Sastra Pop

ANALISIS SASTRA POPULER

Oleh Siswo Harsono

Tulisan ini merupakan jawaban[1] terhadap beberapa permasalahan sastra populer yang meliputi gagasan Michael Denning tentang perspektif sastra dalam masyarakat dan perspektif sastra dan masyarakat, perbedaan konsep formula dan genre, faktor escape dan relaxation, kekuatan dan kelemahan teori simbolik dan teori reflektif, proses dialektis sastra formula dan budaya produksi-konsumsi, partisipasi pembaca dan teks yang membentuk total culture, konsep Michel Foucault tentang ideology sebagai discourse, gagasan Bob Ashley tentang sastra pop sebagai a field of force, dan ketidakotonoman sastra populer. Di samping itu, tulisan ini juga menyertakan sebuah analisis cover karya sastra populer dengan menggunakan analisis naratif dan semiotik.

I

Sastra dalam masyarakat (literature in society) dan sastra dan masyarakat (literature and society), menurut Michael Denning[2] pada dasarnya mengacu pada kedudukan dan hubungan. Sastra dalam masyarakat mengacu pada kedudukan produksi-konsumsi sastra dalam masyarakat. Perspektif tersebut menyarankan pentingnya meneliti produksi-konsumsi sastra dalam suatu masyarakat. Apakah karya sastra memiliki posisi penting atau tidak dalam sistem ekonomi masyarakatnya, menduduki posisi elite atau populer, memerankan posisi kunci dalam komunikasi budaya, semua itu merupakan persoalan sastra dalam suatu masyarakat.

Sastra dan masyarakat mengacu pada hubungan antara sastra dengan masyarakatnya. Perspektif tersebut menyarankan pentingnya meneliti hubungan reflektif antara sastra dengan masyarakat. Apakah karya sastra mencerminkan atau tidak kondisi masyarakatnya, merupakan cermin realitas suatu masyarakat atau merupakan dunia impian yang didambakan oleh masyarakat. Dengan demikian, perspektif ini menekankan pentingnya aspek mimetik sastra dan masyarakat.

II

Perbedaan konsep formula dengan genre pada dasarnya merupakan perbedaan antara jenis karya sastra dengan komponen pembentuknya. Genre[3] merupakan bentuk yang tersusun dari berbagai komponen. Komponen itu sendiri tersusun dari berbagai unsur yang sesuai dengan fungsinya dalam membentuk keseluruhan. Dengan demikian, genre memiliki pengertian jenis karya sastra yang memiliki formula[4] sebagai komponen pembentuknya.[5] Dengan kata lain, formula adalah komponen struktural yang membentuk genre karya sastra.

III

Sastra populer sebagai sarana pemenuhan kebutuhan escape[6] terletak pada faktor genre sastra tersebut yang memberikan impian yang berbeda dari kenyataan yang dialami oleh masyarakat pembacanya. Sastra populer sebagai sarana pemenuhan kebutuhan relaxation terletak pada faktor genre sastra tersebut yang difungsikan sebagai sarana hiburan oleh masyarakat pembacanya. Sarana escape sastra populer merupakan faktor penting yang membedakannya dengan sastra elite yang terikat secara lekat pada realitas kehidupan sehari-hari. Fungsi escape ini memberikan harapan kehidupan yang berbeda dan dianggap lebih baik oleh pembacanya. Fungsi relaxation memberikan terapi yang melonggarkan ketegangan hidup yang dialami oleh pembacanya akibat tekanan-tekanan kehidupan sosial sehari-hari yang dialami oleh pembaca tersebut. Kedua fungsi tersebut menentukan efektivitas sastra populer bagi pembacanya. Faktor keindahan sastra populer terletak pada formulanya yang secara struktural tetap namun memiliki isi yang bervariasi.

IV

Kekuatan teori simbolik sebagai salah satu kekuatan utama untuk menjelaskan fungsi kultural sastra pop adalah kemampuannya untuk menganalisis nilai-nilai kultural sastra populer. Kelemahan teori simbolik terletak pada ketidakmampuannya dalam menjabarkan selera masyarakat pembaca sastra populer. Kekuatan teori reflektif sebagai salah satu kekuatan utama untuk menjelaskan fungsi kultural sastra populer adalah kemampuannya untuk menganalisis hubungan reflektif antara sastra populer dengan sistem sosial budaya masyarakatnya. Kelemahan teori reflektif terletak pada ketidakmampuannya dalam menjabarkan sistem produksi-konsumsinya.

