Sastra Dunia

NOL DERAJAT PEREMPUAN

Oleh Siswo Harsono

Dalam sibernetika hanya ada angka satu (1) dan nol (0). Angka satu (1) adalah simbol ada; angka nol (0) adalah simbol tiada. Dalam sibernetika kehidupan Firdaus, titik nol adalah titik ketiadaan. Yatim-piatu tanpa orangtua. Miskin tanpa harta. Pendidikan tanpa guna. Pernikahan tanpa cinta. Pelacuran tanpa kehormatan. Kehidupan tanpa martabat. Kehidupan nol derajat perempuan.

Kisah hidup Firdaus, tokoh utama novel Perempuan di Titik Nol karya Nawal El-Saadawi, adalah kisah nol derajat perempuan. Kehidupan perempuan tanpa derajat.

Firdaus berusaha keras menghindar dari titik nol kehidupannya. Namun semua usahanya selalu menuju ke titik nol.

Setelah kematian orangtuanya, Firdaus memasuki usia sekolah dan menggantungkan harapannya pada pendidikan. Dengan ijazah pendidikannya Firdaus berharap bisa merubah derajat nol kehidupannya. Hasilnya nol. Pendidikan di titik nol.

Kemudian Firdaus dijual oleh pamannya kepada Syeh Mahmoud untuk dinikahi. Dengan pernikahannya Firdaus berharap bisa merubah derajat nol kehidupannya. Hasilnya nol. Dalam pernikahan tanpa cinta itu, Firdaus tak lebih dari seorang budak. Perkawinan tanpa martabat. Perkawinan di titik nol.

Firdaus menghindar dari derajat nol perkawinannya. Minggat dari perkawinan tanpa martabat, dan terlunta-lunta di jalanan. Kemudian dia bertemu dengan Bayoumi. Dengan tinggal bersama Bayoumi, Firdaus berharap bisa merubah derajat nol kehidupannya. Hasilnya nol. Bayoumi malah menjadikan Firdaus seorang pelacur. Pelacur tanpa bayaran. Pelacuran di titik nol.

Firdaus berusaha lari dari titik nol pelacurannya. Dia bertemu dengan Sharifa. Dengan tinggal bersama Sharifa, Firdaus berharap bisa merubah derajat nol kehidupannya. Hasilnya nol. Sharifa, tidak ada bedanya dengan Bayoumi, seorang germo yang mengambil semua bayaran Firdaus. Pelacuran di titik nol.

Firdaus bertemu dengan Fawzi yang berjanji akan membebaskannya dari pelacuran di titik nol. Dengan janji Fawzi, Firdaus berharap bisa merubah derajat nol kehidupannya. Hasilnya nol. Janji Fawzi tinggal janji tak pernah ditepati. Perjanjian di titik nol.

Firdaus kembali ke jalanan. Dia bertemu dengan seorang lelaki yang melacurinya dan membayarnya sepuluh pon. Dengan menjadi pelacur yang mandiri dan dapat bayaran, Firdaus berharap bisa merubah derajat nol kehidupannya. Hasilnya nol. Uang yang diperoleh dari pelacuran itu hanyalah harta yang menurut Di’aa “tidak punya kehormatan”. Harta tanpa kehormatan. Kehormatan di titik nol.

Firdaus meninggalkan kehidupan pelacuran dengan bekerja. Dia bertemu dengan Ibrahim, tokoh revolusioner, di tempat kerjanya. Firdaus jatuh cinta kepada Ibrahim. Dengan cintanya kepada sosok revolusioner Ibrahim, Firdaus berharap bisa merevolusi derajat nol kehidupannya. Hasilnya nol. Cintanya kandas karena Ibrahim menikah dengan wanita lain, anak dari bosnya. Cinta di titik nol.

Firdaus meninggalkan pekerjaannya dan kembali menjadi pelacur. Dia bertemu dengan Marzouk seorang germo yang menjanjikan keamanan dan perlindungan. Dengan janji jaminan keamanan dan perlindungan, Firdaus berharap bisa merubah derajat nol kehidupannya. Hasilnya nol. Firdaus diekploitasi oleh Marzouk. Keamanan di titik nol.

Firdaus tidak bisa menghindar dari lelaki germo itu. Dia berusaha minggat dari Marzouk namun tidak bisa. Ketika germo itu mencegah kepergiannya dan mengancamnya dengan sebilah pisau, Firdaus tidak bisa berbuat lain kecuali membunuhnya.

Firdaus kini menjadi pelacur-pembunuh. Dia bertemu dengan pangeran Arab yang melacurinya dan membayarnya tiga ribu pon. Uang itu dia sobek-sobek, karena pangeran Arab itu melacur dengan uang rakyat sungguh keparat. Firdaus bisa saja membunuhnya, namun pangeran Arab itu tidak percaya jika pelacur mampu membunuh. Ketika Firdaus hendak membuktikannya kepadanya, pangeran Arab itu baru percaya dan memerintahkan pengawalnya untuk menangkap dan memenjarakan Firdaus. Kehidupan dalam penjara tanpa kebebasan. Kebebasan di titik nol.

Karena telah membunuh dan terutama membahayakan pangeran Arab, Firdaus dijatuhi hukuman mati. Dia lebih memilih hukuman mati daripada meminta grasi. Hidup untuk mati. Sein zum tode. Kehidupan di titik nol. Kematian.***


KANIBALISMOPOBI

Oleh Siswo Harsono

Tokoh utama yang membuat catatan harian orang gila dalam cerita pendek karya Lu Xun, diceritakan telah sembuh dari complex schizophrenia. Dokter yang hendak melakukan penelitian terhadap tokoh tersebut hanya memperoleh catatan hariannya yang diberikan oleh kakaknya.

