Patron Sastra

PATRONASE SASTRA

Oleh Siswo Harsono

Pengertian Patronase

Patronase adalah dukungan, pemberdayaan, pemberian, dan sering berupa bantuan finansial yang diberikan oleh sebuah organisasi kepada organisasi lain atau orang lain. Dalam sejarah seni, patronase seni mengacu pada dukungan para raja atau para pendeta terhadap para musisi, pelukis, dan perupa. Istilah tersebut dapat juga mengacu pada hak pengayoman dari kantor pemerintah atau gereja, bisnis yang diberikan pada sebuah toko oleh pelanggan tetap, dan penjagaan para orang suci. Patronase berasal dari bahasa Latin, patronatus, hubungan formal antara seorang Patronus dengan klien.[1]

Patronase Tradisional

Patronase terutama terjadi dalam dunia seni. Dari zaman dahulu sampai sekarang patronase seni merupakan hal penting dalam sejarah seni. Hal tersebut diketahui dari rincian-rincian paling penting yang mengacu pada zaman pertengahan pramodern dan renaisan Eropa, walaupun patronase dapat juga dilacak pada zaman feodal Jepang, kerajaan-kerajaan tradisional di Asia Tenggara, dan di tempat-tempat lain—patronase seni cenderung muncul ketika sistem kebangsawanan atau imperial dan aristokrasi mendominasi masyarakat dan mengontrol penyebaran sumber-sumber budaya yang penting. Samuel Johnson mendefinisikan patron sebagai orang yang melihat tanpa mempedulikan orang yang memperjuangkan hidupnya di dalam air dan ketika dia tenggelam sampai ke dasar baru memberikan bantuan.

Para penguasa, para bangsawan dan para pengusaha kaya menggunakan patronase seni untuk mempropagandakan ambisi-ambisi politik, posisi sosial dan prestise. Dengan demikian, para patron beroperasi sebagai sponsor seni. Beberapa bahasa masih menggunakan istilah mecenate (maicena), berasal dari nama Gaius Maecenas, teman akrab dan penasehat Augustusus, Kaisar Romawi. Beberapa patron seperti Medici of Florence, menggunakan patronase seni untuk membersihkan kekayaan yang diperolehnya secara curang. Patronase seni terutama penting dalam kreasi seni religi. Gereja Katolik Roma dan kemudian kelompok Protestan mensponsori seni dan arsitektur sebagaimana dapat dilihat dalam gereja-gereja, katedral-katedral, lukisan, patung, dan kerajinan tangan.

Ketika sponsor untuk para seniman dan komisi seni diketahui sebagai aspek terpenting dari sistem patronase, disiplin lain juga mengambil keuntungan dari patronase meliputi mereka yang mempelajari filsafat alam (ilmu pramodern), para musisi, para penulis, para filusuf, para ahli kimia, para astrolog, dan para sarjana lain. Para seniman yang terpenting dan terkemuka seperti Chretien de Troyes, Leonardo de Vinci, Michelangelo, William Shakespeare, dan Bend Jonson, semua mendapatkan dan menikmati dukungan dari para patron bangsawan dan rohaniawan.

Patronase Modern

Musisi seperti Mozart dan Beethoven juga berperan serta dalam sistem tersebut dalam beberapa hal, yang berhubungan dengan kebangkitan kaum borjuis dan kapitalis pada abad ke-19 dimana kebudayaan Eropa menjauhi dari sistem patronase tradisionalnya menuju sistem yang mendapat dukungan publik dari museum-museum, teater-teater, masyarakat penonton, dan konsumsi massa yang mulai akrab dalam dunia kontemporer.

Sistem tersebut berlanjut melintasi berbagai bidang seni. Walaupun hakikat sponsor telah berubah—dari gereja ke yayasan-yayasan donatur, dan dari aristokrat ke plutokrat—istilah patronase memiliki konotasi yang lebih netral daripada dalam bidang politik. Secara sederhana, istilah tersebut mengacu pada dukungan (sering berupa finansial) terhadap seorang seniman, dengan berupa hibah. Pada paruh terakhir abad ke-20, kajian akademik patronase mulai berevolusi, berkaitan dengan peran penting namun sering diabaikan yang dimainkan oleh patronase dalam kehidupan budaya abad-abad sebelumnya.

Lembaga-lembaga nirlaba, sering mencari pengaruhnya dengan bertindak sebagai patron. Hubungan tersebut seringkali tidak melibatkan uang, akan tetapi bertindak sebagai mediator yang menggunakan kredibilitas dan karismanya untuk mempengaruhi kebijakan pemerintah dalam pendanaan. Keluarga bangsawan Inggris sering bertindak sebagai patron.

Patronase Sastra Tradisional

Patronase sastra memiliki sistem yang sama seperti patronase dalam seni yang lain. Pada jaman pramodern, patron para sastrawan adalah para bangsawan para rohaniawan. Para pujangga keraton diayomi oleh para raja. Para pujangga religi diayomi oleh para resi. Pujangga keraton seperti Empu Kanwa diayomi oleh Raja Airlangga, Ronggowarsito diayomi oleh Pakubuwana VII.[2] Sedangkan para pujangga di luar keraton berpatron pada para resi atau brahmana yang mempekerjakannya sebagai pencerita kisah-kisah keagamaan dalam ritual.

Patronase sastra tradisional dapat diklasifikasikan ke dalam patronase keagamaan dan kebangsawanan. Dengan demikian, kategori sastrawan yang diayomi oleh patronase masing-masing adalah sastrawan-agamawan dan sastrawan-bangsawan.

