perayaan tahunan di jepang (July 30th, 2010 by yuliani-rahmah)

MUSIM DAN PERAYAAN TAHUNAN DI JEPANG

1. Bulan Januari

a. Shoogatsu.

Di Jepang bulan Januari disebut juga Shoogatsu (bulan pertama). Pada saat ini orang-orang di seluruh dunia merayakan datangnya tahun yang baru, tetapi bagi orang Jepang bulan pertama mengandung arti /makna yang sangat istimewa. Pada saat itu bertepatan dengan hari pertama dalam 1tahun dan merupakan saat yang tepat untuk mendoakan kebahagiaan dan kesehatan seluruh keluarga selama 1 tahun ke depan.

Para petani berdoa supaya panennya berhasil dan para nelayan berdoa agar hasil tangkapannya besar dan dapat bekerja dengan aman. Untuk berdoa banyak orang yang pergi ke kuil Shinto. Kegiatan tersebut disebut Hatsumoode (kunjungan ke kuil Shinto di hari pertama tahun baru). Anak-anak di Jepang sangat menantikan datangnya tahun baru,karena pada saat itu akan mendapatkan Otoshidama dari orangtua dan kerabat. Dengan Otoshidama tersebut mereka dapat membeli barang-barang yang mereka inginkan.

Kemudian untuk mengucapkan selamat tahun baru, mereka berkunjung ke rumah-rumah tetangga dan kerabat. Hal itu disebut Nenshi mawari (berkeliling untuk bersalaman). Untuk teman dan kerabat yang tinggal berjauhan mereka mengirimkan Nengajo sebagai ucapan selamat.

Permainan anak-anak di tahun baru yang dilakukan di dalam rumah diantaranya Karuta Tori (ambil kartu), Sugoroku (ular tangga) dan sebagainya. Sementara permainan di luar rumah diantaranya Hanetsuki (bulutangkis tradisional Jepang), Takoage (layang-layang),Koma mawashi (Gasing) dan sebagainya.

Makanan tahun baru yang biasanya disajikan antara lain Zooni (sop mochi) dan Osechi ryouri (makanan khusus tahun baru). Sebagai hiasan tahun baru, di kanan kiri pintu gerbang diletakkan Kadomatsu (paduan pohon pinus dan bamboo) dengan harapan agar Fuku no kami (dewa kebaikan) berkenan masuk ke dalam rumah. Selain itu, diatas pintu ditempelkan Shimenawa (tali jerami) yang mempunyai arti yang sama dengan kadomatsu. Sementara di dalam rumah diletakkan kagami muchi pada sebuah tempat bernama toko no ma (tempat menggantungkan hiasan) .

b. Seijinsiki

Di Jepang, saat seseorang sudah mencapai usia 20 tahun, sesuai hukum UU sipil, ia dinyatakan telah menjadi seijin (dewasa). Mereka yang telah dewasa diberi hak untuk ikut serta dalam politik dan kegiatannya di masyarakat semakin luas.

Seijin no hi (hari menjadi dewasa) dilaksanakan setiap hari senin kedua bulan Januari. Hari tersebut menjadi hari libur nasional untuk merayakan bergabungnya anak-anak muda yang baru menjadi orang dewasa. Pada hari tersebut, seluruh daerah di Jepang dilaksanakan seijinshiki (upacara hari menjadi dewasa).Anak-anak muda yang menghadiri upacara tersebut memakai baju-baju yang indah, terutama para wanitanya banyak yang memakai furisode (kimono yang indah).

2. Bulan Februari (Setsubun)

Setsubun adalah upacara melempar kacang kedelai untuk mengusir roh jahat. Pada malam tanggal 3 bulan Februari, setiap rumah di Jepang melemparkan kacang kedelai sambil mengucapkan “Fuku wa uchi, oni wa soto” (roh baik masuk, roh jahat keluar). Inilah yang disebut perayaan setsubun yang juga dilaksanakan di kuil Shinto. Sementara upacara untuk mengusir hal-hal buruk dan mendatangkan nasib baik dengan mengundang fuku no kami (dewa kebaikan)dilaksanakan pada tanggal 4 nya atau disebut Risshun.