Biasanya yang membuat catatan medis adalah dokter. Namun dalam cerpen ini diceritakan tokoh gila itulah yang membuat catatan harian. Karena tokoh tersebut telah sembuh dan kemudian menjadi pegawai negeri, dokter tersebut hanya berhadapan dengan fakta cerita sebuah catatan harian.

Apa yang membuat tokoh tersebut dinyatakan mengidap complex schizophrenia adalah karena ketakutan paranoid bahwa dirinya akan dimakan oleh kakaknya, orang-orang yang berkonspirasi bersama kakaknya, bahkan oleh Tuan Chou dan masyarakat di sekitarnya. Paranoia tokoh tersebut diperparah oleh Ku Chiu, sebuah buku tua yang diinjak-injak olehnya.

Complex schizophrenia yang diidap oleh tokoh tersebut disebabkan oleh ketakutan paranoid terhadap kanibalisme. Kanibalismopobi. Inilah yang menyebabkan tokoh tersebut berpikir, bersikap, dan berbuat abnormal. Dia berprasangka bahwa kematian adik perempuannya karena dikanibal oleh kakaknya. Dia mengira dokter yang merawatnya sebagai mata-mata penguasa kanibal. Kepada perawatnya dia “ngomyang” soal kanibalisme. Dengan kata lain dalam kegilaannya tokoh tersebut merasa hidup dalam masyarakat kanibal.

Kanibalisme yang dalam istilah lain adalah antrophophagy, adalah perilaku homo homini lupus. Manusia memangsa manusia. Kanibalisme terjadi baik secara faktual maupun metaforis. Secara faktual kanibalisme dilakukan oleh manusia dengan berbagai motif. Kanibalisme bermotif adat. Kanibalisme bermotif dendam. Kanibalisme bermotif kemenangan. Kanibalisme bermotif homotrofik, kanibalisme bermotif medik. Sedangkan secara metaforis, kanibalisme bermotif politik.

Kanibalismopobi yang dominan diidap oleh tokoh tersebut adalah kanibalisme homotrofik. Manusia dijadikan bahan makanan oleh manusia. Daging manusia lebih lezat dari daging-daging yang lain. Urutan kelezatan daging manusia yang terlezat adalah daging anak-anak, daging wanita, dan daging pria.

Dalam masyarakat kanibal daging manusia bisa disantap mentah-mentah maupun dimasak lebih dulu. Daging manusia bisa dibuat sop, disate, dijadikan dendeng, atau dibikin “manusia guling” (dipanggang seperti kambing guling atau babi guling). Daging manusia diedarkan secara khusus maupun dicampur dengan daging-daging lain, misalnya dicampu dengan daging sapi atau daging babi.

Kenapa tokoh pengidap kanibalismopobi dianggap gila? Kenapa bukan masyarakat kanibalnya yang dianggap gila? Pertanyaan semacam ini juga diajukan oleh Jung ketika pasiennya seorang gadis yang mengaku hamil dan apa yang dikandungnya adalah bom. Jung bertanya kenapa gadis itu dianggap gila, sementara para pembuat bom beneran di Pentagon dianggap waras? Mana yang lebih berbahaya bagi kemanusiaan?

Tokoh tersebut dianggap gila karena kanibalismopobi yang abnormal. Dan kanibalisme sebagai adat dianggap normal, atau kanibalisme dianggap tidak ada. Sebaliknya, jika kanibalisme dianggap sebagai perilaku abnormal, maka tokoh pengidap kanibalismopobi itu normal.

Kanibalisme memang bersifat situasional. Artinya perilaku kanibal terjadi pada situasi-situasi tertentu. Daging manusia tidak termasuk sembako. Bukan makanan pokok yang dijadikan santapan harian. Homotrofik terjadi pada situasi-situasi tidak biasa, situasi tidak normal. Dengan demikian kesembuhan tokoh tersebut juga sangat situasional. Dia bisa sembuh dari kanibalismopobinya karena kanibalisme sudah tidak dilakukan lagi, atau karena dia ikut menjadi kanibal?

Tahap selanjutnya adalah homotrofik metaforik dalam dunia politik. Pertanyaan biasa yang normal adalah besok makan apa? Pertanyaan luarbiasa yang abnormal adalah besok makan siapa?

Homo homini lupus hanya sekedar catatan orang gila atau perilaku orang yang menganggap dirinya waras? Tentu saja secara metaforik, homotrofik ini mengacu pada kanibalisme politik.***


IKONOKLASME KUIL KENCANA

Oleh Siswo Harsono

Ikonoklasme adalah perusakan ikon atau simbol. Peristiwa ikonoklastis yang sangat legendaris adalah cerita Nabi Ibrahim yang menghancurkan berhala-berhala di sekitar Ka’bah. Ikonoklasme Ibrahim itu dilakukan untuk menghancurkan salah-sembah dalam religi Paganisme. Berhala bagi Ibrahim adalah ikon agama yang tidak patut disembah. Oleh karena itu dia menghancurkannya dan menggantungkan kapak yang digunakannya pada leher berhala yang paling besar.

Ketika para pennyembah berhala itu mendakwa Ibrahim atas perbuatannya itu, dia menyuruh para penyembah berhala itu untuk bertanya kepada berhala yang paling besar karena kapak itu tergantung di lehernya. Para penyembah berhala itu marah karena mana mungkin berhala itu dapat menjawab. Jika berhala itu tidak dapat menjawab pertanyaan para penyembahnya, lantas untuk apa berhala yang tidak memiliki kekuasaan apa-apa itu disembah.

