Sosiosastra

SASTRA DAN MASYARAKAT

Oleh Siswo Harsono

Secara intrinsik kajian tentang pokok (subject-matter) berkaitan dengan tema dan pesan. Sedangkan kajian tentang tokoh berkaitan dengan watak dan penokohan. Secara ekstrinsik dalam perspektif sosiologi, pokok berkaitan dengan persoalan, tema, dan pesan sosial, dan tokoh juga berkaitan dengan ras, klas dan gender. Keterkaitan ini memberi peluang untuk kajian yang berperspektif sosiologis seperti dalam sosiologi sastra.

Pokok persoalan, tema, dan pesan sosial banyak terkandung dalam karya sastra. Pokok persoalan sosial dapat menjadi tema mayor atau tema minor dalam karya sastra. Ketika pokok persoalan sosial menjadi dominan dalam sebuah karya sastra, maka persoalan sosial tersebut menjadi tema mayor dalam karya tersebut. Tema sosial yang dominan berkaitan dengan pesan moral dalam kehidupan bermasyarakat. Akan tetapi ketika tema sosial tidak dominan, maka tema tersebut melatarbelakangi secara kontekstual terhadap perilaku tokoh.

Jenis tokoh dapat dilihat dari penokohan yang dilakukan melalui deskripsi, solilokui, opini, dramatisasi, dan kontekstualisasi. Secara deskriptif penokohan berkaitan dengan gambaran tokoh tersebut yang kemudian dapat dihubungkan dengan gambaran sosialnya. Secara solilokui penokohan berkaitan dengan pengakuan tokoh yang kemudian dapat dikaitkan dengan internalisasi sosialnya. Opini dilakukan oleh tokoh lain yang berkaitan dengan persepsi orang lain terhadap stereotipe tokoh tersebut. Dramatisasi berkaitan dengan perilaku dan tindakan tokoh yang berkaitan dengan peran dan agensi sosial tokoh. Sedangkan kontekstualisasi tokoh berhubungkan dengan konteks sosial tokoh tersebut.

Dengan demikian tokoh sebagai pelaku cerita berkaitan dengan perilaku, perlakuan, dan kelakuan tokoh tersebut secara sosial. Hal ini berkaitan erat dengan persoalan ras, kelas, dan gender. Ras berkaitan dengan etnisitas tokoh; kelas berkaitan dengan status sosial tokoh; dan gender berkaitan dengan peran sosial yang dimainkan berdasarkan jenis kelamin tokoh.

Pokok dan tokoh dalam perspektif sosiologi pada dasarnya merupakan kajian terhadap pokok persoalan, tema, dan pesan sosial serta kajian terhadap identitas, peran, dan status sosial tokoh dalam karya sastra dengan menggunakan perspektif-perspektif teori sosial. Salah satu perspektif teori sosial yang digunakan adalam Marxisme. Dalam perspektif ini pokok persoalan kelas sangat penting karena perjuangan kelas merupakan antagonisme yang menggerakan dialektika materialisme. Menurut Marx persoalan sosial bersumber pada sistem produksi ekonomi yang menjadi struktur dasar sebuah masyarakat, dan sistem produksi tersebut mempengaruhi superstruktur pemerintahan, pendidikan, kebudayan, kesenian, dan lain-lain.

Antagonisme kapitalisme versus Marxisme merupakan isu sentral dalam antagonisme ideologis. Pokok persoalan ini dapat ditarik dari konflik internal yang bersifat ideologis dan konflik eksternal yang bersifat politis. Kapitalisme merupakan idelologi dominan yang berkuasa; sedangkan Marxisme merupakan idelologi yang meresistensi dan mensubversi ideologi kapitalis. Kritik ideologis membongkar kedok ideologi kapitalis sebagai kesadaran palsu.[1] Ideologi tersebut menciptakan alienasi dalam sistem produksi ekonomi.

Penerapan teori sosiologi Marxis dalam mengkaji pokok dan tokoh dalam karya sastra Inggris dapat dilakukan terhadap novel Animal Farm karya Orwell. Novel tersebut merupakan fabel satir politis yang mengkritisi kapitalisme dan komunisme. Kritik terhadap praktik-praktik kapitalis direpresentasikan oleh tokoh Mr John pemilik Manor Farm. Kritik terhadap komunisme direpresentasikan oleh para tokoh binatang yang memberontak terhadap Mr John. Marxisme sebagai sebuah ideologi subversif direpresentasikan oleh seekor babi hutan bernama Old Major. Komunisme sebagai praksis politik direpresentasikan oleh seekor babi bernama Napoleon. Sistem produksi ekonomi para binatang diekploitasi oleh Mr John, dan setelah terjadi revolusi semu dieksploitasi oleh regim Napoleon. Perjuangan kelas[2] (class struggle) diawalai dengan perjuangan wacana (discourse struggle) dan dilanjutkan dengan perjuangan kekuasaan (power struggle). Orasi Old Major di depan para binatang merupakan perjuangan wacana[3]; dan pemberontakan para binatang di bawah kepemimpinan Napoleon merupakan perjuangan kekuasaan. Perjuangan kelas terutama diperoleh oleh regim Napoleon yang menjadi kelas penguasa.