3. Bulan maret

a. Hina matsuri (festival anak perempuan)

Hina matsuri dirayakan setiap tanggal 3 Maret. Hinamatsuri adalah upacara untuk memohon keselamatan dan kesehatan bagi anak perempuan hingga ia dewasa. Pada hari tersebut, orang-orang yang mempunyai anak perempuan meletakkan hiasan boneka tradisional Jepang. Boneka-boneka tersebut diletakkan pada 5 buah anak tangga yang dihiasi karpet merah. Tangga paling atas, diletakkan boneka kaisar dan permaisurinya, di tangga kedua diletakkan boneka 3 pembantu kaisar, di tangga ketiga diletakkan boneka para pemain musik dan di tangga keempat diletakkan 2 buah boneka menteri (kiri dan kanan), sementara di tangga paling bawah diletakkan hiasan tambahan. Pada hari tersebut, anak-anak perempuan memakai pakaian yang indah, orang-orang menghiasi rumahnya dengan bunga persik dan mereka makan Hishimochi dan minum Shirozake.

b. Shotsugyou shiki (wisuda)

Karena kalender pendidikan di Jepang berlangsung dari bulan April-Maret, maka pada bulan Maret seluruh sekolah di Jepang melaksanakan shotsugyou shiki (wisuda). Para pelajar/mahasiswa menerima ijasah dan bersiap melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi atau bahkan mulai bersiap memasuki dunia kerja.

4. Bulan April

a. Nyuugaku. Nyuusha

Di Jepang, kalender pendidikan (awal sekolah) dan kalender pembukuan perusahaan dimulai pada bulan April. Awal masuk sekolah disebut Nyuugaku, sedangkan para siswa yang baru masuk ke sekolah tersebut disebut shinyuusei (murid baru). Upacara penerimaan siswa baru biasanya bersamaan dengan masa-masa dimana bunga sakura sedang berkembang. Perusahaan-perusahaan pun mengadakan upacara penerimaan untuk para pegawai yang baru bergabung. Para pegawai baru tersebut mendengarkan sambutan presdir mereka dengan khidmat, meskipun sedikit cemas dengan dunia kerja yang baru mereka masuki.

b. Hanami

Hanami adalah kegiatan melihat bunga sakura. Karena bunga sakura merupakan bunga khas negara Jepang, dengan hanya mengatakan (Hanami) saja, semua orang akan langsung tahu bahwa yang dilihat pastilah bunga sakura.

Sakura adalah jenis bunga yang berkembang di seluruh pohon sakura, tetapi karena ciri khas bunga ini adalah mekar sebelum daun mudanya tumbuh, maka saat semua bunga mekar, seluruh pohon akan tertutupi hanya oleh bunga-bunga saja. Dan hal tersebut menjadi sebuah pemandangan yang indah untuk dinikmati setelah musim dingin yang panjang dan musim semi datang, semua orang sangat menantikan mekarnya bunga sakura.

Kemudian orang-orang bersama keluarga, teman sejawat ataupun sahabat akan bersama-sama duduk dibawah pohon sakura yang sedang berbunga sebelum makan, minum ataupun berkaraoke. Hal seperti itu berlangsung di setiap daerah di seluruh Jepang dan merupakan kesenangan terbesar orang Jepang dalam 1 tahun kehidupan.

5. Bulan Mei

a. Kodomo no hi

Kodomo no hi (hari anak nasional) jatuh pada tanggal 5 Mei. Dulu hari anak nasional ini disebut dengan Tango no sekki yang berarti hari anak perayaan untuk anak laki-laki. Sekarang ini hari anak nasional menjadi hari perayaan baik untuk anak laki-laki maupun untuk anak perempuan, dan merupakan hari untuk mendoakan anak-anak agar tumbuh besar dan sehat.

Pada hari ini di setiap rumah (yang mempunyai anak-anak) dikibarkan koinobori (bendera berbentuk ikan koi). Di dalam rumah dipasang hiasan topi baja dan boneka samurai, serta disajikan chimaki dan kashiwamochi.

b. Haha no hi

merupakan hari untuk berterima kasih pada ibu, yang dirayakan dari hari minggu kedua bulan Mei. Perayaan hari ibu berawal di Amerika pada tahun 1908 dan mulai populer di Jepang setelah perang dunia kedua. Pada hari ini anak-anak memberikan kado pada ibunya sebagai ucapan terima kasih.

6. Bulan Juni [Chichi no hi (hari ayah)]

Hari untuk berterima kasih pada ayah yang telah menjaga dan bekerja keras untuk keluarganya. Hari ini diperingati di hari minggu ketiga bulan Mei. Sebelumnya hanya ada hari ibu, namun untuk mengimbanginya pada hari ini pun anak-anak memberikan kado pada ayahnya sebagai ungkapan terimakasih.