Dalam cerita lain, ada seorang biksu yang membakar patung Buddha, kemudian dia mencari-cari sesuatu dalam abu sisa pembakarannya. Seorang biksu yang lain datang dan mempertanyakan kenapa dia membakar patung itu. Ketika biksu ikonoklas itu menjawab bahwa dia sedang mencari hakikat Buddha, biksu yang bertanya itu marah dan mengatakan bahwa betapa bodoh orang yang mencari hakikat Buddha dalam patung Buddha. Biksu ikonoklas itu tersenyum dan bekata bahwa jika patung Buddha tidak memiliki hakikat Buddha untuk apa patung itu disembah.

Dalam cerita lain lagi seorang sesepuh Buddha yang telah dinobatkan menjadi seorang mahawiku tiba-tiba membakar sebuah kitab sutra yang telah lama dijadikan panutan dalam tradisi pengajaran agama tersebut. Perbuatan ikonoklastis terhadap kitab itu membuat marah para pengikutnya dan mempertanyakan apa alasan perbuatannya itu. Sang mahawiku ikonoklas itu menjawab bahwa kitab itu telah menjadi penghalang terhadap realitas Buddha. Seorang Buddhis tidak akan mencapai kebuddhaan hanya dengan membaca kitab. Dengan membakar penghalang ikonik dan simbolik itu barulah seorang Buddhis dapat mencapai hakikat.

Dalam sebuah kisah nyata seorang Buddhis bernama Hayashi membakar sebuah kuil. Kemudian dia dipenjara. Dan dalam perjara itulah dia diwawancarai oleh seorang novelis Jepang yang kemudian hasil wawancara itu menjadi sebuah novel. Antara kisah nyata itu dengan novelnya memiliki tema yang sama, yaitu tema tentang seorang Buddhis yang membakar sebuah kuil. Seorang Buddhis ikonoklas.

Kenapa sebuah kuil dijadikan objek ikonoklasme oleh orang yang notabene pengikutnya? Kenapa seorang pemeluk agama membakar situs ritusnya sendiri?

Dalam hal inilah keunikan ikonoklasme. Ikonoklasme bukanlah terorisme. Terorisme lebih bersifat politis, sedangkan ikonoklasme bersifat religius. Terorisme meletakkan target sasarannya di luar lingkungannya, sedangkan ikonoklasme memiliki target di dalam ikon itu sendiri.

Menghancurkan ikon adalah mempertanyakan hakikat ikon itu sendiri. Para ikonoklas menantang pembuktian hakiki tentang kebenaran yang tidak terdapat dalam ikon. Mereka memiliki keyakinan bahwa ikon itu menyesatkan manusia dari hakikat. Jalan lurus menuju hakikat adalah ketiadaan ikon. Dengan demikian ikon harus dihancurkan. Begitulah logika ikonoklasme.

Misoguchi, tokoh utama dalam novel Kuil Kencana karya Mishima adalah seorang ikonoklas. Dia membakar paviliun Kuil Kencana karena telah menjadi penghalang antara dirinya dengan hakikat yang dicarinya.

Kemegahan sebuah kuil, kemewahan sebuah tempat ibadah, tidak mampu mengantarkan seorang Misoguchi mencapai hakikat realitas. Bahkan setiap dia berusaha menyatu dengan realitas, kuil itu selalu menghalanginya. Dalam rangka usaha menghilangkan penghalang tersebut Misoguchi membakarnya. Baginya, kuil kencana itu hanyalah bayang-bayang maya yang menjadi penghalang dirinya dalam mencapai realitas. Ibarat orang yang terus memandangi sebuah foto tidak dapat memandang secara langsung pada orang yang nyata di luar foto tersebut.

Bagi Misoguchi kuil itu seperti sebuah penjara maya yang membelenggunya untuk menjangkau realitas. Jika dia memandang kuil, realitas tidak terpandang. Jika dia memandang realitas, kuil itu hilang. Dilema religius ini harus diatasi oleh Misoguchi.

Dilema religius Misoguchi adalah sebuah pergulatan antara yang maya dan yang nyata. Untuk mencapai realitas nyata, seorang Misoguchi harus menghancurkan pembatas maya. Kuil Kencana itulah pembatas maya yang paling utama dalam perjalanan religiusnya. Apa yang akan dilakukan oleh seorang pejalan yang mendapati sebuah rintangan yang tidak dapat dihindarinya dalam perjalanannya? Berhenti atau hancurkan.

Tidak ada jalan lain bagi Misoguchi selain membakar pembatas maya yang berbentuk Kuil Kencana. Meskipun demikian, barangkali perlu dipertanyakan lebih dulu apa relevansinya dengan kebuddhaan? Terdapat sebuah analogi tahap kebuddhaan yang sangat berguna untuk memecahkan ikonoklasme Misoguchi. Analogi tersebut terdapat dalam salah satu keajaiban dunia, yaitu Borobudur.