Patronase tersebut masih ada pada zaman modern. Keberadaan tersebut tentu saja berkaitan dengan sistem masyarakatnya. Meskipun demikian, kedua patronase tersebut sudah tidak dominan lagi dan digantikan oleh patronase modern.

Pada zaman modern, patron para sastrawan adalah penguasa dan pengusaha. Penguasa sebagai patron para sastrawan dapat berupa pemerintah yang mengangkatnya sebagai pegawai negeri, maupun penguasa yang menggunakan jasa sastrawan sebagai penulis biografi. Pengusaha sebagai patron para sastrawan dapat berupa penerbitan karya-karya sastra, maupun penyelenggaraan peristiwa-peristiwa sastra seperti pertunjukan drama, penayangan sinetron, dan pemberi sponsor dalam seminar-seminar sastra.

Patronase Sastra Modern

Sistem patronase sastra pada zaman modern sangat bergantung pada dukungan publik. Patronase antara sastrawan dengan penerbit serta media cetak mengukuhkan sistem patronase dukungan publik tersebut. Patronase antara sastrawan dengan pemerintah lebih tampak dalam status para sastrawan sebagai pegawai negeri. Para sastrawan Indonesia yang berstatus sebagai pegawai negeri, eksistensinya tergantung pada pemerintah. Para sastrawan tersebut biasanya berprofesi sebagai guru, dosen, atau birokrat. Para sastrawan yang berpatronase kepada media, eksistensinya tergantung pada perusahaan penerbitan. Para sastrawan tersebut biasanya berprofesi sebagai wartawan atau editor bahasa, sastra, dan budaya.

Keberadaan penguasa dan pengusaha sebagai patron para sastrawan Indonesia masa kini, tidak terlepas dari profesi kesastrawanan yang tidak bisa mandiri. Artinya, para sastrawan Indonesia tidak dapat menggantungkan hidupnya hanya pada penghasilan dari karya-karyanya. Secara finansial para sastrawan Indonesia masih bergantung pada profesi lain. Kenyataan tersebut menyebabkan para sastrawan tidak hanya tergantung pada dukungan publik, akan tetapi juga tergantung pada pemerintah atau swasta.

Berdasarkan perspektif patronase modern, sastrawan dapat diklasifikasikan ke dalam sastrawan-agamawan, sastrawan-ilmuwan, sastrawan-wartawan, sastrawan-seniman, dan sastrawan-karyawan. Tokoh sastrawan-agamawan misalnya Hamka, YB Mangunwijaya, Mustofa Bisri, dan sejenisnya. Tokoh sastrawan-ilmuwan misalnya Sapardi Djoko Damono, Budi Darma, Sutan Takdir Alisyahbana, dan sejenisnya. Tokoh sastrawan-wartawan misalnya Mochtar Lubis, Arswendo Atmowiloto, Seno Gumira Ajidarma, dan sejenisnya. Tokoh sastrawan-seniman seperti WS Rendra, Putuwijaya, N Riantiarno, dan sejenisnya. Tokoh sastrawan-karyawan misalnya Hamsad Rangkuti, F Rahardi, Jawahir Mohammad dan lain-lain.

Simpulan

Berbeda dari sistem patronase tradisional, sistem patronase modern sangat tergantung pada dukungan publik untuk mempertahankan eksistensinya. Para sastrawan modern sangat bergantung pada penguasa, pengusaha, dan pembaca. Ketergantungan kepada penguasa atau pemerintah berkaitan dengan profesinya sebagai pegawai negeri. Ketergantungan kepada pengusaha atau media berkaitan dengan profesinya sebagai karyawan swasta. Para sastrawan yang bergantung kepada pemerintah, bekerja sebagai guru, dosen, atau birokrat. Para sastrawan yang bergantung kepada pengusaha, bekerja sebagai wartawan atau editor bahasa, sastra, dan budaya.

Berdasarkan perspektif patronase modern, sastrawan dapat diklasifikasikan ke dalam sastrawan-agamawan, sastrawan-ilmuwan, sastrawan-wartawan, sastrawan-seniman, dan sastrawan-karyawan.

Dengan demikian, jarang sekali sastrawan Indonesia yang murni bergantung kepada profesi kesastrawanannya, dan hidup matinya profesi kesastrawanan tergantung kepada dukungan publik, baik penguasa, pengusaha, maupun pembaca pada umumnya.


[1] Patronage is the support, encouragement, privilege and often financial aid that an organization bestows to another person or organization. In the history of art, arts patronage refers to the support that kings or popes have provided to musicians, painters, and sculptors. It can also refer to the right of bestowing offices or church benefices, the business given to a store by a regular customer, and the guardianship of saints. The term derives from the Latin patronatus, the formal relationship between a Patronus and his Clientes.http://en.wikipedia.org/wiki/Patronage

[2]Raden Ngabehi Ronggowarsito (lahir: Surakarta 1802 – wafat: Surakarta, 1873) adalah pujangga besar budaya Jawa yang hidup di Kasunanan Surakarta. Ia dianggap sebagai pujangga terakhir tanah Jawa. Ranggawarsita diangkat sebagai pujangga Keraton Surakarta oleh Pakubowana VII pada tanggal 14 September 1845. http://id.wikipedia.org/wiki/Ranggawarsita

Improve the web with Nofollow Reciprocity.