7. Bulan Juli

a. Tanabata

Festival ini dirayakan pada setiap tanggal 7 Juli, dimana berdasarkan dongeng masyarakat Cina bahwa malam itu adalah saatnya bertemunya bintang Altair dan bintang Vega yang hanya bisa bertemu setahun sekali di galaksi bimasakti. Masyarakat Jepang percaya bahwa bila kita menuliskan keinginan kita di sebuah kertas kecil kemudian mengikatnya di atas tangkai bambu, maka permohonan atau keinginan tersebut akan terkabul. Karena itu, pada saat ini banyak anak-anak yang menuliskan berbagai keinginan di atas kertas kecil dan mengikatnya pada batang bambu. Setelah perayaan tanabata selesai, kemudian batang bambu tersebut dihanyutkan di sungai

b. Ochugen

Dirayakan pada setiap tanggal 15 Juni menurut kalender Cina. Awalnya perayaan ini merupakan tradisi agama Tao di Cina, yang bertujuan mendoakan kesehatan dan keselamatan setelah menjalani setengah tahun perjalanan. Tetapi setelah agama Tao berubah menjadi agama Budha, perayaan ini berubah menjadi festival persembahan sesajen (yang berupa makanan) bagi Budha dan saat untuk mendoakan arwah keluarga yang sudah meninggal. Di masa sekarang, orang-orang merayakan hari ini sebagai hari untuk memberikan sesuatu pada mereka yang telah banyak membantu selama setengah tahun ini.

8. Bulan Agustus

a. Liburan musim panas

Pada bulan agustus, seluruh sekolah di Jepang, dari mulai SD – SMA memasuki masa liburan selama 1 bulan. Mereka bisa menghabiskan masa liburan sebebas-bebasnya. Namun begitu, pada liburan ini sekolah tetap memberikan tugas pada siswa-siswinya, sehingga bagi mereka yang hanya bermain saja, akan merasa kesulitan kalau masa liburannya selesai. Seperti juga di Indonesia, liburan panjang ini dilaksanakan menjelang ajaran baru

b. Obon

merupakan perayaan agama Budha, yang dilaksanakan setiap tanggal 15 Juli menurut kalender Cina dan disebut juga Urabon. Pada malam tanggal 13 Juli, orang-orang membuat api dengan membakar batang-batang pohon untuk menyambut roh, kemudian pada tanggal 16 kembali membakar batang-batang lagi untuk mengantarkan para roh pulang ke tempatnya.

Pada saat ini perusahaan-perusahaan diliburkan untuk memberikan kesempatan pada para pegawai yang bekerja di kota agar dapat pulang kampung merayakan festival obon. Dengan liburan ini transportasi sangat padat sama seperti saat perayaan tahun baru. Sementara di desa-desa diadakan bon odori (tarian obon) yang dilakukan untuk menghibur roh-roh keluarga yang datang serta untuk mempererat tali persaudaraan orang-orang yang tinggal di tempat tersebut.

9. Bulan September

a. Tsukimi (melihat bulan)

Dirayakan setiap tanggal 15 Agustus menurut penanggalan Cina (bulan September kalender masehi) dan disebut Chuushuu no meigetsu (bulan purnama di pertengahan musim gugur) karena merupakan bulan purnama yang paling indah dalam 1 tahun. Pada saat ini, orang-orang melakukan kegiatan “menatap bulan” (tsukimi) sambuil menyajikan susuki (bulir bunga rerumputan) dan dango (kue bola) karena mereka menatap bulan sambil makan dango, maka festival ini disebut tsukimi dango.

b. Aki matsuri

Dari bulan September-Oktober, setiap daerah di seluruh Jepang melaksanakan perayaan musim gugur. Perayaan ini dilaksanakan di kuil Shinto untuk berterimakasih pada dewa atas hasil panen pada musim gugur. Orang-orang merayakannya dengan mempersembahkan padi dan hasil bumi lainnya untuk kuil Shinto. Di halaman kuil tersebut, mereka pun menari sambil membawa usungan. Tarian tersebut pun mereka persembahkan untuk para dewa. Sementara di dalam rumah, orang-orang membuat berbagai masakan lezat dan merayakan festival tersebut dengan makan bersama.

10. Bulan Oktober

Bulan Oktober bertepatan dengan musim gugur. Bulan ini disebut juga dokusho no aki (musim membaca buku), shokuyoku no aki (musimnya nafsu makan) dan supootsu no aki (musim olahraga).

Seluruh sekolah di Jepang melaksanakan pesta olahraga dengan mengadakan berbagai macam pertandingan antar 2 kelompok (merah dan putih). Selain sekolah, di daerah-daerah pun banyak warga yang melaksanakan pesta olahraga sendiri. Dan dalam kalender Jepang masa ini, tepatnya tanggal 8 Oktober, diperingati sebagai hari olahraga (taiku no hi).