Borobudur memiliki tiga tahap: kamadatu, rupadatu, dan arupadatu. Kuil Kencana adalah tahap rupadatu dalam perjalanan Misoguchi. Tahap inilah yang menghalangi dirinya untuk memasuki tahap arupadatu. Kenapa demikian? Karena ikon Kuil Kencana telah membelenggu dirinya sehingga dia tidak dapat lepas dari kemelekatannya pada tahap tesebut. Demi melepaskan diri dari kemelekatan rupadatu, demi melangkah menuju tahap arupadatu, Misoguchi tidak dapat berbuat lain kecuali memusnahkan tabir rupadatu. Oleh karena itulah Misoguchi membakar paviliun Kuil Kencana.***

ANIMALISASI: PERILAKU TIKUS

Oleh Siswo Harsono

Kenapa tikus dijadikan simbol koruptor? Tentu saja bukan karena kemiripan ikonik antara tikus dan manusia. Jika bukan karena kemiripan ikonik, apakah ada hubungan indeksikal antara tikus dengan manusia korup? Tentu saja tidak ada hubungan indeksikal antara tikus dan manusia seperti halnya hubungan indeksikal antara asap dan api. Karena ada asap maka ada api. Hubungan indeksikal ini akan absurd jika diterapkan dalam hubungan antara tikus dan manusia. Karena ada tikus maka ada korupsi. Absurd sekali.

Naturalisme berkiblat kepada yang alami. Dalam alam, perilaku koruptor itu identik dengan perilaku tikus. Dengan kalimat lain, perilaku tikus adalah perilaku kebinatangan manusia koruptor. Kenapa demikian? Untuk memperoleh jawabannya, seorang naturalis akan mengamati alam.

Tikus makan padi. Apakah tikus yang mengolah sawah? Bukan! Apakah tikus yang menanam padi? Bukan! Apakah tikus yang memelihara padi? Bukan! Apakah tikus yang memanen padi? Bukan! Apakah tikus yang mengangkut padi ke lumbung? Bukan! Apakah tikus yang membeli padi? Bukan!

Tikus tidak terlibat dalam produksi dan distribusi padi. Tikus hanya terlibat dalam konsumsi padi. Tikus makan padi yang bukan hasil jerih payahnya.

Perilaku seperti itulah perilaku koruptor.

Seperti tikus, koruptor makan apa yang bukan hasil jerih payahnya. Karena seperti tikus, koruptor tidak terlibat dalam sistem produksi, tidak pula terlibat dalam sistem distribusi, namun terlibat dalam ssistem konsumsi yang bukan haknya.

Perilaku seperti itulah perilaku korupsi.

Seperti tikus menjarah padi di sawah, begitu pula koruptor menjarah sebuah wilayah. Seperti tikus menjarah padi di lumbung-lumbung, begitu pula koruptor menjarah lumbung-lumbung keuangan. Seperti tikus menghancurkan sawah, begitu pula koruptor menghancurkan negara.

Inilah binatangisme koruptor.

Dengan cerdik penulis novel Tikus dan Manusia mencatat identifikasi naturalis tentang perilaku tikus dan manusia. Inilah gaya animalisasi atau pembinatangan, yaitu cara mengidentifikasi perilaku kebinatangan dalam diri manusia. Gaya ini berkebalikan dengan gaya personifikasi, yaitu cara mengidentifikasi perilaku kemanusiaan dalam hal-hal yang bukan manusia.

Secara ikonis, tikus dalam novel Tikus dan Manusia adalah binatang piaraan Lennie. Tikus itu warisan dari moyangnya. Kedekatan tokoh Lennie yang tinggi-besar dengan tikus yang kecil-mungil itu merupakan kontras yang luarbiasa. Tikus itu selalu disimpan di dalam sakunya.

Kenapa saku Lennie diisi dengan seekor tikus, bukan dengan segepok uang? Dari tatanan ikonik ini akan lebih menarik jawabannya jika diletakan pada tatanan simbolik. Lennie adalah orang yang bekerja dengan tenagannya, bukan dengan keahliannya. Dia bekerja dengan tubuhnnya, bukan dengan otaknya. Pekerja tak berotak itu tidak peduli dengan hasil kerjanya, tidak peduli dengan upahnya, tidak peduli dengan isi sakunya. Kenapa demikian? Karena apa yang dia sadari hanyalah seekor tikus yang mengisi sakunya.

Otak Lennie adalah George. Temannya yang kecil-mungil ini adalah kesadaran Lennie. Karakter George berkebalikan dengan Lennie. George adalah orang yang bekerja dengan keahliannya, bukan dengan tenaganya. Dia bekerja dengan otaknya, bukan dengan tubuhnya.

Hubungan antara George dengan Lennie ibarat hubungan antara kepala dan badan. Kepala adalah pemimpin bagi badannya. George tanpa Lennie ibarat kepala tanpa badan; Lennie tanpa George ibaran badan tanpa kepala.

Kenapa tikus berada di dalam saku Lennie, dan bukan di dalam topi George? Kenapa koruptor berada di dalam saku sebuah badan, bukan di dalam topi sebuah kepala?

George tidak menyimpan tikus di dalam topinya, karena dia menyadari betapa korupnya seekor tikus. Sedangkan Lennie yang menyukai tikus tidak menyadari perilaku korup seekor tikus. Kebodohan Lennie tidak dapat membedakan wujud binatang dari perilakunya. Sama halnya dengan kebodohan awam yang tidak dapat membedakan rupa manusia dari perilaku korupsinya.

Seperti tikus di dalam saku Lennie, ia dipelihara. Begitu pula koruptor di dalam sebuah lembaga, ia dipelihara. Hidup aman-nyaman karena si pemilik saku bodo-bego dan tolol-konyol tidak berkesadaran apalagi mampu membedakan antara wujud tikus dengan perilakunya, antara rupa koruptor dengan perilaku korupsinya.

Begitulah keberadaan tikus di dalam saku Lennie; dan begitu pulalah keberadaan koruptor di dalam sebuah lembaga.

