sosial yang mengakui keunggulan ideologisnya.

Hegemoni kultural yang dilakukan dengan promosi serta kontestasi budaya dapat diterima dan disetujui oleh budaya lain yang mengakui keunggulan budaya dominan. Penerimaan tersebut dapat berupa penggunaan artefak-artefak kebudayaan maupun peniruan-peniruan gaya hidup. Misalnya, produk budaya kapitalis dapat diterima oleh masyarakat sosialis sejauh produk tersebut tidak bermuatan politis secara terbuka. Gaya hidup masyarakat kapitalis dapat ditiru oleh masyarakat lain yang mengakui gaya hidup tersebut sebagai lebih unggul, lebih baik, dan lebih menyenangkan.

4. Dekonstruksi

Secara sederhana, dekonstruksi dapat dipahami sebagai pembongkaran terhadap sebuah konstruksi untuk melakukan rekonstruksi. Dalam konteks ideologi dan hegemoni, dekonstruksi dijadikan alat untuk membongkar dominasi ideologi dan hegemoni. Dekonstruksi ideologi dapat dilakukan dengan membongkar titik kelemahan ideologi dominan. Dekonstruksi hegemoni dapat dilakukan dengan membongkar strategi-strategi hegemonik yang mendominasi.

Dekonstruksi dapat juga diarahkan pada relasi kekuasaan dan wacana ideologi kelas sosial yang dominan. Dekonstruksi kekuasaan (power deconstruction) merupakan strategi perjuangan kekuasaan (power struggle) dari kelas sosial yang didominasi. Dekonstruksi wacana (discourse deconstruction) juga merupakan perjuangan wacana (discourse struggle) dari kelas sosial yang didominasi. Dalam perjuangan gender (gender struggle) misalnya, ideologi patriarki sebagai ideologi dominan didekonstruksi dengan menggunakan perjuangan kekuasaan (power struggle) dan perjuangan wacana (discourse struggle) dengan tujuan untuk melakukan rekonstruksi relasi kekuasaan antargender yang berkeadilan.

5. Simpulan

Ideologi, hegemoni, dan dekonstruksi dapat digunakan sebagai entry point terhadap persoalan sosial politik dan budaya yang berkaitan dengan perjuangan kekuasaan dan perjuangan wacana yang dilakukan oleh kelas sosial yang didominasi.

Dalam kaitannya dengan sastra populer, kajian terhadap ideologi dan hegemoni dapat dilakukan pada lapis perjuangan wacana. Artinya, sastra populer dapat dijadikan objek kajian untuk melihat perjuangan kekuasaan dan perjuangan wacana kelas sosial yang didominasi serta untuk mendekonstruksi ideologi dan praktik-praktik hegemonik dari kelas sosial yang dominan.

Sastra populer itu sendiri dapat dikontestasikan dengan sastra elit yang berkaitan dengan  ideologi elit sosial yang dominan. Dengan demikian, sastra populer dapat dipahami sebagai perjuangan wacana dari kelas sosial yang didominasi. Antagonisme elit/populer merupakan antagonisme ideologis dari kelas sosial yang dominan dengan kelas sosial yang didominasi.

Althusser, Louis. 2004. Tentang Ideologi: Marxisme Strukturalis, Psikoanalisis, Cultural Studies. Diterjemahkan oleh Olsy Vinoli Arnof. Yogyakarta: Jalasutra.

Bocock, Robert. 2007. Pengantar Komprehensif untuk Memahami Hegemoni. Diterjemahkan oleh Ikramullah Mahyuddin. Yogyakarta: Jalasutra.

Gramsci, Antonio.2000. Sejarah dan Budaya. Diterjemahkan oleh Ira Puspitorini dkk. Surabaya: Pustaka Promothea.

Thompson, John B. 2007. Analisis Ideologi: Kritik Wacana Ideologi-Ideologi Dunia. Diterjemahkan oleh Haqqul yaqin. Yogyakarta: IrciSod.

Improve the web with Nofollow Reciprocity.