Apa peran gender dalam novel tersebut? Para betina merupakan produsen dalam sistem produksi ekonomi Animal Farm. Telur ayam, bebek, susu, dan daging adalah produk para betina. Akan tetapi mereka teralienasi dari poduknnya sendiri karena dieksploitasi baik oleh regim kapitalis Mr John maupun oleh regim komunis Napoleon. Dalam konteks satir politik tersebut baik kapitalisme maupun komunisme merupakan musuh feminisme.

Feminisme Marxis[4] bukanlah ideologi alternatif bagi para betina untuk mereistensi dan membebaskan diri dari kapitalisme. Kenapa demikian? Karena kapitalisme dan komunisme adalah produk patriaki. Kapitalisme adalah tangan kanan dan komunisme adalah tangan kiri patriarki. Dalam cengkraman kedua tangan tersebut para betina diekploitasi habis-habisan tanpa kebebasan.

Persoalan gender dalam novel tersebut hanyalah masalah ketertindasan. Marxisme bukan jalan lurus pembebasan perempuan, bukan pula jalan melingkar, melainkan jalan sesat yang menipu karena ideologinya sama-sama merupakan kesadaran palsu seperti halnya ideologi kapitalis. Feminisme memang dalam kondisi yang kritis dan ironis. Menggunakan tangan kiri (Marxisme) untuk menepuk tangan kanan (Kapitalisme) patriarki sama saja dengan menyuruh patriarki bertepuk-tangan. Sama seperti para betina dalam cengkraman kapitalisme Mr John dan komunisme Napoleon. Begitu pula dengan feminisme kiri lainnya yang menggunakan epistemologi kiri semodel feminisme eksistensial[5], feminisme radikal[6], dan feminisme dekonstruktif[7]. Ideologi kiri bersumber pada tangan kiri patriarki.

Backlash? Tentu tidak. Hanya saja feminisme mesti menemukan landasan epistemologinya sendiri yang terlepas dari cengkraman tangan-tangan patriarki. Pokok persoalan ini tentu saja tidak sederhana. Radikalisme yang bermotif Amazon complex serta selibatisme kiri maupun kanan bukanlah alternatif yang membebaskan perempuan dari patriarki. Meskipun secara seksual pembebasan perempuan dapat dilakukan, namun secara tekstual jejaring patriarki masih mengungkungnya. S/Teksualitas masih terlalu rumit untuk dipilih-pilahkan.



[1] Agama dalam perspektif Marxis juga dianggap sebagai kesadaran pallsu: “Religious suffering is, at one and the same time, the expression of real suffering and a protest against real suffering. Religion is the sigh of the oppressed creature, the heart of a heartless world, and the soul of soulless conditions. It is the opium of the people. ” (Contribution to the Critique of Hegel’s Philosophy of Right)

[2] “ The history of all hitherto existing society is the history of class struggles. ” (The Communist Manifesto, Chapter 1).

[3] Perjuangan wacana Old Major untuk merevolusi keadaan di Manor Farm yang diekploitasi oleh kapitalisme Mr John identik dengan tesis Marx “The philosophers have only interpreted the world in various ways—the point however is to change it.”

[4] Socialist feminism is a branch of feminism that focuses upon both the public and private spheres of a woman’s life and argues that liberation can only be achieved by working to end both the economic and cultural sources of women’s oppression. Socialist feminism is a dualist theory that broadens Marxist feminism’s argument for the role of capitalism in the oppression of women and radical feminism’s theory of the role of gender and the patriarchy.

[5] The French author and philosopher Simone de Beauvoir wrote novels; monographs on philosophy, politics, and social issues; essays, biographies, and an autobiography. She is now best known for her metaphysical novels, including She Came to Stay and The Mandarins, and for her 1949 treatise The Second Sex, a detailed analysis of women’s oppression and a foundational tract of contemporary feminism. It sets out a feminist existentialism which prescribes a moral revolution. As an existentialist, she accepted Jean-Paul Sartre’s precept that existence precedes essence; hence “one is not born a woman, but becomes one”. Her analysis focuses on the social construction of Woman as the Other, this de Beauvoir identifies as fundamental to women’s oppression. She argues that women have historically been considered deviant and abnormal, and contends that even Mary Wollstonecraft considered men to be the ideal toward which women should aspire. De Beauvoir argues that for feminism to move forward, this attitude must be set aside.

[6] Radical feminism considers the capitalist hierarchy, which it describes as sexist, as the defining feature of women’s oppression. Radical feminists believe that women can free themselves only when they have done away with what they consider an inherently oppressive and dominating system. Radical feminists feel that there is a male-based authority and power structure and that it is responsible for oppression and inequality, and that as long as the system and its values are in place, society will not be able to be reformed in any significant way. Some radical feminists see no alternatives other than the total uprooting and reconstruction of society in order to achieve their goals.

[7] Post-structural feminism, also referred to as French feminism, uses the insights of various epistemological movements, including psychoanalysis, linguistics, political theory (Marxist and post-Marxist theory), race theory, literary theory, and other intellectual currents for feminist concerns.[107] Many post-structural feminists maintain that difference is one of the most powerful tools that females possess in their struggle with patriarchal domination, and that to equate the feminist movement only with equality is to deny women a plethora of options because equality is still defined from the masculine or patriarchal perspective.

Improve the web with Nofollow Reciprocity.