Bagaimana dengan tikus-tikus yang berada di sawah-sawah, di kebun-kebun, di ladang-ladang? Secara simbolik seperti itu pulalah keberadaan para koruptor di lembaga-lembaga. Ketika memasuki sebuah lembaga orang seeperti Lennie tidak akan dapat membedakan mana manusia dan mana koruptor.***

KIMIA SPIRITUAL

Oleh Siswo Harsono

Santiago, tokoh utama dalam novel The Al-Chemist karya Paulo Coelho, pada awalnya adalah seorang gembala. Pekerjaan sehari-harinya menggembalakan domba-dombanya di padang rumput Andalusia. Dia bermimpi tentang harta karun yang tertimbun di bawah piramida di Mesir. Dia memutuskan untuk mengejar mimpinya tersebut dengan melakukan sebuah perjalanan.

Di perjalanan dia bertemu dengan Melqizadek, seorang raja Salem, yang menukar dua buah batu, Urim dan Tumim, yang biasa digunakan sebagai petunjuk dalam menentukan keputusan, dengan enam ekor dombanya. Seorang Gipsi meneguhkan Santiago untuk mengejar mimpinya. Namun karena kekayaannya dicuri orang, dia bekerja pada seorang pedagang kristal. Dia berhasil mengembangkan toko kristal tersebut dan berhasil mengumpulkan kekayaan lagi.

Santiago melanjutkan perjalanannya bersama seorang Inggris yang sedang mencari seorang Al-Chemist yang konon tinggal di oase Al-Fayoum. Di perjalanan, dia kehilangan kembali kekayaannya.

Al-Chemist memperkenalkan batu filsuf yang dapat merubah logam biasa menjadi logam mulia, ramuan kehidupan yang dapat dijadikan obat segala penyakit, obat awet muda, dan umur panjang, serta inti dunia yang dapat mempersatukannya dengan alam semesta. Santiago mempraktikkannya dengan mempersatukan dirinya dengan angin dan merubahnya menjadi badai gurun.

Kemudian, bersama Al-Chemist dia melanjutkan perjalanan dan mampir di sebuah gereja koptik. Sang Al-Chemist mempraktikkan kemampuannya merubah sebongkah timah menjadi emas yang kemudian dibagi tiga, sebagian untuk dirinya, sebagian untuk pastur, dan sebagian lagi untuk Santiago.

Begitulah cerita perjalanan Santiago secara harfiah. Perjalanan orang yang bermimpi memperoleh harta karun dan bermaksud untuk merealisasikan mimpinya tersebut. Pada awalnya, harta karun dimimpikan sebagai harta yang tersembunyi di bawah piramida. Kemudian harta karun dikaitkan dengan kemampuan produksi kimiawi yang mampu merubah logam biasa menjadi logam mulia. Kemampuan produktif tersebut berkaitan dengan batu filsuf.

Perjalanan Santiago dapat dimaknai secara simbolik sebagai perjalanan spiritual. Harta karun merupakan simbol kekayaan spiritual yang tersembunyi di bawah piramid sebagai simbol dunia bawah sadar. Ketika Santiago melakukan perjalanan spiritualnya, dia menemukan bahwa kekayaan spiritual bukanlah harta yang tersembunyi di dunia bawah sadarnya melainkan terletak pada kimia spiritual yang mampu merombak manusia biasa menjadi manusia mulia.

Kemampuan produksi kimia spiritual tersebut berhubungan dengan tiga unsur penting yaitu batu filsuf, ramuan kehidupan, dan inti dunia. Ketiga unsur tersebut merupakan kekayaan seorang Al-Chemist. Dengan kata lain, hanya seorang Al-Chemist yang telah menguasai batu filsuf, ramuan kehidupan, dan inti dunia itulah yang mampu merubah logam biasa menjadi logam mulia secara material, dan mampu merubah manusia biasa menjadi manusia mulia secara spiritual. Dengan demikian seorang Al-Chemist adalah seorang spiritualis yang mampu medekonstruksi manusia biasa dan merekonstruksikannya menjadi manusia mulia, Insan Kamil.

Batu filsuf dapat pula dibaca secara simbolik. Berbeda dengan batu Urim dan Tumim yang hanya dapat menunjukkan, batu filsuf dapat mendekonstruksi logam biasa menjadi logam mulia, manusia biasa menjadi manusia mulia. Batu filsuf adalah unsur yang menentukan baik dalam proses kimia material maupun kimia spiritual. Secara legendaris, batu filsuf mengacu pada benda dan pada manusia sebagai agen perubahan.

Ramuan kehidupan secara simbolik mengacu pada esensi ramuan kehidupan. Esensi yang menghidupkan mampu menjadi penyembuh segala penyakit, dapat menjadi obat awet muda, dan menjaga hidup hingga panjang umur. Ramuan kehidupan adalah unsur pemelihara kehidupan agar hidup lebih hidup.

Inti dunia secara simbolik mengacu pada hakikat semesta yang merupakan kesatuan. Seorang Al-Chemist yang telah menjangkau inti dunia mampu mempersatukan dirinya dengan semesta. Persatuan antara mikrokosmos dengan makrokosmos. Dalam kondisi tersebut seorang Al-Chemist mampu mendekonstruksi dirinya menjadi apa saja yang dikehendakinya karena kemampuannya dalam mempersatukan diri dengan inti kehidupan. Kemampuan mempersatukan diri secara spiritual adalah kemampuan mempersatukan diri dengan Tuhan. Unio Mystica! Manunggaling kawula-Gusti, dalam istilah kejawen. Dalam kimia spiritual, kemampuan tersebut merupakan puncak pencapaian sang Al-Chemist.