Pada tanggal 15 Oktober, dilaksanakan festival shichigosan yaitu festival untuk merayakan kesehatan anak laki-laki yang berumur 5 tahun dan anak perempuan yang berumur 3 dan 7 tahun. Pada saat ini anak-anak berziarah ke kuil Shinto untuk berterimakasih pada dewa karena sudah berumur 7, 5 dan 3 tahun. Umur 3 dan 5 tahun adalah batas umur bayi dan balita, sementara umur 7 tahun adalah batas umur anak dan remaja, yang dari sejak itu mereka harus dipersiapkan untuk menjadi orang dewasa.

12. Bulan Desember

a. Oseibo

merupakan persalaman akhir tahun dengan cara memberikan hadiah pada orang-orang yang telah banyak membantu selama setahun ke belakang. Kebiasaan ini sama dengan perayaan ochuugen pada musim panas dan oseibo pada musim dingin, yang juga memberikan hadiah pada orang-orang yang telah banyak membantu.

b. Boonenkai (pesta akhir tahun)

Pada akhir tahun para pegawai perusahaan dalam satu perusahaan mengadakan pesta akhir tahun. Mereka berkumpul bersama sambil makan dan minum menghilangkan stress sehingga mereka bisa bekerja lebih baik pada tahun yang akan datang.

c. Oomisoka

Oomisoka dirayakan pada akhir tahun , dari malam tanggal 31 Desember pukul 12 malam sampai tanggal 1 Januari .Mereka merayakannya sambil makan Shitokoshi soba, yaitu sejenis mie yang dipercaya bisa membuat orang yang memakannya panjang umur.

Pada saat ini pun petugas di kuil Budha membunyikan lonceng sebanyak 108 kali sebagai tanda permohonan agar dosa-dosa semua orang selama tahun dihapuskan. Pada beberapa kuil para pengunjung pun ada yang diijinkan membunyikan lonceng tersebut.

materi kuliah:sastra jepang (July 30th, 2010 by yuliani-rahmah)

Idiom,dalam Bahasa Jepang dikenal dengan sebutan Kanyooku.Pemahaman tentang kanyooku tidak bisa diartikan hanya dari unsur-unsur kata pembentuknya.Makna yang banyak terdapat dalam kanyooku adalah makna yang mengungkapkan perasaan, dengan pengandaian pada bagian-bagian tubuh. Pada penelitian ini penulis mencoba mengklasifikasikan kanyooku yang terdapat dalam buku Reikai Kanyooku Jiten yang mengandung ungkapan marah dan ungkapan terkejut, serta perbedaan maknanya dalam kalimat.Hasilnya diketahui bahwa dari 55 kanyooku yang mengungkapkan perasaan yang terdapat dalam buku Reikai Kanyoku Jiten, 10 kanyooku yang menunjukkan ungkapan rasa marah dan 14 kanyooku yang menunjukkan ungkapan rasa terkejut.Ungkapan rasa marah terdiri dari 3 makna yaitu Fungeki suru (marah besar), Ikari (geram/marah) dan Hyojo ni ikari o dasu yosu (kesal). Ungkapan rasa terkejutpun terbagi dalam 3 makna,yaitu Tamageru (terperanjat), Kyoogaku suru (Terhenyak/ tersentak), dan Kyootansuru (tercengang/terpana/terpukau).Semua Kanyooku yang mengungkapkan perasaan marah dan terkejut ini menggunakan nama-nama bagian tubuh sebagai perumpamaan,dan semuanya menggunakan bentuk Dooshi Kanyooku (Kanyooku berunsur kata kerja)

materi dapat didownload disini:sastra jepang:kanyooku

soal-soal dapat didownload disini:

jawaban bisa dikirim email ke yuliani.undip@gmail.com

telaah novel pohon tanpa akar (July 30th, 2010 by yuliani-rahmah)

POHON TANPA AKAR

Karya : Syed Walliullah

( Tipu Muslihat Atas Nama Agama)

Yuliani Rahmah

Novel Tree without roots yang kemudian diterjemahkan menjadi Pohon Tanpa Akar, karya Syed Waliullah ini mengambil setting kehidupan masyarakat Bangladesh di sebuah daerah pertanian.Tema yang diangkat dalam cerita ini, adalah tentang perjalanan seorang penyebar agama Islam yang memperoleh kemakmuran dan kekuasaan dari sebuah kebohongan yang ia tanamkan pada masyarakat yang awam agama.

Banyak hal yang diceritakan dalam novel ini. Tentang keadaan Geografis negara Bangladesh, tentang pertentangan dalam masyarakat, tentang agama, tradisi di masyarakat dan sebagainya.