V

Proses dialektis antara sastra formula dengan kultur yang memproduksi dan mengkonsumsinya adalah bahwa formula sastra populer dalam sistem produksi ibarat resep masakan dalam sebuah restoran. Artinya, formula menentukan genre sastra populer sebagai menu yang diproduksi dan disediakan oleh produsen. Dari segi konsumsi, eksistensi sebuah genre sastra populer ditopang oleh sesuai atau tidaknya formula tersebut dengan selera masyarakat pembacanya. Dengan demikian proses dialektis tersebut menunjukkan adanya hubungan kesalingtergantungan antara formula sastra populer dengan sistem produksi konsumsinya. Seperti halnya kesalingtergantungan antara sebuah resep masakan dengan selera kuliner masyarakat.

VI

Partisipasi antara pembaca dengan sastra populer yang dibacanya membentuk hubungan yang diistilahkan oleh Bob Ashley sebagai total culture.[7] Artinya, baik modal budaya yang dimiliki oleh pembaca maupun modal budaya yang terdapat dalam sastra populer berperan dalam pembentukan produksi dan konsumsi makna secara kultural. Misalnya budaya roman berpartisipasi dalam pembentukan makna kultural roman bersama-sama dengan kultur roman pembacanya. Begitu pula, budaya cerita silat berpartisipasi dalam pembentukan makna kultural persilatan bersama-sama dengan kultur persilatan masyarakat pembacanya. Totalitas kultural itulah yang menentukan eksis atau tidaknya sastra populer dalam masyarakat.

VII

Michel Foucault menggantikan konsep ideology dengan istilah discourse[8] dengan asumsi dasar bahwa konsep ideology memiliki makna pejoratif sebagai kesadaran palsu dari kelas dominan untuk mendominasi kelas subordinatnya. Sedangkan konsep discourse memiliki pengertian ideologi sebagai praktek berbahasa (language practice). Artinya, ideologi sebagai wacana meliputi keseluruhan praktek berbahasa yang berkaitan dengan kekuasaan. Konsep tersebut memungkinkan terjadinya perjuangan wacana (discourse struggle) untuk memperoleh kekuasaan. Dengan demikian, perjuangan wacana merupakan alat perjuangan kekuasaan (power struggle).

Tujuan dari perjuangan kekuasaan adalah untuk memenangkan perjuangan kelas (class struggle) tetapi berbeda prinsip dengan Marx karena tidak untuk menghilangkan kelas sosial dalam masyarakat melainkan untuk memperoleh kedudukan sebagai kelas penguasa (the rulling class). Dalam konteks sastra populer, ideologi sebagai perjuangan wacana mendudukkan pentingnya wacana sastra populer secara ideologis sebagai alat perjuangan kekuasaan untuk memenangkan perjuangan kelas. Sehingga analisis ideologis terhadap sastra populer lebih penting daripada analisis estetis karena fungsi ideologis sastra populer lebih dominan dibandingkan dengan fungsi estetisnya.

VIII

Sastra populer sebagai arena kekuatan (a field of force)[9] sangat penting, karena teks merupakan tenunan berbagai kekuatan Di satu sisi, sastra populer dibaca oleh masyarakat yang lebih banyak dibandingkan dengan sastra elite. Di sisi lain, sastra tersebut lebih mudah dipahami oleh masyarakat massa (mass society) dibandingkan dengan sastra elite yang membutuhkan pemahaman ekstra secara akademis. Sebagai sebuah arena perjuangan, sastra populer lebih menyentuh masyarakat banyak daripada sastra elite. Arena kekuatan massal membentuk jaringan yang lebih luas dalam masyarakat. Dengan demikian, sastra populer lebih memiliki arena kekuatan yang lebih luas untuk mendekonstruksi gaya hidup masyarakat pembacanya.

IX

Dalam kondisi tertentu penulis sastra pop tidak memiliki otonomi karena eksistensinya sangat ditentukan oleh selera masyarakat pembacanya, sehingga penulis sastra populer tunduk pada formula-formula yang digemari masyarakat. Seringkali penulis sastra populer berkarya atas dasar pesanan penerbit yang harus menyesuaikan dengan formula yang sedang digemari oleh masyarakat pembacanya. Dalam kondisi demikian penulis sastra populer lebih mengutamakan konvensi daripada inovasi yang merupakan ciri khas sastra elite, sehingga penulis sastra populer sangat tergantung pada sistem produksi-konsumsi yang didikte oleh penerbit dan masyarakat pembacanya.