Santiago secara simbolik adalah seorang “gembala” yang memimpin “domba-domba” umatnya. Dia suka membaca “buku-buku” yang secara simbolik mengacu pada kitab-kitab. Mimpinya menyimbolkan visinya. Perjalanannya menyimbolkan pencarian spiritualnya. Penyatuan dirinya dengan angin yang mampu menciptakan badai gurun menyimbolkan transformasi spiritualnya. Sebagian logam mulia yang diberikan oleh sang Al-Chemist menyimbolkan perolehan kemuliaan spiritualnya.***

SIMBOLISME POHON TANPA AKAR

Oleh Siswo Harsono

Secara alami setiap pohon terntu mempunyai akar. Ada pohon yang berakar tunggal dan ada pula yang berakar serabut. Akan tetapi, tidak ada pohon tanpa akar. Pohon tanpa akar tidak akan tumbuh. Pohon tanpa akar akan tumbang. Pohon tanpa akar akan mati.

Apa makna pohon tanpa akar dalam novel Waliullah? Tentu saja bukan makna alami sebuah pohon, melainkan makna simboliknya yang perlu diuraikan. Secara simbolik, pohon mengacu pada kehidupan. Kata kayu berasal dari kata khayu yang berarti hidup. Sedangkan akar mengacu pada kemampuan menyerap sari-sari kehidupan. Pohon tanpa akar adalah pohon tanpa kemampuan menyerap sari-sari kehidupan.

Dalam kondisi demikian, kehidupan tanpa kemampuan menyerap intisari yang menghidupkan akan mematikan kehidupan itu sendiri. Alegori yang disajikan oleh Waliullah adalah tentang kehidupan yang tidak tumbuh apalagi berkembang. Berhenti, mandeg, stagnan, status quo.

Sebuah kehidupan semacam itu, ibarat pohon tanpa akar, tidak dapat dipelihara atau dipertahankan. Untuk mengubah kondisi demikian, manusia perlu menumbuhkan kembali akar-akar kehidupannya. Dengan kembali pada alam, kembali pada tradisi, kembali pada kearifan-kearifan lokal, akar-akar pohon kehidupan tersebut diharapkan dapat menumbuhkembangkan kehidupan itu sendiri.

Keterputusan dengan alam adalah keterputusan dengan sumber kehidupan itu sendiri. Keterputusan dengan tradisi merupakan keterputusan yang paling vital dengan akar kehidupan. Sedangkan keterputusan dengan kearifan-kearifan lokal merupakan keterputusan dengan akar adaptif kehidupan. Ketiga akar kehidupan tersebut merupakan penghubung utama dengan sari-sari kehidupan sebagai penopang kehidupan manusia.

Pohon yang tumbuh tegak adalah pohon yang akar-akarnya kuat menancap pada alam. Kehidupan yang tumbuh dengan kuat adalah kehidupan yang akar-akarnya kuat menancap pada tradisi. Di samping itu, ketangguhan akar perlu ditunjang oleh kemampuan adaptifnya dalam berbagai situasi. Akar pohon tumbuh berliku-liku menyesuaikan diri dengan berbagai kondisi lingkungan tanahnya. Begitu pula akar kehidupan perlu dilengkapi dengan kemampuan adaptif yang bersumber pada kearifan-kearifan lokal.

Barangkali tidak ada akar pohon yang tumbuh lurus, karena pertumbuhannya harus luwes mengikuti liku-liku lingkungan hidupnya. Tidak ada pula akar kehidupan yang tumbuh lurus, karena pertumbuhannya juga mengikuti liku-liku kehidupannya. Dalam kondisi demikian kondisi kehidupan membentuk liku-liku akar kehidupannya.

Bagaimana dengan pohon tanpa akar? Pohon kehidupan yang tidak memiliki akar alaminya dapat dikatakan sebagai pohon yang tercerabut dari sumber kehidupannya. Pohon kehidupan yang tidak memiliki akar tradisinya dapat dikatakan sebagai pohon yang tercerabut dari sari-sari kehidupannya. Sedangkan pohon kehidupan yang tidak memiliki akar adaptifnya dapat dikatakan sebagai pohon yang tercerabut dari adaptasi-adaptasi kehidupannya.

Pohon tanpa akar bukanlah pohon dalam arti sesungguhnya. Ia tak lebih dari kayu yang telah dipangkas dari akar-akarnya. Secara simbolik pohon tanpa akar adalah pohon kehidupan yang tercerabut dan terkooptasi dari kehidupan itu sendiri. Tak ada kata lain yang lebih tepat untuk melukiskan kondisi kehidupan yang terkooptasi dari alam, tradisi, dan kearifan lokal kecuali “pohon tanpa akar”.