Diawali dengan cerita tentang keadaan sebuah daerah kering yang tidak memberikan kemakmuran pada penduduknya, Syed Waliullah memberikan gambaran yang cukup jelas tentang latar belakang timbulnya cerita dalam novel ini. Kita seakan bisa melihat langsung saat pengarang mendeskripsikan daerah kering yang tidak lagi memberikan kemakmuran, meskipun penduduk sudah mengolahnya. Ironisnya, justru kemiskinan dan penderitaan inilah yang membuat penduduk semakin “lantang” berseru dan berdoa memohon belas kasih Yang Maha Kuasa untuk kesejahteraan mereka. Seperti yang diceritakan dalam kutipan berikut :

“ Di pagi hari udara laksana pecah oleh suara anak-anak lelaki yang memenuhi ruangan-ruangan kelas pengajian Qur’an, ruangan muktab. Bagaimana orang tidak merasakan bahwa negeri ini milik Tuhan! Lihatlah pada anak-anak lelaki yang sedang tumbuh. Sebelum terlihat tanda tumbuh bulu janggut, mereka telah hafal seluruh ayat Qur’an di luar kepala dan telah menjadi hufza kecil. Wajah muda bercahaya karena bahagia,karena mereka merasa pasti memperoleh tempat di surga (Pohon tanpa Akar : 7)

Dari kutipan tersebut dapat dilihat bahwa sebagian besar penduduk daerah miskin itu bukan hanya taat menjalankan ajaran agamanya, tetapi juga menguasainya untuk kemudian bisa menyebarkannya. Tetapi ternyata ketaatan pada Tuhan tidak membuat mereka bisa terus-menerus hidup dalam penderitaan dan melupakan keinginan untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Dan dari sinilah kemudian cerita dalam novel ini bergulir.

Madjid, tokoh utama dalam novel ini adalah salah satu dari sekian banyak penduduk daerah gersang tadi yang berusaha untuk merubah nasibnya dengan keluar dari desanya yang miskin. Dengan kemampuan agama yang dimilikinya ia berusaha memperbaiki hidupnya dengan cara berpindah dari desa satu ke desa lainnya, sambil menyebarkan agama. Banyak hal yang dipaparkan oleh pengarang tentang perjalanan hidup Majid dalam novel ini, tetapi dalam uraian kali ini penulis tertarik untuk lebih memfokuskan pada tipu muslihat yang dilakukan Madjid pada masyarakat Mahabbatpur, dan konflik batin yang dialaminya

I. Tipu muslihat atas nama Agama.

1.1 Kebohongan tentang sebuah Mazar

Tokoh Madjid dalam novel ini adalah salah satu penduduk daerah miskin yang mencoba keluar dari desanya untuk memperoleh kehidupan yang layak. Majid, digambarkan sebagai seseorang yang mempunyai pengetahuan agama yang cukup luas. Dia sangat fasih membaca Al-Quran dan tahu banyak hal tentang aturan-aturan Tuhan. Dengan kemampuannya inilah dia berusaha memperbaiki hidup. Tetapi ketika ternyata nasib baik tidak juga berpihak padanya, dia mulai mencari jalan untuk mendapatkan keduniawian yang tidak pernah didapatkannya sejak dulu. Langkah awalnya mulai terbuka ketika ia bertemu seorang pemburu dan mendapatkan informasi tentang sebuah desa yang cukup subur, penduduknya makmur tetapi tidak mengenal Tuhannya. Kemudian dengan kemampuannya berdakwah dan membaca Al-Quran, Madjid mulai mempengaruhi masyarakat di daerah Mahabbatpur tersebut dengan mengarang cerita tentang adanya sebuah mazar / makam seorang wali, dan ternyata usahanya berhasil. Masyarakat Mahabbatpur yang awam tentang agama, berhasil dipengaruhi untuk memperbaiki dan merawat makam tua diujung desa itu, karena mereka percaya bahwa kebaikan itu akan membuat sang wali senantiasa berdoa untuk kesejahteraan mereka.

Dalam hitungan bulan, mazar dari hasil rekayasa Madjid ini telah menjadi masyhur dan banyak dikunjungi oleh mereka yang meminta berkah, dan ini tentu saja membawa keberuntungan bagi Madjid karena dia mendapatkan uang dari sedekah para pengunjung mazar. Seperti yang dipaparkan pada kutipan berikut :

“ Mereka meninggalkan uang, yakni mereka yang memiliki sekedarnya,banyak yang tak makan sekali atau duakali untuk menyisihkan secukupnya bagi sumbangan kecil. Mata uang yang gemerlap dan gemerincing dengan riangnya, mata uang yang berat dan cukup berharga ,mata uang asli maupun palsu, semuanya terus menumpuk, hari demi hari, bersamaan dengan air mata yang berlinangan dari mereka yang tertimpa kemalangan.”