Daftar Pustaka

Ashley, Bob, ed. 1989. The Study of Popular Fiction: A Source Book. London: Bob Ashley.

Barthes, Roland. 2007. Membedah Mitos-mitos Budaya Massa. Diterjemahkan oleh Ikramullah Mahyuddin. Yogyakarta: Jalasutra.

Budiman, Kris. 1999. Kosa Semiotika. Yogyakarta: LKIS.

Chandler, Daniel. 2007. The Basic Semiotics. London: Routledge.

Cawelti, John G. 1976. Adventure, Mystery and Romance: Formula Stories as Art and Popular Culture. Chicago: The University of Chicago Press.

Denning, Michael. 1997. Mechanic Accents: Dime Novel and Working-Class Culture in America. New York: Verso.

Eagleton, Terry. 1991. An Introduction to Ideology. New York: Verso.

Sukatno, Anom. 1993. Janturan lan Pocapan Ringgit Purwo. Sukoharjo: Cendrawasih.

Thompson, John B. 2007. Analisis Ideologi: Kritik Wacana Ideologi-Ideologi Dunia. Diterjemahkan oleh Haqqul yaqin. Jogjakarta: Ircisod.



[1]Sumber referensi ditulis dalam catatan-kaki demi kelancaran penuangan gagasan penulis dan menghindari penggunaan kalimat-kalimat plagiat.

[2]Dengan mengikuti Raymond William, Michael Denning mendekati sastra populer dengan dua perspektif: “literature in society”, seeing literature as a form of production, and a view of “literature and society”, seeing literature as embodying social consciousness. Lihat, Michael Denning, Mechanic Accents: Dime Novel and Working-Class Culture in America (New York: Verso, 1997), 2.

[3]Genre mengacu pada ciri umum seperti novel Adventure, Romance, Mystery, Melodrama, dan Alien. Lihat, John G. Cawelti, Adventure, Mystery and Romance: Formula Stories as Art and Popular Culture (Chicago: The University of Chicago Press, 1976), 39-47.

[4]Formula mengacu pada ciri khusus yang berkaitan dengan struktur karya sastra. Lihat, John, G. Cawelti, Adventure, Mystery and Romance: Formula Stories as Art and Popular Culture (Chicago: The University of Chicago Press, 1976), 5—9.

[5]John, G. Cawelti, Adventure, Mystery and Romance: Formula Stories as Art and Popular Culture (Chicago: The University of Chicago Press, 1976), 35-36: 1. Formula stories affirm existing interests and attitudes by presenting an imaginary world that is aligned with these interests and attitudes. 2. Formulas resolve tensions and ambiguities resulting from the conflicting interests of different groups within the culture or form of ambiguous attitudes toward particular values. 3. Formulas enable the audience to explore in fantasy the boundary between the permitted and the forbidden and to experience in a carefully controlled way the possibility of stepping across this boundary. 4. Finally, literary formulas assist in the process of assimilating changes in values to traditional imaginative constructs.

[6]The theorists of escapist culture give themselves away when they characterize escapist or sensational fiction as dreams, daydreams, or wish fulfillments. Lihat, Michael Denning, Mechanic Accents: Dime Novel and Working-Class Culture in America (New York: Verso, 1997), 66.

[7]Bob Ashley, ed., The Study of Popular Fiction: A Source Book (London: Bob Ashley, 1989), 136: Neither texts nor readers exist in a vacuum. Both are shaped by and participate in a social, political and material context—the ‘total culture’—and it is within the systems of this wider culture, as well as in the formal systems of fiction, that posts-structuralists locate their analisis.

[8]Lihat, Terry Eagleton, Ideology: An Introduction (New York: Verso, 1991), 9. Ideologi lebih berupa wacana daripada bahasa: It concerns the actual uses of language between particular human subjects for the production of specific effects.

[9]Lihat Bob Ashley, ed., The Study of Popular Fiction: A Source Book (London: Bob Ashley, 1989), 139. It is rather to insist that such analysis recognise the reading of fiction as a multi-dimensional process involving ever-shifting complexes of interrelated factors.

Improve the web with Nofollow Reciprocity.