Waliullah memang cerdas sekali ketika dia membuat sebuah alegori terhadap kehidupan di Bangladesh. Di satu sisi, Bangladesh tercerabut dari kehidupan alaminya. Alam Bangladesh tidak mampu lagi menjadi satu-satunya sumber kehidupan bagi rakyatnya. Di sisi lain, Bangladesh tercerabut dari kehidupan tradisinya. Tradisi Bangladesh tidak mampu lagi menjadi penopang kehidupan budayanya. Di samping itu, Bangladesh tercerabut dari kearifan-kearifan lokalnya. Sehingga Bangladesh tidak memiliki lagi kemampuan adaptif kehidupannya. Dalam hal inilah Bangladesh dapat diibaratkan pohon tanpa akar. Dampak dari pohon tanpa akar adalah kemandegan, kekeringan, dan kematian. Dengan demikian, Bangladesh dialegorikan sebagai kehidupan tanpa akar alami, tanpa akar tradisi, dan tanpa akar kearifan lokal. Tidak mengherankan apabila kehidupan Bangladesh dilihat sebagai kehidupan yang mandeg, kering, dan di ambang kematian akibat tercerabut dan terkooptasi dari akar kehidupan alami, tradisi, dan kearifan lokalnya. Itulah pohon tanpa akar.***

BONEKANISASI PEREMPUAN

Oleh Siswo Harsono

Analisis tentang drama Rumah Boneka karya Ibsen sering dikaitkan dengan persoalan feminisme. Nora sering dijadikan ikon feminis, seorang perempuan yang berani memberontak terhadap Trovald, suaminya.

Konflik utama drama tersebut adalah perjuangan Nora bersama Krogstad, yang mengancam untuk mengadukan kejahatan masa lalunya kepada suaminya memicu perjalanan penemuan diri Nora dan menyediakan banyak suspensi dramatik. Perjuangan utama Nora adalah perlawanan terhadap egoisme, kekakuan, dan penindasan dari perilaku suaminya serta masyarakat yang direpresentasikannya. Tikaian terletak pada percakapan pertama Nora dengan Mrs. Linde. Kedatangan Krogstad yang memeras Nora dengan sepucuk surat yang membeberkan masa lalunya. Klimaksnya Torvald membaca surat Krogstad dan meledaklah kemarahannya. Leraian terjadi ketika Nora menyadari bahwa Torvald setia bukan kepadanya melainkan kepada gagasan tentang dia sebagai orang yang tergantung kepadanya. Dia memutuskan untuk meninggalkan suaminya demi mencari kebebasan.

Tema drama tersebut adalah peran pengorbanan perempuan, kewajiban terhadap orang tua dan keluarga, serta perilaku-perilaku munafik. Motifnya adalah definisi Nora tentang kebebasan. Tindakan Nora memakan macaroni walaupun dilarang oleh suaminya menandakan pemberontakannya di kemudian hari.

Pengorbanan Perempuan

Dalam Rumah Boneka, Ibsen melukiskan gambaran suram peran pengorbanan perempuan dari semua kelas dalam masyarakat. Secara umum tokoh perempuan dalam drama tersebut mengukuhkan karakter Nora bahwa walaupun kaum pria menolak pengorbanan integritasnya, ribuan perempuan telah melakukannya. Demi ibu dan saudaranya, Mrs. Linde meninggalkan Krogstad, cinta sejatinya yang miskin itu dan menikah dengan seorang pria kaya. Seorang pengasuh meninggalkan anaknya sendiri demi menghidupi dirinya dengan menjaga anak-anak Nora.

Memang secara ekonomi Nora lebih beruntung dibandingkan dengan tokoh perempuan lain, akan tetapi dia menghadapi kesulitan dalam hidupnya karena masyarakat mendikte suaminya dan menjadikannya teman hidup yang dominan. Nora harus menyembunyikan utangnya karena dia mengetahui bahwa Torvald tidak akan pernah menerima istrinya atau perempuan lain telah membantu menyelamatkan hidupnya. Dia harus sembunyi-sembunyi menghutang karena bagi perempuan tidaklah sah berhutang tanpa izin suaminya. Kondisi tersebut menjadi peluang bagi pemerasan yang dilakukan oleh Krogstad.

Nora yang menelantarkan anak-anaknya juga merupakan pengorbanan diri. Walaupun cintanya begitu besar yang tampak dalam hubungannya dengan mereka, dia memilih untuk meninggalkannya. Nora yakin bahwa pengasuhnya akan menjadi ibu yang lebih baik dan meninggalkannya adalah hal terbaik baginya.

Kewajiban Orang Tua dan Keluarga

Nora, Torvald, dan Dr. Rank masing-masing mengekspresikan keyakinan bahwa orang tua wajib jujur dan terus terang karena keamoralan dapat menular kepada keturunannya seperti penyakit. Senyatanya, Dr. Rank memiliki penyakit seperti itu. Dr. Rank mewarisi keamoralan ayahnya yang suka main perempuan yang menyebabkannya mengidap penyakit kelamin akibat perbuatan ayahnya. Torvald menyuarakan gagasan bahwa orang tua seseorang menentukan moralitas orang tersebut. Oleh karena itu dia melarang Nora berinteraksi dengan anaknya setelah dia mengetahui kebohongannya.

Drama tersebut menegaskan bahwa anak-anak juga berkewajiban menjaga orang tuanya. Nora menyadari kewajiban ini namun dia mengabaikannya, dengan lebih memilih tinggal bersama dan mengorbankan diri demi suaminya yang sakit daripada mengurusi ayahnya Krogstad dan bertahun-tahun menjadi budak demi merawat ibunya yang sakit. Ibsen menunjukkan hutang budi anak terhadap orang tua merupakan keruwetan hubungan alamiah dari kewajiban keluarga.

Kemunafikan Sikap

Dalam Rumah Boneka, penampilan menopengi realitas tokoh dan situasinya. Kondiisi tersebut menampilkan kemunafikan sikap. Pada awalnya Nora tampak lugu, kekanak-kanakan, tetapi kemudian dia berubah cerdas, bermotivasi, dan akhirnya menjadi pemikir bebas dan berkemauan keras. Torvald memainkan peran suami yang kuat menampilkan watak pengecut dan egois ketika dia takut terhadap Krogstad. Sikap pemeras Krogstad menampilkan dirinya sebagai sosok yang simpatik dan pemaaf. Klimaks drama tersebut adalah persoalan pemecahan kebingungan identitas yakni Krogstad sebagai pecinta yang baik budi, Nora sebagai perempuan yang cerdas dan berani, dan Torvald sebagai pria yang lemah dan menyedihkan.