(Pohon Tanpa Akar ; 29)

Dari kutipan diatas, penulis beranggapan bahwa jelas sekali memang inilah yang diharapkan Madjid dengan cerita doa sang wali di mazar tersebut. Sebagai penyebar agama dia samasekali tidak peduli bahwa keuntungan materi yang diperolehnya berasal dari penderitaan umat yang dibodohinya. Dia merasa hidupnya amat bahagia ketika bisa membangun rumah, membeli beberapa bidang tanah, memelihara ternak dan mendapatkan seorang istri. Dan ketamakannya bertambah ketika ia berhasil memperoleh kekuasaan atas masyarakat didesa Mahabbatpur dari kebohongan dan kemagisan yang dia ciptakan pada makam tua yang tidak dikenal. Kekuasaan yang juga terpantul pada istrinya. Ketakwaan yang seharusnya terpancar dari keimanan seorang pemuka agama, telah berganti dengan kerakusan dan kesombongan seorang penguasa.

“Dalam kesunyian yang mencekam, dalam malam berbintang itu Majid sekonyong-konyong telah mengalami makna tentang kekuasaan. Ia merasa telah menancapkan akar-akarnya dengan dalam dan kokoh di Mahabbatpur. Pohon yang ia tanam telah tumbuh subur dan membentangkan cabang-cabangnya keseluruh desa.”

( Pohon Tanpa Akar : 41)

“…Kekuasaan Majid telah datang dari atas, dari rasa takut dari Yang Tidak Dikenal, dari makam yang ditutupi kain merah.”

(Pohon tanpa Akar : 41)

1.2 Kebohongan tentang pengobatan wanita mandul

Ketika merasa bahwa kekuasaan dan pengaruhnya akan segera hilang karena kehadiran seorang pir yang menyedot perhatian umatnya, Majid membenci setiap kegiatan ataupun cerita yang berhubungan dengan kedatangan dan kehebatan pir tersebut. Apalagi saat dia mendengar bahwa istri sahabatnya, juga ikut-ikutan meminta didoakan agar mempunyai keturunan. Karena dikuasai rasa marah, Majid kembali membuat kebohongan yang dilatar belakangi rasa dendam terhadap Amena yang dianggap telah menyepelekan kemampuannya. Dengan alasan menghilangkan gulungan penghalang kehamilan, Majid membalaskan sakit hatinya dengan menyiksa Amena dalam ritual mazar yang direkayasanya. Dia nampaknya belum merasa puas bahkan ketika Amena tidak mampu menyelesaikan ritual yang diperintahkannya.Dia memandang ketakutan dan kekhawatiran Khaliq sebagai sesuatu yang patut menjadi bahan tertawaan. Disini kembali Majid menjadikan agama sebagai alat untuk memenuhi kepuasan batinnya .

1.3 Kebohongan untuk mengendalikan kebandelan Jamila

Diceritakan bahwa setelah bertahun-tahun tidak memperoleh keturunan dari Rahima, akhirnya Madjid menikahi seorang gadis bernama Jamila. Diluar dugaan ternyata istri keduanya ini sangat jauh berbeda dengan Rahima yang penurut dan selalu merasa takut pada Majid. Dalam diamnya, Jamila sering sekali membuat Majid marah dan kewalahan menghadapi sikapnya. Untuk mengatasi hal ini Majid kembali membuat sebuah kebohongan. Kutipan berikut adalah contoh kebohongan yang ditanamkan Majid pada Jamila

“ Tambahan lagi,” sambung Majid, “kau harus selalu ingat, bahwa kau bukan tinggal di rumah orang biasa. Rumah ini telah diberkati oleh sang wali. Hidup disini seperti berada dibawah lindungan pohon rindang dihari yang terik. Kita dilindungi oleh bayangan sebatang pohon yang ramah dan penuh kasih sayang, karenanya kita aman. Tetapi kau tidak boleh sekali-kali berbuat sesuatu yang membuat marah sang wali” (Pohon Tanpa Akar ; 148)

Kemudian dengan alasan untuk memohon maaf pada sang wali,ia mulai melakukan pendidikan terhadap Jamila. ( Pendidikan yang juga terlebih dahulu diawali dengan cerita palsu tentang keagungan mazar) Disini Majid menggunakan agama untuk memuaskan arogansi dan menancapkan kekuasaan pada diri istrinya. Dia menyelewengkan aturan agama yang dikuasainya untuk kepentingan pribadi semata walaupun hal tersebut menyebabkan penderitaan oranglain.