Kebencinan yang tampak antara Mrs. Linde dan Krogstad berbalik menjadi cinta. Kreditur Nora berbalik kepada Krogstad dan bukan Dr. Rank. Dr. Rank mengakui bahwa dia jatuh cinta kepada Nora. Kejahatan Krogstad berbalik menjadi baik kepada Nora dengan mengembalikan kontraknya. Sedangkan Mrs. Linde yang baik hati berbalik menjadi jahat dengan berhentu membantu Nora dan memaksa Torvald menemukan rahasia Nora.

Kemunafikan sikap keluarga Helmer tersebut berasal dari kesetiaan Torvald terhadap citra kebahagiaan yang dibuat-buat. Karena bagi Torvald kehormatan dari karyawan, kawan, dan istri merupakan status dan citra yang sangat penting. Pada akhirnya obsesi Torvald untuk mengendalikan rumah-tangganya agar tampak baik dan berusaha menekan serta menolak kenyataan yang merusak keluarga dan kebahagiaannya menjadi tak terhindarkan. Dengan kata lain, Trovald gagal melanggengkan bonekanisasi terhadap istrinya.

Faham Kebebasan

Pemahaman Nora terhadap makna kebebasan berevolusi sepanjang alur ceritanya. Pada awalnya dia yakin bahwa dia akan bebas secara total setelah melunasi hutangnya, dan dia dapat berbakti sepenuhnya pada kehidupan domestiknya. Setelah Krogstad memerasnya dia menyadari bahwa menggagas ulang konsep tentang kebebasan dan mempertanyakan posisinya di rumah Torvald. Akhirnya, Nora mencari kebebasan jenis baru yang lepas dari kewajiban keluarga demi mengejar ambisi, keyakinan, dan identitasnya sendiri.

Simbolisme

Simbolisme yang terdapat dalam drama Rumah Boneka adalah pohon natal, tahun baru, dan rumah boneka. Pohon natal melambangkan objek yang digunakan dalam menampilkan tujuan dekoratif yang mengacu pada posisi Nora dalam rumah-tangganya sebagai mainan yang menyenangkan untuk dipajang dan mempermanis rumah. Kesamaan tersebut terletak pada pohon natal yang tidak disadari kalai tidak didekorasi, begitu pula Nora tidak disadari kehadirannya oleh suaminya kecuali ketika berdandan untuk berdansa.

Simbolisme tahun baru menunjukkan bahwa Nora dan Torvald memandangnya sebagai kehidupan baru yang lebih baik dan lebih bahagia dalam mengarungi kehidupannya. Dalam tahun baru tersebut, Torvald akan memulai pekerjaan baru dan memperoleh penghasilan tambahan yang baru. Nora juga berharap dapat melunasi hutang rahasianya terhadap Krogstad. Akan tetapi pada akhir cerita simbolisme kebaruan tersebut berubah secara dramatis karena keduanya menjadi orang baru yang menjalani hidup secara baru. Tahun baru menjadi tanda awal periode baru yang berbeda dari sebelumnya baik dalam kehidupan maupun dalam kepribadiannya. Sedangkan simbolisme rumah boneka adalah bonekanisasi yang dilakukan oleh seorang suami kepada istrinya dalam lingkup keluarga, dan bonekanisasi oleh masyarakat patriarkis terhadap kaum perempuan.

Bonekanisasi dalam arti sempit dapat difahami sebagai perlakuan pria terhadap perempuan sebagai pajangan dan pemanis kehidupannya. Sedangkan dalam arti luas bonekanisasi adalah perlakuan patriarki terhadap kaum perempuan sebagai pajangan dan hiasan kehidupan. Dalam kondisi demikian, perilaku perempuan dikendalikan oleh perlakuan patriarki yang memperlakukannya sebagai boneka-boneka mainan yang menjadi hiasan tanpa memiliki kehidupan dan kebebasan.

Pada awalnya Nora tampak bahagia. Dia selalu menanggapi rayuan Torvald dengan senang hati, dan tidak keberatan dengan keberadaannya yang seperti boneka yang digerakan oleh orang lain seperti marionette. Kemudian Nora berubah dan tidak lagi sebagai “a silly girl,” seperti kata Torvald. Dengan cerdas dia berani mengambil inisiatif menghutang untuk mengobati suaminya. Selain itu dia juga berani mendobrak aturan utang-piutang secara diam-diam.

Nora mulai menyadari keberadaannya sebagai pajangan dalam rumah-tangganya. Dia berpura-pura menjadi orang lain bukan untuk memenuhi peran yang dituntut oleh Torvald, ayahnya, dan masyarakatnya.

Kegoisan Torvald setelah mengetahui kebohongan Nora menjadi pemicu kebangkitannya. Dia bersumpah demi kesenangan untuk memberontak terhadap norma-norma masyarakat yang berpuncak pada tindakannya meninggalkan suami dan anak-anaknya demi mencari kebebasan.

Dapat dikatakan bahwa kepergian Nora dari rumah boneka adalah simbol kesadaran kaum perempuan dari peran sosialnya sebagai boneka-boneka patriarki yang tidak memiliki kehidupan dan kebebasannya sendiri.***

Improve the web with Nofollow Reciprocity.