Selain kebohongan-kebohongan yang dilakukan atas nama agama seperti yang diuraikan diatas, masih banyak beberapa hal lain yang berhubungan dengan penyelewengan aturan agama yang dilakukan oleh tokoh Majid. Tetapi kesemuanya mengacu pada satu hal yaitu tipu muslihat berkedokan aturan agama.

II. Konflik batin yang dialami Majid

Sebagai seorang yang taat menjalankan syariat agama Islam dan mengetahui dengan pasti aturan-aturan dalam ajaran agamanya, didalam ambisinya mendapatkan kebahagiaan material, tokoh Madjid seringkali meghadapi konflik batin antara kebenaran yang tertanam dalam nuraninya yang juga disadarinya dengan keinginan meraih keuntungan yang menuntunnya ke jalan yang salah. Konflik batin ini sudah dirasakannya sejak pertamakali ia menciptakan kebohongan tentang mazar untuk mempengaruhi dan memperoleh kepercayaan dari masyarakat. Disatu sisi hatinya dia menyadari betul bahwa kebohongan yang dilakukannya adalah perbuatan dosa dan bisa saja berbahaya,tapi sisi hatinya yang lain memberikan argumen yang membenarkan tindakan yang dilakukannya Seperti yang terlihat pada kutipan berikut ini :

“Berbaring dengan tenang ditempat itu, Majid merenungkan kehidupan barunya yang telah ia pilih untuk dirinya sendiri. Apa salahnya berbohong apabila dilaksanakan dengan maksud yang baik? Demikian ia menimbang-nimbang. Sama sekali tak diragukan bahwa disini tak ada rasa takut terhadap Tuhan, dan namaNya jarang sekali diucapkan. Jika aku sedikit saja berbohong untuk menanamkan rasa takut kepada Tuhan dan namaNya yang kudus, pasti aku akan dimaafkan.” (Pohon Tanpa Akar : 21)

Dalam batin Majid pertentangan seperti itu selalu ada. Misalnya saat ia mendapatkan materi yang cukup berlimpah dari makam tak dikenal yang diciptakannaya, saat dia merasa tergoncang oleh kematian ayahnya Kultsum dan sebagainya. Tetapi selalu saja pertentangan batin dan kegelisahan-kegelisahanya itu ia tepis dengan dalil-dalil agama yang seolah sebuah pembenaran atas perilakunya. Seringkali setiap kali dia merasa telah berbuat dosa, dia akan berdoa bersungguh-sungguh dan meminta ampunanNya, diapun akan berusaha menghibur diri bahwa kemurahan Tuhan itu tak terhingga dan bersifat abadi. Untuk beberapa waktu hal tersebut memang bisa membuatnya sedikit tenang, tetapi dihari-hari berikutnya. Majid tidak pernah betul- betul bisa mengabaikan hati nuraninya

Konflik batin ini semakin terlihat pada akhir cerita, saat musibah menimpa daerah Mahabbatpur. Dia dihadapkan pada dua pilihan yang sama beratnya, meninggalkan mazar yang kegaibannya telah dia tanamkan pada masyarakat desanya,ataukah tetap bertahan demi memelihara kepercayaan dan semua yang sudah didapatnya selama ini. Meski akhirnya Majid memilih untuk tetap kembali ketempat dimana dia memulai segalanya, tapi nampaknya pergolakan batin dalam dirinya masih belum akan berakhir.

III. Kesimpulan

Dari uraian diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa cerita dalam novel ini merupakan sebuah sindiran terhadap para pemuka agama ataupun penyebar agama. Dengan pengetahuan agama yang dimilikinya serta kecakapannya mempengaruhi masyarakat pada sesuatu yang bisa digaibkan, seringkali mereka hanya mengambil dalil-dalil agama yang akan memberikan kenyamanan ataupun keuntungan bagi mereka

Madjid, tokoh utama dalam cerita ini adalah sosok lelaki yang pandai memanfaatkan pengetahuan agamanya untuk mendapatkan kekuasaan. Dia beruntung karena datang di waktu dan ke tempat yang tepat sehingga mendapatkan apa yang diinginkannya. Di balik penampilannya yang penuh wibawa, sebenarnya dia hanyalah seorang laki-laki yang lemah dan penuh dengan ketakutan akan kehilangan sesuatu yang telah diraihnya.

Pohon Tanpa Akar yang menjadi judul novel ini penulis maknai sebagai kekuasaan yang dimiliki Madjid di daerah Mahabbatpur. Pengaruh yang dimilikinya bercabang luas keseluruh penjuru desa, tetapi akar yang dianggapnya tertanam kuat sebenarnya tidak ada karena dia mendapatkan kekuasaan tersebut diatas kebohongan.

Kanyooku dalam Bahasa Jepang (July 30th, 2010 by yuliani-rahmah)

Analisis Kanyooku yang mengungkapkan perasaan

(Analisis Deskriptif ungkapan rasa marah dan ungkapan rasa terkejut pada buku Reikai Kanyoku Jiten)

Yuliani Rahmah

Abstrak

Idiom,dalam Bahasa Jepang dikenal dengan sebutan Kanyooku.Pemahaman tentang kanyooku tidak bisa diartikan hanya dari unsur-unsur kata pembentuknya.Makna yang banyak terdapat dalam kanyooku adalah makna yang mengungkapkan perasaan, dengan pengandaian pada bagian-bagian tubuh. Pada penelitian ini penulis mencoba mengklasifikasikan kanyooku yang terdapat dalam buku Reikai Kanyooku Jiten yang mengandung ungkapan marah dan ungkapan terkejut, serta perbedaan maknanya dalam kalimat.Hasilnya diketahui bahwa dari 55 kanyooku yang mengungkapkan perasaan yang terdapat dalam buku Reikai Kanyoku Jiten, 10 kanyooku yang menunjukkan ungkapan rasa marah dan 14 kanyooku yang menunjukkan ungkapan rasa terkejut.Ungkapan rasa marah terdiri dari 3 makna yaitu Fungeki suru (marah besar), Ikari (geram/marah) dan Hyojo ni ikari o dasu yosu (kesal). Ungkapan rasa terkejutpun terbagi dalam 3 makna,yaitu Tamageru (terperanjat), Kyoogaku suru (Terhenyak/ tersentak), dan Kyootansuru (tercengang/terpana/terpukau).Semua Kanyooku yang mengungkapkan perasaan marah dan terkejut ini menggunakan nama-nama bagian tubuh sebagai perumpamaan,dan semuanya menggunakan bentuk Dooshi Kanyooku (Kanyooku berunsur kata kerja)

1. Pendahuluan

Kanyooku (istilah idiom dalam bahasa Jepang) merupakan salah satu ciri khas dari keberagaman ciri khas dalam komunikasi bahasa Jepang. Selain merupakan salah satu ungkapan yang biasa digunakan oleh masyarakat Jepang dalam komunikasi, kanyooku juga sering ditemukan dalam majalah,komik dan bacaaan-bacaan berbahasa Jepang lainnya.Dari sekian banyak makna yang terdapat dalam kanyooku paling banyak digunakan adalah kanyooku yang mengungkapkan perasaan.Tetapi pemahaman kanyooku seringkali menjadi kendala . Hal ini disebabkan karena frase pendek yang digunakan dalam sebuah kanyooku tidak bermakna leksikal. Untuk itulah diperlukan pemahaman yang lebih dalam tentang makna sebuah kanyooku.Dalam kesempatan ini penulis mencoba memaparkan hasil penelitian tentang kanyooku dari pembentukkan arti dan maknanya,khsususnya yang mengungkapkan perasaan.

2. Metodologi Penelitian

Dalam Penelitian ini ada 2 tujuan utama,yaitu (1) mengklasifikasikan kanyooku yang terdapat dalam buku Reikai Kanyooku Jiten, khususnya yang menunjukan ungkapan marah dan ungkapan rasa terkejut. (2) mendeskripsikan perbedaan maknanya baik dalam bahasa Jepang maupun dalam bahasa Indonesia.Untuk itu penulis menggunakan Metode Deskriptif,yaitu metode yang membicarakan beberapa kemungkinan untuk memecahkan masalah yang aktual dengan jalan mengumpulkan data, menyusun atau mengklasifikasikan, menganalisa dan menginterpretasikannya.(Winarno Surakhmad 1990 ; 147). Adapun langkah-langkah yang ditempuh dalam penelitian ini adalah mengkaji dan memahami setiap arti kanyooku yang terdapat dalam buku Reikai Kanyoku Jiten,kemudian mengklasifikasikan contoh-contoh kalimatnya. Penulis juga menggunakan buku-buku lain sebagai referensi dan juga untuk dapat melakukan perbandingan kalimat dan makna,sehingga dapat membedakannya secara arti dan fungsi dari setiap kanyooku.

Untuk memperoleh data yang relevan dengan obyek yang sedang penulis teliti, maka tehnik yang digunakan adalah penelitian kepustakaan,wawancara dan studi literatur.

Hello world! (July 30th, 2010 by yuliani-rahmah)

Welcome to Staff.undip.ac.id/sastra. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!